Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Menurut National Cholesterol Education Program Expert Panel


on Detection, Evaluation, and Treatment of High blood Cholesterol
in Adults Treatment Panel III (NCEP ATP III)) tahun 2001,
sindroma metabolik adalah sekelompok kelainan metabolik baik
lipid maupun non-lipid yang merupakan faktor risiko penyakit
jantung koroner, yang terdiri atas obesitas sentral, dislipidemi
aterogenik (kadar trigliserid tinggi dan kadar kolesterol highdensity lipoprotein (HDL) rendah), hipertensi, dan glukosa plasma
yang abnormal (lihat tabel 4). Keadaan tersebut di atas
berhubungan erat dengan suatu kelainan sistemik yang dikenal
sebagai resistensi insulin . Resistensi insulin adalah suatu
gangguan respons biologis terhadap insulin, dengan akibat
kebutuhan
insulin
tubuh
meningkat
sehingga
terjadi
hiperinsulinemi untuk mempertahankan kadar glukosa plasma agar
tetap dalam batas normal . Resistensi insulin berkaitan erat
dengan obesitas, khususnya dengan penimbunan jaringan lemak
abdominal atau obesitas sentral . Beberapa keadaan resistensi
insulin seperti sindroma ovari polikistik, terapi glukokortikoid,
atau
kehamilan
tidak
termasuk
sindroma
metabolik
.
Konsep tentang adanya sekelompok faktor risiko PJK sebelumnya
pernah dikemukakan oleh Kylin pada tahun 1933 dengan nama
sindroma X yang terdiri atas obesitas, hiperurikemi, dan
hipertensi. Kemudian Reaven pada tahun 1988 memperkenalkan
kembali sindroma X dengan komponen yang berbeda yaitu obesitas,
hiperurikemi, dan hipertensi . Selanjutnya semakin banyak faktor
risiko PJK yang diusulkan sebagai bagian dari sindroma X sehingga
sindroma ini mendapat beberapa nama lain seperti sindroma
resistensi insulin , the deadly quartet , atau sindroma
dismetabolik. Nama sindroma metabolik resmi digunakan oleh World
Health
Organization
(WHO)
pada
tahun
1999
.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi sindroma metabolik sangat bervariasi oleh karena
beberapa hal antara lain ketidak seragaman kriteria yang
digunakan, perbedaan etnis / ras, umur dan jenis kelamin.
Walaupun demikian prevalensi sindroma metabolik dapat dipastikan
cenderung meningkat bersamaan dengan meningkatnya prevalensi
obesitas maupun obesitas sentral. Penelitian San Antonio Heart
Study (1979-1982) melaporkan 15,8% dari 1125 orang Mexico-Amerika
dan kulit putih berusia antara 25-64 tahun yang sedikitnya
ditemukan dengan dua faktor risiko, dan 4,8% dengan tiga faktor
risiko kriteria sindroma metabolik WHO . Hasil penelitian
Framingham Offspring Study menemukan prevalensi pada pria sebesar

29,4% dari 1144 pria dan 23,1% dari 1295 wanita berusia antara
26-82
tahun
.
World Health Organization memperkirakan sindroma metabolik
banyak ditemukan pada kelompok etnis tertentu termasuk beberapa
etnis di Asia-Pasifik, seperti India, Cina, Aborigin, Polinesia
dan Milenesia. Penelitian WHO MONICA oleh Marques-Vidal dkk. di
Perancis menemukan prevalensi lebih besar pada populasi pria
(23%) dibandingkan populasi wanita (12%). Prevalensi terbanyak
ditemukan pada kelompok usia antara 55-64 tahun yaitu pria 34%
dan wanita 21%. Pada tabel 1 dapat dilihat beberapa prevalensi
sindroma metabolik yang menggunakan kriteria WHO.

Suatu penelitian National Health and Nutrition Survey (NHANES)


di Amerika Serikat dengan kriteria NCEP ATP III
menemukan
prevalensi sindroma metabolik sebesar 22,0% atau sebanyak 47 juta
orang dari populasi penduduk dewasa. Prevalensi meningkat dengan
bertambahnya umur, pada kelompok usia 20-29 tahun 6,5% dan pada
usia
60-69
tahun
43.5%
(gambar
1).
Menurut jenis kelamin, prevalensi yang lebih besar ditemukan
pada wanita 24,0% sedangkan pada pria 23,4%. Menurut ras
prevalensi terbesar ditemukan pada kelompok etnis Amerika-Meksiko
yaitu 31,9%. Suatu penelitian di Makassar yang melibatkan 330
orang pria berusia antara 30-65 tahun dan menggunakan kriteria
NCEP ATP III dengan ukuran batasan lingkar pinggang yang
disesuaikan untuk orang Asia (mengikuti klasifikasi usulan WHO
untuk orang Asia dewasa yaitu > 90 cm untuk pria dan > 80 untuk
wanita) menemukan prevalensi sebesar 33,9%. Pada kelompok pria
yang obes sentral ditemukan prevalensi menjadi lebih tinggi yaitu
62,0% . Pada tabel 2 diperlihatkan beberapa prevalensi hasil
penelitian dengan menggunakan kriteria National Cholesterol
Education Program Expert Panel on Detection, Evaluation, and
Treatment of High blood Cholesterol in Adults Treatment Panel III
(NCEP ATP III).

KRITERIA

DIAGNOSIS

SINDROMA

METABOLIK

Saat ini ada dua kriteria diagnosis sindroma metabolik yang


banyak digunakan, yaitu kriteria WHO 1999 dan kriteria NCEP ATP
III 2001 . Kriteria WHO 1999 menekankan adanya toleransi glukosa
terganggu atau diabetes melitus, dan atau resistensi insulin yang
disertai sedikitnya dua faktor risiko lain yaitu hipertensi,
dislipidemi, obesitas sentral dan mikroalbuminuri (tabel 3) .
Kriteria diagnosis sindroma metabolik WHO lebih menekankan adanya
toleransi glukosa dan resistensi insulin, oleh karena itu sulit
diterapkan di praktek sehari-hari. Selain itu pemeriksaan
mikroalbuminuri bukan merupakan pemeriksaan rutin di klinik .

Pada tahun 2001 NCEP ATP III membuat suatu kriteria yang
lebih mudah digunakan di klinik . Kriteria diagnosis NCEP ATP III
menggunakan parameter yang lebih mudah untuk diperiksa dan
diterapkan oleh para klinisi sehingga dapat dengan mudah
mendeteksi sindroma metabolik (tabel 4). Menjadi masalah dalam
penerapan kriteria diagnosis NCEP ATP III adalah perbedaan nilai
normal lingkar pinggang antara berbagai jenis etnis. Untuk
orang Asia dewasa batasan ukuran lingkar pinggang normal lebih

kecil dibandingkan dengan orang Kaukasia atau Eropa, oleh karena


itu pada tahun 2000 WHO mengusulkan lingkar pinggang untuk orang
Asia > 90 cm untuk pria dan untuk wanita > 80 cm sebagai batas
ukuran obesitas sentral. Sejak tahun 2003 di klinik kami untuk
mendiagnosis sindroma metabolik telah menggunakan kriteria NCEP
ATP III yang dimodifikasi dengan mengganti batasan lingkar
pinggang obes sentral dengan kriteria baru yang sesuai untuk
orang Asia.

Pada tahun 2002 di Makassar suatu penelitian dengan subyek


pengunjung klinik yang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin
menemukan prevalensi sindroma metabolik sebesar 35,6%, dan lebih
banyak pada wanita dibandingkan pria yaitu masing-masing 42,3%
dan 29,8%. Prevalensi berkurang menjadi 17,5% apabila menggunakan
kriteria asli NCEP ATP III .
Tabel 5. Kriteria sindroma metabolik NCEP ATP III 2001 dengan
modifikasi
(Makassar
2002)
Diagnosis sindroma metabolik ditegakkan bila didapatkan sama
dengan atau lebih dari 3 faktor risiko berikut:

RINGKASAN
Sindroma metabolik adalah sekelompok kelainan metabolik baik
lipid maupun non-lipid yang merupakan faktor risiko penyakit
jantung koroner, yang terdiri atas obesitas sentral, dislipidemi
aterogenik (kadar trigliserid meningkat dan kadar kolesterol
high-density lipoprotein (HDL) rendah), tekanan darah meningkat
dan resistensi insulin (dengan atau tanpa intoleransi glukosa).
Keadaan tersebut di atas berhubungan erat dengan suatu kelainan
sistemik yang dikenal sebagai resistensi insulin. Sindroma
metabolik menjadi penting oleh karena risiko PJK menjadi lebih
besar dibandingkan dengan masing-masing faktor risiko klasik,
misalnya hanya dislipidemi, atau hipertensi.
Bukti epidemiologis memastikan adanya peningkatan prevalensi
sindroma metabolik di seluruh dunia, dan berkaitan erat dengan

meningkatnya obesitas. Prevalensi sindroma metabolik sangat


bervariasi tergantung dari kriteria yang digunakan dan subyek
yang diperiksa. Ada dua kriteria sindroma metabolik yang banyak
digunakan, yaitu kriteria WHO dan NCEP ATP III. Di antara kedua
kriteria ini, kriteria NCEP ATP III lebih mudah untuk diterapkan
di klinik oleh karena parameter yang digunakan mudah diperiksa
oleh dokter praktek. Untuk orang Asia dewasa perlu disesuaikan
batasan ukuran lingkar pinggang, yaitu > 90 cm untuk pria dan >
80 cm untuk wanita.
DAFAR PUSTAKA
1.

Executive summary of the third report of the National


Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on
Detection, Evaluation, and Treatment of High blood
Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III).
JAMA 2001;285:2486-2497
2. World Health Organization. Definition, diagnosis and
classification of diabetes mellitus and its
complication. Part 1: Diagnosis and classification of
diabetes mellitus. World Health Organization, Geneva 1999
3. American Diabetes Association. Consensus development
conference on insulin resistance. Diabetes Care 1999;
21:310-314
4. Groop LC, Orho-Melander M. The dysmetabolic syndrome.
J Intern Med 2001;250:105-120
5. Reaven G. Role of insulin resistance in human disease.
Diabetes 1988;37:1595-1567
6. Kaplan NM. The deadly quartet: upper-body obesity, glucose
intolerance, hypertriglyceridemia, and hypertension. Arch Int
Med 1989; 149:1514-1520
7. DeFronzo RA. Insulin resistance: the metabolic link between
non-insulin-dependent diabetes mellitus, obesity,
hypertension, dyslipidemia, and atherosclerotic diasease.
Curr Opin Cardiol 1990; 5:586-593
8. Cameron AJ, Shaw JE, Zimmet PZ. The Metabolic Syndrome:
Prevalence in worldwide populations. Endocrinol Metab
Cin N Am 2004; 33: 351-375
9. Ford ES. Prevalence of the metabolic syndrome in US
populations. Endocrinol Metab Clin N Am 2004; 33: 333-350
10. Marques-Vidal P, Mazoyer E, Bongard V, Gourdy P, Ruidavets
JB, Drouet L, Ferrires J. Prevalence of insulin
resistance syndrome in Southwestern France and its
relationship with inflammatory and hemostatic
markers. Diabetes Care 2002;25:1371-1377
11. Ford ES, Giles WH, Dietz WH. Prevalence of the Metabolic
Syndrome among US adults. Findings from the Third

National Health and Nutrition Examination Survey. JAMA 2002;


287: 356-359
12. Herman A, Adam JMF. Sanusi H. Sambo AP. Waist circumference
as a screening approach of metabolic syndrome in men. The
12th Congress of the ASEAN Federation of Endocrine Societies,
Singapore 2003
13. The Asia-Pacific perspective: Redefining obesity and its
treatment. World Health Organization Collaborating
Centre for the Epidemiology of Diabetes Mellitus and Health
Promotion for Noncommunicable Disease. Melbourne 2000
14. Sambo AP, Adriansjah H, Adam JMF, Aman M. Prevalence of
metabolic syndrome, differnce between two criteria.
Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Societies
2003;21(Suppl) p 106.