Anda di halaman 1dari 27

EPISTAKSIS

Oleh:
Angela Sandi Tagaroi Rahasia
11-2009-136
Pembimbing:
Dr.Asnominanda,Sp.THT-KL
SMF Ilmu Penyakit THT
RUSPAU Esnawan Antariksa 2011

Pendahuluan
Epistaksis terjadi pada 60% penduduk di dunia

semasa hidupnya.
Sekitar 6% dari angka tersebut mencari pertolongan

medis.
Prevalensinya

meningkat u/ anak-anak <10 tahun

serta pada usia >35 tahun.

 Laki laki > perempuan

Perdarahan dari hidung tersebut dapat terjadi sebagai akibat dari kelainan lokal ataupun kelainan sistemik.Definisi Epistaksis (mimisan) adalah perdarahan dari rongga hidung. yang keluar melalui lubang hidung ataupun kebelakang (koana). .

Epistaksis anterior 2. Epistaksis posterior .Klasifikasi 1.

1. dan dapat berhenti sendiri  Kebanyakan terjadi pada usia yang lebih muda  epistaksis yang paling sering terjadi (90%)  Tipe yang tidak terlalu parah . Epistaksis Anterior  Pleksus Kisselbach di septum bagian anterior (litle’s area) atau Arteri Ethmoidalis Anterior  Perdarahan biasanya ringan.

Epistaksis Posterior Pleksus Woodruff’s di bagian belakang cavum nasi atau Arteri Ethmoidalis Posterior Perdarahan biasanya lebih hebat dan jarang dapat berhenti sendiri Biasanya terjadi pada usia yang lebih tua dan bersifat lebih parah .2.

Pembuluh darah pada hidung .

Epistaksis Anterior Epistaksis Posterior .

Etiologi Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa diketahui penyebabnya. . atau dapat pula disebabkan oleh kelainan lokal pada hidung atau kelainan sistemik. Kadang-kadang jelas ditimbulkan oleh trauma.

kelainan anatomi. tumor. perubahan tekanan atmosfer. infeksi sistemik. infeksi lokal. benda asing. pengaruh udara lingkungan. kelainan pembuluh darah. kelainan darah.……Etiologi Kelainan lokal : trauma. kelainan hormonal ataupun kelainan kongenital . Kelainan sistemik : penyakit kardiovaskuler.

benturan ringan.  Epistaksis sering juga terjadi karena adanya spina septum yang tajam.. kena pukul. . bersin. jatuh atau kecelakaan lalu lintas.Etiologi  Trauma Mengorek hidung.…. Perdarahan dapat terjadi di tempat spina itu sendiri atau pada mukosa konka yang berhadapan bila konka itu sedang mengalami pembengkakan. mengeluarkan ingus terlalu keras. Benda asing tajam atau trauma pembedahan.

sifilis atau lepra.Kelainan pembuluh darah (lokal) Kongenital. Infeksi lokal Rhinitis atau rinosinusitis. . tuberculosis. Bisa juga pada infeksi spesifik seperti rhinitis jamur. tipis. lupus. jaringan ikat dan sel-selnya lebih sedikit. pembuluh darah lebih lebar.

dan angifibroma (Neoplasma berkembang cepat membentuk jaringan baru beserta pembuluh darah. Tumor Hemangioma. dapat menyebabkan . sirosis hepatis atau epistaksis. nefritis kronik. diabetes mellitus. pembuluh darah yang terbentuk tidak sempurna dan sangat ringkih dan menyebabkan mudah pecah sehingga terjadi perdarahan).  Penyakit Kardiovaskuler Hipertensi dan kelainan pembuluh darah seperti yang terjadi pada arteriosklerosis. Namun. karsinoma.

 Infeksi sistemik Yang terutama menyebabkan epistaksis adalah demam berdarah (dengue hemorrahargic fever). defisiensi faktor pembekuan (misalnya hemophilia. VonWillebrand’s disease. Kelainan Darah Trombositopenia. influenza dan morbilli. hepatic failure) keganasan darah (leukemia). Demam tifoid. disfungsi platelet (misalnya pada uremia dan penggunaan obat NSAID).  Kelainan kongenital Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah teleangiektasis hemoragik herediter (Hereditary hemorrahargic teleangiectasis Osler-Rendu-Weber disease). . bermacam-macam anemia.

Gangguan hormonal dan obat antikoagulan Epistaksis juga dapat terjadi pada wanita hamil atau menopause hormonal.Perubahan udara dan tekanan atmosfer Suhu sangat dingin atau udara kering. karena pengaruh perubahan . Hal serupa juga bisa disebabkan adanya zat-zat kimia di tempat industri yang menyebabkan keringnya mukosa hidung.

Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan epistaksis adalah memperbaiki keadaan umum. mencari sumber perdarahan. menghentikan perdarahan dan mencari faktor penyebab untuk mencegah perdarah berulang .

pernafasan serta tekanan darahnya). prinsip life saving. perlu dibersihkan atau dihisap .1. Perbaiki keadaan umum Perhatikan keadaan umumnya (nadi. ABC’s. Jalan nafas mungkin dapat tersumbat oleh darah atau bekuan darah.

badan dan tangan dipeluk.  Lampu kepala. Mencari sumber perdarahan  Apakah perdarahan berasal dari anterior atau posterior. Anamnesis yang lengkap. . spekulum hidung dan alat penghisap. Harus diperhatikan jangan sampai darah mengalir ke saluran nafas bawah.2.  Posisi duduk. biarkan darah mengalir keluar dari hidung (dimonitor). Jika lemah sebaiknya setengah duduk atau berbaring dengan kepala ditinggikan.  Pasien anak-anak duduk dipangku. kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak.

kaustik dengan larutan Nitras Argenti (AgNO3) 25-30% atau elektrokaustik diberi krim antibiotik).000 atau pantocain atau lidocain 2%. Menghentikan perdarahan Epistaksis Anterior  Metode Trotter  Tampon adrenalin 1/5000-1/10.3.  Bila sumber perdarahan dapat terlihat.  Tampon Anterior (sesudahnya area tersebut .

Tampon anterior .

Epistaksis Posterior Tampon Posterior (Bellocq) Tampon ini dibuat dari kasa padat dibentuk kubus atau bulat dengan diameter 3 cm. 2 buah di satu sisi dan sebuah di sisi yang berlawanan. Pada tampon ini terikat 3 utas benang. Kateter Folley dengan balon. .

Tampon posterior .

4. faal hemostasis. . uji faal hati dan ginjal.  Riwayat penyakit. Mencegah Perdarahan Berulang  Rinoskopi anterior  Rinoskopi posterior  Pengukuran tekanan darah  Rontgen sinus  Pemeriksaan darah tepi lengkap.

insufisiensi koroner sampai infark miokard)  Infus dan transfusi harus dapat segera diberikan .  Aspirasi darah ke dalam saluran nafas bawah  Syok. anemia dan gagal ginjal  Turunnya tekanan darah secara mendadak (hipoksia. iskemia serebri.Komplikasi dan pencegahan  Komplikasi dari epistaksis dari usaha penanggulangan.

septikemia atau toxic shock syndrome. otitis media. dan setelah 2-3 hari tampon harus dicabut. Pembuluh darah terbuka : infeksi  Pemasangan tampon dapat menyebabkan rino-sinusitis. akibat mengalirnya darah secara retrograde melalui duktus nasolakrimalis .  Harus selalu diberikan antibiotik pada setiap pemasangan tampon hidung.  Hemotimpanum sebagai akibat mengalirnya darah melalui Tuba eustachius  Air mata berdarah (bloody tears).

tampon Bellocq >> Laserasi palatum mole atau sudut bibir Kateter balon atau tampon balon tidak boleh dipompa terlalu keras karena dapat menyebabkan nekrosis mukosa hidung atau septum .