Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Masalah kekurangan gizi
telah menjadi perhatian dunia, khususnya masalah gizi kurang pada anak balita dikarenakan
kekurangan gizi pada anak balita akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan
yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa.
Pada tahun 2006 WHO (World Health Organization) memperkirakan bahwa 9,5 juta anak
meninggal sebelum usia 5 tahun, dan 2 per 3 kematian terjadi pada tahun pertama kehidupan.
Tiga puluh lima persen kasus kematian anak tersebut berhubungan dengan masalah kurang gizi.
Menurut sensus WHO kasus kekurangan gizi pada anak tercatat sebanyak 50% di Asia, 30%
anak di Afrika, dan 20% anak di Amerika Latin. Menurut The State Of The World’s Children
tahun 2007, di ASEAN Indonesia menempati peringkat keempat masalah kekurangan gizi
sebesar 28 %. Masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak.
Diperkirakan masih terdapat sekitar 1,7 juta balita terancam gizi buruk yang keberadaannya
tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dalam Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010 dikatakan
bahwa prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 13% dan gizi buruk sebesar 4,9%. Menurut
data status gizi balita di Provinsi Jawa Timur dari Badan Ketahanan Pangan pada tahun 2013,
dari 25.407 balita yang ditimbang dalam setahun, terdapat 2,21 % anak dengan gizi buruk dan
9,93 % anak dengan gizi kurang. Sedangkan di Kabupaten Bojonegoro dari keseluruhan total
1

563 balita yang ditimbang pada tahun 2013, terdapat 0,46 % balita yang mengalami gizi buruk
dan sekitar 6,28 % balita dengan gizi kurang. Dari jumlah anak penderita gizi kurang dan buruk,
sekitar 5% memiliki resiko berakhir dengan kematian.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Bulanan Pelayanan Gizi Tingkat
Puskesmas Sugihwaras pada bulan Desember 2014 masih terdapat 27 balita yang termasuk
dalam kategori di bawah garis merah (BGM) dan 195 balita yang termasuk dalam kategori berat
badan kurang (BBK) yang tercatat pada Kartu Menuju Sehat (KMS). Sedangkan di Puskesmas
Pembantu Alasgung masih ada 2 balita yang masuk kategori BGM dan 8 balita yang masuk
dalam kategori BBK.
Menurut wawancara dengan para kader dan bidan desa, ibu yang mempunyai anak
dengan berat badan kurang sering menanyakan kepada mereka tentang makanan apa saja yang
sebaiknya diberikan kepada anaknya. Hal ini menggambarkan kurangnya pengetahuan ibu
tentang kelompok bahan makanan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui adakah
hubungan antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia
1-5 tahun.
I.2. Perumusan masalah
I.2.1. Pernyataan Masalah
Masih terdapat 2 balita yang masuk kategori bawah garis merah (BGM) dan 8
balita yang masuk dalam kategori berat badan kurang (BBK) pada Kartu Menuju Sehat
(KMS) di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Alasgung Kecamatan Sugihwaras.

2

I.2.2. Pertanyaan Masalah

Berapa banyak ibu yang memiliki pengetahuan yang buruk dalam pemberian
kelompok bahan makanan di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Alasgung ?

Berapa banyak ibu yang memiliki pengetahuan buruk tentang kelompok bahan
makanan yang memiliki anak dengan status gizi tidak baik di wilayah kerja
Puskesmas Pembantu Alasgung ?

Adakah

hubungan antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan

dengan status gizi anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pembantu
Alasgung ?
I.3.

Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Diturunkannya jumlah balita yang termasuk dalam kategori BGM dan BBK di
Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Alasgung Kecamatan Sugihwaras.
1.3.2. Tujuan Khusus

Diketahuinya jumlah ibu yang memiliki pengetahuan yang buruk dalam
pemberian kelompok bahan makanan di wilayah kerja Puskesmas Pembantu
Alasgung.

Diketahuinya jumlah ibu yang memiliki pengetahuan buruk tentang kelompok
bahan makanan yang memiliki anak dengan status gizi tidak baik di wilayah kerja
Puskesmas Pembantu Alasgung.
3

Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan
makanan dengan status gizi anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Pembantu Alasgung.

I.4.Manfaat Penelitian
I.4.1. Bagi Responden :
Dapat mengetahui berat badan dan status gizi anaknya.
I.4.2. Bagi Puskesmas Pembantu Alasgung :
Mengetahui status gizi balita yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu
Alasgung Kecamatan Sugihwaras. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
bahan rujukan sehingga puskesmas dapat melakukan tindakan lebih lanjut untuk
mengatasi status gizi anak yang tidak baik di wilayah kerjanya.
I.4.3. Bagi Peneliti :
Mendapatkan pengalaman dalam melakukan penelitian, serta mengetahui dan
memahami langkah dan cara dalam melakukan penelitian yang baik.
I.4.4. Bagi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat :
Penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya mengenai
hubungan antara pengetahuan tentang kelompok bahan makanan dengan status
gizi anak usia 1 – 5 tahun.

4

penciuman. Pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penginderaan terhadap objek terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.2. Waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan pendidikan non formal. Rogers (1997) mengungkapkan bahwa perilaku didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku tanpa dasar pengetahuan. Pengetahuan yang cukup didalam domain kognitif mempunyai enam tingkat yaitu: 1) Tahu (Know) 5 . II. rasa dan raba dengan sendiri. Pengetahuan merupakan faktor penting yang mempengaruhi tindakan seseorang. DEFINISI PENGETAHUAN Pengetahuan merupakan hasil “tahu” setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. pendengaran.1.1. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.1. TINGKATAN PENGETAHUAN Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.1. PENGETAHUAN II.

dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari. menyatakan dan sebagainya.Tahu diartikan sebagai penginat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. metode. 5) Sintesis (Syntesis) 6 . 2) Memahami (Comprehention) Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahaui dan dimana dapat menginterpretasikan secara benar. “tahu” merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. menyimpulkan. Oleh sebab itu. 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain. Aplikasi disini dapat diartikan penggunaan hukum-hukum. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah menginat kembali terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan. menyebutkan contoh. menguraikan. 3) Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi apapun kondisi riil (sebenarnya). rumus. mengidentifikasi. meramalkan.

tingkatan kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dan berpikir dalam bekerja.3. II. b. makin tinggi pendidikan seseorang. baik dari media massa maupun media yang lain. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN 1) Faktor Internal a. makin mudah seseorang tersebut untuk menerima informasi.Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagiab-bagian didalan suatu keseluruhan yang baru. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pendidikan mempengaruhi proses belajar. semakin berkembang pola pikir sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Semakin bertambah usia. Semakin tinggi pendidikan maka semakin banyak informasi yang diterima. Sintesis adalah suatu kemampuan utnuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. Menurut Huclock (1998) semakin cukup umur. Keercayaan 7 . Umur Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.1. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

II. Sosial budaya Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang-orang tanpa penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.2. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu. c. Definisi Status Gizi 8 . sehingga status ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan. 2) Faktor Eksternal a. Faktor lingkungan Menurut Ann Mariner yang dikutip Nursalam (2003). Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tindakan yang akan direspon sebagapi pengetahuan oleh setiap individu.1. seseorang yang lebih dewasa dipercaya dair pengalaman dan kematangan jiwa. lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.2. b. Status Gizi II. Media massa Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan dormal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.masyarakat.

2. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi anak dengan batasan sebagai berikut. maka kita dapat mengetahui seberapa baik atau buruk status gizinya.0 9 .0 - Kategori Gizi Kurang Z-score ≥ -3. berat badan dan tinggi badan anak dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. menyerap dan memanfaatkan nutrisi. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).2. II.0 - Kategori Gizi Baik Z-score ≥ -2. a. Dengan mengevaluasi status gizi seseorang. Klasifikasi status gizi Untuk menilai status gizi anak.0 s/d Z-score ≤ 2. Pengukuran status gizi Status gizi anak diukur berdasarkan umur.2.0 s/d Z-score < -2. tinggi badan menurut umur (TB/U). dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). maka umur.Status gizi merupakan kondisi kesehatan seseorang atau sekelompok orang karena konsumsi. Berdasarkan indikator BB/U : - Kategori Gizi Buruk Z-score < -3. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri. Menurut Tarwojo dan Soekirman status gizi merupakan refleksi dari konsumsi makanan dan pemanfaatannya bagi tubuh. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).3.0 - Kategori Gizi Lebih Z-score > 2. II.

b. Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan data umur yang tidak akurat. c. tinggi badan meningkat seiring dengan pertambahan umur. Adapun kelemahan indeks TB/U antara lain: tinggi badan tidak cepat naik dan tidak mungkin turun.0 s/d Z-score ≤ 2. sering mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam pengukuran. Kelebihan indeks BB/U antara lain mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum.0 Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Berdasarkan indikator TB/U: - Kategori Sangat Pendek Z-score < -3. tidak dapat digambarkan keadaan gizi saat ini. baik untuk mengukur status gizi akut maupun kronis. atau menurunnya jumlah makanan yang di konsumsi. Disamping mempunyai kelebihan. sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil. dan dapat terjadi masalah dalam pembacaan skala.0 - Kategori Pendek Z-score ≥ 3. pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak. Berdasarkan indikator BB/TB: 10 . Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti terserang penyakit infeksi. sehingga diperlukan dua orang untuk mengukurnya. indeks BB/U juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang salah bila terdapat edema dan asites. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan tampak dalam waktu yang relatif lama.0 - Kategori Normal Z-score ≥ 2. Pada keadaan normal. menurunnya nafsu makan.Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh.

menggunakan dua buah alat ukur.0 Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan dalam keadaan normal. Kelemahan indeks BB/TB ini adalah tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek. tinggi. Sulit untuk melakukan pengukuran tinggi badan. pengukuran relatif lama. membutuhkan dua orang untuk melakukannya. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi II. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal seorang ibu maka semakin mudah untuk memahami dan mengerti tentang pengetahuan gizi yang 11 . Keuntungan indeks BB/TB antara lain tidak tergantung dengan umur. perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.0 - Kategori Kurus Z-score ≥ 3.0 - Kategori Gemuk Z-score > 2.0 s/d Z-score ≤ 2. karena dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki menjadi lebih baik. Pendidikan Formal Ibu Latar belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi.0 s/d Z-score ≤ 2. normal. Terutama bila data umur yang akurat sulit diperoleh.1.3.3. II. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang mengetahui dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh.0 - Kategori Normal Z-score ≥ 2.- Kategori Sangat Kurus Z-score < -3.

Pengetahuan Ibu Tentang Kelompok Bahan Makanan Gizi berasal dari kata Al Gizzai. Sekarang ini gizi semakin dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam upaya mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit. II. kemampuan berpikir. vitamin dan mineral. kemampuan penginderaan. Zat gizi tersebut adalah karbohidrat. protein. lemak. Oleh karena itu pada anak seharusnya memperoleh zat gizi yang cukup dan seimbang.3. Pada umumnya sumber karbohidrat ini berasal dari tumbuh. penelitian juga menyebutkan bahwa periode tersebut adalah masa kritis dimana anak rentan sekali mengalami masalah gizi. ubi jalar. Gizi diperoleh anak melalui konsumsi makanan setiap hari. Telah diketahui bahwa periode lahir hingga usia lima tahun adalah masa emas terbentuknya dasar-dasar kepribadian manusia. Makanan harus mengandung zat-zat gizi tertentu sehingga memenuhi dapat mencukupi kebutuhan gizi anak.tumbuhan seperti beras. jagung. Namun. keterampilan berbahasa dan berbicara bertingkah laku sosial dan lainnya. ubi kayu. yang berarti adalah sari makanan yang diperlukan tubuh. b) Protein Protein diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut protein nabati dan dari hewan disebut protein hewani. Gizi yang adekuat sangat dibutuhkan setiap anak agar dapat menjadi manusia yang berpotensi.2. yang merupakan bahan makanan pokok. Fungsi protein bagi tubuh sebagai pembangun sel-sel 12 .diperolehnya sehingga ibu dapat mempraktikkan pengetahuan tentang gizi ke dalam kehidupan sehari-hari dan pada akhirnya dapat meningkatkan status gizi anak. a) Karbohidrat Berfungsi sebagai salah satu pembentuk energi oleh karena itu karbohidrat sering disebut sebagai zat tenaga.

D. oleh karena itu protein sering disebut sebagai zat pembangun. Fungsi pokok lemak bagi tubuh ialah menghasilkan kalori terbesar dalam tubuh manusia. Kelompok bahan makanan terdiri dari sayuran. Menurut WHO dalam Guiding Principles For Feeding Non-Breastfed Children 6-24 Months Of Age (2005) setiap bahan makanan dari masing-masing kelompok makanan memiliki kandungan gizi yang berbeda. Kelompok bahan makanan : 1. daging. daging. Fungsi vitamin berlainan satu sama lain tetapi secara umum fungsinya adalah mengatur metabolisme tubuh. Selain itu lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin A. Oleh karena itu. biji-bijan. e) Mineral Berfungsi sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. ikan 13 . E. telur. c) Lemak Berasal dari minyak goreng. dan produk susu. d) Vitamin Vitamin merupakan molekul organik yang terdapat didalam makanan. K. protein juga berfungsi untuk membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon. buah. Daging. dan sebagainya. Selain itu.yang rusak. margarine. pemberian makanan untuk anak harus terdiri dari semua kelompok bahan makanan agar kebutuhan gizi dapat terpenuhi.

keju dan yoghurt. 5. Kuning telur merupakan sumber protein yang baik tetapi bukan sumber zat besi yang baik.Makanan yang berasal dari hewan yaitu ikan merupakan sumber protein. merupakan sumber kalsium. Sayur-sayuran Sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam. dan vitamin B yang baik. tomat dan pepaya juga kaya akan karoten. protein. Menyusun dan menilai hidangan merupakan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan oleh semua orang. Wanita khususnya para ibu sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap konsumsi makanan bagi keluarga seharusnya 14 . seperti susu. terutama mereka yang bertanggung jawab atas pengurusan dan penyediaan makanan bagi keluarga. Buah-buahan Buah-buahan berwarna jingga seperti mangga. lemak. Produk susu Produk susu. jagung. gandum merupakan sumber karbohidrat yang baik. 3. Biji-bijian Seperti beras. Pengetahuan tentang gizi sangat diperlukan agar dapat mencegah timbulnya masalah yang berkaita dengan konsumsi gizi. 4. zat besi dan seng yang baik. 2. vitamin A dan juga vitamin C. namun bukan sumber protein yang baik. energi. kaya akan karoten. vitamin A dan juga vitamin C.

menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan.memiliki pengetahuan tentang kelompok bahan makanan yang dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Apabila seorang anak diberi makanan yang terdiri dari tiap kelompok bahan makanan maka kemungkinan besar hal ini akan berdampak positif pada status gizi anak tersebut. Menurut Karlina Nurcahyo dalam Jurnal Gizi dan Pangan. atau mempengaruhi metabolisme. Status gizi seseorang juga akan mempengaruhi kemampuan anak untuk mengatasi penyakit infeksi. II. Penyakit infeksi yang paling sering menyerang anak adalah diare dan ISPA. II. Penyakit Infeksi Penyakit infeksi mempengaruhi status gizi seseorang melalui beberapa cara yaitu: mempengaruhi nafsu makan.3. Daya beli merupakan parameter untuk menentukan status keadaan ekonomi keluarga yang diukur dari besarnya 15 . Pengetahuan yang baik tentang kelompok bahan makanan akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. anak dengan status gizi tidak baik akan lebih mudah menderita penyakit infeksi. Pada umumnya frekuensi sakit diare dan ISPA pada anak dengan status gizi tidak baik adalah ≥ 3 kali dalam 3 bulan.4 Pendapatan keluarga Besarnya pendapatan keluarga setiap bulan akan menentukan tinggi rendahnya daya beli keluarga dalam memenuhi segala kebutuhan. maka ia akan semakin memperhitungkan jenis makanan yang akan dikonsumsi keluarganya dalam setiap hari. Seseorang dengan status gizi yang tidak baik akan lebih rentan terkena penyakit infeksi dan kemampuan sistem kekebalan tubuh akan berkurang.3. termasuk kebutuhan pangan.3. maupun non formal. Semakin baik pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan. dapat juga menyebabkan kehilangan bahan makanan misalnya karena diare atau muntah-muntah.

salah satunya adalah mendidik anak.5. ikan. yang merupakan sumber protein tinggi namun harganya relatif mahal dalam hal pemenuhan gizi. II. melindungi.140. Semakin tinggi daya beli maka pemenuhan kebutuhan pangan akan semakin tercukupi. Pola asuh seorang ibu yang buruk terhadap anaknya. mendorong keberhasilan. akibatnya keadaan gizi tiap-tiap anggota keluarga akan semakin baik. Pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua mendidik. Pengasuhan terhadap anak berupa suatu proses interaksi antara orang tua dengan anak. Pola asuh Orang tua mempunyai peran dan fungsi yang bermacam-macam. Interaksi tersebut mencakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan makan. telur.pendapatan keluarga (Upah Minimum Kabupaten Bojonegoro tahun 2014 adalah sebesar Rp. II. terutama pola asuh ibu tentang pemberian makan mengakibatkan status gizi anak menjadi kurang. tahu. Banyak ahli mengatakan pengasuhan anak adalah bagian penting dan mendasar untuk menyiapkan anak menjadi masyarakat yang baik. begitu pula sebaliknya. Pada dasarnya pola asuh dapat diartikan sebagai seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak. dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. tempe. maupun mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.6.00).3. Sehingga dengan tingkat pendapatan yang rendah. Cara orang tua mendidik anak nya disebut sebagai pola pengasuhan. susu.000. Pola Makan 16 .3. pemberian makanan menjadi tidak memenuhi tiap kelompok bahan makanan dan akan mempengaruhi status gizi anak. Rendahnya penghasilan keluarga dapat menyebabkan mereka lebih mementingkan membeli beras sebagai kebutuhan pokok daripada membeli lauk pauk seperti daging. 1. membimbing.

Pola makan yang baik mengandung makanan pokok. Kerangka Teori PENDAPATAN KELUARGA TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL IBU POLA MAKAN PENYAKIT INFEKSI STATUS GIZI ANAK POLA ASUH ANAK PENGETAHUAN IBU TERHADAP KELOMPOK BAHAN MAKANAN Keterangan: 17 .Pola makan (food pattern) adalah kebiasaan memilih dan mengkonsumsi bahan makanan oleh sekelompok individu. Dengan pola makan yang baik dan jenis hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhinya kecukupan sumber tenaga. II. Pola makan dapat memberi gambaran mengenai kualitas makanan masyarakat. buah-buahan dan sayur-sayuran serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan. lauk-pauk.4. zat pembangun dan zat pengatur bagi kebutuhan gizi seseorang.

Pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan Status gizi anak usia 1. Hipotesis Alternatif 18 . HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL III. ibu yang mempunyai anak dengan berat badan kurang sering menanyakan kepada petugas tentang makanan apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anaknya. Hal ini menggambarkan kurangnya pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan.1. Kerangka Konsep Pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dipilih sebagai variabel bebas (independent) berdasarkan hasil wawancara dengan para kader dan bidan desa.2.5 tahun III.Hubungan timbal balik Hubungan Langsung BAB III KERANGKA KONSEP.

Kategori status gizi tidak baik diberi nilai 1.0. gizi kurang. kuesioner.3.0 s/d Z-score < -2.Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia 1. III.0 s/d Z-score ≤ 2. Definisi Operasional III.  Cara ukur : Penimbangan berat badan dan wawancara untuk mengetahui usia bayi atau anak. - Kategori Gizi Baik Z-score ≥-2. dan tabel WHO-NCHS  Hasil ukur : Berdasarkan indikator BB/U : - Kategori Gizi Buruk Z-score < -3.0 - Kategori Gizi Kurang Z-score ≥-3.0 Kategori gizi buruk.5 tahun. kemudian dipetakan ke dalam tabel WHO-NCHS  Alat ukur : Timbangan dacin. gizi lebih menurut WHO-NCHS BB/U dikelompokkan dalam kategori status gizi tidak baik. kategori status gizi baik diberi nilai 2. 19 . Status Gizi Anak  Definisi variabel : Status gizi dinilai berdasarkan berat badan menurut usia anak menggunakan tabel WHO-NCHS (World Health Organization-National Centre for Health Statistics). sedangkan kategori gizi baik dikelompokkan dalam kategori status gizi baik.3.1.0 - Kategori Gizi Lebih Z-score >2.

Jika jawaban salah diberi nilai 0. skala nominal. Setiap pertanyaan diberi nilai 1 jika jawaban benar. apabila skor 0-5 2. Total nilai mempunyai rentang 0-10.Pengetahuan Ibu tentang Kelompok bahan makanan  Definisi variabel : Pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan tersebut dinilai berdasarkan 10 pertanyaan dari kuesioner yang mencakup pengetahuan tentang gizi. skala nominal. Pengetahuan ibu baik. skala rasio yang diubah menjadi data kategorik. III. Pengetahuan ibu buruk .3.2. skala ratio yang diubah menjadi data kategorik.  Alat ukur : Kuesioner  Hasil ukur : 1. Skala ukur : Data numerik.  Cara ukur : Wawancara untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan. bahan makanan dan kelompok bahan makanan. 20 . apabila skor 6-10  Skala ukur : Data numerik.

IV. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Posyandu Puskesmas Pembantu Alasgung pada bulan November dan Desember 2014. Desain penelitian dan variabel Jenis penelitian yang dilakukan bersifat analitik dengan desain studi cross sectional yang sebagai variabel tergantung (dependent) adalah status gizi anak usia 1-5 tahun dan sebagai variabel bebas (independent) adalah pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan.2. 21 .1. Pada penelitian ini tidak didapatkan faktor perancu potensial (potential confounding factor).BAB IV METODOLOGI PENELITIAN IV.

1. digunakan rumus untuk studi crosssectional dan untuk menguji hipotesis terhadap 2 proporsi diperlukan 4 informasi:15  P1 : Proporsi efek pada yang tidak terpapar ( status gizi anak tidak baik dengan ibu  yang pengetahuan baik .3.84  n1.33 didapat dari rumus persamaan P2 = ((20% x P1)+ P1) Deviat baku normal untuk α (Zα) = 1. Populasi IV. nilai P1 = 0. IV. n2 (besar sampel untuk masing-masing kelompok yang terpapar dan tidak terpapar) Rumus yang digunakan: 22 . Populasi Target Semua ibu di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Alasgung yang mempunyai anak usia 1 – 5 tahun. IV.96 untuk 95% interval kepercayaan Deviat baku normal untuk β (Zβ) = 0.4.16 P2: Proporsi efek pada yang terpapar ( status gizi anak tidak baik dengan ibu yang   pengetahuan buruk = 0.4.1.3.IV.Perhitungan Besar Sampel Untuk memperkirakan besar sampel minimal. didapat dari penelitian sebelumnya.12. Sampel Yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak usia 1-5 tahun yang berkunjung di Posyandu Puskesmas Pembantu Alasgung pada bulan November dan Desember 2014.

12 P2 = (20% x 0.480123) 2 2.12 = 0.775)  0.12) + 0.33 2  2 (1. maka jumlah sampel yang dibutuhkan :       P1 = 0.96  n1  n 2  2(0.33 = 0.05 maka Zα = 1. Zβ = 0.840 (0.0.45 / 2 = 0.21 2 (1. 23 .842.12 = 0.1056  0.2211) 2   0.67)  0.6817 n1  n 2    60.33)(0.12)(0.34785)  0.775 Q1 = 1 – 0.840 0.225 = 0.225)(0.96 dan β = 20%.88)  (0.157479  0.67 n1  n 2 1.n1  n2 Z   2 PQ  Z  P1Q1  P2Q2  P2 = (20% x P1) + P1  P = (P1+P2) /2  Q=1–P  Q1 = 1 – P1  Q2 = 1 – P2  P1  P2  2  2 Bila tingkat kemaknaan α = 0.96 2(0.0441 Dengan demikian untuk masing-masing kelompok diperlukan 61 orang .33) / 2 = 0.225 Q = 1 . sehingga total sampel untuk penelitian adalah 122 orang.88 Q2 = 1 – 0.12 + 0.8  61 0.33 P = (0.12  0.0441 0.

Dilanjutkan dengan pencatatan berat badan dan pengklasifikasian ditabel WHONCHS. 24 .2.IV. Berikutnya dilakukan penimbangan berat badan anaknya.5. yaitu peneliti A yang menanyakan persetujuan dari responden yang memiliki anak usia 1 – 5 tahun untuk mengikuti penelitian ini dan menanyakan sejumlah pertanyaan dari kuesioner. Kemudian peneliti A akan mengklasifikasikan status gizi anak kedalam kategori status gizi menurut tabel WHO-NCHS . IV. Jika responden bersedia maka ditanyakan sejumlah pertanyaan (kuesioner terlampir). ditanyakan juga kesediaannya dalam mengikuti penelitian yang diadakan.4. Jika anaknya berusia 1 . Tata cara pengumpulan data Penelitian dilakukan oleh satu orang peneliti. Kemudian peneliti A akan menimbang berat badan anak dari responden kemudian melakukan pencatatan berat badan anak lalu memasukkan data berat badan per umur ke tabel WHO-NCHS. Semua responden yang datang ke Posyandu Puskesmas Pembantu Alasgung selama masa penelitian ditanyakan berapa usia anaknya. Teknik pengambilan sampel Pengambilan sampel secara consecutive non-random sampling dilakukan pada semua ibu yang membawa anaknya yang berusia 1 – 5 tahun yang datang ke Posyandu Puskesmas Pembantu Alasgung pada bulan November dan Desember 2014.5 tahun.

4. Alur pengumpulan data 25 . Diikutsertakan dalam Penelitian Usia anak tidak 1 .ke Posyandu Puskesmas Pembantu Alasgung dengan membawaTidak anaknya.5 tahun Ditanyakan kesediaannya mengikuti penelitian oleh peneliti A Usia anaknya 1 – 5 tahun Bersedia ikut dalam penelitian Tidak bersedia Wawancara pada ibu responden berdasarkan kuesioner oleh peneliti A Menimbang berat badan anak Mencatat berat badan anak (kg) Memasukkan data BB/U ke tabel WHO-NCHS Mengklasifikasikan status gizi anak menurut tabel WHO-NCHS Gambar IV.

Instrumen pengumpulan data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.05.5.2 Analisis Asosiasi Epidemiologi 26 .6.05. maka ada hubungan bermakna antara faktor risiko dengan penyakit.1. Tabel WHO-NCHS 4. IV. Teknik dan Analisis Data Seluruh data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan kuesioner dan penimbangan berat badan diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 19 kemudian disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular. 6.IV.  Jika nilai p ≥ 0. maka tidak ada hubungan bermakna antara faktor risiko dengan penyakit. Analisis Asosiasi Statistik Pada penelitian ini uji asosiasi statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan sebab akibat antara variabel bebas berskala kategorik dengan variabel tergantung berskala kategorik adalah uji statistik Pearson Chi – square dengan tabel 2 x 2 dan batas kemaknaan 5%. IV. Kalkulator IV. Kuesioner 2. 6.  Jika nilai p < 0. Timbangan dacin 3.

Prevalence Ratio > 1 à pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan akan  meningkatkan faktor resiko dari status gizi anak.Tabel 2 x 2 Status gizi anak Status gizi anak baik Jumlah tidak baik Pengetahuan ibu buruk A B a+b Pengetahuan ibu baik C D c+d a+c b+d a+b+c+d Dari skema tersebut maka rasio prevalens dapat dihitung dengan rumus rasio PR (Prevalence Ratio) berikut: Prevalence Ratio = A / A+B C / C+D  a/(a+b) = prevalens terpapar (status gizi anak tidak baik dengan pengetahuan ibu  buruk) c/(c+d) = prevalens tidak terpapar (status gizi anak tidak baik dengan pengetahuan  ibu baik) Prevalence Ratio = 1 à pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan bukan  merupakan faktor resiko dari status gizi anak.2. Tabel IV. 27 .Analisis asosiasi epidemiologi diperoleh dengan menghitung asosiasi relative PR (Prevalence Ratio). Rasio prevalens dapat dihitung dengan cara sederhana yakni dengan menggunakan table 2x2.6. Prevalence Ratio < 1 à pengetahuan ibu merupakan faktor protektif terhadap status gizi anak.

BAB V HASIL PENELITIAN V. Dusun Bayong d. Dusun Jatenan b. Batas Wilayah : a. Jumlah Dusun : Keterangan a. Selatan : Desa Bareng c. Dusun Bronto f. Dusun Sendangrejo c. Utara : Desa Siwalan dan Desa Bulu b. Timur : Desa Bulu dan Desa Panunggalan 4. Luas Wilayah : 2. Dusun Pencolan 3.1 Data Geografis Tabel Kondisi Geografis No. Uraian 1. Dusun Krajan e. Luas Lahan Pertanian 28 . Barat : Desa Siwalan d.

cabai merah. tembakau Pekarangan Kondisi tanah Kering. cukup subur Jumlah vegetasi tanaman jambu biji Manfaat Mendirikan bangunan Hasil tanaman untuk Air untuk irigasi keperluan rumah dan untuk dijual 29 . subur Lempung Belimbing. papaya. Sawah : 117. warna coklat.388 ha Gambar Keadaan Alam Desa Alasgung Tata Guna Lahan Pemukiman & Sawah Sungai Kering. jagung. warna coklat.a. mangga. srikaya. - nangka. Padi.

PETA DESA ALASGUNG 30 .

Sekolah SD 2 Kesejahteraan Sosial a. 3417 - Jumlah laki-laki 1678 - Jumlah perempuan 1737 - Usia 0-6 tahun 316 - Usia 7-12 tahun 286 - Usia 13-18 tahun 266 - Usia 19-24 tahun 326 - Usia ≥ 25 tahun 2213 b. Jumlah 819 Sarana Pendidikan a. Jumlah tempat kerja 0 31 . 1. Jumlah penduduk (jiwa) 3.V. Uraian Kependudukan a.2 Data Demografis KONDISI SOSIAL BUDAYA DESA No. Jumlah rumah 2. Sekolah TK 2 b. Jumlah penduduk miskin 1778 b. Jumlah tempat ibadah 3 c.

Pendidikan ibu kurang dari SMP sebanyak 6 orang (8.4%).1 Analisis Univariat Berdasarkan analisis univariat didapatkan total responden sebanyak 70 orang dengan rerata usia 41.311.6%). Uraian Jumlah 1.00 sebanyak 22 orang (31. Pengetahuan Ibu yang buruk sebanyak 16 orang (22. Puskesmas Pembantu 1 2. Jumlah Bidan 1 V.7%).1%).3 kg.0 bulan dan rerata berat badan 14. Didapatkan status gizi yang tidak baik sebanyak 19 orang (27.000. Pendapatan keluarga kurang dari Rp 1.3 Hasil Penelitian V.9%) responden berjenis kelamin laki-laki.9%). 32 . Dimana terdapat 30 (42.3. Jumlah Kader Posyandu 30 4.SUMBER DAYA KESEHATAN YANG ADA No. Jumlah Posyandu 6 3. Frekuensi penyakit infeksi (ISPA dan diare) lebih dari sama dengan 3 x dalam waktu 3 bulan didapatkan sebanyak 25 orang (35.

000.4%) - - ≥ Rp 1.80.0 n = 70 Usia anak (bulan) - (13.00 48 (68.4%) - - < Rp 1.9%) - - Jenis kelamin Tingkat pendidikan Pendapatan Pengetahuan ibu Status gizi anak 33 .27.0 (± 14.60.000.Tabel V.6%) - - ≥ SMP 64 (91.0 (7.1%) - - Tidak baik 19 (27.93) 14.3 (± 3.6%) - - Buruk 16 (22.0 ) Laki-Laki 30 (42.3) 44.1%) - - < SMP 6 (8.00 22 (31.9%) - - Perempuan 40 (57.1%) - - Baik 51 (72.0.0) Berat badan (kg) - 14.I Distribusi karakteristik 70 responden yang datang ke Posyandu Puskesmas Pembantu Desa Alasgung pada bulan November dan Desember 2014 (n=70) Karakteristik Jumlah (%) Mean (± SD) Median (Min.Max) 41.9%) - - Baik 54 (77.140.140.

didapatkan 19 responden dengan gizi tidak baik dengan rata-rata umur 38. Secara epidemiologi. 34 .7%) - - dengan 3 x V. Dari 19 responden yang memiliki status gizi tidak baik ini merupakan anak dari 2 orang (33.140.7 ± 3. Ibu dengan pengetahuan buruk tentang kelompok bahan makanan yang memiliki anak status gizi tidak baik didapatkan sebanyak 13 orang (81.2 Analisis Bivariat Dari 70 responden. Didapatkan 8 orang (36.98 kg. Dari antara 19 responden dengan status gizi tidak baik didapat rerata berat badan 11.3%) - - 25 (35.3 ± 12.6 bulan.Frekuensi penyakit infeksi Kurang dari 3 x Lebih dari sama 45 (64.00. Frekuensi penyakit infeksi lebih dari sama dengan 3x dalam 3 bulan didapatkan sebanyak 16 orang (64%).3%). didapatkan anak dengan ibu yang berpengetahuan buruk tentang kelompok bahan makanan memiliki resiko 7.000.4%) dari 19 responden yang memiliki status gizi tidak baik adalah mereka yang mempunyai pendapatan keluarga lebih dari Rp 1. Secara statistik terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia 1 – 5 tahun (p value = 0.36 kali lebih besar untuk mengalami statu gizi tidak baik dibandingkan dengan anak yang memiliki ibu berpengetahuan baik tentang kelompok bahan makanan (Prevalence Ratio = 7.3.00).3%) yang berpendidikan kurang dari SMP.36).

0.9%)42.(63.3 ≥ Rp 1.2 3 (18.6%) 42(93.Max) (%) (%) SD) SD) (Min.000.7 11. Temuan penelitian 35 .0 - 48.98) (±8.27.1.4%) - -- - - *p-value = 0.24.140.000.Pengetahuan ibu* Berat badan Buruk 14 .140.0 - - - (26.49) 48 (88.Max) N=19 N=51 < Rp 1.60.36 BAB VI PEMBAHASAN VI.1%) (±14.0 (7.Usia .8 (36.9) (13.80.8%) (±3.1%) - 15.0 13 (81.7%) 9 (36%) 47 (73.58.Max) (± SD) (Min.9%) - 16.Max) (Min.3%) (±3.0) 11.4%)38.50.0) 6 (11.0.Tabel V.2 Hasil analisis penelitian berbagai variabel dengan status gizi anak usia 1-5 tahun pada 70 responden di Posyandu Puskesmas Pembantu Desa Alasgung Status gizi anak tidak baik Status gizi anak baik Karakteristik Karakteristik Pendapatan Status gizi anakMean tidak baik Median Jumlah (%) Jumlah Mean (± Median Jumlah Mean (± Median N=19 N=51 (± SD) (Min.9%) (±12.0) - Baik Tingkat Frekuensi penyakit pendidikan < 3 kali 3 (6.3.0) 37 (77.7%) < SMP 2 (33.00 .3%) 4 (66.6) (±17. Prevalence Ratio = 7.3%) ≥ 3 kali ≥ SMP Status gizi anak baik Jumlah (%) Mean Median 16 (64%) 17 - - - 41.0- 11 (22.

maka ia akan semakin memperhitungkan jenis makanan yang akan dikonsumsi keluarganya dalam setiap hari. Hal tersebut sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyebutkan bahwa pengetahuan tentang kelompok bahan makanan yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. yaitu seberapa besar kemungkinan untuk menemukan hubungan dalam penelitian yang semestinya tidak ada. Keterbatasan penelitian VI.2. VI. Semakin baik pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan.p-value = 0.00). Chance Faktor chance dinilai dari menghitung nilai α atau kesalahan tipe I.2. VI. yang distribusi faktor-faktor risiko dan penyakit berbeda pada subjek penelitian dan populasi. Bias seleksi Bias seleksi tidak dapat disingkirkan karena pengambilan sampel dengan cara consecutive non-random sampling. Apabila seorang anak diberi makanan yang terdiri dari tiap kelompok bahan makanan maka kemungkinan besar hal ini akan berdampak positif pada status gizi anak tersebut.2.1.36 .1 Temuan Utama Berdasarkan hasil uji epidemiologi dan uji statistik.VI. terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja di Puskesmas Pembantu Desa Alasgung (Prevalence Ratio =7.2. dan nilai 36 .1. sehingga hubungan antara faktor risiko dan penyakit berbeda pada subjek penelitian dan populasi.

dalam penelitian ini kesalahan tipe I dan tipe II tidak dapat disingkirkan.β atau kesalahan tipe II. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 37 . Artinya. yaitu seberapa besar kemungkinan untuk tidak menemukan hubungan dalam penelitian yang semestinya ada. artinya uji hipotesis pada sampel mempunyai peluang sebesar 95 % untuk menemukan hubungan antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia 1 – 5 tahun. Dalam penelitian ini. didapatkannya hasil yang berdasarkan faktor chance tidak dapat disingkirkan. apabila hubungan tersebut memang ada dalam populasi. Power sebesar 95 %. sebab ditemukan nilai α sebesar 58 % dan nilai β sebesar 5 %.

00). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 70 ibu yang memiliki anak 1-5 tahun yang datang ke Posyandu Puskesmas Pembantu Desa Alasgung pada bulan November dan Desember 2014 dapat disimpulkan: 1. dimana ibu yang pengetahuannya buruk memiliki resiko 7.9%). p-value = 0. diantaranya: 1.36 . Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan dengan status gizi anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Desa Alasgung.VII.3%).36 kali lebih besar status gizi anaknya tidak baik daripada ibu yang pengetahuannya baik dan secara statistik hubungan ini bermakna (Prevalence Ratio = 7. 2. terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Puskesmas mengadakan penyuluhan tentang kelompok bahan makanan kepada ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun untuk menambah pengetahuan ibu tentang kelompok bahan makanan yang sebaiknya diberikan untuk anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Desa Alasgung. Jumlah ibu yang memiliki pengetahuan buruk dalam pemberian kelompok bahan makanan di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Desa Alasgung sebanyak 16 orang (22. 38 .1. 3. Jumlah ibu yang memiliki pengetahuan buruk tentang kelompok bahan makanan yang memiliki anak dengan status gizi tidak baik di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Desa Alasgung sebanyak 13 orang (81.2 Saran Setelah mengetahui hasil penelitian ini. VII.

Memberikan informasi kepada responden tentang kelompok bahan makanan yang harus diberikan pada anak usia 1-5 tahun. DAFTAR PUSTAKA 39 .2. Mengadakan pelatihan bagi kader gizi yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Desa Alasgung tentang kelompok bahan makanan sehingga diharapkan kader gizi dapat membagikan pengetahuan tentang kelompok bahan makanan yang telah diperolehnya kepada ibu yang mempunyai anak usia 1 – 5 tahun di wilayah kerjanya. 3. Penelitian ulang dengan menggunakan jumlah responden yang lebih besar dan waktu penelitian yang lebih panjang. 4.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pada balita di kecamatan Pasimsdunggu [ Last updated 2010. NN.ac. Gizi buruk.litbang. Available from : http://www.go. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 8. [Last updated : 27 Mei 2011. 2014. Available from:http://whqlibdoc. Available from : http://whqlibdoc. accessed : 14 Juni 2012]. Sasaran pembangunan nasional dan proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita sampai dengan tahun 2025. 3. Alvyanto. E. accessed : 14 Juni 2012].id/document/datadokumen/26_DataDokumen. Available from: http://repository.com/doc/4953531297/.int/. Available from: http://www. accessed: 14 Juni 2012]. Guiding principles for feeding non-breastfed children 6-24 months of age. accessed : 14 Juni 2012].pdf 6.com/doc/51216769/.pdf.who. William A. 2.who. World Health Organization (WHO). World Health Organization (WHO).1. Peranan gizi dalam kehidupan manusia.scribd. [Last updated : 2008.depkes. 40 . Riset kesehatan dasar 2010. Atmawkarta A.id/. 7. Available from:http://kgm.usu. [Last updated : 2011.int/.go. [Last updated: 8 Mei 2007. accessed : 15 Juni 2012]. [Last updated: 2005. Data laporan bayi dan balita bawah garis merah KMS Puskesmas Kecamatan Sugihwaras: Puskesmas Kecamatan Sugihwaras.riskesdas. Puskesmas Kecamatan Sugihwaras. [Last updated: 2009. 4.scribd.bappenas. accessed : 14 Juni 2012]. Infant and young child feeding model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. accessed 14 Juni 2012] Available from : http://www.id/2010/. 5.

accessed 14 Juni 2012]. accessed 14 Juni 2012] Available from :http://repository. Budiman I.id/. hal. I. NN. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pada balita di kecamatan Mejobo [ Last updated 2010.ac.id/. [ Last updated 2010.id/. [Last updated: 23 Mei 2012.id/. Purwanto SH. Dalam : Sastroasmoro S. Persepsi Remaja tentang pola asuh yang otoriter. Briawan D. Status sosial ekonomi keluarga terhadap status gizi.ac. [ Last updated 2010.scribd. Available from: http://repository. 16.usu. Moeslichan MS. accessed : 14 Juni 2012]. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis ed. R. Hubungan antara infeksi keluarga dengan status gizi balita.usu. Perkiraan besar sampel.com/doc/98726197/. Available from: http://repository. 362. 10. Available from : http://repository. Madiyono B. NN. NN.unimus. Sarah M. Pengetahuan ibu dalam pemenuhan gizi balita dan status gizi balita di kelurahan Helvetia tengah kecamatan Helvetia. dan status gizi anak balita pasca perawatan gizi buruk. Iwan. 15.id/.9.ac. penyakit infeksi.usu. [Last update : 2010.ac. accessed: 13 Juni 2011]. Sastroasmoro S. Handayani.ipb. accessed 14 Juni 2012] Available from : http://digilib. Available at : http://journal.php/jgizipangan/article/viewFile/4564/3065 13. Jakarta : Sagung Seto. 12. Sofyan I (eds). accessed: 14 Juni 2012].ac. 14. accessed 14 Juni 2012] Available from : http://www.id/index. 41 .4.ac.ipb. Hubungan antara pola makan balita dengan status gizi balita. [Last updated: 2010. 11. Nurcahyo K. Konsumsi pangan. [Last updated: 2008.

42 .