Anda di halaman 1dari 8

KIMIA ORGANIK

KELOMPOK 17

Oleh:
Adinda Diandri Putri / 1406553013/ Teknik Kimia
Ardha Bariq Fardiansyah/ 1406553064/ Teknik Kimia
Arif Hendrawan/ 1406531763/ Teknik Kimia

UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015

SOAL

Senyawa apa saja yang terbentuk dari kilang minyak ( crude oil )? Dan bagaimana
aplikasinya?
JAWAB

Minyak bumi dalam bahasa inggris petroleum, dari bahasa Latin petrus
karang dan oleumminyak), atau disebut juga sebagai emas hitam, adalah cairan
kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar yang berada di lapisan atas
dari beberapa area kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari
berbagai hidrokarbon, sebagian besar meruapakan deret senyawa alkana, bervariasi
dalam komposisi dan kemurniannya.
Minyak bumi erat kaitannya dengan produk-produk petrokimia. Hal ini
disebabkan dalam minyak bumi terkandung bahan-bahan selain karbon, yaitu
hidrogen sulfur, nitrogen, oksigen, dan lain-lain.
Pada awalnya, minyak bumi banyak dimanfaatkan sebagai minyak tanah,
namun seiring dengan perkembangan teknologi maka minyak bumi diolah menjadi
bahan lain yang sangat berguna bagi manusia seperti bahan bakar (bensin, solar,
kerosin, minyak diesel, dll.) yang lebih dikenal dengan sebutan BBM (bahan bakar
minyak). Minyak bumi bersumber dari cadangan alam yang tidak dapat diperbaharui,
sehingga makin hari cadangannya makin menipis sejalan dengan tuntutan kebutuhan
energi dunia yang semakin meningkat.
Kilang minyak adalah pabrik/fasilitas industri yang mengolah minyak
mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan maupun produkproduk lain yang menjadi bahan baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama
yang dihasilkan dari kilang minyak antara lain: minyak bensin (gasoline), minyak
disel, minyak tanah (kerosene). Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang
sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya.
Selain itu, pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Berdasarkan kandungan senyawanya, minyak bumi dapat dibagi menjadi
golongan hidrokarbon dan non-hidrokarbon serta senyawa-senyawa logam.
1. Hidrokarbon
Golongan hidrokarbon-hidrokarbon yang utama adalah parafin, olefin, naften, dan
aromat.
1.1. Parafin
Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon jenuh berantai lurus (alkana), CnH2n+2.
Contohnya adalah metana (CH4), etana (C2H6), n-butana (C4H10), isobutana (2-metil
propana, C4H10), isopentana (2-metilbutana, C5H12), dan isooktana (2,2,4-trimetil
pentana, C8H18). Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh
lebih banyak daripada senyawa yang tergolong n- parafin. Tetapi, di dalam minyak
bumi mentah, kadar senyawa isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.
1.2. Olefin
2

Olefin adalah kelompok senyawa hidrokarbon tidak jenuh, CnH2n. Contohnya etilena
(C2H4), propena (C3H6), dan butena (C4H8).
Komposisi Persen
Karbon (C) 84 87
Hidrogen (H) 11 14
Sulfur (S)
03
Nitrogen (N) 01
Oksigen (O) 02

1.3. Naftena
Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan
rumus molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena yang banyak ditemukan
adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon.
Contohnya adalah siklopentana (C5H10), metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana
(C6H12). Umumnya, di dalam minyak bumi mentah, naftena merupakan kelompok
senyawa hidrokarbon yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.
1.4. Aromatik
Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom-atom
karbon yang membentuk cincin benzen (C6H6). Contohnya benzen (C6H6),
metilbenzen (C7H8), dan naftalena (C10H8). Minyak bumi dari Sumatera dan
Kalimantan umumnya memiliki kadar aromat yang relatif besar.
2. Non Hidrokarbon
Selain senyawa-senyawa yang tersusun dari atom-atom karbon dan hidrogen, di
dalam minyak bumi ditemukan juga senyawa non hidrokarbon seperti belerang,
nitrogen, oksigen, vanadium, nikel dan natrium yang terikat pada rantai atau cincin
hidrokarbon. Unsur-unsur tersebut umumnya tidak dikehendaki berada di dalam
produk-produk pengilangan minyak bumi, sehingga keberadaannya akan sangat
mempengaruhi langkah-langkah pengolahan yang dilakukan terhadap suatu minyak
bumi.
2.1. Belerang
Belerang terdapat dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), belerang bebas (S),
merkaptan (R-SH, dengan R=gugus alkil), sulfida (R-S-R), disulfida (R-S-S-R) dan
tiofen (sulfida siklik). Senyawa-senyawa belerang tidak dikehendaki karena :
1. menimbulkan bau tidak sedap dan sifat korosif pada produk
pengolahan.
2. mengurangi efektivitas zat-zat bubuhan pada produk
pengolahan.
3. meracuni katalis-katalis perengkahan.

4. menyebabkan pencemaran udara (pada pembakaran bahan


bakar minyak, senyawa belerang teroksidasi menjadi zat-zat
korosif yang membahayakan lingkungan, yaitu SO2 dan SO3).
2.2. Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dibagi menjadi zat-zat yang bersifat basa seperti 3metilpiridin (C6H7N) dan kuinolin (C9H7N) serta zat-zat yang tidak bersifat basa
seperti pirol (C4H5N), indol (C8H7N) dan karbazol (C12H9N). Senyawa-senyawa
nitrogen dapat mengganggu kelancaran pemrosesan katalitik yang jika sampai
terbawa ke dalam produk, berpengaruh buruk terhadap bau, kestabilan warna, serta
sifat penuaan produk tersebut.
2.3. Oksigen
Oksigen biasanya terikat dalam gugus karboksilat dalam asam-asam naftenat (2,2,6trimetilsikloheksankarboksilat, C10H18O2) dan asam-asam lemak (alkanoat), gugus
hidroksi fenolik dan gugus keton. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah
serius seperti halnya senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses
katalitik.
3. Senyawa logam
Minyak bumi biasanya mengandung 0,001-0,05% berat logam. Kandungan logam
yang biasanya paling tinggi adalah vanadium, nikel dan natrium. Logam-logam ini
terdapat bentuk garam terlarut dalam air yang tersuspensi dalam minyak atau dalam
bentuk senyawa organometal yang larut dalam minyak. Vanadium dan nikel
merupakan racun bagi katalis-katalis pengolahan minyak bumi dan dapat
menimbulkan masalah jika terbawa ke dalam produk pengolahan.
Produk-produk Utama yang Bisa Diperoleh
1. Gas-gas Hidrokarbon Ringan

Komponen-komponennya adalah senyawa-senyawa parafinik dengan titik


didih normal < 30C dan pada tekanan atmosfer berwujud gas, yaitu metana (CH4),
etana (C2H6), propana (C3H8), isobutana (i- C4H10) dan n-butana (n- C4H10). Gas-gas
tersebut lazim disebut sebagai gas kilang. Propana dan butana biasanya dipisahkan
dari gas kilang dan dicairkan untuk dijual sebagai LPG (Liquefied Petroleum Gases).
LPG digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga atau sebagai bahan bakar motor
yang telah disesuaikan penggunaannya.
Pemisahan komponen gas kilang berupa campuran etana, propana dan butana
digunakan sebagai bahan mentah pembuatan olefin dalam proses perengkahan kukus
(steam cracking).

Selain itu, gas kilang dapat dimanfaatkan langsung tanpa mengalami proses
pemisahan
sebagai
:
a.
bahan mentah dalam reformasi kukus (steam reforming) untuk pembuatan gas
sintesis (campuran CO dan H2)
CnHm +nH2OnCO+(n+m/2)H2
b.
dijadikan bahan bakar untuk ketel-ketel kukus, turbin-turbin gas, dan tungkutungku pemanas di dalam kilang.
2. Bensin (gasolin)
Mulanya bensin adalah produk utama dalam industri minyak bumi yang
merupakan campuran kompleks dari ratusan hidrokarbon dan memiliki rentang
pendidihan antara 30-200C. Bensin adalah bahan bakar mesin siklus Otto yang
banyak digunakan sebagai bahan bakar alat transportasi darat (mobil). Kinerja yang
dikehendaki dari bensin adalah anti knocking. Knocking adalah peledakan campuran
(uap bensin dengan udara) di dalam silinder mesin dengan siklus Otto sebelum busi
menyala. Peristiwa knocking ini sangat mengurangi daya mesin. Hidrokarbon rantai
lurus cenderung membangkitkan knocking. Sementara, hidrokarbon bercabang, siklik
maupun aromatik cenderung bersifat anti knocking. Tolok ukur kualitas anti knocking
sering disebut sebagai bilangan oktan (octane number). Skalanya didasarkan kepada
n-heptana memiliki bilangan oktan nol dan isooktana memiliki bilangan oktan seratus.
Bensin dikatakan memiliki bilangan oktan X, dengan 0 < X > 100, jika kualitas
pembakaran bensin tersebut setara dengan kualitas pembakaran campuran X% volum
isooktan dan (100-X)% volum n-heptana. Untuk skala bilangan oktan yang lebih
besar dari 100 dirumuskan sebagai :

Dalam pengujiannya, terdapat dua jenis bilangan oktan yaitu bilangan oktan
riset RON (Research Octane Number) dan bilangan oktan motor MON (Motor Octane
Number). RON diukur pada kondisi pengujian yang mewakili kondisi di dalam kota,
kecepatan rendah dan frekuensi percepatan/perlambatan tinggi. Sedangkan MON
diukur pada kondisi pengujian yang mewakili kondisi di jalan raya bebas hambatan,
kecepatan tinggi dan frekuensi percepatan/perlambatan rendah. Bilangan oktan yang
diumumkan adalah rata-rata aritmatik kedua bilangan oktan tersebut yang kemudian
disebut sebagai PON (Posted Octane Number). Senyawa aromatik dan parafin
bercabang mempunyai angka oktan paling tinggi, sedangkan n-parafin memiliki
biilangan oktan yang paling rendah. Naftenik, olefin dan parafin bercabang sedikit
memiliki bilangan oktan yang sedang. Kenaikan panjang rantai hidrokarbon parafin
menurunkan angka oktan.
5

Penambahan senyawa-senyawa organik logam berat dapat meningkatkan


bilangan oktan bensin. Senyawa yang paling efektif dalam meningkatkan bilangan
oktan adalah TEL (Tetra Ethyl Lead, Pb(C2H5)4). Senyawa ini larut dalam bensin dan
dapat mengakibatkan kenaikan yang besar pada bilangan oktan bensin yang
ditambahkan. Kenaikan bilangan oktan karena penambahan TEL semakin kecil jika
bilangan oktan semula semakin besar. Tetapi, penambahan TEL atau senyawasenyawa logam berat lainnya dapat mencemari atmosfir dan menjadi racun bagi orang
yang menghirupnya, maka digunakanlah senyawa-senyawa pengganti logam berat
tersebut yaitu senyawa alkohol dan eter seperti metanol (CH3OH), etanol (C2H5OH),
Metil Tersier Butil Eter (MTBE), Etil Tersier Butil Eter (ETBE) dan Tersier Amil
Metil Eter (TAME). Aditif yang berasal dari eter memiliki afinitas terhadap air yang
lebih kecil daripada aditif yang berasal dari alkohol. Bensin yang dicampuri eter lebih
tidak menarik air dari udara bebas (adanya air akan merusak mutu bensin).
3. Kerosin, Bahan Bakar Pesawat Jet, dan Minyak Diesel

Ketiga kelompok ini memiliki rentang pendidihan yang mirip. Kerosin disebut
juga dengan minyak tanah dan digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga. Rentang
pendidihannya antara 175-275C. Tolok ukur kualitas ketiga kelompok ini adalah
smoke point. Smoke point adalah titik nyala tertinggi (dalam mm) yang dapat
dihasilkan tanpa membangkitkan asap. Semakin tinggi kadar senyawa aromat dalam
minyak bumi tersebut, maka smoke point-nya pun semakin rendah. Tolok ukur
lainnya adalah flash point yang merupakan temperatur terendah yang membuat uap
minyak bumi mulai meletup jika disodori api kecil. Kerosin yang bagus memiliki
smoke point 17 dan flash point > 40C.
Bahan bakar pesawat jet dibedakan untuk kebutuhan sipil dan militer. Untuk
keperluan sipil, rentang pendidihannya 175-290C, kadar aromat maksimum 20%
volum, dan flash point >40C. Sedangkan untuk keperluan militer rentang
pendidihannya 65-290C dengan kadar aromat maksimum 25% volum.
Minyak diesel adalah bahan bakar untuk mesin siklus diesel. Mesin dengan
siklus diesel tidak menggunakan busi, tetapi menggunakan penyalaan mandiri minyak
diesel panas ke dalam silinder berisi udara bertekanan tinggi. Oleh karena itu, minyak
diesel diharapkan memiliki kecenderungan untuk menyala sendiri. Tolok ukurnya
adalah bilangan setan (cetane number). Minyak diesel memiliki bilangan setan X jika
performa minyak diesel tersebut memiliki kualitas yang setara dengan campuran X%
volume n- heksadekan (n-C16H34) dan (100-X)% volume -metil naftalena
(C10H7CH3). Minyak diesel untuk kenderaan otomotif biasa disebut solar dengan
rentang pendidihan 175-340C dengan bilangan setan > 50. Sedangkan minyak diesel
untuk kereta api memiliki bilangan setan 40 s/d 45 dengan rentang pendidihan 180370C.

4. Minyak Bakar
Minyak bakar terbagi atas lima jenis, yaitu minyak bakar no. 1, no. 2, no. 4,
no. 5 dan no. 6. Minyak bakar no. 1 sangat mirip kerosin tetapi memiliki titik tuang
dan titik akhir rentang pendidihan yang lebih tinggi. Minyak bakar no. 2
(IDO=Industrial Diesel Oil) sangat mirip dengan minyak diesel otomotif. Minyak
bakar no. 1 dan no. 2 serta kerosin, bahan bakar pesawat jet dan minyak diesel biasa
disebut sebagai BBM distilat (distillate fuels). Minyak bakar no. 4, no. 5 dan no. 6
disebut BBM residu karena berasal dari sisa distilasi minyak bumi mentah pada
tekanan atmosferik. Minyak bakar no. 4 adalah yang paling ringan di antara ketiganya
dan memiliki titik tuang -7oC. Minyak bakar no. 5 masih berupa fluida pada
temperatur di atas 10oC sedangkan minyak bakar no. 6 harus dipanaskan terlebih
dahulu untuk bisa mengalir. Makin besar nomor minyak bakar, makin tinggi nilai
kalornya.
5. Minyak Tanah
Pada fraksi ini dihasilkan kerosin (minyak tanah). Minyak bumi dengan titik
didih lebih kecil dari 275C, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin
dengan suhu 175C-275C. Pada trayek ini, kerosin (minyak tanah) akan mencair dan
keluar ke penampungankerosin. Minyak tanah (kerosin) merupakan campuran alkana
dengan rantai C12H26 C15H32.
6. Minyak Gas
Pada fraksi ini dihasilkan minyak gas (minyak solar). Minyak bumi dengan
titik didih lebih kecil dari 375C, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom
pendingin dengan suhu 250C-375C. Pada trayek ini minyak gas (minyak solar) akan
mencair dan keluar ke penampungan minyak gas (minyak solar). Minyak solar
merupakancampuran alkana dengan rantai C15H32 C16H34.
7. Residu
Pada fraksi ini dihasilkan residu. Minyak mentah dipanaskan pada suhu tinggi,
yaitu di atas 375C, sehingga akan terjadi penguapan. Pada trayek ini dihasilkan
residu yang tidak menguap dan residu yang menguap. Residu yang tidak menguap
berasal dari minyak yang tidak menguap, seperti aspal dan arang minyak bumi.
Adapun residu yang menguap berasal dari minyak yang menguap, yang masuk ke
kolom pendingin dengan suhu 375C. Minyak pelumas(C16H34. C20H42.) digunakan
untuk pelumas mesin-mesin, parafin (C21H44. C24H50.) untukmembuat lilin, dan
aspal (rantai C lebih besar dari C36H74.) digunakan untuk bahan bakar dan pelapis
jalan raya.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Zulfan. 2015. Kilang Minyak Bumi. http://www.slideshare.net. Diakses pada : 23
Februari 2015.
Fatimah, Siti. 2015. Industri Minyak Bumi. http://file.upi.edu. Diakses pada : 24
Februari 2015.
Ximoes, M. 2015. Guna Hidrokarbon dan Minyak Bumi. https://www.academia.edu.
Diakses pada : 24 Februari 2015.