Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Theodora Catriona Tanaya


Fakultas
: Fakultas MIPA
Gugus/No Absen : 13/116

SEMUA ANAK PATUT BERSEKOLAH, STOP MEMPERKERJAKAN


ANAK DI BAWAH UMUR

Anak adalah generasi penerus bangsa yang sebisa mungkin mendapat pendidikan
setinggi mungkin, setidaknya pendidikan hingga jenjang SMA, pendidikan sudah menjadi
sesuatu yang penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju, Negara yang maju pasti
memiliki pendidikan yang bagus dan terjamin, bangsa Indonesia sedang terus berusaha
mewujudkan Indonesia yang maju. Namun keinginan tersebut terhalang oleh kemiskinan
dan kurangnya minat dalam aspek pendidikan, banyak sekali anak-anak yang tidak dapat
bersekolah karena kesulitan ekonomi, sehingga mereka hanya bisa membantu orang tua,
bahkan ada juga yang bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarganya.
Padahal seharusnya anak-anak tersebut berhak menikmati masa-masa dalam mengenyam
pendidikan setinggi mungkin. Pemerintah telah menerapkan program sekolah gratis namun

pada kenyataannya masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah, entah mengapa
kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya tak kunjung meningkat, masih banyak
orang yang secara langsung ataupun tidak langsung meminta atau memperkerjakan anak di
bawah umur.
Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja
anak dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka, dengan gaji
yang kecil atau pertimbangan bagi perkembangan kepribadian mereka, keamanannya,
kesehatan, dan prospek masa depan. Di beberapa negara, hal ini dianggap tidak baik bila
seorang anak di bawah umur tertentu, tidak termasuk pekerjaan rumah tangga dan
pekerjaan sekolah. Seorang 'bos' dilarang untuk mempekerjakan anak di bawah umur,
namun umum minimumnya tergantung dari peraturan negara tersebut.
Meskipun ada beberapa anak yang mengatakan dia ingin bekerja (karena
bayarannya yang menarik atau karena anak tersebut tidak suka sekolah), hal tersebut tetap
merupakan hal yang tidak diinginkan karena tidak menjamin masa depan anak tersebut.
Namun beberapa kelompok hak pemuda merasa bahwa pelarangan kerja di bawah umur
tertentu melanggar hak manusia.
Penggunaan anak kecil sebagai pekerja sekarang ini dianggap oleh negara-negara
kaya sebagai pelanggaran hak manusia, dan melarangnya, tetapi negara miskin mungkin
masih mengijinkan karena keluarga seringkali bergantung pada pekerjaan anaknya untuk
bertahan hidup dan kadangkala merupakan satu-satunya sumber pendapatan.
Salah satu contoh yang pernah saya lihat, di perempatan lampu merah jalan raya
kuta, bali banyak sekali anak-anak yang mengemis dan tidak bersekolah, mengemis agar
dapat melanjutkan hidup mereka dan keluarga. Melihat itu saya sangat sedih karena anakanak yang seharusnya bersekolah malah harus bekerja bahkan mengemis-ngemis demi
melanjutkan hidup.
Bercermin dari hal itu, saya sebagai mahasiswa Universitas Udayana berencana
membentuk sebuah komunitas bernama mari sekolah yang bisa membantu dalam
menyadarkan orang tua dan anak-anak bahwa sekolah adalah suatu hal yang penting di
jaman ini, membantu anak-anak agar mau dan bisa bersekolah, memberi sosialisasi
mengenai pentingnya bersekolah.
Komunitas ini memiliki suatu program yaitu menyadarkan kepada masyarakat akan
pentingnya sekolah dengan cara pendekatan kepada masyarakat, sosialisasi mengenai
pentingnya pendidikan dan membantu mereka untuk dapat bersekolah.
Anak adalah generasi penerus bangsa yang wajib mengenyam pendidikan demi
mewujudkan Negara Indonesia yang maju. Jangan memperkerjakan anak di bawah umur,

biarkan mereka mendapat kesempatan untuk bersekolah. Pekerja di bawah umur ? tidak
sekolah ? mau jdi apa Negara kita kelak ? Tunjukkan aksi-aksi nyata yang memberi
kontribusi terhadap masa depan Indonesia yang maju dan lebih baik melalui komunitas
mari sekolah. Melalui komunitas mari sekolah, mari kita kembalikan kesadaran akan
pentingnya sekolah demi mewujudkan Negara Indonesia yang maju.

SEMUA ANAK PATUT BERSEKOLAH, STOP MEMPERKERJAKAN ANAK DI


BAWAH UMUR !