Anda di halaman 1dari 9

PEMBERIAN ZAT BESI (Fe) DALAM KEHAMILAN

Oleh
:
Is Susiloningtyas
Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas
Islam Sultan Agung Semarang
Tablet besi berguna untuk kesehatan ibu dan bayi
Proses haemodilusi yang terjadi pada masa hamil dan meningkatnya kebutuhan ibu
dan janin, serta kurangnya asupan zat besi lewat makanan mengakibatkan kadar Hb ibu
hamil menurun. Untuk mencegah kejadian tersebut maka kebutuhan ibu dan janin akan tablet
besi harus dipenuhi. Anemia defisiensi besi sebagai dampak dari kurangnya asupan zat besi
pada kehamilan tidak hanya berdampak buruk pada ibu, tetapi juga berdampak buruk pada
kesejahteraan janin. Hal tersebut dipertegas dengan penelitian yang dilakukan yang
menyatakan anemia defisiensi besi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan
kelahiran prematur. Lebih lanjut dalam penelitiannya tentang mekanisme biologi dampak
pemberian zat besi pada pertumbuhan janin dan kejadian kelahiran premature melaporkan
anemia dan defisiensi besi dapat menyebabkan ibu dan janin menjadi stres sebagai akibat
diproduksinya corticotropin - releasing hormone (CRH). Peningkatan konsentrasi CRH
merupakan faktor resiko terjadinya kelahiran prematur, pregnancy - induced hypertension.
Disamping itu juga berdampak pertumbuhan janin.
Temuan lain pada penelitian yang dilakukan adalah pemberian tablet besi sebelum
hamil dapat meningkatkan berat badan lahir bayi. Penelitian tersebut juga didukung oleh
penelitian Cristian (2003) dan Palma (2007) yang menyatakan suplemen zat besi
berhubungan dengan resiko BBLR pada ibu yang mengalami anemia.
Gangguan pertumbuhan janin yang ditimbulkan tergantung pada periode pertumbuhan
apa ibu mengalami anemia. Penelitian yang dilakukan Georgieftt (2008) menyatakan kejadian
defisiensi besi pada awal kehidupan janin berdampak pada gangguan neural, metabolisme
monoamine dan proses myelinasi. Kebutuhan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan
intra uterin diperoleh janin dari nutrisi yang ada di tubuh ibunya. Kebutuhan janin ditransfer
dari tubuh ibu melaluilasenta. Kebutuhan janin yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan
terganggunya pertumbuhan dan perkembangan janin.
Metabolisme tubuh membutuhkan oksigen agar dapat menghasilkan energi dan
komponen lain yang dibutuhkan tubuh. Ketersediaan oksigen besi dalam tubuh ibu dapat
dilihat dari adanya tanda dan gejala: letih, lemah, lesu, pusing dan mudah lupa sebagai akibat
tidak terbentuknya energi secara
optimal.
2.1.2 Fungsi Vitamin A
2.1.2.1 Fungsi vitamin A pada metabolisme umum
Pada metabolisme umum fungsi ini tampaknya erat berkaitan dengan
metabolisme protein.
a.

Integritas epitel

Pada defisiensi vitamin A terjadi gangguan struktur maupun fungsi


epitelium, terutama yang berasal ektoderm. Epitel kulit menebal dan terjadi
hyperkeratosis. Kulit menunjukkan xerosis (kering) dan garis- garis
gambaran kulit tampak tegas. Pada mulut folikel rambut terjadi gumpalan
kreatin yang dapat diraba keras, memberikan kesan berbonjol- bonjol
seperti kulit kodok tanah (toadskin). Kondisi ini disebut juga phrenoderma
atau hyperkeratosis follicularis. Permukaan kulit tersebut sering pula terasa
gatal (pruritus).
b.

Pertumbuhan
Pada defisiensi vitamin A terjadi hambatan pertumbuhan. Rupanya dasar
hambatan pertumbuhan ini karena hambatan sintesa protein. Gejala in
tampak terutama pada anak- anak (BALITA), yang sedang ada dalam
periode pertumbuhan yang sangat pesat. Tampaknya sintesa protein
memerluka vitamin A, sehingga pada defisiensi vitamin ini terjadi hambatan
sintesa protein yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan. Telah
dilaporkan bahwa pada defisiensi vitamin A terdapat penurunan sintesa
RNA, sedang RNA merupakan satu faktor penting pada proses sintesa
protein.

c.

Permeabilitas membran
Berbagai percobaan in vitro maupun in vivo menunjukkan bahwa vitamin A
berperan dalam mengatur permeabilitas membran sel maupun membran dari
suborganel selular. Melalui pengatura permeabilitas membran sel, vitamin A
mengatur konsentrasi zat- zat gizi di dalam sel yang diperlukan untuk
metabolisme sel.

d.

Pertumbuhan Gigi
Ameloblast yang membentuk email sangat dipengaruhi oleh vitamin A.
Pada kondisi kekurangan vitamin A ketika bakal gigi dibentuk, terjadi
hambatan pada fungsi ameloblast, sehingga terbentuklah email gigi yang
defektif dan sangat peka terhadap pengaruh faktor- faktor cariogenik.

e.

Produksi Hormon Steroid


Diketahui bahwa vitamin A berperan di dalam sintesa hormon- hormon
steroid. Terdapat sejumlah hormon steroid yang bersangkutan dengan
proses kehamilan dan proses pengaturan keseimbangan garam dan cairan

tubuh. Berbagai penelitian dan percobaan menunjukkan bahwa pada


defisiensi vitamin A terjadi hambatan pada sintesa hormon- hormon steroid.

SINOPSIS TESIS
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM DI
PUSTU TAMANSARI MUMBULSARI TAHUN 2014
Disusun untuk memenuhi persyaratan seleksi masuk Pascasarjana Kebidanan Universitas Brawijaya
Malang
Oleh :
DIAN ABY RESTANTY

ASI eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan,
diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih,sampai bayi
berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap
diberi ASI sampai bayi berumur dua tahun.
Manfaat

2.2. Manfaat ASI


Menurut Depkes RI (2002), manfaat pemberian ASI segera setelah lahir antara lain :
1.Menyusui dalam waktu 30 menit setelah melahirkan akan merangsang produksi dan
pengeluaran ASI.
2.Bayi yang lahir sehat pada jam pertama dalam keadaan waspada dan mulut siap mengisap.
3.Menyusui bayi segera setelah lahir menyebabkan terjadinya kontak kulit bayi baru lahir
dengan kulit ibu secara langsung akan menghangatkan bayi, mencegah terjadi hipotermi
(penurunan suhu tubuh), dan mempererat hubungan batin antara ibu dan bayi.
Menurut Roesli (2007), ada 4 manfaat pemberian ASI,di antaranya:
1.Manfaat bagi bayi
1.1.Sebagai nutrisi
Setiap mamalia secara alamiah dipersiapkan untuk mempunyai sepasang atau lebih kelenjar
air susu yang akan memproduksi air susu khusus untuk makanan bayinya.
1.2.Meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Zat kekebalan yang terdapat pada ASI akan melindungi bayi dari penyakit diare. ASI juga
akan menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi telinga, pilek dan penyakit
alergi. Bayi dengan ASI eksklusif ternyata jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak
mendapat ASI eksklusif. Anak yang sehat akan lebih berkembang kepandaiannya daripada
anak yang sering sakit terutama bila sakitnya berat.
1.3.Meningkatkan kecerdasan
Kecerdasan ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor
genetik ini tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa, sedangkan faktor lingkungan ini
mempunyai banyak aspek dan dapat dimanipulasi. Secara garis besarnya adalah melalui pola
asuh, asih dan asah. Pola asuh menunjukkan kebutuhan bayi untuk pertumbuhan otaknya.
Pola asih menunjukkan kebutuhan bayi untuk perkembangan emosi dan spiritualnya,
sedangkan pola asah menunjukkan kebutuhan bayi untuk merangsang perkembangan
kecerdasan anak secara optimal.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, dapat dimengerti bahwa pertumbuhan otak bayi yang
diberi ASI (eksklusif) selama 6 bulan akan optimal dengan kualitas yang optimal pula. Hasil
penelitian dr. Lucas dalam Roesli (2007) terhadap bayi prematur membuktikan bahwa bayi
prematur yang diberi ASI (eksklusif) mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi secara
bermakna (8,3 poin lebih tinggi) dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (eksklusif).
1.4.Meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan merasakan kasih sayang
ibunya. Ia juga akan merasa tenteram, terutama karena masih dapat mendengar detak jantung
ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindung dan disayangi inilah
yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan membentuk kepribadian yang
percaya diri dan dasar spiritual yang baik.
2.Manfaat bagi ibu
2.1. Mengurangi perdarahan setelah melahirkan
Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadinya perdarahan
setelah melahirkan akan berkurang. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar oxytocin yang
berguna untuk penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti. Hal
ini akan menurunkan angka kematian ibu melahirkan.
2.2. Mengurangi terjadinya anemia
Menyusui mengurangi terjadinya kekurangan darah atau anemia karena kekurangan zat besi.
Menyusui mengurangi perdarahan.
2.2.Menjarangkan kehamilan
Menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah dan cukup berhasil. Selama ibu
memberi ASI dan belum haid, 98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah
melahirkan dan 96% tidak akan hamil sampai usia bayi 12 bulan.
2.3.Mengecilkan rahim
Kadar oxytocin ibu menyusui yang meningkat akan sangat membantu rahim ke ukuran
sebelum hamil. Proses pengecilan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan ibu yang tidak
menyusui.
2.4.Lebih cepat langsing kembali
Oleh karena menyusui memerlukan energi, maka tubuh akan mengambilnya dari lemak yang
tertimbun selama hamil. Dengan demikian berat badan ibu akan menyusut atau lebih cepat
kembali ke berat badan sebelum hamil.
2.5.Mengurangi kemungkinan menderita kanker
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menyusui akan melindungi ibu dari penyakit kanker
payudara. Pada umumnya bila semua wanita dapat melanjutkan menyusui sampai bayi usia 2
tahun, diduga kejadian kanker payudara akan berkurang sampai 25%. Menyusui juga akan
melindungi ibu dari penyakit kanker indung telur. Risiko terkena kanker indung telur pada
ibu yang menyusui berkurang sampai 20-25%.
2.6.Lebih ekonomis/murah
Pemberian ASI akan menghemat pengeluaran untuk berobat bayi, pengeluaran untuk susu
formula, perlengkapan bayi, dan biaya perawatan bayi selama di rumah sakit.
2.7.Tidak merepotkan dan hemat waktu
ASI dapat segera diberikan pada bayi tanpa harus memasak atau menyiapkan air, tanpa harus
mencuci botol dan tanpa menunggu agar susu tidak terlalu panas, tidak merepotkan terutama
pada malam hari. Apalagi kalau persediaan susu habis pada malam hari maka kita akan repot
mencarinya.
2.9.Memberi kepuasan bagi ibu
Ibu yang berhasil memberikan ASI terutama ASI eksklusif akan merasakan kepuasan,
kebanggaan dan kebahagiaan yang mendalam.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Untuk menciptakan masyarakat yang sehat dinas kesehatan dan puskesmas melakukan
berbagai upaya seperti, bagian dari sistem kesehatan nasional dengan melibatkan peran serta
kader dan masyarakat untuk menangani masalah gizi yang pada hakikatnya adalah masalah
kesehatan masyarakat namun penanggulangan tidak dapat dilakukan lewat pendekatan medis
dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh
karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait
(Supariasa. 2002).
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa
ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian
pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi anak yang bersangkutan,
sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN.
Pengertiannya S adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu, K adalah jumlah balita
yang terdaftar dan yang memiliki KMS, D adalah jumlah balita yang datang ditimbang bulan
ini, N adalah jumlah balita yang naik berat badanya. Pencatatan dan pelaporan data SKDN
untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan, kesinambungan kegiatan penimbangan
posyandu, tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan, kecenderungan status gizi,
efektifitas kegiatan. (Suhardjo. 1996).
1.2 Tujuan
1. Pembaca mengerti mengenai SKDN
2. Memberitahu pembaca mengenai gambaran status gizi melalui balok SKDN
3. pembaca mengetahui sistem pencatatan dan pelaporan data SKDN
4. Menjelaskan pengolahan data SKDN
1.3 Rumusan Masalah
Apa kepanjangan SKDN
Bagaimana gambaran status gizi melalui balok SKDN
Bagaimana sistem pelaporan data SKDN
Bagaimana cara pengolahan data SKDN
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa
ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian
pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi anak yang bersangkutan,
sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN.
SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri mempunyai
singkatan yaitu sebagai berikut:

S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,


K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,
N= jumlah balita yang naik berat badanya.
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan (K/S),
kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam
kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D), efektifitas kegiatan (N/S). (Suhardjo. 1996).
2.2 Perhitungan SKDN
Pemantauan status gizi dilakukan dengan memanfaatkan data hasil penimbangan bulanan
posyandu yang didasarkan pada indikator SKDN tersebut. Indikator yang dipakai adalah N/D
(jumlah anak yang berat badannya naik dibandingkan dengan jumlah anak yang ditimbang
dalam %). Peramalan dilakukan dengan mengamati kecenderungan N/D dan D/S setiap bulan
pada wilayah masing-masing wilayah kecamatan. Pematauan status gizi dilaporkan setiap
bulan dengan mempergunakan format laporan yang telah ada.
Balita yang datang dan ditimbang (D/S)
Pengertian
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan ditimbang berat
badannya.
Definisi Operasional
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan ditimbang berat
badannya (D) di posyandu maupun di luar posyandu satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu.
Balita yang naik berat badannya (N/D)
Definisi Operasional Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang ditimbang (D) di
posyandu maupun di luar posyandu yang berat badannya naik dan mengikuti garis
pertumbuhan pada KMS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Rumusnya
Contoh Kasus :
Dari laporan kegiatan Gebyar Posyandu 27 pada tanggal 27 Desember 2008, didapat data,
seperti ; (DKI Jakarta) tercatat jumlah seluruh Balita yang ada sebesar 553.775 Balita, dan
sebanyak 425.946 diantaranya telah memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS), sementara itu,
sebanyak 279.371 balita ditimbang berat badannya, sedangkan balita yang naik berat
badannya adalah sebanyak 148.642 anak.
Cara Perhitungan:
Cakupan kegiatan program (output) yaitu:
Jumlah Kelompok masyarakat yang sudah diberikan pelayanan
kesehatan (Numerator)
Jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program

(Denominator)
Dengan konstanta yang digunakan adalah persentase (%)
Jumlah kelompok masyarakat dengan konstanta
Cakupan Kegiatan yang sudah diberikan pelayanan digunakan adalah
Program (Output) kesehatan (numerator) X persentase (%)
yaitu
Jumlah kelompok masyarakat
Yang menjadi sasaran program
denominator
Cakupan balita yang memiliki KMS (K) :
= 425.946/553.775 X 100% = 76,92%
Cakupan balita yang ditimbang (D) :
= (279.371)/(553.775) X 100% = 50,45% dari 553.775 balita
Cakupan balita yang timbangannya naik (N) :
= 148.642/553.775 X 100% = 53,21% dari 279.371 balita yang ditimbang
Dan sebesar tercatat, 21.300 atau 7,62% balita dengan status Kurang Gizi (KG) NDKS :
5,993 atau 2,14% balita dengan status Gizi Buruk (GB).
2.2 Pengolahan
Dalam pengolahan penghitungan N dan D harus benar. Misalnya seorang anak setelah
ditimbang mengalami kenaikan berat badan 0,1 kg,ketika data berat tersebut dipindahkan ke
KMS ternyata tidak naik mengikuti pita warna, pada contoh ini anak tidak dikelompokkan
sebagai balita yang mengalami kenaikan BB (lihat buku pemantau pertumbuhan). Data
SKDN dihitung dalam bentuk jumlah misalnya S,K,D,N atau dalam bentuk proporsi N/D,
D/S, K/S dan BMG/D untuk masing-masing posyandu. Biasanya setelah melakukan kegiatan
di Posyandu atau di pospenimbangan petugas kesehatan dan kader Posyandu (petugas
sukarela) melakukan analisis SKDN. Analisinya terdiri dari:
Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu jumlah balita yang
ditimbang dibagi dengan jumlah balita yangada di wilayah kerja Posyandu atau dengan
menggunakan rumus (D/Sx 100%), hasilnya minimal harus mencapai 80%, apabila dibawah
80% maka dikatakan partisipasi masyarakat untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan berat badan sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada balita tidak akan
terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader Posyandu akan memungkinkan balita ini
tidak diketahui pertumbuhan berat badannya atau pola pertumbuhan baerat badannya.
Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan jumlah
seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu atau dengan menggunakan rumus (K/S x 100%).
Hasil yang didapat harus 100%. Alasannya balitabalita yang telah mempunyai KMS telah
mempunyai alat instrument untuk memantau berat badannya dan data pelayanan kesehatan

lainnya. Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS makan pada dasarnya program
POSYANDU tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah atau bisa juga dikatakan balita
tersebut. Khusus untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini menggunakan rumus (S-K)/S x
100%), yaitu jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu dikurangi Jumlah balita yang
mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu
tersebut. Semakin tinggi Presentasi Kehilangan kesempatan, maka semakin rendah kemauan
orang tua balita untuk dapat memanfaatkan KMS. Padahal KMS sangat baik untuk memantau
pertumbuhan berat badan balita atau juga pola pertumbuhan berat badan balita
Indikator lainnya2 adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang naik berat badannya
dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang. Sebaiknya semua balita yang
ditimbang harus mengalami peningkatan berat badan.
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indicator Drop-Out, yaitu balita yang sudah
mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi kemudian tidak
pernah datang lagi di Posyandu untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumusnya
yaitu jumlah balita yang telah mendapatkan KMS dikurangi dengan jumlah balitayang
ditimbang, dan hasilnya dibagi dengan balita yang mempunyai KMS ((K-D)/K x 100%).
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indikator perbandingan antara jumlah balita yang
status gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM) dibagi dengan banyaknya jumlah balita
yang ditimbang pada bulan penimbangan (D). Rumusnya adalah (BGM/D 100%)A.
2.3 Cara Penyajian
Komponen Output
Menurut Azrul Azwar, DR,dr, MPH, output merupakan hasil dari statu pekerjaan
administrasi, dalam ilmu kesehatan dikenal dengan nama pelayanan kesehatan (health
service). Kinerja output disini meliputi cakupan hasil program gizi di Posyandu yang dapat
dilihat dalam bentuk persentase cakupan yang berhasil dicapai oleh suatu Posyandu. Adapun
cakupan hasil program gizi di Posyandu tersebut adalah sebagai berikut :
Cakupan Program (K/S)
Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS)
dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase
K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah tersebut yang telah memiliki
KMS atau berapa besar cakupan program di daerah tersebut telah tercapai.
Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu
dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100 %.
Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah
tersebut yang telah tercapai.

Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K)


Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di
Posyandu dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah memiliki KMS kemudian dikali
100%. Persentase D/K disini, menggambarkan berapa besar kelangsungan penimbangan di
daerah tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D)
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita yang naik berat badan
(BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di Posyandu kemudian dikali 100%.
Persentase N/D disini, menggambarkan berapa besar hasil penimbangan didaerah tersebut
yang telah tercapai.