Anda di halaman 1dari 2

Menulis Feature

Feature bukan essay, editorial, atau kolom. Jadi, ide atau opini Anda bukan menjadi bagian terpenting
dari cerita ini. Feature tetap news namun ditulis dalam gaya yang lebih luwes. Agar feature tetap jauh
dari opini, maka Anda harus menjaga jarak dari isi feature itu. Menulis dalam posisi 'orang ketiga'
(alias, Anda mengambil jarak dari cerita itu), akan bisa membantu Anda menjaga diri agar tetap
obyektif.

Features tetap karya jurnalistik dan jangan dikaburkan dengan penulisan kreatif atau karya fiksi.
Feature bisa ditulis dengan gaya apa saja, tanpa koridor-koridor penulisan sekaku news. Jarang sekali
feature ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Feature bisa ditulis misalnya dalam kronologi yang
membangun klimak pada akhir, ditulis dalam gaya naratif seperti fiksi, dalam bentuk first-person article
tentang pengalaman sendiri si penulis, atau kombinasi antara semua itu.

* Pilih tema.

Tema kira-kira setara dengan thesis dari suatgu karya ilmiah, dan memberi kesatuan dan koherensi
pada kepingan-kepingan data dan fakta. Temanya jangan terlalu lebar atau terlalu sempit. Beberapa
faktor yang harus diperhitunjgkan saat memilih tema; Apakah kisah seperti itu menarik minat audiens?
Apa yang membuat feature itu layak diberitakan? Apakah berita semacam itu sudah pernah dituliskan
sebelumnya? Apakah kisah itu punya holding power (daya tarik emosional)?

* Tulis lead yang mengundang audiens ke dalam cerita.

Pilih jenis lead apa saja, yang penting menarik minat audiens untuk masuk ke dalam cerita. Bukannnya
langsung masukkan unsur-unsur berita di dalam lead, feature biasanya lebih tidak langsung. Kalimat
pertama, kedua, hingga ketiga biasanya digunakan untuk membentuk mood, merangsang audiens, dan
mengundang mereka untuk masuk. Paragraf berikutnya baru masuk ke 'nut paragraph'. Karena
menjelaskan mengapa feature ini ditulis, bagian ini sangat vital. Jangan biarkan pembaca menunggu
terlalu lama untuk mendapatkan apa isi cerita.

* Beri background information yang vital.

Jika mungkin, satu atau dua paragraf dari background itu ditempatkan agak di depan cerita agar audiens
tetap up to date pada isu terkait.

* Tulis tubuh berita yang memikat.

Tubuh berita ini memberikan informasi vital yang mendidik, menghibur, dan mengikat secara
emosional audiens pada subyek berita. Komponen penting dalam tubuh feature antara lain background
information yang memperkuat cerita, transisi antar paragraf yang mulus, adanya dialog yang menarik,
lalu ada unsur thread (sesuatu yang mengaitkan antara awal kisah hingga akhir). Paragraf bisa ditulis
berdasarkan kronologi waktu atau berdasarkan urutan hal-hal yang penting.

* Buat ending yang kuat.

Ending bisa dalam bentuk rangkuman seluruh kisah, bisa juga kembali ke lead, bisa juga dalam bentuk
quotation yang menantang pembaca, bisa juga dalam bentuk klimaks yang tak terduga.
Tulis dalam kalimat yang padat namun jelas dan akurat. Sebarkan kutipan langsung, pengamatan, dan
background tambahan di berbagai penjuru cerita.

* Gunakan thread. Buat hubungan antara bagian awal, batang tubuh, dan akhir dari cerita. Karena
feature umumhya lebih panjang daripada news, akan sangat efektif jika menebarkan thread ke seluruh
cerita, yang menghubungkan lead ke tubuh berita hingga ke bagian akhir. Yang jadi thread di sini bisa
berupa kisa satu orang, peristiwa tunggal, atau sesuatu. Thread ini biasanya menjadi inti tema.

* Gunakan transisi yang mulus.

Kaitkan masing-masing paragraf dengan kata-kata transisional. Transisi ini penting dalam feature
panjang yang mengkaji beberapa orang atau peristiwa. Ini menjadi alat bagi penulis untuk berpindah
dengan enak dari satu topik ke topik lain. Transisi akan membuat pembaca terus mengikuti tulisan.

* Gunakan dialog.

Penulis feature, seperti penulis cerita fiksi, sering menggunakan dialog untuk membuat cerita terus
bergulir. Bedanya, tentu, penulis feature tidak bisa mengarang-ngarang dialog fiktif. Mereka harus
mendengar dialog nyata dari para nara sumber sebelum menuliskan prosesnya. Dialog yang bagus akan
tamoak sama bagusnya dengan observasi. Dialog memberi citra mental yang kuat pada pembaca.
Dialog yang cerdas akan membuat pembaca tetap melekat pada penilisan dan pada para pemain kunci
di dalam cerita.

Ingin belajar menulis lebih jauh?


Just contact Tom; 6281332539032 or my mail