Anda di halaman 1dari 11

Perawatan Untuk Infeksi Odontogen Akut

Meskipun insidensi infeksi odontogen tinggi, ada keberagaman kriteria


dalam penggunaan antibiotik untuk men-treatment infeksi odontogen
tersebut. Antibiotik yang biasa digunakan untuk infeksi odontogen adalah:

1. Amoxicillin
Merupakan derivat ampisilin yang absorbsinya tidak dipengaruhi
oleh adanya makanan dalam lambung, Antibiotik ini efektif terhadap
beberapa jenis bakteri Gram positif dan negatif yang bekerja dengan
cara menghambat sintesis dinding sel bakteri, tetapi sering dirusak
oleh penisilinase. Pemakaian pada kasus abses gingiva dan sering
digunakan secara bebas tanpa resep dokter. Diameter zona hambatan
amoksilin 20 ug terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif
menurut Oxoid dikatakan resisten bila 19 mm, sensitif 20 mm.
2. Clindamycin
Adalah antibiotic yang dapat digunakan untuk terapi infeksi yang
disebabkan oleh mikroorganisme sensitive. Penggunaannya termasuk
pada infeksi saluran pernapasan, kulit, dan jaringan lunak, darah, dan
saluran genital. Obat ini dapat juga digunakan secara topical untuk

perawatan pada acne vulgaris. Clindamysin pada umumnya aktif


terhadap s. aureus, d.pneumoniae, str.viridans, dan kuman anaerob
lainnya. Clindamycin diserap hampir lengkap pada pemberian oral.
Adanya makanan dalam lambung tidak banyak mempengaruhi
absorbsi obat ini. Setelah pemberian dosis oral 150 mg, biasanya
tercapai kadar puncak plasma 2-3 mgc/ml dalam waktu 1 jam. Masa
paruhnya kira-kira 2,7 jam
3. Metronidazole
Metronidazole ialah (1--hidrocy-etil)-2-metil-5-nitroimidazole yang
berbentuk kristal kuning muda dan sedikit larut dalm air atau alcohol.
Selain memiliki efek trikomoniacid, metronidazole juga berefek
amobicid dan efektif terhadap giardialamblia. Obat lain yang
memiliki struktur dan aktifitas mirip dengan metronidazole dan telah
digunakan di banyak negara ialah tinidazole, nimorazole, dan
ornidazole. Absorbsi metronidazole berlangsung dengan baik sesudah
pemberian oral. Satu jam setelah pemberian dosis tunggal 500mg
peroral diperoleh kadar plasma kira-kira 10g/mL. Waktu paruhnya
berkisar antara 8-10 jam, metronidazole di ekskresi melalui air liur,
air susu, cairan vagina dan cairan seminal dalam kadar yang rendah.
4. Ciprofloksasin
Merupakan golongan flourokuinolon, flourokuinolon diserap dengan
cepat melalui saluran cerna. Semua flourokuinolon mencapai kadar
puncak dalam 1-2 jam setelah pemberian obat. Penyerapan
ciprofloksasin terhambat bila diberikan bersama antasida. Golongan
obat ini didistribusi dengan baik pada beberapa organ tubuh. Sifat
lain flourokuinolon yang menguntungkan iadlah masa paruh
eliminasinya yang panjang, cukup 2 kali sehari. Kebanyakan
flourokuinolon di metabolisme di hati dan di ekskresi melalui ginjal.
Ciproflaksasin dilaporkan efektif untuk demam thypoid. Infeksi
pasca

bedah

oleh

kuman

interococcus,

Ps.

Aeruginosa,

sthapilococcus , Ps. Aeruginosa, sthapilococcus yang resisten

terhadap betalactan atau aminoglicosid, dapat diobati dengan obat


golongan ini. Namun apabila terdapat infeksi campuran dengan
kuman anaerob perlu ditambahkan metronidazole atau obat anti
kuman anaerob lainnya. Ciproflaksasin mungkin juga dapat dipakai
sebagai alternative untuk meningitis bacterial oleh kuman gram
negatif. Sediaannya ciproflaksasin: Oral 2 kali 250-750 mg/hari;
parenteral 2 kali 100-200 mg/hari IV.
5. Penisilin
Golongan penisilin merupakan kelompok antibiotic betalactan dan
diklasifikasikan

berdasarkan

spectrum

aktifitas

antibiotiknya.

Penicillin merupakan asam organic terdiri dari 1 inti siclic dengan 1


rantai samping. Intisiklik terdiri dari cincin tiazolidin dan cincin
betalactan, rantai samping merupakan gugus amino bebas yang dapat
mengikat berbagai jenis radikal. Dengan mengikat berbagai radikal
dengan gugus amino bebas tersebut akan diperoleh berbagai jenis
penicillin. Misalnya pada penicillin G, beberapa penicillin akan
berkurang aktivitas antimikrobanya dalam suasana asam, sehingga
penicillin kelompok ini harus diberikan secara parenteral. Penicillin
lain hilang aktivitasnya bila dipengaruhi enzim betalactamase yang
memecah cincin betalactan.
Penicillin G mudah rusak dalam suasana asam (pH 2). Cairan
lambung dengan pH 4 tidak terlalu merusak penicillin.

Antibiotik Golongan Penisilin


Golongan
Contoh
Aktivitas
Penisilin G dan
Penisilin G dan penisilin Sangat aktif terhadap kokus GrampenisilinV

positif, tetapi cepat dihidrolisis oleh


penisilinase atau beta-laktamase,
sehingga tidak efektif
terhadapS.aureus.

Penisilin yang resisten

metisilin, nafsilin,

Merupakan obat pilihan utama

terhadap beta-laktamase/ oksasilin, kloksasilin,

untuk terapi S.aureus yang

penisilinase

memproduksi penisilinase.

dandikloksasilin

Aktivitas antibiotik kurang poten


terhadap mikroorganisme yang
Aminopenisilin

ampisilin,amoksisilin

sensitif terhadap penisilin G.


Selain mempunyai aktivitas
terhadap bakteri Gram-positif, juga
mencakup mikroorganisme Gramnegatif, seperti
Haemophilusinfluenzae,
Escherichiacoli, dan
Proteusmirabilis.Obat-obat ini
sering diberikan bersama inhibitor
beta-laktamase (asam klavulanat,
sulbaktam, tazobaktam) untuk
mencegah hidrolisis oleh betalaktamase yang semakin banyak
ditemukan pada bakteri Gram-

Karboksipenisilin

karbenisilin, tikarsilin

negatif ini.
Antibiotik untuk Pseudomonas,
Enterobacter, dan Proteus. Aktivitas
antibiotik lebih rendah dibanding
ampisilin terhadap kokus Grampositif, dan kurang aktif dibanding
piperasilin dalam melawan
Pseudomonas. Golongan ini

ureidopenisilin

mezlosilin, azlosilin,

dirusak oleh beta-laktamase.


Aktivitas antibiotik terhadap

dan piperasilin

Pseudomonas, Klebsiella, dan


Gram-negatiflainnya. Golongan ini
dirusak oleh beta-laktamase.

Parameter-parameter Farmakokinetik untuk Beberapa Penisilin


Obat
Cara Pemberian
Penisilin alami
Penisilin G
IM, IV
Penisilin V
Oral
Penisilin Anti-stafilokokus (resisten penisilinase)
Nafisilin
IM, IV
Oksasilin
IM, IV
Kloksasilin
Oral
Dikloksasilin
Oral
Aminopenisilin
Ampisilin
Oral, IM, IV
Amoksisilin
Oral
PenisilinAnti-pseudomonas
Karbenisilin
Oral
Mezlosilin
IM, IV
Piperasilin
IM, IV
Tikarsilin
IM, IV
IM=intramuskuler ; IV=intravena.

Waktu Paruh (jam)


0,5
0,5
0,8-1,2
0,4-0,7
0,5-0,6
0,6-0,8
1,1-1,5
1,4-2,0
0,8-1,2
0,9-1,7
0,8-1,1
1,0-1,4

6. Gentamycin
Tersedia sebagai larutan steril dalam vial atau ampul 60 mg/1,5mL;
80 mg/2mL; 120 mg/3mL dan 280 mg/2mL. Salep atau krim dalam
kadar 0,1 dan 0,3%, salep mata 0,3%.
Sediaan parenteral ada di pasar tidak boleh dipergunakan untuk
suntikan intratekal atau intraventrikular (otak) karena mengandung
zat pengawet.
Tidak ada korelasi baik antara dosis dan efektivitas tetapi ada
korelasi antara kadar dalam darah dengan efektivitas. Jadi bila hasil
pengobatan dengan dosis standar tidak efektif, perlu dilakukan
pemantauan kadar dalam darah.

Pengaruh Pemberian Dosis Antibiotic Rongga Mulut


Dosis yang tepat. Tujuan dari semua terapi obat-obatan yaitu
bagaimana mengaplikasikan obat untuk menghasilkan efek yang
diinginkan tanpa menyebabkan cedera bagi host. Prosedur laboratorium
sangat membantu seorang dokter dalam menghitung dosis obat yang
tepat. Dari laboratorium dapat diperoleh informasi yang tepat mengenai
penentuan konsentrasi penghambat minimum (minimum inhibitory
concentration = MIC) dari suatu antibiotika untuk bakteri spesifik.
Antibiotika yang telah umum digunakan MIC-nya telah ditentukan. Untuk
penggunaan terapeutik, konsentrasi tertinggi antibiotika pada titik infeksi
seharusnya tiga hingga empat kali MIC.
Interval waktu yang tepat. Setiap antibiotika memiliki waktu
paruh plasma tertentu (t1/2), di mana setengah dari dosis obat yang

diabsorbsi telah diekskresikan. Interval dosis yang umum untuk


penggunaan terapeutik yaitu empat kali dari t1/2.
Rute administrasi yang tepat. Pada kasus tertentu, hanya
administrasi parenteral yang dapat menghasilkan level serum yang
adekuat bagi antibiotika. Telahterbuktibahwakonsentrasiplasmatertinggi
antibiotika lebih cepat diperoleh melalui administrasi intravena (IV)
dibandingkan dengan injeksi intramuscular (IM). Administrasi antibiotika
melalui intravena merupakan metode yang optimal untuk mencapai level
yangadekuatdalamjaringanselamaprosedurpembedahan.

Konsistensi obat dalam rute administrasi. Jika menangani


infeksi yang parah, maka administrasi parenteral merupakan metode yang
paling tepat digunakan. Hal yang cukup penting agar menjaga level
plasma tertinggi antibiotika selama periode tertentu untuk mencapai
penetrasi jaringan maksimum dan efek menghancurkan bakteri yang
efektif. Bakteri biasanya belum musnah seluruhnya hingga antibiotika
diberikan selama 5 hingga 6 hari. Jika infeksi yang terjadi cukup ringan
dan tidak membutuhkan terapi parenteral, maka pencapaian level plasma
teringgi melalui terapi oral dapat dianggap cukup.
Kombinasi terapi antibiotika. Hasil yang umum dari terapi
kombinasi antibiotika yaitu paparan spektrum yang luas yang dapat
menekan flora normal host dan meningkatkan kemungkinan timbulnya
resistensi bakteri. Meski demikian, terdapat beberapa situasi di mana
penggunaan kombinasi antibiotika diindikasikan. Situasi yang utama yaitu

ketika spektrum antibiotika perlu ditingkatkan pada pasien dengan sepsis


akibat penyebab yang tidak diketahui. Situasi yang kedua yaitu jika
diperlukan peningkatan efek bakterisida untuk melawan organisme
spesifik.
Resistensi bakteri. Suatu bakteri dikatakan resisten terhadap
antibiotik tertentu bila pertumbuhan bakteri tersebut tidak bisa dihambat
oleh antibiotik pada konsentrasi minimal yang dapat ditolerir oleh inang
atau hospes . Bakteri yang mengalami resistensi pertumbuhannya tidak
terganggu oleh antibiotik.
Resistensi

mikroorganisme

terhadap

antibiotik

dibedakan

menjadi resistensi bawaan ( primer ), resistensi dapatan ( sekunder ) dan


resistensi episomal. Resistensi primer merupakan resistensi yang menjadi
sifat alami dari mikroorganisme tertentu contoh bakteri pembentuk
enzim penisilinase secara alam dapat menguraikan penisilin, bakteri yang
mempunyai kapsul pada dinding selnya yang dapat melindunginya dari
paparan antibiotik. Resistensi sekunder terjadi akibat kontak dengan
antimikroba dalam waktu yang cukup lama dan frekwensi tinggi
sehingga terjadi mutasi pada bakteri, resistensi juga bisa terjadi karena
adanya mekanisme adaptasi aktivitas bakteri untuk melawan obat misal
dengan membentuk enzim, bakteri memperkuat dinding selnya sehingga
dinding sel bersifat impermiabel. Resistensi episomal disebabkan faktor
genetik diluar kromosom, terjadi karena berpindahnya plasmid dari
bakteri yang resisten ke bakteri lain sehingga bakteri baru menjadi

resisten ( Pratiwi, 2008 ). Bakteri atau mikroorganisme mengalami


resisten terhadap antibiotik disebabkan karena:
1. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang merusak obat contohnya
Staphylococcus sp yang resisten terhadap penisilin G disebabkan karena
bakteri membentuk enzim laktamase , enzim tersebut dapat merusak
penisilin sehingga bakteri tidak akan terhambat pertumbuhannya.
2. Mikroorganisme merubah permiabilitas dinding selnya sehingga obat
tidak bisa masuk ke dalam sel.
3. Mikroorganisme merubah struktur target obat, contoh bakteri yang
resisten terhadap eritromisin dapat merubah subunit 50S ribosom.
4. Mikroorganisme membentuk jalur metabolisme baru untuk menghindari jalur yang
dihambat obat contoh beberapa bakteri yang resisten terhadap sulfonamid tidak
membutuhkan PABA ( p-aminobenzoat ) tetapi dengan menggunakan asam folat.
14
Resistensi dapat terjadi didalam dan diluar kromosom, resistensi
didalam kromosom terjadi akibat mutasi spontan dalam lokus yang
mengontrol kepekaan antibiotik yang diberikan atau karena kehilangan
PBP ( Protein Binding Penicillin ), sedangkan resistensi diluar
kromosom dipengaruhi oleh plasmid. Plasmid mengkode enzim untuk
merusak antibiotik tertentu ( Jawetz, 2005 ). Satu spesies bakteri tidak
selalu mempunyai pola resistensi sama terhadap obat yang sama, bila

diisolasi dari individu yang berbeda bahkan dari individu yang sama bisa
berbeda pola resistensinya

dari waktu kewaktu hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya
jenis antibiotik, dosis, cara pemakaian dan lamanya pemakaian obat yang
pernah dikonsumsi oleh tiap individu. Resistensi terhadap antibiotik dapat
dihindari dengan membatasi penggunaannya dan menggunakan antibiotik
sesuai aturan.