Anda di halaman 1dari 18

BAB 1.

PENDAHULUAN

Abses merupakan kumpulan pus yang terletak dalam satu kantung yang
terbentuk dalam jaringan yang disebabkan oleh suatu proses infeksi oleh bakteri,
parasit atau benda asing lainnya. Pus adalah suatu kumpulan sel-sel jaringan lokal
yang mati, sel-sel darah putih, organisme penyebab infeksi atau benda-benda
asing dan racun yang dihasilkan oleh bakteri dan sel-sel darah. Reaksi tersebut
merupakan reaksi pertahanan yang bertujuan mencegah agen-agen infeksi
menyebar ke bagian tubuh lainnya. Abses submandibula terjadi pada daerah
submandibula, spasia yang berada dibawah muskulus platisma. Keadaan ini
merupakan salah satu infeksi pada leher bagian dalam (deep neck infection). Pada
umumnya sumber infeksi pada ruang submandibula berasal dari proses infeksi
dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar limfe submandibula.
Rute yang paling umum penyebaran peradangan adalah melalui
kontinuitas jaringan dan spasia jaringan. Pertama, pus terbentuk di tulang
cancellous dan tersebar ke berbagai arah yang memiliki resistensi jaringan paling
buruk. Penyebaran pus ke arah bukal, lingual, atau palatal tergantung pada posisi
gigi, panjang akar, kelengkungan akar, ketebalan tulang dan jarak perjalanan pus
(Fragiskos, 2007).
Penatalaksaan dalam abses submandibula yaitu dengan pemberian
antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob dan diberikan secara
parenteral. Hal yang paling penting adalah terjaganya saluran nafas yang adekuat
dan drainase abses yang baik.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Abses Submandibula


Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan
pus pada daerah submandibula.1,2 Keadaan ini merupakan salah satu infeksi pada
leher bagian dalam (deep neck infection). Pada umumnya sumber infeksi pada
ruang submandibula berasal dari proses infeksi dari gigi, dasar mulut, faring,
kelenjar limfe submandibula. Mungkin juga kelanjutan infeksi dari ruang leher
dalam lain.2
Akhir-akhir ini abses leher bagian dalam termasuk abses submandibula
sudah semakin jarang dijumpai.1,3 Hal ini disebabkan penggunaan antibiotik yang
luas dan kesehatan mulut yang meningkat. Walaupun demikian, angka morbiditas
dari komplikasi yang timbul akibat abses submandibula masih cukup tinggi
sehingga diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan.
2.2 Epidemiologi
Penelitian Huang4 pada tahun 1997 sampai 2002, menemukan kasus
infeksi leher dalam sebanyak 185 kasus. Abses submandibula (15,7%) merupakan
kasus terbanyak kedua setelah abses parafaring (38,4), diikuti oleh Ludwigs
angina (12,4%), parotis (7%) dan retrofaring (5,9%).
Penelitian Yang5 pada 100 kasus abses leher dalam yang diteliti April 2001
sampai Oktober 2006 mendapatkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan
3:2. Abses submandibula merupakan kasus terbanyak (35%), diikuti oleh abses
parafaring (20%), mastikator (13%), peritonsil (9%), sublingual (7%), parotis
(3%), infra hyoid (26%), retrofaring (13%), ruang karotis (11%).
Di Bagian THT-KL Rumah Sakit dr. M. Djamil Padang selama periode
Oktober 2009 sampai September 2010 didapatkan abses leher dalam sebanyak 33
orang. Abses submandibula (26%) merupakan kasus kedua terbanyak setelah
abses peritonsil (32%), diikuti abses parafaring (18%), abses retrofaring (12%),
abses mastikator (9%), dan abses pretrakeal (3%).6

2.3 Anatomi Leher


Pada daerah leher terdapat beberapa ruang potesial yang dibatasi oleh fasia
servikalis. Fasia servikalis terdiri dari lapisan jaringan ikat fibrous yang
membungkus organ, otot, saraf dan pembuluh darah serta membagi leher menjadi
beberapa ruang potensial. Fasia servikalis terbagi menjadi dua bagian yaitu fasia
servikalis superfisialis dan fasia servikalis profunda.7,8
Fasia servikalis superfisialis terletak tepat dibawah kulit leher berjalan dari
perlekatannya di prosesus zigomatikus pada bagian superior dan berjalan ke
bawah ke arah toraks dan aksila yang terdiri dari jaringan lemak subkutan. Ruang
antara fasia servikalis superfisialis dan fasia servikalis profunda berisi kelenjar
limfe superfisial, saraf dan pembuluh darah termasuk vena jugularis eksterna.7,8
Fasia servikalis profunda terdiri dari tiga lapisan yaitu (gambar 1):7,8
1.

Lapisan superfisial
Lapisan ini membungkus leher secara lengkap, dimulai dari dasar tengkorak
sampai daerah toraks dan aksila. Pada bagian anterior menyebar ke daerah
wajah

dan

melekat

pada

klavikula

serta

membungkus

musculus

sternokleidomastoideus, musculus trapezius, musculus masseter, kelenjar


parotis dan submaksila. Lapisan ini disebut juga lapisan eksternal, investing
layer, lapisan pembungkus dan lapisan anterior.
2.

Lapisan media
Lapisan ini dibagi atas dua divisi yaitu divisi muskular dan viscera. Divisi
muskular terletak dibawah lapisan superfisial fasia servikalis profunda dan
membungkus musculus sternohioid, musculus sternotiroid, musculus
tirohioid dan musculus omohioid. Dibagian superior melekat pada os hioid
dan kartilago tiroid serta dibagian inferior melekat pada sternum, klavikula
dan skapula.
Divisi viscera membungkus organ-organ anterior leher yaitu kelenjar tiroid,
trakea dan esofagus. Di sebelah posterosuperior berawal dari dasar
tengkorak bagian posterior sampai ke esofagus sedangkan bagian

anterosuperior melekat pada kartilago tiroid dan os hioid. Lapisan ini


berjalan ke bawah sampai ke toraks, menutupi trakea dan esofagus serta
bersatu dengan perikardium. Fasia bukkofaringeal adalah bagian dari divisi
viscera yang berada pada bagian posterior faring dan menutupi musculus
konstriktor dan musculus buccinator.
3.

Lapisan profunda
Lapisan ini dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi alar dan prevertebra.
Divisi alar terletak diantara lapisan media fasia servikalis profunda dan
divisi prevertebra, yang berjalan dari dasar tengkorak sampai vertebra
torakal II dan bersatu dengan divisi viscera lapisan media fasia servikalis
profunda. Divisi alar melengkapi bagian posterolateral ruang retrofaring dan
merupakan dinding anterior dari danger space. Divisi prevertebra berada
pada bagian anterior korpus vertebra dan ke lateral meluas ke prosesus
tranversus serta menutupi otot-otot didaerah tersebut. Berjalan dari dasar
tengkorak sampai ke os koksigeus serta merupakan dinding posterior dari
danger space dan dinding anterior dari korpus vertebra. Ketiga lapisan fasia
servikalis profunda ini membentuk selubung karotis (carotid sheath) yang
berjalan dari dasar tengkorak melalui ruang faringomaksilaris sampai ke
toraks.

Gambar 1. Potongan obliq leher9


Ruang potensial leher dalam dibagi menjadi ruang yang melibatkan daerah
sepanjang leher, ruang suprahioid dan ruang infrahioid (gambar 2 dan gambar 3).6
1.

Ruang yang melibatkan sepanjang leher terdiri dari:


a. ruang retrofaring
b. ruang bahaya (danger space)
c. ruang prevertebra.

2.

Ruang suprahioid terdiri dari:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

3.

ruang submandibula
ruang parafaring
ruang parotis
ruang mastikor
ruang peritonsil
ruang temporalis.

Ruang infrahioid
a.

ruang pretrakeal.

Gambar 2. Potongan sagital leher10

Gambar 3. Potongan axial kepala11

2.4

Ruang Submandibula
Ruang submandibula terdiri dari ruang sublingual dan ruang submaksila.

Ruang sublingual dipisahkan dari ruang submaksila oleh otot miohioid. Ruang
submaksila selanjutnya dibagi lagi atas ruang submental dan ruang submaksila
(lateral) oleh otot digastrikus anterior.2 Ruang mandibular dibatasi pada bagian
lateral oleh garis inferior dari badan mandibula, medial oleh perut anterior
musculus digastricus, posterior oleh ligament stylohyoid dan perut posterior dari
musculus digastricus, superior oleh musculus mylohyoid dan hyoglossus, dan
inferior oleh lapisan superficial dari deep servikal fascia. Ruang ini mengandung
glandula saliva sub mandibular dan sub mandibular lymphanodes.7
Namun ada pembagian lain yang tidak menyertakan ruang submandibula
dan membagi ruang submandibula atas ruang submental dan ruang submaksila
saja. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya
sebagai kelanjutan infeksi dari daerah kepala leher.2
Ruang submandibula berhubungan dengan beberapa struktur didekatnya
(gambar 4), oleh karena itu abses submandibula dapat menyebar ke struktur
didekatnya.3

Gambar 4. Ruang potensial leher dalam (A) Potongan aksial, (B) potongan sagital.
Ket : SMS: submandibular space; SLS: sublingual space; PPS: parapharyngeal
space; CS: carotid space; MS: masticatory space. SMG: submandibular gland;
GGM: genioglossus muscle; MHM: mylohyoid muscle; MM: masseter muscle;
MPM: medial pterygoid muscle; LPM: lateral pterygoid muscle; TM: temporal
muscle.3

2.5 Etiologi
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau
kelenjar limfa submandibula.1,3 Mungkin juga sebagian kelanjutan infeksi ruang
leher dalam lain. Kuman penyebab biasanya campuran kuman aerob dan aerob. 1
Abses submandibula merupakan salah satu bagian dari abses leher dalam.
Sebagian besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman,
baik kuman aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering
ditemukan adalah Stafilokokus, Streptococcus sp, Haemofilus influenza,
Streptococcus Pneumonia, Moraxtella catarrhalis, Klebsiell sp, Neisseria sp.
Kuman anaerob yang sering ditemukan pada abses leher dalam adalah kelompok
batang gram negatif, seperti Bacteroides, Prevotella, maupun Fusobacterium.4,5
Di Bagian THT-KL Rumah Sakit dr. M. Djamil Padang, periode April 2010
sampai dengan Oktober 2010 terdapat sebanyak 22 pasien abses leher dalam dan
dilakukan kultur kuman penyebab, didapatkan 73% spesimen tumbuh kuman
aerob, 27% tidak tumbuh kuman aerob dan 9% tumbuh jamur yaitu Candida sp.4
Tabel 1. Hasil kultur abses leher dalam Bagian THT-KL dr. M.Djamil
Padang periode April 2010-Oktober 2010.4
Jenis Kuman
Streptocccus haemoliticus
Klepsiella sp
Enterobacter sp
Staphylococcus aureus
Staphilococcus
epidermidis
E. Coli
Proteus vulgaris

Jumlah
6
4
3
2
1

%
37
25
19
12,5
6

1
1

6
6

2.6 Patofisiologi
Abses merupakan rongga patologis yang berisi pus yang disebabkan oleh
infeksi bakteri campuran. Bakteri yang berperan dalam proses pembentukan abses
ini memiliki enzim aktif yang disebut koagulase dan hyaluronidase. Koagulase
berfungsi untuk mendeposisi fibrin sehingga terbentuk sebuah pseudomembran
yang terbuat dari jaringan ikat, yang sering kita kenal sebagai membran abses.
Oleh karena itu, jika dilihat melalui ronsenologis, batas abses tidak jelas dan tidak

beraturan, karena jaringan ikat adalah jaringan lunak yang tidak mampu ditangkap
dengan baik dengan ronsen foto. Hyaluronidase adalah enzim yang bersifat
merusak jembatan antar sel yang terbuat dari jaringan ikat (hyalin/hyaluronat),
Padahal, fungsi jembatan antar sel penting adanya, sebagai transpor nutrisi antar
sel, sebagai jalur komunikasi antar sel, juga sebagai unsur penyusun dan penguat
jaringan. Jika jembatan ini rusak dalam jumlah besar, maka dapat diperkirakan,
kelangsungan hidup jaringan yang tersusun atas sel-sel dapat terancam
rusak/mati/nekrosis.
Infeksi pada ruang ini biasanya berasal dari gigi molar kedua dan ketiga
dari mandibula. Infeksi yang dapat menyebabkan abses ini terjadi dalam daerah
periapikal, yaitu di dalam tulang. Untuk mencapai luar tubuh, maka abses ini
harus menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak, lalu barulah
bertemu dengan dunia luar. Inilah yang disebut pola penyebaran abses.
Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu virulensi bakteri,
ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu
menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan
sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak,
sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus. Pada abses
submandibula infeksi biasanya berasal dari gigi molar kedua dan ketiga dari
mandibula. Apeks gigi molar dua dan molar tiga ditemukan di bawah perlekatan
dari musculus mylohyoid sehingga infeksi ini dapat menyebar ke ruang
submandibula.
2.7 Diagnosis
Anamnesa dan gejala klinis
Pasien biasanya akan mengeluhkan demam, air liur yang banyak, trismus
akibat keterlibatan musculus pterygoid, disfagia dan sesak nafas akibat sumbatan
jalan nafas oleh lidah yang terangkat ke atas dan terdorong ke belakang. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembengkakan di daerah submandibula
(gambar 5), fluktuatif, dan nyeri tekan. Pada insisi didapatkan material yang
bernanah atau purulent (merupakan tanda khas). Angulus mandibula dapat diraba.
Lidah terangkat ke atas dan terdorong ke belakang.2,7,8

Gambar 5. Abses submandibula10

Pemeriksaan penunjang
1.

Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan leukositosis. Aspirasi material
yang bernanah (purulent) dapat dikirim untuk dibiakkan guna uji resistensi

2.

antibiotik
Radiologis
a. Rontgen jaringan lunak kepala AP
b. Rontgen panoramik
Dilakukan apabila penyebab abses submandibuka berasal dari gigi.
c. Rontgen thoraks
Perlu dilakukan untuk evaluasi mediastinum, empisema subkutis,
pendorongan saluran nafas, dan pneumonia akibat aspirasi abses.

2.7 Penatalaksanaan
Terapi yang diberikan pada abses submandibula adalah :
1.

Antibiotik (parenteral)
Untuk mendapatkan jenis antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab,
uji kepekaan perlu dilakukan. Namun, pemberian antibiotik secara
parenteral sebaiknya diberikan secepatnya tanpa menunggu hasil kultur pus.
Antibiotik kombinasi (mencakup terhadap kuman aerob dan anaerob, gram
positip dan gram negatif) adalah pilihan terbaik mengingat kuman
penyebabnya adalah campuran dari berbagai kuman. Secara empiris
kombinasi ceftriaxone dengan metronidazole masih cukup baik. Setelah
hasil uji sensistivitas kultur pus telah didapat pemberian antibiotik dapat
disesuaikan. 2,4-6,13
Berdasarkan uji kepekaaan, kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi
terhadap terhadap ceforazone sulbactam, moxyfloxacine, ceforazone,
ceftriaxone, yaitu lebih dari 70%. Metronidazole dan klindamisin angka
sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk kuman anaerob gram negatif.
Antibiotik biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari. 2,4-6,13

2.

Bila abses telah terbentuk, maka evakuasi abses dapat dilakukan. Evakuasi
abses (gambar 4) dapat dilakukan dalam anestesi lokal untuk abses yang
dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses
dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau
setinggi os hioid, tergantung letak dan luas abses.2 Bila abses belum
terbentuk, dilakukan panatalaksaan secara konservatif dengan antibiotik IV,
setelah abses terbentuk (biasanya dalam 48-72 jam) maka evakuasi abses

3.

dapat dilakukan.14
Mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas, maka tindakan
trakeostomi perlu dipertimbangkan.14

Gambar 4. Insisi abses submandibula10


4.

Pasien dirawat inap 1-2 hari hingga gejala dan tanda infeksi reda.2

2.8 Komplikasi
Proses peradangan dapat menjalar secara hematogen, limfogen atau
langsung (perkontinuitatum) ke daerah sekitarnya. Infeksi dari submandibula
paling sering meluas ke ruang parafaring karena pembatas antara ruangan ini
cukup tipis.3 Perluasan ini dapat secara langsung atau melalui ruang mastikor
melewati musculus pterygoid medial kemudian ke parafaring. Selanjutnya infeksi
dapat menjalar ke daerah potensial lainnya.6
Penjalaran ke atas dapat mengakibatkan peradangan intrakranial, ke bawah
menyusuri selubung karotis mencapai mediastinum menyebabkan medistinitis.
Abses juga dapat menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah. Bila
pembuluh karotis mengalami nekrosis, dapat terjadi ruptur, sehimgga terjadi
perdarahan hebat, bila terjadi periflebitis atau endoflebitis, dapat timbul
tromboflebitis dan septikemia.3
2.9 Prognosis
Pada umumnya prognosis abses submandibula baik apabila dapat
didiagnosis secara dini dengan penanganan yang tepat dan komplikasi tidak
terjadi. Pada fase awal dimana abses masih kecil maka tindakan insisi dan
pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat menghasilkan penyembuhan yang
sempurna.Apabila telah terjadi mediastinitis, angka mortalitas mencapai 40-50%
walaupun dengan pemberian antibiotik. Ruptur arteri karotis mempunyai angka

mortalitas 20-40% sedangkan trombosis vena jugularis mempunyai angka


mortalitas 60%. 2,14,15

BAB 3. LAPORAN KASUS

Nama

: Tn. I Nengah Amatna

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 43 tahun

Alamat

: dusun amersa sari 2/II watukebo, jawa timur.

Cara kedatangan

: Sendiri

Jenis kasus

: Non trauma

Bagian

: Bedah

ANAMNESA
Keluhan utama: bengkak pada rahang bawah kanan.
Riwayat penyakit sekarang : Sejak lima hari sebelum masuk rumah sakit pasien
mengeluh bengkak pada rahang bawah kanan yang disertai nyeri dan sakit bila
membuka mulut serta nyeri bila menelan. Trismus (+) 20mm.
Riwayat penyakit dahulu/pengobatan :
Pernah MRS 7X di RPD karena kejang kurang lebih 2-3 menit.
Pemeriksaan fisik :
Kepala/leher

: a-, i-, c-, d-, mukosa kering. Regio submandibula dextra:

nyeri tekan (+), teraba, batas jelas, konsistensi lunak.


Thoraks

: sim, ves (+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen/punggung : turgor , BU (+)


Ekstremitas

: akral (+), edema (-)

Genitalis

AIRWAY :Lancar
Dinding dada

: Simetris

Trachea

: Di tengah

Suara nafaas tambahan

: Tidak ada

BREATHING
Gerak dada

: Simetris

Retraksi otot nafas

: Tidak ada

Krepitasi

: Tidak ada

CIRCULATION
Akral

: Hangat, merah, kering.

DISABILITY
GCS

: 4/5/6

Pupil :
Ukuran
RC

:
:

OD 4 mm,

OD (+)

OS 4 mm

OS (+)

VITAL SIGN :
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Respirasi

: 20x/menit

Diagnosa : Abses submandibula


Terapi/tindakan :
IVFD Ringer Lactat 20 lpm
Inj Ceftriaxone 1gram/12jam
Inj Antrain 3x1
Inf Metronidazole 500mg/8jam
Rencana op drainage regio submandibula dextra.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rizzo PB, Mosto MCD. Submandibular space infection: a potentially lethal
infection. International Journal of Infectious Disease 2009;13:327-33
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. 145-48
3. Ariji Y, Gotoh M, Kimura Y, Naitoh K, Kurita K, Natsume N, et all.
Odontogenic infection pathway to the submandibular space: imaging
assessment. Int. J. Oral Maxillofac. Surg. 2002; 31: 1659
4. Huang T, chen T, Rong P, Tseng F, Yeah T, Shyang C. Deep neck infection:
analysis of 18 cases. Head and neck. Ockt 2004.860-4
5. Yang S.W, Lee M.H, See L.C, Huang S.H, Chen T.M, Chen T.A. Deep neck
abscess: an analysis of microbial etiology and effectiveness of antibiotics.
Infection and Drug Resistance. 2008;1:1-8.
6. Pulungan

MR.

Pola

Kuman

abses

leher

dalam.

Diunduh

dari

http://www.scribd.com/doc/48074146/POLA-KUMAN-ABSES-LEHERDALAM-Revisi. [Diakses tanggal 7 Februari 2010]


7. Calhoun KH, Head and neck surgery-otolaryngology Volume two. 3nd Edition.
USA: Lippincott Williams and Wilkins. 2001. 705,712-3
8. Ballenger JJ. Penyakit telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Jilid 1. Edisi
ke-13. Jakarta: Bina Rupa Aksara,1994.295-304
9. Deep

Neck

Space

Infections

(updated

08/06).

Diunduh

dari

http://www.entnyc.com/coclia_deep.pdf. [Diakses tanggal 7 Februari 2010]


10. Pictures of submandibular neck. Otolaryngology Houston. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/837048-overview. [Diakses tanggal 7
Februari 2010]
11. Micheau A, Hoa D. ENT anatomy: MRI of the face and neck - interactive atlas
of human anatomy using cross-sectional imaging (updated 24/08/2008 10:51
pm).

Diunduh

dari

http://www.imaios.com/en/e-Anatomy/Head-and-

Neck/Face-and-neck-MRI. [Diakses tanggal 20 Februari 2011].

12. Yonetsu K, Izumi M, Nakamura T. Deep facial infections of odontogenic


origin: CT assessment of pathways of space involvement. AJNR Am J
Neuroradiol 1998;19:123
13. Rambe AYM. Abses Retrofaring. Fakultas kedokteran Bagian Ilmu Penyakit
Telinga Hidung Tenggorokan Universitas Sumatra Utara. Diunduh dari USU
digital library 2003. [Diakses tanggal 7 Februari 2010]
14. Gmez CM, Iglesia V, Palleiro O,

Lpez CB.

Phlegmon in the

submandibular region secondary to odontogenic infection. Emergencias


2007;19:52-53
15. Brook I, Microbiology of polymicrobial abscess and implication for therapy. J
antimicrob chemother 2002;50:805-10