Anda di halaman 1dari 19

PERATURAN INTERNAL (HOSPITAL BYLAWS)

RUMAH SAKIT UMUM


PERMATA MADINA PANYABUNGAN
BAGIAN PERTAMA : UMUM
BAB I
MUKADIMAH
RSU. Permata Madina adalah rumah sakit swasta

yang terletak di Jalan

Merdeka No. 155 Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Propinsi Sumatera Utara.
RSU. Permata Madina Panyabungan didirikan pada tanggal 01 Oktober 2004 di bawah
naungan Yayasan Permata Madina.
Falsafah dan ideologi RSU. Permata Madina Panyabungan adalah Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 beserta Amandemennya.
Tujuan didirikannya RSU. Permata Madina Panyabungan adalah untuk
mengembangkan suatu rumah sakit modern, bermutu dan profesional

yang dapat

melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras dan
golongan. Selain itu RSU. Permata Madina Panyabungan juga bertujuan untuk
membantu program pemerintah untuk memperluas dan meningkatkan kesehatan
masyarakat.
Nilai-nilai yang mendasari pendirian RSU. Permata Madina Panyabungan
adalah : kebersamaa, keadilan, kejujuran, integritas, tanggung jawab, rajin, melayani
dan fokus pada mutu.
Walaupun RSU. Permata Madina Panyabungan merupakan rumah sakit swasta
yang profit-oriented, namun fungsi-fungsi sosial tetap menjadi perhatian bagi pemilik
dan pengelola rumah sakit.
Pada mula pendiriannya, hanya sebagai klinik bersalin yang juga melayani
pasien-pasien umum dan peserta Jamsostek. Setelah berubah status menjadi rumah
sakit dengan nama RSU. Permata Madina Panyabungan, fasilitas terdiri dari satu
gedung berlantai dua dengan jumlah tempat tidur sebanyak 50 buah dengan jumlah
tenaga kerja sebanyak 50 orang. Di masa mendatang sesuai visi dan misi rumah sakit
diharapkan RSU. Permata Madina Panyabungan mampu menjadi salah satu rumah
sakit terbaik di pulau Sumatera dengan memberikan pelayanan yang bermutu, modern
dan profesional.

BAB II
KETENTUAN UMUM
Pasal 1. Pengertian-Pengertian Dasar.
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :
1. RSU. Permata Madina Panyabungan adalah rumah sakit umum milik Yayasan
Permata Madina yang beralamat di Jalan Merdeka No. 155 Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Propinsi Sumatera Utara.
2. Komisaris dan Dewan Komisaris adalah orang atau orang-orang yang mewakili
pemegang saham Yayasan Permata Madina yang diangkat dalam Rapat Umum
Pemegang Saham untuk jabatan selama 5 (lima) tahun.
3. Direksi adalah pemimpin atau pengelola manajemen rumah sakit yang dapat
terdiri dari satu orang atau lebih, bila lebih dari satu orang maka diangkat salah
satunya menjadi Direktur Utama.
4. Komite Medik adalah kelompok tenaga medik yang keanggotaannya dipilih dari
anggota Staf Medik Fungsional. Apabila Staf Medik Fungsional belum terbentuk,
maka Komite Medik diangkat oleh Direktur Utama.
5. Staf Medik Fungsional adalah kelompok dokter yang bekerja di rumah sakit
dalam jabatan fungsional.
6. Komite Etika Rumah Sakit adalah suatu badan otonom, non struktural yang
dibentuk oleh Direktur Utama untuk membantu dan memberikan nasehat kepada
Komisaris atau Dewan Komisaris berkaitan tentang masalah etika rumah sakit.
7. Corporate governance adalah mengatur aspek institusional dan aspek bisnis
dalam penyelenggaraan Rumah Sakit, bertujuan menunjang terlaksananya good
clinical governance.
8. Clinical governance adalah mengatur aspek pemberian pelayanan dan asuhan
klinis langsung kepada penderita.

BAB III. JATI DIRI


Pasal 2. Identitas Rumah Sakit.
1. Nama rumah sakit adalah RSU. Permata Madina.
2. Jenis rumah sakit adalah rumah sakit umum swasta tipe madya.
3. Lokasi di Jalan Merdeka No. 155 Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Provinsi Sumatera Utara.
4. Tanggal didirikan 01 Oktober 2004.
5. Pemilik adalah Yayasan Permata Madina
6. Akte pendirian oleh notaris : Nyonya Sondang Matiur Hutagalung No. 14 Tanggal
25 Maret 2004 di Panyabungan.
7. Bentuk badan hukum : Yayasan
8. Izin dari yang berwenang : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
YM. 02.04.2.2.858 tertanggal 21 Februari 2002, berlaku dari tanggal 21 Juni 2001
sampai tanggal 21 Juni 2006.
9. Logo Rumah Sakit Permata Madina Panyabungan adalah :

BAB IV. FUNGSI DAN TUJUAN PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT


Pasal 3. Fungsi Peraturan Internal Rumah Sakit.
1. Sebagai acuan bagi pemilik rumah sakit dalam melakukan pengawasan rumah
sakitnya
2. Sebagai acuan bagi direksi rumah sakit dalam mengelola rumah sakit dan
menyusun kebijakan yang bermanfaat teknis operasional
3. Sarana untuk menjamin efektivitas, efisiensi dan mutu rumah sakit
4. Sarana perlindungan hukum bagi semua pihak yang berkaitan dengan rumah
sakit
5. Sebagai acuan bagi penyelesaian konflik di rumah sakit, khususnya konflik
antara pemilik, direksi rumah sakit dan staf medis
6. Untuk memenuhi peRumah Sakit Umumyaratan akreditasi.

Pasal 4. Tujuan Peraturan Internal Rumah Sakit.


1. Umum : dimilikinya suatu tatanan peraturan dasar yang mengatur pemilik
rumah sakit (Dewan Komisaris PT Karya Utama Sehat Sejahtera), direksi
rumah sakit dan staf medis sehingga penyelenggaraan rumah sakit dapat
efektif, efisien dan bermutu.
2. Khusus :
a. Dimilikinya

pedoman

aspek

hukum

oleh

rumah

sakit

dalam

hubungannya dengan pemilik rumah sakit (PT Karya Utama Sehat


Sejahtera), direksi rumah sakit dan staf medis
b. Dimilikinya pedoman aspek hukum dalam pembuatan kebijakan teknis
operasional rumah sakit
c. Dimilikinya pedoman aspek hukum dalam pengaturan staf medis.
d. Sebagai

perangkat

hukum

internal

untuk

mencegah

dan

menyelesaikan konflik antar profesional/staf medis yang bekerja di


rumah sakit.
e. Memberi kepastian dan perlindungan hukum bagi pasien bahwa
haknya dihormati dan ia akan mendapat layanan yang profesional dan
bermutu tinggi.

BAB V. LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN PERATURAN INTERNAL Rumah Sakit


Umum
Pasal 5. Landasan Hukum.
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1995 tentang PeRumah Sakit
Umumeroan Terbatas.
3. Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial No. 191/MenkesKesos/SK/II/2001 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Kesehatan
No. 159 b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 32 tahun 1996 Lembaran Negara
RI No. 49 /1995 Kesehatan tentang Tenaga Kesehatan.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 983/MENKES/SK/XI/1992
tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 84/MENKES/PER/II/1990
tentang perubahan atas peraturan No. 920/MENKES/PER/XII/1986 tentang
Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di bidang Medik.
7. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No.YM.02.04.3.5.02270
tentang Pedoman Tugas Pokok,Peran dan Fungsi antara Pemilik, Dewan
Penyantun (Badan Pembina) dan Pengelola pada Rumah Sakit Swasta.
8. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No.HK.00.06.3.5.5797 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Upaya Kesehatan Swasta di bidang Medik Spesialistik.
9. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. 0308/YANMED/Rumah Sakit
UmumKS/PA/SK/IV/92 tentang Pedoman Teknis Upaya Kesehatan Swasta di
bidang Rumah Sakit dalam Rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan
Penanaman Modal Asing.
10. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. HK.00.06.3.5.3018 tentang
Pedoman Pengorganisasian Staf Medik Fungsional dan Komite Medik di Rumah
Sakit Swasta.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 772/MENKES/SK/VI/2002
tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws).
12. Keputusan Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia No.
29/SK/PP.PERumah Sakit UmumI/II/2003 tentang Kerangka Statuta Rumah Sakit
(Hospital Bylaws).
13. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Rumah Sakit Martha Friska.

BAB VI. ASAS DAN TUJUAN Rumah Sakit Umum MARTHA FRISKA
Pasal 6. Asas-asas.
1. Pasien adalah anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan/
pelayanan medis yang harus diberikan secara benar dengan tidak membedabedakan golongan, agama, suku dan kemampuan sesuai dengan azas keadilan.
2. Memegang teguh dan menjunjung nilai-nilai etika profesi dan norma-norma
religius.
3. Seluruh keputusan dan tindakan akan diambil sesuai dengan peraturan dan
ketentuan

yang

ada

melalui

musyawarah

serta

harus

dapat

dipertanggungjawabkan.
4. Pelayanan yang diberikan harus utuh, terpadu dan paripurna.
5. Seluruh petugas Rumah Sakit Umum Permata Madina Panyabungandalam
melayani berfokus pada mutu, sesuai standar-standar yang telah ditetapkan.
6. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya seluruh petugas Rumah Sakit Umum
Permata Madina Panyabunganmempunyai integritas, rajin, jujur dan mau
melayani.
7. Dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, seluruh petugas Rumah Sakit
Umum Permata Madina Panyabunganmengembangkan kebeRumah Sakit
Umumamaan sehingga tercipta suasana kerja yang produtif dan sehat.
Pasal 7. Tujuan Rumah Sakit Umum Martha Friska
1. Memberikan pelayanan kesehatan secara paripurna kepada segala lapisan
masyarakat tanpa membedakan suku,agama,bangsa ,ras dan golongan.
2. Ikut serta berperan membantu pemerintah didalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat di sektor swasta.
3. Mengembangkan kerjasama dengan berbagai perusahaan dan instansi dalam
meningkatkan derajat kesehatan pekerja dan pegawainya.
4. Secara terus-menerus dan konsekuen meningkatkan mutu pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat sesuai standar kesehatan sehingga mampu
memberikan keuntungan bagi pelanggan maupun rumah sakit.
5. Meningkatkan serta mengembangkan kualitas sumber daya manusia di rumah
sakit sehingga mampu melayani setiap pelanggan dengan penuh komitmen dan
manusiawi.

BAB VII. VISI DAN MISI Rumah Sakit Umum MARTHA FRISKA
Pasal 8. Visi.

Menjadi Rumah Sakit terdepan di Sumatera , khususnya di pelayanan jantung,


dengan

jaminan

pelayanan

bermutu,

profesional

dan

modern

sewindu

mendatang (tahun 2012).


Pasal 9. Misi.
1. Memberikan jasa pelayanan kesehatan bermutu dan terbaik kepada seluruh
lapisan masyarakat dan mendukung program pemerintah dalam bidang
kesehatan.
2. Pengelolaan rumah sakit secara profesional dan modern sehingga secara bisnis
tumbuh secara sehat, kompetitif dan berkesinambungan.

BAB VIII. FUNGSI DAN KEGIATAN


Pasal 10. Fungsi dan Kegiatan Rumah Sakit.
1. Menyelenggarakan pelayanan medis, umum dan spesialistik.
2. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis.
3. Menyelenggarakan pelayanan asuhan keperawatan.
4. Menyelenggarakan pelayanan rujukan terutama penyakit jantung dan urologi.
5. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.

BAB IX. PENGORGANISASIAN


Pasal 11. Pengorganisasian Dewan Komisaris.
Dewan Komisaris PT Karya Utama Sehat Sejahtera adalah organ yang berfungsi,
berwenang dan bertanggung jawab menentukan kebijakan umum Rumah Sakit
Martha Friska, menyiapkan dan menentukan Direksi Rumah Sakit, menjaga mutu
layanan profesional kepada publik dan melakukan pengendalian serta pengawasan
terhadap manajemen rumah sakit secara keseluruhan.
Pasal 12. Pengorganisasian Direksi Rumah Sakit.
Direksi Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganadalah pimpinan eksekutif
puncak yang bertugas, berwenang dan bertanggung jawab menjalankan corporate
governance di Rumah Sakit Martha Friska. Direksi Rumah Sakit Permata Madina
Panyabunganterdiri dari Direktur Utama, dibantu oleh tiga Direktur Bidang. Direktur
Bidang terdiri dari Direktur Medis & Keperawatan, Direktur Penunjang Medik & Diklat
dan Direktur Administrasi & Keuangan.
7

Pasal 13. Pengorganisasian Staf Medik.


Staf Medik adalah para profesional yang bertugas, berwenang dan bertanggung
jawab melaksanakan clinical governance dan asuhan klinis (clinical care) di Rumah
Sakit Martha Friska. Yang dimaksudkan dalam staf medik adalah dokter umum,
dokter gigi dan dokter spesialis. Staf medik diorganisasikan dalam Komite Medik dan
Staf Medik Fungsional.
Pasal 14.Pelaksanaan Corporate and Clinical Governance.
Tiga pengemban kewenangan seperti teRumah Sakit Umumebut dalam pasal 11, 12
dan 13 di atas secara beRumah Sakit Umumama-sama bertanggung jawab atas
pelaksanaan corporate governance dan clinical governance secara terpadu, efisien
dan efektif untuk menghasilkan layanan dan asuhan klinis yang profesional, aman
dan memenuhi kepuasan pasien.
Pasal 15. Struktur dan Deskripsi Kerja.
Struktur organisasi Rumah Sakit Permata Madina Panyabungandan deskripsi
pekerjaan untuk staf menengah ke bawah dan para pelaksana ditetapkan oleh
Direksi setelah mendapat peRumah Sakit Umumetujuan dari Dewan Komisaris PT
Karya Utama Sehat Sejahtera.

BAB X. MANAJEMEN
Pasal 16. Tanggung jawab dan Tanggung gugat.
Direksi Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganbertanggung jawab
(responsible) dan bertanggung gugat (accountable) tentang Corporate Governance
dan Clinical Governance. Komite Medik bertanggung jawab (responsible) dan
bertanggung gugat (accountable) tentang Clinical Governance.

BAGIAN KEDUA : PERATURAN INTERNAL KORPORAT


BAB XI. DEWAN KOMISARIS
Pasal 17. Syarat dan Komposisi Dewan Komisaris.
1. Syarat-syarat menjadi anggota Dewan Komisaris adalah : warga negara
Indonesia dan memenuhi peRumah Sakit Umumyaratan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Dewan Komisaris terdiri dari empat orang anggota komisaris dan salah satunya
diangkat menjadi Komisaris Utama.
Pasal 18. Pemilihan dan Pengangkatan Dewan Komisaris.
1.

Prosedur pemilihan dan pengangkatan Dewan Komisaris :


8

a. Anggota Dewan Komisaris diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham


untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dengan tidak mengurangi hak Rapat
Umum Pemegang Saham untuk memberhentikan sewaktu-waktu. Setelah
masa jabatan teRumah Sakit Umumebut dapat diangkat/dipilih kembali
dalam RUPS.
b. Bila oleh suatu sebab jabatan anggota Dewan Komisaris lowong, maka
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah terjadinya lowongan,
harus diselenggarakan RUPS untuk mengisi lowongan itu.
c. Seorang anggota komisaris berhak mengundurkan diri dari jabatannya
dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud teRumah Sakit
Umumebut kepada PeRumah Sakit Umumeroan sekurang-kurangnya 30
(tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.
2. Jabatan anggota Dewan Komisaris berakhir apabila :
a.
Kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
b.
Mengundurkan diri sesuai dengan peraturan yang berlaku.
c.
Tidak lagi memenuhi peRumah Sakit Umumyaratan perundangundangan yang berlaku.
d.
Meninggal dunia.
e.
Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang
Saham.

Pasal 19.Tugas dan Wewenang Dewan Komisaris.


1. Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas kebijaksanaan Direksi
dalam menjalankan Rumah Sakit serta memberikan nasehat kepada
Direksi.
2. Dewan Komisaris baik beRumah Sakit Umumama-sama maupun sendirisendiri setiap waktu dalam jam kerja kantor PeRumah Sakit Umumeroan
berhak untuk memeriksa semua pembukuan, surat, alat bukti, uang kas
dan lain-lain serta berhak mengetahui segala tindakan yang telah
dijalankan Direksi.
3. Direksi dan setiap anggota Direksi wajib untuk memberikan penjelasan
tentang segala hal yang ditanyakan oleh Komisaris.
4. Komisaris setiap waktu berhak memberhentikan untuk sementara seorang
atau lebih anggota Direksi apabila anggota Direksi teRumah Sakit
Umumebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan atau
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya untuk proses
pemberhentian secara menetap atau pembatalan penghentian sementara
teRumah Sakit Umumebut maka dilakukan Rapat Umum Pemegang
Saham sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
yang berlaku.
Pasal 20. Rapat Dewan Komisaris.
1.

Rapat Dewan Komisaris dapat diadakan setiap waktu bilamana dianggap


perlu oleh seorarng atau lebih anggota Komisaris atau atas permintaan
tertulis seorang atau lebih anggota Direksi atau atas permintaan dari satu
pemegang saham atau lebih yang beRumah Sakit Umumama-sama mewakili
1/10 (satu per sepuluh) bagian dari seluruh jumlah saham dengan hak suara
yang sah.
2. Panggilan rapat dilakukan oleh Komisaris Utama, dilakukan secara langsung
maupun dengan surat tercatat sekurangnya 7 (tujuh) hari sebelum rapat.
3. Rapat dilakukan di tempat kedudukan PeRumah Sakit Umumeroan atau di
Rumah Sakit Martha Friska, dipimpin oleh Komisaris Utama. Bila Komisaris
9

4.
5.
6.

7.

Utama berhalangan maka rapat dipimpin oleh salah satu anggota komisaris
setelah diadakan pemilihan sesuai dengan ketentuan.
Setiap anggota Komisaris dapat diwakili dalam Rapat Komisaris hanya oleh
seorang anggota komisaris lainnya berdasarkan surat kuasa.
Rapat Komisaris adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat
hanya apabila lebih dari (satu per dua) dari jumlah anggota komisaris hadir
atau diwakili dalam rapat.
Keputusan Rapat Komisaris harus diambil berdasarkan musyawarah untuk
mufakat, bila musyawarah mufakat tidak tercapai dilakukan pemungutan
suara dengan ketentuan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga PeRumah Sakit Umumeroan yang berlaku.
Dewan Komisaris juga dapat mengambil keputusan yang sah tanpa
mengadakan rapat komisaris, dengan ketentuan semua anggota komisaris
telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota komisaris memberikan
peRumah Sakit Umumetujuan mengenai usul yang diajukan tertulis serta
menandatangani peRumah Sakit Umumetujuan teRumah Sakit Umumebut.
Keputusan teRumah Sakit Umumebut di atas mempunyai kekuatan yang
sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam rapat komisaris.

BAB XII. DIREKSI RUMAH SAKIT


Pasal 21. Syarat-syarat dan Komposisi Direksi.
1. Syarat-syarat menjadi Direksi Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganadalah
: warga negara Indonesia dan memenuhi peRumah Sakit Umumyaratan sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku.
2. Komposisi Direksi Rumah Sakit Umum Permata Madina Panyabunganadalah :
Direktur Utama, Direktur Medis & Keperawatan, Direktur Penunjang Medik &
Diklat dan Direktur Administrasi & Keuangan.
Pasal 22. Prosedur Pengangkatan dan Masa Jabatan Direksi.
1. Para anggota Direksi diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham, masingmasing untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dengan tidak mengurangi hak RUPS
untuk memberhentikannya sewaktu-waktu. Setelah masa jabatan teRumah Sakit
Umumebut maka anggota Direksi dapat diangkat kembali sesuai ketentuan
teRumah Sakit Umumebut di atas.
2. Apabila oleh suatu sebab, jabatan anggota Direksi lowong, maka dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadi lowongan, harus
diselenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk mengisi lowongan itu
sesuai ketentuan.
3. Apabila oleh suatu sebab apapun semua jabatan anggota Direksi lowong, maka
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya lowongan teRumah Sakit
Umumebut harus diselenggarakan RUPS untuk mengangkat Direksi baru dan
untuk sementara Rumah Sakit diurus oleh Dewan Komisaris.
4. Seorang anggota Direksi berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan
memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya teRumah Sakit Umumebut
kepada PeRumah Sakit Umumeroan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari
sebelum tanggal pengunduran dirinya itu.
5. Jabatan anggota Direksi berakhir apabila :
a. Kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
b. Mengundurkan diri .
c. Tidak lagi memenuhi peRumah Sakit Umumyaratan perundang-undangan
yang berlaku.
d. Meninggal dunia.
e. Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
10

Pasal 23. Tugas dan Wewenang Direksi.


1. Direksi bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugasnya untuk
kepentingan Rumah Sakit dalam mencapai maksud dan tujuannya.
2. Setiap anggota Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab
menjalankan tugasnya dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Direksi berhak mewakili Rumah Sakit di dalam dan di luar pengadilan tentang
segala hal dan dalam segala kejadian, mengikat Rumah Sakit dengan pihak lain
dan pihak lain dengan Rumah Sakit, serta menjalankan segala tindakan, baik
yang mengenai kepengurusan maupun kepemilikan dengan pembatasan yang
ditentukan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Rumah Sakit.
4. Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota Direksi ditetapkan oleh Direktur
Utama dengan peRumah Sakit Umumetujuan Dewan Komisaris.
Pasal 24. Rapat Direksi.
1. Rapat Direksi dapat diadakan setiap waktu bilamana dipandang perlu oleh
seorang atau lebih anggota Direksi atau atas permintaan tertulis dari seorang
atau lebih anggota Dewan Komisaris atau atas permintaan tertulis 1 (satu)
pemegang saham atau lebih yang beRumah Sakit Umumama-sama mewakili
1/10 (satu per sepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara
yang sah.
2. Ketentuan Rapat Direksi adalah sesuai dengan peraturan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganyang
berlaku.
3. Rapat-rapat rutin Direksi untuk selanjutnya ditetapkan oleh Direktur Utama
dengan sepengetahuan Dewan Komisaris.
4. Direksi dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat
Direksi, dengan ketentuan semua anggota Direksi telah diberitahu secara tertulis
dan semua anggota Direksi memberikan peRumah Sakit Umumetujuan
mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menanda-tangani peRumah
Sakit Umumetujuan teRumah Sakit Umumebut. Keputusan yang diambil dengan
cara demikian mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil
dengan sah dalam Rapat Direksi.
Pasal 25. Hubungan antara Direksi dengan Dewan Komisaris dan Komite Medik.
Komite Medik adalah organ non- struktural berada di bawah Direktur Utama, namun
hubungan antara Komite Medik dengan Direksi dan Dewan Komisaris Rumah Sakit
Mrtha Friska bukan merupakan garis komando, melainkan berupa garis koordinasi.
Komite Medik mempunyai akuntabilitas kepada Dewan Komisaris dan Direksi dalam
menjamin teRumah Sakit Umumelenggaranya pelayanan medik yang baik, profesional
serta selalu mengacu kepada kepentingan penderita dengan memperhatikan kode etik
kedokteran, kode etik rumah sakit serta norma-norma yang berlaku di kalangan
masyarakat.
BAGIAN KETIGA : PERATURAN INTERNAL STAF MEDIK
BAB XIII. KOMITE MEDIK
Pasal 26. Pengertian Komite Medik.
Komite Medik adalah organ non-struktural Rumah Sakit yang mewadahi semua staf
medik yang bertugas di Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganserta wakil dari
perawat profesional dan tenaga kesehatan profesional lainnya secara ex-officio.
11

Pasal 27. Tujuan dan Fungsi Komite Medik.


1. Untuk meningkatkan dan menjamin mutu pelayanan medis di Rumah Sakit
Martha Friska. Meningkatkan mutu tenaga medis.
2. Membantu Direksi dalam menyusun standar pelayanan medis dan memantau
pelaksanaannya.
3. Agar masalah medico-administratif diselesaikan beRumah Sakit Umumama
dengan pihak manajemen.
4. Mengupayakan dan mempertahankan self-government.
5. Memberikan saran kepada Pimpinan Rumah Sakit.
6. Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan medik.
7. Menangani hal-hal yang berkaitan dengan etika kedokteran.Untuk menangani
masalah etika dalam bidang lain dibentuk Komite Etika Rumah Sakit.
8. Menyusun kebijakan/ketentuan/prosedur pelayanan medis sebagai standar yang
harus dilaksanakan oleh semua staf medis di Rumah Sakit Umum Martha Friska.
Pasal 28. Tugas, Wewenang dan Tanggung jawab Komite Medik.
1. Tugas-tugas Komite Medik :
a. Membantu Direksi menyusun standar pelayanan medis.
b. Memantau pelaksanaan standar pelayanan medis yang dilakukan
tenaga medis.
c. Memantau dan membina pelaksanaan tugas tenaga medis.
d. Meningkatkan program pelayanan, pelatihan serta penelitian dan
pengembangan dalam bidang medis.
2. Wewenang Komite Medik:
a. Meminta Staf Medik Fungsional menyusun standar pelayanan untuk
dibahas, disetujui dan diserahkan kepada Direksi rumah sakit.
b. Memantau dan menilai pelaksanaan standar pelayanan dan programprogram pelayanan yang dilaksanakan tenaga medis.
c. Memberikan usul rencana kebutuhan tenaga medis.
d. Memberikan usul dan pertimbangan kepada Direksi tentang
penerimaan tenaga medis untuk bekerja di Rumah Sakit Umum Martha
Friska.
e. Melaksanakan pembinaan etika profesi serta mengatur kewenangan
profesi anggota SMF.
f. Menertibkan tenaga profesi medis yang melakukan pelanggaran etik
profesi.
g. Memonitor dan mengevaluasi penggunaan obat di Rumah Sakit Umum
Martha Friska.
h. Memberikan pertimbangan dan evaluasi tentang tindakan yang
dilaksanakan oleh tenaga medis dan pelaksanaan tugas pelayanan
medis.
i. Meningkatkan mutu pelayanan medis dengan cara pengembangan
program pelayanan, pelatihan tenaga medis dan mengembangkan
evidence based medicine.
j. Membentuk panitia-panitia untuk membantu pelaksanaan tugas Komite
Medik yang anggota-anggotanya terdiri dari tenaga profesi terkait.
k. Memberikan
pertimbangan
tentang
rencana
pemeliharaan/pengadaan peralatan dan penggunaan alat kesehatan
serta pengembangan pelayanan medis.
l. Monitoring dan evaluasi efisiensi dan efektivitas penggunaan alat
kedokteran di Rumah Sakit Umum Martha Friska.
m. Memberikan rekomendasi tentang kerjasama antara Rumah Sakit
Umum
Permata
Madina
Panyabungandan
fakultas
kedokteran/kedokteran gigi/institusi pendidikan lain.

12

3.Tanggung jawab Komite Medis:


Ketua Komite Medik bertanggung jawab kepada Direktur Utama Rumah Sakit
Umum Martha Friska.
Pasal 29. Kedudukan Komite Medik di Rumah Sakit.
1. Komite Medik adalah organ non-struktural dalam Rumah Sakit, yang
ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur Utama setelah penetapan
dalam Rapat Pleno Staf Medik Fungsional.
2. Hubungan antara Komite Medik dengan Direksi adalah bukan berupa garis
komando, melainkan garis koordinasi atau fungsional.
3. Komite Medik mempunyai akuntabilitas terhadap Direksi dan Dewan
Komisaris dalam hal mutu pelayanan medik yang diberikan oleh staf
medik.
4. Komite Medik dalam struktur organisasi Rumah Sakit Umum Permata
Madina Panyabunganadalah di bawah garis koordinasi Direktur Utama.
Pasal 30. Susunan Organisasi Komite Medik.
Komite Medik Rumah Sakit Umum Permata Madina Panyabunganterdiri dari : Ketua
(merangkap anggota), Wakil Ketua (merangkap anggota), Sekretaris (merangkap
anggota) dan anggota lainnya sebanyak 6 (enam) orang. Anggota Komite Medik
yang bukan staf medik Rumah Sakit Umum beRumah Sakit Umumtatus anggota exofficio.
Pasal 31. Susunan dan Tugas Panitia-panitia Komite Medik.
1. Panitia adalah kelompok kerja khusus di dalam Komite Medik yang dibentuk
untuk membantu Komite Medik mengatasi masalah-masalah khusus.
2. Panitia-panitia yang dibentuk oleh Komite Medik Rumah Sakit Umum Permata
Madina Panyabunganadalah : Panitia Etika Kedokteran, Panitia Kredensial,
Panitia Rekam Medik, Panitia Peningkatan Mutu Pelayanan Medis dan Panitia
Pengendalian Infeksi Nosokomial. Jumlah dan jenis panitia dapat ditambah atau
dikurangi sesuai dengan kebutuhan Komite Medik.
3. Kepanitiaan ditetapkan oleh Direktur Utama Rumah Sakit atas usulan Komite
Medik. Panitia bertanggung jawab kepada Komite Medik.
4. Susunan Panitia : Ketua merangkap anggota, Sekretaris merangkap anggota dan
anggota sebanyak 4-5 orang. Anggota panitia terdiri dari kelompok profesi terkait
dan dapat ditambah dengan profesi lainnya secara ex-officio bila dianggap perlu.
Ketua panitia adalah salah satu anggota Komite Medik. Sekretaris dan anggota
ditetapkan atas usulan ketua panitia.
5. Panitia bertugas membuat, melaksanakan dan mengevaluasi program sesuai
bidangnya. Setiap panitia berkewajiban memberikan laporan berkala kepada
Komite Medik.Program dan kegiatan-kegiatan panitia ditetapkan oleh Komite
Medik dengan tembusan ke Direktur Rumah Sakit.
Pasal 32. Prosedur Pemilihan dan Pengangkatan Komite Medik.
1. Direktur Utama menetapkan susunan Komite Medik atas usulan Rapat Pleno Staf
Medik untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun.
2. Sebelum masa kerjanya selesai, dibuatlah Rapat Pleno anggota Staf Medik
Fungsional atas undangan Komite Medik untuk memilih Ketua Komite Medik
yang baru.
3. Rapat harus dihadiri oleh 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota SMF.
4. Keputusan diambil secara musyawarah mufakat,bila tidak tercapai mufakat dapat
dilakukan voting dengan ketentuan minimal separuh jumlah yang hadir ditambah
satu menyetujui (1/2 n + 1).
13

5. Ketua Komite Medik yang terpilih memilih Wakil Ketua dan Sekretaris serta
anggota Komite Medik.
6. Hasil rapat beserta susunan Komite Medik disampaikan kepada Direktur Utama
Rumah Sakit untuk ditetapkan dalam surat keputusan pengangkatan Komite
Medik.
7. Setelah masa kerja 3 (tiga) selesai, ketua dan anggota Komite Medik dapat dipilih
kembali dalam rapat pleno staf medik.
Pasal 33. Tata Tertib Komite Medik.
1. Komite Medik membuat tata kerja dan program kerja serta mengatur
pelaksanaannya, membuat laporan yang disampaikan kepada Dewan
Komisaris dan Direksi Rumah Sakit. Tata kerja dan program kerja ditetapkan
oleh Direktur Utama Rumah Sakit.
2. Mengadakan rapat rutin anggota Komite Medik satu kali sebulan untuk
membahas hal-hal rutin dan membahas masalah berdampak terbatas.
3. Mengadakan rapat pleno dengan anggota Komite Medik satu kali setiap tiga
bulan untuk membahas masalah yang berdampak meluas.
4. Mengadakan rapat darurat bila diperlukan. Setiap rapat baik rapat pleno,
rutin , kecuali darurat disampaikan undangan rapat tertulis oleh Sekretaris
Komite Medik. Dalam keadaan darurat, undangan dapat disampaikan secara
lisan atau melalui telepon.
5. Menetapkan tugas dan kewajiban panitia, termasuk pertanggungjawaban
terhadap rencana kerja yang telah ditetapkan.
BAB XIV. STAF MEDIK FUNGSIONAL (SMF)
Pasal 34. Pengertian dan Klasifikasi Staf Medik Fungsional.
1. Staf Medik Fungsional (SMF) adalah kelompok profesional medik (dokter dan
dokter gigi) yang terorganisasi dan bertanggung jawab (accountable) tentang
jasa-jasa asuhan klinis yang diberikan kepada penderita.
2. Kategori Staf medik terdiri dari dokter tetap/organik, dokter mitra (visiting practice
doctor dan visiting non-practising doctor), dokter konsultan.
3. Dokter tetap atau organik adalah dokter yang direkrut oleh rumah sakit sebagai
pegawai tetap dan berkedudukan sebagai sub ordinat, yaitu bekerja untuk dan
atas nama rumah sakit serta bertanggung jawab kepada rumah sakit.
4. Dokter mitra adalah dokter yang direkrut oleh rumah sakit sebagai mitra yang
kedudukannya sejajar dengan rumah sakit, bertanggung jawab secara mandiri
dan bertanggung gugat secara propoRumah Sakit Umumional sesuai
kesepakatan atau ketentuan yang berlaku di rumah sakit.
5. Dokter konsultan adalah dokter yang karena keahliannya direkrut oleh rumah
sakit untuk memberikan konsultasi, baik untuk konsultasi saja atau ikut
menangani pasien.
Pasal 35.Fungsi dari SMF.
1.
2.
3.

Mengatur kegiatan profesi.


Mengkoordinasikan pengembangan staf medis.
Menjaga agar kualitas pelayanan sesuai dengan standar profesi yang
sudah ditetapkan.
Pasal 36. Tugas dan Tanggung jawab SMF.

1. Menghadiri pertemuan-pertemuan rutin yang diselenggarakan Komite Medik.


2. Memelihara rekam medik secara akurat dan lengkap sesuai dengan ketentuan.
3. Memeriksa semua pasien pada waktu masuk rawat dan mencatat diagnosa,
terapi dan lain-lain informasi yang penting.
4. Menerapkan informed consent kepada pasien.
14

5. Kewajiban mengirimkan jaringan yang diangkat pada waktu operasi untuk


pemeriksaan patologi.
6. Kewajiban untuk memberikan semua instruksinya secara tertulis.
7. Mematuhi dan melaksanakan ketentuan yang ditetapkan oleh Komite Medik.
8. Melaksanakan pelayanan dengan berpedoman kepada standar pelayanan rumah
sakit yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI,ikatan profesi serta standar
pelayanan medik Rumah Sakit Umum Martha Friska.
9. Memahami dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dan
Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERumah Sakit UmumI).
10. Melaksanakan diagnosis, pengobatan, pencegahan akibat penyakit, peningkatan
dan pemulihan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pendidikan dan pelatihan
serta penelitian dan pengembangan.
Pasal 37. Kewajiban SMF.
1. Menyusun SOP (Standard Operating Procedure) pelayanan medik bidang
administrasi/manajerial, yaitu pengaturan tugas rawat jalan, pengaturan
tugas rawat inap, pengaturan visite/rond, pertemuan klinik, presentasi
kasus, kaus kematian, prosedur konsultasi dan lain-lain.
2. Menyusun SOP (Standard Operating Procedure) pelayanan medik bidang
keilmuan/keprofesian yaitu standar teknis profesi.

Pasal 38. Pengorganisasian SMF.


1. Staf medik di Rumah Sakit Umum Permata Madina Panyabungandikelompokkan
kedalam 3 (tiga) SMF yakni: SMF Dokter Umum dan Dokter Gigi, SMF Surgikal
dan SMF Non-Surgikal.
2. Struktur organisasi SMF terdiri dari Ketua, Sekretaris dan anggota.
Pasal 39. Pemilihan dan Masa Bakti Ketua SMF.
1. Ketua SMF dipilih dalam Rapat Pleno SMF dengan dihadiri oleh Komite Medik
dan Direksi Rumah Sakit Umum Martha Friska. Rapat pleno pemilihan Ketua
SMF dinyatakan sah bila dihadiri oleh separuh plus satu (1/2 n +1) anggota SMF
beRumah Sakit Umumangkutan. Pemilihan dilakukan secara musyawarah
mufakat, bila tidak tercapai mufakat dapat dilakukan voting sesuai tata tertib rapat
yang ditetapkan Komite Medik. Sekretaris SMF dipilih oleh Ketua SMF terpilih.
Ketua dan Sekretaris SMF ditetapkan dalam surat keputusan Direktur Utama
Rumah Sakit.
2. Masa bakti Ketua dan Sekretaris SMF adalah selama 3 (tiga) tahun.
Pasal 40. PeRumah Sakit Umumyaratan Penerimaan Staf Medik Fungsional.
1. Calon staf medik fungsional harus menyampaikan lamaran secara tertulis
berikut lampiran syarat-syarat yang telah ditentukan Komite Medik kepada
Direktur Rumah Sakit Umum Martha Friska. Direktur Medis Rumah Sakit
Umum Permata Madina Panyabungankemudian menyampaikan lamaran
teRumah Sakit Umumebut kepada Panitia Kredensial melalui Ketua Komite
Medik.
2. Panitia Kredensial selanjutnya meminta rekomendasi dari SMF terkait melalui
Ketua Komite Medik.
3. SMF terkait membahas dan membuat rekomendasi yang disampaikan kepada
Ketua Komite Medis dan oleh Ketua Komite Medis disampaikan kepada
Panitia Kredensial.
15

4. Panitia Kredensial mengadakan rapat lengkap untuk membahas permohonan


calon staf medik dan rekomendasi SMF terkait, dihadiri oleh Komite Medik ,
Direksi Rumah Sakit Umum dan bila perlu Ketua SMF terkait.
5. Panitia Kredensial menyampaikan keputusan yang diambil kepada Ketua
Komite Medis secara tertulis.Keputusan ini merupakan rekomendasi Komite
Medis yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit Umum secara tertulis.
6. Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi oleh calon staf medik adalah :
ijasah yang diakui Pemerintah RI, Surat Penugasan dari Departemen
Kesehatan, Surat Izin Praktek (dapat menyusul), izin atasan (untuk pegawai
instansi lain), kompetensi/keahlian dan pengalaman, tidak pernah melakukan
malpraktek di Rumah Sakit Umum lain, berperilaku baik, beRumah Sakit
Umumedia bekerja berdasarkan evidence-based medicine dan mematuhi
corporate and clinical governance Rumah Sakit Umum Martha Friska.
7. Untuk staf medik tidak tetap/non organik beRumah Sakit Umumedia
mengadakan perjanjian kerja dengan Direksi Rumah Sakit Umum.
8. Status dari staf medik beserta hak dan kewajibannya secara periodik
dievaluasi oleh Komite Medik.
Pasal 41. Hak-hak dari Staf Medik Rumah Sakit Umum Martha Friska.
1.

Staf medik berhak mendapat jaminan dan perlindungan hukum dalam


melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2.
Staf medik berhak untuk bekerja menurut standar profesi serta
berdasarkan hak otonomi.
3.
Staf medik berhak untuk menolak permintaan atau desakan pasien sendiri
agar terhadap pasien dilakukan tindakan medik yang tidak sesuai dengan
standar profesi, hukum atau dengan suara hati nuraninya.
4.
Staf medik berhak memilih pasien, kecuali untuk pasien gawat darurat.
5.
Staf medik berhak menghentikan jasa profesionalnya kepada pasien
apabila misalnya hubungan dengan pasien sudah berkembang begitu buruk
sehingga kerjasama yang baik tidak mungkin diteruskan lagi, kecuali pasien
gawat darurat.
6.
Staf medik berhak atas privacy (berhak menuntut apabila nama baiknya
dicemarkan oleh pasien dengan ucapan atau tindakan yang melecehkan atau
memalukan).
7.
Staf medik berhak mendapat informasi lengkap dari pasien yang
dirawatnya atau dari keluarganya.
8.
Staf medik berhak untuk diperlakukan adil dan jujur.
9.
Staf medik berhak atas imbalan atas jasa profesi yang diberikannya
berdasarkan perjanjian dan atau ketentuan/peraturan yang berlaku di rumah
sakit teRumah Sakit Umumebut.
10.
Staf medik berhak menolak memberikan keterangan tentang pasien di
pengadilan ( sesuai KUHP 170 ayat 1).
11.
Staf medik berhak atas informasi atau pemberitahuan pertama dalam
menghadapi pasien yang tidak puas terhadap pelayanannya.
Pasal 42. Kewajiban-kewajiban Staf Medik.
1. Staf medik wajib mematuhi peraturan rumah sakit.
2. Staf medik wajib memberikan pelayanan medik sesuai dengan standar profesi
dan menghormati hak-hak pasien.
3. Staf medik wajib merujuk pasien ke dokter lain/Rumah Sakit Umum lain yang
mempunyai keahlian/kemampuan yang lebih baik, apabila ia tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
4. Staf medik wajib memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan dapat menjalankan ibadah sesuai dengan
keyakinannya.
16

5. Staf medik wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang


seorang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia.
6. Staf medik wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain beRumah Sakit Umumedia
dan mampu memberikannya.
7. Staf medik wajib memberikan informasi selengkapnya kepada pasien yang akan
dilakukan tindakan medis (informed consent).
8. Staf medik wajib membuat rekam medis yang baik secara berkesinambungan
berkaitan dengan keadaan pasien.
9. Staf medik wajib terus-menerus menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti
perkembangan ilmu kedokteran.
10. Staf medik wajib memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah
dibuatnya.
Pasal 43. Sanksi-sanksi.
1. Terhadap pelanggaran etika kedokteran dan rumah sakit dikenakan sanksi oleh
Komite Medik, dapat berupa teguran lisan, tertulis dan pemecatan. Penetapan
pemecatan dilakukan oleh Direktur Rumah Sakit Umum atas rekomendasi
Komite Medik.
2. Terhadap pelanggaran pidana dan malpraktik dikenakan tindakan sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Langkah-langkah atau prosedur penanganan masalah pelanggaran etika dan
hukum pidana atau malpraktik ditetapkan oleh Komite Medik.
BAGIAN KEEMPAT : BADAN ETIKA RUMAH SAKIT
BAB XV. KOMITE ETIKA Rumah Sakit Umum MARTHA FRISKA
Pasal 42. Pengertian Komite Etika Rumah Sakit Umum
Komite Etika Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganadalah suatu badan
otonom, non-struktural yang berfungsi sebagai Penasehat Pimpinan Rumah Sakit,
serta berkewajiban membantu Pimpinan Rumah Sakit dalam penanganan masalahmasalah yang berkaitan dengan isu etika profesi di rumah sakit. Masalah-masalah
etika dapat berupa:
Etika hubungan staf medik dengan sesamanya.
Etika hubungan staf medik dengan paramedik/nonmedik.
Etika hubungan antar rumah sakit.
Etika hubungan rujukan medik/kesehatan.
Pasal 43. Susunan Komite Etika Rumah Sakit Umum , Prosedur Pemilihan dan
Syarat-syarat Anggota.
1. Ketua dan Anggota Komite Etika Rumah Sakit Permata Madina
Panyabungandipilih dan diangkat oleh Direktur Utama untuk masa
jabatan 3 (tiga) tahun, untuk kemudian dapat dipilih kembali.
2. Susunan Komite Etika terdiri dari : Seorang Ketua, seorang Wakil
Ketua, seorang Sekretaris, dan beberapa anggota dengan jumlah
seluruhnya paling banyak 7 (tujuh) orang.
3. Untuk dapat dipilih atau ditunjuk sebagai Anggota Komite Etika Rumah
Sakit Umum harus memenuhi syarat-syarat berikut:
(a) Berjiwa Pancasila.
(b) Memiliki kepribadian, integritas, dan kredibilitas sosial serta profesional
yang tinggi.
(c) Memiliki kepekaan dan responsif terhadap perkembangan
sosial,lingkungan, nilai-nilai moral dan kemanusiaan, serta
perkembangan keilmuan dan teknologi.
17

(d) Memiliki kepedulian dan pengalaman dalam bidang perumahsakitan,


yang meliputi berbagai bidang profesi.
Pasal 44. Fungsi dan Tugas Komite Etika Rumah Sakit.
1. Memberi nasehat atau konsultasi melalui diskusi dan berperan dalam
menilai penyelesaian dan kebijaksanaan etika rumah sakit.
2. Melaksanakan sosialisasi dan pendidikan kepada seluruh bidang profesi
tentang etika rumah sakit, khusus profesi kedokteran berkoordinasi dengan
Komite Medis (dalam Panitia Etika Kedokteran).
3. Berhubungan secara khusus dan memberikan anjuran-anjuran pada
pelayanan review kasus sulit.
4. Membantu para dokter, perawat, bidan dan anggota tim kesehatan lainnya
di rumah sakit dalam menghadapi masalah-masalah etika.
Pasal 45. Rapat-rapat Komite Etika Rumah Sakit Umum.
1.

Rapat rutin Komite diadakan paling sedikit dua kali dalam setahun.
Rapat ini untuk membicarakan program kerja, pelaksanaannya seta evaluasi
program.

2.

Rapat khusus untuk membicarakan kasus-kasus yang ada


diadakan menurut keperluannya.

3.

Rapat dianggap sah apabila dihadiri oleh 2/3 (dua per tiga) dari
seluruh Anggota Komite Etika Rumah Sakit Umum dan keputusan
ditetapkan secara mufakat melalui musyawarah. Bila musyawarah tidak
mencapai mufakat diadakan voting dan keputusan diambil melalui suara
terbanyak

4.

Keputusan yang diambil diteruskan kepada Direktur Utama untuk


keperluan tindak lanjut yang akan diambil.

BAGIAN KELIMA : PENUTUP


BAB XVI. PENUTUP

18

Pasal 46. Amandemen.


Peraturan Internal Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganini dapat diubah sesuai
dengan perkembangan, baik oleh karena perkembangan di dalam rumah sakit sendiri
maupun oleh karena perkembangan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan
oleh Pemerintah.
Pasal 47. Lain-lain.
Peraturan Internal Rumah Sakit Permata Madina Panyabunganini berlaku sejak tanggal
ditetapkan, mengikat kepada semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan, pemberian
pelayanan dan bekerja di Rumah Sakit Martha Friska.
Ditetapkan di
: Medan
Pada tanggal
: 5 Februari 2004
Penetapan Revisi I pada tanggal : September 2004

PT KARYA UTAMA SEHAT SEJAHTERA


RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA
NY. TAN SULIANA
KOMISARIS UTAMA

19