Anda di halaman 1dari 5

PENEGAKKAN HUKUM DALAM KASUS

PELANGGARAN HAM
Upaya Penegakan HAM
Catatan
Penyelidikan dilakukan oleh Komnas HAM.
Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri dari Komnas HAM dan
unsur masyarakat.
Pemeriksaan Perkara HAM dilakukan oleh majelis hakim Pengadilan HAM yang
berjumlah 5 orang ( 3 dari hakim ad hoc, 2 dari pengadilan HAM)'
Terdapat KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) sebagai mediator antara
pelaku dengan korban
a. Kejahatan Genosida
Untuk menghancurkan dan memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok
bangsa, ras, kelompok etnis, dan kelompok agama.
b. Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik, diketahui
bahwa serangan ditunjukkan secara langsung.
Contoh : Pembunuhan, pengusiran, penyiksanaan, pemerkosaan, atau kejahatan
apartheid (penindasan terhadap kelompok ras u/ mempertahankan peraturan
pemerintah yang sedang berkuasa.
1. Membantu dengan menjadi saksi di proses penegakan HAM
2. Mendukung para korban untuk memperoleh restitusi maupun kompensasi
serta rehabilitasi
3. Tidak mengganggu jalannya persidangan HAM di Pengadilan HAM
4. Memberikan informasi kepada aparat penegak hukum dan lembaga-lembaga
HAM bila terjadi pelanggaran
5. Membantu untuk dapat menerima cara rekonsiliasi melalui KKR kalau lewat
jalan Peradilan HAM jalan buntu
Tugas dan Wewenang Pengadilan HAM
Memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran HAM yang berat
Jika pelanggaran HAM ringan dilakukan oleh Peradilan Umum
Tidak berwenang memeriksa dan memutus pelanggaran HAM yang berat yang
dilakukan seseorang <18 tahun pada saat kejadian
Menyangkut perkara pidana
Termasuk kompensasi, retritusi, dan rehabilitas
Pelaksanaan tidak bisa dipisahkan dengan tempat kejadian (cocus delicti)
Masa Penahanan
1. Penahanan kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan, paling lama 90
hari, jika belum selesai, diperpanjang hingga 90 hari lamanya ,jika belum lagi,
diperpanjang 60 hari.
2. Penahanan penuntutan 30 hari, diperpanjang 20 hari bisa belum
3. Penahanan pemeriksaan 90 hari, diperpanjang 30 hari jika belum
4. Penahanan pemeriksaan banding di Pengadilan Tinggi 60 hari, diperpanjang

30 hari jika belum


5. Penahanan pemeriksaan kasasi di Mahkamah Agung 60 hari, diperpanjang 30
hari jika belum
Pengadilan HAM dan Upaya Penegakan HAM beserta Contoh Kasus
Pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum.
Berkedudukan di daerah kabupaten atau kota yang daerah hukumnya meliputi
daerah hukum ybs.
UU RI No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Memberikan perlindungan
Syarat-Syarat Menjadi Penyidik Ad Hoc
1. WNI umur 40-65 tahun
2. Sarjana Hukum atau lain yang memiliki keahlian di bidang hukum
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Berwibawa, jujur, adil, berkelakuan tidak tercela.
5. Setiap kepada Pancasila dan UUD 1945
6. Memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang HAM
Diusulkan oleh DPR berdasarkan dugaan terjadinya pelanggaran HAM yang
dibatasi pada tempat dan waktu perbuatan yang terjadi sebelum
diundangkannya UURI No. 26 tahun 2000
Kenapa HAM harus ditegakkan?
Karena HAM telah dimiliki seseorang sejak di dalam kandungan dan tertuang
dalam deklarasi Amerika Serikat , UUD 1945 Nomor 27, 28, 29, dan 31, serta UU
Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM
Contoh Kasus Pelanggaran HAM dan Upaya Penegakannya
1. Kasus Penganiayaan Kepala Sekolah SMP 1 Raha La Diallah dan Satpam Teguh
Berawal dari perasaan guru yang merasa dibohongi muridnya, lalu sang guru
menendang kaki siswa. Orang tuanya tidak terima, dia menganiayai Kepal
sekolah dan Satpam Teguh. Dia mengancam akan membom sekolah. Para guru
akhirnya melakukan mogok kerja
Mereka mendatangi Kantor Komnas HAM dan Komnas HAM berjanji akan
menindaklajuti sebagai kasus HAM
ISI UUD 1945
Pasal 27 ayat 1 : Kesamaan kedudukan dan kewajiban warna negara di hukum
dan muka pemerintahan
Pasal 27 ayat 2 : Hak setiap warna negara atas pekerjaan dan hidup yang layak
Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan mengeluarkan pendapat
Pasal 29 ayat 2 : Kebebasan untuk memeluk agama bagi penduduk dijamin
negara
Pasal 31 ayat 1 : Hak atas pengajaran
Asas-Asas Pengadilan HAM
Dalam UU No. 26 tahun 2000
1. Hanya mengadili pelanggaran HAM yang berat (pasal 4)
2. Kejahatan Universal (pasal 5)
Sanksi Bagi Pelanggaran HAM Berat

-Pidana mati
-Pidana seumur hidup
- Pidana penjara paling lama 25 tahun, paling sedikit 10 tahun
Perlindungan terhadap Korban dan Sanksi
-Mendapat perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan, teror, dan
kekerasan dari pihak manapun.
-Dilaksanakan oleh aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, pengacara, dan
Mahkamah Agung) dan keamanan secara cuma-cuma.
Lembaga Penegakan HAM
1. Komnas HAM
2. Pengadilan HAM
3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
4. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
5. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
6. LSM Pro Demokrasi dan HAM
KEJAHATAN GENOSIDA
KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN
Mengapa harus Ada Pengadilan HAM?
HAM adalah hak dasar yang secara
kodrat melekat pada manusia. HAM harus dihormati, dipertahankan, dan tidak
boleh dirampas oleh siapapun.
TUJUAN
TUJUAN IDIIL
-Untuk memeliharan perdamaian dunia
-Menjamin pelaksanaan HAM
-Memberikan perlindungan, kepastian dan perasaan perorangan maupun
masyarakat
TUJUAN PRAKTIS
-Menyelesaikan pelanggaran HAM yng berat karena bisa berdampak luas pada
tingkat nasional atau internasional

Asas-Asas Pengadilan HAM


-Hanya mengadili pelanggaran HAM yang berat
(Pasal 4 UU 26 tahun 2000)
-Kejahatan Universal (Pasal 5 UU 26 Tahun 2000)
bisa mengadili dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat
yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh
warga negara Indonesia
Lingkup Kewenangan
Pengadilan HAM
bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak

asasi manusia yang berat termasuk Kompensasi, Retritusi & Rehabilitasi


Menyangkut perkara pidana
Pelaksanaan tidak dapat dipisahkan dengan tempat kejadian (Cocus Delicti)
Dilaksanakan di pengadilan negeri yang wilayahnya hukum mencakup tempat
peristiwa pidana
ALASAN SEJARAH DIBENTUKNYA
PENGADILAN HAM
Karena adanya dugaan proses pelanggaran HAM berat
Lokasi :
Jakarta Pusat-Surabaya-Medan- Makassar
PROSEDUR
JIKA ADA KASUS
1. Penyelidikan
2. Penyidikan
3. Penangkapan
4. Penahanan
5. Penuntutan
6. Pidana
2. PENYELIDIKAN
Dilakukan oleh Jaksa Agung
Jaksa Agung tidak menerima laporan atau pengaduan
Jaksa Agung dapat mengangkat penyidik ad hoc yang terdiri atas unsur
pemerintah dan masyarakat
Diambil dulu sumpah dan janjinya menurut agama masing-masing
3. Penangkapan oleh PENYIDIK
4. Penahanan oleh PENGADILAN HAM
5. Penuntutan oleh JAKSA AGUNG mengangkat penuntut umum ad hoc terdiri
dari unsur pemerintah dan unsur masyarakat
6. Pidana di PENGADILAN NEGERI
Adalah Setiap sikap dan perilaku yang positif untuk mendukung upaya-upaya
menindak secara tegas pelaku pelanggaran HAM baik melalui :
Jalur Hukum (Pengadilan HAM)
Jalur Politik (KKR, Rehabilitasi, Restitusi, Kompensasi)
a. Jalur Hukum
Pelaku mengungkapkan pengakuan atas
kebenaran bahwa ia telah melakukan pelanggaran HAM ke keluarga korban atau
korban diadakan perdamaian
b. Jalur Politik
KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi)
Mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaitan dengan

HAM kepada Komnas HAM dan lembaga lain yang relevan.


Dengan sendiri maupun bekerja sama dengan Komnas HAM melaksanakan
penelitian, pendidikan, dan penyebar informasi tentang HAM.
UPAYA PEMERINTAH
Membuat peraturan perundang-undangan mengenai HAM
Meratifikasi dan mengadopsi instrument-instrument HAM internasional, yang
berarti perjanjian itu masuk dan berlaku sebagai hukum positif nasional