Anda di halaman 1dari 21

TUGAS PRESENTASI PERLAKUAN PANAS

PADA PERMUKAAN
JUDUL
ANALISA PENGARUH PERLAKUAN PANAS
TERHADAP
KEKUATAN SAMBUNGAN LAS BAJA KARBON
TINGGI
OLEH
FAJAR ANDI SAPUTRA
1015021062

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
LAMPUNG

ANALISA PENGARUH PERLAKUAN PANAS


TERHADAP
KEKUATAN SAMBUNGAN LAS BAJA KARBON TINGGI
Ilyas Jamal, Haryadi Adma S.
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea Makassar, 90245
Di Kutip Oleh Fajar Andi Saputra Jurusan Teknik
Mesin Fakultas Teknik Universitas Lampung

Tujuan
Perlakuan
Panas

Perlakuan
panas
diberikan
bertujuan untuk memperbaiki
sifat
mekanik
pengelasan.
Sebagai
dampak
pengelasan
akibat faktor termal, elektroda,
arus dan lain sebagainya. Salah
satu contoh akibat termal, pada
pengelasan terbentuk tiga daerah
yaitu daerah logam induk, daerah
pengaruh panas dan daerah
lasan, dimana ketiga daerah ini
mempunyai
perbedaan
sifat
mekanik dan struktur mikro

I.
PENDAHULUAN
PERLAKUAN
PANAS

PENGELESAN
Pengelasan
merupakan
salah
satu bagian teknik
manufaktur
yang
banyak digunakan
dalam
bidang
industri
dan
rancang
bangun
kontruksi bangunan
dan mesin sebagai
sarana
penyambungan
logam.

sifat
mekanik
pengelasan seperti
kekuatan,
ketangguhan,
kekuatan lelah dan
lainnya, diharapkan
mampu menerima
pembebanan yang
ada, agar dalam
penggunaannya
tidak
mengalami
kegagalan
dan
kegagalan
ini
adalah
akibat
terjadinya
retak,
patah
ataupun
patah ulet pada
sambungan.

perlakuan
panas
adalah
proses
pemanasan
dan
pendinginan logam
untuk
mengubah
sifat mekanik logam
sesuai
batas
kemampuannya, dan
perlakuan
panas
mempunyai banyak
pilihan
seperti
mengeraskan
(Quenching),
melunakkan
(Annealing),
Menormalkan
(Normalizing)
dan
lain sebagainya.

j
a
B
a

Pembentukan
baja
melalui
proses
pengecoran, penempaan dan lain-lain.
Bila kadar karbon baja melampaui
0,20%, suhu dimana sifat ferrite mulai
terbentuk
dan
mengendap
dari
austenite turun. Baja yang berkarbon
0,80% disebut baja autectoid dan
struktur terdiri dari 100% pearlite. Titik
eutectoid adalah suhu terendah dalam
logam dimana terjadi perubahan dalam
keadaan larut padat dan merupakan
suhu keseimbangan terendah dimana
austenite terurai menjadi ferrite dan
cementite. Bila kadar karbon baja lebih
besar dari pada eutectoid, perlu diamati
garis pada diagram besi-karbida besi.
Garis ini menyatakan suhu dimana
karbida besi mulai memisah dari
austenite. Karbida besi ini dengan
rumus
Fe3C
disebut
cementite.
Cementite sangat keras dan rapuh. Baja
yang mengandung kadar karbon kurang
dari eustectoid (0,80%) disebut baja
hypoeutectoid
dan
baja
yang
mengandung kadar karbon lebih dari
eutectoid disebut baja hypereutectoid.
Gambar disamping adalah diagram fasa
baja karbon.

A. PENGELASAAN

ikatan metalurgi pada sambungan


logam atau pun logam paduan yang
Menurut
Menurut DIN
DIN
(Deutche
(Deutche
terjadi dalam keadaan cair
Industrie
Industrie
Normen)
Normen)

proses penggabungan material


secara metalurgi ataupun termis
dengan menggunakan energi panas
yang berasal dari energi kimia,
secara
secara umum
umum
energi mekanik atau energi listrik

Daerah pengaruh panas pada


pengelasan yaitu :
a) Daerah logam las (weld metal)
b) Daerah pengaruh panas (HAZ)
c) Daerah logam induk (base metal)

Pengelasan
Tinggi

Baja

Karbon

Baja
karbon
tinggi
mengadung
banyak karbon dan unsur lain yang
dapat memperkeras baja, hal ini
mempengaruhi
daerah
HAZ
pengelasan menjadi mudah keras,
dibanding baja karbon rendah, sifat
mudah keras adanya hidrogen difusi
selama pengelasan, membuat baja ini
sangat peka terhadap retak las
karena getas. HAZ dapat dikurangi
dengan pendinginan lambat

Kemungkinan terjadinya
retak diatasi dengan :
Harga
Harga ekuivalen
ekuivalen
karbontemperat
karbontemperat
ur
ur 260
260ooC
C -- 420
420ooC
C
Kadar
Kadar karbon
karbon
antara
antara 0,45
0,45
sampai
sampai 0,80
0,80

Hubungan kekerasan maksimum dengan


kadar karbon pada daerah HAZ pengelasan
baja karbon

Gambar 2. Hubungan Kekerasan Maksimum dengan


kadar karbon pada daerah HAZ pengelasan baja
karbon

III. METODE PENELITIAN

Gambar 3 diagram alur penelitian

Bentuk spesimen uji seperti terlihat di


bawah ini:

Gambar 4. Spesimen uji impak

III. PEMBAHASAN
3.1. Pengujian Tarik
Bahan uji yang dilas tanpa perlakuan panas, dengan
kampuh V dan Arus 100 Amp kekuatannya hampir sama
dengan bahan yang tidak dilas yaitu u = 77,6 kg/mm2 dan
= 0,18 sedang arus 110 Amp dengan kampuh yang sama
yaitu u = 77,6kg/mm2 dan = 0,18, dan arus 120 Amp
dengan kampuh yang sama kekuatannya sebesar u = 8
kg/mm2 dan = 0,17, hal ini menunjukkkan bahwa
pengaruh
pengelasan
dengan
kampuh
V
terjadi
peningkatan kekuatan pada Arus pengelasan 120 A dimana
peningkatan yang dicapai sebesar 0,024 atau 2,4 persen.
Ini sangat kecil, dimana pengaruh panas las tidak
mengubah mikro struktur yang ada pada baja karbon tinggi.
Dengan kampuh X (Doubel V) pada arus pengelasan 100
Amp, 110 Amp, dan 120 Amp, masing-masing kekuatannya
u = 79,5 kg/mm2 dan = 80,1 dan u = 82, kg/mm2. Hal
ini menunjukkan peningkatan kekuatan dibanding bahan
yang tidak dilas, dengan peningatan masing-masing
sebesar 0,5 persen, 1,2 persen dan 4,3 persen. Peningkatan

3.2. Pengujian Tumbuk (Impact test)


Dari hasil pengujian (Impact) specimen normal nilai
ketangguhannya 0,111 joule/mm2 dan specimen dilas
dengan kampuh V dengan arus pengelasan 100 Amp, 110
Amp dan 120 Amp adalah masing-masing U = 0,119, 0,111
dan 0,102 joule/mm2, hal ini memperlihatkan terjadinya
peningkatan nilai ketangguhan bahan sebesar 16,7 persen
pada pengelasan arus 100 Amp, sedang pada 120 Amp
terjadi penurunan sebesar 8,8 %, dan pengelasan 110 Amp
tidak ada peningkatan, selanjutnya specimen dilas dengan
kampuh X, peningkatan ketangguhan tidak terjadi untuk arus
pengelasan 100 Amp dan untuk arus pengelasan 110 Amp
dan 120 Amp terjadi penurunan mencapai 8,8 %, hal ini
dapat dikatakan peningkatan ketangguhan untuk specimen
dilas kampuh V ketangguhannya lebih tinggi dibanding dilas
kampuh X.

Perlakuan panas dengan penidinginan air dari spesimen yang dilas


baik kampuh X mauppun V, menunjukkan penurunan ketangguhan
dari spesimen yang hanya dilas dimana untuk kampuh V memcapai
U = 0,102 joule/mm2 pada Arus pengelasan 120 Amp dan Kampuh
X mencapai U = 0,098 joule/mm2, sedang spesmen yang hanya
dilas tanpa perlakukan panas pada Arus pengelasan yang sama
120 Amp hanya mencapai nilai ketangguhan yaitu untu spesimen
dengan Kampu X mencapai nilai U = 0,102 joule/mm2. Untuk
spesimen yang di normalizing setelah dilas menunjukkan nilai
ketangguhan lebih tinggi dari bahan yang di quens dengan Air, dan
juga menunjukkan peningkatan dari ketangguhan spesimen normal
untuk spesimen dilas dengan Kampuh X. Sedang untuk spesimen
dilas Kampuh V ketangguhannya jauh lebih tinggi dari spesimen
kampuh X, dimana ketangguhan mencapai U = 0,145 joule/mm2
untuk 100 A, dan U = 0,139 joule/mm2. Untuk 110 Amp dan U =
0,145 joule/mm2 pada 120 Amp atau peningkatan ketangguhan
rata-rata 25,2 persen.

3.3. Kekuatan Lelah


Hasil perhitungan kekuatan lelah secara empiris dari pengujian
tarik dan pengujian tumbuk. Menunjukkan peningkatan, dimana
spesmen normal di dapat Sg = 35,6 kg/mm2. Sedang spesimen
dilas Kampuh X tertinggi SG = 37,1 kg/mm2, dan dilas Kampuh
V tertinggi SG = 36,4 kg/mm2, hal menunjukkan peningkatan
kekuatan lelah pada spesimen dilas Kampuh X lebih dari
spesimen dilas Kampuh V.
Tabel 1. Hubungan Sifat Mekanik Bahan Baja Karbon
Tinggi

Tabel 2. Hasil perhitungan kelelahan pada pengujian


impak

Tabel 3. Hasil perhitungan pengujian tarik

Gambar 5. Grafik nilai kekuatan


material

Gambar 6. Grafik nilai kekuatan


material yang dilas dan Normalizing

Gambar 7. Grafik nilai kekuatan


material yang dilas lalu dikuens

Gambar 8. Grafik nilai kekuatan material


untuk kampuh V

Gambar 9. Grafik nilai kekuatan material


untuk kampuh X

Gambar 10. Grafik nilai kekuatan


material yang dilas untuk kampuh V dan
X

KESIMPULAN
a. Peningkatan sifat mekanik yaitu kekuatn tarik terjadi pada
bahan yang dilas dengan Kampuh X dan tertinggi pada
pengelasan Arus 120 Ampere yaitu mencapai u =82,5 kg/mm2
atau peningkatan sebesar 4,2 persen dari kekuatan bahan tanpa
dilas yaitu u = 79,1 kg/mm2, sedang bahan yang dilas dan
diperlakukan panaskan dengan pendinginan air kekuatannya u
=87,5 kg/mm2. merupakan peningkatan tertinggi yang dicapai
terjadi pada kampuh X, arus 120 Amper yaitu 12,8 persen
dibanding kekuatan bahan tanpa perlakukan.
b. Kekuatan tumbuk bahan, peningkatan terjadi pada bahan
dilas dengan Kampuh V dan tertinggi pada pengelasan dengan
Arus 100 Ampere, yang mencapai U= 0,119 joule/mm2 atau
peningkatan sebesar 7,2 persen dari harga Impak bahan tanpa
dilas, sedang bahan dilas dan diperlaku panaskan dan di
dinginkan dengan Air, mencapai nilai ketangguhan terendah
pada kampuh X dan Arus pengelasan 120 Ampere yaitu U=
0,098 joule/mm2 atau penurunan sebesar 11,7 persen dari bahan
tanpa perlakuan.

c. Peningkatan kekuatan lelah bahan terjadi pada bahan dilas dan


diquench air dengan Kampuh X, dan tertinggi pada arus
pengelasan 120 Ampere yaitu SG = 39,1 kg/mm2 dari hasil uji
tarik, sedang dari hasil uji tumbuk peningkatan kekuatan retak
pasa kampuh V dengan arus pengelasan 100 Ampere dan
dinormalizing KIc = 75,0 kg/mm2.
d. Pengaruh Arus pengelasan terhadap peningkatan sifat mekanik
baja karbon tinggi adalah makin tinggi Arus pengelasan, makin
besar peningkatan kekuatan dan kegetasan yang terjadi,
sebaliknya ketangguhan menurun.

TERIMA KASIH