Anda di halaman 1dari 5

KONSEP PEMBELAJARAN KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK

A. Pendahuluan
Disadari atau tidak, proses pendidikan di sekolah sekarang porsinya masih lebih pada aspek kognitif
atau transfer of knowledge saja. Salah satu hal yang kadang dihadapi guru dalam pembelajaran adalah
kurangnya minat dan motivasi peserta didik untuk belajar di kelas. Kadangkala peserta didik
mempraktikkan “ 5 D “ yaitu Datang, Duduk, Dengar, Diam, dan bahkan mungkin Dengkur.
Peserta didik kadangkala merasa “terpaksa” datang dan menghabiskan waktunya di kelas. Apalagi
apabila guru masih terbiasa untuk menjadikan peserta didiknya pendengar yang baik karena guru masih
yakin bahwa satu-satunya cara untuk mengajar dengan cepat adalah dengan menggunakan metode
ceramah.
Padahal jika dilihat secara umum, proses pendidikan menuju pada tiga hal pokok yang harus mampu
dicapai peserta didik, yaitu Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Afektif berkaitan dengan sikap, moral,
etika, akhlak, dan manajemen emosi. Kognitif berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika,
dan analisis. Sedangkan Psikomotorik berkaitan dengan praktik atau aplikasi apa yang sudah
diperolehnya melalui jalur kognitif

B. Pembahasan
1. Hakekat pembelajaran
Dalam pembelajaran ada dua kegiatan yang terjadi yaitu belajar dan mengajar. Dalam kegiatan belajar
mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses
pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.
Tujuan pengajaran akan tercapai jika anak didik beusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan
anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik saja,tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik
saja yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan
pembelajaran tidak tercapai.ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak
merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang
terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar, walaupun pada
kenyataannya tidak semua perubahan tidak termasuk kategori belajar.
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya anak didik, berbeda dengan belajar.
Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktifitas yang dilakuakn
oleh seseorang diluar dari keterlibatan guru. Belajar dirumah cenderung menyendiri dan terlalu banyak
mengharapkan bantuan dari orang lain. Apalagi aktivitas belajar itu berkenaan dengan kegiatan
membaca sebuah buku tertentu.
Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila
tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang mengajar. Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak
terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan
istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.
Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan raga jiwa
bersatu antara guru dan anak didik.
Biasanya permasalahan yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah
masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana adalah serentetan pertanyaan
yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Peranan guru itu paling
tidak berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenagan belajar anak
didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajarpun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur,
mengorganisasi. Lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan
mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses
memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Peranan guru sebagi pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam
belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mencerna bahan dan
ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak
didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya
belajar anak didik.
Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakekat belajar mengajar adalah proses
“pengaturan” yang dilakukan oleh guru.

2. Tiga aspek yang harus diperhatika dalam pengajaran


a. Aspek kognitif
Aspek kognitif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan pengetahuan. Artinya
kegiatn belajar mengajar beretujuan menambah tingkat pengetahuan dan wawasan siswa terhadap
materi pelajaran yang disampaikan. Aspek kognitif dapat ditelusuri darisuatu keadaan dimana siswa
mendapatkan penambahan pengetahuan dari yang semula tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti.
Pada dasarnya konsep pembelajaran kognitif disini menuntut adanya prinsip-prinsip utama sebagai
berikut.
Pembelajaran yang aktif, maksudnya adalah siswa sebagai subyek belajar menjadi factor yang paling
utama. Siswa dituntut untuk belajar dengan mandiri secara aktif.
2. Prinsip pembelajaran dengan interaksi social untuk menambah khasanah perkembangan kognitif
siswa dan menghindari kognitif yang bersifat egosentris.
3. Belajar dengan menerapkan apa yang dipelajari agar siswa mempunyai pengalaman dalam
mengeksplorasi kognitifnya lebih dalam. Tidak melulu menggunakan bahasa verbal dalam
berkomunikasi.
4. Adanya guru yang memberikan arahan agar siswa tidak melakukan banyak kesalahan dalam
menggunakan kesempatannya untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang positif.
5. Dalam memberikan materi kepada siswa diperlukan penstrukturan baik dalam materi yang
disampaikan maupun metode yang digunakan. Karena pengaturan juga sangat berpengaruh pada
tingkat kemampuan pemahaman pada siswa.
6. Pemberian reinforcement yang berupa hadiah dan hukuman pada siswa. Saat melakukan hal yang
tepat harus diberikan hadiah untuk menguatkan dia untuk terus berbuat dengan tepat, hadiah tersebut
bias berupa pujian, dan sebagainya. Dan sebaliknya memberikan hukuman atas kesalahan yang telah
dilakukan agar dia menyadari dan tidak mengulangi lagi, hukuman tersebut bias berupa: teguran,
nasehat dan sebagainya tetapi bukan dalam hukuman yang berarti kekerasan.
7. Materi yang diberikan akan sangat bermakna jika saling berkaitan karena dengan begitu seseorang
akan lebih terlatih untuk mengeksplorasi kemampuan kognitifnya.
8. Pembelajaran dilakukan dari pengenalan umum ke khusus (Ausable) dan sebaliknya dari khusus ke
umum atau dari konkrit ke abstrak (Piaget).
9. Pembelajaran tidak akan berhenti sampai ditemukan unsure-unsur baru lagi untuk dipelajari, yang
diartikan pembelajaran dengan orientasi ketuntasan.
10. Adanya kesamaan konsep atau istilah dalam suatu konsep bias sangat mengganggu dalam
pembelajaran karena itulah penyesuaian integrative dibutuhkan. Penyesuaian ini diterapkan dengan
menyusun materi sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke
atas dan ke bawah selama informasi disajikan.

b. Aspek afektif
Aspek afektif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan perasaan, ini berarti terhadap
matiri pelajaran yang disampaikan siswa meresponnya dengan berbagai ekspresi yang mewakili
perasaan mereka. Suatu pelajaran tertentu misalnya akan memancing terbentuknya rasa senang, sedih
atau berbagai ekspresi perasaan yang lainnya.
Secara konseptual maupun emprik, diyakini bahwa aspek afektif memegang peranan yang sangat
penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja maupun kehidupan secara keseluruhan.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorikdipengaruhi oleh kondisi afektif
siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positifterhadap pelajaran akan merasa senang
mempelajari mata pelajaran tertentu sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Walaupun para guru sadar akan hal ini,namun belum banyak tindakan yang dilakukan guru secara
sistematik untuk meningkatkan minat siswa.
Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan, karena segi afektif
sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Hal-
hal diatas menuntut penggunaan metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari
mengajar segi kognitif dan keterampilan.
Ada beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan.
1. Model Konsiderasi
Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk dan sibuk
mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa
didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja
sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi: (1) menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung
konsiderasi, (2) meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang
tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain, (3) siswa menuliskan
responsnya masing-masing, (4) siswa menganalisis respons siswa lain, (5) mengajak siswa melihat
konsekuesi dari tiap tindakannya, (6) meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
2. Model pembentukan rasional
Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-
nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat
multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational
building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.
Langkah-langkah pembelajaran rasional: (1) menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atu
penyimpangan tindakan, (2) menghimpun informasi tambahan, (3) menganalisis situasi dengan
berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, (4) mencari
alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, (5) mengambil keputusan dengan berpegang
pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.
3. Klarifikasi nilai
Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi
nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan
atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam
bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siwa menyadari nilai-
nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki
keterampilan proses menilai.
Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai: (1) pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan
tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-
akibatnya, (2) mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas
pilihannya, (3) berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya
pada hal lainnya.
4. Pengembangan moral kognitif
Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang
yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model
ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara
kognitif.
Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif: (1) menghadapkan siswa pada suatu situasi yang
mengandung dilema moral atau pertentangan nilai, (2) siswa diminta memilih salah satu tindakan yang
mengandung nilai moral tertentu, (3) siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan
kejelekannya, (4) siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, (5) siswa
menerapkan tindakan dalam segi lain.
5. Model nondirektif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang
utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan
kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa.
Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.
Langkah-langkah pembelajaran nondirekif: (1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi
bebas, (2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang
dihadapinya,guru menerima dan memberikan klarifikasi, (3) pengembangan pemahaman (insight),
siswa mendiskusikan masalah, guru memberrikan dorongan, (4) perencanaan dan penentuan keputusan,
siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi, (5) integrasi, siswa
memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif.

c. Aspek psikomotoriok
Aspek psikomotorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan dengan tindakan atau
perilaku yang ditampilkan anak didik setelah menerima suatu materi tertentu, artinya mereka bertindak
atau berprilaku berdasarkan pengetahuan dan perasaan sesuai atauberdasarkan pengembangan sendiri
dari yang disampaikan pendidik.
C. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Secara umum, proses pendidikan menuju pada tiga hal
pokok yang harus mampu dicapai peserta didik, yaitu Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Ketiga hal
ini tidak boleh di pisahkan karena merupakan satu kesatuan.
Pembelajaran sebagai salah satu aspek penting dalam pendidikan memegang peranan mengembangkan
dan memberdayakan domain kognitif, afektif, dan psikomotor bagi peserta didik secara seimbang.
Keseimbangan pengembangan dan pemberdayaan ketiga domain tersebut harus tertuang dengan jelas
dalam proses pembelajaran, meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian
hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran,