Anda di halaman 1dari 60

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................................1


BAB I ...................................................................................................................................3
1.1.

Latar Belakang ..................................................................................................... 3

1.2.

Maksud dan Tujuan Kunjungan ........................................................................... 3

BAB II ..................................................................................................................................4
2.1.

Gambaran Umum IPAL Bojongsoang ................................................................. 4

2.2.

Struktur Organisasi ............................................................................................... 6

5.1.

Sistem Pembuangan Air Limbah.......................................................................... 6

5.2.

Tahapan Pengolahan Air Limbah Pada IPAL Bojongsoang ................................ 7

BAB III ..............................................................................................................................18


3.1

Umum ................................................................................................................. 18

3.2

Sistem Pemeliharaan IPAL Bojongsoang .......................................................... 18

3.3

Wastewater Treatment Plant Madisonville (United States) ............................... 21

3.4

Saran Sistem Pemeliharaan IPAL ...................................................................... 28

BAB IV ..............................................................................................................................35
4.1

Umum ................................................................................................................. 35

4.2

Rincian Biaya Operasional dan Pemeliharaan IPAL ......................................... 37

BAB V ...............................................................................................................................40
5.1.

Umum ................................................................................................................. 40

5.2.

Alternatif Pengembangan IPAL ......................................................................... 41

BAB VI ..............................................................................................................................45
BAB VII .............................................................................................................................52
7.1

Standar Baku Mutu Air Keluaran IPAL Bojongsoang....................................... 52

7.2

Sanksi Terhadap Pencemaran Air Hasil Pengolahan ......................................... 54

7.3

Upaya-Upaya Dalam Mempertahankan Hasil Pengolahan ................................ 56


1

7.4

Standar Baku Air Limbah agar Limbah Industri /Swasta dapat masuk ke IPAL

Bojongsoang .................................................................................................................. 57
BAB VIII ...........................................................................................................................59
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................60

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pesatnya pembangunan di kota Bandung terutama banyaknya pemukiman-

pemukiman baru membuat air limbah domestik semakin meningkat. Tidak hanya itu
kurangnya pengolahan limbah dari pabrik-pabrik industri membuat daerah tangkapan air
seperti sungai menjadi tercemar. Limbah pabrik dan limbah domestik yang berupa bahan
organik akan mengakibatkan turunnya kualitas air bersih.
Turunnya kualitas air ini akan berakibat fatal bagi kesehatan manusia maupun
hewan dan tanaman yang secara langsung mengkonsumsi air yang tercemar tersebut. Oleh
karena itu, dibutuhkan pengendalian air limbah yang dibuang ke badan sungai, terutama
sungai Citarum, agar mutu badan air yang bermuara ke sungai dapat dikendalikan.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bojongsoang adalah salah satu IPAL
yang diandalkan kota Bandung yang dibangun pada tahun 1990 dan mulai dioperasikan
pada tahun 1992. Tujuan dari instalasi ini adalah untuk mengolah air buangan rumah
tangga dari area pelayanan kota bandung dan untuk menurunkan tingkat pencemaran
sungai-sungai di Kota Bandung.

1.2.

Maksud dan Tujuan Kunjungan


Maksud dan tujuan dilakukannya studi lapangan ke Instalasi Pengolahan Air

Limbah (IPAL) adalah :


1.

Melihat metode pengolahan air limbah yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Kota Bandung.

2.

Mengetahui proses pengolahan limbah rumah tangga yang dilakukan di Instalasi


Pengolahan Air Limbah Bojongsoang.

3.

Mengetahui Fasilitas/Instalasi yang digunakan di Instalasi Pengolahan Air Limbah


Bojongsoang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Gambaran Umum IPAL Bojongsoang


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ini berlokasi di Kabupaten Bandung yaitu

di desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang. IPAL di Bojongsoang ini merupakan


instalasi yang mengolah air buangan rumah tangga yang disalurkan melalui perpipaan.
Instalasi ini untuk mengolah buangan domestik rumah tangga yang berasal dari area
wilayah Bandung Timur dan Bandung Tengah Selatan dengan kapasitas pelayanan
400.000 jiwa.
IPAL ini dibangun dengan tujuan untuk mengolah air buangan rumah tangga dari
area pelayanan kota bandung dan untuk menurunkan tingkat pencemaran sungai-sungai di
Kota Bandung, khususnya mengurangi tingkat pencemaran air sungai Citarum. Jenis air
buangan yang diolah pada IPAL Bojongsoang adalah buangan dari kamar mandi, dapur
dan limbah pencucian. Sedangkan sumber air limbah yang diolah adalah berasal dari rumah
tangga, hotel, restoran, rumah sakit, mall, dan lain-lain.
Dengan adanya proses pengolahan limbah domestik, kualitas air buangan yang
dibuang ke sungai Citarum tidak terlalu buruk. Luas area keseluruhan adalah 85 ha dengan
sistem pengolahan biologi yaitu kolam stabilisasi. IPAL ini merupakan instalasi
pengolahan air buangan domestik terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara.
Instalasi ini beroperasi sejak tahun 1992 dan uji coba pengolahan dilaksanakan pada
bulan Oktober 1992 dengan tujuan untuk mengolah air buangan rumah tangga menjadi air
yang aman untuk dimanfaatkan di lingkungan baik dilepas ke Badan Air Penerima maupun
dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi. (IPAL, 2011). Letak Topografi IPAL Bojongsoang
berdasarkan survey dan menggunakan GPS adalah 12 Km dari Kota Bandung dan dengan
koordinat 7-7,28 LS 107 0,14 1070,16 BT.
Sistem pengolahan air limbah di IPAL Bojongsoang terhitung konvensional.
Proses-prosesnya mengutamakan proses alami, tanpa bantuan teknologi yang rumit dan
tanpa bantuan bahan kimia aditif. IPAL ini mengolah air limbah melalui dua proses utama,
yaitu proses fisik dan biologi. Proses fisik memisahkan air limbah dari sampah-sampah,
pasir, dan padatan lainnya sehingga proses pengolahan biologi tidak terganggu. Proses
biologi mengolah air limbah sehingga parameter Biochemical Oxygen Demand (BOD),
Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), kandungan bakteri Coli,
4

kandungan logam berat, dll memenuhi daya dukung lingkungan badan air di mana air
limbah yang sudah diolah ini akan dibuang. Kolam pengolahan biologi terdiri dari 14
kolam yang terdiri dari dua set yaitu, set A dan set B. Jadi, masing-masing set terdiri dari
tujuh kolam yaitu, tiga kolam anaerob, dua kolam fakultatif, dan dua kolam maturasi.

Gambar 1. Areal IPAL Bojongsoang

Adapun sarana yang tersedia di lokasi IPAL Bojongsoang ini adalah sebagai berikut :
1.

Unit Instalasi Pengolahan Fisik

2.

Kolam Stabilisasi

3.

Sludge drying bed (bak pengering lumpur)

4.

Laboratorium (temporary lab)

5.

Gedung perkantoran

6.

Mess operator

7.

Gudang perlengkapan

8.

Bengkel Instalasi

9.

Rumah jaga

10.

Rumah dinas pengawas instalasi

11.

Green House (ruang pengkondisian tanaman).

Sarana-sarana tersebut berada di lahan seluas 85 ha dengan pemanfaatannya meliputi :


1.

Area kolam pengolahan yang terdiri dari 14 kolam seluas 62,5 ha

2.

Area perkantoran dan fasilitas lainnya seluas 22,5 ha.

2.2.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bojongsoang

dapat dilihat seperti gambar berikut.

Gambar 2. Struktur Organisasi IPAL Bojongsoang


5.1.

Sistem Pembuangan Air Limbah


Terdapat dua jenis sistem pembuangan air limbah, yaitu sebagai berikut :

1.

Sistem Pembuangan Air Limbah Setempat (On Site System)


Sistem pembuangan air limbah yang dilakukan secara individual (perorangan)
melalui pengolahan dan pembuangan air limbah setempat.

2.

Sistem Pembuangan Air Limbah Terpusat (Off Site System)


Sistem pembuangan air limbah dilakukan secara kolektif melalui jaringan
pengumpul dan diolah serta dibuang secara terpusat.

5.2.

Tahapan Pengolahan Air Limbah Pada IPAL Bojongsoang


Terdapat dua tahapan pengolahan air limbah pada IPAL Bojongsoang, yaitu

tahapan pengolahan fisik dan tahapan pengolahan biologi.

Gambar 3. Tahapan Pengolahan Air Limbah Pada IPAL Bojongsoang

2.5.1 Tahapan Pengolahan Fisik


Tahapan pengolahan fisik terdiri dari enam tahapan, yaitu open channel, manual
bar screen, screw pump, mechanical bar screen, screening press, grit chamber dan grit
rake.

1.

Open Channel
Open channel adalah instalasi yang digunakan untuk menyalurkan air limbah dari

seluruh saluran pengumpul ke sistem IPAL. Instalasi ini juga berfungsi untuk menguapkan
air limbah terlebih dahulu agar selanjutnya air limbah yang akan diolah bau busuknya tidak
terlalu menyengat hidung.

Gambar 4. Open Channel

2.

Manual Bar Screen


Manual Bar Screen adalah instalasi yang digunakan untuk memisahkan sampah-

sampah dalam ukuran besar dari air limbah secara manual. Jadi sampah-sampah diangkat
menggunakan alat pengangkut sederhana dan sampahnya dibuang ke tempat sampah.

Gambar 5. Manual Bar Screen


8

3.

Screw Pump
Screw pump atau pompa ulir adalah instalasi yang digunakan untuk menyedot air

limbah yang sudah sudah melewati Manual Bar Screen dan memompanya ke bak
penampungan selanjutnya. Instalasi ini terdiri dari 3 penyedot dengan 3 motor/mesin
berkapasitas besar.

Gambar 6. Screw Pump


4.

Mechanical Bar Screen


Mechanical bar screen adalah instalasi yang digunakan untuk memisahkan sampah

yang masih tersisa secara mekanik atau menggunakan mesin. Sampah-sampah yang sudah
terpisah di buang ke tempat pengumpulan sampah.

Gambar 7. Mechanical Bar Screen

5.

Screening Press
Screening Press adalah instalasi yang digunakan untuk memadatkan sampah yang

dihasilkan oleh mechanical bar screen.

Gambar 8. Screening Press

6.

Grit Chamber
Grit Chamber adalah instalasi yang digunakan untuk memisahkan pasir dari

buangan yang pengoperasiannya secara mekanik.

Gambar 9. Grit Chamber

10

7.

Grit Rake
Grit rake adalah instalasi yang digunakan untuk penggerusan pasir yang terkumpul

di Grit Dischare Pocket.

Gambar 10. Grit Rake

2.5.2 Tahapan Pengolahan Biologi


Tahapan pengolahan biologi berupa kolam-kolam pengolahan biologi yang terdiri
dari 2 set yaitu set A dan set B. Masing-masing memiliki 7 buah kolam untuk setiap setnya.
Setiap rangkaian kolam (set A dan set B) terdiri dari proses anaerobik, proses fakultatif dan
proses maturasi yang akan dijelaskan sebagai berikut.

11

1.

Proses Anaerobik
Proses anaerobik merupakan upaya penurunan bahan organik secara anaerobik

dengan bantuan mikroba anaerob. Karakteristik kolam anaerobik adalah sebagai berikut :

Debit : 80.835 m3/hari

Beban volumetrik : 275 g BOD/m3/hari

BOD Influen : 360 mg/l

Total Beban Org : 20.100 kg BOD/hari

Waktu Detensi : 2 hari

Kedalaman kolam : 4 m

Luas Area : 4,04 ha

Temperatur : 22,5 oC

BOD Efluen : 144 mg/l

Gambar 11. Kolam Anaerobik

2.

Proses Fakultatif
Proses fakultatif adalah upaya penurunan bahan organik secara anaerob dan aerob

untuk stabilisai air buangan. Karakteristik kolam fakultatif adalah sebagai berikut :

Debit : 80.835 m3/hari

Beban volumetrik : 300 gr BOD/m3/hari

BOD Influen : 144 mg/l


12

Total Beban Org : 11.640 kg BOD/hari

Waktu Detensi : 5,6 - 7 hari

Kedalaman kolam : 2 m

Luas Area : 29,8 ha

Temperatur : 22,5 oC

BOD Efluen : 50 mg/l

Gambar 12. Kolam Fakultatif


3.

Proses Maturasi
Proses

maturasi

merupakan

proses

pematangan

air

buangan

sebagai

penyempurnaan dari kualitas efluen akhir sesuai dengan standar baku mutu yang berlaku
sebelum dibuang. Setelah pergi laginya ke badan air penerima (sungai). Karakteristik
kolam maturasi adalah sebagai berikut :

Debit : 80.835 m3/hari

Fecal coli : 5000 MPN/100 ml

BOD Influen : 50 mg/l

Waktu Detensi : 3 hari

Kedalaman kolam : 1,5 m

Luas Area : 32,2 ha

Temperatur : 22,5 oC

BOD Efluen : 30 mg/l


13

Gambar 13. Kolam Maturasi

Proses biologi mengolah air limbah sehingga parameter Biochemical Oxygen


Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), kandungan
bakteri Coli, kandungan logam berat, dan lainnya yang memenuhi daya dukung lingkungan
badan air di mana air limbah yang sudah diolah ini akan dibuang. Ditinjau dari kebutuhan
oksigen dimana proses penguraian berlangsung secara biologi , maka proses ini dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya
oksigen dan proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Berikut adalah
diagram alir dari proses biologi pengolahan limbah yang dilakukan oleh IPAL
Bojongsoang.

14

Gambar 14. Diagram Alir Proses Biologi di IPAL Bojongsoang


Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan data kualitas air dari IPAL Bojongsoang
pada tahun 2013.
Tabel 1. Kualitas air IPAL Bojongsoang Tahun 2013

2.6.

Kendala Operasional IPAL


Dalam pengoperasian instalasi pengolahan air limbah terdapat beberapa kendala

yang dihadapi oleh IPAL Bojongsoang, yaitu diantaranya adalah dapat dijelaskan pada
gambar-gambar berikut.

15

Gambar 15. Saluran Inlet dan Open Channel meluap saat banjir

Gambar 16. Peningkatan Permukaan Air pada Kolam

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa saat musim penghujan, volume air
yang berada pada kolam meningkat, hal ini dapat menyebabkan sistem pompa yang ada
harus bekerja lebih keras, bahkan mesin-mesin terpaksa harus dimatikan, selanjutnya
proses anaerobik menjadi terganggu dan kualitas air menjadi fluktuatif. Kendala yang
dihadapi oleh IPAL Bojongsoang dapat dijelaskan pada bagan gambar berikut.

16

Gambar 17. Kendala yang Dihadapi IPAL Bojongsoang pada Perubahan Musim

Sementara itu permasalahan yang sering dihadapi di IPAL Bojongsoang antara lain
pencemaran limbah industri dan industri rumah tangga pada saluran air kotor, akumulasi
logam berat pada lumpur, campur tangan masyarakat pada IPAL (penanaman ikan pada
kolam, pengambilan air kolam dan kerusakan fasilitas instalasi).

17

BAB III
SISTEM PEMELIHARAAN INSTALASI
PENGOLAHAN AIR LIMBAH
(ANNA ELVARIA - 25014017)

3.1

Umum
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) merupakan salah satu infrastruktur

perkotaan yang mendukung kesehatan lingkungan sesuai dengan pesatnya pembangunan


di kota terutama pembangunan permukiman. Pentingnya infrastruktur IPAL ini membuat
pihak-pihak instalasi yang terkait untuk selalu menjaga dan melakukan pemeliharaan agar
ipal selalu dapat berfungsi secara optimal. Pemeliharaan juga dilakukan dengan tujuan agar
unit-unit pengolahan dapat berfungsi optimal dan mempunyai efisiensi pengolahan seperti
yang diharapkan sehingga dapat menghasilkan efluen air limbah memenuhi baku mutu
yang ditetapkan. Pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah sangat penting dengan
tujuan :

Kinerja masing-masing unit optimal sehingga instalasi dapat terus beroperasi

Meminimalisasi biaya perbaikan unit

Tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Pada bab ini akan mencoba menjelaskan sistem pemeliharaan instalasi pengolahan
air limbah yang telah dilakukan oleh pihak IPAL Bojongsoang, mencoba menjelaskan
sistem pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah dari negara lain, serta akan mencoba
memberikan penjelasan serta saran mengenai sistem pemeliharaan instalasi pengolahan air
limbah yang baik.
3.2

Sistem Pemeliharaan IPAL Bojongsoang


IPAL Bojongsoang adalah infrastruktur yang dikelola oleh PDAM Provinsi Jawa

Barat. Sebagai operator pengelola, PDAM sendiri pada tahun 2003 telah mengeluarkan
sistem operasi dan pemeliharaan (SOP) unit-unit mekanikal pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) Bojongsoang, yang dapat dijelaskan pada tabel berikut.

18

Tabel 2 Sistem Operasi dan Pemeliharaan IPAL Bojongsoang


No

Unit
Equipment

Sistem Operasi

Manual Bar

Pembersihan sampah;
Pemberian grease pada
pintu air.

1
Screen

Screw Pump

Belt
Conveyor

Grit
Removal

Dioperasikan secara
manual atau automatis
sesuai dengan pengaturan
selector switch

Pengoperasian berdasarkan
fungsi discharge dengan
memutar switch selektor ;
Operasi otomatis berdasarkan
signal
dari mechanical bar
screen 15 detik
maka belt conveyor akan
bekerja.

Sesuai dengan screw yang


jalan dan
akan berhenti 15 menit
setelah screw pump mati.

Pembersihan/pengurasan ;
5

Grit Rake

Pemeliharaan

Penggantian oli dan grease.

Apabila tidak dioperasikan


dalam
waktu lama
harus dijalankan
selama 15
menit/bulan ;
Periksa petunjuk putaran
motor
sebelum
dijalankan ;
Penggantian oli dan greas
untuk bearing.
Pembersihan semua bagian
secara berkala ;
Pemberian grease sesuai
dengan petunjuk ;
Pemeriksaan tegangan
rantai belt conveyor

Periode Pemeliharaan
Pembersihan sampah
setiap hari

Penggantian
grease :
bearing 2
tahun ;

Gear 5000 jam/18


bulan ;
Motor 20.000 jam
operasi ;
Bearing motor periksa 3-5
tahun
Pembersihan kotoran
setiap hari.
Pengecekan oil level
setiap minggu ;
Penggantian
grease (lubrikasi)
setelah 4000-6000
jam.

dan V-belt sesuai instruksi.

Pengurasan secara berkala ;


Penggantian grease dan oli
secara berkala.

Pengurasan secara berkala ;


Penggantian grease dan oli
secara berkala.

Penggantian oli pada


Gear setiap
10.000 jam atau 2
tahun ;
Penggantian greas setiap
10.000 jam.
Penggantian oli pada
Gear setiap
10.000 jam atau 2
tahun ;
Penggantian greas setiap
10.000 jam.

(Sumber : PDAM, 2003)

Menurut kunjungan lapangan yang telah dilakukan, secara keseluruhan unit-unit


instalasi pengolahan air limbah Bojongsoang dapat dikatakan baik. Melalui wawancara
yang dilakukan pada petugas instalasi IPAL Bojongsoang diperoleh informasi bahwa unit
instalasi IPAL selalu dipelihara, terbukti saat kunjungan lapangan petugas IPAL
membersihkan dan mengangkat sampah-sampah yang masuk dan lolos pada saluran IPAL,
stasiun pompa dalam kondisi baik serta kolam-kolam oksidasi pun dalam kondisi baik.

19

Adapun pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah Bojongsoang secara ideal


yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

Stasiun Pompa
Stasiun pompa yang ada pada IPAL Bojongsoang terdiri dari 3 bbuah pompa, agar

ketika satu pompa rusak terdapat cadangan pompa untuk menjaga unit-unit pengolahan
pada instalasi dapat terus bekerja. Upaya-upaya pemeliharaan pompa yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut:
1.

Memeriksa temperatur pompa dengan meletakkan tangan pada pompa. Jika


terasa panas, periksa komponen-komponen pompa untuk mengetahui sumber
permasalahan

2.

Memeriksa pompa dan komponen-komponenya jika pompa menimbulkan suara


yang tidak biasa melumasi motor pompa secara berkala, minimal satu kali dalam
satu minggu.

3.

Pelumasan dilakukan dengan hati-hati agar pelumas tidak berlebih maupu


kekurangan

4.

Penggunaan pompa secara bergantian agar perawatan pompa lebih intensif.

Pemeliharaan Mekanikal dan Elektrikal


1.

Pengangkatan sampah di Manual Bar Screen secara rutin.

2.

Membersihkan peralatan mesin dan bangunan ME secara rutin.

3.

Mengoperasikan mesin Screw Pump secara rutin.

4.

Memonitor debit air masuk secara rutin.

5.

Pengoperasian sampah dilakukan tepat waktu.

6.

Pengangkatan pasir dari Sump Well dilakukan tepat waktu.

7.

Pengangkatan pasir dari Grit Rake (Grit Chamber) ke bak pengering lumpur
(Slud Drying Bed).

8.

Pengurasan Grit Chamber.

9.

Pembabadan rumput disekitar lokasi unit-unti instalasi.

Pemeliharaan Halaman dan Bangunan


1.

Pemeliharaan gedung, baik gedung administrasi, mess karyawan, dll.

2.

Pembabadan rmuput disekitar halaman kantor, mess, dll.


20

3.3

3.

Pemeliharaan tanaman di sekitar halaman kantor.

4.

Pemeliharaan tanaman di lokasi Green House.

5.

Pembibitan tanaman di lokasi Green House.

6.

Penyiraman tanaman di lokasi Green House.

7.

Pembabadan rumput disekitar jalan Inspeksi.

Kegiatan Kolam Oksidasi


1.

Pengangkatan eceng gondok/algae bloom (scum) di kolam oksidasi.

2.

Pengangkatan sampah plastik di kolam anaerobik.

3.

Pembabadan rumput dan alang-alang talud kolam/sekitar kolam.

4.

Pengangkatan scum.

5.

Pengangkatan sampah yang lolos dari saringan.

6.

Pemeliharaan rumput bambu disekitar pagar kolam.

7.

Melarang pengembangbiakan domba, kerbau disekitar kolam

8.

Memonitor ketinggian lumpur di kolam anaerobik

9.

Menggali lumpur sebelum ketinggian 0,5 m.

10.

Pembersihan outfall kolam maturasi.

Wastewater Treatment Plant Madisonville (United States)


Menurut Madisonville Creosote Works Superfund Site, United States, pada

handbook yang berjudul Operation And Maintenance Dense Nonaqueous-Phase Liquid


Recovery System And

Wastewater Treatment Plant yang diterbitkan tahun 2004,

menjelaskan semua jenis kegiatan pemeliharaan yang berhubungan dengan sistem IPAL
diantaranya adalah jadwal pelumasan unit instalasi, kegiatan pemeliharaan rutin, dan
prosedur mematikan jangka panjang. Pemeliharaan harus dilakukan dengan cara yang
mencegah keadaan darurat atau shutdowns terjadwal. Tiga faktor yang harus
dipertimbangkan dalam penyelesaian kegiatan pemeliharaan desain, konstruksi, dan
operasi. Gambar menunjukkan setiap unit, pipa, katup, dan skema listrik harus tersedia
untuk referensi yang mudah. Semua pemeliharaan membutuhkan keterampilan yang
cukup, yang hanya dapat diperoleh dengan pengalaman, studi, dan praktek. Petugas
pemeliharaan harus memiliki persyaratan yang khusus. Program pemeliharaan sistem
IPAL harus mematuhi pedoman yang ada sebagai berikut:

21

Ikuti rencana sistematis untuk pelaksanaan prosedur pemeliharaan terjadwal.

Ikuti jadwal rutin untuk pemeriksaan.

Melengkapi dan menyimpan data operasi dan catatan pemeliharaan untuk setiap
bagian dari peralatan dengan penekanan pada insiden yang tidak biasa dan kondisi
operasi yang rusak.

Memperhatikan faktor keselamatan.

Sub bagian berikut ini adalah kegiatan pemeliharaan untuk setiap peralatan dalam
sistem. Setiap bagian dari peralatan telah ditetapkan nomor identifikasi. Untuk masingmasing peralatan, daftar semua item yang direkomendasikan oleh produsen yang
memerlukan perawatan rutin atau pemeriksaan telah disiapkan. Daftar ini juga
mengidentifikasi frekuensi inspeksi dan perawatan yang harus dilakukan.

3.2.1 Pemeliharaan Rutin Dan Inspeksi


Kegiatan pemeliharaan sistem dan pemeriksaan dikategorikan sebagai (1) rutin, (2)
khusus, (3) darurat, dan (4) musim dingin. Kegiatan pemeliharaan dan pemeriksaan rutin
adalah mereka yang secara teratur dilakukan dan diperlukan untuk menjaga peralatan dan
sistem terus beroperasi secara maksimal. Pelumasan mungkin adalah fungsi yang paling
penting dari program pemeliharaan rutin dan jika mungkin, harus menjadi tanggung jawab
satu orang.
Ekonomi menyatakan bahwa kualitas terbaik dari minyak dan lemak diperoleh
harus digunakan. Hal ini sangat penting untuk mengikuti prosedur-prosedur yang ada.
Prosedur ini harus dipelajari dengan hati-hati, diikuti, dan didokumentasikan sesuai dengan
keadaan. Semua minyak diekstrusi harus dikumpulkan dan dibuang dengan benar. Ini
adalah praktik yang baik untuk menghilangkan banyak jenis pelumas dan
mengkonsolidasikan sebanyak mungkin. Pemasok pelumas harus dihubungi untuk
memiliki spesialisasi mereka sebelum mengunjungi situs O & M manual produsen dan
menentukan pelumas terbaik sesuai kondisi. Sebagai contoh, produsen dapat menyarankan
jenis tertentu minyak diganti setiap 1.000 jam operasi. Mungkin tidak ada penggunaan lain
untuk jenis minyak tersebut yang ada hanya untuk satu peralatan. Sebaliknya, pemasok
pelumas mungkin memiliki jenis lain dari minyak yang akan berfungsi sama dengan baik
tapi hanya untuk 750 jam. Jika ini jenis minyak dapat digunakan pada bagian lain dari
peralatan, mungkin lebih ekonomis untuk paham jenis ini dan mengganti oli lebih sering.
22

Ini juga akan membantu untuk menghilangkan kemungkinan menggunakan pelumas yang
salah karena berkurangnya pilihan tersedia. Prosedur pelumasan untuk masing-masing
peralatan yang berhubungan dengan sistem IPAL dijelaskan secara detail pada section di
buku ini.
Kegiatan perawatan khusus adalah mereka yang tidak dilakukan secara teratur,
tetapi yang dapat dijadwalkan secara tidak darurat. Kegiatan pemeliharaan darurat yang
dibutuhkan untuk memperbaiki situasi di mana kerusakan telah terjadi atau untuk
mencegah situasi yang merusak potensi kinerja instalasi. Kegiatan pemeliharaan musim
dingin yang yang dibutuhkan untuk melindungi sistem dari kerusakan selama periode suhu
beku. Kubah untuk ekstraksi sumur pompa, stasiun pompa limbah, dan setiap pipa di atas
tanah harus diperiksa setidaknya dua kali selama musim dingin. Salju atau es akumulasi
berat harus dihapus, dan operasi katup harus diperiksa. Pastikan bahwa pemanas bekerja
di gedung IPAL dan aliran yang memasuki tangki ekualisasi.
Sub bagian berikut akan merangkum kegiatan pemeliharaan dan jadwal untuk
masing-masing item. Setiap kali petugas operasi sedang melakukan kegiatan pemeliharaan
yang berhubungan dengan kondisi alarm, prosedur berikut harus diikuti:
Langkah 1: Beritahu personil manajemen sehingga mereka secara independen dapat
antarmuka dengan sistem kontrol jarak jauh IPAL untuk menentukan penyebab masalah.
Langkah 2: Untuk properti IPAL diterapkan prosedur lock-out / tag-out yang sesuai untuk
peralatan yang membutuhkan pemeliharaan peralatan terkait, sesuai dengan rencana
kesehatan dan keselamatan.
Langkah 3: Tentukan jenis perbaikan yang diperlukan, dan mencari serta menerima
persetujuan dari personil manajemen sebelum memulai kegiatan apapun.
Langkah 4: Lengkapi perbaikan yang diperlukan dan memverifikasi bahwa perbaikan
lengkap dengan memeriksa informasi yang ditampilkan pada layar PLC (Programmable
logic controller).

Langkah 5: Periksa secara visual sisa sistem pemulihan IPAL untuk mengidentifikasi
setiap penyimpangan tambahan peralatan yang membutuhkan perbaikan.
Langkah 6: Menambah energi peralatan sesuai dengan prosedur lockout / tagout yang
tepat dan memindahkan semua katup ke posisi yang benar.
Langkah 7: Mulai sistem pemulihan IPAL di mode manual sampai puas bahwa
semuanya berjalan dengan benar sebelum beralih ke kontrol otomatis.
Langkah 8: Dokumentasi semua kegiatan sehingga terdapat catatan yang akurat dari
semua perbaikan. Personil operasi harus mengikuti prosedur lock-out / tag-out, dan

23

prosedur masuk ruang terbatas sesuai dengan rencana kesehatan dan keselamatan situs,
sebelum melakukan kegiatan pemeliharaan.
3.2.2 Pemeliharaan Rutin dan Pemeriksaan untuk Ekstraksi Pompa
Pemeliharaan rutin untuk setiap unit harus terdiri dari penyesuaian mingguan dan
pelumasan pompa, bersama dengan pelumasan bulanan. Mengoles pompa yang sering
dengan jumlah minyak yang terbatas adalah praktek terbaik. Pada setiap titik operasi di
mana bocornya pompa harus dicurigai, bahkan pengecekan mur akan terus dilakukan
dengan benar dikompresi dan disegel. Pelumasan bulanan diperlukan untuk memastikan
operasi lanjutan. Menyuntikkan pelumas ke dalam zerk sampai grease jelas diekstrusi dari
plug relief tekanan di kepala drive pencoran. Inspeksi pompa harus dilakukan dan dicatat
pada formulir inspeksi yang telah disiapkan setidaknya dilakukan mingguan. Selanjutnya
setengah tahunan, pemeriksaan ini harus mencakup pengukuran anak tangga stainless steel
untuk memeriksa jumlah pasir atau sedimen terakumulasi di bah riser. Jika riser menjadi
tersumbat dengan pasir atau sedimen yang mungkin menghalangi aliran, riser harus segera
dibersihkan.

3.2.3 Pemeliharaan Rutin dan Pemeriksaan untuk Filter Pasir


Inspeksi filter pasir harus dilakukan dan dicatat pada formulir inspeksi setidaknya
dilakukan mingguan. Pemeliharaan dan pemeriksaan filter pasir terkait dengan program
pemantauan kualitas IPAL. Jika meningkatnya kadar total padatan tersuspensi, setelah
prosedur backwashing, terdeteksi di limbah IPAL, pasir di filter perlu dibuang. Ketika
penurunan tekanan di filter pasir meningkat menjadi 10 psi, nilai penurunan tekanan bersih
dicatat, filter harus backwashed. Backwashing harus diselesaikan sebagai berikut:
Langkah 1: Periksa sistem kebocoran.
Langkah 2: Rekam penurunan tekanan prebackwash.
Langkah 3: Matikan semua pompa pada panel kontrol utama.
Langkah 4: Reposisi katup untuk seluruh system.
Langkah 5: Aktifkan Pompa selama 10 menit.
Langkah 6: Matikan Pompa.
Langkah 7: Reposisi katup untuk operasi normal.
Langkah 8: Restart sistem sesuai dengan prosedur.
Langkah 9: Rekam penurunan tekanan postbackwash untuk saringan pasir yang
dibersihkan.
24

Jika penurunan tekanan postbackwash tidak di bawah 10 psi, prosedur harus


diulang. Jika penurunan tekanan tidak turun di bawah 10 psi setelah dua siklus backwash,
melakukan prosedur yang tepat untuk mengisolasi dan pengeringan, membuka
pemeriksaan dan memeriksa untuk pertumbuhan biologi (ganggang) di atas pasir.
Pertumbuhan biologis ditentukan menjadi penyebab tekanan yang berlebihan pada padatan
tersuspensi, melakukan prosedur oksidasi yang cocok sesuai dengan rekomendasi
pabrikan. Jika hal ini tidak membuktikan menjadi solusi efektif untuk masalah ini, media
pasir dalam filter yang mungkin perlu diganti.

3.2.3 Pemeliharaan Rutin dan Pemeriksaan Untuk Pompa


Pemeliharaan rutin pompa di gedung IPAL harus dilakukan sesuai dengan
rekomendasi pabrikan. Inspeksi pompa harus dilakukan dan dicatat pada formulir inspeksi
paling tidak secara mingguan. Minimal, pompa dan motor pompa harus diperiksa saat
beroperasi untuk penumpukan panas yang berlebihan atau suara yang tidak biasa.

3.2.4 Pemeliharaan Rutin dan Pemeriksaan untuk Pipa


Tidak ada perawatan rutin pipa yang diperlukan. Inspeksi pipa di kubah pemulihan
IPAL harus dilakukan dan dicatat pada formulir inspeksi paling tidak secara mingguan.
Mendokumentasikan setiap variasi yang signifikan dari parit pemulihan. Berikut ini adalah
contoh beberapa tabel pemeliharaan oleh Madisonville Creosote Works.

25

26

27

3.4

Saran Sistem Pemeliharaan IPAL


Pada sub bab ini mencoba menjelaskan tentang sistem pemeliharaan IPAL yang

baik, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan. Sebelum


mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), Kepala bagian IPAL yang
bertanggung jawab penuh atas instalasi, harus mengorganisirdan menginstruksikan
tindakan- tindakan yang tepat kepada personel-personel yang bertanggung jawab atas
pengoperasian instalasi tersebut.
1.

Kepala IPAL harus menentukan kondisi pengoperasian aktual dari waktu ke waktu
dengan mempertimbangkan flow rate, kualitas influent dan efluen, sudut pandang
ekonomis, usia masing-masing peralatan, dan lain-lain.

2.

Kepala IPAL harus mengkonfirmasikan kegiatan harian dalam sistem pengoperasian


IPAL. Kepala IPAL harus menerangkan hal penting berkaitan dengan sistem
operasional berikut ini kepada operator:

3.

Detail pengoperasian

Pencatatan Data Pengoperasian

Memelihara Kebersihan lokasi

Langkah Pengamanan

Pedoman pengoperasian dan pemeliharaan IPAL mengacu pada Pedoman dan Tata
Cara Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Sub Bidang Air
Limbah. Pedoman dan Tata Cara yang diacu adalah sebagai berikut:

Pedoman operasi dan pemeliharaan IPAL Kolam Stabilisasi

Pedoman operasi dan pemeliharaan IPAL Rotating Biological Contactor (RBC)

Tata Cara Perencanaan Jaringan Perpipaan Air Limbah Terpusat tentang Pedoman
Operasi dan Pemeliharaan.

Instalasi pengolahan air limbah adalah infrastruktur yang penting dalam kehidupan
karena perannya yang berpengaruh pada kesehatan lingkungan. Adapun saran yang dapat
diberikan, khususnya pada IPAL Bojongsoang, adalah sistem pemeliharaan instalasi
pengolahan air limbah yang baik adalah sebagai berikut :
1.

Operasi dan Pemeliharaan supaya dilaksanakan dengan baik sebagaimana mestinya


terutama dalam kolam anaerobik sebagai kolam pengolahan utama.

2.

Kerusakan-kerusakan yang terjadi sekarang ini pada unit-unit instalasi pengolahan


supaya segera diperbaiki untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam proses
pengolahan.
28

3.

Dibuat papan peringatan yang berisi peraturan daerah agar masyarakat mematuhi dan
sadar lingkungan.

4.

Pompa ulir (Screw Pump) harus segera diperbaiki jika terjadi kerusakan. Karena jika
pompa tersebut rusak maka operasi akan terganggu.

5.

Mengadakan penyuluhan pada masyarakat bahwa penggunaan air limbah ini


berbahaya bagi kesehatan dan kehidupan manusia sebelum diadakan pengolahan.

6.

Lumpur yang ada di kolam anaerobik supaya dilaksanakan penggalian (pengerukan)


untuk memenuhi proses stabilisasi agar berjalan secara normal dan optimal.
Ketinggian lumpur mempengaruhi proses stabilisasi yaitu mengganggu photosintesa
dari sinar matahari dimana BOD pada dasar kolam anaerobik.

7.

Kondisi permukaan lain yang harus diperiksa secara berkala adalah warna kolam.
Setiap jenis kolam punya ciri warna, dan perubahan warna biasanya menandakan
masalah yang harus diperiksa secepatnya. Warna kolam yang berjalan pada kondisi
normal/berimbang adalah kolam anaerobik hitam kehijau-hijauan, fakultatif
hijau/hijau kecoklatan, dan maturasi hijau.

8.

Lakukan pemeriksaan tanggul dan lokasi kolam setiap satu atau dua minggu

9.

Ketebalan lumpur harus diperiksa setiap tahun. Jika lebih dari sepertiga dari
kedalaman kolam yang direncanakan, hal ini bisa mengganggu proses alamiah dari
kolam tersebut dan bisa menyumbat pipa inlet. Jika demikian, kolam harus dikuras
dan lumpur harus dibuang.

10. Frekuensi pengurasan lumpur kolam yang ideal adalah kolam anaerobik 2-2 tahun,
fakultatif 8-20 tahun, dan maturasi tidak perlu dilakukan.
11. Instalasi pengolahan air limbah dapat saja menjadi kotor karena operasi-operasi seperti
halnya memindahkan pasir dari grit chamber, memindahkan sludge yang terkumpul
dari anaerobik lagoon, memindahkan lumpur kering dari sludge drying bed, dan lain
sebagainya.
12. Gunakan service water pump untuk memelihara kebersihan instalasi pengolahan
limbah.
13. Sediakan beberapa titik strategis tempat kran air dengan tekanan pompa service ini.
14. Sediakanlah beberapa hose station pada beberapa lokasi yang strategis, setiap hose
station ada sebuah kotak yang berisi peralatan seperti selang, sikat, sprayer.
15. Sebelum mengoperasikan pompa air, siapkan selang untuk area yang akan
dibersihkan, baru kemudian operasikan pompa . pompa air bisa dioperasikan dengan
menekan tombol on/off pompa.
29

Tabel 3 Permasalahan Dan Perawatan Kolam Stabilisasi

Tabel 4 Contoh Catatan Pemeliharaan Kolam Stabilisasi

16. Personil yang terlibat harus detail dalam memahami dan memelihara agar instalasi ini
senantiasa dalam kondisi yang baik. Pemeliharaan harus dilakukan secara periodik
sesuai dengan suatu standar yang spesifik:

30

1) Inspeksi Harian
Pemeriksaan harian ditetapkan pada jam yang sama setiap hari untuk melihat
apakah ada kelainan/ anomali pada mesin atau peralatan yang sedang berkerja.
Hasil inspeksi dicatat dalam Tabel Inspeksi Harian.
2) Inspeksi Periodik
Inspeksi periodik dilakukan menurut standar inspeksi yang sudah ditetapkan
sebelumnya. Ini dimaksudkan untuk memahami kondisi abrasi / ke-aus-an dan
kelapukan pada mesin dan peralatan yang ada, sehingga dapat dilakukan perbaikan
dan penggantiannya secara sistematis. Jika ditemukan cacat atau kerusakan,
langkah-langkah perbaikan harus dilakukan saat itu juga. Hasil pemeriksaan harus
dicatat.
3) Standar Inspeksi/Pemeliharaan
Dengan inspeksi tahunan, 6 (enam) bulanan, 4 (empat) bulanan, bulanan atau
harian, item dan hasil inspeksi tiap-tiap mesin dan peralatan harus dicatat.

Berikut ini adalah tabel-tabel contoh pemeriksaan instalasi pengolahan air limbah.
Tabel 5 Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan

31

Tabel 6 Contoh Catatan Pemeriksaan Harian

Tabel 7 Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan

32

Tabel 8 Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan

Tabel 9 Contoh Catatan Pemeriksaan 6 Bulanan

33

Tabel 10 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan

Dengan adanya dokumentasi hasil inspeksi harian, mingguan, bulanan dan tahunan yang
telah dilakukan, maka proses pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah akan berjalan
dengan baik. Adapun manfaat inspeksi yang dilakukan adalah agar diketahui kondisi unitunit peralatan IPAL, dan dapat segera tanggap jika sewaktu-waktu terjadi permasalahan
dengan melihat dokumentasi catatan inspeksi yang telah dilakukan.

34

BAB IV
SISTEM PENDANAAN IPAL BOJONGSOANG
(VINKA LYONA - 25014016)

4.1

Umum
Pada awalnya, pengelolaan sarana air kotor dilaksanakan oleh Dinas KKebersihan

dan Keindahan Kota (DK3) Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung sebelum dikelola oleh
PDAM. Pesatnya pertumbuhan penduduk kota Bandung menyebabkan pengelolaan air
kotor memerlukan pengembangan, khususnya dalam penanganan dan perbaikan sarana.
Pembangunan sarana air kotor dilakukan atas prakarsa dana dari Asian Development Bank
dan penyertaan modal pemerintah melalui Proyek BUDP (Bandung Urban Development
Project) Dewi Sartika tahap I dan II. Mengingat bsarnya biaya yang digunakan untuk
membangun sarana tersebut yang harus dikembalikan dalam bentuk cicilan, maka
pemerintah daerah tingkat II Bandung memutuskan agar sarana air kotor dikelola secara
teliti oleh sebuah perusahaan, sehingga kegiatan operasi dan pemeliharaan bisa berjalan
dan begitu juga pendanaan pengelolaan air kotor tersebut. Untuk kepentingan itulah,
dibentuk diisi air kotor yang berada di bawah naungan Perusahaan Daerah Air Minum Kota
Bandung (Nurhayati,2007)
Pengolahan air kotor dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojong
Soang. Pengolahan air kotor ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran terhadap sungaisungai di Bandung. Kapasitas IPAL ini adalah 80.000 m 3 dan berjarak 12 km dari kota
Bandung ini belum sepenuhnya menangani air limbah rumah tangga dari seluruh kota
Bandung. IPAL Bojong Soang baru mampu menangani air limbah dari wilayah Bandung
Timur dan Bandung Tengah bagian Selatan. Selain mengolah air limbah yang masuk secara
langsung dari saluran perpipaan, IPAL Bojong Soang juga menerima air limbah dari tangka
septik yang dikumpulkan oleh mobil-mobil pengumpul tinja.
Besar tarif yang ditetapkan untuk pengolahan air kotor di PDAM Kota Bandung
berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 29 tahun 2001 tentang Pengaturan Pelayanan Air
Minum serta Keputusan Wali Kota Bandung Nomor 194 tahun 2002 tentang Tarif
Pelayanan Air minum pada Bab V Ketentuan tarif Pasal 15 yaitu Setiap Pelanggan Air
Minum diwajibkan membayar tarif pelayanan pembuangan air kotor kepada Perusahaan

35

Daerah sebesar 30 % (tiga puluh) persen dari besarnya pemakaian Air Minum.

dapat

dilihat dari tabel berikut :

Tabel 11 Tarif Air Minum per m3

(sumber : Nurhayati, 2007)

Tabel 12 Tarif Air Kotor

(sumber : Nurhayati, 2007)

36

4.2

Rincian Biaya Operasional dan Pemeliharaan IPAL


Biaya operasional dan pemeliharaan dari Instalasi Penglahan Air Limbah (IPAL)

Bojong Soang (PDAM, 2003) dapat dilihat pada rincian di bawah berikut :
Biaya Pemeliharaan Alat Teknis
Biaya gaji

Rp.

261.975,00

Biaya listrik untuk perpompaan

Rp.

262.996,00

Biaya bahan bakar dan pelumas

Rp.

20.000,00

Biaya pemeliharaan pompa dan bangunan

Rp

80.000,00

Man hole

Rp.

75.000,00

Rupa-rupa biaya perpompaan

Rp.

55.000,00

Jumlah

Rp.

754.971,00

Biaya gaji

Rp.

658.613,00

Biaya listrik untuk perpompaan

Rp.

179.929,00

Biaya bahan bakar dan pelumas

Rp.

65.000,00

Biaya bahan kimia pengolahan

Rp.

75.000,00

Biaya lanboratorium pengolahan

Rp.

50.000,00

Biaya pemeliharaan bangunan dan instalasi air kotor

Rp.

450.000,00

Rupa-rupa biaya perpompaan

Rp.

50.000,00

Jumlah

Rp. 1.528.542,00

Biaya Pengolahan Air Limbah

Biaya Operaasional Air Limbah


Biaya gaji

Rp. 1.099.256,00

Biaya pemeliharaan saluran

Rp.

350.000,00

Biaya pemeliharaan dan peninggian man hole

Rp.

110.000,00
37

Biaya alat dan bahan air kotor

Rp.

75.000,00

Biaya operasi lainnya

Rp.

60.000,00

Jumlah

Rp. 1.694.256,00

Biaya Perencanaan Air Limbah


Biaya gaji

Rp.

368.801,00

Biaya penelitian survei

Rp.

25.000,00

Rupa-rupa biaya perencanaan air kotor

Rp.

30.000,00

Jumlah

Rp.

423.801,00

Jumlah Biaya Operasional dan Pemeliharaan Untuk

Rp. 4.401.570,00

Tahun 2003

Dikarenakan keterbatasan data maka digunakan data rinciaan biaya operasional dan
pemeliharaan IPAL Bojong Soang pada tahun 2003 dengan nilai biaya Rp. 4.401.507,00
per bulannya dan rate of return sebesar 7.5% (Bank Indonesia,2015) dan untuk menghitung
besar biaya pada tahun 2015 digunakan rumus future value sehingga didapat biaya
operasional dan pemeliharaan IPAL untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut:

Biaya operasional dan pemeliharaan IPAL untuk tahun 2015


= Biaya operasional dan pemeliharaan IPAL untuk tahun 2003 x ( 1 + r ) n
= Rp 4.401.570,00 x ( 1+ 0,75)12
= Rp 3.631.317.288,00 perbulan

(asumsi menggunakan future value)

= Rp 121.043.909,00 perhari

38

Diperoleh bahwa Biaya operasional dan pemeliharaan IPAL untuk tahun 2015 adalah
sebesar Rp. 121.043.909,00 perhari dan debit harian rata-rata dari IPAL bojong soang
adalah 80.000 m3 sehingga harga unit rate dari pengolahan IPAL adalah sebesar :
Unit rate

= Rp 121.043.909 / 80.000
= Rp 1.513, 049

Rp. 1.550,00 / m3

Dari hasil simulasi perhitungan diatas didapatkan bahwa niali unit rate dari IPAL Bojong
Soang lebih kecil dari tarif yang dikenakan kepada pelanggan sehingga IPAL bojong soang
mampu membiayai operasional dan pemeliharaan sendiri. Namun untuk penambahan alat
teknik ataupun teknologi dari IPAL tersebut dibutuhkan bantuan dana dari APBD ataupun
DAK/DAU dari pemerintah.

39

BAB V
SISTEM PENGEMBANGAN KAPASITAS IPAL
BOJONGSOANG
(BOBBY ARLAN 25014022)
5.1.

Umum
Bandung terkenal sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Menjamurnya pelaku industri di kota Bandung merupakan salah satu komponen yang turut
meningkatkan tingkat perekonomian Bandung. Namun dengan meningkatnya jumlah
pelaku industri pada umumnya jumlah limbah yang dihasilkan juga akan meningkat pula.
Oleh karena itu, mutu air buangan perlu dikontrol agar tidak langsung mengalir mencemari
sungai-sungai yang berada di wilayah Bandung.
Selain IPAL Bojongsoang, Bandung sebenarnya pernah memiliki satu buah
instalasi pengolahan air yaitu Imhoff Tank yang berada di Kelurahan Pelindung Hewan,
Kecamatan Astanaanyar. Namun, IPAL ini sudah tidak mampu beroperasi karena
kondisinya yang sudah rusak. IPAL ini merupakan peninggalan dari zaman Belanda.
Pemerintah kota Bandung sempat melakukan perbaikan IPAL tersebut sekitar tahun 1970,
namun perbaikan yang dilakukan hanya sebatas menyerap lumpur-lumpur yang
menggenang pada IPAL. Perbaikan di bidang struktural tidak dilakukan saat itu karena
perhatian pemerintah sedang terpusat pada usulan pembangunan IPAL baru, yaitu IPAL
Bojongsoang yang telah berdiri hingga sekarang.
IPAL Bojongsoang memiliki kapasitas layan sebesar 80835 m3/hari. Pembangunan
IPAL secara umumnya bertujuan untuk mengurangi pencemaran sungai-sungai yang
berada di wilayah Bandung. Oleh karena itu, peninjauan kapasitas pelayanan IPAL perlu
diperhatikan untuk menjamin agar IPAL dapat mengolah limbah air yang terdapat di
wilayah kota Bandung. Berdasarkan data Gambar 18, dapat dilihat bahwa IPAL
Bojongsoang menunjukkan tren peningkatan penggunaan kapasitas dimana pada tahun
2014, kapasitas IPAL yang tersedia sudah tidak mampu melayani air yang ada.

40

Gambar 18 Kapasitas Terpakai IPAL Bojongsoang Tahun 2010-2014


Dengan adanya kelebihan kapasitas (overcapacity) yang terjadi pada IPAL
Bojongsoang, perlu diusulkan beberapa alternatif pengembangan. Alternatif-alternatif ini
diperlukan untuk memastikan agar limbah air yang mengalir di kota Bandung dapat
dibersihkan terlebih dahulu sebelum mengalir menuju sungai-sungai yang berada di kota
Bandung.

5.2.

Alternatif Pengembangan IPAL

Terdapat dua alternatif yang diusulkan untuk mengatasi masalah terbatasnya kapasitas
IPAL di kota Bandung antara lain :
1.

Meninjau efektivitas penggunaan lahan pada IPAL eksisting

2.

Melakukan pengembangan lahan dengan membangun IPAL baru.

Peninjauan IPAL eksisting


Salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas operasional IPAL eksisting yang
telah ada yaitu dengan melihat komponen apa yang dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk
meningkatkan kapasitas operasional dari keseluruhan sistem IPAL. Parameter utama yang
kerap timbul pada suatu instalasi pengolahan air yang sudah melebihi kapasitasnya
diantaranya adalah hasil olahan air yang masih berbau dan masih mengandung senyawa
kimia berbahaya akibat proses olahan yang kurang sempurna.
Untuk meninjau kapasitas eksisting, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
dengan melihat hasil pengujian laboratorium dari air olahan pada setiap komponen
41

pengolahan pada IPAL Bojongsoang. Contoh proses pengujian untuk sistem biologis pada
IPAL Bojongsoang dapat dilihat pada Gambar 19. Pengujian laboratorium akan dilakukan
setelah setiap tahap pengolahan. Melalui hasil laboratorium dapat dilihat komponen mana
yang tidak mengolah air secara optimum.

Gambar 19 Flowchart Pengecekan Olahan Air


Dari seluruh komponen yang ada, akan dilakukan tinjauan untuk melihat apakah
perlu ada komponen yang perlu ditambahkan kapasitasnya. Bila terdapat hasil pengujian
laboratorium yang tidak memenuhi standar hasil pengolahan, maka dapat disimpulkan
bahwa volume air yang dilayani pada komponen tersebut sudah melebihi kapasitasnya.
Oleh karena itu pengembangan dapat dilakukan dengan melakukan pembebasan lahan
untuk membangun komponen baru yang dianggap sudah melebihi kapasitas layan.
Namun perlu digarisbawahi bahwa pembangunan tersebut membutuhkan lahan dan
biaya yang tidak sedikit. Selain itu, perlu diperhitungkan efisiensi biaya operasi untuk
pembangunan komponen tambahan. Perbandingan efisiensi biaya antara memperbesar
kapasitas IPAL eksisting atau membangun IPAL baru dapat dihitung dengan melakukan
perbandingan life cycle cost antara dua alternatif yang ada.

Pembangunan IPAL baru


Pembangunan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) baru merupakan solusi yang
dapat diusulkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan air limbah pada kota Bandung.
Pembangunan IPAL baru dapat menambah kapasitas pengolahan air. Salah satu lokasi
yang dapat diusulkan untuk pembangunan IPAL baru yaitu pada daerah Bandung Barat.
Hal ini dilakukan mengingat daerah cakupan IPAL Bojongsoang yang umumnya hanya
mencakup wilayah Bandung Timur, Bandung Tengah dan Bandung Selatan. Untuk
wilayah Bandung Barat, limbah air umumnya langsung dialirkan melalui saluran perpipaan
menuju Sungai Citepus.
42

Gambar 20 Peta Sistem Pelayanan Air Limbah Kota Bandung

Salah satu usulan penambahan IPAL dapat diintegrasikan dengan rencana


pembangunan kota Bandung yang telah dicanangkan sebelumnya. Pelaksanaan kembali
rencana pembangunan IPAL Barat dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas
pelayanan IPAL yang berada di wilayah kota Bandung. Beberapa hal yang perlu dilakukan
untuk melaksanakan pembangunan IPAL Barat diantaranya :
1.

Melakukan pemeriksaan jaringan perpipaan eksisting hasil pembangunan Bandung


Urban Development Project
Hal ini perlu dilakukan untuk memeriksa jalur perpipaan yang akan
disambungkan menuju IPAL baru yang akan dibangun. Oleh karena itu, dibutuhkan
peta kondisi jalur perpipaan eksisting yang telah dibangun sehingga bisa dilakukan
penyambungan menuju IPAL baru yang akan dibangun. Namun, perlu dilakukan
pemeriksaan terhadap kondisi pipa eksisting yang telah terpasang, terutama untuk
saluran pipa yang sudah lama tidak terpakai yang merupakan hasil pembangunan
BUDP.

43

2.

Melakukan alokasi anggaran untuk pembangunan IPAL


Pembangunan IPAL baru tentunya akan membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Oleh karena itu, dalam pembangunannya perlu dilakukan feasibility study
yang mendalam sebagai dasar untuk mengusulkan pembangunan IPAL. Informasi
yang diperlukan diantaranya wilayah layan, kapasitas layan, sistem pengolahan dan
besar anggaran yang diperlukan.

Dengan melakukan pembangunan IPAL baru di daerah Bandung Barat, beban air
yang dialirkan dari Bandung Tengah menuju IPAL Bojongsoang dapat dialirkan sebagian
ke IPAL baru yang akan dibangun. Oleh karena itu, pembangunan ini diharapkan akan
menyelesaikan masalah overcapacity IPAL Bojongsoang sekaligus dapat menurunkan
tingkat pencemaran air limbah pada sungai-sungai yang mengalir melalui kota Bandung.
Pembangunan IPAL baru juga dapat mengacu pada IPAL Bojongsoang yang telah
beroperasi mengingat IPAL tersebut merupakan salah satu instalasi yang paling bagus di
wilayah Asia Tenggara. Penerapan teknologi IPAL terbaru juga dapat dilakukan pada
IPAL baru yang akan dibangun sehingga proses pengolahan diharapkan akan menjadi lebih
efisien, ramah lingkungan dan cost effective.

44

BAB VI
SISTEM PENGEMBANGAN TEKNOLOGI IPAL
(FARIS HIMAWANTO 15011143)

Pengembangan teknologi yang bisa diaplikasikan pada IPAL Bojongsoang ini ialah
unit-unit pengolahannya. Pengembangan teknologi didasari dari terdapat permasalahan
yang ada pada proses, efektivitas dari proses suatu alat. Unit pengolahan pada IPAL
bojongsoang ini tergolong masih konvensional. Proses proses yang ada di dalamnya masih
dilaksanakan secara manual dan juga alamiah. Salah satu unit pengolahan yang masih
manual dalam prosesnya ialah coarse bar screen untuk menyaring benda-benda kasar
berupa sampah, plastic, ranting dsb.
Proses penyaringan dilakukan secara manual yaitu menggunakan alat garpu/raking
tools yang dioperasikan oleh operator dan dilakukan selama 24 jam. Kondisi aktual dari
unit pengolahan coarse bar screen IPAL bojongsoang ini yaitu mengalami kerusakan pada
kisi kisi dengan penyebab diduga dari gesekan antara alat garpu dengan alat screen-nya.
Hal tersebut dapat meloloskan benda yang seharusnya tersaring. Benda-benda yang lolos
tersebut dapat menyebabkan kapasitas pada proses screening lain yaitu mechanical bar
screen menjadi terlampaui sehingga alat menjadi lebih cepat rusak.
Berikut merupakan ilustrasi dari unit coarse bar screen pada IPAL bojongsoang :

Gambar 21. Ilustrasi proses unit coarse bar screen eksisting

45

Salah satu solusi dari permasalahan pada coarse bar screen tersebut ialah
otomatisasi alat coarse bar screen. Dengan mengotomatisasi alat tersebut, dapat
meminimalkan gesekan antara kisi dengan alat raking. Sehingga diharapkan umur layan
coarse bar screen lebih lama dengan catatan maintenance yang baik pula. Contoh alat
automatic coarse bar screen ialah Automatic Sub-Vertical Bar Screen With Chains Above
Water And Oil-Pressure Unit For Rake Control, Automatic Sub-Vertical Bar Screen With
Bucket And Cable Lifting Device dan Semi-Rotary Bar Screen
Berikut merupakan penjelasan masing masing alat. Untuk Automatic Sub-Vertical
Bar Screen With Chains Above Water And Oil-Pressure Unit For Rake Control,
karakteristiknya ialah Sub - Vertical Bar screen yang bekerja secara otomatis dengan
menggunakan rantai dan Unit pressure air dan minyak untuk mengontrol penyapuan
/raking. Bentuk pengoperasiannya ialah Benda kasar yang ada di air limbah dihentikan
dengan vertical bar screen. Material yang tertahan ini dihilangkan dengan
penyapu/pembersih yang digerakan ke atas oleh 2 buah rantai sebagai katrolnya.
Pengendalian penyapuan ini dikontrol dengan menggunakan silinder berisikan minyak
yang memiliki tekanan. Material dari mesin ini ialah galvanized carbon steel atau stainless
steel dan alat pengontrolnnya selalu berada di atas level permukaan air. Untuk instalasinya
harus berada di channel berbahan beton dengan spesifikasi lebar channel diantara 1000
3500 mm dan derajar filtrasinya ialah dari 20 mm sampai 80 mm.
Gambar 22 merupakan foto dari Automatic Sub-Vertical Bar Screen With Chains Above
Water And Oil-Pressure Unit For Rake Control :

46

Gambar 22 Automatic Sub-Vertical Bar Screen With Chains Above Water And OilPressure Unit For Rake Control :
Untuk Automatic

Sub-Vertical Bar Screen With Bucket And Cable Lifting Device,

karakteristiknya ialah mesin yang dilengkapi fixed bar screen dan wadah/bucket yang
terkontrol oleh 2 drive unit yaitu unit untuk gerakan vertical dan unit untuk pembukaan
dan penutupan bucket. Bentuk operasinya ialah benda kasar di air limbah dihentikan oleh
sub-vertical bar screen. Material yang dihentikan ini diambil oleh bucket yang bergerak
dari bawah ke atas. Materialnya hamper sama dengan alat sebelumnya yang terdiri dari
galvanized carbon steel atau stainless steel dan juga alat pengontrolnya selalu berada di
atas level permukaan air. Instalasinya pun harus pada saluran yang terbuat dari beton.
Spesifikasi dari lebar salurannya ialah dari 1000 sampai 3000 mm dan derajat filtrasinya
dari 15 sampai 100 mm.
Berikut merupakan foto dari Automatic Sub-Vertical Bar Screen With Bucket And Cable
Lifting Device :

47

Gambar 23 Automatic Sub-Vertical Bar Screen With Bucket And Cable Lifting Device
Untuk Semi-Rotary Bar Screen, karakteristiknya ialah mesin yang dilengkapi semi sirkular
fixed bar screen dan alat penyapu/raking-nya. Bentuk pengoperasiannya ialah benda kasar
yang ada pada air limbah ditahan oleh bar screen. Lalu material yang tertahan ini diangkut
dengan alat rake yang bekerja secara semi sirkular. Materialnya pun sama seperti
sebelumnya yaitu galvanized carbon steel atau stainless steel dan instalasinya pun harus
pada saluran beton. Spesifikasi kedalaman salurannya ialah dari 1000 mm sampai 2000
mm dengan derajat filtrasi dari 20 sampai 80 mm.
Berikut merupakan foto dari Semi-Rotary Bar Screen :

48

Gambar 24 Semi-Rotary Bar Screen


Kekurangan dari ketiga alat tersebut ialah biaya maintenance yang cukup tinggi dibanding
dengan operasi secara manual. Diperlukan pula teknisi operator yang memadai untuk dapat
mengoperasikan alat tersebut. Kekurangan yang terakhir tersebut bisa dihilangkan melalui
program pelatihan teknisi operator. Namun kelebihan ketiga alat tersebut ialah quality
control dari hasil filter lebih baik dan juga alat bisa lebih lama umur layannya.

49

Pengembangan teknologi selanjutnya ialah Turning wastes into energy. Pada waktu proses
bioremidiasi, bakteri anaerobik menghasilkan soil nutrients dan metana. Gas metana yang
dihasilkan ini sering dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan soil
nutrients digunakan sebagai pupuk.
Contohnya ialah Bakteri anaerobik Desulfuromonas acetoxidans merupakan bakteri
anerobik laut yang menggunakan sulfur dan besi sebagai penerima elektron untuk
mengoksidasi molekul organik dalam endapan dimana bisa menghasilkan energi. Karena
bakteri ini menggunakan reaksi redoks untuk mendegradasi molekul pada lapisan
sedimen lalu elektron ditangkap oleh elektroda lalu elektroda ini berfungsi mentransfer
elektron ke generator sehingga menghasilkan arus listrik.
Pengembangan teknologi ini dapat dilakukan dengan mengubah site ipal menjadi tertutup
untuk mengurangi pengaruh eksternal yaitu air hujan yang dapat mempengaruhi
keseimbangan reaksi yang terjadi. Berikut merupakan contoh proses penerapan Turning
wastes into energy ;

Gambar 25 Diagram waster water into energy


Jika nantinya direncanakan akan dilakukan pengembangan IPAL yaitu dengan membuat
lokasi baru IPAL di kota bandung, maka terdapat teknologi baru yaitu Advanced
Oxidation Processes (AOP). Konsep dasar sistem yang akan dibangun adalah sistem
AOP dengan menggunakan ozon dan uliteraviolet sebagai komponen utama sistem
50

yang dikombinasikan dengan karbon aktif sebagai filiterasi pada tahapan terakhir. Berikut
merupakan rantai proses dari teknologi AOP :

Gambar 26 rantai proses teknologi AOP.


Sistem instrumentasi yang digunakan adalah metode Advanced Oxidation Processes
(AOP). Sistem AOP yang dipergunakan adalah kombinasi antara Ozon-UV-H2O2 dan
karbon aktif . Sistem AOP bekerja memanfaatkan hydroxyl radical(OH) yang dihasilkan
dari reaksi antara kombinasi Ozon-UV-H2O2 dalam air. Karbon aktif bekerja dalam
membantu proses absorpsi mikro polutan hasil oksidasi dari sistem AOP. Tahapantahapan detail proses pengolahan air limbah sebagai berikut : Air limbah dilewatkan ke
unit AOP untuk direaksikan dengan O3-UV- H2O2. Proses oksidasi terjadi di unit
AOP. Air limbah yang sudah teroksidasi dilewatkan unit karbon (CA), selanjutnya
air limbah yang sudah melewati tahapan-tahapan tersebut kemudian di analisa kadar
CODnya.
Kelebihan teknologi ini dibanding teknologi konvensional pada IPAL bojongsoang ialah
ialah areal instalasi pengolahan air limbah yang tidak luas, waktu pengolahan cepat,
penggunaan bahan kimia sedikit, penguraian senyawa organik yang efektif, keluaran
limbah lumpur (sludge) sedikit, dan air hasil pengolahannya dapat dipergunakan kembali.

51

BAB VII
ASPEK LEGAL BAKU MUTU AIR DI IPAL
BOJONGSOANG
(FARIS EFFANDI 25014043)

7.1

Standar Baku Mutu Air Keluaran IPAL Bojongsoang


Pengolahan limbah domestik IPAL Bojongsoang wajib memenuhi baku mutu air

limbah sebagaimana tercantum dalam Lampiran XLIV bagian A pada Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air lImbah.
Tabel berikut ini menunjukkan baku mutu air limbah domestik yang diatur pada Peraturan
Menteri tersebut.

Tabel 13 Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Kegiatan Domestik

Sumber : Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014

Kualitas air hasil pengolahan melalui outlet IPAL Bojongsoang berdasarkan Peraturan
Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000 Tentang Peruntukan Air dan Baku Mutu Air Pada
Sungai Citarum Dan Anak-Anak Sungainya Di Jawa Barat Pasal 3, tergolong kedalam
golongan C dimana air hasil olahan dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan. Selain untuk keperluan perikanan dan peternakan sisa air hasil olahan IPAL
akan dibuang kembali ke Sungai Citarum. Air hasil olahan IPAL Bojongsoang yang
dibuang ke Sungai Citarum harus memenuhi Baku Mutu Air Golongan C yang diatur pada
Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000 dengan ketentuan sebagai berikut :

52

Tabel 14 Penggolongan dan Baku Mutu Air di Sungai Citarum

53

Sumber : Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000

7.2

Sanksi Terhadap Pencemaran Air Hasil Pengolahan


Berikut merupakan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pencemaran

lingkungan (termasuk air di dalamnya) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang RI No.


32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
54

Pasal 98
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan
dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria
baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000.000,00
(dua belas miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan
paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Pasal 99
(1) Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara
ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah) dan paling banyak Rp9.000.000.000,00 (sembilan miliar rupiah).
Pasal 100
(1) Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, atau baku mutu
gangguan dipidana, dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
55

(2)Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dikenakan apabila
sanksi administratif yang telah dijatuhkan tidak dipatuhi atau pelanggaran dilakukan
lebih dari satu kali.
Pasal 101
Setiap orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa genetik ke
media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
atau izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
Pasal 102
Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).
Pasal 103
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat
1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).

7.3

Upaya-Upaya Dalam Mempertahankan Hasil Pengolahan


Usaha pencegahan pencemaran air bukan merupakan proses yang sederhana, tetapi

melibatkan berbagai faktor sebagai berikut:


1. Air limbah yang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih dahulu sehingga
memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.
2. Menentukan dan mencegah terjadinya interaksi sinergisma antarpolutan
pemerintah.
3. Menggunakan bahan yang dapat mencegah dan menyerap minyak yang tumpah di
perairan
4. Tidak membuang air limbah rumah tangga langsung ke dalam perairan. Hal ini
untuk mencegah pencemaran air oleh bakteri.
56

5. Limbah radioaktif harus diproses dahulu agar tidak mengandung bahaya radiasi dan
barulah dibuang di perairan.
6. Mengeluarkan atau menguraikan deterjen atau bahan kimia lain dengan
menggunakan aktifitas mikroba tertentu sebelum dibuang ke dalam perairan umum

Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun


2011 Tentang Sungai, pencegahan pencemaran air sungai dilakukan melalui:
a. Penetapan daya tampung beban pencemaran;
b. Identifikasi dan inventarisasi sumber air limbah yang masuk ke sungai;
c. Penetapan persyaratan dan tata cara pembuangan air limbah;
d. Pelarangan pembuangan sampah ke sungai;
e. Pemantauan kualitas air pada sungai; dan
f. Pengawasan air limbah yang masuk ke sungai.

7.4

Standar Baku Air Limbah agar Limbah Industri /Swasta dapat masuk ke
IPAL Bojongsoang
Untuk setiap limbah industri atau perusahaan swasta yang ingin ikut membuang

limbahnya melalui IPAL Bojongsoang harus dilakukan pengecekan kualitas air tersebut
sebelum dibuang melalui open channel dan masuk ke sistem IPAL Bojongsoang. Hal ini
perlu dilakukan agar standar baku mutu air hasil olahan IPAL tetap sesuai dengan standar
yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk baku mutu air limbah industri sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014, Usaha
dan/atau kegiatan yang baku mutu air limbah yang diatur dalam terdiri dari 42 jenis industri
yang meliputi: industri pelapisan logam dan galvanis; industri penyamakan kulit; industri
minyak sawit; industri karet; industri tapioka; industri monosodium glutamat dan inosin
monofosfat; industri kayu lapis; industri pengolahan susu; industri minuman ringan;
industri sabun, deterjen dan produk-produk minyak nabati; industri bir; industri baterai
timbal asam; industri pengolahan buah-buahan dan/atau sayuran; industri pengolahan hasil
perikanan; industri pengolahan hasil rumput laut; industri pengolahan kelapa; industri
pengolahan daging; industri pengolahan kedelai; industri pengolahan obat tradisional atau
jamu; industri peternakan sapi dan babi; industri minyak goreng dengan proses basah
57

dan/atau kering; industri gula; industri rokok dan/atau cerutu; industri elektronika; industri
pengolahan kopi; industri gula rafinasi; industri Petrokimia Hulu; industri rayon; industri
keramik; industri asam tereftalat; polyethylene tereftalat; industri petrokimia hulu; industri
oleokimia dasar; industri soda kostik/khlor; industri pulp dan kertas; industri ethanol;
industri baterai kering; industri cat; industri farmasi; industri pestisida; industri pupuk;
industri tekstil.
Sedangkan untuk industri yang menghasilkan limbah yang mengandung bahan
berbahaya dan bercun (B3) pengelolaanya harus mengikuti Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan
Beracun dimana pengolahan limbah B3 wajib dilaksanakan oleh Setiap Orang yang
menghasilkan Limbah B3 dan dalam hal setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat
tidak mampu melakukan sendiri, pengolahan Limbah B3 diserahkan kepada pengolah
Limbah B3. Pengolahan limbah B3 dilakukan dengan cara:
a. Termal; yang meliputi emisi udara, efisiensi pembakaran dengan nilai paling
sedikit mencapai 99,99% dan efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa
principle organic hazardous constituents (POHCs) dengan nilai paling sedikit
mencapai 99,99%.
b. Stabilisasi dan solidifikasi berdasarkan analisis organik dan anorganik
c. Cara lain sesuai perkembangan teknologi.

Pengolahan limbah B3 dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan teknologi


dan standar lingkungan hidup atau baku mutu lingkungan hidup. Setiap Orang yang
menghasilkan Limbah B3 yang akan melakukan Pengolahan Limbah B3 wajib memiliki
izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengolahan Limbah B3. Setiap Orang yang
menghasilkan Limbah B3 yang telah memperoleh persetujuan pelaksanaan uji coba
Pengolahan Limbah B3 wajib memiliki penetapan penghentian kegiatan jika uji coba
gagal, bermaksud menghentikan usaha dan/atau, bermaksud mengubah penggunaan atau
memindahkan lokasi dan/atau fasilitas uji coba.

58

BAB VIII
KESIMPULAN
1.

Pemeliharaan IPAL sangat penting dilakukan karena mengingat perannya dalam


menjaga kesehatan lingkungan dan masyarakat.

2.

Sebagai dampak dari Operasi dan Pemeliharaan yang tidak dilaksanakan


sebagaimana mestinya maka kinerja kolam pengolahan belum optimal sesuai
dengan maksuda dan tujuan pengolahan air limbah (IPAL) yaitu untuk mereduksi
(mengeliminasi) zat-zat pencemar sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan
pertanian dan perikanan, yang akhirnya dikembalikan kebadan air penerima
(sungai).

3.

Personil yang terlibat harus detail dalam memahami dan memelihara agar instalasi
ini senantiasa dalam kondisi yang baik. Pemeliharaan harus dilakukan secara
periodik sesuai dengan suatu standar yang spesifik.

4.

Pengembangan IPAL sangat disarankan sebagai solusi untuk permasalahan


kapasitas IPAL yang tersedia. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun IPAL
baru di wilayah Bandung Barat.

59

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pambdg.co.id/new/index.php?option=com_content&view=article&id=85&Ite
mid=97
https://www.scribd.com/doc/30481815/Laporan-Hasil-Studi-Lapang-ipal-Bojongsoang
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang. 28 Aprl 2015.
Siregar, sohuturon. Tesis : Studi Sistim Operasi dan pemeliharaan Instalasi pengolahan Air
Limbah (Studi kasus IPAL Bojongsoang Kota Bandung). 2004. Universitas diponegoro.
Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku
Mutu Air Limbah
Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000 Tentang Peruntukan Air dan Baku
Mutu Air Pada Sungai Citarum Dan Anak-Anak Sungainya Di Jawa Barat
http://www.artikellingkunganhidup.com/cara-pengelolaan-air-mencegah-pecemaranair.html
http://s3.amazonaws.com/ppt-download/al-9pedomanpengoperasiandanpemeliharaanipal120227030934-phpapp01.pdf?response-content
disposition=attachment&Signature=2P68evI7y7B2cP91covbD4SVa38%3D&Expires=14
30573382&AWSAccessKeyId=AKIAIA7QTBOH2LDUZRTQ
http://www.deq.louisiana.gov/portal/Portals/0/remediation/madisonville-o&m.pdf
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/544/jbptitbpp-gdl-leninurhay-27183-1-2007ts-1.pdf
http://eprints.undip.ac.id/12051/1/2004MTS3375.pdf
http://www.airlimbahku.com/2006/04/imhoff-tank-ipal-awal-di-indonesia.html

60