Anda di halaman 1dari 7

INTRUSI AIR LAUT

Posted on July 6, 2010 by Vienastra

Septian Vienastra, S.Si., M.Eng.
vienastra@ugm.ac.id
@vienastra
Kawasan pantai adalah kawasan yang secara topografi merupakan dataran rendah dan dilihat
secara morfologi berupa dataran pantai. Secara geologi, batuan penyusun dataran umumnya
berupa endapan aluvial yang terdiri dari lempung, pasir dan kerikil hasil dari pengangkutan dan
erosi batuan di bagian hulu sungai. Umumnya batuan di dataran bersifat kurang kompak,
sehingga potensi airtanahnya cukup baik. Akuifer di dataran pantai yang baik umumnya berupa
akuifer tertekan, tetapi akuifer bebas pun dapat menjadi sumber airtanah yang baik terutama pada
daerah-daerah pematang pantai/gosong pantai. Permasalahan pokok pada kawasan pantai adalah
keragaman sistem akuifer, posisi dan penyebaran penyusupan/intrusi air laut baik secara alami
maupun secara buatan yang diakibatkan adanya pengambilan airtanah untuk kebutuhan
domestik, nelayan, dan industri. Oleh karena itu, kondisi hidrogeologi di kawasan ini perlu
diketahui dengan baik, terutama perbandingan antara kondisi alami dan kondisi setelah ada
pengaruh eksploitasi.

Gambar 1. Penampang Melintang Pertemuan Airtanah dan Air Laut
Air laut memiliki berat jenis yang lebih besar dari pada air tawar akibatnya air laut akan mudah
mendesak airtanah semakin masuk. Secara alamiah air laut tidak dapat masuk jauh ke daratan
sebab airtanah memiliki piezometric yang menekan lebih kuat dari pada air laut, sehingga
terbentuklah interface sebagai batas antara airtanah dengan air laut. Keadaan tersebut merupakan
keadaan kesetimbangan antara air laut dan airtanah.

desakan tersebut dapat dinetralisir dan aliran air yang terjadi adalah dari daratan kelautan. yaitu intrusi air laut dan upconning. maka sumur akan menjadi asing sehingga tidak dapat lagi dipakai untuk keperluan sehari-hari. maka air laut akan mendesak air tawar di dalam tanah lebih ke hulu. sehingga terjadi keseimbangan antara air laut dan airtanah. Tetapi karena tinggi tekanan piezometric airtanah lebih tinggi daripada muka air laut. Bila intrusi sudah masuk pada sumur. Intrusi air laut terjadi bila keseimbangan terganggu. . Aktivitas yang menyebabkan intrusi air laut diantaranya pemompaan yang berlebihan. Intrusi air laut di daerah pantai merupakan suatu poses penyusupan air asin dari laut ke dalam airtanah tawar di daratan. sehingga tidak terjadi intrusi air laut. Zona pertemuan antara air asin dengan air tawar disebut interface. kekuatan airtanah ke laut. serta fluktuasi airtanah di daerah pantai. Berat jenis air asin sedikit lebih besar daripada berat jenis air tawar. karakteristik pantai dan batuan penyusun. Pada kondisi alami. airtanah akan mengalir secara terus menerus ke laut. Proses intrusi makin panjang bisa dilakukan pengambilan airtanah dalam jumlah berlebihan. Kondisi Interface yang Alami dan Sudah Mengalami Intrusi Masuknya air laut ke sistem akuifer melalui dua proses.Gambar 2.

Penggunaan klorida dikarenakan klorida merupakan ion dominan pada air laut dan bikarbonat merupakan ion dominan pada air tawar. air asin dijumpai pada kedalaman 40 kali tinggi muka airtanah di atas muka air laut. Intrusi air laut dapat dikenali dengan melihat komposisi kimia airtanah. Revelle menggunakan nilai rasio antara klorida dan bikarbonat untuk mengevaluasi adanya intrusi air laut. Bila pemompaan dihentikan sebelum interface mencapai sumur. .Menurut konsep Ghyben – Herzberg. Terjadi pelarutan dan pengendapan.025 g/cm3) dan berat jenis air tawar (1. interface dalam keadaan horisontal. Reduksi sulfat dan bertambah besarnya konsentrasi karbon atau asam lemah lain. Pada saat pemompaan dimulai. Fenomena ini disebabkan akibat perbedaan berat jenis antara air laut (1. sehingga didapat nilai z = 40 hf keterangan: hf = elevasi muka airtanah di atas muka air laut (m) z = kedalaman interface di bawah muka air laut (m) ρs = berat jenis air laut (g/cm3) ρf = berat jenis air tawar (g/cm3) Upconning adalah proses kenaikan interface secara lokal akibat adanya pemompaan pada sumur yang terletak sedikit di atas interface. Reaksi kimia antara air laut dengan mineral-mineral akuifer. sedangkan bila nilai rasio rendah maka pengaruh intrusi air laut kecil. 3. Makin lama interface makin naik hingga mencapai sumur. air laut akan cenderung tetap berada di posisi tersebut daripada kembali ke keadaan semula. 2. Perubahan ini terjadi dengan cara 1. Semakin tinggi nilai rasio.000 g/cm3). berarti pengaruh intrusi air laut makin besar.

Saat ini metode geofisika lebih penting dan akurat digunakan untuk investigasi intrusi air laut. Gerakan ion dapat diukur melalui konduktivitas. Melalui metode ini investigasi salinitas dapat digunakan untuk melacak fluktuasi interface antara muka air asin dan muka air tawar. estimasi salinitas sebesar 17 ppt. Saat ini terdapat beberapa metode dalam penyelidikan intrusi air laut. Sebagai contoh. Mengubah Pola Pemompaan 2. Gambar 3. Terdapat beberapa cara untuk mengendalikan intrusi laut. diantaranya well logging. Mengubah Pola Pemompaan Memindah lokasi pemompaan dari pantai ke arah hulu akan menambah kemiringan landaian hidrolika ke arah laut. classification of groundwater. classification of groundwater samples. pembacaan konduktivitas 25. isotope techniques and chemical analysis of groundwater samples. diantaranya.000 µS/cm dan temperatur 20°C. C4 Conductivity Sleeve dan T4 Temperature Sleeve. Pengisian Airtanah Buatan . Zat cair memiliki kemampuan untuk mengalirkan arus listrik oleh gerakan ion.Di tahun 1960 an. dating. Pengukuran terhadap kedua variabel tersebut merupaka faktor penting untuk mendeteksi perilaku zona transisi dan interface antara air asin dan air tawar. salinitas dapat diestimasi melalui pembacaan konduktivitas dan temperatur pada kedalaman yang sama. 1. Konduktivitas sangat bergantung pada temperatur. sehingga tekanan airtanah akan bertambah besar. investigasi intrusi air laut di lakukan dengan analisis kimia dengan mengambil sample airtanah dan menyelidiki pola alirannya berdasarkan piezometric level. Konduktivitas dan temperatur air dapat digunakan untuk estimasi intrusi air laut. and verticle conductivity and temperatureprofiling. Menggunakan Solinst Model 101 Water Level dengan penyelidikan P4. research into the interaction between aquifer matrix and groundwater. Perolehan data lebih cepat dengan teknik drilling.

Untuk akuifer bebas dapat dilakukan dengan menyebarkan air dipermukaan tanah. Pengisian Airtanah Buatan 3. Extraction Barrier Ekstraction barrier dapat dibuat dengan melakukan pemompaan air asin secara terus menerus pada sumur yang terletak di dekat garis pantai.Muka airtanah dinaikkan dengan melakukan pengisian airtanah buatan. Pemompaan ini akan menyebabkan terjadinya cekungan air asin serta air tawar akan mengalir ke cekungan tersebut. Extraction Barrier 4. . Gambar 5. Pengisian air akan menaikkan muka air tanah di sumur tersebut. Injection Barrier Injection barrier dapat dibuat dengan melakukan pengisian air tawar pada sumur yang terletak di dekat garis pantai. sedangkan pada akuifer tertekan dapat dilakukan pada sumur pengisian yang menembus akuifer tersebut. akan berfungsi sebagai penghalang masuknya air laut ke daratan. Gambar 4. Akibatnya terjadi baji air laut ke daratan.

Gambar 6. beton. Injection Barrier 5. bentonit maupun aspal. Subsurface Barrier Intrusi air laut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Subsurface Barrier Penghalang di bawah tanah sebagai pembatas antara air asin dan air tawar dapat dibuat semacam dam dari lempung. yaitu :  Aktivitas manusia  Faktor batuan  Karakteristik pantai  Fluktuasi airtanah di daerah pantai . Gambar 7.

dan tentunya materialnya berupa pasiran.Aktivitas manusia terhadap lahan maupun sumberdaya air tanpa mempertimbangkan kelestarian alam tentunya dapat menimbulkan banyak dampak lingkungan. Bentuk aktivitas manusia yang berdampak pada sumberdaya air terutama intrusi air laut adalah pemompaan air tanah (pumping well) yang berlebihan dan keberadaannya dekat dengan pantai. Kondisi ini diimbangai dengan kemudahan pengendalian intrusi air laut dengan banyak metode. Pengendalian air laut membutuhkan biaya yang besar sebab beberapa metode sulit dilakukan pada pantai berbatu. Rongga yang terbentuk akibat airtanah rendah maka air laut akan mudah untuk menekan airtanah dan mengisi cekungan/rongga airtanah. Kerapatan jenis vegetasi di sempadan pantai dapat mengontrol pergerakan material pasir akibat pergerakan arus setiap musimnya. Kawasan pantai memiliki fungsi sebagai sistem penyangga kehidupan. Batuan penyusun akuifer pada suatu tempat berbeda dengan tempat yang lain. Kerapatan jenis vegetasi dapat menghambat kecepatan dan memecah tekanan terpaan angin yang menuju ke pemukiman penduduk. apabila batuan penyusun berupa pasir akan menyebabkan air laut lebih mudah masuk ke dalam airtanah. Apabila fluktuasinya tetap maka secara alami akan membentuk interface yang keberadaannya tetap. Pantai berterumbu karang/mangrove akan sulit mengalami intrusi air laut sebab mangrove dapat mengurangi intrusi air laut. Metode yang mungkin dilakukan hanya Injection Well pada pesisir yang letaknya agak jauh dari pantai. Pengendalian intrusi air laut lebih mudah dilakukan sebab segala metode pengendalian memungkinkan untuk dilakukan.com/2010/07/06/intrusi-air-laut/ . Pantai berbatu memiliki pori-pori antar batuan yang lebih besar dan bervariatif sehingga mempermudah air laut masuk ke dalam airtanah. Hal ini perlu diperhatikan sehingga segala bentuk aktivitas manusia pada daerah tersebut perlu dibatasi dan dikendalikan sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Kawasan pantai sebagai daerah pengontrol siklus air dan proses intrusi air laut. http://vienastra. Sifat yang sulit untuk melepas air adalah lempung sehingga intrusi air laut yang telah terjadi akan sulit untuk dikendalikan atau diatasi. Pantai bergisik/berpasir memiliki tekstur pasir yang sifatnya lebih porus. memiliki vegetasi yang keberadaannya akan menjaga ketersediaan cadangan air permukaan yang mampu menghambat terjadinya intrusi air laut ke arah daratan. Apabila fluktuasi airtanah tinggi maka kemungkinan intrusi air laut lebih mudah terjadi pada kondisi airtanah berkurang.wordpress. Intrusi air laut merupakan bentuk degradasi sumberdaya air terutama oleh aktivitas manusia pada kawasan pantai.