Anda di halaman 1dari 3

Anemia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik
kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan
hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis
diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.
Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah
resep atau nasihat medis. Wikipedia bukan
pengganti dokter.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat
berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan
profesional.
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya
kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" )
adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah
merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen
dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa
anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan
berdasarkan bentuk atau morfologisel darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling
sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah
merah secara berlebihan hemolisis atau kekurangan pembentukan
sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb)
nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41%
pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct
kurang dari 36% pada perempuan. [1]
Daftar isi
[sembunyikan]
 1 Tanda dan gejala anemia
 2 Klasifikasi anemia
o 2.1 Klasifikasi anemia akibat Gangguan Eritropoiesis
o 2.2 Klasifikasi anemia berdasarkan ukuran sel
 3 Etiologi
 4 Diagnosa
 5 Manajemen terapi
 6 Lihat pula
 7 Referensi
 8 Pranala luar
Tanda dan gejala anemia[sunting | sunting sumber]
Gejala anemia :
Bila anemia terjadi dalam waktu yang lama, konsentrasi Hb ada
dalam jumlah yang sangat rendah sebelum gejalanya muncul.
Gejala- gejala tersebut berupa :

[1] Klasifikasi anemia[sunting | sunting sumber] Klasifikasi anemia akibat Gangguan Eritropoiesis[sunting | sunting sumber] 1. Hiposelularitas ini dapat terjadi akibat paparan racun. anemia megaloblastik ringan. ensefalopati. 4. pulse yang menghilang. dan pansitopenia. aliran murmur sistolik  Gagal jantung  Pendarahan retina [1] Tanda-tanda spesifik pada pasien anemia diantaranya :  Glossitis : terjadi pada pasien anemia megaloblastik. kuku. dan anemia megaloblastik. merupakan efek dari defisiensi vitamin B12. mengakibatkan timbulnya sel darah merah yang hipokrom dan mikrositer. reaksi terhadap obat atau virus. radiasi. seperti takikardi. atrofi optik. tanda-tanda dari anemia yang harus diperhatikan saat pemeriksaan yaitu :  Pucat pada membran mukosa. dan neuropati motorik perifer sering terlihat pada pasien yang keracunan metal. 2. anemia defisiensi besi  Stomatitis angular : terjadi pada pasien anemia defisiensi besi. Anemia Aplastik Sumsum tulang gagal memproduksi sel darah akibat hiposelularitas.  Splenomegali : akibat hemolisis.  Sirkulasi hiperdinamik.Asimtomatik : terutama bila anemia terjadi dalam waktu yang lama  Letargi  Nafas pendek atau sesak.  Jaundis (kekuningan) : terjadi akibat hemolisis. Anemia Mieloptisik  . dan defek pada perbaikan DNA serta gen. Anemia Megaloblastik Defisiensi folat atau vitamin B12 mengakibatkan gangguan pada sintesis timidin dan defek pada replikasi DNA. terutama saat beraktfitas  Kepala terasa ringan  Palpitasi  Pucat  Kekebalan Tubuh Menurun Sedangkan. hematopoiesis yang tidak efektif. Anemia defisiensi Besi : Tidak cukupnya suplai besi mengakibatkan defek pada sintesis Hb. yaitu mulut. 3. konjungtiva.  Garing biru pada gusi (Burton’s line).  Ulserasi di kaki : terjadi pada anemia sickle cell  Deformitas tulang : terjadi pada talasemia  Neuropati perifer. efek yang timbul adalah pembesaran prekursor sel darah (megaloblas) di sumsum tulang. degenerasi spinal.

kelainan granuloma. [3] Etiologi[sunting | sunting sumber] Secara garis besar. hormon yang berperan pada proses hematopoiesis. kekurangan nutrisi. Kehilangan darah dalam jumlah besar. menstruasi. contohnya pada penyakit anemia aplastik. Peningkatan destruksi eritrosit. talasemia. Penurunan produksi eritrosit. Pemberian kortikosteroid atau obat-obatan lain yang dapat menekan sistem imun. Pemberian eritropoietin. berfungsi untuk membantuk sumsum tulang pada proses hematopoiesis. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah komplit (CBC). Anemia makrositik : penyebab utama yaitu anemia pernisiosa. Anemia mikrositik : penyebab utamanya yaitu defisiensi besi dan talasemia (gangguan Hb) 2. 2. yang menyebabkan pelepasan eritroid pada tahap awal. dan anemia megaloblastik. 3. dan trauma. dapat berupa : 1. contohnya akibat perdarahan akut. 3. anemia akibat konsumsi alcohol. contohnya pada penyakit gangguan sistem imun. [2] Klasifikasi anemia berdasarkan ukuran sel[sunting | sunting sumber] 1. Persentase sel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh darah bisa ditentukan. 4. [5] .Anemia yang terjadi akibat penggantian sumsum tulang oleh infiltrate sel-sel tumor. vitamin-vitamin. vitamin B12. Manajemen terapi[sunting | sunting sumber] Terapi langsung ditujukan pada penyebab anemia. Pemberian suplemen besi. Anemia normositik : contohnya yaitu anemia akibat penyakit kronis seperti gangguan ginjal. [4] Diagnosa[sunting | sunting sumber] Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Transfusi darah 2. perdarahan kronis. anemia dapat disebabkan karena : 1. ulser kronis. dan mineral lain yang dibutuhkan. 3.