Anda di halaman 1dari 19

Reseme Pleno PB 31-36

QBD 1: Berbagai Jenis bencana dan kaitannya dengan Indonesia


Definisi Bencana
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU RI No. 24 Tahun 2007).
Konsep Bencana
-

Ber-DAMPAK pada manusia baik secara langsung maupun tidak langsung

Biasanya dipicu oleh bahaya, baik yang disebabkan oleh fenomena alam maupun
manusia

Bersifat perlahan maupun tiba-tiba

Berhubungan langsung dengan KERENTANAN

Melebihi KAPASITAS sumber daya yang tersedia

Proses sosial memainkan peran sangat penting.

Bencana adalah malapetaka luar biasa oleh alam dan buatan manusia yang merusak
kehidupan manusia melalui:
a) Tingkat Morbiditas (Kesakitan) dan Mortalitas (Kematian) yang bermakna
b) Kehancuran harta benda
c) Berakibat pada kelumpuhan kapasitas sesaat komunitas yang terkena sehingga tidak
dapat berfungsi secara normal.
*Bold merah menyatakan komponen yang harus untuk suatu kejadian bisa dikategorikan
sebagai bencana yaitu terjadi peningakatan tingkat morbiditas dan mortalitas, adanya
kehancuran harta benda dan mengakibatkan kelumpuhan kapasitas sesaat..
Karakteristik Bencana
Peristiwa yang tidak diharapkan, biasanya sudah diduga maupun tidak,

Kunci bencana ialah pada exposure atau paparan. Pada individu yang terkena paparan
bencana langsung, suatu bencana akan memberikan dampak yang besar sekali dan pada orang
yang terkena paparan bencana tidak langsung (misalnya petugas kesehatan yang turun ke
daerah bencana) tidak akan memberikan efek yang sama. Oleh karena itu, petugas kesehatan
yang menolong korban bencana harus bersikap EMPATI kepada korban bencana.
Keterkaitan dengan Indonesia

Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis,


hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang
disebabkan oleh faktor alam, faktor nonalam maupun faktor manusia yang
menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat
pembangunan nasional.

Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data
yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi
Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR). Tingginya posisi Indonesia
ini dihitung dari jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana
alam terjadi.

Indonesia terletak di salah satu wilayah paling aktif secara geologis. Di Indonesia,
terdapat pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Pasifik, Lempeng IndoAustralia dan Lempeng Eurasia.
Pergesekan antara lempeng-lempeng tersebut dapat menyebabkan gempa bumi
tektonik yang dahsyat. Belum lagi dengan banyaknya gunung berapi di Indonesia
yang mempunyai potensi sebagai penyebab gempa bumi vulkanis

Klasifikasi Bencana
1. Bencana Alam
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus,
banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. (UU RI No. 24 Tahun 2007).
Bencana alam yang terjadi secara alami (Natural disaster)
-

Gempa bumi (6,2 SR-Aceh-2013, 7,6 SR-Padang-2009, 5,9 SR-Yogya-2006)

Gunung meletus (Gunung Sinabung-2013, Gunung Tangkuban Perahu-2013, Gunung


Merapi-2010)

Tornado (Puting Beliung-Boyolali 2013, Bali-2013, Bekasi-2012)

Tsunami (Aceh-2004)

2. Bencana Non Alam


Bencana yang diakibatkan ulah manusia (Man-made disaster):
-

Oil spills (pencemaran Laut Timor-2009, Pulau Seribu-2004)

Aircraft crashes (Sukhoi-Gunung Salak-2012, Hercules-Magetan-2009, MandalaMedan-2005)

Banjir (Jakarta-2007, Wasior-Papua-2011)

Tanah longsor

Kebakaran hutan

3. Bencana Sosial

Ancaman, Risiko, dan Kerentanan yang dapat terjadi saat bencana

Bahaya/Ancama (Hazard):

a) Suatu fenomena fisik, fenomena, atau aktivitas manusia yang berpotensi merusak,
yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa atau cidera, kerusakan harta-benda,
gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan (ISDR, 2004 dalam MPBI,
2007).
b) Peristiwa kejadian potensial yang merupakan ancaman terhadap kesehatan, keamanan,
atau kesejahteraan masyarakat atau fungsi ekonomi masyarakat atau kesatuan
organisasi pemerintah yang selalu luas (Lundgreen, 1986).
Jenis Bahaya/ancaman:
1. Gempa Bumi
kerusakan atau kehancuran bangunan (rumah, sekolah, rumah sakit dan bangunan umum
lain), dan konstruksi prasarana fisik (jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan laut/udara,

jaringan listrik dan telekomunikasi, dli), serta bencana sekunder yaitu kebakaran dan
korban akibat timbulnya kepanikan.
2. Letusan Gunung Api
Ditimbulkan oleh jatuhan material letusan, awan panas, aliran lava, gas beracun, abu
gunung api, dan bencana sekunder berupa aliran Iahar. Luas daerah rawan bencana
gunung api di seluruh Indonesia sekitar 17.000 km2 dengan jumlah penduduk yang
bermukim di kawasan rawan bencana gunung api sebanyak kurang lebih 5,5 juta jiwa.
Berdasarkan data frekwensi letusan gunung api, diperkirakan tiap tahun terdapat sekitar
585.000 orang terancam bencana letusan gunung api.
3. Tsunami
Dalam peristiwa tersebut, Kota Banda Aceh Provinsi Aceh merupakan salah satu kawasan
yang mengalami kehancuran parah, digenangi Tsunami mencapai 4 - 5 km ke arah
darat(Meilianda, 2009), 61.265 jiwa meninggal dan hilang (Anonim, 2012), serta
kerugian materil diperkirakan mencapai USD 1,12 milyar (van der Plas, 2007).
4. Banjir
Banjir sebagai fenomena alam terkait dengan ulah manusia terjadi sebagai akibat
akumulasi beberapa faktor yaitu : hujan, kondisi sungai, kondisi daerah hulu, kondisi
daerah budidaya dan pasang surut air laut.
Potensi terjadinya ancaman bencana banjir dan tanah longsor saat Ini disebabkan keadaan
badan sungai rusak, kerusakan daerah tangkapan air, pelanggaran tata-ruang wilayah,
pelanggaran hukum meningkat, perencanaan pembangunan kurang terpadu, dan disiplin
masyarakat yang rendah.
5. Kegagalan Teknologi
Akibat kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam
menggunakan teknologi dan atau industri.
Dampak yang ditimbulkan dapat berupa kebakaran, pencemaran bahan kimia, bahan
radioaktif/nuklir, kecelakaan industri, kecelakaan transportasi yang menyebabkan
kerugian jiwa dan harta benda.

Kerentanan (Vulnerability)

Kondisi-kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial,


ekonomi, dan lingkungan yang meningkatkan kecenderungan (susceptibility) sebuah
komunitas terhadap dampak bahaya (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
Jenis Kerentanan:
1. Kerentanan Fisik

Daya tahan menghadapi bahaya tertentu

2. Kerentanan Ekonomi

Masyarakat atau daerah yang miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap
bahaya,

3. Kerentanan Sosial

Dari segi pendidikan, kekurangan pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana
akan mempertinggi tingkat kerentanan, demikian pula tingkat kesehatan masyarakat
yang rendah juga mengakibatkan rentan menghadapi bahaya.

4. Kerentanan Lingkungan

Masyarakat yang tinggal di daerah yang kering dan sulit air akan selalu terancam
bahaya kekeringan. Penduduk yang tinggal di lereng bukit atau pegunungan rentan
terhadap ancaman bencana tanah longsor dan sebagainya.

Kapasitas (Capacity)

suatu kombinasi semua kekuatan dan sumber daya yang tersedia di dalam sebuah
komunitas, masyarakat atau lembaga yang dapat mengurangi tingkat risiko atau dampak
suatu bencana (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
Komunitas manusia risiko bencana lebih tinggi apabila tidak di dukung oleh
kemampuan (capacity) seperti kurangnya pendidikan dan pengetahuan, kemiskinan,
kondisi sosial, dan kelompok rentan yang meliputi lansia, balita, ibu hamil dan cacat fisik
atau mental.

Risiko (Risk)

probabilitas timbulnya konsekuensi yang merusak atau kerugian yang sudah diperkirakan
(hilangnya nyawa, cederanya orang-orang, terganggunya harta benda, penghidupan dan
aktivitas ekonomi, atau rusaknya lingkungan) yang diakibatkan oleh adanya interaksi
antara bahaya yang ditimbulkan alam atau diakibatkan manusia serta kondisi yang rentan
(ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007). Fasilitas lokasi yang berdekatan dengan tempat yang
beresiko tinggi seperti dekat dengan gunung merapi, dekat dengan sungai, hutan, daerah
tersebut tertutupi sahu tebal,dan lain-lain sehingga hal tersebut menyebabkan
kekhawatiran untuk terjadinya kejadian pasca bencana
Keterkaitan Ancaman, Kekuatan, Kerentanan dan Dampak Bencana

Note Dosen:
Dikarenakan ancaman merupakan variabel yang tidak dapat diubah, maka yang harus
dilakukan ialah meninggikan kekuatan masyarakat dan Sumber daya di daerah tersebut
atau dengan kata lain merendahkan tingkat kerentanan sehingga dampak bencana yang
terjadi dapat minimal.

Fase penting terkait peminimalisasian efek bencana


a) Fase Identifikasi

Pada fase inilah masyarakat mengidentifkasi dampak yang mungkin terjadi misalnya dapat
menyebabkan trauma pada tubuh, infeksi, keracunan, atau dampak sosial.
b) Fase Estimasi dan Evaluasi
Pada fase inilah masyarakat mengestimasi hal-hal yang telah diidentifikasi pada fase
identifikasi seperti mengevaluasi risiko dan cara untuk mengontrol dampak yang mungkin
ditimbulkan.
c) Fase Monitoring
Fase yang dilakukan pada saat bencana ini terdiri atas kegiatan pemantauan dampak yang
terjadi, pengontrolan efek yang timbul yang kemudian diikuti dengen pengontrolan efek yang
telah terjadi.

Pengkajian Analisis Risiko (Risk Assessment/Analysis)


Merupakan suatu metodologi untuk menentukan sifat dan cakupan risiko dengan
melakukan analisis terhadap potensi bahaya dan mengevaluasi kondisi-kondisi kerentanan
yang ada dan dapat menimbulkan suatu ancaman atau kerugian bagi penduduk, harta
benda, penghidupan, dan lingkungan tempat tinggal (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).

Rumus:

RB = HxV
C

RB = Risiko Bencana
H = Hazard (bahaya)

QBD 2 : SIKLUS BENCANA


Fase/ Siklus Bencana
Pada prinsipnya siklus bencana dibagi menjadi 3 tahap yaitu

preimpact,

transimpact, dan postimpact atau ada juga yang menggambarkan sebagai kesiapsiagaan
bencana, tanggap darurat, and pemulihan bencana
Tahapan pada setiap siklus bencana
A. Tahap preimpact
waktu pra-bencana
Upaya mempergunakan kemampuan untuk secara tepat dan cepat merespon bencana.
Hal-hal yang dilakukan meliputi: Penyusunan rencana tanggap darurat bencana untuk
deteksi dini, mengembangkan sistem peringatan dini, peningkatan kemampuan diri dalam
menghadapi bencana dan perencanaan serta riset untuk kesiapsiagaan darurat bencana. Data
dasar bencana dan informasi tentang kesiapan bencana juga dapat dikumpulkan.
B. Tahap transimpact
Upaya-upaya untuk mengurangi akibat ancaman bencana.
Tahapan ini berfokus pada peringatan, evakuasi, respon cepat dan aktifitas
penanggulangan bencana seperti pengelolaan air bersih, pembangunan tanggul banjir dan
tempat evakuasi.
C. Tahap postimpact
upaya pemulihan dan rehabilitasi pascabencana.
Penting untuk dicatat bahwa ketiga tahapan ini tidak berdiri sendiri melainkan dapat
saling tumpang tindih bahkan dapat terjadi bersamaan tergantung dari hasil yang terjadi.

Siklus Bencana

Langkah Pengelolaan Bencana


A. Tahap pencegahan

Early detection (deteksi dini) upaya penyusunan rencana tanggap darurat


bencana

Mitigasi yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana baik
secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan bangunan fisik maupun
non fisik struktural melalui perundang- undangan dan pelatihan

Early warning (peringatan dini) adalah upaya untuk memberikan tanda


peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, yang menjangkau
masyarakat (accesible), segera (immediate), tegas tidak membingungkan
(coherent), dan resmi (official)

Evacuation (Evakuasi) memindahkan korban ke lingkungan yang lebih aman


dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut
B. Tahap respon bencana

Rapid assesment and rapid respons adalah upaya yang dilakukan segera pada
saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan,

terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan


pengungsian

Triage adalah proses khusus memilih korban berdasarkan beratnya cedera atau
penyakit untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat medik serta
prioritas transportasi

first treatment
C. Tahap rehabilitasi

Capacity building masyarakat

Pembangunan sarana dan prasarana dasar

Pembangunan sarana sosial masyarakat

Membantu masyarakat memperbaiki rumah

Pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi

QBD 3
Pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional
LOKAL
Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007:
Pengelolaan bencana skala lokal merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah
Daerah (Pasal 5). Pemerintah Daerah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) (Pasal 18).
Organisasi pengelolaan bencana skala lokal yang berada di bawah naungan pemerintah lokal
harus beraksi pertama kali untuk merespon adanya kebutuhan emergency publik.
Tujuan dibentuknya BPBD:
1. Melindungi masyarakat di daerah setempat dari bencana
2. Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat setempat
3. Meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana
Tanggung jawab Pemerintah Daerah:
1. Mengalokasikan dana penanggulangan bencana
2. Memadukan penanggulangan bencana dalam pembangunan daerah
3. Melindungi masyarakat dari ancaman bencana
4. Melaksanakan tanggap darurat

5. Melakukan pemulihan pasca bencana


Fokus pengelolaan bencana berskala loakl:

Peringatan

Informasi emergency public

Evakuasi

Penyediaan pengungsian (shelter)

NASIONAL
Organisasi pengelolaan bencana skala nasional (di bawah naungan Kementerian Pertahanan
atau Kementerian Dalam Negeri) yakni Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN)
dibentuk untuk mengkoordinasikan aktivitas yang termasuk dalam tahap-tahap siklus
bencana yakni kesiapan, mitigasi, respons, dan rehabilitasi.

Fokus pengelolaan bencana berskala nasional:

Promosi

Edukasi masyarakat, menanamkan pengurangan risiko bencana di setiap


aktivitas masyarakat, menginformasikan keuntungan dalam mengelola
bencana bersama sektor-sektor lain

Membuat standar

Standar fasilitas kesehatan pada area yang rentan bencana, standar protocol
telekomunikasi, daftar obat dan kebutuhan penting untuk gawat darurat

Pelatihan

Pelatihan untuk tenaga medis, promosi pelatihan pengelolaan bencana di


lembaga pendidikan, pelatihan untuk sector-sektor lain.

Kolaborasi dengan sektor dan institusi lain

Dengan agen pengelolaan bencana, komisi penanganan bencana, sector


kesehatan di negara lain, dan organisasi nasional/internasional

Pertanggungjawaban ketika bencana

Menyediakan, memobilisasi serta mendukung respon kesehatan.

INTERNASIONAL
Organisasi pengelolaan bencana skala internasional diperlukan ketika respons yang
dibutuhkan pada sebuah bencana melebihi kemampuan sebuah negara atau beberapa negara
Peran PBB dalam pengelolaan bencana skala internasional:

PBB berperan penting salam pembentukan dan implementasi Fasilitas Dana Multi
Donor untuk Pemulihan Bencana (IMDFF-DR).

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan kemanusiaan atau Office for the Coordination
of Humanitarian Affairs (OCHA) mendukung sesi pelatihan pengembangan kapasitas
regular untuk staf BNPB

Fokus yang dilakukan dalam pengelolaan bencana skala internasional adalah

Mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke dalam program pembangunan


bersama dengan PBB

PBB dalam kerjasama ini berperan memastikan bahwa pemerintah daerah dan
masyarakat memiliki akses pengetahuan dan mekanisme yang meminimalkan risiko
bencana.

PBB juga membantu mencarikan jalan untuk meningkatkan tanggap bencana dan
pemulihan.

Masalah yang muncul saat penatalaksanaan bencana


I.

Jenis masalah yang terjadi dalam pengelolaan bencana berskala lokal


A. Masalah Kelembagaan
Masalah kelembagaan ini menyangkut :
1. Bentuk, Tugas, dan Fungsi Lembaga BPBD.

Bentuk, tugas dan fungsi lembaga BPBD sudah jelas diatur dalam UU No. 24
Tahun 2007 namun dalam pelaksanaanya di lapangan tidak dapat dilaksanakan
dengan demikian dikarenakan beberapa alasan (Bappenas, 2009):
a) Tidak semua wilayah di Indonesia sering terkena bencana.
Kenyataannya walaupun BPBD dibuat bagi seluruh wilayah di Indonesia, namun
tidak semua wilayah di Indonesia sering terkena bencana yang menyebabkan
terjadinya ketidaksamaan pengalaman setiap wilayah dalam mengelola bencana.
b) Perbedaan pengalaman mengelola bencana setiap wilayah berbeda
Perbedaan pengalaman mengelola bencana menyebabkan tidak semua wilayah di
Indonesia memiliki kemampuan kerja yang sama. Hal ini dibuktikan dengan adanya
wilayah yang sudah mampu mengelola banyak bencana dan ada wilayah baru
mampu beberapa bencana saja.
c) Keberadaan lembaga promotor di Indonesia tidak merata
Keberadaan lembaga promotor sangatlah penting dalam mengembangkan sistem
pengelolaan bencana yang baru. Sebagian besar lembaga promotor ini ada di
wilayah besar atau wilayah kota yang modern namun sebagaimana yang diketahui
bahwa tidak semua wilayah di Indonesia memiliki tingkat modernitas yang sama.
Hal ini memungkinkan terjadi ketidaksamaan pemahaman sistem pengelolaan
bencana terkini.
2. Unsur Pengarah
Dalam UU No. 24 Tahun 2007, telah dijelaskan bahwa BPBD terdiri atas dua unsur
yakni unsur pengarah dan unsur pelaksana. Unsur pengarah terdiri atas pemerintah
terkait dan kalangan professional. Yang menjadi masalah ialah pada Sistem
Pemerintah Daerah tidak ada SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang memiliki
unsur pengarah. Ketidakadaan unsur pengarah ini kemudian diambil alih tugasnya
oleh Kepala Daerah melalui Sekda (Bappenas, 2009). Namun, BPBD sendiri
memiliki unsur pengarah yang difungsikan sebagai pengawas dan evaluator dan
tugas

ini

tentu

saja

berbenturan

dengan

pertanggungjawabannya kepada Kepala Daerah.


3. Terbatasnya SDM

tugas

Bappeda

dan

alur

SDM di wilayah daerah sebenarnya cukup namun SDM yang dimaksud ialah SDM
yang memahami mekanisme pengelolaan bencana. Jumlah SDM ini sangat terbatas
di daerah-daerah di Indonesia.
4. Anggaran BPBD
Pembentukan suatu lembaga daerah tentu akan meningkatkan biaya Pemerintah
Pusat atau BNPB Pusat untuk biaya penggajian SKPD.

B. Masalah Definisi dan Status Bencana


Sampai saat ini belum terdapat definisi teknis operasional mengenai bencana dan
klasifikasi status bencana baik berdasarkan wilayahnya maupun lama terjadinya di
dalam peraturan yang berlaku. Belum tersedianya kesepakatan mengenai definisi
bencana dan kejelasan mengenai status bencana membuat BPBD belum dapat berbuat
banyak. Hal ini dikarenakan apa pun yang dikerjakan oleh BPBD haruslah bersumber
dan sesuai dengan peraturan yang telah disahkan oleh BNPB.
C. Masalah Kerjasama Antar Daerah dalam Penanggulangan Bencana
Kerjasama antar daerah di Indonesia dalam menanggulangi bencana belum dijelaskan
dalam peraturan penanggulangan bencana. Hal ini kembali mengakibatkan BPBD
suatu wilayah tidak dapat bekerja banyak maupun memiliki alur kerja sama yang
jelas dengan BPBD wilayah lainnya dalam melakukan penanggulangan bencana.

II.

Jenis masalah yang terjadi dalam pengelolaan bencana berskala nasional

Berdasarkan masalah yang terjadi pada wilayah lokal, maka dapat disimpulkan
beberapa masalah yang terjadi pada pengelolaan bencana tingkat nasional sebagai
berikut:

Belum terjadinya keselarasan koordinasi antar BPBD di seluruh Indonesia dengan


BNPB Pusat.

Belum dibuatnya sebuah kesepakatan mengenai definisi bencana dan jenis status

bencana seperti yang telah dijelaskan sebelumnya

III.

Jenis masalah yang terjadi dalam pengelolaan bencana berskala internasional


Kerja sama berskala internasional memang merupakan cara yang baik untuk
menanggulangi suatu bencana yang besar. Kerja sama ini dapat mempererat tali
persaudaraan antar negara namun kerja sama ini juga menimbulkan beberapa masalah
seperti:

Pengiriman tenaga medis ke wilayah bencana yang tidak sesuai dengan permintaan
Pengiriman tenaga medis suatu negara ke negara lain yang terkena bencana tidak
selalu berjalan dengan baik misalnya terkadang jumlah tenaga kesehatan yang dikirim
terlalu banyak. Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan penumpukan massa di
wilayah bencana.

Tenaga kesehatan yang dikirim tidak mampu bekerja dengan baik


Tenaga kesehatan dari suatu negara yang dikirim ke negara lain sebagai volunter
dalam menanggulangi bencana terkadang tidak familiar dengan kondisi lokal,
tergabung dalam agensi pengirim yang berbeda, atau dalam beberapa kasus memiliki
kredit akademik yang belum jelas kebenarannya (PAN American Health Organization,
2000). Hal ini tentu saja menyebabkan penanggulangan bencana yang terjadi di
wilayah bencana tidak berjalan dengan baik dan bahkan dapat memperlama
berlangsungnya siklus bencana,

Kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi becana pada skala lokal,


nasional, dan internasional
MITIGASI
Menurut UU No.24 Tahun 2007 Pasal 47 (UU No. 24 Tahun 2007), Mitigasi
Bencana dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada
pada kawasan rawan bencana. Secara umum kegiatan yang dilakukan dalam tahap
mitigasi meliputi:
a. pelaksanaan penataan tata ruang;

b. pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan; dan


c. penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara
konvensional maupun modern;
Selain kegiatan yang dijelaskan oleh Undang-Undang ada beberapa kegiatan
yang dapat dilakukan pada tahap kesiapan seperti membuat chekdam, bendungan,
tanggul sungai dan lain-lain dan mitigasi struktural terdiri atas pembuatan peraturan
atau pelaksanaan peraturan, tata ruang, pelatihan termasuk spiritual).Dalam
membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan bencana, yang perlu
diperhatikan ialah peraturan tersebut haruslah sejalan dengan situasi dan kondisi
wilayah atau negara tersebut dan perlu sejalan dengan Pedoman IDRL (International
Disaster Response Laws (OCHA-ROAP, n.d). Kesesuaian dengan IDRL
memudahkan suatu negara untuk melakukan kerja sama untuk pengelolaan bencana
dengan negara lain apabila negaranya terkena bencana. Selain itu kegiatan pelatihan
yang merupakan bagian tahap mitigasi tidak hanya dilakukan pada skala lokal
maupun nasional tetapi juga dapat dilakukan pada skala internasional. Pelatihan
yang dapat dilakukan dapat berupa pelatihan simulasi bencana seperti USAR
INSARAG, IASC Inter-Agency Emergency Simulation (IASC IAES) maupun
pelatihan-pelatihan yang diprakarsai oleh WHO misalnya seperti latihan simulasi
bencana World Vision (OCHA-ROAP, n.d).
KESIAPSIAGAAN
Kesiapsiagaan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui sebuah pengorganisasian yang tepat dan berdaya guna (UU No.24,
2007). Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat
guna dan berdaya guna. Kesiapan pada tahap kesiapsiagaan dapat dilihat dari
evaluasinya.
Evaluasi Program Kesiapsiagaan
-

Tanggal kajian terakhir dari rencana bencana nasional dan regional pelayanan

otoritas kesehatan;
Latihan bencana tahunan, uji rencana bencana

Sistem ini, dikenal dengan berbagai nama tergantung pada negara dan koordinasi
berbagai sektor untuk melaksanakan berbagai hal diantaranya:

Evaluasi risiko negara atau wilayah tertentu terhadap bencana


Mengadopsi standar dan peraturan
Mengatur komunikasi, informasi, dan sistem peringatan
Pastikan mekanisme koordinasi dan respon
Mengadopsi langkah-langkah untuk memastikan bahwa sumber daya keuangan
dan lainnya yang tersedia untuk peningkatan kesiapan dan dapat dimobilisasi

dalam situasi bencana


Mengembangkan program pendidikan masyarakat
Mengkoordinasikan sesi informasi dengan media berita
Mengatur latihan simulasi bencana yang menguji mekanisme respon

Sedangkan dalam tingkatan regional, nasional, dan internasional kesiapsiagaan dapat


ditinjau dari lembaga-lembaga terkait:
a. Regional (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)
Salah satu contoh dalam tingkat regional terdapat dalam instruksi gubernur DKI
Jakarta No 153 Tahun 2014 dijelaskan bahwa dalam meningkatkan kesiapan dalam
-

kesiapsiagaan harus melaksanakan beberapa hal sebgai berikut:


Meningkatkan kesiapsiagaan personil, peralatan logistik yang ada dalam lingkup

tanggung jawab SKPDnya.


Mendekatkan posisi pesonil, peralatan, dan logistik ke lokasi-lokasi rawan bencana

banjir dan angin puting beliung


Mengaktifkan Posko Siaga Bencana di lingkungan SKPN
Melakukan Apel Siaga, Geladi Posko, dan Geladi Lapang di lingkungan SKPD dan
Pemerintah Provinsi

b. Nasional (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan,


dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Peran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam kesiapsiagaan bencana
diantaranya adalah pemantauan hotspot, menara api, peralatan, apel siaga, sekat baka
dengan prinsip kerja bersama, kolaboratif antara Kementerian LHK dan Badan
Nasional Penanggulangan Bencana..
Sedangkan dalam Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan BNPB pada
tahap kesiapsiagaan salah satu fokusnya adalah dalam pengelolaan obat. Pada tahap
ini pengelolaan obat berjalan normal, namun tetap dilakukan persiapan untuk
mengantisipasi bila terjadi sebuah bencana. Perencanaan kebutuhan obat dan
pembekalan kesehatan terkain dengan terjadinya bencana di tahap ini perlu
memerhatikan beberapa hal, diantaranya:

jumlah dan jenis obat dan perbekalan kesehatan bila terjadi bencan
pembuatan paketpaket obat bencana untuk daerah disesuaikan dengan potensi

bencana di daerahnya
jenis dan kompetensi TRC
koordinasi lintas sektor dan program.

Peran BNPB dapat dilihat dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24


Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Kesiapsiagaan dilakukan melalui
beberapa hal berikut: (UU No. 24, 2007)
-

penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana


pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar
pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme tanggap

darurat
penyiapan lokasi evakuasi
penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap

darurat bencana
penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan
pemulihan prasarana dan sarana.

c. Internasional (Bulan Sabit Merah)


Bulan Sabit Merah juga ikut berkontribusi di berbagai negara cabangnya, beberapa
-

hal yang dilakukan terkait dengan kesiapsiagaan bencana di antaranya:


pelayanan instalasi gawat darurat oleh medical first responder
mempersiapkan evakuasi & transportasi korban
pelatihan berkelanjutan untuk tim gawat darurat baik medis dan paramedis
BSMI memiliki Unggulan yaitu Rumah Sakit Lapangan (RSL) yang merupakan
inovasi pertama di Indonesia oleh sebuah Lembaga Kemanusiaan.

Daftar Pustaka:
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2010). Modul dasar relawan
penanggulangan bencana. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Diakses pada Senin, 16 Februari 2015 dari
http://pusdiklat.bnpb.go.id/home/Downloads/modul/Modul%20Relawan%20Baru.pdf
Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) .(2011). Guideline on The Role of The
International Organization and Foreign Non-Government Organization During
Emergency Response Diakses pada 3 Maret 2015 dari:
http://www.ifrc.org/docs/idrl/877EN.pdf

Bappenas. (2009). Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia


(Kebijakan,

Strategi,

dan

Operasi).

Diakses

pada

Maret

2015

dari

http://bappenas.go.id/unit-kerja/staf-ahli/bidang-sumber-daya-alam-lingkungan-hidupdan-perubahan-iklim/contents-bidang-sumber-daya-alam-lingkungan-hidup-danperubahan-iklim/2473-telaah-sistem-terpadu-penanggulangan-bencana-di-indonesiakebijakan-strategi-danoperasi/&ved=0CBwQFjAA&usg=AFQjCNFYb3eQhxmuvkwNXw0OUpdMMHRN29
g
Bharosa , N., Lee, J., & Janssen. M. (2009). Challenges and obstacles in sharing and
coordinating information during multi-agency disaster response: Propositions
from

field

exercises.

Diakses

Maret

2015

dari

http://link.springer.com/article/10.1007/s10796-009-9174-z/fulltext.html
Coppola, D. P. (2007). Introduction to International Disater Management .Oxford:
Elsevier.Inc.
OCHA-ROAP. (n,d). Respon bencana di asia dan pasifik: Panduan perangkat dan layanan
internasional. Diakses pada 3 Maret 2015 dari www.unocha.org/roap
PAN American Health Organization. (2000). Natural disaster: Protecting the publics health.
PAHO: USA
Republik Indonesia. (2007). Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan
bencana. Sekretariat Negara: Jakarta.
PPT Kuliah Dosen QBD 1, QBD 2, dan QBD 3.