Anda di halaman 1dari 20

BAB III

ANALISIS KASUS
DIABETES MELITUS TIPE 2
I. ANALISIS HASIL ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Sekarang
“Sering merasakan lemas terutama pada sore s/d malam hari (jam 4-10
malam) disertai pegal pada sendi tangan dan pinggang. Frekuensi buang air
kecil 5-6 x/hari dan pada malam hari sering terbangun 3-4 x untuk kencing.
Diantara ruas jari tangan sering terasa tertusuk tusuk terutama saat malam
hari. Kadang-kadang pasien merasa kakinya kram di antara jari manis dan
kelingking, dan sulit mengoordinasikan jari kakinya saat memakai sandal.
Keluhan

kesemutan

disangkal.

Pasien

mengaku

mudah

haus

dan

mengonsumsi air putih 5-6 gelas besar per hari. Nafsu makan stabil, namun
karena anjuran dokter, pasien mengontrol asupan makanan ke dalam
tubuhnya. Pasien mengaku pusing dan jantungnya berdebar-debar saat
memeriksakan

diri

dan

didapat

hasil

pengukuran

tekanan

darahnya

mencapai 200/100 mmHg. Malam sebelumnya pasien sesak napas selama 2
jam dan membaik dengan menghirup uap minyak tawon.”
Dari pemaparan pasien tentang riwayat penyakit sekarang muncul gejalagejala klasik yang khas pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 yaitu :
a. Poliuria dan nokturia
Karena masih dalam rentang waktu lima tahun pertama, hiperperfusi
glomerulus dan hipertrofi renal menyebabkan peningkatan GFR. Hal ini
terjadi karena kadar glukosa yang tinggi di dalam plasma darah
menyebabkan penambahan volume dan massa jenis darah sehingga
terjadi diuresis osmolar pada tubulus ginjal yang menyebabkan tidak
semua glukosa bisa diabsorpsi sehingga harus dikeluarkan melalui
urin.
b. Polidipsia
Sebagai bentuk kompensasi tubuh setelah kehilangan cairan melalui
urin. Kandungan air dalam tubuh banyak dipakai sebagai media untuk
mengekskresikan glukosa berlebih sehingga setelah air banyak keluar,
konsentrasi plasma darah dalam tubuh meningkat dan memicu
hipotalamus untuk menciptakan sensasi rasa haus dan menstimulasi
20

hipofisis posterior untuk menyekresikan ADH agar kebutuhan cairan
tubuh tetap terpenuhi sampai asupan air minum dipenuhi kembali.
c. Polifagia
Karena penyimpanan karbohidrat sebagai cadangan kalori berkurang,
maka tubuh menciptakan sensasi lapar agar asupan kalori ditambah,
padahal karena terjadi resistensi insulin glukosa yang diserap dari
traktus GI tidak dapat disimpan dalam bentuk cadangan kalori
(glikogen).
Selain itu pasien juga mengalami keluhan sebagai akibat komplikasi dan
komorbid dari DM tipe 2 yaitu :
a. Koordinasi gerak anggota tubuh terganggu (terutama pada jari kaki
saat menggunakan sandal) disertai kelainan saraf lainnya seperti rasa
tertusuk-tusuk pada jari terutama saat malam hari.
 Menunjukkan adanya gejala nefropati karena tingginya kadar
glukosa dalam darah mengganggu penyampaian impuls-impuls
saraf ke ujung saraf lainnya.
b. Hipertensi
 Hipertensi, meskipun bisa disebabkan oleh banyak hal, paling
sering diakibatkan oleh meningkatnya tahanan darah perifer akibat
adanya penyempitan pembuluh darah. Penyempitan tersebut
diakibatkan karena adanya deposisi kolesterol yang diangkut oleh
LDL ke dalam lapisan pembuluh darah dan membentuk plak yang
semakin membesar sehingga terjadi aterosklerosis. Keadaan ini
dipercepat jika mobilisasi lemak cukup tinggi seperti yang terjadi
pada orang-orang dengan obesitas. Padahal asam lemak bebas
yang mudah mobile akan menyebabkan reseptor insulin menjadi
kurang sensitif sehingga tidak bisa bekerja dengan baik dalam
proses penyimpanan glukosa di dalam sel dan akibatnya terjadi
hiperglikemia dan gejala diabetes.
c. Sesak napas pada malam hari saat berbaring, terutama saat
kelelahan.
 Gejala ini perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan fisik dan EKG
untuk memastikan apakah gejala ini terjadi sebagai gejala penyakit
jantung sebagai manifestasi gangguan makropati.

Riwayat Penyakit Dahulu

21

Karena tinggal satu rumah dengan suami yang juga menderita DM. kurang lebih 1 minggu setelah suaminya meninggal akibat komplikasi DM. sehingga pemeriksaan saat ini dalam rangka pemeriksaan rutin 1x/bulan. Awal pasien memeriksakan diri karena merasa lemas dan mudah lelah ditambah penurunan berat badan yang terjadi sebesar 10 kg dalam 3 bulan meskipun nafsu makan tetap normal. Pasien juga mempunyai risiko berat badan berlebih sejak lama.” - Kemungkinan penyebab utama hipertensi bukan berasal dari DM yang diderita namun justru menjadi salah satu faktor risiko terjadinya DM. Pemeriksaan gula darah sewaktu saat itu mencapai 400 mg/dL yang kemudian turun menjadi 125 mg/dL setelah diberi Glibenclamide selama seminggu dan sempat turun drastis di angka 57 mg/dL pada bulan ke-6.” - Banyak hal yang bisa menjadi faktor risiko pasien menderita DM : 1. Sebelumnya pasien jarang memeriksakan diri ke Puskesmas. Pasien merasakan keluhan lemah-lesu hanya 1 minggu setelah suaminya meninggal.“Pasien sudah didiagnosis menderita DM tipe 2 sejak 4 tahun yang lalu. sekaligus mengarahkan DM yang diderita termasuk ke dalam tipe 2 “Riwayat hipertensi juga diketahui semenjak 4 tahun yang lalu dan pasien rutin mengonsumsi Captopril. sehingga diagnosis hipertensi baru diketahui bersamaan dengan diagnosis DM 4 - tahun yang lalu. kemungkinan pola/gaya hidup terutama pola makan yang sama dan beresiko (misal mengandung banyak gula) akan memberikan konstribusi terhadap perkembangan diabetes pada pasien. Hal ini diperkuat karena 3 bulan sebelum didiagnosis menderita DM pasien sudah mengalami - penurunan berat badan tanpa penyebab yang diketahui. Faktor psikis dan stres bisa memicu sekresi kortisol yang meningkatkan kadar gula darah dan menurunkan sensitivitas reseptor insulin sehingga memperburuk kondisi hiperglikemia yang kemungkinan sudah ada sejak beberapa bulan sebelumnya namun asimptomatik. 2. 22 . Pemberian glibenclamide yang memberikan efek cukup signifikan (menurunkan kadar gula darah dari 400 mg/dL menjadi 125 mg/dL) menunjukkan bahwa fungsi sel β-pankreas masih baik.

yaitu hipertensi. Seminggu terakhir sering mengonsumsi lemon tea dan dari hasil pemeriksaan gula darah sewaktu ternyata meningkat dari biasanya.”  Kebiasaan makan dan minum yang mengandung gula dan lemak berlebih menjadi faktor risiko terjadinya sindrom metabolik.“Saat hamil 28 tahun yang lalu sempat memiliki berat badan mencapai 60 kg dengan tinggi badan 148 cm. Gejala nyata dari DM tidak tampak pada saat kehamilan. Jarang olahraga. Akan tetapi edukasi tentang pola diet sepertinya perlu dilakukan lebih jelas lagi.  Kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan kesadaran untuk membatasi diri terhadap konsumsi makanan dan minuman manis bisa menjadi salah satu hal yang mendukung perbaikan penyakit.” Riwayat Penyakit Keluarga - Keluhan serupa disangkal Riwayat DM dan hipertensi disangkal  Faktor risiko genetik atau turunan tidak tampak. tapi berat bayi lahir >4 kg disangkal (berat bayi lahir hanya 1. porsi makan pasien terbilang cukup banyak dan sering mengonsumsi teh manis. Kebiasaan “Sebelum didiagnosis menderita DM. dan obesitas. Jika saat itu dilakukan dan ternyata hasilnya positif kemungkinan DM gestasional yang terjadi bisa menjadi faktor risiko terhadap kejadian DM saat ini. Hal ini diakui pasien karena khawatir penyakitnya memburuk dan berakibat fatal seperti yang dialami oleh suaminya. “Belum pernah dirawat/mondok di rumah sakit. Berdasarkan pengakuan anaknya. dislipidemia. Saat ini karena anjuran dokter. pasien sudah teratur menghindari makanan dan minuman yang manis. Pasien termasuk patuh terhadap jadwal pengobatan. diabetes. dan pasien lupa apakah pernah melakukan tes kadar gula darah. Pasien juga gemar mengonsumsi daging dan gorengan. pengajian rutin di mesjid setempat. 23 .7 tahun)” - IMT saat hamil termasuk ke dalam kategori berat badan berlebih. sehingga kemungkinan besar etiologi dari gejala DM yang dialami berasal dari faktor yang dapat dimodifikasi yaitu gaya/pola hidup. pasien bisa panik jika terlambat/lupa mengonsumsi obat yang diberikan Puskesmas.

polifagia. dan badan terasa lelah. Dokter puskesmas saat itu kemudian melakukan tes kadar gula darah sewaktu dan hasilnya mencapai 400 mg/dL. sehingga diagnosis saat itu sesuai dengan kriteria diagnosis DM pada kolom pertama. di bawah ini adalah langkah-langkah diagnostik DM 24 . KESIMPULAN Dari hasil anamnesis DD yang muncul adalah : diabetes melitus dan sindrom metabolik II. pasien masih belum bisa melakukan olahraga secara rutin. polidipsia. Secara umum. penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. padahal aktivitas ini bisa mendukung penurunan berat badan dan mengurangi faktor risiko terjadinya perburukan diabetes. terdapat tiga kriteria untuk diagnosis diabetes melitus (DM) yaitu : Empat tahun lalu saat pasien pertama kali didiagnosis menderita DM. pasien menunjukkan gejala klasik DM yaitu : poliuria. Sayangnya. ANALISIS DIAGNOSIS Berdasarkan kriteria yang dijabarkan oleh WHO.

terlihat bugar b.5 o BB normal 18. Status gizi Tinggi badan : 148 cm Berat badan : 65 kg IMT : 65 kg ( 1.7  Termasuk ke dalam kriteria obesitas I sesuai dengan klasifikasi IMT WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia Perspective: Redefining Obesity and Its Treatment di bawah ini : o BB kurang <18.5 – 22.9 o BB lebih ≥ 23  Dengan risiko 23.0 – 24. Keadaan Umum Baik.9  Obes II > 30 25 .0 – 29.1 PEMERIKSAAN FISIK Berikut adalah interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik yang kami lakukan : a. tidak tampak kesakitan.9  Obes I 25.II.48 cm ) 2 = 29.

b. pembesaran limfonodi (-).20 C  Normal.c. edema (-). Suhu badan : 36. Frekuensi pernapasan : 30x/menit  Termasuk cepat. Pemeriksaan sistemik Kepala .n.b. tanda inflamasi pada sendi yang sering nyeri dan sendi lain (-). namun tidak tampak adanya napas sesak atau napas dalam (Kussmaul).n Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-).b.n Ekstremitas : Tidak ditemukan adanya luka. karena secara palpasi teraba tidak begitu kuat maka pada pemeriksaan jantung ada hubungannya dengan ictus cordis yang juga tidak teraba terlebih cukup sulit dirasakan karena timbunan lemak cukup tebal. atau jika dikelompokkan berdasarkan kelompok hipertensi lanjut adalah hipertensi urgensi.n . Vital sign Tekanan darah : 190/100 mmHg  Berdasarkan klasifikasi JNC VII termasuk ke dalam kelompok hipertensi II. tanda-tanda acantosis nigricans (-).n : Pada inspeksi ditemukan bekas kerokan karena pada beberapa hari sebelum kunjungan sempat terserang flu dan tidak enak badan.THT : d. Abdomen : d.b.Mulut : d. tidak ditemukan tandatanda iskemia pada kaki (tampak biru-kehitaman) 26 .Mata : d.n . Selebihnya d. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh rangsangan saraf otonom terkait dengan meningkatnya tekanan darah.b. suara bruit pada kelenjar tiroid (-) Toraks - Jantung Paru : d. Frekuensi denyut nadi : 84x/menit.b. d. teraba tidak begitu kuat  Normal.

obesitas Sedangkan tanda-tanda kelainan mikroangiopati seperti retinopati. Ciri kepribadian : Ekstovert Kesimpulan Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan beberapa masalah atau tandatanda abnormal yaitu: a. Gejala yang menonjol adalah gejala neuropati yang sebenarnya bisa dilakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan sensasi vibrasi (128-MHz dari garpu tala yang dipukulkan terlebih dahulu) pada ujung ibu jari kaki atau sensasi sentuh dengan monofilamen. Pemeriksaan dilakukan di Puskesmas Salam dengan alat fingerstick. beberapa kali sempat naik sampai 300 mg/dL. dan pinggang. LDL. Kadar asam urat. nefropati. Berikut adalah pemeriksaan tambahan yang kami sarankan untuk dilakukan berdasarkan keadaan obesitas dan skrining terhadap komplikasi yang mungkin terjadi : a. Pemeriksaan kreatinin serum dan BUN. Hipertensi b. hanya melalui gejala yang dialami pasien. 27 . Pemeriksaan pulsasi periferal (ankle branchial index) untuk mencari kemungkinan penyakit pembuluh darah tepi. dan trigliserida b. Untuk tes kadar HbA1C belum pernah dilakukan sama sekali. lutut. c.e. untuk mengidentifikasi komplikasi gagal ginjal. Profil lipid pada keadaan puasa yang meliputi kolesterol total. Hasilnya cenderung stabil pada rentang 130-160 mg/dL. dan neuropati tidak ditemukan secara langsung pada pemeriksaan fisik. HDL. pemeriksaan tersebut tidak dilakukan. siku.2 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang sudah dilakukan adalah pemeriksaan gula darah sewaktu yang dilakukan rutin setiap bulan. mikroalbuminuria. mengingat pasien sering mengeluh nyeri sendi pada ujung-ujung jari. II. Saran pemeriksaan fisik tambahan yang belum dilakukan - Melakukan pemeriksaan retina sebagai salah satu langkah - skrining terhadap komplikasi retinopati. Namun karena keterbatasan alat dan skill.

manis Menambahkan menu sayur pada setiap kali makan Menghindari makanan dan minuman manis Konsumsi nasi masih diperbolehkan asal obat terus dikonsumsi Usahakan melakukan aktivitas fisik tertentu/olah raga Kemudian kami melakukan analisis terhadap penatalaksanaan yang sudah diberikan di atas sesuai dengan sumber referensi yang ada dan terdapat pada uraian di bawah ini. sepanjang yang diingat oleh pasien obat yang diberikan tidak pernah berubah. c. Dalam 1 hari harus ada konsumsi buah-buahan yang tidak terlalu b.ANALISIS PENATALAKSANAAN Selama 4 tahun menderita DM tipe 2. Captopril 25 mg 2x 1 tablet/hari c. KESIMPULAN Dari hasil pemeriksaan penunjang pada saat kunjungan maupun hasil sebelumnya (dengan tes kadar gula darah sewaktu) menunjukkan diagnosis DM tipe positif.d. yaitu : a. dan DM. 28 . Vitamin B12 2x 1 tablet/hari e. dokter juga memberikan edukasi untuk pengaturan pola makan yang disampaikan secara sederhana dan ditangkap pasien sebagai berikut : a. obesitas. e. hampir selalu sama. Glibenclamide 5 mg 2x 1/2 tablet/hari b. Antalgin 500 mg 2x 1 tablet/hari d. Pemeriksaan EKG dan foto toraks terkait skrining kelainan jantung yang mungkin terjadi karena pasien mempunyai faktor risiko hipertensi. III. Vitamin B6 2x 1 tablet/hari Di samping itu menurut pengakuan pasien. d. dislipidemia.

Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. EDUKASI Pada dasarnya.KENDALI GLUKOSA A. aktivitas fisik. pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). dan tim kesehatan yang mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat. keluarga. atau - hipoglikemia Pentingnya latihan jasmani yang teratur Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada - kehamilan) Pentingnya perawatan kaki Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. dan obat - hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obatan lain Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak - tersedia) Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit. masyarakat. Keberhasilan pengelolaan DM tentunya membutuhkan partisipasi aktiif pasien. 29 . Hal ini bisa diawali dengan memberikan materimateri edukasi yang mendukung. misalnya pada tingkat awal materi yang diberikan adalah : - Materi tentang perjalanan penyakit DM Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara - berkelanjutan Penyulit DM dan risikonya Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan Interaksi antara asupan makanan.

pasien memang menderita komorbid tersebut (dislipidemia. Akan tetapi kami menangkap bahwa pasien belum sepenuhnya memahami komposisi makanan yang dianjurkan sebenarnya. Selain itu pembatasan lemak sepertinya belum menjadi fokus yang lebih diperhatikan pada pola makan pasien. asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted-Daily Intake) 30 . terlihat dari anggapan bahwa konsumsi nasi masih diperbolehkan asal pengobatan terus jalan sehingga akibatnya pasien hanya mengurangi sedikit dari banyaknya karbohidrat yang dimakan. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula. Untuk itu kami menyarankan bahwa pengaturan komposisi makanan dilakukan sebagai berikut : Karbohidrat - Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. B. materi-materi di atas banyak yang belum dipahami oleh pasien sehingga kami menyarankan untuk lebih sering mengikuti penyuluhan tentang pengelolaan DM tipe 2 yang sebenarnya cukup sering diadakan oleh Puskesmas Salam tempat pasien berobat. obesitas).Sedangkan materi edukasi yang diberikan pada tingkat lanjut adalah : - Mengenal dan mencegah penyulit akut DM Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain Makan di luar rumah Rencana untuk kegiatan khusus Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir - tentang DM Pemeliharaan/perawatan kaki Sementara dari hasil wawancara kami. Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes - dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. antara lain membatasi konsumsi gula/karbohidrat. Nyatanya. hipertensi. padahal lemak menjadi salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis yang mengarah ke hipertensi dan menurunkan sensitivitas reseptor insulin. TERAPI NUTRISI MEDIS Bagian penatalaksanaan ini sebenarnya sudah disampaikan oleh dokter kepada pasien. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat - tinggi.

Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu - penuh (whole milk). Mereka yang hipertensi. buah.dll). Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari. vetsin. maltitol. Gula alkohol antara lain isomalt. Pemanis alternatif - Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak - berkalori. mineral. soda. sorbitol dan xylitol. Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari. tahu. udang. Sumber natrium antara lain adalah garam dapur. Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori Lemak tidak jenuh ganda < 10 %. Lemak - Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. pembatasan natrium sampai 2400 mg. cumi. mannitol. Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan. dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. dan tempe. dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. 31 .- Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. serat. lactitol. selebihnya dari lemak tidak jenuh - tunggal. Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa. Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi. Natrium - Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau - sama dengan 6-7 gram (1 sendok teh) garam dapur. produk susu rendah lemak. daging tanpa lemak.8 g/KgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi. Serat - Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan. karena mengandung - vitamin. Protein - Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi. Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0. - kacang-kacangan. ayam tanpa kulit. Anjuran konsumsi kolesterol <200 mg/hari.

32 . Dosis yang diberikan adalah 5 mg/hari yang dibagi dalam 2 dosis (sudah sesuai dengan rentang dosis harian 1.- Dalam penggunaannya.25-20 mg dan pada petunjuk pemakaian DOE). pasien diberikan obat dari golongan sulfoniluria golongan II yaitu Glibenclamide (gliburid) yang bekerja sebagai pemicu sekresi insulin. TERAPI FARMAKOLOGIS – OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL Pada kasus ini. D. Kelebihan obat golongan kedua adalah onsetnya yang lebih cepat dalam menurunkan kadar gula darah dan risiko hipoglikemia nya lebih kecil. Berikut adalah aktivitas fisik yang disarankan : Sayangnya pasien masih sulit untuk melakukan saran ini dengan alasan belum ada waktu khusus yang disediakan khususnya untuk aktivitas olahraga atau rekreasi. Pemanis tak berkaloriyang masih - aspartam. sehingga kontrol glikemik akan membaik dan memperbaiki pula dari gejala diabetes yang muncul. sakarin. acesulfame potassium. pemanis berkalori - kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari. LATIHAN JASMANI Latihan ini berguna untuk meningkatkan aktivitas metabolisme tubuh sehingga jumlah dan sensitivitas reseptor insulin akan meningkat. Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman dapat perlu diperhitungkan digunakan antara lain (Accepted Daily Intake / ADI) Pengaturan komposisi makanan ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan kalori setiap orang yang berbeda-beda sesuai C. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena - efek samping pada lemak darah. dan neotame. sukralose.

pada pasien ini lebih baik diberikan pengobatan alternatif untuk kategori obat hipoglikemik oral nya. Pemberian metformin dilakukan dengan dosis awal 500 mg sebanyak 1-2 kali dalam sehari yang kemudian bisa ditingkatkan sampai 1 gram sebanyak 1-2 kali sehari. b. .Akan tetapi jika melihat faktor risiko dan kondisi pasien. c.Perlu pemeriksaan profil lipid pada saat diagnosis diabetes ditegakkan. d. Ketoasidosis Stres berat BB menurun dengan cepat Ketonuria PENANGANAN KELAINAN KOMORBID A. Sedangkan insulin belum perlu untuk diberikan karena tidak ada indikasi yang muncul pada pasien yaitu : a. pasien mempunyai faktor risiko mengalami dislipidemia. Pilihan tersebut bisa dialihkan pada Metformin dari golongan biguanide. sehingga pada analisis terapi ini kami jabarkan perencanaan tindakan untuk memastikan dan menangani kelainan komorbid ini. pemberian obat tersebut dirasa kurang tepat karena beberapa faktor di bawah ini : a. Pada pasien dewasa pemeriksaan profil lipid sedikitnya dilakukan 33 . obat ini juga masuk ke dalam formularium obat Jamkesmas. Kelebihan tersebut lebih cocok pada kondisi pasien yang mengalami obesitas. bahkan bisa menurunkan berat badan dan memperbaiki profil lipid. Dalam Daftar Obat Esensial Nasional 2008 (DOEN 2008) sebenarnya metformin termasuk ke dalam daftar obat terbatas puskesmas dan mengingat pasien adalah anggota Jamkesmas. Sedangkan pada kasus ini. Indikasi pemberian glibenclamide pada DOE sebenarnya mencakup diabetes melitus tipe 2 tanpa komplikasi dengan efek pengaturan diet yang tidak adekuat. pasien sudah mulai menunjukkan gejala komplikasi neuropati sehingga kondisi ini justru masuk ke dalam tabel kontraindikasi. DISLIPIDEMIA Dilihat dari kebiasaan dan status gizinya. Sehingga. sehingga efek dari obat akan memperberat faktor komorbid ini dan meningkatkan faktor risiko berkembanganya penyakit DM. Efek samping utama obat-obatan golongan sulfoniluria adalah hipoglikemia dan peningkatan berat badan. b. Obat ini tidak ada kaitannya dengan berat badan. Padahal pasien jika dinilai dengan IMT sudah termasuk ke dalam kategori obesitas.

sedangkan kadar kolesterol LDL normal atau sedikit - meningkat. Pada penyandang DM dengan penyakit Acute Coronary Syndrome (ACS) atau telah diketahui penyakit pembuluh darah lainnya atau mempunyai banyak faktor risiko maka : o LDL <70 mg/dL (1.7 mmol/L) atau HDL ≤40 mg/dL (1. Dipertimbangkan untuk memberikan terapi farmakologis sedini mungkin bagi penyandang diabetes yang disertai dislipidemia Target terapi: - Pada penyandang DM. dan penurunan kadar kolesterol HDL.15 mmol/L) dapat diberikan o niasin atau fibrat Apabila trigliserida ≥400 mg/dL (4. Perubahan perilaku yang tertuju pada pengurangan asupan kolesterol dan penggunaan lemak jenuh serta peningkatan aktivitas fisik terbukti - dapat memperbaiki profil lemak dalam darah. Trigliserida < 150 mg/dL (1. pemeriksaan profil lipid - dapat dilakukan 2 tahun sekali.8 mmol/L) o Semua pasien diberikan terapi statin untuk menurunkan LDL o o sebesar 30-40%. dapat diberikan terapi - farmakologis.7 mmol/L) HDL > 40 mg/dL (1. dianjurkan diberi terapi statin untuk - menurunkan LDL sebesar 30-40% dari kadar awal Pasien dengan usia <40 tahun dengan risiko penyakit kardiovaskular yang gagal dengan perubahan gaya hidup. HDL>50 mg/dL (laki-laki >40 mg/dL.15 mmol/L) untuk pria dan >50 mg/dL untuk o wanita Setelah target LDL terpenuhi. trigliserid <150 mg/dL). wanita >50 mg/dL).6 mmol/L) Pasien dengan usia >40 tahun.51 mmol/L) perlu segera diturunkan dengan terapi farmakologis untuk mencegah timbulnya pankreatitis. 34 .setahun sekali dan bila dianggap perlu dapat dilakukan lebih sering. target utamanya adalah penurunan LDL Pada penyandang diabetes tanpa disertai penyakit kardiovaskular: LDL - <100 mg/dL (2. Sedangkan pada pasien yang pemeriksaan profil lipid menunjukkan hasil yang baik (LDL<100mg/dL. Gambaran dislipidemia yang sering didapatkan pada penyandang diabetes adalah peningkatan kadar trigliserida. jika trigliserida ≥150 mg/dL (1.

dapat diberikan terapi farmakologis secara o langsung Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat dicapai dengan monoterapi. Niasin merupakan salah satu obat alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan HDL. dosis rendah Diuretik dosis rendah Penghambat reseptor alfa Antagonis kalsium Pada pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau tekanan diastolik antara 80-89 mmHg diharuskan melakukan perubahan gaya hidup sampai 3 bulan. HIPERTENSI . menghentikan merokok dan alkohol. . Bila gagal o mencapai target dapat ditambahkan terapi farmakologis Pasien dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg atau tekanan diastolik >90 mmHg. serta mengurangi konsumsi garam Farmakologis: Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat antihipertensi (OAH): o Pengaruh OAH terhadap profil lipid  Pengaruh OAH terhadap o o Obat o o o o o o o metabolisme glukosa Pengaruh OAH terhadap resistensi insulin Pengaruh OAH terhadap hipoglikemia terselubung anti hipertensi yang dapat dipergunakan: Penghambat ACE Penyekat reseptor angiotensin II Penyekat reseptor beta selektif.Indikasi pengobatan : Bila TD sistolik >130 mmHg dan/atau TD diastolik >80 mmHg.o Terapi kombinasi statin dengan obat pengendali lemak yang lain mungkin diperlukan untuk mencapai target terapi. - meningkatkan aktivitas fisik. Catatan 35 . namun pada dosis besar dapat meningkatkan kadar glukosa darah B. dengan o memperhatikan peningkatan risiko timbulnya efek samping.Sasaran (target penurunan) tekanan darah: o Tekanan darah <130/80 mmHg o Bila disertai proteinuria ≥1gram /24 jam : < 125/75 mmHg Pengelolaan:  Non-farmakologis: Modifikasi gaya hidup antara lain: menurunkan berat badan.

Setelah diagnosis DM ditegakkan. pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan 36 . Pemberian OAH berupa diuretik tiazid tidak disarankan jika pasien juga menerima pengobatan sulfonilurea. pasien kesulitan menggerakkan - kakinya saat menggunakan sandal. - yang didasari oleh resistensi insulin Resistensi insulin pada diabetes dengan obesitas membutuhkan pendekatan khusus PENGELOLAAN KOMPLIKASI A. demikian pula kejadian DM - dan gangguan toleransi glukosa pada obesitas cukup sering dijumpai Obesitas. tekanan darah diturunkan secara bertahap. NEUROPATI . terutama obesitas sentral secara bermakna berhubungan dengan sindrom dismetabolik (dislipidemia. dan lebih terasa sakit di malam hari. C. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri. OBESITAS . Bila tekanan darah terkendali. tidak - memperburuk toleransi glukosa.Prevalensi obesitas pada DM cukup tinggi.Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer. penyekat reseptor angiotensin II (ARB =angiotensin II receptor blocker) dan antagonis kalsium golongan non-dihidropiridin - dapat memperbaiki mikroalbuminuria. Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah - tercapai. hipertensi). berupa hilangnya sensasi distal.- Penghambat ACE. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. hiperglikemia. Pada kasus ini. terbukti Pada kasus ini obat yang dipilih berasal dari golongan ACEI yaitu Captopril dengan dosis sesuai yaitu 25 mg sebanyak 2 kali dalam sehari. setelah satu tahun dapat dicoba - menurunkan dosis secara bertahap. Pada orang tua. Propanolol juga dapat menghambat efek takikardia saat terjadi hipoglikemia akibat penggunaan sulfonilurea sehingga membiaskan kejadian hipoglikemia dan bisa menjadi gawat. Pasien mendeskripsikannya - sebagai rasa seperti ditusuk-tusuk pada ujung-ujung jari tangan. Penghambat ACE dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular. Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang.

Jika dapat dipastikan penyebabnya kelebihan asam urat. atau gabapentin. Meredakan nyeri pinggang dan nyeri sendi Pasien kerap kali mengeluhkan nyeri pinggang dan nyeri sendi di jari-jari sehingga dokter memberikan Antalgin 500 mg sebanyak 2 kali sehari. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal. Untuk dosis B6 yang diberikan sebesar 2x 10 mg per hari. PENGOBATAN LAIN a. Semua penyandang diabetes yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki. perawatan kaki yang - memadai akan menurunkan risiko amputasi. Pemberian tambahan vitamin Dokter memberikan tambahan vitamin B12 dan B6 kepada pasien sebagai salah satu standar penanganan terhadap komplikasi neuropati. maka bisa diberikan anti pirai seperti probenezid atau alopurinol. b. Dosis ini dianggap 37 . dengan monofilamen 10 gram - sedikitnya setiap tahun. Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan duloxetine.pemeriksaan neurologi sederhana. Penatalaksanaan selanjutnya sebenarnya perlu dilakukan pemeriksaan apakah nyeri pinggang tersebut disebabkan oleh gout arthritis dengan mengecek kadar asam urat. antidepresan - trisiklik.

kolesterol LDL. EVALUASI SECARA BERKALA - Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan. 38 . kolesterol HDL. dan trigliserida  EKG  Foto sinar-X dada  Funduskopi TARGET PENGENDALIAN DM - Pada kasus ini target yang digunakan adalah target dengan risiko kardiovaskular (+) karena pasien mempunyai gejala dan tanda hipertensi. tetapi jika pemakaian jangka panjang dengan dosis 50-2000 mg/hari justru akan menyebabkan neuropati sensorik. atau pada waktu-waktu tertentu lainnya sesuai dengan - kebutuhan Pemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulan Secara berkala dilakukan pemeriksaan:  Jasmani lengkap  Mikroalbuminuria  Kreatinin  Albumin / globulin dan ALT  Kolesterol total.aman.

39 .