Anda di halaman 1dari 27

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT

RSUD KOJA
REFERAT

SINUSITIS

Pembimbing :
Dr. Fitriah Shebubakar, Sp.THT-KL
Disusun oleh :
Sylvana Evawani, S.Ked

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

2010

DAFTAR ISI
Judul ................................................................................................ 1
Daftar isi ...........................................................................................2
KataPengantar....................................................................................3
Bab I Anatomi dan Fisiologi Sinus Paranasal...................................4
Bab II Sinusitis.................................................................................13
Bab III Penatalaksanaan...................................................................22
Bab IV Kesimpulan..........................................................................26
Daftar Pustaka...................................................................................27

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan YME atas limpahan rahmat-Nya
referat ini dapat terselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini penyusun juga ingin menyampaikan terima kasih sebesarbesarnya kepada Dr. Fitriah Shebubakar Sp.THT-KL atas bimbingannya
Referat ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Ilmu THT RSUD Koja.
Penyusun berharap dengan tersusunnya referat ini dapat memberikan manfaat dan
menambah pengetahuan khususnya di bidang kedokteraan. Tidak lupa pula penyusun
mengharapkan adanya kritik dan saran agar di masa yang akan datang, penyusun dapat
meningkatkan kualitas tulisan, baik dari segi isi maupun bentuknya.

Jakarta, 11 Juli 2010

Penyusun

BAB I
SINUS PARANASAL

I.1 ANATOMI SINUS PARANASAL


Manusia mempunyai beberapa rongga di sepanjang atap dan bagian lateral rongga
hidung yang disebut sinus paranasal. Sinus paranasal adalah perluasan bagian
respiratotik cavum nasi yang berisi udara, ke dalam os cranii berikut : os frontale, os
ethmoidales, os sphenoidale dan maxilla. Rongga rongga ini diberi nama sinus yang
kemudian diberi nama sesuai dengan letaknya : sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus
sphenoidalis dan sinus ethmoidalis.

Gambar 1 Anatomi Sinus


Diunduh dari http://www.larianmd.com/images/large-allergy-sinus-01.jpg pada tanggal 11 Juli
2010 pukul 23.42

Terdapat empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus
maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Ada 2 golongan
besar sinus paranasalis, yaitu golongan anterior sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis,
sinus ethmoidalis anterior, dan sinus maksilaris. Serta golongan posterior sinus
paranasalis, yaitu sinus etmoidalis posterior dan sinus sfenoidalis. (7,8,9)

Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga


terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus memiliki muara atau ostium ke dalam
rongga hidung.
Sinus-sinus udara paranasalis berkembang sebagai divertikula dinding lateral
hidung dan meluas ke dalam tulang maksila, tulang etmoid frontalis, dan tulang sfenoid.
Sinus-sinus ikut membentuk wajah yang tetap. (3,9)
I.1.1

Sinus Maksilaris (7,8)

Sinus maksilaris (Antrum of Highmore) adalah sinus yang pertaama


berkembang. Struktur ini pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari
sinus ini adalah bifasik dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun.
Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang
permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasinya dapat sangat luas sampai akar
gigi hanya satu lapisan yang tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka.
Sinus maksilaris orang dewasa berbentuk piramida dan mempunyai volume kirakira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak
yang menunjuk ke arah processus zigomatikum. Dinding anterior mempunyai foramen
intraorbital yang berada pada bagian midsuperior dimana nervus intraorbital berjalan di
atas atap sinus dan keluar melalui foramen ini. Bagian tertipis dari dinding anterior
adalah sedikit diatas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbita dan di transeksi oleh
n.infraorbita. dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dari dinding ini adalah
fossa pterygomaxillaris dengan a.maksilaris interna, ganglion sfenopalatina dan saluran
vidian, n.palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus bervariasi
tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga
hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari sinus secara umum sama dengan dasar nasal.
Dasar sinus berlanjut menjadi pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu
berhubungan dengan penyakit gigi di sekitar gigi rahang atas, yaitu premolar dan molar.
Cabang dari a.maksilaris interna mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbita,
cabang a.sfenopalatina, a.palatina mayor, v.aksilaris dan v.jugularis system dural sinus.
Sedangkan persarafan sinus maksila oleh cabang dari n.V.2 yaitu n.palatina mayor dan
cabang dari n.infraorbita.

Ostium sinus maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus.
Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum etmoid, atau
disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tapi
dapat bervariasi. 88% dari ostium sinus maksilaris bersembunyi di belakang processus
uncinatus sehingga tidak bisa dilihat secara endoskopi.
I.1.2

Sinus Etmoidalis (8)

Sinus etmoid adalah struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan.
Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel
tumbuh secara berangsur-angsur sampai usia 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan
sinar x sampai usia 1 tahun. Septa yang ada secara berangsur-angsur menipis dan
pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel etmoid bervariasi dan sering ditemukan di
atas orbita, sfenoid lateral, ke atap maksila dan sebelah anterior diatas sinus frontal.
Peyebaran sel etmoid ke konka disebut konka bullosa.
Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (33 x 27 x 14
mm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan diabgi menjadi sel multipel oleh sekat yang
tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior
posterior agak miring (15o). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan
foveola etmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak
miring ke bawah ke arah lamina kribiformis. Perbedaan berat antara atap medial dan
lateral bervariasi antara 15-17 mm. sel etmoid posterior berbatasan dengan sinus
sfenoid.

Gambar 2 Struktur Terkait Sinus Ethmoidalis


Diunduh dari http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/71/Gray856.png pada tanggal 11 Juli 2010
pukul 18.40

Sinus etmoid mendapat aliran darah dari a.karotis eksterna dan interna dimana
a.sfenopalatina dan a.oftalmika mendarahi sinus dan pembuluh venanya mengikuti
arterinya. Sinus etmoid dipersarafi oleh n V.1 dan V.2, n V.1 mensarafi bagian superior
sedangkan sebelah inferior oleh n V.2. persarafan parasimpatis melalui n.vidianus,
sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion servikal.
Sel di bagian anterior menuju lamela basal. Pengalirannya ke meatus media
melalui infundibulum etmoid. Sel yang posterior bermuara ke meatus superior dan
berbatasan dengan sinus sfenoid. Sel bagian posterior umumnya lebih sedikit dalam
jumlah namun lebih besar dalam ukuran dibandingkan dengan sel bagian anterior.
Bula etmoid terletak diatas infundibulum dan permukaan lateral inferiornya, dan
tepi superior prosesus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel
etmoid anterior yang terbesar. Infundibulum etmoid perkembanganya mendahului sinus.
Dinding anterior dibentuk oleh prosesus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh
prosesus frontalis os maksila dan lamina papyracea.
I.1.3

Sinus Frontalis (7,8)

Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari sebagian besar
sel-sel etmoid anterior. Os frontal masih merupakan membran pada saat kelahiran dan

mulai mengeras sekitar usia 2 tahun. Perkembangan sinus mulai usia 5 tahun dan
berlanjut sampai usia belasan tahun.
Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). anatomi sinus frontalis
sangat bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk seperti corong.
dinding posterior sinus yang memisahkan sinus frontalis dari fosa kranium anterior
lebih tipis dan dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata.
Sinus frontalis mendapatkan perdarahan dari a.oftalmika melalui a.supraorbita
dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui v.oftalmica superior menuju sinus
kavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding posterior yang mengalir ke
sinus dural. Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang n V.1. secara khusus, nervus-nervus
ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear.
1.1.4

Sinus Sfenoidalis (8)

Sinus sfenoidalis sangat unik karena tidak terbentuk dari kantong rongga hidung.
Sinus ini dibentuk dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang
sampai usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. Sinus
mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun.

Gambar 4 Struktur terkait Sinus Sfenoid


Diunduh dari http://www.nyee.edu/images/ent_rss_sts_008.jpg pada tanggal 11 Juli 2010 pukul
18.42

Usia belasan tahun, sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5 ml
(23 x 20 x 17 mm). pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi.

Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga
hidung. Dinding sinus sphenoid bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan
dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm). dinding yang lain lebih tebal. Letak dari sinus oleh
karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Ostium sinus
sfenoidalis bermuara ke recessus sfenoetmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5 -4 mm)
dan letaknya 10 mm di atas dasar sinus.
Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh a.ethmoid posterior, sedangkan bagian lainnya
mendapat aliran darah dari a.sfenopalatina. Aliran vena melalui v.maksilaris ke
v.jugularis dan pleksus pterigoid. sinus sfenoid dipersarafi oleh cabang n V.1 dan V.2.
n.nasociliaris berjalan menuju n.etmoid posterior dan mempersarafi atap sinus. Cabangcabang n.sfenopalatina mempersarafi dasar sinus
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muaramuara saluran dari sinus maxillaris, sinus frontalis dan sinus ethmoidalis anterior.
Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari
infundibulum ethmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis,
bula ethmoid dan sel-sel ethmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus
maxillaris. 2
I.2 MUKOSA SINUS PARANASAL (4,8)
Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang berkesinambungan
dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4
tipe sel dasar, yaitu epitel torak bersilia, epitel torak tidak bersilia, sel basal dan sel
goblet. Sel-sel bersilia memiliki 50-200 silia per sel. Data penelitian menunjukan sel ini
berdetak 700-800 kali per menit, dan pergerakan mukosa pada suatu tingkat 9 mm per
menit Epitel organ pernapasan yang biasanya berupa epitel toraks bersilia berbeda-beda
pada berbagai bagian hidung, tergantung pada tekanan dan kecepatan aliran udara,
demikian pula suhu dan derajat kelembaban udara. Sepanjang jalur utama arus inspirasi
epitel menjadi toraks; silia pendek dan agak ireguler. Sel-sel meatus media dan inferior
yang terutama menangani arus ekspirasi memiliki silia yang panjang dan tersusun rapi.
Sinus mengandung epitel kubus dan silia yang sama dan panjang jarak antaranya. 3

Kekuatan aliran udara yang melewati berbagai lokasi juga mempengaruhi


ketebalan lamina propia dan jumlah kelenjar mukosa. Lamina propria tipis pada daerah
dimana aliran udara lambat atau lemah, namun tebal di daerah aliran udara yang kuat.
Jumlah kelenjar penghasil sekret dan sel goblet, sebanding dengan ketebalan lamina
propria. Lapisan mukus yang sangat kental dan lengket menangkap debu, benda asing
dan bakteri yang terhirup, dan melalui kerja silia benda-benda ini diangkut ke faring
selanjutnya ditelan dan dihancurkan dalam lambung. Lisozim dan imunoglobulin A
(IgA) ditemukan pula dalam lapisan mukus dan melindungi lebih lanjut dari patogen.
I. 3 FISIOLOGI SINUS PARANASAL
Sinus diyakini dapat membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat
tulang muka, namun bila udara dalam sinus digantikan dengan tulang, hanya akan
memberikan pertambahan berat sebanyak 1% dari berat kepala, sehingga dianggap tidak
bermakna. Sinus juga dianggap berfungsi sebagai peredam perubahan tekanan udara
apabila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak seperti pada saat bersin atau
membuang ingus.
Sinus tidak mempunyai fungsi fisiologis yang nyata. Beberapa peneliti
mendukung opini bahwa sinus juga berfungsi sebagai indra penghidu dengan jalan
memudahkan perluasan dari etmokonka, terutama sinus frontalis dan sinus etmoidalis.
Namun menurut penelitian lainnya, etmokonka manusia telah menghilang selama proses
evolusi. Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Namun ada teori yang menyatakan bahwa posisi sinus
dan dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.
(2)

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan fungsi dari sinus paranasal.
Teori ini meliputi fungsi dari kelembaban udara inspirasi, membantu pengaturan
tekanan intranasal dan tekanan serum gas, mendukung pertahanan imunitas,
meningkatkan area permukaan mukosa, meringankan volume tengkorak, membantu
resonansi suara, menyerap goncangan dan mendukung pertumbuhan muka. (8)
I.3.1

Mengatur Kelembaban Udara Inspirasi (7,8)

10

Menurut beberapa teori walaupun mukosa hidung telah beradaptasi untuk


melakukan fungsi ini, sinus tetap berperan pada area permukaan mukosa dan
kemampuannya untuk menghangatkan. Beberapa peneliti memperlihatkan bahwa
bernafas dengan mulut dapat menurunkan volume akhir CO2 yang dapat meningkatkan
kadar CO2 serum dan berperan pada sleep apnea.
Meskipun sinus dianggap dapat berfungsi sebagai ruang tambahan untuk
memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi, namun teori ini memiliki
kelemahan karena tidak didapati pertukaran udara yang definitif antara sinus dan rongga
hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume
sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara
total dalam sinus. Selain itu mukosa sinus juga tidak memiliki vaskularisasi dan kelenjar
yang sebanyak mukosa hidung.
I.3.2

Penyaringan Udara

Oleh karena produksi mukosa sinus, mereka berperan pada pertahanan imun
atau penyaringan udara yang dilakukan oleh hidung. Hidung dan mukosa sinus terdiri
dari sel silia yang berfungsi untuk menggerakan mukosa ke koana. Penelitian yang
paling terbaru pada fungsi sinus berfokus pada molekul Nitrous Oxide (NO). studi
menunjukkan bahwa produksi NO intranasal adalah secara primer pada sinus. Telah kita
ketahui bahwa NO bersifat racun terhadap bakteri, jamur dan virus pada tingkatan sama
rendah 100 ppb. Konsentrasi ini dapat menjangkau 30.000 ppb dimana beberapa peneliti
sudah berteori tentang sterilisasi sinus. NO juga meningkatkan pergerakan silia.(8)
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang
turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius,
merupakan tempat yang paling strategis.
I.3.3

Fungsi Sinus Lainnya (7)

Sinus diyakini dapat membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat


tulang muka, namun bila udara dalam sinus digantikan dengan tulang, hanya akan
memberikan pertambahan berat sebanyak 1% dari berat kepala, sehingga dianggap tidak
bermakna. Sinus juga dianggap berfungsi sebagai peredam perubahan tekanan udara

11

apabila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak seperti pada saat bersin atau
membuang ingus.
Sinus tidak mempunyai fungsi fisiologis yang nyata. Beberapa peneliti
mendukung opini bahwa sinus juga berfungsi sebgai indra penghidu dengan jalan
memudahkan perluasan dari etmokonka, terutama sinus frontalis dan sinus etmoidalis.
Namun menurut penelitian lainnya, etmokonka manusia telah menghilang selama proses
evolusi. Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Namun ada teori yang menyatakan bahwa posisi sinus
dan dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.

12

BAB II
SINUSITIS
II.1 DEFINISI
Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis.

2, 3

Sinusitis diberi

nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut
multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansinusitis.
II. 2. ETIOLOGI
Sinusitis dapat disebabkan oleh : 3
1.

Bakteri

Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, Streptococcus group A,


Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram -, Pseudomonas.
2.

Virus

Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus


3.

Bakteri anaerob

fusobakteria
4.

Jamur

II. 3 PATOFISIOLOGI
Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya udem pada dinding hidung dan sinus
sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan pada ostium sinus, dan berpengaruh
pada mekanisme drainase di dalam sinus. Virus tersebut juga memproduksi enzim dan
neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada
lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang
diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk
berkembangnya bakteri patogen.
Adanya

bakteri dan lapisan mukosilia yang

abnormal

meningkatkan

kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus.


Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam
sinus dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk berkembangnya bakteri

13

anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan
aktiviitas leukosit.
Pada dasarnya, faktor-faktor lokal yang memunkinkan penyembuhan mukosa
sinus yang terinfeksi adalah drainase dan ventilasi yang baik. Jika faktor anatomi atau
faal menyebabkan kegagalan drainase dan ventilasi sinus serta patensi ostium-ostium
sinus dan lancarnya klirens mukosilier di dalam kompleks osteomeatal (KOM). Organorgan yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan
transudasi. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-bakterial dan biasanya
sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan, bila kondisi ini menetap, sekret yang
terkumpul dalam sinus merupaka media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri.
Keadaan ini disebut rinosinusitis akut bakterial.
Sinusitis kronis adalah sinusitis yang berlangsung selama beberapa bulan atau
tahun. Terjadi perubahan patologik membran mukosa berupa infiltrat polimorfonuklear,
kongesti vaskuler dan deskuamasi epitel permukaan yang semuanya reversibel.
Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak
adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri
patogen. Kegagalan pengobatan sinusitis akut atau berulang secara adekuat akan
menyebabkan regenerasi epitel permukaan bersilia yang tidak lengkap, akibatnya terjadi
kegagalan mengeluarkan sekret sinus dan menciptakan predisposisi bakteri. 3,4
Sumbatan drainase dapat pula ditimbulkan oleh perubahan struktur ostium sinus
atau oleh lesi dalam rongga hidung seperti hipertrofi adenoid, tumor hidung dan
nasofaring dan suatu septum deviasi.

14

II. 4 FAKTOR PREDISPOSISI


Telah diketahui bahwa berbagai faktor fisik, kimia, saraf hormonal dan emosional
dapat mempengaruhi mukosa hidung dan sinus. Secara umum sinusitis kronis lebih
lazim pada iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, daya tahan tubuh dan penyakit
sistemik umum dapat pula dipertimbangkan.
Faktor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaban dan kekeringan,
polutan seperti asap rokok dapat menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.
Paparan terhadap infeksi seperti common cold yang berulang juga dapat menjadi
predisposisi. 2,3
Faktor lokal yakni adanya obstruksi mekanis seperti deviasi septum, corpus
alienum, polip, tumor dan hipertrofi konka yang akan menyebabkan gangguan terhadap
drainase sinus.

Faktor infeksi seperti rhinitis kronis dan rhinitis alergi yang

menyebabkan obstruksi ostium sinus serta menghasilkan banyak lendir yang merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan kuman, selain itu predisposisi lain yang paling
sering berkaitan dengan rhinitis alergi adalah polip nasal yang merupakan komplikasi
pada rhinitis alergi dan dapat menyebabkan obstruksti total ostium sinus. Pada anak,
hipertrofi adenoid merupakan fakor penting penyebab sinusitis, adanya infeksi pada gigi
terutama pada gigi-gigi yang akarnya berkaitan dengan dasar sinus maxillaris dapat
merupakan predisposisi yang penting pada sinusitis kronis.
II.5 GEJALA SINUSITIS
Keluhan utama rinosinusitis aku adalah hidung tersumbat disertai nyeri dan nyeri
tekan pada muka. Terdapat gejala keluar ingus purulen yang sering turun ke
tenggorokan (post nasal drip) dan dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan
lesu.
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut. Letak nyeri dapat membantu membedakan lokasi sinus yang terkena.
Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia atau anosmia, halitosis, post nasal drip yang
dapat menyebabkan batuk dan sesak pada anak.
Gejala sinusitis kronik umumnya tidak jelas, pada saat eksaserbasi akut gejalagejala mirip dengan sinusitis akut, di luar masa itu gejala berupa perasaan penuh pada

15

wajah dan hidung, hipersekresi yang seringkali mukopurulen. Kadang-kadang terdapat


nyeri kepala, hidung tersumbat dan adanya gejala-gejala faktor predisposisi seperti
rhinitis alergi yang menetap. Didapati juga rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok,
pendengaran dapat terganggu karena oklusi tuba eustachii. Infeksi pada mata yang
menjalar dari duktus nasolakrimalis dan gastroenteritis ringan pada anak akibat
mukopus yang tertelan. 4
II.5.1 Sinusitis maksillaris 4
Sinusitis maksillaris akut biasanya menyusul suatu infeksi saluran napas atas yang
ringan, alergi hidung kronik, benda asing dan deviasi septum nasi merupakan faktorfaktor predisposis lokal yang paling sering ditemukan.
Gejala sinusitis maksilaris akut ditandai dengan demam, malaise, nyeri kepala
yang tak jelas, sakit dirasa mulai dari pipi (di bawah kelopak mata) dan menjalar ke dahi
atau gigi, umumnya sakit dirasa bertambah saat menunduk.
Seringkali wajah terasa bengkak dan penuh, nyeri pipi yang khas : tumpul dan
menusuk, serta sakit pada palpasi dan perkusi. Kadang ada batuk iritatif non-produktif
serta pengeluaran sekret yang mukopurulen yang dapat keluar dari hidung dan kadang
berbau busuk dan adanya pus atau sekret mukopurulen di dalam hidung, yang berasal
dari metus media, dan nasofaring.
Sinusitis

maksillaris

dapat berkaitan dengan gangguan gigi, penyebab

terseringnya adalah ekstraksi gigi molar pertama atau infeksi gigi lainnya seperti abses
apikal atau penyakit periodontal. Mengingat dasar sinus maksila adalah prosesus
alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga rogga sinus maksila hanya terpisahkan
oleh tulang tipis dengan akar gigi. Infeksi gigi rahang atas mudah menyebar secara
langsung ke sinus atau melalui pembuluh limfe. Perlu dicurigai adanya sinusitis
dentogen pada sinusitis maksilaris kronis yang mengenai satu sisi dengan ingus puruen
dan nafas berbau busuk.
Pada pemeriksaan fisik akan tampak adanya pus dalam hidung, biasanya dari
meatus media, atau pus atau sekret mukopurulen dalam nasofaring. Transiluminasi
berkurang bila sinus penuh cairan, gambaran radiologi sinusitis maksilaris akut mulamula berupa penebalan mukosa selanjutnya diikuti opasifikasi sinus lengkap akibat

16

mukosa yang yang membengkak atau akibat akumulasi cairan yang memenuhi sinus,
akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas.

Gambar 5 radiogram sinus maksilaris (posisi Waters)


Diunduh dari http://www.nyee.edu/images/ent_rss_sts_008.jpg pada tanggal 11 Juli 2010 pukul
18.42

II.5.2 Sinusitis ethmoidalis


Sinusitis ethmoidalis akut terisolasi lebih sering pada anak, sedangkan pada
dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksillaris dan sinusitis frontalis,
ditandai dengan nyeri dan nyeri tekan di antara kedua mata dan di atas jembatan hidung
menjalar ke arah temporal. Nyeri sering dirasakan di belakang bola mata dan bertambah
apabila mata digerakkan, dapat juga didapati sumbatan pada hidung, mukosa hidung
hiperemis dan udem dan adanya pus dalam rongga hidung yang berasal dari meatus
media. 5
II.5.3 Sinusitis frontalis
Sinusitis frontalis hampir selalu bersamaan dengan sinusitis ethmoidalis anterior
yang didasari oleh perkembangan sinus frontalis. Nyeri kepala yang khas di atas alis
mata, timbul biasanya pada pagi hari, memburuk pada tengah hari dan berangsur angsur
hilang pada malam hari. Nyeri dirasakan saat dahi disentuh dan terdapat pembengkakan
derah supraorbita. Tanda patognomonik adalah nyeri hebat pada palpasi atau perkusi
daerah sinus yang terinfeksi.

17

Transiluminasi dapat terganggu, dan radiogram sinus memastikan adanya


penebalan periosteum atau kekeruhan sinus menyeluruh, atau suatu air-fluid level.
II.5.4 Sinusitis sphenoidalis
Sinusitis sphenoidalis akut terisolasi amat jarang. Gejalanya ditandai dengan nyeri
kepala dan retro orbita yang menjalar ke verteks atau oksipital. Seringnya ini menjadi
bagian dari pansinusitis dan gejalanya menjadi satu dengan gejala sinus lainnya.
II. 6 DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior serta pemeriksaan
naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas
ialah adanya pus di meatus medius pada sinusitis maksilaris dan ethmoidalis anterior
dan frontal, atau di meatus superior pada sinusitis ethmoidalis. Pada rinosinusitis akut
tampak mukosa edema dan hiperemis.
Pemeriksaan penunjang yang paling membantu adalah pemeriksaan foto polos
atau CT scan. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena
mampu menilai anatomi hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasaannya.
Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis sinusitis antara
lain :
II. 6.1 Transiluminasi
Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya
Transiluminasi akan menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus
penuh dengan cairan), pada pemeriksaan ini sinus yang sakit akan tampak suram dan
gelap.
II. 6.2 Rontgen sinus paranasalis
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa
1.

Penebalan mukosa,

2.

Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)

3.

Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat

dilihat pada foto Waters.

18

II. 6.3 CT Scan


CT Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling
baik akan adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk
mendiagnosis sinusitis kronis maupun akut.
II. 6.4 Sinoscopy
Sinoscopy merupakan satu-satunya cara yang memberikan informasi akurat
tentang perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak dan
keadaan dari ostium sinus. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan pungsi menembus
dinding medial sinus maksilaris mealui meatus inferior, dengan alat endoskop dapat
dilihat kondisi sinus yang sebenarnya, sekaligus dapat dilakukan irigasi sinus untuk
terapi.
II. 6.5 Pemeriksaan mikrobiologi
Biakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan nasofaring biasanya lebih
akurat dibandingkan dengan biakan yang berasal dari hidung bagian anterior. Namun
demikian, pengambilan biakan hidung posterior juga lebih sulit.
Dalam interpretasi biakan hidung harus hati-hati interpretasinya, biakan dari sinus
maksilaris dapat dianggap benar, namun pus tersebut berlokulasi dalam suatu rongga
tulang, sebaliknya, suatu biakan dari hidung depan, akan menunjukkan organisme
dalam vestibulum nasi termasuk flora normal seperti staphylococcus dan beberapa
coccus gram negatif positif yang tidak ada kaitannya dengan bakteri yang menimbulkan
sinusitis.
Biakan dari bagian posterior hidung atau nasofaring akan jauh lebih akurat.
Biakan bakteri spesifik pada sinusitis dilakukan dengan irigasi maksilaris.
II. 7 KOMPLIKASI
Komplikasi sinusitis telah menurun nyata sejak diberikannya antibiotik,
komplikasi berat basanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan
eksaserasi akut berupa komplikasi orbita atau intrakranial.
1. Komplikasi orbita

19

Terutama disebabkan oleh sinusitis ethmoidalis karena letaknya yang berdekatan


dengan mata. Infeksi yang selanjutnya menyebabkan pembengkakan dan terkulai dari
kelopak mata adalah komplikasi yang jarang tetapi serius sinusitis ethmoid. Dalam
kasus ini, pasien kehilangan gerakan mata, dan tekanan pada saraf optik dapat
menyebabkan kehilangan penglihatan, yang kadang-kadang permanen. Penyebaran
infeksi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum, kelainan yang dapat ditimbulkan
antara lain : 4,5
a. Edema palpebra
Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis.
b. Selulilitis orbita
Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif mengivasi isi orbita namun pus
belum terbentuk.
c. Abses subperiosteal
Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tulang oebita menyebabkan
proptosis dan kemosis.
d. Abses orbita
Pus telah menembus periosteum dan becampur dengan isi orbita.
e. Trombosis sinus cavernosus
Merupakan akibat penyebaran bakteri melalui sistem balik vena ke dalam sinus
kavernosus.

Secara

patognomonik,

trombosis

sinus

kavernosus

terdiri

dari

oftalmoplegia, kemosis konjungtiva, ganggauan penglliatan yang berat dan tanda-tanda


meningitis oleh karena letaknya yang berdekatan dengan nervus I, III, IV dan VI.

2. Kelainan intrakranial
Seain trombosis sinus kavernosus, salah satu komplikasi sinusitis yang berat
adalah meningitis akut. Infesi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang vena
atau langsung dari sinus yang berdekatan. Selain itu dapat terjadi abses extradural,
subdural dan intracerebral dimana akan terdapat kumpulan pus pada masing-masing
ruang, proses ini seringkali mengikuti proses sinusitis frontalis.
3. Osteomieitis dan abses subperiosteal

20

Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada os frontalis adalah


infeksi sinus frontalis. Nyeri dan nyeri tekan dahi setempat sangat berat, terdapat
pembengkakan di atas alis mata dan bertambah berat bila terbentuk abses. Radiogram
menunjukkan erosi batas ulang dan hilangnya septu intrasinus dalam sinus yang keruh.

21

BAB III
PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan 2) mencegah
komplikasi dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah
membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara
alami. Terapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa dimana antibiotika
dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial.
IV. 1 Medikamentosa
IV. 1.1 Antibiotika
Antibiotika yang sering diberikan adalah golongan penicillin seperti amoxicillin.
Dapat juga diberikan amoxicillin-klavulanat bila diduga sudah resisten terhadap beta
laktamase. Pada sinusitis maksilaris akut umumnya dapat diterapi dengan antibiotik
spektrum luas. Dapat juga diberikan erythromicin plus sulfonamid dengan alternatif
berupa amoksisilin-klavulanat,

sefuroksim

dan trimetoprim

plus

sullfonamid.

Pemberian antibiotik dilakukan selalu 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.
Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang seusai untuk kuman gram negatif dan
anaerob. 2,4
IV. 1.2 Analgetik
Rasa sakit yang disebabkan oleh sinusitis dapat hilang dengan pemberian
analgetik non steroid seperti asam mefenamat dan aspirin.
IV. 1.3 Dekongestan
Pemberian dekongestan seperti pseudoefedrin, dan tetes hidung poten seperti
fenilefrin dan oksimetazolin berguna untuk mengurangi udem sehingga dapat terjadi
drainase sinus.
IV. 1.4 Kortikosteroid

22

Kortikosteroid merupakan obat yang paling efektif untuk mengurangi udem pada
mukosa yang berkaitan dengan infeksi.
IV. 2 Nonmedikamentosa
IV.2.1 Irigasi antrum
Indikasinya adalah apabila ketiga terapi medikamentosa gagal, dan ostium sinus
sedemikian udematosa sehingga terbentuk abses sejati. Kegagalan penyembuhan
dengan suatu terapi aktif mungkin menunjukkan organisme resisten terhadap antibiotik,
atau antibiotik gagal mencapai lokasi infeksi, yang merupakan indikasi irigasi antrum
segera. Irigasi antrum maksilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat
melalui bawah konka inferior, setelah sebelumnya dilakukan koakinisasi membran
mukosa, atau melalui jalur alternatif melalui fossa incisivus ke dalam antrum
maksillaris. Caian ini kemudian akan mendorong pus untuk keluar melalui ostium
normal.
IV.2.1 Nasal toilet
Pembersihan hidung dan sinus dari sekret yang kental dapat dilakukan dengan
saline sprays atau irigasi. Cara yang efektif dan murah adalah dengan menggunakan
canula dan Higgisons syringe
IV.2.1 Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila pengobatan dengan medikamentosa sudah gagal.
Indikasi dilakukan pembedahan adalah : 1) sinusitis kronik yang tidak membaik setelah
terapi adekuat 2) sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel 3) polip
ekstensif 4) adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.
Pembedahan radikal dilakukan dengan mengangkat mukosa yang patologik dan
membuat drainase dari sinus yang terkena. Tindakan bedah sederhana pada sinusitis
maksilaris kronik adalah membuat suatu lubang drainase yang memadai, prosedur yang
paling lazim adalah nasoatrostomi atau pementukan fenestra nasoantral. Suatu prosedur
yang lebih radikal adalah dilakukan operasi Caldwell Luc dimana epitel rongga sinus

23

maksillaris diangkat seluruhnya dan pada akhir prosedur dilakukan antrostomi untuk
dilakukan dainase.
Pada sinusitis ethmoid dilakukan etmoidektomi yaitu dengan cara mengangkat
pemisah sel-sel udara ethmodalis anterior sehingga terbentuk satu sel yang besar yang
bermuara pada meatus media.
Pembedahan tidak radikal yang akhir akhir ini sedang dikembangkan adalah
menggunakan endoskopi yang disebut Bedah Sinus Endoskopi Fungsional. Prisnsipnya
adalah membuka daerah osteomeatal kompleks yang menjadi sumber penyumbatan dan
infeksi sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali melaui ostium alami.
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) atau Functional Endoscopic Sinus
Surgery (FESS) adalah teknik operasi pada sinus paranasal dengan menggunakan
endoskop yang bertujuan memulihkan mucociliary clearance dalam sinus. Prinsipnya
ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks osteomeatal yang menjadi sumber
penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali
melalui ostium alami. (2,11)
Dibandingkan dengan prosedur operasi sinus sebelumnya yang bersifat invasif
radikal seperti operasi Caldwel-Luc, fronto-etmoidektomi eksternal dan lainnya, maka
BSEF merupakan teknik operasi invasif yang minimal yang diperkenalkan pertama kali
pada tahun 1960 oleh Messerklinger dan kemudian dipopulerkan di Eropa oleh
Stammberger dan di Amerika oleh Kennedy. Sejak tahun 1990 sudah mulai
diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia.
Indikasi umumnya adalah untuk rinosinusitis kronik atau rinosinusitis akut
berulang dan polip hidung yang telah diberi terapi medikamentosa yang optimal.
Indikasi lain BSEF termasuk didalamnya adalah rinosinusitis dengan komplikasi dan
perluasannya, mukokel, sinusitis alergi yang berkomplikasi atau sinusitis jamur yang
invasif dan neoplasia.(12,13)
Dengan alat endoskop maka mukosa yang sakit dan polip-polip yang menyumbat
diangkat sedangkan mukosa sehat tetap dipertahankan agar transportasi mukosilier tetap
berfungsi dengan baik sehingga terjadi peningkatan drenase dan ventilasi melalui
ostium-ostium sinus. Teknik bedah BSEF sampai saat ini dianggap sebagai terapi terkini

24

untuk sinusitis kronis dan bervariasi dari yang ringan yaitu hanya membuka drenase dan
ventilasi kearah sinus maksilaris sampai kepada pembedahan lebih luas membuka
seluruh sinus (fronto-sfeno-etmoidektomi). Teknik bedah endoskopi ini kemudian
berkembang pesat dan telah digunakan dalam terapi bermacam-macam kondisi hidung,
sinus dan daerah sekitarnya. (12)
Keuntungan dari teknik BSEF, dengan penggunaan beberapa alat endoskop
bersudut dan sumber cahaya yang terang, maka kelainan dalam rongga hidung, sinus
dan daerah sekitarnya dapat tampak jelas. Dengan demikian diagnosis lebih dini dan
akurat serta operasi lebih bersih dan teliti, sehingga memberikan hasil yang optimal.
Pasien juga diuntungkan karena morbiditas pasca operasi yang minimal. Penggunaan
endoskopi juga menghasilkan lapang pandang operasi yang lebih jelas dan luas yang
akan menurunkan komplikasi bedah.(13)

25

BAB IV
KESIMPULAN
Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis diberi nama
sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis.
Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansinusitis.
Keluhan utama rinosinusitis aku adalah hidung tersumbat disertai nyeri dan nyeri
tekan pada muka. Terdapat gejala keluar ingus purulen yang sering turun ke
tenggorokan (post nasal drip), dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan
lesu.
Pemeriksaan penunjang yang paling membantu adalah pemeriksaan foto polos
atau CT scan. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena
mampu menilai anatomi hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasaannya.
Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan 2) mencegah
komplikasi dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah
membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara
alami. Terapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa dimana antibiotika
dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial. Indikasi
dilakukan pembedahan adalah : 1) sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi
adekuat 2) sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel 3) polip ekstensif
4) adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Nasal Cavities. Dalam: Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Grays Anatomy for
Students. Philadelphia: Elsevier Inc, 2005. hal. 965 81.
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Hidung. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
editor. Buku Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi Kelima.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006. hal. 88
95
3. Kepala dan Leher. Dalam: Sadler TW. Embriologi Kedokteran Langman. Edisi
Ketujuh. Jakarta: EGC, 2000. hal. 339-40
4. Higler PA. Hidung: Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam: Adams GL, Boeis
LR, Higler PA. BOEIS: Buku Ajar Penyakit THT. Edisi Keenam. Jakarta: EGC,
1997. hal. 173 88
5. Rambe AYM. Rinistis Vasomotor. Diunduh tanggal 11 Juli 2010 pukul 18.00.
Tersedia di http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina.pdf
6. Balasubramanian. Epistaxis. Diunduh tanggal 11 Juli 2010 pukul 18.30. Tersedia
di http://www.drtbalu.com/epistaxis.html
7. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus Paranasal. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2006. hal. 115 9.
8. Anggraini DR. Anatomi dan Fungsi Sinus Paranasal. Diunduh tanggal 11 Juli
2010 pukul 17.00. Tersedia di http://library.usu.ac.id/download/fk/06001191.pdf
9. Tadjudin OA. Batuk Kronik pada Anak Ditinjau dari Bidang THT. Diunduh
tanggal

11

Juli

2010

pukul

16.00.

Tersedia

di

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/44_BatukKronikpdAnakditinjaudariBidTH
T81.pdf/44_BatukKronikpdAnakditinjaudariBidTHT81.html

27