Anda di halaman 1dari 15

Traumatic injury adalah injury yang dapat bersifat fisik (badan) atau emosional yang

dihasilkan oleh luka luka fisik atau mental, atau shock. Traumatic dental injury atau
dental trauma merupakan injury yang terjadi pada mulut, termasuk gigi, bibir, gusi,
lidah, dan tulang rahang. Traumatic dental injury umumnya merupakan kombinasi
trauma jaringan lunak peri-oral, gigi, dan jaringan pendukungnya.
Fraktur dentoalveolar adalah fraktur pada tulang alveolar dengan gigi yang
berhubungan.
Reaksi Gigi terhadap Trauma

Hyperemia : Edema pulpa, bisa reversible dan irreversible, internal resorption

Hemorrhage : Diskolorasi karena pigmen darah diserap tubulus dentin

Calcific Metamorfosis : Resorpsi inflammatory/pulpal obliteration dimana


kamar pulpa dan kanal
terisi oleh jaringan terkalsifikasi menyerupai dentin

Pulpal necrosis : Resorpsi replacement

Komplikasi Cidera Gigi terhadap Primary dan Permanent Dentition


Gigi Sulung :
-

Gagal melanjutkan erupsi

Perubahan warna

Infeksi dan abses

Hilang ruangan pada lengkung gigi

Ankilosis

Injury pada gigi permanen yang sedang berkembang

Exfoliasi abnormal

Biaya untuk mempertahankan dental archspace dan restorasi

Gigi Permanen :
-

Perubahan warna

Infeks dan abses

Hilang ruangan pada lengkung gigi

Ankilosis

Resorpsi struktur gigi

Harga untuk melanjutkan terapi

Perkembangan gigi yang abnormal

DAFTAR PUSTAKA
Fonseca RJ. 2005. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. St. Louis : Elsevier
saunders.
Andreasen, J.O. 1981. Traumatic injuries of the teeth 2nd. Munksgaard. Copenhagen
Trauma gigi mengacu pada trauma (cedera) pada gigi dan /
atau periodonsium (gusi, ligamen periodontal, tulang alveolar), dan dekatjaringan
lunak seperti bibir, lidah, dll Studi tentang trauma gigi disebut traumatologi gigi. [1 ]

Rabu, 26 Mei 2010


FRAKTUR DENTOALVEOLAR
LBM 3 BLOK 13
fraktur pada gigi
1. Definisi
Fraktur dental atau patah gigi adalah hilangnya atau lepasnya fragmen dari suatu
gigi utuh yang biasanya disebabkan oleh trauma atau benturan
2. klasifikasi fraktur ellis
Klasifikasi fraktur ellis berdasarkan kerusakan struktur gigi :
1.Klas I : Tidak ada fraktur atau fraktur mengenai email dengan atau tanpa
memakai perubahab tempat, menunjukkan luka kecil chipping dengan kasar.
2.Klas II : Fraktur mengenai dentin dan belum mengenai pulpa dengan atau tanpa
memakai perubahan tempat. pasien mungkin mengeluh rasa sakit untuk
menyentuh dan kepekaan terhadap udara. Sebuah paparan kuning pucat proses
dentinal, yang berkomunikasi langsung dengan pulp, dapat terjadi. Pasien lebih
muda dari 12 tahun memiliki gigi belum menghasilkan dentin apalagi mencakup

ruang antara pulp dan email. Kesempatan infeksi dan kerusakan pada pulp di
kelompok usia ini jauh lebih besar karena ukuran pulp lebih besar dan lebih pendek
jarak dentin infeksi harus melintasi.
3.Klas III : Fraktur mahkota dengan pulpa terbuka dengan atau tanpa perubahan
tempat. ; pasien mengeluh sakit dengan manipulasi, udara, dan suhu. tanda merah
muda atau kemerahan di sekitar dentin sekitarnya atau darah di tengah-tengah gigi
dari pulp terkena mungkin hadir.
4.Klas IV : Gigi mengalami trauma sehingga gigi menjadi non vital dengan atau
tanpa hilangnya struktur mahkota
5.Klas V : Hilangnya gigi sebagai akibat trauma
6.Klas VI : Fraktur akar dengan atau tanpa hilangnya struktur mahkota
7.Klas VII : Perpindahan gigi atau tanpa fraktur mahkota atau akar gigi
8.Klas VIII : Fraktur mahkota sampai akar
9.Klas IX : Fraktur pada gigi desidui
3. Etio
Fraktur dental pada umumnya terjadi bersamaan dengan cidera mulut lainnya
Penyebab umum fraktur dental adalah benturan atau trauma terhadap gigi yang
menyebabkan disrupsi atau kerusakan enamel, dentin, atau keduanya
Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa
pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya
tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang
berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak
terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur
4. faktor predisposisi
faktor predisposisi fraktur dental antara lain postnormal occlusion, overjet yang
melebihi 4 mm, bibir atas yang pendek, bibir yang inkompeten, dan pernapasan
melalui mulut
umur, aktivitas olahraga, riwayat medis, dan anatomi gigi juga merupakan fraktur
predisposisi

5. Pemeriksaan
Pemeriksaan subyektif
Keluhan utama : pasien datang angin ditambal karena gigi depan atas patah.
Riwayat perjalanan penyakit : gigi tersebut patah sudah 2 hari yang lalu, dan pasien
mengeluh sakit 1 hari setelah kejadian dan tidak sakit lagi setelah 2 hari kejadian,
tetapi pasien mengeluh giginya ngilu bila minum es
Riwayat kehidupan sosial : pasien seoran pelajar kelas 1 sekolah dasar
Informasi medis : pasien tidak mempunyai penyakit sistemik
Pemeriksaan Objektif

Terdapat cavitas kedalaman dentin pada bagian incisal


Perkusi + (sakit)
Palpasi + (sakit)
Sondasi + (ngulu)
CE + (ngulu)
Kegoyahan +

6. Perawatan
Perawatan fraktur klas II pada gigi permanen :
* Perlindungan pulpa
* Restorasi
* Kontrol vitalitas 6-8 minggu
Pulp Capping adalah suatu perlindungan terhadap pulpa sehat yang hampir
tereksponasi atau tereksponasi kecil dengan obat-obatan antiseptik atau sedatif
agar pulpa sembuh kembali serta mendapatkan vitalitas dan fungsi yang normal.

fraktur alveolar
1. Definisi
2. klasifikasi
3. etio
4. faktor predisposisi
5. pemeriksaan
6. perawatan
pertanyaan tambahan dari drg.Ratna
1. mekanisme luksasi gigi
2. klasifikasi derajat luksasi
*Derajat 1: Kegoyangan yang sedikit lebih besar daripada normal
*Derajat 2: kegoyangan gigi sekitar 1 mm
*Derajat 3: Kegoyangan gigi lebih besar dari 1mm pada segala arah dan atau gigi
dapat ditekan kearah apikal
3. Perawatan
1.Perawatan gigi goyah ( luksasi ) dilakukan stabilisasi dengan splint. Tujuan
pembuatan splint yaitu untuk membantu proses regenerasi jaringan pendukung
gigi.Durasi pemasangan splint tergantung dengan derajat awal kegoyahan gigi dan
luasnya kerusakan alveolar.
Klasifikasi splint dibagi 3 :
Temporer: splint yang hanya dipasang pada waktu tt, bila gigi tidak goyah lagi splint
dilepas. Macamnya=> silk ligature,wire ligature,wire dan acrylic ligature, composite

resin, dental night guard


Permanen: splint yang digunakan terus menerus dan permanen selamanya.
Macamnya => acrylic continous spring.
Profesional / diagnostik splint : splint yang digunakan dlm kondisi ragu-ragu
merupakan diagnostik apakah dirawat dengan splint atau tindakan perawatan lain.
4. kenapa harus splint ?
1.. Tujuan pembuatan splint yaitu untuk membantu proses regenerasi jaringan
pendukung gigi.Durasi pemasangan splint tergantung dengan derajat awal
kegoyahan gigi dan luasnya kerusakan alveolar.
5. kenapa pada hasil rontgen ada area radiolusen disekelilingi akar gigi ?
Tanda terjdny inflamasi / peradangan akut(kronis).
6. mengapa gigi bisa goyah (perbedaan goyah+luksasi)
Diposkan oleh angga tama di 08.17

Trauma adalah luka atau jejas baik fisik maupun psikis yang disebabkan oleh
tindakan-tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur.
Trauma gigi anterior sering terjadi pada anak-anak karena anak-anak lebih aktif
daripada orang dewasa dan koordinasi serta penilaiannya tentang keadaan belum
cukup baik sehingga sering terjatuh saat belajar berjalan, berlari, bermain, dan
berolahraga. Kerusakan yang terjadi pada gigi anak dapat mengganggu fungsi
bicara, pengunyahan, estetika, dan erupsi gigi tetap sehingga mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan gigi serta rahang. Secara psikologis kehilangan
gigi secara dini terutama gigi anterior akan menyebabkan gangguan pada anak dan
orang tua. Penatalaksanaan trauma gigi pada anak selain menerapkan teknik-teknik
serta pemakaian bahan-bahan yang tepat juga harus memperhatikan pendekatan
psikologis agar anak tidak mengalami trauma lain disamping trauma gigi yang
sedang dialaminya. Oleh karena itu pendekatan terhadap orang tua dan anak
merupakan faktor-faktor penting yang harus diperhatikan. 1
Pengertian trauma secara umum adalah luka atau jejas baik fisik maupun psikis.
Trauma dengan kata lain disebut injury atau wound, dapat diartikan sebagai
kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan fisik dengan
terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Trauma juga diartikan sebagai suatu
kejadian tidak terduga atau suatu penyebab sakit, karena kontak yang keras
dengan suatu benda. Definisi lain menyebutkan bahwa trauma gigi adalah
kerusakan yang mengenai jaringan keras gigi dan atau periodontal
karena sebab mekanis. Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka trauma gigi
anterior merupakan kerusakan jaringan keras gigi dan atau periodontal karena
kontak yang keras dengan suatu benda yang tidak terduga sebelumnya pada gigi

anterior baik pada rahang atas maupun rahang bawah atau kedua-duanya.
Penyebab trauma gigi pada anak-anak yang paling sering adalah karena jatuh saat
bermain, baik di luar maupun di dalam rumah dan saat berolahraga. Trauma gigi
anterior dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, trauma gigi secara
langsung terjadi ketika benda keras langsung mengenai gigi, sedangkan trauma gigi
secara tidak langsung terjadi ketika benturan yang mengenai dagu menyebabkan
gigi rahang bawah membentur gigi rahang atas dengan kekuatan atau tekanan
besar dan tiba-tiba.1
Trauma pada gigi dapat menyebabkan injuri pulpa, dengan atau tanpa kerusakan
mahkota atau akar, atau pemindahan gigi dari soketnya. Bila mahkota atau akar
patah atau mengalami fraktur, pulpa dapat sembuh dan hidup terus, dapat segera
mati, atau dapat mengalami degenerasi progresif dan akhirnya mati. 2
Menurut suatu penelitian prevalensi tertinggi trauma gigi anterior pada anak-anak
terjadi antara usia 1-3 tahun karena pada usia tersebut, anak mempunyai
kebebasan serta ruang gerak yang cukup luas, sementara koordinasi dan
penilaiannya tentang keadaan belum cukup baik. Frekuensi trauma cenderung
meningkat saat anak mulai merangkak, berdiri, belajar berjalan, dan biasanya
berkaitan dengan masih kurangnya koordinasi motorik. Penelitian lain menyebutkan
bahwa salah satu periode rawan fraktur adalah pada saat usia 2-5 tahun, karena
pada usia ini anak belajar berjalan dan berlari. Prevalensi trauma gigi yang terjadi
pada anak usia di atas 5 tahun menunjukkan penurunan disebabkan karena
koordinasi motorik anak yang semakin membaik, namun terjadi peningkatan
kembali pada periode 8-12 tahun karena adanya peningkatan aktifitas fisik mereka. 1
KLASIFIKASI GIGI YANG MENGALAMI FRAKTUR
1.

Klasifikasi fraktur menurut Ellis.3,4,5

Klasifikasi Ellis (1961) terdiri dari enam kelompok dasar:


a.

Fraktur email.

Fraktur mahkota sederhana, tanpa mengenai dentin atau hanya sedikit mengenai
dentin.
b.

Fraktur dentin tanpa terbukanya pulpa.

Fraktur mahkota yang mengenai cukup banyak dentin, tapi tanpa mengenai pulpa.
c.

Fraktur mahkota dengan terbukanya pulpa.

Fraktur mahkota yang mengenai dentin dan menyebabkan pulpa terbuka.


d. Fraktur akar.
e.

Luksasi gigi.

f.
2.

Intrusi gigi
Klasifikasi menurut Ellis dan Davey.1,3,5,6

Ellis dan Davey (1970) menyusun klasifikasi trauma pada gigi anterior menurut
banyaknya struktur gigi yang terlibat, yaitu :
Kelas 1 : Fraktur mahkota sederhana yang hanya melibatkan jaringan email.
Kelas 2 : Fraktur mahkota yang lebih luas yang telah melibatkan jaringan dentin
tetapi belum melibatkan pulpa.
Kelas 3 : Fraktur mahkota gigi yang melibatkan jaringan dentin dan menyebabkan
terbukanya pulpa.
Kelas 4 : Trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital dengan atau
tanpa kehilangan struktur mahkota.
Kelas 5 : Trauma pada gigi yang menyebabkan kehilangan gigi atau avulsi.
Kelas 6 : Fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota.
Kelas 7 : Perubahan posisi atau displacement gigi.
Kelas 8 : Kerusakan gigi akibat trauma atau benturan pada gigi yang
menyebabkan fraktur mahkota yang besar tetapi gigi tetap pada tempatnya dan
akar tidak mengalami perubahan.
Kelas 9: kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.
3.
Klasifikasi menurut World Health Organization (WHO) dan modifikasi
oleh Andreasen.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada tahun 1978 memakai
klasifikasi dengan nomor kode yang sesuai dengan Klasifikasi Penyakit Internasional
(International Classification of Diseases), sebagai berikut:5,2,7
873.60: Fraktur email.
Meliputi hanya email dan mencakup gumpilnya email, fraktur tidak menyeluruh
atau retak pada email.
873.61: Fraktur mahkota yang melibatkan email dan dentin tanpa terbukanya
pulpa.
Fraktur sederhana yang mengenai email dan dentin, pulpa tidak terbuka.
873.62: Fraktur mahkota dengan terbukanya pulpa.

Fraktur yang rumit yang mengenai email dan dentin dengan disertai pulpa yang
terbuka.
873.63: Fraktur akar.
Fraktur akar yang hanya mengenai sementum, dentin, dan pulpa. Juga disebut
fraktur akar horizontal.
873.64: Fraktur mahkota-akar.
Fraktur gigi yang mengenai email, dentin, dan sementum akar. Bisa disertai atau
tidak dengan terbukanya pulpa.
873.66: Luksasi.
Pergeseran gigi, mencangkup konkusi (concussion), subluksasi, luksasi lateral,
luksasi ekstruksi, dan luksasi intrusi.
873.67: Intrusi atau ekstrusi.
873.68: Avulsi.
Pergeseran gigi secara menyeluruh dan keluar dari soketnya.
873.69: Injuri lain, seperti laserasi jaringan lunak.
Klasifikasi ini dimodifikasi oleh Andreasen (1981) menurut contoh berikut: 2,5
873.64: Fraktur mahkota-akar yang tidak rumit tanpa terbukanya pulpa.
873.64: Fraktur mahkota-akar yang rumit dengan terbukanya pulpa.
873.64 (Fraktur mahkota-akar komplit atau tidak komplit)
873.66: Konkusi (concussion), injuri pada struktur pendukung gigi yang bereaksi
terhadap perkusi.
873.66: Subluksasi, suatu injuri pada struktur pendukung gigi dengan kegoyahan
abnormal tetapi tanpa pemindahan gigi.
873.66: Luksasi lateral, pemindahan gigi pada arah lain daripada ke aksial, diikuti
oleh fraktur soket alveolar.
873.66 (Konkusi, subluksasi, lateral luksasi)
Klasifikasi fraktur mahkota gigi menurut World Health Organization(WHO) dengan
nomor kode yang sesuai dengan klasifikasi Penyakit Internasional (International
Classification of Diseases) tahun 1995, sebagai berikut:1

(S 02.50): Infraksi enamel. Sebuah fraktur tidak utuh atau retaknya enamel tanpa
kehilangan substansi giginya.
(S 02.50): Fraktur enamel. Sebuah fraktur dengan hilangnya substansi gigi yang
mengenai enamel.
(S 02.51): Fraktur enamel-dentin. Sebuah fraktur dengan hilangnya substansi gigi
yang melibatkan enamel dan dentin tanpa terbukanya pulpa.
(S 02.52): Fraktur mahkota yang mengenai enamel dan dentin, dengan
terbukanya pulpa.
(S 02.53): Fraktur akar. Sebuah fraktur yang mengenai dentin, sementum, dan
pulpa.
(S 02.54): Fraktur mahkota-akar. Sebuah fraktur yang mengenai enamel, dentin,
dan sementum dengan atau tanpa terbukanya pulpa.
Klasifikasi yang direkomendasikan dari World Health Organization(WHO)
dalam Application of International Classification of Diseases to Dentistry and
Stomatology diterapkan baik gigi sulung dan gigi tetap, yang meliputi jaringan keras
gigi, jaringan pendukung gigi dan jaringan lunak rongga mulut yaitu sebagai berikut
:1,5

I. Kerusakan pada jaringan keras gigi dan pulpa.


1. Retak mahkota (enamel infraction) (N 502.50), yaitu suatu fraktur yang tidak
sempurna pada email tanpa kehilangan struktur gigi dalam arah horizontal atau
vertikal.
2. Fraktur email yang tidak kompleks (uncomplicated crown fracture) (N 502.50),
yaitu suatu fraktur yang hanya mengenai lapisan email saja.
3. Fraktur email-dentin (uncomplicated crown fracture) (N 502.51), yaitu fraktur
pada mahkota gigi yang hanya mengenai email dan dentin saja tanpa melibatkan
pulpa.
4. Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fracture) (N 502.52), yaitu
fraktur yang mengenai email, dentin, dan pulpa.
II. Kerusakan pada jaringan keras gigi, pulpa, dan tulang alveolar.
1. Fraktur mahkota-akar (N 502.53), yaitu suatu fraktur yang mengenai email,
dentin, dan sementum. Fraktur mahkota akar yang melibatkan jaringan pulpa
disebut fraktur mahkota-akar yang kompleks (complicated crown-root fracture (N

502.54)) dan fraktur mahkota-akar yang tidak melibatkan jaringan pulpa disebut
fraktur mahkota-akar yang tidak kompleks (uncomplicated crown-root fracture (N
502.54)).
2. Fraktur akar, yaitu fraktur yang mengenai dentin, sementum, dan pulpa tanpa
melibatkan lapisan email.
3. Fraktur dinding soket gigi, yaitu fraktur tulang alveolar yang melibatkan dinding
soket labial atau lingual, dibatasi oleh bagian fasial atau lingual dari dinding soket.
4. Fraktur prosesus alveolaris, yaitu fraktur yang mengenai prosesus alveolaris
dengan atau tanpa melibatkan soket alveolar gigi.
5. Fraktur korpus mandibula atau maksila, yaitu fraktur pada korpus mandibula atau
maksila yang melibatkan prosesus alveolaris, dengan atau tanpa melibatkan soket
gigi.
III. Kerusakan pada jaringan periodontal.
1. Concusion (N 503.20), yaitu trauma yang mengenai jaringan pendukung gigi
yang menyebabkan gigi lebih sensitif terhadap tekanan dan perkusi tanpa adanya
kegoyangan atau perubahan posisi gigi.
2. Subluxation (N 503.20), yaitu kegoyangan gigi tanpa disertai perubahan posisi
gigi akibat trauma pada jaringan pendukung gigi.
3. Luksasi ekstrusi (partial displacement) (N 503.20), yaitu pelepasan sebagian gigi
ke luar dari soketnya. Ekstrusi menyebabkan mahkota gigi terlihat lebih panjang.
4. Luksasi, merupakan perubahan letak gigi yang terjadi karena pergerakan gigi ke
arah labial, palatal maupun lateral, hal ini menyebabkan kerusakan atau fraktur
pada soket alveolar gigi tersebut. Trauma gigi yang menyebabkan luksasi lateral
menyebabkan mahkota bergerak ke arah palatal.
5. Luksasi intrusi (N 503.21), yaitu pergerakan gigi ke dalam tulang alveolar,
dimana dapat menyebabkan kerusakan atau fraktur soket alveolar. Luksasi intrusi
menyebabkan mahkota gigi terlihat lebih pendek.
6. Avulsi (hilang atau ekstrartikulasi) (N 503.22) yaitu pergerakan seluruh gigi ke
luar dari soket.
IV. Kerusakan pada gusi atau jaringan lunak rongga mulut
1. Laserasi merupakan suatu luka terbuka pada jaringan lunak yang disebabkan
oleh benda tajam seperti pisau atau pecahan luka. Luka terbuka tersebut berupa
robeknya jaringan epitel dan subepitel.

2. Kontusio yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan benda tumpul
dan menyebabkan terjadinya perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai
sobeknya daerah mukosa.
3. Luka abrasi, yaitu luka pada daerah superfisial yang disebabkan karena gesekan
atau goresan suatu benda, sehingga terdapat permukaan yang berdarah atau lecet.
4.

Klasifikasi menurut Andreasen.

Andreasen juga mengklasifikasikan injuri pada tulang pendukung dan injuri pada
mukosa mulut. Menurut Andreasen dalam bukunya Patologi Gigi Geligi Kelainan
Jaringan Keras Gigi, secara garis besar fraktur gigi digolongkan menurut
penyebabnya sebagai berikut:1
a)Fraktur Spontan
Merupakan jenis fraktur yang diakibatkan oleh adanya tekanan pengunyahan. Pada
hal ini elemen-elemen enamel gigi mengalami atrisi dan aus karena adanya
gesekan pada saat mengunyah. Keadaan ini bisa menyebabkan gigi mengalami
fraktur. Fraktur spontan lebih sering terjadi pada gigi molar satu bawah.
b)Fraktur Traumatik
Fraktur traumatik terjadi akibat adanya benturan keras yang bersifat tiba-tiba.
Fraktur traumatik biasanya tidak terjadi pada bayi dibawah umur 1 tahun karena
pengaruh aktivitas yang dilakukannya. Penyebab fraktur yang sering terjadi adalah
benturan akibat kecelakaan atau karena dipukul. Berdasarkan bagian yang
mengalami fraktur, fraktur traumatrik dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai
berikut:

Fraktur Mahkota
Fraktur mahkota merupakan jenis fraktur yang terjadi pada bagian enamel hingga
ke bagian tulang gigi dengan atau tanpa patahnya sebagian elemen. Dalam hal ini,
yang termasuk dalam jenis fraktur ini adalah jenis fraktur Ellis 1 dan Ellis 2.
Fraktur mahkota juga dapat dibagi menjadi:
a. Infraksi Mahkota: Pada jenis ini, pada beberapa kasus fraktur yang terjadi tidak
membentuk suatu patahan, namun hanya berupa garis retak saja yaitu sekitar 1013%. Retak biasa mencapai dentin hingga pulpa.
b. Fraktur Mahkota Tanpa Komplikasi: Merupakan fraktur yang terjadi pada
sebagian email, dan dentin. Fraktur ini biasanya terjadi pada gigi anterior dan patah

pada bagian sudut mesial maupun sudut distal. Biasanya jenis fraktur ini tidak
menimbulkan rasa sakit, namun apabila fraktur terjadi hingga mencapai dentin,
maka rasa sakit akan terasa terutama pada saat makan maupun karena perubahan
suhu. Rasa sakit pada saat mengunyah juga bisa terjadi karena jaringan periodontal
juga mengalami kerusakan.
c. Fraktur Mahkota dengan Komplikasi: Pada jenis fraktur ini, bagian besar mahkota
dan tulang gigi patah sehingga pulpa terbuka dan mengalami pendarahan kapiler.
Rasa sakit biasanya timbul pada saat mengunyah dan jika terjadi perubahan suhu.
Sekitar 4% penderita fraktur gigi mengalami fraktur jenis ini.
Fraktur Akar
Fraktur akar terjadi pada daerah sekitar akar gigi. Diagnosis fraktur dapat
ditegakkan melalui pemeriksaan foto rontgen untuk mnegetahui kondisi gigi yang
mengalami fraktur.
a.

Fraktur Mahkota Akar

Fraktur mahkota akar yang terjadi dari insisal sampai 2-3 mm di bawah pengikatan
gingival pada elemen pada arah vestibulolingual, dan pulpa sering terlibat dalam
hal ini. Pada gigi premolar atas, tonjol vestibular sering patah. Pada kasus yang
terakhir, bagian yang patah biasanya ditahan pada tempatnya oleh serabut
periodontal, sehingga retak pada mulanya kurang menarik perhatian. Keluhan yang
terjadi pada pasien seperti keluhan pada pulpitis, dan sakitnya akan bertambah
ketika digunakan untuk menggigit.
b. Fraktur Akar Gigi yang baru erupsi memiliki resiko untuk lepas dari alveolus
apabila terjadi benturan, sedangkan gigi yang telah tumbuh sempurna memiliki
resiko patah.
Andreasen (1981) juga mengklasifikasi trauma terhadap gigi berdasarkan gejala
pada gambaran klinis, seperti:10
1. Perubahan warna enamel menjadi lebih putih atau kuning hingga
kecokelatan.
2. Perubahan warna enamel yang mengalami hipoplasia, menjadi lebih putih
atau kuning hingga kecokelatan.
3. Dilaserasi mahkota.
4. Malformasi gigi.
5. Dilaserasi akar.
6. Gangguan pada erupsi.

5.

Klasifikasi menurut Heithersay dan Morile.5,2

Heithersay dan Morile (1982) menganjurkan suatu klasifikasi fraktur subgingival


berdasarkan pada tinggi fraktur gigi dalam hubungannya terhadap berbagai bidang
horizontal periodonsium, sebagai berikut:
Kelas 1 : Dengan garis fraktur tidak meluas di bawah tinggi ginggiva cekat.
Kelas 2 : Dengan garis fraktur meluas di bawah tinggi gingiva cekat, tetapi tidak di
bawah tinggi krista alveolar.
Kelas 3 : Dengan garis fraktur meluas di bawah tinggi krista alveolar.
Kelas 4 : Dengan garis frakturnya terdapat di dalam sepertiga koronal akar, di
bawah tinggi krista alveolar.
6.

Klasifikasi menurut Garcia-Godoy.11

Klasifikasi fraktur gigi akibat trauma menurut Garcia-Godoy adalah sebagai berikut:
1.

Retak pada email.

2.

Fraktur pada email

3.

Fraktur email-dentin tanpa terbukanya pulpa.

4.

Fraktur email-dentin dengan terbukanya pulpa.

5.

Fraktur email-dentin-sementum tanpa terbukanya pulpa.

6.

Fraktur email-dentin-sementum dengan terbukanya pulpa.

7.

Fraktur akar.

8.

Konkusi.

9.

Luksasi.

10.

Perpindahan gigi ke lateral.

11.

Intrusi.

12.

Ekstrusi.

13.

Avulsi.

7.

Klasifikasi menurut Hargreaves dan Craig.

Hargreaves dan Craig (1970) memperkenalkan klasifikasi hanya untuk fraktur


mahkota gigi sulung, yaitu kelas I, II, III dan IV. Klasifikasi tersebut hampir sama

dengan klasifikasi Ellis. Perbedaannya terletak pada kelas IV yaitu fraktur akar
disertai atau tanpa mahkota gigi sulung:5
Klas I: Tidak adanya fraktur atau fraktur hanya pada email dengan atau tidaknya
perubahan posisi pada gigi.
Klas II: Fraktur pada mahkota pada email dan dentin tanpa terbukanya pulpa dan
tanpa perubahan posisi pada gigi.
Klas III: Fraktur pada mahkota dan terbukanya pulpa dengan atau tanpa perubahan
posisi pada gigi.
Klas IV: Fraktur pada akar dengan atau tanpa fraktur koronal, dengan atau tanpa
perubahan posisi pada gigi.
Klas IV: Perubahan posisi total pada gigi.
PEMBAHASAN
Penyebab trauma gigi pada anak-anak yang paling sering adalah karena jatuh saat
bermain, baik di luar maupun di dalam rumah dan saat berolahraga. Trauma gigi
anterior dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, trauma gigi secara
langsung terjadi ketika benda keras langsung mengenai gigi, sedangkan trauma gigi
secara tidak langsung terjadi ketika benturan yang mengenai dagu menyebabkan
gigi rahang bawah membentur gigi rahang atas dengan kekuatan atau tekanan
besar dan tiba-tiba.1
Trauma pada gigi dapat menyebabkan injuri pulpa, dengan atau tannpa kerusakan
mahkota atau akar, atau pemindahan gigi dari soketnya. Bila mahkota atau akar
patah atau mengalami fraktur, pulpa dapat sembuh dan hidup terus, dapat segera
mati , atau dapat mengalami degenerasi progresif dan akhirnya mati. Bila terjadi
luksasi gigi, pulpa mungkin terus hidup, tergantung hebatnya pukulan dan tingkat
dislokasinya. Luksasi gigi terjadi tidak sesering fraktur. 7
Trauma pada gigi melibatkan pulpa, baik langsung maupun tidak langsung,
sehingga pertimbangan endodonsi berperan penting dalam pengevaluasian dan
perawatan cedera gigi. Pembuatan klasifikasi cedera traumatik akan mempermudah
komunikasi serta penyebaran informasinya. 8
KESIMPULAN
Pembuatan klasifikasi cedera traumatik akan mempermudah komunikasi serta
penyebaran informasinya. Menurut suatu penelitian prevalensi tertinggi trauma gigi
anterior pada anak-anak terjadi antara usia 1-3 tahun karena pada usia tersebut
anak mempunyai kebebasan serta ruang gerak yang cukup luas, sementara
koordinasi dan penilaiannya tentang keadaan belum cukup baik. Frekuensi trauma
cenderung meningkat saat anak mulai merangkak, berdiri, belajar berjalan, dan

biasanya berkaitan dengan masih kurangnya koordinasi motorik. Penelitian lain


menyebutkan bahwa salah satu periode rawan fraktur adalah pada saat usia 2-5
tahun, karena pada usia ini anak belajar berjalan dan berlari. Prevalensi trauma gigi
yang terjadi pada anak usia di atas 5 tahun menunjukkan penurunan disebabkan
karena koordinasi motorik anak yang semakin membaik, namun terjadi peningkatan
kembali pada periode 8-12 tahun karena adanya peningkatan aktifitas fisik mereka.
Kerusakan yang terjadi pada gigi anak dapat mengganggu fungsi bicara,
pengunyahan, estetika, dan erupsi gigi tetap sehingga mengganggu pertumbuhan
dan perkembangan gigi serta rahang. Oleh karena itu penanganan yang cepat dan
tepat sangat penting dalam menangani kerusakan pada gigi akibat trauma.