Anda di halaman 1dari 8

Tugas

PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
KEBEBASAN PERS

Disusun oleh :
Putra Agung Ramadhan
3 TS 1

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN TELEKOMUNIKASI


SANDHY PUTRA MEDAN
Bab I
1. Pendahuluan
Sebelum masa demokrasi, suatu surat kabar hanya dapat diterbitkan jika
memperoleh SIUPP terlebih dahulu. Namun , ketika masa reformasi, kebebasan
pers mulai dinikmati masyarakat. Ijin terbit lebih mudah diperoleh dan terbuak
bagi masyarakat tanpa diskriminasi. Meski demikian maraknya penerbitan pers
juga menimbulkan pendapat yang pro dan kontrA. Ini disebabkan oleh beberapa
faktor seperti masyarakat dan pemerintah yang terbiassa dengan pola lama.
Faktor lainnya ialah kenyataan bahwa periode pertama pers bebas lebih
meningkatkna kualitas media massa yang hidup dalam udara baru kebebasan.
Dalam sistem orde lama dan orde baru pemerintah bersikap represif, menekan
rakyat sehingga bukan hanya sekadar kedaulatan rakyat dan asas hukum tidak
berjalan, tetapi juga dasar-dasar dan nilai-nilainya yang hakiki seperti
maratabat manusia dan hak asasi.

Pers independen tidak seharusnya memiliki kepentingan partisan dan ikut


berpolitik praktis.Sebagai salah satu penjaga kepentingan dan kesejateraan
bersama. Masyarakat pers harus lebih leluasa membangun jrembatan dan forum

komunikasi. Sosisalisasi yang sering diistilahkan edukasi, merupakan fungsi pers


pula. Sosialisasi amat penting fungsinya karena masyarakat hidup dalam jaman
informasi. Sosialisasi ide,visi, agenda, komitmen sangatlah mendesak. Misalnya,

setiap orang berbicara tentang demokrasi, apa bentuk dan formatnya.


Demokrasi mempunyai prinsip pokok yakni martabat manusia dan hak-hak asasi
manusia yang dihormati dan dilindungi tanpa diskriminasi. Demokrsai juga
mempunyai hak –hak sipil yang dijamin secara konstitusional, seperti hak
kebebasan, hak milik dan persamaaan di depan hukum.

2. Latar Belakang
Transformasi Indonesia ke dalam suatu sistem bernegara yang lebih
demokratis telah banyak membuahkan perubahan-perubahan yang cukup
signifikan dalam kehidupan rakyat Indonesia. Perubahan-perubahan tersebut
bukan berarti tanpa ada pergesekan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru,
yang kadang kala menjadi suatu masalah sosial dan hukum. Namun
bagaimanapun juga halangan dan masalah yang terjadi dalam proses perubahan
biarlah tetap menjadi suatu bagian dari proses alamiah perjalanan suatu sistem
bernegara menuju ke arah yang lebih baik.

Kebebasan pers tidak terelakkan lagi merupakan suatu unsur penting


dalam pembentukan suatu sistem bernegara yang demokratis, terbuka dan
transparan. Pers sebagai media informasi merupakan pilar keempat demokrasi
yang berjalan seiring dengan penegakan hukum untuk terciptanya
keseimbangan dalam suatu negara. Oleh karena itu sudah seharusnya jika pers
sebagai media informasi dan juga sering menjadi media koreksi dijamin
kebebasannya dalam menjalankan profesi kewartawananya. Hal ini penting
untuk menjaga obyektifitas dan transparansi dalam dunia pers, sehingga
pemberitaan dapat dituangkan secara sebenar-benarnya tanpa ada rasa takut
atau dibawah ancaman,sebagaimana pada masa Orde Baru berkuasa dengan
istilah:self-censorship.

Mengenai nilai-nilai kebebasan pers sendiri, hal tersebut telah diakomodir


di dalam UUD 1945 yang telah diamandemen, yaitu diatur dalam Pasal 28, Pasal
28 E Ayat (2) dan (3) serta Pasal 28 F. Oleh karena itu jelas negara telah
mengakui bahwa kebebasan mengemukakan pendapat dan kebebasan berpikir
adalah merupakan bagian dari perwujudan negara yang demokratis dan
berdasarkan atas hukum.

Namun demikian, perlu disadari bahwa insan pers tetaplah warga negara
biasa yang tunduk terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam hal ini,
bagaimanapun juga asas persamaan dihadapan hukum atau equality before the
law tetap berlaku terhadap semua warga negara Indonesia termasuk para
wartawan, yang notabene adalah insan pers. Asas persamaan di hadapan
hukum tersebut juga diatur secara tegas dalam UUD 1945 yang telah
diamandemen yaitu di dalam Pasal 27 Ayat (1) dan Pasal 28 D Ayat (1). Dengan
demikian para insan pers di Indonesia tidak dapat dikecualikan atau memiliki
kekebalan (immune) sebagai subyek dari hukum pidana dan harus tetap tunduk
terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang berlaku di
Indonesia.

Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti kebebasan pers telah dikekang
oleh undang-undang. Justru, konsep berpikir yang harus dikembangkan adalah
perangkat perundang-undangan tersebut dibuat dan diberlakukan dengan tujuan
untuk membentuk pers yang seimbang, transparan dan profesional.
Bagaimanapun juga harus diakui bahwa pers di Indonesia belum
seluruhnya telah menerapkan suatu kualitas pers yang profesional dan
bertanggung jawabdalam membuat pemberitaan. Hal ini patut diwaspadai
mengingat belum seluruhnya rakyat Indonesia memiliki pendidikan dan tingkat
intelegensia yang memadai. Jika, pers dibiarkan berjalan tanpa kontrol dan
tanggung jawab maka hal tersebut dapat berpotensi menjadi media agitasi yang
dapat mempengaruhi psikologis masyarakat yang belum terdidik, yang notabene
lebih besar jumlahnya dibanding masyarakat yang telah terdidik. Oleh karena itu
kebebasan pers perlu diberikan pembatasan-pembatasan paling tidak melalui
rambu hukum, sehingga pemberitaan yang dilakukan oleh pers, dapat menjadi
pemberitaan pers yang bertanggung jawab.

3. Perumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam pemberitaan pers adalah jika pemberitaan
pers digunakan sebagai alat untuk memfitnah atau menghina seseorang atau
institusi dan tidak mempunyai nilai berita (news), dan di dalam pemberitaan
tersebut terdapat unsur kesengajaan (opzet) dan unsur kesalahan (schuld) yang
memenuhi unsur-unsur tindak pidana. Jadi yang perlu ditekankan disini adalah,
pidana tetap harus diberlakukan terhadap pelaku yang dengan sengaja
melakukan penghinaan atau fitnah dengan menggunakan pemberitaan pers
sebagai media. Sementara kebebasan pers untuk melakukan pemberitaan jika
memang dilakukan secara bertanggung jawab dan profesional, meskipun ada
kesalahan dalam fakta pemberitaan tetap tidak boleh dipidana.

Kebebasan pers pada kenyataannya sedang di persimpangan jalan.


Dunia pers mengklaim kebebasan untuk tidak dituntut oleh pengadilan kriminal:
kebebasan untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan
informasi tanpa hambatan dari pihak mana pun.

Undang-Undang (UU) No 40/1999 tentang Pers menyebutkan,


"Kemerdekaan pers adalah suatu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan
prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum".

Ini artinya, kemerdekaan pers dijalankan di dalam bingkai moral, etika dan
hukum, sehingga kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang disertai dengan
kesadaran akan pentingnya penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan
oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dan Kode Etik
Wartawan Indonesia (KEWI), sesuai dengan hati nurani insan pers.

Istilah "Kebebasan Pers" sebenarnya dikonsepkan melalui suatu konklusi


dari ketentuan Pasal 4 Ayat (2) dan (3) UU No 40/1999 beserta penjelasannya,
yang pada intinya menyatakan pers bebas dari tindakan pencegahan,
pelarangan dan atau penekanan dalam upaya mencari, memperoleh dan
menyebarluaskan gagasan dan informasi. Dengan demikian, makna
kemerdekaan pers lebih luas dari makna kebebasan pers yang dipersepsikan
oleh insan pers.

Bab II
1. Pembahasan
KALAU berbicara tentang kebebasan pers, maka proses dan efek
komunikasi massa tersebut tidak dapat dikaji hanya dari aspek kepentingan
tunggal. Terutama, untuk apa kebebasan pers itu Atau, kebebasan pers dari
siapa

Setiap tinjauan kebebasan pers, harus ditinjau dari aneka kepentingan


(kepentingan yang jamak). Cara tinjauan demikian, diharap dapat
menghindarkan implementasi kebebasan pers, seolah tanpa rambu, tanpa batas,
di samping bersifat mutlak.

Tinjauan kebebasan pers pada kurun waktu (termasuk era pemerintahan)


tertentu, minimal harus beranjak dari kedua pertanyaan tadi. Kedua pertanyaan
itu akan memotivasi semangat dan tekad membangun kebebasan pers, sebagai
kebebasan manusia yang dilandasi ranah pertanggungjawaban kemanusiaan.
Bukan sebagai bentuk penjabaran kebebasan tanpa rambu, tanpa batas, serta
bersifat to be or not to be (ada atau tidak, harus ada; bisa atau tidak, harus bisa).

Jika kita menafsirkan kebebasan pers dalam alur berpikir pertama,


kebebasan pers memang pantas, dan seharusnya diperjuangkan serta
ditegakkan semua pihak. Baik oleh pengelola media massa, maupun oleh publik
media (termasuk rakyat dan pemerintah).

Tetapi, sebaliknya, kalau penafsiran kebebasan pers terjebak kepentingan


yang terkandung dalam pertanyaan kedua, justru bisa menimbulkan aneka
kendala buat pengelola dan publiknya. Ini disebabkan kebebasan pers seakan
kebal (resisten) atas segala bentuk intervensi, baik hukum maupun moral publik

Sesuatu yang tidak terelak, sejak pemerintahan Soekarno sampai


Megawati, adalah langkanya momentum pers Indonesia berkebebasan mutlak.
Negatifkah kecenderungan dan fakta tersebut? Tidak, karena kebebasan pers
bukanlah kebebasan yang monopolistik milik media massa (absolutely right). Di
mana pers bebas sebebas-bebasnya, pers bebas tanpa batas apa pun, dan oleh
siapa pun.

Kecenderungan dan fakta disebut terakhir tidak pernah eksis di negeri ini.
Kebebasan pers Indonesia tanpa rambu, bebas dari segala bentuk kontrol
hukum, moral publik dan landasan nilai-nilai luhur (terutama hak asasi manusia)
dan lain-lain, tidak pernah eksis di masa pemerintahan silam.

Kebebasan pers macam ini, mutlak perlu ditegakkan. Negara dan bangsa
kita membutuhkan kebebasan pers yang bertanggung jawab (free and
responsible press). Sebuah perpaduan ideal antara kebebasan pers dan
kesadaran pengelola media massa (insan pers), khususnya untuk tidak berbuat
semena-mena dengan kemampuan, kekuatan serta kekuasaan media massa
(the power of the press).

Kebebasan pers Indonesia idealnya dibangun di atas landasan


kebersamaan kepentingan pengelola media, dan kepentingan target
pelayanannya, tidak peduli apakah mereka itu mewakili kepentingan negara
(pemerintah), atau kepentingan rakyat. Dalam kerangka kebersamaan
kepentingan dimaksud, diharap aktualisasi kebebasan pers nasional kita,
sedikitnya lima tahun mendatang, tidak hanya akan memenuhi kepentingan
sepihak, baik kepentingan pengelola (sumber), maupun teratas pada
pemenuhan kepentingan sasaran (publik media).

Sudut pandang kepentingan ini, dilandasi kajian komprehensif atas


keberadaan, fungsi dan peranan pers, sebagai landasan ideal dan praksis
kebebasan pers, yang bermuara dari pemahaman teori peluru (the bullet theory)
yang dikenal dalam ilmu komunikasi. Teori itu menguraikan kegiatan komunikasi,
termasuk pers, berpusat komunikator.

Bab.III
1. Kesimpulan
Ibarat peluru yang dibidikkan penembak (komunikator, media massa),
akan tepat kena sasaran atau tidak, tergantung kepada kecakapan
penembaknya. Penembak jitu, biasanya tidak memubazirkan peluru ke arah atau
sasaran lain, kecuali ke titik bidik yang dituju. Karenanya, akan sangat sulit bagi
sasaran tembak untuk mengelak atau menghindarkan peluru yang melesat cepat
dari moncong senapan sang penembak.

Demikian pula dengan pers. Kecakapan pengelola media massa,


merupakan salah satu prasyarat tercapainya tujuan penerbitan media cetak, dan
pengudaraan siaran radio serta televisi.

Pers dan kemerdekaan pers adalah suatu wujud dari kedaulatan rakyat
yang mempunyai peranan yang sangat penting di dalam zaman reformasi ini.
Namun, pada kenyataannya harus disadari pula bahwa pers kita menjadi pers
yang lebih sering beretorika (meminjam istilah Satjipto Rahardjo) sehingga
terkadang menyalahgunakan kebebasan sendiri (abuse of liberty).

Syarat lain seperti bagaimana prosesnya digarap dengan baik dan benar,
di samping kemapanan publik, serta prediksi pengaruh pers, memang juga
menentukan besar-kecilnya, dan signifikan tidaknya pengaruh media massa,
walau kadar signifikasinya antartarget publik media, bisa berbeda-beda.

Karenanya, selama pemerintahan mendatang, pengelola media


sepatutnya tidak mengapresiasi kebebasan pers sebagai penjabatan konkret
keperkasaan pers, yang tan kena ora tadi. Karenanya, para insan pers tidak
boleh menganggap lantaran publik media mustahil mampu mengelak dari
"peluru" pers, membuat mereka (awak pers) boleh seenak hati
memberondongkan isi senapannya (informasi pers) kepada publik.

2. Penutup
Uraian di atas, mendorong seharusnya penerapan teori peluru secara
ekstra hati-hati oleh setiap pengelola media cetak dan elektronika (radio,
televisi). Dalam hal ini, segenap pengelola media harus semaksimal atau
seoptimal mungkin mencegah arogansi pers, yang dimungkinkan oleh kekuatan
dan keperkasaan media massa pada umumnya.

Dalam konteks kebebasan pers (dengan ideal di atas), pemerintah perlu


memiliki antibodi yang memadai. Untuk itu, pemerintah tidak boleh berperan di
depan (mendahului publik), dalam upaya pengawasan kebebasan pers. Biarlah
kegiatan media watch , termasuk pemantauan kebebasan pers dilakukan oleh
masyarakat, tanpa melibatkan peran pemerintah. Kecuali jika terjadi konflik
(manajemen konflik), sebagai akibat kebebasan pers.

Pemerintah mendatang dituntut untuk mampu mencegah polusi budaya


media, imperialisme media, kejahatan media dan lain-lain, tanpa menghadirkan
state body yang ekstra dominan menentukan corak pers. Superioritas peran
negara, sebagaimana juga superioritas fungsi pers, merupakan bagian dari
harapan publik, yang mesti dicegah perwujudannya, tanpa harus berarti
terjadinya pengekangan kebebasan pers di negeri ini.

Daftar Pustaka
Suara Merdeka 18 Oktober 2008, “Kebebasan Pers Era SBY-Kalla”
Antara News 30 November 2009, “Kebebasan Pers Terancam”

http://kebebasanpers.com

www.wikipedia.com

www.google.com