Anda di halaman 1dari 10

A.

DATA PENGAMATAN
1. Standarisasi Natrium Hidroksida (NaOH)
No
1
2

Volume Asam Oksalat


2 mL + 10 Tetes PP
2 mL + 10 Tetes PP

Volume NaOH
19.6 mL
19.6 mL

Perubahan Warna
Merah Muda
Merah Muda

2. Konsentrasi Asam Asetat


Percobaan
1
2
3
4

[Asam Asetat] Volume NaOH 0,1 M


V1 (mL) V2 (mL)
0,5 M
7,4
7,6
0,25 M
3,1
3,3
0,125 M
1,1
1,5
0,0625 M
0,8
0,9

Perubahan Warna Larutan


Pink (Merah Muda)
Pink (Merah Muda)
Pink (Merah Muda)
Pink (Merah Muda)

B. PEMBAHASAN
Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan yang berdasarkan sifat hidrofob dan
hidrofilik dan juga perbedaan sifat seperti densitasnya. Ekstraksi digunakan bila
senyawa organik (sebagian besar hidrofob) dilarutkan dalam air. Pelarut yang tepat
(tidak hidrofob) ditambahkan pada fasa larutan airnya, campuran diaduk dengan
baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. Lapisan air dan lapisan
organik dapat dipisahkan dengan corong pisah (Takeuchi, 2006).
Distribusi adalah pembagian diri dari suatu solut (zat terlarut) dalam dua
pelarut (solven) yang tidak saling campur. Disosiasi adalah penguraian atau
pembagian senyawa atau zat ke dalam bentuk yang lebih kecil seperti molekul dan
ion.
Hukum distribusi adalah hukum yang menjelaskan tentang pembagian jumlah
molekul menurut tingkatan energinya atau secara umum distribusi adalah cara
untuk merealisasikan pembagian (Pudjaatmaka, 2002). Hukum distribusi dilakukan
dalam proses ekstraksi. Distribusi digunakan untuk menghilangkan atau
memisahkan zat terlarut larutan dengan pelarut air yang diekstraksi dengan pelarut
lain seperti eter, kloroform, benzene (Mulyani, 2014).
Standarisasi adalah suatu cara penetapan konsentrasi suatu larutan yang
dibuat dengan melakukan titrasi ulang, contohnya standarisasi larutan NaOH
menggunakan KHP. Penentuan konsentrasi NaOH tidak dapat ditentukan langsung
dari penimbangan, karena NaOH dapat menyerap air di lingkungan, sehingga
massanya berubah, untuk itu dilakukan standarisasi dengan cara dititrasi
menggunakan larutan standar primer (Chang, 2004)
Standarisasi bertujuan untuk menetapkan konsentrasi dari suatu larutan
standar sekunder yang akan digunakan untuk mentitrasi sampel. Dalam praktikum
ini larutan NaOH distandarisasi mengunakan larutan standar primer asam oksalat.
Asam oksalat berfungsi sebagai standar primer karena konsentrasinya sudah
ditetapkan melalui penimbangan massa padatannya secara teliti.
Indikator PP ditambahkan dalam larutan asam oksalat yang nantiya akan
dititrasi dengan larutan NaOH. Indikator PP berfungsi sebagai indikator untuk
menunjukkan titik akhir titrasi. Titrasi dilakukan duplo atau dua kali yang bertujuan
untuk meminimalkan kesalahan titrasi supaya titrasi yang dilakukan lebih teliti.
Volume NaOH yang diperlukan untuk mentitrasi asam oksalat 2 ml dalam
erlenmeyer yaitu V1 = 19,6 ml dan V2 = 19,9 ml. nilai keduanya berdekatan yang
menunjukkan titrasi lebih teliti dan hati-hati. Setelah dirata-ratakan, volume NaOH
titrasi adalah 19,75 ml.

Perubahan warna indikator sebelum dan setelah titik akhir titrasi adalah dari
bening ke merah jambu. Sebelum titrasi indikator PP berada dalam kondisi
asam(pH<8) yaitu asam oksalat. Tetapi pada saat titrasi dengan NaOH yang bersifat
basa, maka semakin lama pH semakin meningkat sehinggga larutan menjadi agak
basa (pH>10) dan indikator PP berubah warna dari bening ke merah jambu. Trayek
pH indikator PP dari bening ke merah jambu adalah 8,3 10 (Chang, 2004).
Setelah data titrasi di hitung, dihasilkan konsentrasi NaOH standar sebesar 0,101 M
yang mendekati konsentrasi NaOH yang diinginkan.
Penentuan koefisien distribusi dilakukan dengan melarutakan asam asetat
dalam air kemudian dicampur dengan eter. Sebagian asam asetat akan berpindah ke
dalam eter sehingga konsentrasi asam asetat dalam air akan berkurang. Konsentrasi
asam asetat digunakan bervariasi yaitu 0,5 M; 0,25 M; 0,125 M ; dan 0,0625 M.
Tujuan digunakannya variasi adalah untuk melihat apakah koefisen akan tetap jika
konsentrasi asamnya berbeda. Secara teori tetapan atau koefisien akan bernilai sama
atau tetap walau konsentrasi asam asetat di variasikan. Untuk menentukannya
larutan asam asetat yang konsentrasinya diketahui ditambah eter. Eter berfungsi
sebagai pelarut nonpolar yang juga dapat melarutkan asam asetat. Karena asam
asetat dapat larut dalam kedua pelarut ini, maka konsentrasi asam asetat dalam
kedua pelarut akan beda dan konsentrasi salah satunya merupakan selisih
konsentrasi pelarut lain dengan konsentrasi awal.
Pada saat larutan dicampur, larutan ini dikocok yang bertujuan supaya terjadi
distribusi dari air ke asam asetat sehingga terjadi kesetimbangan. Setelah dkocok
timbul gas dalam corong pisah. Gas tersebut adalah eter yang meguap, karena eter
adalah zar yang mudah menguap menjadi gas. Gas tersebut dikeluarkan karena
tekanan dalam corong pisah semakin besar yang dapat mengakibatkan corong
pecah atau meledak. Setelah dikocok maka larutan didiamkan supaya terjadi
kesetimbangan dan terbentuk dua lapisan terpisah antar lapisan air dan eter.
Lapisan yang terbentuk ada dua yaitu lapisan atas adalah eter dan lapisan
bawah adalah air. Lapisan atas adalah eter karena massa jenis eter (dietil eter) lebih
kecil dari air yaitu 0,71 g/ml (Daintith, 2005). Sedangkan massa jenis air adalah 1
g/ml (Daintith, 2005). Lapisan ini terpisah karena air adalah senyawa polar
sedangkan eter adalah senyawa nonpolar. Ini sesuai dengan kaedah like disolve like
yang menjelaskan bahwa senyawa polar akan larut dalam pelarut polar, sedangkan
senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar.
Lapisan yang akan dititrasi adalah larutan bawah. Larutan bawah di ambil
karena merupakan lapisan air yang memiliki asam asetat terlarut didalamnya.
Larutan air tersebut dipipet sebanyak 2 ml kedalam erlenmeyer dan ditambah
indikator PP. indikator PP berfungsi sebagai indikator untuk menunjukkan titik
akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna larutan. Sehingga titrasi harus
dihentikan karena sudah sempurna.

Titrasi lapisan air bertujuan untuk mengetahui konsentrasi asam asetat yang
terlarut dalam air sehingga konsentrasi asam asetat dalam eter juga dapat
ditentukan. Pada titrasi asam asetat yang memiliki konsentrasi awal sebelum
dicampur eter yaitu 0,5 M, dicampur dengan eter dan terbentuk dua fasa. Lapisan
air diambil dan ditirasi dengan standar NaOH. Volume larutan standar NaOH yang
diperlukan adalah V1 = 7,4 ml dan V2 = 7,6 ml. Sehingga volume NaOH titrasi rataratanya adalah 7,5 ml. Perubahan warna larutan pada saat akhir titrasi adalah dari
bening atau tidak berwarna menjadi warna merah jambu setelah titik akhir titrasi
terjadi.
Setelah dilakukan perhitungan konsentrasi asam asetat dalam larutan air
variasi 0,5 M asam asetat, konsentrasi asam asetat dalam lapisan air adalah 0,37875
M dan dalam eter adalah 0,12125 M. Konstanta distribusi larutan tersebut adalah
3,1237 yang lebih besar daripada nilai 1 yang menunjukkan bahwa asam asetat
lebih banyak larut dan mudah larut dalam pelarut polar atau air.
Konsentrasi variasi semakin kecil maka volume NaOH yang diperlukan juga
akan semakin kecil karena jumlah mol asam yang bereaksi akan sama dengan
jumlah mol basa yang ditambahkan.
Dalam variasi yang lain untuk 0,25 M, 0,125 M, dan 0,0625 M. Konstanta
distribusinya adalah K2 = 1,82, K3 = 1,1 dan K4 = 2,193. Nilai tersebut berbedabeda tang seharusnya sama. Perbedaan tersebut mungkin karena kesalahan dalam
pembuatan konsentrasi larutan atau banyak eter yang menguap sehingga
konsentrasi larutan hasi distribusi akan berbeda dengan hasil secara teroritis. Gugus
alkil (-R) dalam asam asetat merupakan gugus nonpolar sedangkan gugus
karboksilat (-COOH) merupakan gugus polar yang dapat larut dalam air. Konstanta
distribusi rata-rata untuk asam asetat dalam air dan eter adalah 2,06 yang
menunjukkan bahwa asam asetat lebih banyak terlarut dalam air daripada dalam
eter. Asam asetat merupakan senyawa semipolar yang dapat larut dalam air dan
eter. Dari hasil konstanta distribusi tersebut dapat dibuktikan bahwa asam asetat
lebih cenderung memiliki sifat polar daripada nonpolar.

C. PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan NaOH 01 M
Dik: M.NaOH = 0,1 M
V. H2O = 500 ml = 0,5 l
Mr.NaOH = 40 gr/mol
Dit m. NaOH = ?
Jawab
n. NaOH = M x V = 0,1 M x 0,5 l = 0,05 mol
m. NaOH = n x Mr = 0,05 mol x 40 g/mol = 2 g

2. Pembuatan Larutan Asam Oksalat 0,5 M


Dik: M.Oksalat = 0,5 M
V H2O = 50 ml = 0,05 l
Mr. Oksalat = 120 g/mol
Dit m. Oksalat ?
Jawab: n Oksalat = M x V = 0,5 M x 0,05 l = 0,025 mol
m oksalat = n x Mr = 0,025 mol x 120 g/mol = 3 g

3. Pembuatan Asam Asetat


Dik: M. Asam Asetat pekat = 17,49 M
V encer = 50 ml
M encer = 0,5 M
Dit : V dari (0,5; 0,25; 0,125; 0,0625) M

0,5 M --> M1.V1 = M2.V2


17,49 M x V1 = 0,5 M x 50 ml
V1 = 1,43 ml

0,25 M --> M1.V1 =M2.V2


0,5 M x V1 = 0,25 M x 50 ml

V1 = 25 ml

0,125 M --> M1.V1 =M2.V2

0,25 M x V1 = 0,125 M x 50 ml
V1 = 25 ml

0,0625 M --> M1.V1 =M2.V2


0,125 M x V1 = 0,0625 M x 50 ml
V1 = 25 ml

4. Standarisasi NaOH
H2C2O4.2H2O + 2NaOH Na2C2O4 + 4H2O
V NaOH rata-rata titrasi = (V1+V2)/2 = (19,6+19,9)/2 = 19,75 ml
n H2C2O4.2 H2O = M x V = 0,5 M x 2 ml = 1 mmol
mol NaOH = 2 mol oksalat
= 2 x 1 mmol = 2 mmol
M NaOH = n / V NaOH rata-rata titrasi
= 2 mmol / 19,75 ml = 0,101 M

5. Konstanta Distribusi Asam Asetat


CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Asam Asetat 0,5 M (a)

M NaOH standar = 0,101 M


V NaOH rata-rata Titrasi = (V1+V2)/ 2 = (7,4 + 7,6 )/2 = 7,5 ml
n NaOH = M x V rata-rata titrasi = 0,101 M x 7,5 ml = 0,7575 mmol
n CH3COOH = n NaOH = 0,7575 mmol
M CH3COOH = n / V CH3COOH yang dititrasi = 0,7575 / 2 ml = 0,37875 M
(b)
C air = 0,37875 M
C eter = (a - C air)M =( 0,5 - 0,37875 )M = 0,12125 M

K1 = C air / C eter = 0,37875 / 0,12125 = 3,1237

Asam Asetat 0,25 M (a)

M NaOH standar = 0,101 M


V NaOH rata-rata Titrasi = (V1+V2)/ 2 = (3,1 + 3,3 )/2 = 3,2 ml
n NaOH = M x V rata-rata titrasi = 0,101 M x 3,2 ml = 0,3232 mmol
n CH3COOH = n NaOH = 0,3232 mmol
M CH3COOH = n / V CH3COOH yang dititrasi = 0,3232 / 2 ml = 0,1616 M (b)
C air = 0,1616 M
C eter = (a - C air)M =(0,25 -0,1616 )M = 0,0884 M
K2 = C air / C eter = 0,1616 / 0,0884 = 1,82

Asam Asetat 0,125 M (a)

M NaOH standar = 0,101 M


V NaOH rata-rata Titrasi = (V1+V2)/ 2 = (1,1 + 1,5 )/2 = 1,3 ml
n NaOH = M x V rata-rata titrasi = 0,101 M x 1,3 ml = 0,1313 mmol
n CH3COOH = n NaOH = 0,1313 mmol
M CH3COOH = n / V CH3COOH yang dititrasi = 0,1313 / 2 ml = 0,06565 M
(b)
C air = 0,06565 M
C eter = (a - C air)M =(0,125 - 0,06565 )M = 0,05935 M
K3 = C air / C eter = 0,06565 / 0,05935 = 1,1

Asam Asetat 0,0625 M (a)

M NaOH standar = 0,101 M


V NaOH rata-rata Titrasi = (V1+V2)/ 2 = (0,8 + 0,9 )/2 = 0,85 ml
n NaOH = M x V rata-rata titrasi = 0,101 M x 0,85 ml = 0,08585 mmol
n CH3COOH = n NaOH = 0,08585 mmol
M CH3COOH = n / V CH3COOH yang dititrasi = 0,08585 / 2 ml = 0,042925 M
(b)
C air = 0,042925 M

C eter = (a - C air)M =(0,0625 0,042925 )M = 0,019575 M


K4 = C air / C eter = 0,042925 / 0,019575 = 2,193
Krata-rata = (K1 + K2 + K3 +K4 )/4 = (3,1237 + 1,82 + 1,1 + 2,193)/ 4 = 2,06

D. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat simpulkan bahwa:

Asam asetat lebih larut dalam air dibandingkan dalam eter.

Harga Konstanta distribusi asam asetat dalam pelarut air dan eter adalah
2,06

4.2 Saran
Saran untuk praktikum ini kedepannya sebaiknya menggunakan pelarut
organik lain seperti karbon tetraklorida (CCl 4) dan zat terlarutnya di ganti dengan
asam asam oksalat.

Daftar Pustaka
Daintith, J., 2005, A Dictionary of Science, 5th Edition, Oxford University Press,
New York
Hermiati, Rusli, Manalu, N.Y. dan Sinaga, M.S., 2013, Ekstrak Daun Sirih Hijau
Dan Merah Sebagai Antioksidan Pada Minyak Kelapa, Fakultas
Teknik, Universitas Sumatera Utara, J. Teknik Kimia USU, Vol.2(1)
Ikawati, R., 2005, Optimasi Kondisi Ekstraksi Karotenoid Wortel (Daucus Carota
L. ) Menggunakan Response Surface Methodology (RSM), Laboratory
of Chemistry and Biochemistry, Study program of Agricultural
Product Technology, Faculty of Agriculture, Mulawarman University,
J. Teknologi Pertanian, Vol.1(1), pp. 14-22
Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press,
Jakarta
Moulana, R., Juanda, Rohaya, S., dan Rosika, R., 2012, Efektifitas Penggunaan
Jenis Pelarut dan Asam dalam Proses Ekstraksi Pigmen Antosianin

Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus Subdariffa L.), J. Teknologi dan


Industri Pertanian Indonesia, Vol. 4(3).
Mulyani, S. dan Hendrawan, 2010, Common Textbook Kimia Fisika II, UPI-Press,
Bandung
Pudjaatmaka, A.H., 2002, Kamus Kimia, Balai Pustaka, Jakarta
Soebagio, 2000, Kimia Analitik II (JICA), Universitas Negeri Malang, Malang
Svehla, G., 1979, Vogels: Qualitative Inorganic Analysis, Longman, England
Takeuchi, Y., 2006, Buku Teks: Pengantar Kimia, Penerjemah: Ismunandar,
Iwanami Publishing Company, Tokyo

E. JAWABAN PERTANYAAN
1. Setelah dilakukan pengocokan. Maka campuran dari 2 zat tersebut perlu
didiamkan selama 15 menit. Apakah yang akan terjadi apabila lapisan bawah
langsung diambil sehabis campuran kedua zat tersebut dikocok.
Jawab:
Jika langsung diambil maka belum terjadi kesetimbangan dan belum terjadi
distribusi secara sempurna sehingga konsentrasi zat terlarut dalam dua pelarutnya
akan sama