Anda di halaman 1dari 136

LAPORAN KEGIATAN

KAJIAN PENGARUH KERUSAKAN BATUAN AKIBAT
PELEDAKAN TERHADAP KELONGSORAN LERENG PADA
AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA

Oleh :
Zulfahmi, Gunawan, Nendaryono Madiutomo, Hersonyo Pryo Wibowo, Zulkifli
Pulungan, Yaya Suryana, Hasniati Astika, Eko Pujianto, Tumpak Pasaribu, Deden
Agus Ahmid, Bambang Satriya, Ratnaningsih, Supriatna Mujahidin, Ujat, Iis Hayati

(Korlak Litbang Teknologi Eksploitasi Tambang dan Pengelolaan Sumber Daya)

KEMENTRIAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN
BATUBARA
(Puslitbang tekMIRA)
Tahun 2012

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merupakan laporan hasil kegiatan kajian pengaruh kerusakan batuan
akibat peledakan terhadap kelongsoran lereng pada aktivitas penambangan
batubara di Indonesia tahun anggaran 2012. Laporan ini berdasarkan hasil penelitian
pada beberapa lokasi penambangan di Indonesia, yaitu di PT. Kideco Jaya Agung,
PT. Bukit Asam (Persero), Tbk., PT. Bukit Baiduri Energi dan PT. Mahakam Sumber
Jaya serta studi pustaka yang berkaitan dengan kajian ini baik dari dalam maupun
luar negeri
Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menentukan dan menilai
pengaruh zona kerusakan batuan akibat peledakan terhadap kestabilan lereng
tambang batubara terbuka di Indonesia sebagai salah satu upaya untuk
mengantisipasi semakin meningkatnya penambangan batubara di Indonesia dengan
perkiraan lereng yang semakin tinggi serta tingkat resiko keselamatan kerja yang
semakin besar
Penelitian ini sejalan dengan misi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral
(MESDM) yang berkaitan dengan kesinambungan penyediaan energi nasional dan
bahan baku untuk keperluan sektor industri serta sektor pengguna lainnya. Selain
itu penelitian ini sejalan dengan visi Puslitbang Tenologi Mineral dan Batubara untuk
menjadi puslitbang yang mandiri, profesional, dan unggul dalam pengembangan
dan pemanfaatan mineral dan batubara.
Diharapkan tulisan ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan pengetahuan
yang berarti dan dijadikan pedoman awal dalam aplikasinya.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam
terlaksananya kegiatan ini.

Bandung, November 2012
Kepala Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA)

Retno Damayanti
NIP. 19630208 199003 2 003

Sari

Kerusakan batuan akibat peledakan di sekitar lereng tambang menjadi perhatian
khusus bagi para praktisi penambangan, karena hal ini dapat mempengaruhi
kestabilan batuan, dan kinerja penggalian berikutnya bahkan konsekuensi langsung
dari adanya zona kerusakan batuan ini berkaitan dengan keselamatan kerja dan
peningkatan biaya produksi. Namun untuk melakukan penilaian terhadap kondisi
kerusakan batuan di sekitar lereng tambang batubara terbuka di Indonesia masih
belum banyak diketahui dan diteliti.
Perlu banyak pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
dan tingkat zona kerusakan batuan. Beberapa perilaku mekanik dari zona kerusakan
batuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dalam berbagai kondisi telah
dimasukkan sebagai parameter-parameter yang menentukan dalam kajian yang
dilakukan. Penilaian terhadap kerusakan batuan akibat peledakan menggunakan
beberapa indikator yaitu secara visual dengan melihat kondisi crack batuan (pola
fraktur, intensitas crack, ukuran crack, dip dan strike), perbedaan kecepatan rambat
gelombang seismik (menggunakan seismic refraksi) dan kecepatan partikel puncak –
PPV (menggunakan vibration monitor) dianggap cukup mewakili beberapa metode
yang berkembang saat ini.
Dari kajian literature, hipotesis yang diambil adalah adanya korelasi antara kualitas
massa batuan (Geological Strength Index – GSI atau Rock Mass Rating – RMR),
parameter peledakan terutama muatan bahan peledak per waktu tunda dan zona
kerusakan batuan akibat peledakan. Dengan demikian zona kerusakan batuan
berhubungan dengan faktor geologi batuan dan faktor peledakan.

……………… 3..4. Sasaran 1.. Penilaian kerusakan batuan …………………………………….6.2. 2. Pengumpulan Data Primer ……………………………………. Latar Belakang 1.3. 2. Persiapan …………………………………………………………..2. Asumsi dan Hipotesis …………………………………………….7.11 Getaran peledakan ………………………………………………. Penjalaran gelombang dan cepat rambat gelombang …..1.1.4.. 4.... Penilaian Kerusakan Batuan ………………………………….3..8.2..15 Kriteria penilaian kondisi massa batuan …………………. 2.12 Pengaruh getaran peledakan terhadap kestabilan lereng …. Pengumpulan Data Sekunder ………………………………….10 Peredaman ………………………………………………………... 2. 2.. 2.9.4. 4.DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ………………………………………………………. Pelaksanaan Pengujian Batuan di Laboratorium ………………. Ruang Lingkup Kegiatan 1. viii DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. 2.3. Kajian Pustaka ……………………………………………………. ……………………………………….. 3. Lokasi Kegiatan …………………………………………………….5.. 1 1 3 3 4 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………. iii SARI ……………………………………………………….5.14 Permodelan diskontinyu untuk kerusakan batuan …………… 2. Kondisi Penambangan Batubara Indonesia ………………. Definisi Kerusakan batuan ……………………………………… 2. Penelitian Lapangan ………………………………………………… 81 82 82 82 48 59 79 . 5 5 9 10 11 12 12 14 18 20 21 22 25 26 37 38 BAB III PROGRAM KEGIATAN …………………………………………… 3. iv …. 41 41 43 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN …………………………………… 4.. Sifat dan perilaku batuan ………………………………………….13 Metode Investigasi kerusakan batuan …………………………….. 2.. ………………………………………..1.3.. ……………………………………………….5. Mekanisme kerusakan batuan akibat peledakan ……………… 2.1. 3. 2. Perencanaan Program Kegiatan ………………………….2.. 2.. 3. Pelaksanaan Penelitian Lapangan ……. …………………………………………………… …………………………………………………….…………………………………………… v DAFTAR TABEL ………………………………………………………. vii DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………. Tujuan 1. Klasifikasi kerusakan batuan ……………………………………… 2.. 2..

4...5..... Evaluasi Data Hasil Pengukuran ……………………………... 4.1....4. 5.. 6. 96 102 Prediksi Kerusakan Batuan dengan Metode sesimik Korelasi Data Sesimik dan \getaran Peledakan ……………………… ……………………....3........ 5... Data Hasil Pengukuran ……………………………………………..1 Kesimpulan ………………………………………………………. Uji Laboratorium Analisis dan Permodelan …………………………………………………… …………………………………………… 83 83 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………… 5... Permodelan Numerik …………………… 86 86 92 93 5..2.4.2 Saran ……………………………………………………………… 105 105 107 DAFTAR PUSTAKA 109 ……………………………………… ........ 5.... BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ……...5. 6..........

. 1985) Skema Diagram Penilaian Kerusakan Batuan (Saiang. Kideco Jaya Agung Persiapan Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di lokasi Penambangan PTBA Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di lokasi Penambangan PT.. (b) shear. dkk. Kideco Jaya Agung Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan 4 13 18 20 24 27 30 31 32 34 35 35 36 49 49 50 50 52 52 53 53 54 54 . Bukit Baiduri Energi Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. dkk. 1996) Variasi gerakan partikel dengan type gelombang: (a) compressive. dkk. Mahakam Sumber Jaya Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PT. 2009) Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. Bukit Asam. 2007) Diagram metode pengukuran seismik refraksi (Redpath. Persero(Tbk. 1973 dalam Dey & Murthy. 2004 Diagram metode pengukuran dengan borehole camera (Malmgren. dkk. 1989) Interpretasi dari Gambar Profil GPR Interpretasi dari kondisi stratigrafi bawah permukaan Interpretsi dari elemen-elemen pada profil GPR Instrument Monitoring Pergerakan Batuan (Zulfahmi. Kideco Jaya Agung Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. dan (c) Rayleigh (Dowding. 2000) Pendekatan persamaan Holmberg-Persson untuk menghitung PPV pada Pengukuran Jarak Dekat (Persson.) Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. Mahakam Sumber Jaya Persiapan Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT.. 1995) Representasi transisi antara batuan in situ dan batuan yang diledakkan (Hoek dan Karzulovic.. 2011) Diagram Alir untuk tipe system GPR (Davis.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1-1 Gambar 2-1 Gambar 2-2 Gambar 2-3 Gambar 2-4 Gambar 2-5 Gambar 2-6 Gambar 2-7 Gambar 2-8 Gambar 2-9 Gambar 2-10 Gambar 2-11 Gambar 2-12 Gambar 3-1 Gambar 3-2 Gambar 3-3 Gambar 3-4 Gambar 3-5 Gambar 3-6 Gambar 3-7 Gambar 3-8 Gambar 3-9 Gambar 3-10 Lokasi Kegiatan Penelitian Zona kerusakan batuan pada lereng (Mojtabai & Beattie. Bukit Baiduri Energi Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PT.

22 Gambar-3.Gambar 3-11 Gambar 3-12 Gambar 3-13 Gambar 3-14 Gambar 3-15 Gambar 3-16 Gambar 3-17 Gambar 3-18 Gambar 3-19 Gambar 3-20 Gambar-3.62 Hasil interpretasi ketebalan lapisan batuan pada salah satu lokasi penelitian Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PT.11a Gambar 5. Mahakam Sumber Jaya Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT.9c Gambar 5.11b Gambar 5. Kideco Jaya Agung Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PTBA Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT. Bukit Baiduri Energi Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III dan dan DMT Vibration Monitor di Lokasi Penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III. Mahakam Sumber Jaya Peta Geologi Regional Lembar Balikpapan Peta Geologi Regional Lembar Lahat Peta Geologi Lembar Samarinda. MSJ Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PT.11d Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PTBA Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT.8 Gambar 5. Bukit Baiduri Energi Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT.23 Gambar-3. MiniMate Plus dan SeismoBlast di Lokasi Penambangan PTBA Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III dan DMT Vibration Monitor di Lokasi Penambangan PT. MiniMate Plus dan SeismoBlast di Lokasi Penambangan PT.25 Gambar 4-1 Gambar 4-2 Gambar 5-1 Gambar 5-2 Gambar 5-3 Gambar 5-4 Gambar 5-5 Gambar 5-6 Gambar 5-7 Gambar 5.11c Gambar 5. BBE 55 55 56 56 56 57 57 58 58 58 60 63 67 77 77 84 85 86 86 87 88 88 89 90 94 95 95 95 97 98 98 99 99 . Kalimantan Timur (Supriatna.9b Gambar 5. 1995) Pola Peledakan Untuk Tanah Asli Pola Peledakan Batuan Untuk Tanah Jenjang Diagram Alir Metodologi Penelitian Metode pemecahan masalah Data Pengukuran Lobang Bor Sebelum Peledakan Data Pengukuran Lobang Bor Setelah Peledakan Kondisi rata-rata retakan sebelum dan sesudah peledakan pada jarak 5 dan 10 m dari sumber peledakan Data Pengukuran Sebelum Peledakan di Lokasi I TAL PTBA Data Pengukuran Setelah Peledakan di Lokasi I TAL PTBA Interpretasi Kondisi Lapisan Batuan Sebelum Peledakan Interpretasi Kondisi lapisan Batuan Setelah Peledakan Model Single Hole dari peledakan dengan nilai g = 0. Kideco Jaya Agung Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III. dkk.24 Gambar-3.21 Gambar-3. Bukit Baiduri Energi Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT.. KJA Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PTBA Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah peledakan di salah satu Lokasi PT.9a Gambar 5.1 Model Kondisi Kesetimbangan Lereng Sebelum Peledakan Kondisi kontur beban lereng Kondisi Lereng Pada Faktor Keamanan 0.10 Gambar 5.

MSJ Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Pada Saat Peledakan Pada Jarak Tertentu di beberapa lokasi Penambangan Grafik Korelasi Nilai Seismik dan Getaran Peledakan 100 101 101 102 103 104 . KJA Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PTBA Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT.12d Gambar 5.13 Gambar 5.14 Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT.12b Gambar 5.12c Gambar 5.BBE Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT.Gambar 5.12a Gambar 5.

.17. Tabel 3. Tabel 3. Sifat-sifat listrik dari beberapa Media Geologi pada kondisi bawah permukaan. Tabel 3. KJA Data Parameter Sifat Fisik Batuan di beberapa lokasi pemboran PT. Tabel 2.1.2 Tabel 2. Tabel 3.DAFTAR TABEL Table 2. Tabel 5.3.16. Tabel 3.2.9. Tabel 3.1 Tabel 2. Tabel 3.6.7.2.11. Tabel 5. Tabel 3. Tabel 5. Tabel 3.15. dkk.5. Tabel 3. 1989) Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap I Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap II Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap III Pengamatan Intensitas Retakan pada Lobang Bor Data Parameter Sifat Fisik Batuan di beberapa lokasi pemboran PT. 2004). Tabel 3.4.BBE Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di PT. Tabel 3. KJA Hasil Pengujian Sifat Fisik Batuan Hasil Pengujian Sifat Mekanik dan Batubara Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan PTBA Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di PT.5. (Davis.4.8.10. Tabel 5.4. Tabel 5. Tabel 3.6.1.14.3. Tabel 5. Hubungan Penelitian Sebelumnya terhadap usulan penelitian Ringkasan beberapa alat geofisika yang digunakan dalam penyelidikan Kerusakan Batuan (Saiang. Beberapa Hasil Penelitian Tentang Pengaruh Peledakan Terhadap Kerusakan Batuan. Tabel 3.3. Tabel 5.12. Tabel 3. MSJ Geometri Peledakan di Lokasi Tambang Geometri Peledakan di Lokasi Tambang Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di beberapa Lokasi di KJA Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di beberapa Lokasi di KJA Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan asal Pit PreBench Airlaya – PTBA Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan asal BBE dan MSJ Kondisi rata-rata retakan di dalam Lobang Bor sebelum dan sesudah peledakan di beberapa lokasi penelitian Data Sesimik sebelum peledakan Data Sesimik setelah peledakan Data Pengukuran Nilai PPV dan PVS Hasil Pengamatan RMR pada beberapa lokasi Input parameter model FEM Section I Input parameter model FEM Section II 7 8 26 32 44 46 47 51 73 73 74 75 75 76 76 76 78 79 79 80 80 87 89 90 91 92 93 93 .13.7. Tabel 3. Tabel 3.

sehingga kekuatan batuan menjadi menurun.BAB I PENDAHULUAN 1.1. kemudian berturut-turut meningkat menjadi 153 juta ton pada tahun 2005. Latar Belakang Perkembangan peningkatan produksi batubara di Indonesia akhir-akhir ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan batubara dunia. Dengan peningkatan produksi tersebut. 194 juta ton pada tahun 2006. 217 juta ton pada tahun 2007. akibatnya ketinggian lereng tambang akan semakin besar. Pada tahun 2004 produksi batubara hanya 132 juta ton. Apabila kerusakan batuan tersebut terjadi pada batuan di sekitar lereng akhir tambang (final pit slope). 256 juta ton pada tahun 2009. maka potensi ketidakstabilan akan terjadi disekitar lereng tersebut. penggunaan bahan peledak (handak) untuk pembongkaran batuan semakin meningkat. Dengan harga batubara yang tinggi. Kerusakan tersebut (blasting damage) diakibatkan oleh gaya dinamik berupa gaya siklik (berulang) yang berasal dari efek penjalaran gelombang tegangan dan ledakan gas. sehingga kerusakan batuan tersebut penting untuk diperhatikan.000 ton pada tahun 1994 dan pada tahun 2010 telah mencapai lebih dari 457. 240 juta ton pada tahun 2008.990 ton dan meningkat mencapai 20.000 ton bahan peledak Amonium Nitrat. Data dari Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi menyebutkan bahwa pemakaian handak tahun 1980 sekitar 4. Peningkatan aktivitas peledakan ini sering menimbulkan retakan beberapa meter di belakang baris lobang ledak (backbreak) akibat peledakan yang kurang baik. 1 . berdampak pada perhitungan nisbah kupas yang menjadi lebih tinggi sehingga saat ini para pelaku penambangan masih berani menambang dengan nisbah 1 : 20. 275 juta ton pada tahun 2010 dan tahun 2011 menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) meningkat sebesar 360 juta ton. bahkan diprediksi tahun 2012 mencapai 380 juta ton.

maka perlu dilakukan kajian pengaruh kerusakan batuan akibat peledakan sebagai upaya mengembangkan suatu metode analisis yang penambangan dapat menjelaskan batubara di hubungannya Indonesia. Hal ini berarti data pendukung kajian geoteknik tersebut perlu dievaluasi. namun dibeberapa lokasi tetap saja masih terjadi kelongsoran. maka diperlukan penelitian penerapan teknologi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian misi tersebut. Hipotesis awal dari penelitian ini adalah data kekuatan batuan tidak menunjukkan kondisi yang sebenarnya. khususnya tambang batubara menjadi perhatian khusus pada penelitian ini. meskipun para pelaku penambangan telah melakukan kajian geoteknik dengan desain lereng yang aman sebelum melakukan aktivitas penambangan. . dan unggul dalam pengembangan dan pemanfaatan mineral dan batubara yang tertuang dalam misinya untuk penerapan teknologi untuk memecahkan permasalahan- permasalahan di bidang pertambangan. Melihat kondisi perkembangan peningkatan penambangan batubara di Indonesia dengan perkiraan lereng yang semakin tinggi. sehingga dengan resiko stabilitas lereng kecelakaan akibat kelongsoran lereng tambang dapat dicegah. Data beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kelongsoran lereng di lokasi penambangan sering terjadi. pencegahan kecelakaan tambang dan antisipasi terhadap perkembangan kondisi pertambangan di Indonesia. sehingga hasil kajian tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Selain itu rencana penelitian ini sejalan dengan visi Puslitbang Tenologi Mineral dan Batubara untuk menjadi puslitbang yang mandiri. profesional. Rencana penelitian ini sejalan dengan misi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) yang berkaitan dengan kesinambungan penyediaan energi nasional dan bahan baku untuk keperluan sektor industri serta sektor pengguna lainnya. apakah sudah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya atau tidak.2 Bertitik tolak pada hal tersebut di atas. Kajian Pengaruh Kerusakan Batuan akibat Peledakan terhadap Kelongsoran Lereng Pada Aktifitas Penambangan Batubara di Indonesia ini sebagai upaya untuk mencari solusi yang nyata dalam mengatasi terjadinya kelongsoran lereng tambang akibat tingginya lereng tambang yang dipicu oleh besarnya permintaan batubara dunia.

tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba • Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. Dasar hukum terkait dengan penelitian ini antara lain: • UU No. 4 tahun 2009 pasal 96 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa kewajiban setiap pelaku usaha dibidang pertambangan untuk menerapkan kaidah pertambangan yang baik dan benar dengan selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja. 23/2010.K/26/M. metode. dan misi untuk menghasilkan model-model.04 Tahun 2010. prasarana baru dalam teknologi penambangan. geoteknologi penambangan dan lingkungan pertambangan. tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1. Ruang Lingkup kegiatan Lingkup pekerjaan yang akan dilakukan dalam kegiatan ini meliputi : - Pembuatan Kerangka Acuan Kerja - Kajian pustaka - Identifikasi Penggunaan Perangkat Lunak dan Keras - Persiapan Administrasi dan Peralatan - Pengambilan data primer dan sekunder di PTBA - Pengambilan data primer dan sekunder di PT. 555. • UU No. Kideco Jaya Agung - Uji geomekanik dan dinamik di laboratorium . 25/2004.PE/1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum • Peraturan Menteri ESDM No.18 Tahun 2010.3 Kegiatan ini sangat mendukung visi dan misi dari kelompok untuk menjadi lembaga terdepan dalam mendorong penerapan teknologi penambangan berwawasan konservasi dan lingkungan serta lembaga sertifikasi sistem manajemen lingkungan pertambangan.2. tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional • UU No. 30/2007. tentang Energi • PP No. Indominco Mandiri - Pengambilan data primer dan sekunder di PT. tentang Rencana Strategis Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Tahun 2010-2014 • Peraturan Menteri ESDM No.

Bukit Baiduri Energi dan PT. Tujuan Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan kajian dan analisis terhadap pengaruh kerusakan batuan akibat peledakan terhadap resiko bahaya kelongsoran lereng. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan dan menilai pengaruh zona kerusakan batuan akibat peledakan terhadap kestabilan lereng tambang batubara terbuka di Indonesia 1. 1. Mahakam Sumber Jaya. Kideco Jaya Agung. Indominco Mandiri tidak bersedia lokasi penambangannya dijadikan objek penelitian. . Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). Mahakam Sumber Jaya) PT. Oleh karena PT. Lokasi Kegiatan Lokasi kegiatan penelitian direncanakan pada beberapa areal tambang batubara yang mewakili daerah dengan jenis batuan yang berbeda. Sasaran Sasaran dari kegiatan ini adalah dapat diketahuinya rata-rata zona kerusakan batuan akibat peledakan pada beberapa lokasi tambang batubara di Indonesia sebagai pedoman teknis dalam penentuan jarak peledakan produksi terhadap lereng akhir tambang.4 - Analisis hasil laboratorium dan validasi terhadap uji lapangan - Permodelan numerik daerah kerusakan batuan dengan elemen distinct - Analisis hasil simulasi dan rekomendasi - Pelaporan dan Tulisan Ilmiah 1. PT.5.3. Indominco Mandiri dan PT. Bukit Baiduri Energi dan PT. yaitu di PT. kemudian lokasi penelitian dipindahkan ke (kemudian diganti dengan perusahaan PT.4.

5 Gambar 1.1. Lokasi Kegiatan Penelitian .

dkk. Permasalahan yang sangat penting dalam penggunaan bahan peledak untuk pembongkaran batuan pada operasional penambangan adalah kerusakan di luar perimeter peledakan (backbreak) dan backbreak ini memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas lereng dan produksi (Monjezi. 1995). Adanya retakan-retakan tersebut akan menjadi jalan bagi air untuk merembes ke dalam batuan. akibatnya batuan tersebut akan jenuh air dan akan timbul uplift pressure. Apabila retakan-retakan tersebut berada di sekitar lereng tambang.. dkk. Oleh karena penambangan batubara di Indonesia umumnya menggunakan bahan peledak.1. Retakan-retakan setelah peledakan yang ditemukan di sekitar lokasi peledakan merupakan salah satu indikasi telah terjadinya kerusakan batuan. kerusakan tersebut dapat berupa terbentuknya retakanretakan baru atau melebarnya retakan awal yang sudah ada. Lereng-lerang tambang semakin tinggi. Kerusakan batuan ini juga menyulitkan proses operasional penambangan berikutnya. Akibat peningkatan produksi tersebut. maka beresiko terhadap kestabilan lereng tambang. tahun 2006 penggunaan Ammonium Nitrate hanya 312 ribu ton dan pada tahun 2010 melonjak mencapai 457 ribu ton. 2009).. Kondisi Penambangan Batubara Indonesia Data yang dipublikasikan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (Pusdatin ESDM) menunjukkan bahwa tujuh tahun terakhir ini terjadi peningkatan produksi batubara dalam negeri yang sangat signifikan. Menurut Sato. Aktivitas pengeboran untuk persiapan peledakan akan banyak 5 . aktivitas operasional penambangan batubara menjadi semakin besar. pit semakin dalam dan potensi bahaya keselamatan kerja pada penambangan menjadi lebih tinggi. dkk.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Fenomena yang tidak diinginkan ini dapat didefinisikan sebagai batas batuan yang rusak di luar baris terakhir dari lubang produksi (Jimeno. Menurut Lubis (2011). (2000). maka seiring dengan peningkatan tersebut jumlah penggunaan bahan peledak meningkat pula.

MacKown (1986). Dari hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai ambang PPV untuk kerusakan struktur batuan sangat bervariasi dan menurut Da Gama (2002) . dkk. Sementara itu penelitian tentang kerusakan batuan akibat peledakan telah banyak dibahas oleh para peneliti sebelumnya. parameter yang berbeda seperti sifat physicomechanical dari massa batuan. Beberapa hasil penelitian yang menjelaskan tentang pengaruh peledakan terhadap kerusakan batuan di beberapa negara dapat dilihat pada Tabel 2. jika backbreak tidak terkontrol. Langefors.6 mengalami hambatan karena batuan yang digerus berupa material pecahan. (1996). diperlukan penurunan sudut pada overall slope. mencatat bahwa. Akibatnya terjadi peningkatan rasio pengupasan (stripping ratio. (1991). Dengan demikian kerusakan batuan akibat peledakan ini sangat penting untuk diperhatikan dan perlu dilakukan penelitian yang komprehensif untuk mengetahui dan memprediksi tebal zona kerusakan yang terjadi agar kerugian-kerugian tersebut dapat dihindari. Bauer (1982). Holmberg & Persson (1980). (1973). dkk. dkk. Dey (2004).1. dkk. Warneke (2007). (2000). SR). Untuk menghindari backbreak. Gate. sifat bahan peledak dan fitur geometris pola peledakan harus dipertimbangkan. Plis. Dari aspek biaya juga menjadi lebih tinggi untuk perbaikan kondisi kerja dan diperlukannya aktivitas peledakan kedua (secondary blasting).. dkk. Sejumlah besar batuan lepas akan terjadi pada muka lereng dan tanggul pengaman (safety berm). (2007). Ricketts (1988 ). 1997). dan Dey & Murthy (2011). waktu tunda (delay time) yang terlalu singkat pada dua baris terakhir lubang tembak serta struktur geologi. Rustan (1985). seperti Bauer & Calder (1970). (2005) berpendapat bahwa penyebab backbreak adalah kombinasi faktor-faktor seperti over-stemming. Forsyth (1993). Van Gool. Energi peledakan kemungkinan akan menjadi tidak terkontrol. Raina. Swindells (1985). Arora & Dey (2010). sehingga penetrasi menjadi sulit. Persson. dkk. Andersson (1992). Oriad (1982). sehingga desain yang direncanakan akan menjadi kurang efektif dan akan ada peningkatan dalam total biaya produksi (Scoble. Pada proses peledakan juga akan banyak mengalami hambatan. akibatnya fragmentasi peledakan berikutnya juga menjadi buruk dan beresiko terhadap keselamatan kerja karena kemungkinan akan muncul batu terbang.

D pada PPV > 350 mm/s dan MD pada PPV > 230 mm/s. Brent & Smith Breksi. Swindells(1985) Batuan beku dan measurable disturbance terkait dengan cara peledakan. 5. Tabel 2. Oxhide. 6.25 dan 1. Untuk Hard Schist HD terjadi pada PPV > 600 mm/s. Kondisi batuan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan jumah curah hujan yang merupakan ciri khas iklim di Indonesia. bulk blasting atau quarry blasting Hudson(1993) menunjukkan nilai ketebalan measurable disturbance lebih besar dibanding dengan peledakan yang menggunakan presplitting atau smooth blasting. Northwood (1960). Holmberg & batuan biotite schists Tingkat kerusakan PPV batuan bervariasi antara 700 . Untuk Soft Schist HD terjadi pada PPV > 355 mm/s. 7. lembab dan curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pelapukan batuan jauh lebih cepat daripada di daerah sub-tropis. Untuk Granite HD terjadi pada PPV > 1700 mm/s. 3. 8. Adanya retakan-retakan akibat peledakan ini akan mempercepat merembesnya air ke dalam celah-celah batuan. Soft Kerusakan akibat peledakan pada lereng dapat dibagi menjadi 3 (1995) Schist & Hard Schist zona. damage zone(D). Delapan ledakan dimonitor dan PPV yang menyebabkan kerusakan batuan 2000 .1000 Persson (1979) mm/s. Edwards & Struktur bangunan Kecepatan partikel sebagai kriteria kerusakan akibat peledakan. Mojtabai & Beattie Granite. Granite. heavy damage zone(HD). D pada PPV >775 mm/s dan MD pada PPV > 440 mm/s. Langefors & Batuan metamorf Nilai PPV 305 .al (1971) memiliki probabilitas kerusakan struktur yang rendah pada bangunan perumahan.0 m di luar batas lubang terowongan dengan akselerometer di Stockholm. dalam Metamorf uncontrolled blasting. Kondisi batuan di daerah penelitian sebelumnya umumnya berbeda dengan rencana penelitian yang akan dilakukan. 2. Yang et al. et. Bogdanhoff (1996) Gneiss & Granite Pengukuran getaran dilakukan pada jarak antara 0. Hasil penyelidikan ini dijadikan pertimbangan oleh Romana (1985) untuk mengoreksi faktor F4 pada klasifikasi geomekanika Slope Mass Rating ( SMR). D pada PPV > 155 mm/s dan MD pada PPV > 130 mm/s. Beberapa Hasil Penelitian Tentang Pengaruh Peledakan Terhadap Kerusakan Batuan No. perumahan Ada kesepakatan umum bahwa PPV kurang dari 50 mm/s akan Nicholls. Peneliti Jenis Material/Batuan Keterangan 1.1. 4.2500 mm/s. (1994) Granitic Gneiss Model PPV Holmberg-Persson digunakan untuk memperkirakan zona kerusakan di lokasi pengujian di Queen University. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa data aktual di lapangan erat kaitannya dengan nilai-nilai teoritis. Di daerah tropis yang panas. minor damage zone(MD).610 mm/s menjadi penyebab runtuhnya Khilstrom batuan pada atap terowongan dan terbentuknya retak-retak (1973) baru. Teknik pengukuran kerusakan batuan akibat peledakan (2000) Sandstone dan Dolerite dilakukan dengan mengukur penurunan tekanan (underpressure) pada lobang pantau yang merupakan indikator . D pada PPV > 470 mm/s MD pada PPV > 310 mm/s. Untuk Oxhide HD pada PPV > 1240 mm/s.7 faktor tersebut dipengaruhi oleh karakteristik massa batuan (faktor geologi) dan faktor peledakan.

14. 13. (2007) Isian tambang dengan Mengembangkan model untuk memprediksi respon dinamik campuran semen dari isian tambang berbentuk pasta (pastefill) terhadap beban (filling material) ledakan menggunakan paket perangkat lunak elemen hingga Ramulu. Tabel 2.95 dari pusat lubang ledak Saiang (2009) Hard Crystaline Melakukan serangkaian analisis numerik menggunakan metode kontinyu dan gabungan kontinyu-diskontinyu (hybrid) untuk mempelajari perilaku dari zona kerusakan akibat peledakan pada terowongan. terjadinya kerusakan batuan. seperti angka kohesi. 10. Berdasarkan hal tersebut.7 meter dari titik lubang ledak. Nilai ambang tersebut dimodelkan pada jarak dekat (near-field model) dan menemukan PPV untuk overbreak bervariasi antara 700. KPC G.2 menunjukkan posisi rencana penelitian yang akan dilakukan terkait dengan penelitian untuk memprediksi tebal zona kerusakan batuan akibat peledakan di sekitar lereng tambang batubara dengan penelitian sebelumnya.8 9. Simangunsong. sehingga akhirnya akan menurunkan kekuatan batuan. akan mempengaruhi sifat-sifat asli dari batuan. BS. Sedangan maksimum tingkat kerusakan pada batuan Amygdaloidal Basalt dengan nilai ambang PPV = 454 mm/detik pada jarak 1.M.2. Van Gool. Pada Tabel 2. (2008) Compact Basalt dan Menjelaskan bahwa maksimum tingkat kerusakan pada batuan Amygdaloidal Basalt compact basalt dengan nilai ambang PPV = 745 mm/detik pada 1. sudut geser dalam atau bobot isi. sehingga evaluasi dan perbaikan perencanaan lebih lanjut akan dapat mengurangi kerugian-kerugian serta keselamatan kerja penambangan dapat lebih baik lagi. et. Dey & Murthy Tingkat kerusakan batuan yang disebabkan oleh peledakan (2011) (overbreak) dapat dimodelkan secara akurat dengan model getaran dekat-lapangan dan kecepatan teknik pencitraan seismik. dkk. Hubungan Penelitian Sebelumnya terhadap usulan penelitian . Mengusulkan nilai ambang PPV untuk overbreak dari batuan basalt kompak adalah 2050 mm/s. Hasil pendekatan permodelan yang telah dilakukan baik dengan metode kontinyu maupun gabungan kontinyu-diskontinyu menunjukkan hasil perilaku hampir sama.. 11.al. Mudstone Melakukan penelitian pada batuan lemah (mudstone) di PT. maka perlu dilakukan penelitian untuk mengembangkan suatu pendekatan untuk memprediksi tebal zona kerusakan batuan akibat peledakan di sekitar lereng tambang batubara di Indonesia. Pelemahan kecepatan (Peak Particle Velocity – PPV) sangat dipengaruhi oleh adanya crack dengan ambang batas sekitar 114 mm / s. (2004) dan grafik yang paling cocok untuk plotting PPV menggunakan cube root scalling (skala akar pangkat tiga).1300 mm/s yang diteliti pada lima drift horizontal di tambang metaliferrous. Murthy (2002) and Dey Basalt & Breksi Seiring dengan tingginya tingkat pelapukan. 12.

EMPIRIK Model hybrid Model diskontinyu Model kontinyu Kriteria Batuan Analisis Retakan Scaled Distance PPV/PPA Model Sifat Dinamik Batuan Sifat Mekanik Batuan Sifat Fisik Batuan Peng. (1994) Mojtabai & Beatty (1995) Brent & Smith (2000) Dinis Da Gama (2002) Murthy. Sementara itu pengukuran lapangan untuk memahami secara keseluruhan kondisi kerusakan batuan di sekitar lereng tambang batubara di Indonesia sangat mahal dan terlebih lagi beberapa alat harus digunakan untuk memverifikasi pengukuran tersebut. Asumsi dan Hipotesis Perlu banyak pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan tingkat zona kerusakan batuan. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). PT. Seismik (Refraksi) Peng. Penelitian akan dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda yaitu di PT. Displacement Peng.2. Tekanan Lob. (2004) Van Gool (2007) Saiang (2009) Dey & Murthy (2011) Zulfahmi (2012) Keterangan : Penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya Penelitian yang akan dilakukan (diusulkan) 2. dkk.9 SUBYEK PENGAMATAN LOKASI LAPANGAN ANALISIS UJI LAB. Seismic (X-hole) Survey Permukaan Borehole Kamera Peng. Getaran Peng. dkk. yaitu : a.. Bor Sonic Test Pemboran Inti Tmb. Indominco Mandiri dan PT.. Dalam Lok. Ujicoba Tropis Sub-Tropis Iklim sedang/kutub Batuan Sediment Batuan Metamorf Batuan Beku Material Buatan PENELITI IKLIM DATA SEKUNDER BATUAN PENGUMPULAN DATA Holmberg & Maki (1981) Yang. (2002) Simangunsong. Beberapa perilaku mekanik dari zona kerusakan batuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dalam berbagai kondisi masih perlu banyak dipahami. Oleh karena itu untuk lebih memfokuskan penelitian digunakan beberapa asumsi dan penyederhanaan. Kideco Jaya . dkk.. Terbuka Tmb.

3. Penilaian Kerusakan Batuan Kerusakan batuan akibat peledakan di sekitar lereng tambang menjadi perhatian khusus bagi para praktisi penambangan. Untuk melihat perbedaan kekuatan batuan akibat perubahan cuaca di lokasi penelitian akan dilakukan uji laboratrium terhadap ketahanan batuan pada kondisi panas dan berair. hipotesis yang diambil adalah adanya korelasi antara kualitas massa batuan (Geological Strength Index – GSI atau Rock Mass Rating – RMR). Dengan demikian zona kerusakan batuan berhubungan dengan faktor geologi batuan dan faktor peledakan. ukuran crack. Kandungan air dinyatakan dalam kondisi asli. c. b. Umumnya kesimpulan di lapangan masih . Penilaian terhadap kerusakan batuan akibat peledakan menggunakan beberapa indikator yaitu secara visual dengan melihat kondisi crack batuan (pola fraktur. dan kinerja penggalian berikutnya bahkan konsekuensi langsung dari adanya zona kerusakan batuan ini berkaitan dengan keselamatan kerja dan peningkatan biaya produksi. d. parameter peledakan terutama muatan bahan peledak per waktu tunda dan zona kerusakan batuan akibat peledakan. karena hal ini dapat mempengaruhi kestabilan batuan. e. Dari kajian literature. jenuh dan kering. dip dan strike).10 Agung yang dianggap dapat mewakili beberapa formasi batuan pembawa batubara yang cukup besar di Indonesia. 2. perbedaan kecepatan rambat gelombang seismik (menggunakan seismic refraksi) dan kecepatan partikel puncak – PPV (menggunakan vibration monitor) dianggap cukup mewakili beberapa metode yang berkembang saat ini. Namun untuk melakukan penilaian terhadap kondisi kerusakan batuan di sekitar lereng tambang batubara terbuka di Indonesia masih belum banyak diketahui dan diteliti. Contoh pengujian batuan utuh (intack rock) di laboratorium dianggap bersifat homogen. intensitas crack.

Kerusakan batuan di belakang zona peledakan terkait dengan masalah pecah berlebihan (overbreak). kerapatan dan lain-lain). variasi tegangan dan lain-lain) dan hidrolik (transmisivitas. penilaian. kuantifikasi kerusakan. 2000). klasifikasi kerusakan. sifat mekanik (modulus deformasi. Kerusakan batuan terjadi bilamana massa batuan mengalami perubahan sifat fisik (intensitas retakan. porositas. Kerusakan tersebut terjadi bilamana energi yang bersumber dari peledakan tersebut melewati zona di baris terluar lubang ledak. sehingga kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan batuan tersebut dapat di hindari. faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pelebaran kerusakan batuan serta investigasi zona kerusakan batuan.4. intuisi dan pengalaman dari Oleh karena itu diperlukan peningkatan para operator pengetahuan dan pemahaman tentang kompetensi dan perilaku dari zona kerusakan batuan. mekanik dan hidrolik batuan. Untuk memperoleh pemahaman terhadap zona kerusakan batuan akibat peledakan tersebut. karakteristik kerusakan. Kerusakan tersebut terjadi akibat adanya gangguan dalam bentuk rekahan-rekahan baru atau meluasnya rekahan yang sudah ada sebelumnya. meningkatnya intensitas retakan yang menyebabkan rembesan air. konduktivitas hidrolik) (Saiang. Beberapa peneliti seperti Oriad (1982). Forsyth dan . Sifat fisik. 2. penurunan kekuatan. pengaruh sifat fisik.. 2008). mekanisme kerusakan. Konsekuensi dari kerusakan akibat peledakan pada aktivitas penambangan telah banyak dinilai sebagai istilah overbreak dengan menghitung jumlah kerusakan aktual yang terjadi (Raina dkk. maka perlu dipahami tentang definisi kerusakan batuan. kecepatan elastik. Definisi kerusakan batuan Beberapa peneliti umumnya berpendapat bahwa kerusakan batuan akibat peledakan (blast damage) berada pada zona di baris terluar lubang ledak pada massa batuan yang mengalami proses pembongkaran atau penggalian.11 berdasarkan pada penambangan. mekanik dan hidrolik dari massa batuan disekitar lokasi peledakan sangat terpengaruh oleh proses ini. sehingga berakibat terciptanya lingkungan kerja yang tidak aman dan meningkatkan biaya konstruksi dan pemeliharaan.

12 Moss (1991). Yu dan Vongpaisal (1996) mendefinisikan overbreak sebagai kerusakan. Dengan tekanan yang sangat tinggi tersebut.5. reaksi kimia yang ditimbulkan dari proses peledakan tersebut menghasilkan gas. kerusakan akibat peledakan pada lereng dapat dibagi menjadi 3 zona. dkk. Sementara itu NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) dalam Warneke. Mekanisme kerusakan batuan akibat peledakan Ketika bahan peledak diledakkan di dalam lobang bor pada batuan. dkk. Sedangkan menurut Mojtabai & Beattie (1995). yaitu heavy . Singh (1992) mendefinisikan kerusakan batuan akibat peledakan adalah sebagai perubahan dalam sifat-sifat massa batuan yang menurunkan kinerja peledakan dan perilaku massa batuan. 2. Bila gelombang tegangan bertemu dengan bidang bebas. terjadi gelombang tegangan melalui batuan. zona retak radial. Gas ini akan menghasilkan suhu dan tekanan yang sangat tinggi pada dinding lubang ledak. Scoble. (1997) mendefinisikan kerusakan batuan sebagai pengurangan integritas dan kualitas massa batuan.6. mendorong keluar dinding dan menghancurkan batuan di sekitar lubang ledak tersebut. tegangan tekan pada arah radial dipantulkan kembali sebagai tegangan tarik. 1968). 2002). (2007) mendefinisikan kerusakan batuan akibat peledakan adalah sebagai kerusakan yang tidak disengaja dan melemahnya massa batuan di sekitar lokasi peledakan. zona perpanjangan dan perluasan rekahan dan zona elastik dimana tidak ada retak yang terbentuk (Da Gama. membuka celah-celah dan mengurangi tekanan gas. Klasifikasi kerusakan batuan Muatan bahan peledak yang diledakkan di dalam lobang bor tersebut akan menghasilkan beberapa zona yaitu zona hancuran. dan cracking yang dikenal sebagai spalling dapat terjadi pada batas tersebut bilamana tegangan tarik lebih besar dari kekuatan tarik batuan (Atchison. dislokasi dan penurunan kualitas massa batuan yang terdapat di luar perimeter peledakan. Tegangan tangensial dalam bentuk tarikan menyebabkan terjadinya retakan-retakan radial di sekitar lubang ledak. yang meluas secara silindris dari lubang ledak. 2. Gas-gas kemudian masuk ke dalam retakan dan memperluas retakanretakan tersebut mengelilingi lubang ledak.

damage zone(D). sedangkan pada zona rusak. sesuai dengan karakteristik tersebut.13 damage zone(HD). radius rongga (cavity radius) yang terbentuk setelah batuan dan kuat tekan uniaksial batuan. Zona kerusakan batuan pada lereng (Mojtabai & Beattie. Zona rusak selanjutnya dibagi lagi menjadi zona dalam (inner zone) dan zona luar (outer zone). hidrolik dan fisik pada massa batuan mengalami perubahan dan perubahan ini irreversible.1. Pada zona terganggu hanya tegangan saja yang berubah. Inner zone ditandai oleh perubahan yang tajam dari sifat-sifat mekanik dan hidrolik. yaitu zona terganggu dan zona rusak. 1995) Sementara itu Chun-rui (2009). radius zona hancur ditentukan oleh density batuan. menyatakan bahwa karakteristik batuan yang rusak memiliki perubahan signifikan seiring dengan perubahan jarak ke sumber peledakan. Menurut Chun-rui (2009). zona retak dan zona elastik. . minor damage zone(MD). Gambar 2. seperti terlihat pada Gambar 2. maka kerusakan batuan dibagi menjadi zona hancur. kecepatan gelombang pada batuan. sifat mekanik. Zona pengaruh kerusakan batuan menurut Martino (2003) dalam Saiang (2008) diklasifikasikan ke dalam dua komponen utama.1. Sedangkan outer zone ditandai oleh perubahan bertahap dari sifat-sifat ini.

Secara umum sifat-sifat batuan dikelompokkan menjadi dua bagian besar. Besarnya nilai zona retak dapat ditentukan oleh tekanan quasi-static pada dinding lubang. kekuatan (standard kuat batuan dan indeks kekuatan batuan). porositas. Nilai average explosive pressure ditentukan oleh nilai density batuan dan kecepatan detonasi. 2011).5 ~ 2. 2. absorpsi.7. dkk. abrasivitas dan cuttability. Beberapa penelitian telah dilakukan oleh ahli geomekanika baik di laboratorium maupun uji insitu di areal penambangan (Qingguo Liang. 2009. Sedangkan sifat mekanik batuan dikenal dengan sifat mekanik statik dan sifat mekanik dinamik. berat jenis.0) 3√𝑞 dan q adalah muatan bahan peledak per-satuan volume batuan (kg/m3).14 Besarnya cavity radius setelah peledakan ditentukan oleh rata-rata tekanan peledakan (average explosive pressure). Sementara itu zona retak menurut Chun-rui (2009). frekuensi dan orientasi bidang lemah pada massa batuan adalah karakteristik yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penggalian batuan. baik dengan cara mekanis maupun dengan cara peledakan. kuat tarik batuan dan radius lubang bor. dkk. kecepatan detonasi. Sedangkan nilai kekuatan batuan pada tekanan berbagai arah dapat ditentukan dari nilai kuat tekan uniaksial. Nilai tekanan quasi-static pada dinding lubang sendiri dapat ditentukan oleh nilai density batuan. Sifat mekanik dan fisik batuan tersebut seperti kuat tekan batuan.. sifat dinamik. Parameter sifat mekanik tersebut antara lain kekerasan. perilaku konstitutif. Sifat dan perilaku batuan Metode penggalian batuan banyak ditentukan oleh sifat dan perilaku batuan. Beberapa parameter sifat fisik batuan adalah bobot isi. (2009) berkisar antara (1. radius muatan bahan peledak dan radius lubang bor. density batuan dan kecepatan gelombang pada batuan. yaitu sifat fisik dan sifat mekanik (Rai. bobot isi dan spesific energy. dan void ratio. Sedangkan untuk zona getaran elastik menurut Chun-rui. serta sifat massa batuan seperti rock quality designation (RQD). kekuatan batuan pada kondisi tekanan berbagai arah dan radius lubang ledak.. Jianchun Li & . dapat dihitung dengan teori elastisitas silinder berdinding tebal (thick-walled cylinder of elasticity). dkk.

triaksial. Bulk Modulus (Κ). yang dinyatakan dengan persamaan : 𝐹⁄ 尠 = ∆𝐿 𝐴 = ⁄𝐿 𝜎 (pers.1) keterangan : ԑw = regangan transversal ԑL = regangan longitudinal Δw = Penambahan panjang arah transversal ΔL = penambahan panjang arah longitudinal L. yang dinyatakan dengan persamaan : í=  𝜀𝑤 𝜀𝐿 = ∆𝑤⁄ 𝑤 ∆𝐿⁄ 𝐿 (pers. 2010) untuk melihat pengaruh beban dinamik terhadap beberapa jenis batuan atau terhadap kondisi material. ԑ𝐿 2. Omer Aydan & Halil Kumsar 2009. dkk. W = Panjang mula-mula. Untuk mengetahui kondisi kekuatan batuan di laboratorium umumnya dilakukan pengujian sifat fisik dan mekanik..  Poisson ratio dinamik (ν) adalah perbandingan regangan transversal (transverse strain) dengan regangan longitudinal (longitudinal strain). Pengujian kuat tekan (UCS). absorpsi dan void ratio digunakan sebagai parameter pendukung dalam perhitungan mekanika batuan. porositas. akan dihasilkan kurva tegangan-regangan (stress – strain). Sifat batuan (dianalogikan media padat) sangat mempengaruhi perilaku gelombang tegangan yang merambat pada material tersebut.2) keterangan : F = beban/gaya yang bekerja dan A = luas permukaan. Y. specific gravity. Aydan 2009. Ferrero. Sifat fisik batuan seperti bobot isi. Modulus young (Ε) merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan. Ohta & O. modulus young (Ε). . Karakteristik seperti Poisson ratio (ν). 2009. Rigidity (G) dan konstanta Lame (λ dan μ). Pada pengujian kuat tekan. Burchell (1987). dkk.. 2. Feng Dai. uji geser langsung dan ultrasonik merupakan pengujian yang dianggap cukup penting untuk mengetahui kekuatan batuan di laboratorium.15 Guowei Ma 2009. memformulasikan karakteristik tersebut dalam bentuk pernyataan berikut.

5) (pers. parameter Mohr-Coulomb untuk massa batuan tidak dapat dengan mudah diperoleh dengan menggunakan sistem klasifikasi sebab parameter ini tergantung pada faktor-faktor lain seperti confining stress yang tidak diakomodasi dalam sistem klasifikasi. 2. Geological Strength Index (GSI). 2.4) ԑ𝑠ℎ keterangan :  Fs = gaya geser dan ԑsh = regangan geser. Rigidity (G) atau modulus geser (shear modulus) yang merupakan perbandingan tegangan geser (shearing stress) dengan regangan geser (shearing strain). dan lain-lain. 2.3) ⁄v𝐿 keterangan :  v = volume awal dan Δv = perubahan volume. dinyatakan dengan persamaan: 𝐺= 𝐹𝑠 (pers. 2. Mereka memformulasikan untuk .16  Bulk Modulus (Κ) merupakan perbandingan tegangan dan perubahan volume material. yang dinyatakan dengan persamaan : 𝐹⁄ 𝐾 = ∆v 𝐴 (pers. (2002) data yang dibutuhkan untuk memperkirakan modulus deformasi (Em) adalah kuat tekan batuan utuh (σci). dkk. rating GSI atau RMR dan konstanta Hoek-Brown (mi). Modulus deformasi massa batuan dapat diturunkan dengan menggunakan sistem klasifikasi umum seperti Q. Rock Mass Rating (RMR).6) Sementara itu secara empirik misalnya dengan menggunakan klasifikasi massa batuan parameter-parameter yang penting untuk menentukan kekuatan massa batuan adalah modulus deformasi (Em). Sedangkan konstanta Lame (λ dan μ) merupakan tetapan yang diturunkan dari besaran yang telah disebutkan di atas dan dinyatakan dengan persamaan: 𝜈𝐸 λ = (1+𝜈)(1−𝜈) = 𝐾 − μ= 𝐸 2(1+𝜈) 2 3 𝐺 = 𝐺 (pers. Menurut Hoek & Brown (1997) dan Hoek. parameter Mohr-Coulomb seperti sudut gesek dalam (ϕ) dan kohesi (c). Kebalikan dari persamaan ini (1/K) menyatakan kompressibilitas material. namun menurut Saiang (2006).

data yang dibutuhkan untuk memperkirakan modulus deformasi dari batuan yang telah rusak (deformation modulus of damaged rock. 2. dkk.25 Sedangkan untuk batuan terganggu. 10(  𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐸𝑚 = 10( 𝑅𝑀𝑅−10 ) 40 𝐺𝑆𝐼−10 ) 40 untuk σci > 100 MPa (pers. Hoek. untuk menghitung sifat-sifat batuan yang sudah terganggu berdasarkan sistem klasifikasi GSI sebagai berikut:  Modulus deformasi batuan yang rusak (ED): 𝐷 𝐸𝐷 = (1 − 2 ) 10( 𝐷 𝜎 𝐺𝑆𝐼−10 ) 40 𝑐𝑖 𝐸𝐷 = (1 − 2 ) √100 .10) Poisson ratio di asumsikan konstan pada 0. 2. ED) adalah kuat tekan batuan intak (σci). rating GSI atau RMR. Em : 𝐸𝑚 = 10( 𝐺𝑆𝐼−10 ) 40 𝜎 𝑐𝑖 𝐸𝑚 = √100 .14) Poisson ratio diasumsikan konstan pada 0. G 𝐸 𝑚 𝐺 = 2(1+𝑣)  (pers. (2002). 2. 2. 2. . K 𝐸 𝑚 𝐾 = 3(1−2𝑣)  (pers.11) (pers.17 menghitung sifat-sifat elastik pada batuan yang tidak terganggu berdasarkan pada sistem klasifikasi GSI sebagai berikut :  Modulus Young.12) Modulus Bulk batuan rusak (KD): 𝐷 𝐾𝐷 = 3(1−2𝑣)  (pers. D). Menurut Hoek. (2002). 2.8) Modulus Bulk. konstanta Hoek – Brown (mi) dan faktor pengganggu (disturbance factor.13) Modulus Geser batuan rusak (GD) 𝐸 𝐷 𝐺𝐷 = 2(1+𝑣)  (pers. dkk. 10(  untuk σci > 100 MPa 𝐺𝑆𝐼−10 ) 40 untuk σci ≤ 100 MPa 𝐸 (pers.7) untuk σci ≤ 100 MPa (pers. 2.25 Nilai disturbance factor sangat tergantung dari kondisi batuan dan cara penggalian. 2. memberikan perkiraan estimasi besarnya disturbance factor ini.9) Modulus Geser.

Sedangkan untuk kondisi batuan yang buruk tanpa peledakan nilainya antara 0 sampai 0. dan peledakan dengan free face nilai D adalah 0. Pendekatan dengan menggunakan kriteria ini dijelaskan secara rinci pada Hoek dan Brown (1997). bila peledakannya bagus nilainya 0.3 hingga 0.18 Sebagai contoh. nilai D adalah 2 sampai 2. misalnya satu atau lebih baris penyangga (buffer rows) nilai D adalah 1 sampai 1.5 tinggi lereng (H).2 H - Peledakan produksi dengan kontrol. Sedangkan untuk aktivitas penambangan terbuka. peledakan terkontrol.0. Gambar 2. tidak ada kontrol namun peledakan dengan bidang bebas (free face). Tebal zona kerusakan akibat peledakan (D) tergantung pada desain ledakan.5 H . kondisi terbatas.7 dan bila kurang bagus nilainya 1. kondisi terbatas dan dengan sedikit atau tidak ada kontrol. atau penggalian dengan menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) dan gangguan minimal terhadap massa batuan terbatas di sekitar terowongan maka nilai disturbance factor adalah nol. nilai D adalah 0. namun dengan kontrol.5 H - Peledakan produksi.0 dan bila menggunakan peralatan mekanis nilainya adalah 0.2. Untuk aktivitas pekerjaan sipil di permukaan dengan menggunakan peledakan skala kecil. untuk kualitas batuan yang sangat bagus. Hoek dan Karzulovic (2000) menyarankan untuk menghitung besarnya D menggunakan ketentuan sebagai berikut: - Peledakan untuk produksi besar. bila menggunakan peledakan nilainya adalah 1. Selain itu untuk melihat perilaku batuan baik pada saat tak terganggu maupun terganggu dapat juga menggunakan kriteria Mohr-Coulomb dimana parameterparameter kekuatan Mohr-Coulomb adalah kohesi (c) dan sudut geser dalam (ϕ).7. misalnya satu atau lebih buffer rows.5 dan bila ada peledakan nilainya 0. - Peledakan untuk produksi.5 sampai 1 H - Peledakan produksi yang dikontrol dengan hati-hati dan peledakan dengan free face.8. nilai D adalah 1 sampai 1. memperlihatkan kondisi batuan hasil peledakan (muckpile) yang dapat digali secara efisien dan kerusakan batuan akibat peledakan yang terletak di antara batas penggalian dan massa batuan insitu.

Oleh karena itu model yang disarankan ini masih perlu ditinjau apakah cocok untuk kondisi batuan. zona retak (batuan menderita kerusakan kecil dan muncul retakan-retakan barufresh cracks atau pelebaran dari retakan yang sudah ada namun tidak bisa diamati oleh pengamatan normal) dan zona utuh (batuan tidak rusak secara signifikan). kerusakan batuan akibat peledakan terdiri dari zona overbreak (kondisi batuan rusak parah). iklim dan desain peledakan di Indonesia. 2. .. Representasi transisi antara batuan in situ dan batuan yang diledakkan (Hoek dan Karzulovic.2. 1996). Penilaian kerusakan batuan Suatu batuan dianggap rusak bila tidak lagi bereaksi secara elastis dan terjadi deformasi plastis (Paventi et al. 2000) Model yang disarankan oleh Hoek dan Karzulovic (2000) ini didasarkan oleh data yang telah dikumpulkan oleh Abdullatif dan Cruden (1983) pada batuan granodiorit dengan model lubang ledak miring.19 Gambar 2. Selain itu jenis batuan yang diledakkan berbeda dengan model yang disarankan oleh Hoek dan Karzulovic (2000). Sedangkan menurut Dey (2004).8. Umumnya lubang untuk peledakan di tambang batubara di Indonesia menggunakan lubang ledak vertical.

perlu memasukkan panjang kolom peledakan seperti terlihat pada Gambar 2.16) Untuk bagian muatan bahan peledak yang sangat kecil dW.20 Garis antara overbreak dengan zona retak lebih mudah untuk diidentifikasi. Namun demikian.. adalah konstanta empiris yang ditentukan dari pemantauan jarak jauh. Asumsi dasar dalam persamaan ini menganggap muatan bahan peledakan sebagai suatu titik. 1996): 𝑃𝑃𝑉 1/𝛼 𝑤=( 𝐾 ) 𝑊 = 𝑅𝛽/𝛼 (2. sebab zona overbreak ini akan terlepas dari batuan utama. W = Muatan bahan peledak per waktu tunda (kg).15) keterangan : PPV = Kecepatan partikel. dan R = jarak radial dari pusat ledakan ke titik pengamatan (m). intensitas getaran dw. Namun. β. Holmberg dan Persson (1979) telah mengembangkan model matematis dan telah mendapatkan nilai pendekatan hubungan PPV yang dihasilkan dengan mengintegrasikan persamaan umum tersebut. mm/detik K. namun batas antara zona retak dan utuh sulit untuk ditentukan. α.3. Bentuk umum dari persamaan tersebut adalah: PPV = K x Wα /Rβ (2. penggunaan model jarak dekat Holmberg-Persson sangat populer untuk memperkirakan tingkat kecepatan partikel puncak. untuk mememperkirakan tingkat kecepatan partikel (PPV) pada jarak dekat. Secara berurutan penurunan rumus tersebut adalah sebagai berikut (Persson. dkk. tanpa mempertimbangkan panjang kolom peledakan. diperoleh dari : . Para peneliti meyakini bahwa kerusakan batuan ada hubungannya dengan getaran tanah dan telah banyak pula mengeluarkan batasan tingkat ambang kecepatan partikel puncak (PPV) untuk derajat kerusakan batuan yang berbeda. Dengan demikian. Pengukuran PPV secara langsung pada jarak dekat dengan menggunakan seismograf sulit dilakukan dan berisiko rusaknya peralatan ukur. estimasi tingkat PPV tersebut tetap berasal dari ekstrapolasi pengamatan jarak jauh atau menggunakan model jarak dekat (near-field model) yang dikembangkan oleh Holmberg-Persson (Bogdanhoff. 1996).

xs r0 x0 r0 – x0 PPV PPVx x-x0 x [r02+(x-x0)2]1/2 θ dx xs+H Gambar 2.. maka persamaan akan menjadi : 𝑃𝑃𝑉 = 𝐾 [𝑞 𝛼 𝑥𝑠 +𝐻 𝑑𝑥 ∫𝑥 𝛽/2𝛼 ] 𝑠 [𝑟 2 +(𝑥−𝑥 )2 ] (2.21) keterangan : r0 = jarak horizontal antara sumbu lubang bor & titik pengamatan (m). dkk. q = unsur muatan bahan peledak.18) r x xs PPVy x0 . menjadi : 𝑞 𝛼 (𝑥𝑠 +𝐻)−𝑥0 𝑃𝑃𝑉 = 𝐾 (𝑟 ) [arctan ( 0 𝑟0 ) + 𝑎𝑟𝑐𝑡𝑎𝑛 (𝑥0 −𝑥𝑠 ) 𝛼 𝑟0 ] (2.20).17) 𝑑𝑤 = 𝑅𝛽/𝛼 𝑑𝑊 Dengan mengintegrasikan persamaan (2. (kg/m). dan . 1996) menjadi : 𝑥 +𝐻 𝑤 = 𝑞 ∫𝑥 𝑠 𝑑𝑥 (2. xs = total panjang muatan bahan peledak pada lobang ledak (m).21 1 (2. (𝑥𝑠 + 𝐻) − 𝑥0 = jarak vertikal antara dasar lobang bor dan titik pengamatan (m).3.20) 0 0 bila β = 2α.16). maka persamaan (2.17) menggunakan : 𝑑𝑊 = 𝑞 𝑑𝑥 𝑑𝑎𝑛 𝑅 = [𝑟02 + (𝑥 − 𝑥0 )2 ]1/2 (2.19) 𝛽/2𝛼 [𝑟02 +(𝑥−𝑥0 )2 ] 𝑠 dengan memasukkan persamaan (2. Pendekatan persamaan Holmberg-Persson untuk menghitung PPV pada Pengukuran Jarak Dekat (Persson.

Kecepatan penjalaran gelombang ini sangat dipengaruhi karakteristik material. ν = poisson ratio. 2008) : 𝐾+ 4⁄3 𝐺 𝜈+2𝜇 𝜌 = √ 𝐸 1− 𝜈 𝑉𝑃 = √ (pers. maka cepat rambat gelombang sangat ditentukan oleh modulus elastisitas. Karena pada umumnya nilai poisson ratio sangat kecil.9. 2. K= bulk density. maka sejumlah gelombang akan terbentuk pada titik tumbuk dan menjalar secara sferis ke arah luar dengan amplitudo yang terus berkurang. 2.23) 𝑉𝑃 = √𝜌 (1−2𝜈)(1+2𝜈) keterangan : Vp = tegangan geser. dinyatakan dengan persamaan: 𝐸 1 𝑉𝑠 = √𝜌 𝑥 2(1+2𝜈) (pers. 2. sehingga persamaan tersebut dapat ditulis: 𝐸 (pers.26) 𝑉𝑠 = √ 𝜌 Hubungan antara cepat rambat gelombang P dan S dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : 𝑉𝑃 𝑉𝑆 = 2 (1− 𝜈) 1−2𝜈 (pers. G = modulus geser dan E = modulus young. Besarnya kecepatan merupakan fungsi dari karakteristik material yang dapat dinyatakan dengan persamaan (Saiang.22 x0 = posisi elemen muatan bahan peledak dari dasar lubang ledak (m).25) 𝐺 (pers.27) . Penjalaran gelombang dan cepat rambat gelombang Jika material padat mendapat tumbukan secara tiba-tiba.24) 𝑉𝑃 = √ 𝜌 Gelombang transversal disebut juga gelombang sekunder (S) atau gelombang geser. 2. 2.22) 𝜌 (pers. 2. Gelombang longitudinal atau gelombang primer (P) mempunyai cepat rambat gelombang yang paling besar dari gelombang lainnya (gelombang transversal dan permukaan). ρ = density. 2. μ = konstanta Lame.

diameter muatan bahan peledak.28) 𝑟 keterangan : A = Amplitudo pada jarak r dari sumber Ao = Amplitudo awal α = koefisien attenuation kekurang-elastisan r = jarak dari sumber Koefisien attenuation ini juga disebut faktor peredaman yang dinyatakan dengan persamaan : 𝛼= ln 𝑓 𝑣 = 𝜋𝑓 (pers. Tekanan detonasi sangat dipengaruhi oleh kecepatan gelombang detonasi dan density bahan peledak.29) 𝑄𝑣 keterangan : α = faktor redaman. biasanya dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/s) dan dipengaruhi oleh jenis batuan. Sampai sejauh ini belum diketahui korelasi antara gelombang permukaan dengan kestabilan lereng. Getaran peledakan Dua jenis tekanan akan muncul pada suatu media padat akibat proses peledakan. ln = logaritma natural perbandingan amplitudo n dan ke n+1 pada seismogram. 2. v = cepat rambat gelombang. 2. Kehilangan ini terjadi karena redaman pada material yang berkaitan dengan kondisi material yang tak elastic (inelasticity). 2. Kecepatan gelombang detonasi merambat melalui kolom bahan peledak.11. Q = koefisien gesek dalam (internal friction coefficient) 2. terdiri dari gelombang rayleigh yang merambat pada permukaan bebas dan gelombang love yang merambat pada lapisan permukaan.23 Cepat rambat gelombang permukaan (surface wave).𝑟 (pers. Gejala ini disebut dengan attenuation wave (pelemahan gelombang). tak kontinyu (discontinuities) dan penyebaran secara geometris.10. yaitu tekanan detonasi (detonation pressure) dan tekanan peledakan (explosion pressure). Peredaman Selama merambat gelombang seismik mengalami kehilangan energi dan pengurangan amplitudo. Kombinasi pelemahan tersebut dinyatakan dalam persamaan (Burchell. 1987): A= 𝐴𝑜 𝑒−𝛼. f = frekuensi gelombang (Hz). density bahan .

Hal ini dikarenakan periode gelombang tekanan peledakan yang lebih besar dari tekanan detonasi. Tekanan peledakan menunjukkan bahwa energi gas dari bahan peledak dan nilainya bergantung kepada pengukungan. namun akan memberikan energi yang lebih besar terhadap proses peledakan pada suatu media. Proses pelepasan energi dari bahan peledak tersebut akan menimbulkan gelombang seismik. Berkaitan dengan hal tersebut. bahan peledak mempunyai peran untuk membantu melepaskan sejumlah batuan yang telah ditentukan dari massa batuan induknya. Meskipun tekanan peledakan lebih kecil dari tekanan detonasi. Biasanya tekanan peledakan sekitar setengah dari tekanan detonasi. dan memastikan distribusi bahan peledak dalam batuan sesuai dengan batasan kegiatan penggalian serta keamanan lingkungan sekitar daerah peledakan. penentuan jumlah energi yang dibutuhkan untuk membongkar.30) DP = tekanan detonasi (MPa).24 peledak. Gelombang seismik ini dapat merambat melalui massa batuan menembus terus sampai ke bagian dalam massa batuan (body wave) yang menghasilkan . (1987) menggunakan pendekatan rumus: DP = 2. derajat pengungkungan ukuran dan jenis bahan peledak. ukuran partikel. VOD = Kecepatan detonasi (m/s). Pada proses pembongkaran batuan.5 x 10-6 x VOD2 x ρ keterangan : (pers. Kecepatan gelombang detonasi ini akan mempengaruhi bagaimana energi dilepaskan oleh bahan peledak. memecah dan mendorong batuan hasil ledakan. 2. formula bahan peledak. jumlah gas yang dibangkitkan dan temperatur produk reaksi kimia bahan peledak. dimana besarnya tekanan detonasi menurut Burchell. Tekanan peledakan atau tekanan lubang tembak adalah tekanan yang berada di belakang CJ plane dan merupakan hasil ekspansi gas-gas reaksi peledakan yang memperluas lubang tembak sampai kondisi kesetimbangan tegangan. ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu. Gelombang kejut yang terjadi merupakan gelombang tegangan tekan (compressive stress waves). ρ = density (g/cc). Adanya kecepatan ini menyebabkan terjadinya gelombang kejut (shock wave) atau gelombang detonasi (detonation waves) yang terletak di depan zona ledak.

menunjukkan bentuk dan arah pergerakan partikel untuk gelombang compressive. satuannya adalah jarak (dalam inchi atau mm). Gerakan partikel pada gelombang love menyerupai gerakan pada gelombang transversal yang terpolarisasi secara horizontal. dimana variabel yang akan muncul adalah kecepatan dan gaya yang besarnya sebanding dengan percepatan partikel.4. Gambar 2. Parameter dasar yang menyebabkan adanya getaran yaitu: Perpindahan (displacement) adalah jarak dimana partikel batuan bergerak dari posisi semula. gelombang seismik juga merambat pada permukaan (surface wave) yang menghasilkan gelombang love dan gelombang Rayleigh.25 gelombang tekan (compressive wave) dan gelombang geser (shear wave). Gelombang tekan merupakan jenis gelombang tekan-tarik yang akan menghasilkan pemadatan (kompresi) dan pengembangan (dilatasi) pada arah yang sama dengan arah perambatan gelombang. Apabila gelombang seismik melalui batuan. . Sedangkan gelombang geser merupakan gelombang melintang (transversal) yang bergetar tegak lurus pada arah perambatan gelombang. Sedangkan gerakan partikel pada gelombang Rayleigh adalah berputar mundur dan vertikal terhadap arah perambatan gelombang. shear dan Rayleigh. Selain merambat pada massa batuan. maka partikel batuan bergetar atau berpindah dari posisi semula.

2. dkk.32) v = H ⌊𝑊𝛼 ⌋ keterangan : v = Kecepatan Partikel Puncak (mm/detik) H = konstanta (constant of proportionality) W = muatan maksimum bahan peledak per delay (kg) .26 Gambar 2. jumlah muatan bahan peledak. Dua hubungan yang menyatakan ketergantungan kecepatan partikel puncak (peak particle velocity) pada berat muatan dan jarak dapat dikombinasikan dan dikembangkan ke dalam hukum perambatan. Johnson dan Duvall (1971). satuannya adalah jarak per satuan waktu. (b) shear. Gaya yang digunakan oleh getaran partikel adalah sebanding dengan percepatan partikel.31) 𝑅𝛽 keterangan : v = Kecepatan Partikel Puncak (mm/detik) K = konstanta (constant of proportionality) W = muatan maksimum bahan peledak per delay (kg) R = Radius (Jarak) dalam (m) Konstanta K..7 dan β = 1. Variasi gerakan partikel dengan type gelombang: (a) compressive. Percepatan (acceleration) adalah kecepatan persatuan waktu yang merupakan perubahan kecepatan partikel. dan (c) Rayleigh (Dowding. 1985) Kecepatan (velocity) adalah kecepatan partikel batuan yang bergerak ketika meninggalkan posisi semula meningkat ke maksimum dan kembali ke posisi semula. α dan β tergantung pada kondisi struktur dan sifat elastik massa batuan dimana aktifitas peledakan tersebut dilakukan. 2. α = 0. merumuskan hubungan tersebut dalam bentuk persamaan : 𝐷 𝛽 (pers. Bureau of Mines yaitu Nicholls. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat getaran peledakan.4.7 m/detik. menjadi (Persson. Menurut Persson dkk. kondisi geologi dan karakter material.. yaitu jarak. nilai untuk massa batuan yang keras adalah K = 0. Hasil penelitian tim peneliti dari US. 1993): 𝑣=𝐾 𝑊𝛼 (pers.4.

12.2. maka lereng akan runtuh dan jika SF = 1. (1982) mecoba memperkirakan dengan persamaan : Fdin = (ρ cs v) h (pers. maka lereng dianggap aman. dL = panjang elemen sepanjang sudut lereng dan Β = sudut lereng.34) ρ = density massa batuan.): Fsta = (ρ. siklis yang mempunyai arah dan besaran yang bervariasi. Sedangkan Fdin adalah gaya dinamis yang disebabkan oleh peledakan. 2. Gaya dinamis ini transient.27 D = Jarak (m) dimana harga α terletak sekitar 0. h = dimensi vertikal elemen lereng.g. Perbandingan antara gaya penahan dan gaya penggerak tersebut disebut nilai faktor keamanan (safety factor – SF).5 atau akar dari muatan scalling factor. 2. lereng dalam kondisi kritis. 2. Pengaruh getaran peledakan terhadap kestabilan lereng Perbandingan gaya penahan terhadap gaya penggerak longsoran merupakan formula dasar yang dijadikan acuan dalam menentukan stabil tidaknya suatu lereng. α dan β adalah berbeda untuk setiap komponen. Bila nilai SF > 1.h sin β) (cos β dL) keterangan : (pers. g = percepatan gravitasi. Faktor yang menyebabkan bergeraknya batuan adalah (Oriard. Harga numerik dari H. Sehingga lereng akan mengalami keruntuhan bila : Fsta + Fdin + Fres (gaya penggerak) > Ss (gaya penahan) (pers.35) keterangan : cs = kecepatan gelombang geser dan v = peak particle velocity. Meskipun belum diketahui pendekatan persamaan yang paling sesuai dengan kondisi aktual di lapangan namun Oriard. dan gaya residu (Fres). bila SF < 1.33) Keseimbangan gaya statis pada lereng yang dipengaruhi oleh gravitasi. 1982. Gaya-gaya yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah gaya geser statis (Fsta) gaya dinamik (Fdin). .

Alat perhitungan mengacu pada teknik numerik dan analitis.36) dimana Ss adalah tahanan geser statis puncak (peak static shearing resistance) dengan persamaan: Ss = (ρ g h cos2 β) dL. prediksi dan validasi. yaitu alat perhitungan dan alat pengukuran (Saiang. 2. Metode Investigasi kerusakan batuan Saiang (2004) mengklasifikasikan metode penyelidikan zona kerusakan batuan dalam bentuk diagram seperti terlihat pada Gambar 2.13. tegangan kimia dan pengaruh lainnya diabaikan. 2. PENILAIAN DAN KUANTIFIKASI KERUSAKAN BATUAN PREDIKSI ALAT PENGUKURAN ALAT PERHITUNGAN VALIDASI Metode laboratorium Metode lapangan Pengukuran Gelombang P dan S Survey Visual dan Laser Pengukuran Hidrolik Parameter dan Indeks Massa Batuan Injeksi Gas Emisi Akustik Klasifikasi Massa Batuan Pengukuran Konvergensi Pengukuran Getaran Peledakan Geofisika Metode Analitik Closed-form solution Metode Empiris Model PPV Model kekuatan dan Kekakuan Massa Batuan Model GRC Metode Numerik Model Kontinyu Model diskontinyu Model Hibrid Kontinyudiskontinyu . perhitungan. 2.28 Untuk menyederhanakan persamaan.. dianggap gaya residu yang diakibatkan oleh tegangan tektonik. Secara umum alat untuk penyelidikan dibagi menjadi dua komponen. Komponen penting dari tugastugas untuk penyelidikan kerusakan batuan tersebut adalah pengukuran. 𝑆 = 𝑆𝑠 𝐹𝑠𝑡𝑎 +𝐹𝑑𝑖𝑛 +(𝐹𝑟𝑒𝑠 =0) (pers. Tan (ϕr + i) (pers.5. sedangkan alat pengukuran mengacu pada pengukuran lapangan dan laboratorium. 2005b) dalam (Saiang. 2008). sehingga persamaan faktor keamanan menjadi: 𝐹. dkk.37) keterangan : ϕr = sudut geser dalam dan i = equivalent dengan sudut geser seperti pengaruh faktor kekasaran joint/rekahan.

Membutuhkan satu sumber dan setidaknya KERUGIAN Redaman dan ratarata kecepatan tinggi dan karenanya kualitas hasil terbatas. Kerugiannya sama dengan sesimik crosshole. Transmitter biasanya merupakan pukulan palu impulsif dan akselerometer sebagai penerima Sama seperti lintas-lubang seismic (cross-hole) kecuali beberapa pengukuran dilakukan untuk setiap peledakan tambahan (atau transmisi).5. Zona kerusakan biasanya diremehkan karena orientasi jalur sinar sejajar dengan batas tunnel sehingga dalam banyak kasus sejajar dengan rekahan .3.29 Gambar 2. Kecepatan pengukuran dalam interval sepanjang lubang tunggal. Ringkasan beberapa alat geofisika yang digunakan dalam penyelidikan Kerusakan Batuan (Saiang. Fenomena gelombang yang sering sulit untuk ditafsirkan Kecepatan seismik Sebuah volume yang lebih besar daripada cross-hole seismic dapat dilakukan Memakan waktu dan analisis bisa sangat sulit jika anisotropi antara massa batuan dan zona kerusakan tidak bisa dibedakan. Skema Diagram Penilaian Kerusakan Batuan (Saiang. Tabel 2. 2004) Umumnya teknik pengukuran dan penilaian kerusakan batuan yang paling banyak digunakan adalah metode geofisika.3. Prosedur ini diulang sampai akhir lubang. Secara ringkas kelebihan dan kekurangan dari beberapa metode ini disampaikan pada Tabel 2. 2004) TEKNIK PRINSIP OPERASIONAL PARAMETER YANG DI EVALUASI KEUNTUNGAN Pengukuran Bawah Permukaan Kecepatan sesimik diukur pada lobang bor tunggal sebagai fungsi kedalaman Kecepatan seismik Baik untuksifat dinamik amplitude rendah Cross-hole seismik Penerima dan pemancar (biasanya eksplosive) berlokasi di lubang terpisah tetapi pada kedalaman yang sama sebagai alat untuk pengukuran Kecepatan seismik Volume batuan besar dapat di pindai Kecepatan seismik Cepat dan lebih cepat. Kecepatan seismik Menghasilkan resolusi yang baik Pengukuran satu dimensi Analisis spektral gelombang permukaan Tomography Pengukuran kecepatan interval Pengukuran dilakukan dari permukaan dan tidak ke dalam lubang seperti dalam seismics crosshole. volume yang lebih besar maka batuan dapat dipindai.

sehingga akan diperoleh nilai isoseismic dengan menghubungkan nilai-nilai yang sama dan diperoleh garis-garis kontur yang menyatakan tingkat getaran di seluruh lokasi pengamatan. akan dijadikan data masukan dalam penelitian ini untuk dievaluasi. poisson ratio. Borehole Camera Pengamatan kondisi crack atau retakan di dalam lubang bor dapat dilakukan dengan cara memantau dan merekam gambar dinding lubang bor terus menerus dengan . spasi. menyatakan tingkat getaran di sekitar lokasi. kedalaman lobang bor. Untuk pola rancangan peledakan seperti diameter lobang ledak. Pola getaran seperti yang digambarkan dari hasil pengamatan. stemming (material yang diisikan di bagian atas lobang ledak) dan subdrilling (bagian dari lobang bor yang terletak di bawah dasar jenjang). modulus young. rigidity dan konstanta Lame akan diteliti dengan melakukan pengujian laboratorium.13.30 dua penerima Tidak diperlukan lubang bor. Pola delay peledakan.1.2. Nilai maksimum hasil pembacaan sensor di tiap titik pengamatan kemudian di plot pada peta lokasi pengamatan. Pengamatan Retakan Batuan a. EA Keruntuhan progressive dapat di deteksi secara akurat Tidak dapat mendeteksi setelah keruntuhan aktif berhenti Seismik refraksi Micro-acoustic Pengukuran emisi akustik 2. Pengamatan tingkat getaran Pemetaan dilakukan dengan menempatkan sensor-sensor (geophone) pada titik-titik pengamatan disekitar lokasi peledakan sampai ke areal yang dijadikan objek pengamatan. 2. bulk modulus. Salah satu sumber dan penerima beberapa array untuk mendeteksi kerusakan Kecepatan seismik Baik untuk hasil ektrapolasi dari pengukuran interval kecepatan Resolusi kurang baik dan sensitif terhadap konsentrasi tegangan sekunder Geolistrik Pengukuran resistivitas batuan yang rusak lebih tinggi dari pada batuan yang tidak rusak Resistivity Mampu mengukur sifat fisik seperti zona kerusakan ruang pori yang akan menimbulkan resistivitas rendah. Keberadaan air dalam rekahan akan mempengaruhi hasil Radar Pengukuran radar merupakan refleksi elektromagnetik Refleksi elektromagnetik Hasil yang baik untuk batuan kristalin Tidak baik bila ada lapisan lempung Emisi akustik.13. yang sangat dipengaruhi oleh pola rancangan peledakan dan keadaan geologi. Sementara itu parameter geologi seperti karakteristik batuan yang meliputi. burden (jarak tegak lurus dari lubang ledak ke bidang bebas terdekat).

. orientasi sebenarnya dari rekahan terhadap lubang bor dapat ditentukan.6 merupakan ilustrasi metode pengukuran dengan borehole camera. citra tersebut akan direkam. analisa gambar lubang bor dan analisa rekahan batuan (fractured rock analysis). Sedangkan pada rekahan longitudinal. yaitu sudut yang dibentuk oleh bidang rekahan dengan sumbu yang tegak lurus terhadap sumbu bor dan mengarah ke bawah. Dengan menggunakan stereonet. Dari grafik tersebut dapat ditentukan kemiringan serta arah rekahan relatif terhadap lubang bor. Sedangkan bila rekahan yang terbentuk adalah rekahan longitudinal arah rekahan yang terbentuk adalah sama dengan arah sumbu lubang bor dan kemiringannya ditentukan dengan menghitung sudut rekahan tersebut terhadap lubang bor. yaitu review petrofisik dari lobang. Selain itu dengan bantuan perangkat lunak (misalnya dengan wellCad) dapat melakukan pengolahan dan evaluasi gambar digital keadaan lubang bor. Kemudian melalui program aplikasi. dilakukan analisis secara menyeluruh. Penyajian data kuantitatif dan kualitatif dari hasil analisis diproyeksikan dari data citra sehingga seluruh permukaan dinding lobang bor dapat diketahui jumlah fraktur atau retakan-retakan yang terjadi dan arah serta kontur dari retakan-retakan tersebut. Data yang diharapkan dari alat ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi petrofisik. orientasi rekahan digunakan untuk memperoleh . Potongan-potongan gambar hasil tangkapan tersebut disusun dan dirangkai menjadi suatu gambar yang benar dan dapat diketahui arah normal bidang rekahan sehingga diperoleh arah () dan kemiringan () normal dari bidang rekahan tersebut. Untuk menentukan orientasi rekahan atau kondisi struktur lainnya. Gambar 2. b. Pada rekahan transversal. Seismik Refraksi Seismik refraksi adalah salah satu metode seismik yang paling efektif untuk memodelkan kondisi struktur bawah permukaan terutama pada lapisan dangkal. jika dinding lubang bor tersebut dibuka maka gambaran yang diperoleh menyerupai grafik sinusoidal. penentuan kondisi litologi lobang bor.31 orientasi azimuth. integrasi dari inti bor. Borehole camera ini merupakan perpaduan antara alat dengan system perangkat lunak yang dapat merekam seluruh gambar visual di dalam lobang bor.

. Pada bidang batas antar lapisan. Bila material bumi dianggap bersifat elastik maka gelombang seismik yang terjadi akan dijalarkan ke dalam bumi dalam berbagai arah. Oleh karena itu.32 Metode ini dianggap mempunyai ketepatan serta resolusi yang tinggi di dalam memodelkan struktur geologi di bawah permukaan bumi.. hasil dari pengukuran seismik tersebut dapat membantu dalam pemilihan lokasi dan dalam rekayasa batuan. gelombang ini sebagian dipantulkan dan sebagian lagi dibiaskan untuk diteruskan ke permukaan bumi. maka kondisi struktur lapisan geologi di bawah permukaan bumi dapat diperkirakan berdasarkan besar kecepatannya. Di permukaan bumi gelombang tersebut diterima oleh serangkaian detektor (geophone) yang umumnya disusun membentuk garis lurus dengan sumber ledakan (profil line). Gambar 2.6. kemudian dicatat atau direkam oleh suatu alat seismogram. 2007) Dasar teknik seismik dapat digambarkan sebagai suatu sumber gelombang yang dibangkitkan di permukaan bumi. dkk. Dengan mengetahui waktu tempuh gelombang dan jarak antar geophone dari sumber ledakan atau getaran. Diagram metode pengukuran dengan borehole camera (Malmgren.

kemudian dimanipulasi dan diubah menjadi format variasi kecepatan terhadap kedalaman. 2011) c. Pukulan palu seketika direkam dengan geophone yang berada dekat dengan sumber energy sebagai waktu awal (zero time). Proses ini secara skematis digambarkan pada Gambar. diperkuat dan dicatat oleh peralatan khusus yang dirancang untuk tujuan ini. 1973 dalam Dey & Murthy. Diagram metode pengukuran seismik refraksi (Redpath. Ground Penetrating Radar (GPR) Prinsip Ground Penetrating Radar Ground Penetration Radar (GPR) adalah salah satu metode geofisika yang memanfaatkan elektromagnetik (EM) resolusi tinggi untuk pencitraan dan pemetaan kondisi bawah permukaan suatu lapisan batuan. Gambar 2.7.33 Konsep pengukuran dari metode ini terdiri dari pengukuran waktu perjalanan (travel times) dari compressional waves pada titik-titik yang diketahui sepanjang permukaan tanah yang berasal sumber energi impulsif. Sumber energi ini biasanya menggunakan pukulan palu dan energi yang terdeteksi.7. Data mentah yang terdiri dari travel times dan jarak. Sistem ini semula digunakan untuk . 2.

penyelidikan inti bendungan. yaitu transmitter (pemancar) dan receiver (penerima) yang secara langsung terkoneksi dengan antenna serta unit pengendali waktu (perhatikan Gambar 2. karena pertemuan perubahan . Saat ini radar sudah digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk penyelidikan bawah tanah. Sistem ini dapat menentukan ketebalan tanah. mempelajari kondisi lapisan aspal pada jalan. lingkungan dan arkeologi. mendeteksi rongga bawah tanah.8). pemetaan pencemaran kondisi bawah tanah. Antena pemancar memancarkan pulsa pendek frekuensi EM tinggi ke dalam tanah. saluran dan terowongan bawah tanah. secara normal dari permukaan sampai beberapa puluh meter ke dalam tanah.34 mendeteksi keberadaan peralatan perang musuh pada perang dunia II. mendeteksi benda-benda terkubur dalam survei arkeologi. menemukan es atau ketebalan permafrost. di mana ia dibiaskan (refraksi). geoteknik dan lain-lain Tipe system GPR mempunyai tiga komponen utama. struktur batuan dan dermaga jembatan. difraksi (defraksi) dan tercermin (refleksi) terutama permitivitas dielektrik dan konduktivitas listrik. Selama lebih dari dua dekade perkembangan sistem GPR ini telah menjadi alat geofisika yang dapat sebagai jendela bawah permukaan untuk berbagai aplikasi teknik. geologi. kedalaman muka air tanah.

06 0. dkk. (Davis.16 0. 1989) Material Dielectric constant Conductivity (mS/m) Velocity (m/ns) Attenuation (dB/m) Air 1 0 0.13 0.4.12 0.0 0. dan dicatat sebagai sinyal digital untuk menampilkan dan analisis lebih lanjut.01 0.000 0.3 Limestone 4-8 0.01-1 0. 1989) Penyebaran sinyal radar terutama tergantung pada sifat listrik dari material bawah permukaan seperti pada Tabel 2.01-1 Salt (dry) 5-6 0. atau Warr (wide-angle refleksi-refraksi) terdengar dan transiluminasi adalah model lain dari system GPR.01 1..3 0 Distilled water 80 0.1-1. Beberapa tipe radar sebagai frekuensi dan modulasi radar gelombang sinus atau radar hologram pada saat ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi.35 Gambar 2.002 Fresh water 80 0.03-0. Gelombang yang tersebar kembali ke permukaan bumi menyebabkan sinyal di antena penerima.5-2 0.06 1-300 Granite 4-6 0. dimana jejak gelombang kembali dikumpulkan baik terus menerus atau di stasiun sepanjang garis. sehingga menciptakan waktu penampang atau gambar profil dari bawah permukaan.09 1-100 Silt 5-30 1-100 0.1 Sea water 80 30. Common Mid Point – CMP (titik tengah umum).000 0.01-1 0.033 0..01 Saturated sand 20-30 0.000 Dry sand 3-5 0.5 0.01-1 Ice 3-4 0.13 0.15 0.4.01 0.07 1-100 Clay 4-40 2-1. Sifat-sifat listrik dari beberapa Media Geologi pada kondisi bawah permukaan. dkk.8.01 Model operasional yang paling umum dari GPR adalah model refleksi.033 0.4-1 Shale 5-15 1-100 0.01 0. Diagram Alir untuk tipe system GPR (Davis. Tabel 2. namun .

dan mulai mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi computer pada tahun 1970-an. Sebagai suatu typical pada proses pengolahan umumnya rata-rata dijalankan untuk tiga sampai lima sampel di sepanjang jejak masing-masing ditambah dengan rata-rata tiga jejak di sepanjang profil untuk meningkatkan sinyal untuk rasio kebisingan Gain penguatan diperlukan untuk meningkatkan visibilitas bagian lebih dalam dari gambar. Annan dan Davis [1977]. Pengolahan sederhana umumnya diperlukan untuk tampilan konvensional.36 untuk penyelidikan tanah yang paling umum digunakan adalah radar pulsa (GPR). Pengembangan system ini dimulai sekitar pertengahan tahun 1950-an. Basson [1992]. Interpretasi Pengolahan data GPR dan SR saat ini dalam pembuatan profil terlihat sangat mirip dalam membuat (cross section) di bawah permuakaan. Tampilan dari gambar transaction terdiri dari data penampang-sinyal amplitudo (intensitas) versus lokasi (sepanjang sumbu waktu dua-arah dan sumbu horizontal). Proses plotting umumnya disebut sebagai normal-incidence time section (ketika offset transmitter-receiver relatif diabaikan pada kedalaman yang diteliti dan pada konfigurasi monostatic).536 tingkat amplitudo. 1989]. Rutinitas pengolahan dasar dapat diterapkan selama operasi di lapangan sementara citra dibangun dengan cara yang tidak mempengaruhi data yang dikumpulkan. Dalam beberapa hal. layar mungkin menjadi tidak terbaca. Davis dan Annan [1986. Cook [1995] Parasnis [1997] dan Basson [2000]. ini adalah cara yang berguna untuk ditafsirkan dan mendorong pengembangan sensor akuisisi dan metode pengolahan yang lebih tepat untuk . diubah kembali menjadi sinyal analog dan ditampilkan sebagai amplitudo sinyal tegangan dibandingkan dua arah waktu (umumnya saat ini sistem menggunakan 16 bit A / D converter atau lebih untuk mengkonversi sinyal yang tercatat lebih dari 65. Tampilan Data GPR ditampilkan pada kertas printer atau di layar komputer pada saat akuisisi secara real selama real time. Konsep GPR dan aplikasinya telah dibahas secara rinci oleh Morey [1974]. Ulriksen [1982]. sehingga kondisi penampang dapat menggambarkan kondisi sebenarnya dari lapisan batuan yang diselidiki. jika tidak. Nilai intensitas yang direkam secara digital untuk setiap jejak secara terpisah.

yang belum tentu antarmuka yang sama dan benda-benda yang akan dilihat oleh mata. dan kepekaan untuk mencerminkan antarmuka dari objek. suatu interpretasi yang tepat dari profil GPR harus didasarkan pada pemahaman yang komprehensif tentang kondisi geologi dan lingkungan.10 Interpretasi dari kondisi stratigrafi bawah permukaan. Gambar 2.10 menunjukkan stratigrafi yang menonjol. Gambar 2.11 menunjukkan penafsiran elemen-elemen pada profil GPR.9.9. sinklin dan beberapa patahan. Gambar 2. Contoh dari interpretasi ditunjukkan pada Gambar 2. bentuk lipatan. hal ini terutama karena sifat propagasi dan interaksi dari gelombang EM dalam dan di luar tanah. Interpretsi dari elemen-elemen pada profil GPR Konsep dan Teori GPR .37 tujuan penelitian. struktur dan patahan pada foto tebing.11. Namun. Pada. Namun proses pengolahan untuk melihat irisan penampang bukanlah hal yang sederhana. Interpretasi dari Gambar Profil GPR Gambar 2. Gambar 2.

df (lebar pulsa pada domain frekuensi). terutama lebar pulsa (durasi. Kedua metode tersebut biasanya diterapkan menggunakan konfigurasi antenna cross-line dipol yang dipasang tegak lurus terhadap arah profil. fc. yang kemudian diperkuat dan diubah menjadi bentuk digital. Dobrin dan Savit.15-0. dt). Dalam continuous profiling. Frekuensi sekitar yang sebagian besar energi pulsa 'terkonsentrasi disebut frekuensi pusat. antena GPR memancarkan pulsa dari bentuk yang sama dan durasi pada interval tertentu. setidaknya frekuensi sampling harus dua kali lebih tinggi dengan formulasi fs> 2fmax. baik dalam pengaturan monostatic atau bistatic. sebuah antena dengan panjang 1 m diperlukan untuk pulsa 10 ns dengan durasi transmisi GPR yang efisien.38 Sebagian besar sistem GPR menggunakan antena dipol. Interval di mana sinyal masuk disebut sampel interval (kebalikannya disebut frekuensi sampling. sehingga pulsa yang lebih luas memerlukan antena yang lebih panjang. ditambahkan dan rata-rata). Teorema Sampling dengan aspek sampling sinyal telah disepakati oleh beberapa peneliti seperti Yilmaz. fs). 1988. Dalam prakteknya. dan bistatic ketika dua antena yang digunakan terpisah. sementara pulsa dengan ari 1-2 ns memerlukan panjang antena sekitar 0. antena yang sama digunakan untuk pengiriman dan penerimaan. yang mirip dengan pusat frekuensi. yaitu. Panjang antena dipole mempengaruhi kontrol karakter dari transmisi pulsa. Biasanya. 1987. untuk pulsa yang diwakili oleh sampel. sehingga jumlah scan per unit jarak adalah fungsi dari pengulangan pulsa dan kecepatan tarik (yang cenderung bervariasi selama profiling). antena penerima mengukur medan listrik direfelksikan sebagai sinyal analog. Dalam interval waktu antara dua pulsa berturut-turut. Pada pengaturan monostatic. df ~ fc. Kebanyakan penyelidikan permukaan dengan GPR menggunakan continuous profiling atau metode stationary point collection. Kriteria dari Teorema Sampling. Namun pada stationary point collection. antena ditarik di sepanjang profil ketika proses pemindaian dengan GPR. yang dibuat dalam model refleksi. antena adalah tetap pada titik pengukuran sementara scan sedang ditumpuk (yaitu. Sistem GPR umumnya direncanakan untuk membuat bandwidth frekuensi. mengakibatkan peningkatan substansial dalam sinyal untuk rasio kebisingan . Hasil continuous profiling adalah kualitas profil dasar tidak seragam yang biasanya harus secara spasial dilakukan re-sampling.40 m.

Pengamatan pergerakan batuan dapat juga dilakukan dengan memasang alat monitoring pergerakan batuan. Salah satu peralatan sederhana yaitu potensiotransduser dapat mendeteksi pergerakan batuan dengan cukup akurat. Beberapa referensi untuk mengamati deformasi atau perubahan struktur antara lain seperti yang dijelaskan oleh Iannacchione (2001) yang memaparkan cara-cara praktis untuk mengamati pergerakan batuan. 1995. 2. menunjukkan hasil pengukuran yang linier dengan nilai R2 = 0. Konsep pengukuran dan gambar dari alat tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil kalibrasi alat ini dari penelitian Zulfahmi. 2000. Waldron (2006) yang mengamati retakan struktur bangunan rumah akibat getaran peledakan dari suatu tambang bawah tanah dan Lusk dkk. dkk. Pengamatan Deformasi Beberapa peneliti sebelumnya menemukan adanya korelasi penurunan kekuatan batuan terhadap beban dinamik (aktivitas peledakan dan gempa) sehingga batuan dapat mengalami proses deformasi.12. yang mengamati pergerakan rekahan pada struktur bangunan. Oriard. Yang. Ozer (2005). . (2010).39 (peningkatan yang signifikan dari data GPR dapat dicapai dengan susunan 16-128 kali).. 1993. dkk. Ketika operator puas dengan kualitas data.13. 1989. mengamati respon struktur bangunan rumah akibat getaran yang ditimbulkan oleh peledakan pada tambang batubara. Alat tersebut menggunakan 4 buah potensiometer. 1980. Mojtabai & Beattie.. (2009). dkk.99. (Holmberg & Maki. dimana masing-masing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. susun masing-masing pada suatu waktu. 1981. 1982. 1994. Choudhury 2010). antena dipindahkan pada interval seragam ke stasiun berikutnya sepanjang profil. Siskind. 1987. 1985.3. 1994.

Permodelan diskontinyu untuk kerusakan batuan Permodelan numerik yang digunakan untuk memodelkan kondisi batuan menurut Arif (1997) dapat dibedakan menjadi model kontinyu. Instrument Monitoring Pergerakan Batuan (Zulfahmi.40 Gambar 2. Sato et al. 4 buah jangkar akan menempel pada lapisan batuan yang akan diamati dan masing-masing terhubung dengan transduser pada berbagai kedalaman lapisan lapisan batuan. Kondisi batuan dengan metode kontinyu telah banyak dimodelkan oleh beberapa peneliti. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya.12. Tonon et al. Perubahan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. Melalui datalogger. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. Pergerakan/perpindahan letak batuan akan memutar pulley yang terhubung dengan sensor.(2002). 2009) Komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi. diantaranya oleh Maxwell dan Young (1998). diskontinyu dan gabungan model kontinyu. pembacaan data dikirim ke komputer untuk diolah lebih lanjut.. Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja.diskontinyu (hybrid). 2. (2001). Young dan . Sheng et al. dkk.(2000).14.

Metode Elemen Hingga (Finite Element Methods – FEM) adalah salah satu metode kontinyu yang sangat popular digunakan pada beberapa system media kontinyu. kemudian penentuan korelasi misalnya hubungan deformasi dan perpindahan atau tegangan dan deformasi. lalu dipilih fungsi sebagai pendekatan. namun menemukan keterbatasan ketika persoalan slip dan opening dalam skala besar sebagai suatu kumpulan sejumlah besar rekahan (fracture) harus diperhatikan dalam bentuk tiga dimensi dan keterbatasan ini menjadi kritis ketika proses fragmentasi dan aliran material terjadi (Belytschko dan Black 1999. dimana hanya pengaruhnya pada perilaku fisik. Namun penggabungan dua model ini secara praktek cukup rumit. Salah satu upaya untuk menghindari kesulitan dan keterbatasan yang ditemukan dalam memodelkan kondisi batuan tersebut digunakan model hybrid. Pada prinsipnya metode ini secara bertahap mendiskitasi suatu media menjadi beberapa elemen yang lebih kecil. Setelah itu memasukkan syarat batas yang dapat berupa gaya/tegangan atau regangan dan pemecahan system persamaan yang berhubungan dengan system. dengan memadukan konsep kontinyu dan diskontinyu. Model kontinyu ini digunakan untuk media yang menerus atau dianggap bersifat menerus. Selanjutnya pembentukan matriks tiap elemen dan global misalnya matriks kekakuan. Elemen kekar diperkenalkan oleh Goodman pada FEM (Goodman 1976) yang berbasis mekanika kontinyu sebagai dasar dari metode ini untuk menangani berbagai persoalan diskontinuitas dan metode eXtended Finite Element (XFEM) adalah salah satu upaya paling akhir dari konsep model elemen hingga ini. FEM menganggap batuan secara implisit memiliki representasi diskontinyu. seperti deformabilitas atau kekuatan dan dianggap mengikuti hukum konstitutif dari diskontinnyu sebagai bentuk setara kontinyu. menjelaskan secara lengkap konsep permodelan diskontinyu dengan metode element distinct (Distinct Element Methods – DEM) untuk memprediksi kerusakan batuan pada peledakan di tambang bawah tanah. Morris. dkk. kurang praktis dan memerlukan dua paket program aplikasi yang mendukung kedua model tersebut. (2001) dan banyak lagi. Waisman dan Belytschko 2008). Selain itu .41 Collins. (2001). misalnya fungsi perpindahan sebagai pendekatan.

2008b). Hall (1985). prosedur untuk melokalisasi dan memperbaharui posisi kontak dan prosedur perhitungan.15. namun klasifikasi yang khusus untuk menilai kondisi batuan di lereng tambang diperkenalkan oleh Bieniawski & Orr (1976). Kriteria penilaian kondisi massa batuan Perkembangan penggunaan metode klasifikasi massa batuan telah diawali sejak lama. (1997).11.1) . 2. 1993) yaitu : SMR = RMR + (F1 . representasi kontak antara blok. (2004). Shen dan Barton. Pendekatan ini umumnya digunakan dalam hubungannya dengan perhitungan empiris dan sangat diperlukan untuk massa batuan yang banyak joint. dan dalam tahap pemeriksaan pendahuluan (Barla et al. 2. (2001). sehingga faktor penyesuaian tersebut menjadi empat (Hudson. yaitu representasi material padat (matriks batuan). Sitharam et al. Robertson (1988) dan Orr (1992) yang umumnya mencoba menyempurnakan klasifikasi yang dikembangkan oleh Bieniawski (1973) yaitu Rock Mass Rating (RMR) sesuai dengan kondisi penelitian yang telah mereka lakukan. Menurut Arif (1997). Pada penelitian ini direncanakan akan menggunakan metode element distinct menggunakan program aplikasi UDEC atau program aplikasi lain yang berbasis DEM untuk mempelajari perilaku dari zona kerusakan batuan. Monsen dan Barton.42 konsep diskontinyu ini dimodelkan juga oleh Cundall et al. Potyondy dan Cundall.. jenis permodelan ini didasarkan oleh 4 faktor penting. Romana (1985) mengembangkan RMR untuk menilai kondisi batuan di sekitar lereng. 1999. F3) + F4 (Pers. Oleh karena itu pendekatan ini memberikan alternatif untuk memodelkan zona kerusakan yang disebabkan oleh peledakan (Saiang. 2001). Romana (1985). (1996). Usulan Romana tersebut dikenal dengan Slope Mass Rating (SMR) yang diperoleh dari RMR dengan mengurangi melakukan penyesuaian faktorial tergantung pada hubungan antara joint – slope dan penambahan suatu faktor yang tergantung pada metode penggalian. Pendekatan kesamaan kontinyu membutuhkan paremeter sifat-sifat massa batuan sedemikian rupa dapat mewakili kontribusi dari batuan utuh dan joint terhadap respon secara keseluruhan. F2 . Laubscher (1976).

nilai Geological Strength Index. Dalam rangka untuk menggunakan kriteria Hoek-Brown untuk memperkirakan kekuatan dan deformabilitas massa batuan berkekar. Hoek dan Brown (1997). 1980b) yang mengusulkan suatu metode untuk mendapatkan perkiraan kekuatan massa batuan berkekar (jointed rock mass). sehingga dari hasil penelitian kerusakan massa batuan tersebut Romana (1985) membuat klasifikasi massa batuan lereng (SMR) dengan menambahkan faktor penyesuaian pada faktor koreksi F4. 2. Selubung Mohr. Hoek. Wood dan Shah 1992) dan. Marinos dan Benissi (1998)). kuat tekan uniaksial 𝜎𝑐𝑖 dari elemen-elemen batuan intak. simulasi skala penuh uji-uji lapangan. . dapat ditentukan oleh metode yang diusulkan oleh Hoek dan Brown (1980a). perkembangan klasifikasi baru yang disebut Geological Strength Index (Hoek. Hubungan antara tegangan utama pada saat runtuh untuk batuan didefinisikan oleh dua konstanta. dan proses statistical curve fitting yang digunakan untuk mendapatkan ekuivalen selubung Mohr. Selanjutnya metode klasifikasi massa batuan dikembangkan juga oleh Hoek dan Brown (1980a. Sebisa mungkin nilai-nilai konstanta ini harus ditentukan dengan analisis statistik dari hasil serangkaian tes triaksial pada sampel inti yang dipersiapkan dengan cermat. kuat tekan uniaksial 𝜎𝑐𝑖 dan konstanta mi.43 Faktor penggalian (F4) telah dilakukan penyesuaian terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Swindells (1985). tiga 'sifat' dari massa batuan yang harus diperkirakan adalah: 1. akhirnya. nilai konstanta Hoek-Brown mi untuk elemen batuan intak. Hoek dan Brown 1988). berkaitan dengan tegangan normal dan geser. GSI untuk massa batuan. Kaiser dan Bawden (1995). Penerapan metode untuk massa batuan yang kualitasnya sangat buruk (very poor quality) diperlukan perubahan lebih lanjut (Hoek. Hoek. 1994). Metode ini telah dimodifikasi selama bertahun-tahun sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang diterapkan untuk masalah yang tidak dipertimbangkan ketika kriteria asli dikembangkan (Hoek 1983. Dalam pendekatan ini persamaan yang telah dikembangkan digunakan untuk menghasilkan serangkaian uji triaksial. didasarkan pada penilaian terhadap blok batuan yang saling keterpautan (interlock) dan kondisi permukaan di antara blokblok batuan ini. dan 3.

nilai RMR sangat sulit untuk diperkirakan dan keseimbangan antara penilaian tidak lagi memberikan dasar yang dapat diandalkan untuk memperkirakan kekuatan massa batuan. GSI diperkenalkan oleh Hoek (1994) dan Hoek. Bila klasifikasi RMR Bieniawski versi 1989 (Bieniawski 1989) digunakan. Setelah GSI ditetapkan berdasarkan kondisi batuan di lapangan. nilai GSI dapat diperkirakan secara langsung dari RMR Bieniawski versi 1976.44 Metode terakhir yang sering digunakan untuk memperkirakan kekuatan massa batuan adalah GSI. 1976). dengan groundwater rating di set pada nilai 10 (dry) dan adjustment untuk orientasi Joint pada nilai 0 (very favourable) (Bieniawski. Konsekuensinya. maka GSI = RMR89 – 5 dimana RMR89 mempunyai nilai rating groundwater di set pada nilai 15 dan adjustment for Joint Orientation di set pada nilai nol. Kaiser dan Bawden (1995) yang menerjemahkan sistem untuk mengestimasi penurunan kekuatan massa batuan dalam berbagai kondisi dalam bentuk tabulasi.Untuk massa batuan yang kualitasnya lebih baik (GSI > 25). Untuk kualitas massa batuan yang sangat buruk. maka parameter-parameter yang menggambarkan sifat-sifat kekuatan massa batuan dilakukan perhitungan. . klasifikasi RMR Bieniawski tidak dapat digunakan untuk memperkirakan nilai GSI untuk batuan yang mempunyai kualitas massa batuan buruk (RMR < 25) dan Chart GSI dapat digunakan secara langsung.

Perencanaan Program Kegiatan 3.1.BAB III PROGRAM KEGIATAN Penyusunan jadwal kegiatan penelitian disesuaikan dengan kesiapan anggaran penelitian Tahun Anggaran 2012 dan kesiapan dari perusahaan lokasi tempat dimana penelitian dilakukan. Selain itu kesiapan perusahaan tempat lokasi penelitian yang telah direncanakan menjadi kendala dalam penyiapan program kegiatan penelitian. susunan personil pelaksana. Pada kerangka acuan ini termuat jadwal kegiatan. c) Identifikasi dan inventarisasi kebutuhan peralatan 41 . berkaitan dengan pengaruh kerusakan batuan terhadap kestabilan lereng akhir tambang. Kegiatan Persiapan Beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan ini adalah sebagai berikut: a) Pembuatan Kerangka Acuan Kerja Kerangka acuan kerja dimaksudkan untuk dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan penelitian.1. tahapan pelaksanaan dan jadwal kegiatan.1. kegiatan yang telah dilakukan dalam penelitian ini meliputi kegiatan persiapan dan pelaksanaan penelitian. Berdasarkan tahapan dari program kegiatan yang telah direncanakan. 3. b) Studi Literatur Referensi yang diperlukan antara lain perkembangan penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti dunia maupun di Indonesia. Akibatnya proses penelitian lapangan menunggu proses pengesahan perubahan tersebut dan penelitian lapangan baru bisa dilaksanakan pada akhir tahun anggaran. Pada penelitian ini. beberapa kendala muncul salah satunya adalah kesiapan anggaran penelitian yang mengalami perubahan dari yang semula termasuk ke dalam Rupah Murni (PM) menjadi sebagian besar ke anggaran penelitian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

maka administrasi pelaksanaan kegiatan harus tertata dan kebutuhan peralatan harus sesuai dengan kebutuhan. b) Pengujian Laboratorium (Uji Geomekanika) Pengujian ini meliputi sifat-sifat geomekanika yang dikaji. Kalimantan Timur. dan PT.2. d) Persiapan Administrasi dan Peralatan Untuk mengoptimalkan kegiatan yang akan dilakukan. data curah hujan dsb. Tanjung Enim Sumatera Selatan.42 Melakukan identifikasi dan inventarisasi kebutuhan peralatan yang dibutuhkan untuk mengaji pengaruh kerusakan batuan akibat peledakan terhadap kestabilan lereng tambang. Bukit Asam (Persero). PT. Pengambilan data primer dan sekunder akan dilakukan di PT. Sifat geomekanika batuan dibutuhkan untuk mengetahui besarnya kekuatan batuan baik bila dikenai kondisi tekanan maupun regangan. Paser. c) Validasi uji laboratorium dan uji Lapangan Melakukan validasi terhadap uji laboratorium dan pengukuran dan pengujian di lapangan. Data sekunder diperoleh untuk acuan dalam melakukan pengujian dan permodelan numerik. misalnya kondisi air tanah disekitar areal penelitian. Bontang Kalimantan Timur.1. 3. Rencana Pelaksanaan Penelitian Program kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah sebagai berikut: a) Pengambilan Data Primer dan Sekunder Pengambilan data primer dilakukan dengan memanfaatkan peralatan yang ada atau melakukan rekayasa peralatan agar tujuan penelitian bisa tercapai sesuai dengan yang diinginkan. Indominco Mandiri. Kideco Jaya Agung. d) Permodelan Numerik . Selain itu dilakukan juga pengambilan sampel batuan untuk uji mekanik dan dinamik di labratorium.

pengukuran lapangan dan permodelan numerik Menganalisis kondisi yang terjadi akibat proses peledakan terhadap zona kerusakan batuan serta korelasinya terhadap kestabilan lereng akhir tambang. 3. stemming. pengukuran vibrasi peledakan yang pernah dilakukan (nilai PPV dan skala jarak). data geologi local dan regional. yaitu sandstone dan claystone. f) Pelaporan dan Tulisan Ilmiah Pembuatan laporan dan tulisan ilmiah merupakan tahapan akhir dari kegiatan ini. Pelaksanaan Penelitian Lapangan Aktivitas utama kegiatan lapangan ini adalah melakukan pekerjaan pengambilan data primer dan sekunder. kedalaman lobang bor. spacing. pola peledakan). sub-drilling. lobang vertical. yang berisikan tahapan pelaksanaan kegiatan serta hasil penelitian yang telah dilakukan.2. peledakan terkontrol bila ada (controlled blasting atau pre-cutting). data kejadian kelongsoran lereng yang mungkin ada pada masing-masing lokasi tersebut. b. kondisi lereng tambang (tinggi jenjang. Sedangkan pengambilan data primer meliputi pengamatan dan pengukuran terhadap kondisi lereng sebelum dan sesudah peledakan. sudut lereng tunggal dan overall). Pengambilan contoh batuan dalam hal ini di ambil dua jenis batuan yang dominan di lapisan overburden atau interburden batubara. geometri peledakan (burden. Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain: Lokasi pit yang menggunakan metode peledakan. meliputi : a. sudut lobang ledak. jenis bahan peledak yang umum digunakan.43 Melakukan permodelan terhadap kondisi kerusakan batuan akibat beban dinamik batuan dan menghitung jarak zona kerusakan yang terjadi berdasarkan beberapa parameter input dan konstanta yang sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Pengamatan kondisi retakan batuan sebelum dan sesudah peledakan dengan menggunakan borehole camera (jika memungkinkan) dan menggunakan . powder factor. e) Analisis hasil permodelan fisik di laboratorium.

44

georadar (Groun Penetration Radar, GPR). Bila menggunakan borehole camera,
kegiatannya meliputi.
 Pembuatan lubang bor sepanjang tinggi lereng yang akan di ledakkan dengan
diameter minimum NQ (55 mm) dengan interval jarak tegak lurus dengan
baris terakhir lubang ledak yang ditentukan berdasarkan hasil perkiraan batas
kerusakan batuan hitungan empiris menggunakan persamaan matematis yang
dikembangkan oleh Holmberg dan Persson (1979)
 Merekam kondisi dinding lobang bor dengan borehole camera dan mengolah
data orientasi retakan yang terjadi pada setiap dinding lobang bor sebelum
dan sesudah peledakan.
 Data ini menjadi masukan untuk melihat tingkat kerusakan batuan pada tiap
titik pengamatan.
 Korelasi dengan data getaran peledakan serta seismic refraksi.
c. Pengamatan cepat rambat gelombang peledakan dengan menggunakan alat
vibration monitor. Kegiatan ini antara lain meliputi:
 Pemasangan tria-aksial geophone (3C Geophone) dengan interval jarak tegak
lurus dari baris lobang ledak sama dengan penentuan lubang pengamatan
borehole camera.
 Pemasangan geophone diupayakan minimal 4 unit geophone terpasang untuk
mendapatkan data PPV sebanyak mungkin tiap kali peledakan.
 Menganalisis data yang diperoleh dengan mengkorelasikannya dengan data
lain seperti crack batuan, nilai GSI atau RMR batuan, data seismik dan data uji
laboratorium.
d. Pengukuran seismik refraksi untuk batuan dilakukan sejajar sepanjang batas baris
terakhir lobang ledak dengan interval disesuaikan dengan penempatan
geophone dan lobang untuk borehole camera. Kegiatan ini antara lain meliputi:
 Pemasangan geophone sebelum dan sesudah peledakan dengan melakukan
pengukuran untuk tiga variasi sumber getaran.
 Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan membandingkan
dengan table data hasil penelitian sebelumnya (Palmstrom, 1996).

45

 Melakukan korelasi antara seismic wave velocity dengan joint density.
 Memperkirakan luasan zona kerusakan batuan dengan mempertimbangkan
data-data lain yang mendukung.

e. Pengamatan kondisi batuan di permukaan yang meliputi pengukuran bidang
diskontinu (orientasi bidang, spasi, kemenerusan, kondisi permukaan, isian, celah
dan kondisi rembesan air), pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran.

3.2.1. Penelitian di PT. Kideco Jaya Agung
Pelaksanaan kegiatan pengambilan data lapangan Tahap I untuk pengumpulan data
sekunder dan primer di areal penambangan PT. Kideco Jaya Agung di desa Batu
Kajang, Kabupaten Paser propinsi Kalimantan Timur telah dilakukan dari tanggal 27
Agustus 2012 s.d. 13 September 2012. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap
I dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap I
No.

Uraian/Tahapan Pekerjaan

1.

Persiapan peralatan dan Koordinasi Tim

2.
3.
4.

Packing alat dan Pengiriman Alat Bandung – Bt. Kajang
Perjalanan Personil Bandung – Jakarta – Balikpapan
Pengurusan Paket Peralatan di Balikpapan dan pengurusannya
ke Bt. Kajang
Koordinasi Tim dengan PT. Kideco Jaya Agung

5.
6.
7.

8.

9.

Koordinasi/diskusi dengan manajemen PT Kideco Jaya Agung
dan tinjauan lapangan
Pengamatan kondisi batuan di permukaan yang meliputi
pengukuran bidang diskontinu (orientasi bidang, spasi,
kemenerusan, kondisi permukaan, isian, celah dan kondisi
rembesan air), pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran.
Pengambilan contoh batuan dalam hal ini akan di ambil jenis
batuan yang dominan di lapisan overburden atau interburden
batubara. Pengukuran kekuatan batuan Insitu.
Pengamatan kondisi retakan batuan sebelum dan sesudah
peledakan dengan menggunakan borehole camera.

10.

Scanning kondisi batuan di sekitar lereng tambang yang
diteliti, sebelum dan sesudah peledakan menggunakan
Geopenetrating Radar (GPR).

11.

Pengukuran seismik refraksi untuk batuan dilakukan sejajar
sepanjang batas baris terakhir lobang ledak dengan interval
disesuaikan dengan penempatan geophone dan lobang untuk
borehole camera. Kegiatan ini antara lain meliputi:

Keluaran
Peralatan yang dibutuhkan
untuk penelitian siap untuk
dikirim
Paket peralatan penelitian siap
diberangkatkan ke Bt. Kajang
Personil siap berangkat ke
Lokasi Bt. Kajang
Penentuan lokasi kegiatan
penelitian
Mengetahui
karakteristik
batuan di sekitar lereng
tambang yang diteliti untuk
menilai rating kekuatan batuan
Sampel batuan

Mememperoleh data tentang
kondisi retakan-retakan batuan
disekitar lereng tambang yang
diteliti, sebelum dan sesudah
peledakan.
Memperoleh data tentang
kondisi retakan-retakan batuan
disekitar lereng tambang yang
diteliti, sebelum dan sesudah
peledakan.
Memperoleh data kecepatan
rambat gelombang sebelum
dan sesudah peledakan di
sekitar lereng yang sedang

Durasi/
Estimasi Waktu
1 hari

1 hari
1 hari
Senin,
27
Agustus 2012
Selasa,
28
Agustus 2012
Rabu,
29
Agustus 2012
3 hari
(Paralel)

3 hari
(Paralel)
12 hari
(Paralel)

12 hari
(Paralel)

12 hari
(Paralel)

46

14.

Pemasangan geophone sebelum dan sesudah peledakan
dengan melakukan pengukuran untuk tiga variasi sumber
getaran.
 Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan
membandingkan dengan table data hasil penelitian
sebelumnya (Palmstrom, 1996)..
Pengamatan cepat rambat gelombang peledakan dengan
menggunakan alat vibration monitor. Kegiatan ini antara lain
meliputi:
 Pemasangan tria-aksial geophone (3C Geophone) dengan
interval jarak tegak lurus dari baris lobang ledak sama
dengan penentuan lubang pengamatan borehole camera.
 Pemasangan geophone diupayakan minimal 4 unit
geophone terpasang untuk mendapatkan data PPV
sebanyak mungkin tiap kali peledakan.
Pengumpulan data sekunder antara lain: Lokasi pit, metode
peledakan; geometri peledakan (burden, kedalaman lobang
bor, lobang vertical, sudut lobang ledak, sub-drilling,
stemming, spacing, pola peledakan); powder factor, jenis
bahan peledak yang umum digunakan; peledakan terkontrol
bila ada (controlled blasting atau pre-cutting); pengukuran
vibrasi peledakan yang pernah dilakukan (nilai PPV dan skala
jarak); data geologi local dan regional; kondisi lereng tambang
(tinggi jenjang, sudut lereng tunggal dan overall); data
kejadian kelongsoran lereng yang mungkin ada pada masingmasing lokasi tersebut.
Evaluasi dan diskusi hasil pengumpulan data

15.

Perjalanan Bt. Kajang Kaltim - Bandung

12.

13.

diteliti, untuk mengetahui
tingkat kerusakan yang di alami
dengan
membandingkan
perbedaan kecepatan rambat
sebelum
dan
sesudah
peledakan.
Memperoleh data kecepatan
rambat gelombang pada saat
proses peledakan.

12 hari
(Paralel)

Diperolehnya data-data terkait
metode peledakan, muatan
bahan peledak, dimansi lereng,
dan paramater peledakan serta
data penelitian sebelumnya.

12 hari
(Paralel)

Memastikan data-data yang
diambil telah lengkap.
-

1 hari
1 hari

3.2.2. Penelitian di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk.
Pelaksanaan kegiatan pengambilan data lapangan Tahap II, berupa pengumpulan
data sekunder dan primer di areal penambangan penambangan PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk., Kabupaten Muara Enim propinsi Sumatera Selatan telah dilakukan
dari tanggal 2 Oktober 2012 s.d. 19 Oktober 2012. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Lapangan dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap II
No.

Uraian/Tahapan Pekerjaan

1.

Persiapan peralatan dan Koordinasi Tim

2.
3.

Packing alat dan Pengiriman Alat Bandung – Bt. Kajang
Perjalanan Personil Bandung – Jakarta – Palembang

4.

Pengurusan Paket Peralatan di Muara Enim

5.

Koordinasi Tim dengan PTBA

6.

Koordinasi/diskusi dengan tim lapangan (PTBA dan PAMA)

7.

Pengamatan kondisi batuan di permukaan yang meliputi
pengukuran bidang diskontinu (orientasi bidang, spasi,
kemenerusan, kondisi permukaan, isian, celah dan kondisi
rembesan air), pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran.

Keluaran
Peralatan yang dibutuhkan
untuk penelitian siap untuk
dikirim
Paket peralatan penelitian siap
diberangkatkan ke Lokasi
Personil telah diizinkan untuk
penelitian lapangan
Penentuan lokasi kegiatan
penelitian
Mengetahui
karakteristik
batuan di sekitar lereng
tambang yang diteliti untuk
menilai rating kekuatan batuan
tersebut.

Durasi/
Estimasi Waktu
1 hari

1 hari
Selasa,
2
Oktober 2012
Rabu, 3 Oktober
2012
Kamis,
4
Oktober 2012
Jumat,
5
Oktober 2012
3 hari
(Paralel)

dimansi lereng. 5 hari (Paralel) Memastikan data-data yang diambil telah lengkap. Pengumpulan data sekunder antara lain: Lokasi pit. Pengukuran seismik refraksi untuk batuan dilakukan sejajar sepanjang batas baris terakhir lobang ledak dengan interval disesuaikan dengan penempatan geophone dan lobang untuk borehole camera.3. peledakan terkontrol bila ada (controlled blasting atau pre-cutting).3. Pengamatan kondisi retakan batuan sebelum dan sesudah peledakan dengan menggunakan borehole camera. Bukit Baiduri Energi dan PT. data kejadian kelongsoran lereng yang mungkin ada pada masingmasing lokasi tersebut. metode peledakan. Memperoleh data kecepatan rambat gelombang sebelum dan sesudah peledakan di sekitar lereng yang sedang diteliti. Kegiatan ini antara lain meliputi:  Pemasangan tria-aksial geophone (3C Geophone) dengan interval jarak tegak lurus dari baris lobang ledak sama dengan penentuan lubang pengamatan borehole camera. sebelum dan sesudah peledakan. dikarenakan ketidaksiapan PT. 9. kondisi lereng tambang (tinggi jenjang. Kegiatan pengumpulan data ini dilaksanakan dari tanggal 18 November 2012 s. Memperoleh data tentang kondisi retakan batuan disktr lereng tambang sebelum dan sesudah peledakan. 13. 10. 16. Indominco Mandiri (PT. Evaluasi dan diskusi hasil pengumpulan data 15.  Melakukan korelasi antara seismic wave velocity dengan joint density. kedalaman lobang bor. MSJ). muatan bahan peledak. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Lapangan dapat dilihat pada Tabel 3. Pengukuran kekuatan batuan Insitu. jenis bahan peledak yang umum digunakan. sudut lereng tunggal dan overall).d.  Pemasangan geophone diupayakan minimal 4 unit geophone terpasang untuk mendapatkan data PPV sebanyak mungkin tiap kali peledakan.2. lobang vertical. Kegiatan ini antara lain meliputi:  Pemasangan geophone sebelum dan sesudah peledakan dengan melakukan pengukuran untuk tiga variasi sumber getaran. dan paramater peledakan serta data penelitian sebelumnya. 5 hari (Paralel) Memperoleh data kecepatan rambat gelombang pada saat proses peledakan. Scanning kondisi batuan di sekitar lereng tambang yang diteliti. sudut lobang ledak. Bukit Baiduri Energi (PT. Penelitian di PT. 5 hari (Paralel) Diperolehnya data-data terkait metode peledakan. 1996). stemming.  Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan membandingkan dengan table data hasil penelitian sebelumnya (Palmstrom. data geologi local dan regional. 14. IM) dialihkan ke PT. - 1 hari 5 hari (Paralel) 5 hari (Paralel) 18 Oktober 2012 19 Oktober 2012 3. 11. spacing. sub-drilling. pengukuran vibrasi peledakan yang pernah dilakukan (nilai PPV dan skala jarak). Mahakan Sumber Jaya Pelasanaan pengumpulan data sekunder dan primer Tahap III yang semula direncanakan di PT. geometri peledakan (burden. BBE) dan PT. pola peledakan). Pengamatan cepat rambat gelombang peledakan dengan menggunakan alat vibration monitor. Sampel batuan 3 hari (Paralel) Mememperoleh data tentang kondisi retakan-retakan batuan disekitar lereng tambang yang diteliti. .IM dalam pengaturan waktu pelaksanaan penelitian. Mahakam Sumber Jaya (PT. powder factor. Pengambilan contoh batuan dalam hal ini akan di ambil jenis batuan yang dominan di lapisan overburden atau interburden batubara.47 8. sebelum dan sesudah peledakan menggunakan Geopenetrating Radar (GPR).Bandung 12. untuk mengetahui tingkat kerusakan yang di alami dengan membandingkan perbedaan kecepatan rambat sebelum dan sesudah peledakan. 1 Desember 2012 selama 14 hari. Perjalanan Tanjung Enim-Palembang Perjalanan Palembang – Cengkareng .

4. 20 November 2012 1 hari (Paralel) Sampel batuan 1 hari (Paralel) Mememperoleh data tentang kondisi retakan-retakan batuan disekitar lereng tambang yang diteliti. 17 Novemver 2012) Minggu. (Penanggung Jawab : Deden A.3. Peralatan yang dibutuhkan untuk penelitian siap untuk dikirim Jakarta - – (Penanggung Jawab : Eko Pujianto. sebelum dan sesudah peledakan. 8. Zulfahmi. kemenerusan. spasi. 10. 6 hari (Paralel) 6 hari (Paralel) 6 hari (Paralel) . Uraian/Tahapan Pekerjaan Keluaran 1. celah dan kondisi rembesan air). Persiapan peralatan dan Koordinasi Tim 2. kondisi permukaan. 12. sebelum dan sesudah peledakan. Kegiatan ini antara lain meliputi:  Pemasangan geophone sebelum dan sesudah peledakan dengan melakukan pengukuran untuk tiga variasi sumber getaran. isian. 6 hari (Paralel) Memperoleh data kecepatan rambat gelombang pada saat proses peledakan. Ahmid. 1996). 9. (Penanggung Jawab : Zulkifli P. 18 November 2012 Senin. Tim) Pengamatan cepat rambat gelombang peledakan dengan menggunakan alat vibration monitor. 16 November 2012) 1 hari (Sabtu tgl. Koordinasi Tim dengan PT. Ahmid. Durasi/ Estimasi Waktu 1 hari (Jum’at tgl. (Penanggung Jawab : Deden A. untuk mengetahui tingkat kerusakan yang di alami dengan membandingkan perbedaan kecepatan rambat sebelum dan sesudah peledakan. sebelum dan sesudah peledakan menggunakan Geopenetrating Radar (GPR). Memperoleh data kecepatan rambat gelombang sebelum dan sesudah peledakan di sekitar lereng yang sedang diteliti. Zulfahmi. Perjalanan Personil Bandung – BalikPapan/Samarinda Pengurusan Paket Peralatan di samarinda 5.48 Tabel 3.  Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan membandingkan dengan table data hasil penelitian sebelumnya (Palmstrom. Pelaksanaan Kegiatan Lapangan Tahap III No. Tim) Pengukuran seismik refraksi untuk batuan dilakukan sejajar sepanjang batas baris terakhir lobang ledak dengan interval disesuaikan dengan penempatan geophone dan lobang untuk borehole camera.MSJ 6. Pengukuran kekuatan batuan Insitu. 19 November 2012 Selasa. Koordinasi/diskusi dengan tim lapangan 7. Zulfahmi. Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan Paket peralatan penelitian siap diberangkatkan ke Lokasi Personil telah diizinkan untuk penelitian lapangan Penentuan lokasi kegiatan penelitian Mengetahui karakteristik batuan di sekitar lereng tambang yang diteliti untuk menilai rating kekuatan batuan tersebut. Tim) Pengamatan kondisi retakan batuan sebelum dan sesudah peledakan dengan menggunakan borehole camera. 19 November 2012 Senin. Pengamatan kondisi batuan di permukaan yang meliputi pengukuran bidang diskontinu (orientasi bidang. Memperoleh data tentang kondisi retakan-retakan batuan disekitar lereng tambang yang diteliti. Bambang Satria. Zulfahmi) Scanning kondisi batuan di sekitar lereng tambang yang diteliti. Ahmid. Tim) Pengambilan contoh batuan dalam hal ini akan di ambil jenis batuan yang dominan di lapisan overburden atau interburden batubara.BBE dan PT. (Penanggung Jawab : Deden A.  Melakukan korelasi antara seismic wave velocity dengan joint density. pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran. 11. Kegiatan ini antara lain meliputi:  Pemasangan tria-aksial geophone (3C Geophone) dengan interval jarak tegak lurus dari baris lobang ledak sama dengan penentuan lubang pengamatan borehole camera.  Pemasangan geophone diupayakan minimal 4 unit geophone terpasang untuk mendapatkan data PPV sebanyak mungkin tiap kali peledakan. Memperkirakan luasan zona kerusakan batuan dengan mempertimbangkan data-data lain yang mendukung. Packing alat dan Pengiriman Alat Bandung – Samarinda 3.

data kejadian kelongsoran lereng yang mungkin ada pada masingmasing lokasi tersebut. data geologi local dan regional. sudut lobang ledak.Bandung 13. lobang vertical. metode peledakan. Bambang Satria) Pengumpulan data sekunder antara lain: Lokasi pit. Zulfahmi. muatan bahan peledak. nilai GSI atau RMR batuan. kedalaman lobang bor. jenis bahan peledak yang umum digunakan. dan paramater peledakan serta data penelitian sebelumnya. Pengumpulan Data Primer 3. Perjalanan Balikpapan – Cengkareng . Diperolehnya data-data terkait metode peledakan. 2 hari (Paralel) Memastikan data-data yang diambil telah lengkap. sub-drilling. Intensitas retakan ini dijadikan sebagai salah satu parameter tingkat kerusakan akibat peledakan pada masing-masing lokasi penelitian. mengkorelasikannya dengan data lain seperti crack batuan. pola peledakan). Riyanto dan Tim) Evaluasi dan diskusi hasil pengumpulan data 15. stemming. sudut lereng tunggal dan overall).2 dan 3.3. 3. peledakan terkontrol bila ada (controlled blasting atau pre-cutting). memperlihatkan aktivitas pengambilan data menggunakan kamera lobang bor di beberapa lokasi penambangan. Pengambilan Data dengan Kamera Lobang Bor Pengukuran kamera lobang bor (borehole camera).Balikpapan 16.3. Umumnya pengukuran dilakukan masing-masing pada jarak 5 meter (lobang I) dan 10 meter (lobang II) dengan kedalaman rata-rata berkisar antara 7 – 9 meter. (Penanggung Jawab : Gunawan. powder factor. Perjalanan Samarinda .1. kondisi lereng tambang (tinggi jenjang. geometri peledakan (burden.49 14. dilakukan untuk mengetahui intensitas retakan yang terjadi sebelum dan sesudah peledakan. . spacing. pengukuran vibrasi peledakan yang pernah dilakukan (nilai PPV dan skala jarak). Gambar 3.3.1. data seismik dan data uji laboratorium (Penanggung Jawab : Gunawan. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah peledakan yang diukur dengan jarak 5 meter sampai dengan 25 meter dari baris terakhir dari lobang peledakan. dimansi lereng. - 1 hari 1 hari (30 November 2012) 1 hari (1 Desember 2012 3.

Bukit Asam (Persero).1. .50 Gambar 3. Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. Kideco Jaya Agung Gambar 3. Tbk. Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT.2.

Retakan yang diamati seharusnya dapat merepresentasikan kedudukan. Mahakam Sumber Jaya Dari hasil pengamatan dengan kamera lobang bor tersebut.51 Gambar 3. Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT. diperoleh data intensitas retakan pada lobang bor sebelum dan sesudah peledakan.4. Bukit Baiduri Energi Gambar 3. Aktifitas Pengukuran Intensitas Retakan dengan Kamera Lobang Bor di salah satu lokasi Penambangan Batubara PT.3. namun oleh karena kompas di dalam lobang bor tidak terlihat. maka hanya . arah dan intensitas retakan.

52 dapat melihat intensitas retakannya saja. menunjukkan hasil pengamatan kondisi lobang bor pada jarak 5 dan 10 meter di belakang baris peledakan. Pengamatan Intensitas Retakan pada Lobang Bor Kode Bor 1 2 3 4 5 Kedalaman Lobang Bor Sebelum Peledakan Setelah Peledakan 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 2 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 0 (5) 2 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 7 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 6 (5) 4 (5) 2 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 7 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 7 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 7 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 1 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 3(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) Kode Bor 6 7 8 9 10 Sebelum Peledakan Setelah Peledakan 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 1 (5) 0 (5) 0 (5) 6 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 5 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 4 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 6 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 5 (5) 5 (5) 3 (5) 2 (5) 1 (5) 0 (5) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 2 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3 (10) 2(10) 1(10) 1(10) 0(10) 0(10) 3.2. Pengambilan Data dengan GPR GPR atau Ground Penetrating Radar adalah salah satu alat yang digunakan untuk melihat intensitas kerusakan batuan setelah peledakan. Pada Tabel 3. Scanning dilakukan sekitar 5 meter setelah baris terakhir lobang ledak dengan pola scanning sejajar dengan baris lobang ledak. Pengukuran dilakukan pada lokasi dibelakang baris terakhir lobang ledak.4. Hasil scanning diharapkan dapat memperlihatkan perubahan intensitas kecepatan pengiriman gelombang elektro magnetic (EM) dari transceiver ke receiver yang diduga merupakan fungsi . Proses pengukuran yang dilakukan sama dengan kamera lobang bor. Tabel 3. yaitu pada saat sebelum dan sesudah peledakan.3.4.

Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PTBA . Gambar 3. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PT.6.53 perubahan intensitas kerusakan batuan.5. Gambar 3. 3. Kideco Jaya Agung Gambar 3.5 dan 3.4.6 menunjukkan aktifitas pengukuran yang sedang dilakukan sebelum dan sesudah peledakan.

54 Gambar 3. Mahakam Sumber Jaya 3. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PT.3.8. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan GPR di salah satu lokasi Penambangan PT. Konsep dari pengukuran ini juga untuk melihat intensitas perubahan waktu perjalanan (travel . Pengambilan Data dengan Seismik Refraksi Peralatan yang digunakan adalah Seismik Refraksi keluaran PASI. Bukit Baiduri Energi Gambar 3.7.3.

5 meter dengan pola sentakan. Proses pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah peledakan.10. 3.9.10.12. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan .55 times) dari compressional waves pada titik-titik yang diketahui sepanjang permukaan tanah yang berasal sumber energi impulsif. Persiapan Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT. Kideco Jaya Agung Gambar 3. Gambar 3. 3. menggunakan getaran yang bersumber dari benda yang dijatuhkan seberat 25 kilogram pada jarak sekitar 1.9. Sumber energi ini (source).11 dan 3. Aktivitas pengukuran dengan menggunakan seismic refraksi ini dapat dilihat pada Gambar 3.

Bukit Baiduri Energi Gambar 3. Mahakam Sumber Jaya 3.3. Pengambilan Data Getaran Peledakan .4. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT. Aktivitas Pengukuran Intensitas Kerusakan Batuan dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PT.56 dengan Seismic Refraksi di lokasi Penambangan PTBA Gambar 3.11.12.

Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III. Canada dan DMT Summit M Vipa buatan DMT GmbH & Co. 3. KG. Jerman.13. yaitu single vibration monitor buatan Instantel. Kideco Jaya Agung Gambar 3. 3. umumnya dilakukan pada jarak lebih dari 300 meter dari sumber peledakan. Aktivitas pengukuran getaran peledakan dapat dilihat pada Gambar 3. Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III. Sedangkan pengukuran dengan Multivibration monitor dilakukan pada jarak 50 meter. MiniMate Plus dan SeismoBlast di Lokasi Penambangan PT.14.13.57 Pengambilan data getaran peledakan dilakukan dengan menggunakan dua jenis peralatan. MiniMate Plus dan SeismoBlast di Lokasi Penambangan PTBA . Selain itu data getaran peledakan diperoleh juga dari Seismoblast dengan system multivibration monitor buatan Puslitbang Teknologi Mineral dan batubara (tekMIRA).15 dan 3.14.16. Gambar 3. Jarak pengukuran untuk Single vibration monitor bervariasi. 75 meter 100 dan 125 meter dari sumber peledakan.

Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III dan DMT Vibration Monitor di Lokasi Penambangan PT. Bukit Baiduri Energi Gambar 3.19 dan 3. diharapkan dapat memperoleh nilai .5. Pengukuran Getaran Peledakan dengan Blastmate III dan dan DMT Vibration Monitor di Lokasi Penambangan PT.58 Gambar 3. kondisi permukaan.3. dimaksudkan agar dapat dikembangkan untuk menilai kondisi lereng seperti yang telah diusulkan oleh Romana yang mengembangkan RMR menjadi SMR (slope mass rating).17. Gambar 3. 3. Mahakam Sumber Jaya 3. Pengamatan Kondisi Kekuatan Massa Batuan (RMR) Pengamatan kondisi kekuatan massa batuan (RMR) meliputi pengukuran bidang diskontinu (orientasi bidang.16. isian. 3. pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran.15. Nilai RMR yang diperoleh diharapkan dan hasil observasi.18. Konsep pengukuran dan pengamatan dengan RMR pada kondisi massa batuan di sekitar lereng tambang ini. celah dan kondisi rembesan air). spasi.20 adalah aktifitas pengamatan dan pengukuran RMR di sekitar lereng tambang terbuka. kemenerusan.

Gambar 3. Kideco Jaya Agung Gambar 3.59 RMR yang telah dikoreksi dengan pengurangan dengan melakukan penyesuaian factorial. Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT. Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT. Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PTBA Gambar 3.18.17.19. Bukit Baiduri Energi .

data rencana penambangan dan desain peledakan dan data curah hujan. sehingga data pengukuran dan uji laboratorium sesuai dengan kondisi pengukuran yang telah dilakukan sebelumnya dan tetap tervalidasi.60 Gambar 3. Aktivitas Pengukuran RMR di lokasi PT. . Pengumpulan Data Sekunder Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data-data yang berkaitan dengan kondisi geologi local/regional dan struktur geologi. 3.20. data pengukuran getaran peledakan.4. Data ini digunakan untuk pelengkap dan pembanding dari data primer berupa pengukuran dan uji laboratorium secara langsung. Mahakam Sumber Jaya 3. Geologi Lokal dan Regional a.4. Kondisi Geologi di di KJA Secara geologi wilayah KJA ini terletak di dalam anak Cekungan Pasir (Sub Basin Pasir). Sub Basin Pasir dibentuk oleh batuan kuarter dan batuan tersier yang disusun oleh enam formasi serta batuan pratersier yang terdiri dari dua formasi dan komplek ultramafic yang merupakan batuan tektonit dan hamper semua susunan batuan di dalam formasi tersebut sudah mengalami deformasi kecuali batuan kuarter.1. data uji laboratorium geoteknik terdahulu.

Tanjung. sinklin dan sesarsesar. sedangkan pada batuan pratersier lebih besar dari 40o. Pemaluan. Oleh karena hampir seluruh batuan di daerah ini mengalami deformasi. Struktur sesar di daerah ini terdiri dari sesar naik dan sesar turun. Kuaro. ada beberapa satuan batuan yang berada di daerah tersebut antara lain Aluvium. Kedudukan formasi Berai dan Pemaluan saling menjemari. Arah sesar-sesar hamper sama dengan arah sumbu-sumbu lipatan. Pemaluan. . Sedangkan formasi batuan pratersier tersusun oleh formasi Pitap. Haruyan dan komplek Ultramafik dijelaskan berikut ini. sedangkan batuan tersier menindih tidak selaras di atas batuan Pratersier.61 Susunan formasi batuan tersier terdiri dari beberapa formasi: Warukin.21). Umar. Bentuk lipatan umumnya tak setangkup dengan lipatan bagian dalam lebih terjal dari bagian luar. Berai. Pitap. Warukin. Arah sumbu lipatannya mulai dari Utara – Selatan sampai Timur Laut – Barat Daya. mulai dari pratersier sampai tersier akhir. Perlipatan pada batuan tersier membentuk kemiringan antara 10o sampai 60o. maka terbentuklah struktur antiklin. Hidayat dan I. Kedudukan batuan kuarter berada di atas batuan tersier yang dibatasi oleh bidang ketidakselerasan (unconformity). 1994). Kedudukan formasi Pitap dan Haruyan saling menjemari dan kedua formasi tersebut diterobos oleh retas granit dan diorite. Berdasarkan stratigrafi Subbasin Pasir di daerah Batukajang dan sekitarnya berdasarkan Peta Geologi Lembar Balikpapan (Gambar 3. Kalimantan Timur (S. Kuaro dan Tanjung. Formasi Haruyan dan batuan tektonit (ultramafic). demikian juga dengan Formasi Kuaro dan Tanjung. Berai.

Miogypsona Lepidocyclina sp. terendapkan di lingkungan sublitoral dangkal. Batugamping mengandung fosil Flusculinella bomcocnsis Tan. Tersebar di sepen=anjang pantai timr Tanah Grogot. 1978) Lingkungan pengendapa litoral-laut dangkal. Lepidocyclina sp. terdiri dari Kerakal. Pantai dan delta. pasir. Tebal formasi ini sekitar 900m. batugamping dan batubara. terdiri dari Perselingan batupasir kuarsa.  Formasi Balikpapan (Tmbp).21... Dan Cycloclypeus yang menunjukan umur Miosen Tengah baian atas. Peta Geologi Regional Lembar Balikpapan  Aluvium (Qa). mengandung fosil: Cycloclypeus sp. batulempung lanauan dan serpih dengan sisipan napal. Miogypsinoides dan Flusculinella bontangensis. yang menunukan umur Miosen Tengah (Purnamaningsih. Miogypsina. rawa. batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara. (Purnamaningsih. 1978). terdiri dari Perselingan batupasir kuarsa. Teluk Adang dan Teluk Balikpapan. Formasi . Patai Kalimantan Timur. Ketebalan 800m. lempung dan berumur sebagai endapan sungai. Lokasi tipe di Teluk balikpapam.62 Gambar 3. kerikil.  Formasi Pulau Balang (Tmpb).

63

Pulaubalang menindih selaras Formasi Pamaluan dan ditindih secara selaras
Formasi Balikpapan. Lokasi tipe terdapat di Pulaubalang, Teluk Balikpapan.
 Formasi Warukin (Tmw), terdiri dari Perselingan batupasir dan batulempung
dengan sisipan batubara. Terendapkan di lingkungan delta. Tidak dijumpai fosil.
Umur diduga berkisar antara Miosen Tengah - Miosen Akhir, Tebal formasi antara
300 dan 500m; Formasi Warukin menindih selaras Formasi Berai. Lokasi tipe di
Kambitin, Kalimantan Selatan.
 Formasi Bebulu (Tmbl), terdiri dari Batugamping dengan sisipan batulempung
lanauan dan sedikt napal. Fosil yang dijumpai antara lain : Lepydocyclina
ephippioides

JONES

&

CHAPMAN,

Lepydocyeclina

sp.,

Operculina

sp.,

Operculinela, Miogypsinoides, Cycloclypcus, yang emnunjukan umur Miosen
Awal,

(Purnamaningsih,

1978)

dan

terendapkan

di

Lingkungan

laut

dangkal.Ketebalannya mencapai 1900 m. Lokasi tipe di daerah Bebulu,
Kalimantan Timur. Formasi ini menindih selaras Formasi Pamaluan.
 Formasi Pamaluan (Tomp), terdiri dari Batulempung dan serpih dengan sisipan
napal, batupasir dan batugamping; planton seperti: Globigerina yenezuelana
HEDBERG, Globigerina ciperdensis BOLLU Globorotalia nana dan fosil bentos
seperti : Dentalina sp,. Uvigerina sp,. Eponides sp,. Nodosaria sp,. Dan Bolivina sp,.
Yang menunjukan umur Oligosen Akhir – Miosen Tengah (Purnamaningsih 1979
dan Aziz, 1981), Satuan ini terendapkan di lingkungan laut dalam. Tebal formasi
ini 1500-2500 m. Lokasi tipe di kampong Pamaluan ± 30 Km di utara-baratlaut
Balikpapan.
 Formasi Berai (Tomb), terdiri dari Batugamping , napal dan serpih menempai
bagian bawah formasi, sedangkan bagian tengah dan atas dikuasai oleh
batugamping. Fosil yang ditemukan antara lain, Plangton : Globigerina binaensis
KOCH,

Globigerina

pracbulloides

BLOW,

Globigerina

ciperoensis

BOLLI,

Globigerina dissimiilis CUSHMAN & BERMUDEZ., Globigeria selli BOLLI, bentos :
Cyroidina sp., Noinon so,. Uvigerina sp,. Echinoid dan ganggang, yang
menunjukan umur Oligosen sampai Miosen Awal dan terendapkan di lingkngan

64

neritik (Aziz, 1981). Tebal formasi sekitar 1100 m, Lokasi tipe G. Berai, di timur
Tanjung,
 Formasi Kuaro (Tek), terdiri dari Batupasir dan konglomerat dengan sisipan
batubara, napal, batugamping dan serpih lempungan. Fosil yang teramati terdiri
atas

;

Globigerapisis

mexilana,

Globigeerapis

semiinvoluta,

Globorotaia

cerroazulensis, Operculina sp., Nummulites sp. Dan Discoeyelina sp.,yang
menunjukan umur Eosen Awal; terendapkan di lngkungan parala-laut dangkal
ketebalan sekitar 700m. Formasi ini menindih tak selaras Formasi Pitap. Lokasi
tipe di S. Kuaro
 Formasi Tanjung (Tet), terdiri dari Perselingan batupasir, batulempung,
konglomerat, batugamping dan napal dengan sisipan ipis batubara dan
batugamping menunjukan struktur perlapisan bersusun dan simpang siur. Fosil
yang dijupai antara lain : Pellatispira provaleale YABE, Discocyclina disanca
SOWERBY; Nummulites pengaronensis VERBEEK; Operculina sp., menunjukan
umur Eosen Akhir, terendapkan di lingkungan paralas neritik. Tebal formasi
diperkirakan sekitar 1000-1500 m. Formasi ini terindih tidak selaras formasi pitap.
Nama formasi diperkenalkan oleh PERTAMINA (1979) hasil pemboran minyak di
daerah Tanjung, Kalimantan Selatan.
 Formasi Haruyan (Kvh), terdiri dari Lava, breksi dan tuf. Lava bersusun basal,
Breksi aneka bahan, berkomponen andesit dan basal tidak memperlihatkan
perlapisan Tuf, berlapis tipi; umumnya telah terubah mengandung kaca dan klorit.
 Formasi Pitap (Ksp), terdiri dari Perseligan batupasir, grewake, batulempung dan
konglomerat. Berumur Kapur Awal berdasarkan fosil gastropoda dan Cilindris sp,
Tebal formasi diduga tidak kurang dari 1500 m.
 Granit dan Diorit (Kdi), terdiri dari Granit dan diorit, Granit kelabu muda,
mengandung muscofit dan sedikit horenblenda. Menerobos batuan pra-Tersiae
berupa retas. Diorit, Kelan=bu Muda, menghablur penuh, mineral utama biotit,
umur batuan terobosan ini diduga berumur Kapur Akhir.
 Komplek Ultramafik (Ju), terdiri dari Sepertinit dan harzburgit. Serpentinit, kelabu
kehijauan, padat, tersusun oleh mineral krisotil dan antigorit. Harzburgit, hijau

65

gelap; terserpentinitkan, tersusun oleh mineral olive, piroksen dan serpentin.
Umumnya diduga berumur Jura.
b. Kondisi Geologi di PTBA
Daerah penelitian/penyelidikan dalam studi ini termasuk di dalam lembar Peta
Geologi Lahat yang dibatasi oleh kordinat 103º30’ - 105º00’ bujur timur dan 03º00’ 04º00’ lintang selatan (Gambar 3.22). Di sebelah utara Lembar ini berbatasan dengan
Lembar Palembang, di sebelah Timur, dengan Lembar Tanjungselapan, di sebelah
Selatan, dengan Lembar Baturaja, dan di sebelah Barat, dengan lembar Bengkulu.
Secara fisiografi, Lembar Lahat termasuk dalam daerah rendah dari Sumatera bagian
Timur.
Secara morfologi, dapat dibagi menjadi tiga satuan morfologi, yaitu daerah
pegunungan, daerah menggelombang dan dataran rendah. Daerah pegunungan
menempati sudut Barat Daya Lembar dengan puncaknya berupa gunung-gunung, di
antaranya yaitu Gunung Isauisau (1431 m), Bukit Besar (735 m), dan Bukit Serelo (670
m). Pada bagian ini lereng gunung umumnya agak terjal, lembahnya sempit dan di
beberapa tempat terdapat jeram. Aliran berpola teranyam berkembang di lereng atau
kaki bukit, dan di sekitar Gunung Isauisau pola alirannya memancar. Daerah
menggelombang menempati lebih-kurang setengah luas Lembar terutama di bagian
Barat, ketinggian puncaknya mencapai 250 m.
Pada daerah menggelombang, lereng umumnya landai dengan sungai berlembah
lebar dan berkelok-kelok. Di beberapa tempat terdapat lubuk. Pola aliran di daerah ini
adalah dendrite. Dataran rendah menempati daerah di bagian Timur Lembah dan
meliputi lebih-kurang 30 persen dari seluruh luas daerah. Sungai di sini lazimnya
berkelok-kelok dengan pola aliran yang umumnya bersifat dendrite. Ketinggian dari
muka laut di daerah ini berkisar antara 0 sampai 50 m, dan pengaruh gerak pasang
surut terasa sampai sejauh 125 km dari pantai, seperti misalnya di daerah Kayu Agung.

 Batuan Pra-Tersier. kuarsit. Formasi ini disusun dari tufa. serpih.22. terdiri dari andesit. diendapkan secara tidak selaras di atas batuan Pra-Tersier pada kala Paleosen-Oligosen Awal di lingkungan darat. andesit. dan Kusumadinata ( 1976). batugamping. aglomerat. batu lanau. batu pasir dan batubara.  Formasi Lahat. serta Shell Minjbow (1978 ). granit. Marks (1956). filit. Spruyt (1956) dengan beberapa perubahan. . Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai. Peta Geologi Regional Lembar Lahat Morfologi umum daerah penyelidikan merupakan perbukitan bergelombang rendah dengan kemiringan lereng 100-200 dengan elevasi 25 m sampai dengan 125m dpl dan sering membentuk pematang yang berarah umum barat-laut – tenggara disusun oleh satuan batuan Tersier klastika halus yang memebentuk Formasi Air Benakat. Stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan yang tata namanya pernah diusulkan oleh Musper (1937). dan granodiorit.66 Sumber : Bakosurtanal Gambar 3. sebagai berikut ini. dibagi atas beberapa formasi dan satuan batuan dari yang tua ke muda. breksi tufaan.

terdiri dari batu pasir tufaan dan tufa. terdiri dari batu pasir. Stratigrafi daerah penyelidikan mencakup 3(tiga) formasi yaitu: Formasi Air Benakat. Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Baturaja pada kala Miosen Awal – Miosen Tengah di lingkungan laut dalam. batu lanau. serpih gampingan dan napal.sangat kasar. terdiri dari perselingan batu lempung dan batu lanau.  Formasi Air Benakat. Formasi Muara Enim. terdiri dari serpih gampingan dan serpih lempungan. Satuan ini .  Formasi Gumai.  Formasi Baturaja. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Lahat pada kala Oligosen Akhir-Miosen Awal di lingkungan fluviatil sampai laut dangkal. Jurus umum masing-masing antiklin dan sinklin berarah barat-laut – tenggara yang sesuai dengan arah memanjang pulau Sumatera. terdiri dari batu pasir butir kasar. serpih. Formasi Kasai dan endapan aluvial Formasi Air Benakat: Merupakan satuan batuan tertua yang tersingkap di daerah penyelidikan berumur Miosen Tengah sampai awal Miosen atas. Struktur lipatan membentuk antiklinorium Pendopo-Benakat. berukuran kerakal.  Formasi Kasai. diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Kasai. diendapkan secara selaras diatas Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah-Miosen Akhir. dan lempung.lanau. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Talang Akar pada kala Miosen Awal di lingkungan litoral sampai neritik. karbonan. dilingkungan neritik sampai laut dangkal. delta dan bukan laut.  Endapan Kwarter. batu lempung dan batubara.67  Formasi Talang Akar. terdiri dari hasil rombakan batuan yang lebih tua. terletak selaras diatas Formasi Muara Enim. kerikil. Struktur geologi yang berkembang akibat gaya tegasan yang bekerja dengan arah barat-daya – timur laut membentuk lipatan dan sesar. batu lanau dan batubara.  Formasi Muara Enim. terdiri dari batu gamping terumbu. diendapkan di lingkungan darat pada kala Pliosen AkhirPlistosen Awal. Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Air Benakat pada kala Miosen di lingkungan paludal. pasir.

Formasi Muara Enim merupakan formasi pembawa batubara yang berumur Miosen Atas – Pliosen Bawah. berbutir sangat halus – halus terpilah baik. bagian aatas disusun oleh perselingan batupasir. Bagian bawah di dominasi oleh batulempung abu-abu gelap kebiruan sampai abu-abu gelap kecoklatan. Batupasir abu-abu terang. Ciri litologi dari formasi ini adalah .20m. M3 dan M4. batulempung dan batubara. banyak dijumpai jejak tumbuhan dan fragmen batubara. Pada daerah penyelidikan berdasarkan hasil pemboran dangkal. Di daerah penyelidikan pada formasi ini tidak dijumpai batubara. Formasi ini diendapkan sebagai kelanjutan dari fasa regresi dengan satuan anggota terdiri atas : Anggota M1. Benakat Minyak dan Talang Mandung.68 tersingkap di sebelah timur dan timur laut daerah penyelidikan. batupasir dan batubara. Formasi Air benakat meliputi 40% daerah penyelidikan.abu-abu kecoklatan mengandung kuarsa. Batulanau abu-abu . tersemen buruk. batulanau dan serpih dengan sisipan tipis pasir kuarsa. abtulempung dan batubara. hijau muda . Batubara pada Anggota M1 dijumpai 1 lapisan dengan ketebalan berkisar antara 10. terdiri dari batulempung. glaukonit. tidak seluruh satuan anggota tersebut ditembus oleh bor. batulanau. batulempung.10 m – 0. terdiri dari perulangan batupasir. bagian tangah disusun oleh batupasir halus–sedang. Anggota M2. Anggota M3. Shell. Satuan ini biasanya dijumpai sebagai batuan pengapit batubara. feldfar dan fragmen batuan lain. Batulempung karbonan berwarna abu-abu tua. Satuan batuan ini terjadi paeda fasa regresi. Arah umum jurus pada formasi ini barat laut tenggara dengan kemiringan berkisaar antara 200 – 400. batulanau. pelamparannya meliputi daerah Sungai Baung.20 m. batulempung karbonan. setempat tufaan. batulanau. dominan kuarsa. Batubara di anggota M1 daerah penyelidikan tidak berkembang hanya dijumpai sebagai sisipan dengan ketebalan 0. terdiri atas batupassir. Formasi Muara Enim: Formasi Muara enim diendapkan secara selaras diatas Formasi Air Benakat.00m sampai 7. M2. bersifat endapan laut dangkal. 1978 telah membagi formasi ini berdasarkan kelompok kandungan lapisan batubara menjadi 4 (empat) anggota yaitu M1. struktur lenticular umum dijumpai pada batulempung. Umumnya berwarna hhhijau muda – abu-abu kecoklatan. umumnya masif sebagian paralel laminasi dan “flaser bedding”. lunak dan getas.

menyebutkan secara fisiografi Cekungan Kutai yaitu: dapat dibagi menjadi tiga zona. lokasi ini dibentuk oleh lapisan formasi Aluvium. Di daerah penyelidikan tidak dijumpai adanya batubara di formasi ini. Kampung Baru. mengandung jejak tumbuhan. pasir. . yang berada dibagian timur. kompak paralel laminasi. Secara stratigrafis. Batubara pada Anggota ini ditemukan 2 lapisan dengan ketebalan 7. yang berada di bagian tengah dan Delta Mahakam. Formasi Kasai: Diendapkan diatas Formasi Muara Enim berumur Pliosen. delta dan pantai. Anggota M4. kerikil. c. yang menghasilkan pola struktur lipatan regional antiklinorium dan sinklinorium yang bersumbu barat-laut tenggara.23 mengilustrasikan bentuk geologi regional dari lokasi penelitian. Anggota M4 tidak diketemukan di daerah penyelidikan. dkk.al. 2000) dan Cekungan Makassar Utara pada bagian timur (Nuey. rawa-rawa. rawa. Supriatna.69 terang kehijauan-kecoklatan. Balik Papan. 1987). batuapung. Pulau Balang.00m. batupasir tufaan hijau. tersusun dari batulempung tufaan biru kehijauan dan biru. yang berada di bagian barat. Gambar 3. Di beberapa tempat tempat akibat tegasan tersebut mengakibatkan terjadinya pensesaran baik sesar geser maupun sesar normal. dan lumpur terendapkan dalam lingkungan sungai. Bebuluh dan Pemaluan. Batulempung bertindak sebagai pengapit batubara. Pegunungan bergelombang Antiklinorium Samarinda.  QA : ALUVIUM.00m dan5. Penyebaran Formasi Kasai terletak disebelah barat daerah penyelidikan Kenampakan struktur di daerah penyelidikan merupakan hasil dari gaya tegasan utama yaitu gaya kompresif berarah barat-laut – timurlaut. Cekungan ini dipisahkan oleh Cekungan Tarakan dan Punggungan Mangkalihat dibagian utara kemudian sejak Miosen Tengah cekungan ini dipisahkan kembali oleh pembentukan Cekungan Barito pada bagian selatan dan Punggungan Paternoster. (1995). Secara rinci stratigrafi ini dapat dijelaskan berikut. Pada bagian barat dari Cekungan Kutai ini dibatasi oleh Tinggian Kuching (Moss et.. Kondisi Geologi di di BBE dan MSJ Secara fisiografis lokasi penelitian termasuk dalam Cekungan Kutai.

lanau dan lignit. laminasi lignit. tufan atau lanauan dan sisipan batupasir konglomeratan atau konglomerat dengan komponen kuarsa. Batupasir kuarsa dengan sisipan lempung. Lempung kelabu kehitaman mengandung sisa tumbuhan. . koral lanau. mudah hancur. tidak berlapis. kalsedon. tebal 1-2 m. Formasi ini menindih selaras terhadap Formasi Balikpapan. Lingkungan pengendapan delta-laut dangkal. serpih merah dan lempung.70  Tpkb : FORMASI KAMPUNG BARU. mudah lepas. Batupasir kuarsa. kelabu tua. kepingan batubara. tebal lebih dari 500 m. putih. Setempat mengandung lapisan tipis oksida besi atau kongkresi. diameter 0. Diduga berumur Miosen Akhir-Plio Pleistosen. setempat kemerahan atau kekuningan.5-1 cm. serpih. menyerpih. mudah hancur. Pda umumnya lunak.

. Tufa dasit. Batugamping terumbu dengan sisipan batugamping pasiran dan serpih. Setempat batugamping menghablur. Di S. dkk. padat. Lingkungan pengendapan laut dangkal dengan ketebalan sekitar 300 m. Serpih. 1995)  Tmbp : FORMASI BALIKPAPAN. Formasi Bebuluh tertindih selaras oleh Formasi Pulau Balang. kelabu kemerahan. Lingkungan Pengendapan Perengan *paras delta-dataran delta*. batubara dan tuf dasit. tebal lapisan antara 10-40 cm. Batugamping pasiran mengandung foraminifera besar. warna kelabu. Foraminifera besar yang lain Lepidocyclina Sumatraensis Brady. moluska. disisipi lapisan batubara. Lensa gampingan berlapis tipis. Myogipsina sp. . tebal lapisan antara 50-100 cm. Menunjukkan umur Miosen Akhir Bagian Bawah-Miosen Tengah Bagian Atas. Perselingan antara greywake dan batupasir kuarsa dengan sisipan batugamping. Kalimantan Timur (Supriatna. Batupasir gampingan. berstruktur sedimen lapisan bersusun dan silang siur. kelabu kehijauan..71 Gambar 3. serpih kecoklatan. menunjukkan umur Miosen Awal . Peta Geologi Lembar Samarinda.Miosen Tengah. setempat mengandung lensa-lensa batupasir gampingan. tebal lapisan 1-2 cm. mengandung foram kecil. berlapis tipis. Setempat berselingan dengan batubara. Tebal 1000-1500 m  Tmbp : FORMASI PULAU BALANG. tebal lapisan 20-40 cm. setempat tufan dan gampingan. terkekar tak beraturan. kelabu kecoklatan berselingan dengan batupasir halus kelabu tua kehitaman. Batupasir grewacke.. batulempung. putih merupakan sisipan dalam batupasir kuarsa. coklat. tebal 5-10 cm. dijumpai Operculina antara sp. Batulempung kelabu kehitaman. disisipi lapisan tipis karbon.  Tmb : FORMASI BEBULUH. Lon Haur mengandung foram besar antara lain menunjukkan umur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Perselingan batupasir dan lempung dengan sisipan lanau.23. tebal ada yang mencapai 4 m. berbutir sedang. Batupasir kuarsa. padat mengandung foram besar. Lempung kelabu kehitaman.

Sesar naik diduga terjadi pada Miosen Akhir yang kemudian terpotong oleh sesar mendatar yang terjadi kemudian. Kondisi Hidrogeologi dan Hidrologi di Lokasi KJA Beberapa penelitian terdahulu menunjukan bahwa apabila beberapa susunan batuan yang berada pada tiap lobang bor dikorelasikan. Setempat dijumpai struktur sedimen silang-siur dan perlapisan sejajar. Batulanau kalbu tua-kehitaman. Batugamping kelabu. setempat berlapis dan mengandung foram besar. Berdasarkan analisis sebaran litologi akuifer bawah permukaan di wilayah ini umumnya termasuk dalam akuifer tertekan (confined . Di daerah ini terdapat tiga jenis sesar yaitu sesar naik. 3.72  Tomp : FORMASI PAMALUAN. rata-rata 45 cm. maka kedudukan stratigrafi batupasir dan mudstone menjadi simpang siur. padat. Batupasir kuarsa dengan sisipan batulempung. batugamping dan batulanau. kelabu kehitaman-kecoklatan. Lipatan umumnya berarah timurlaut-baratdaya. serpih. Formasi Pamalusn merupakan batuan paling bawah yang tersingkap di lembaran ini dan bagian atas formasi ini berhubungan menjemari dengan Formasi Bebuluh.51 m3/hari. sesar turun dan sesar mendatar. Batuan yang lebih muda pada umumnya terlipat lemah. Serpih. pejal. kelabu kecoklatan-kelabu tua.86 m3/hari dan 2. tebal sisipan 10-20 cm. Tebal lapisan antara 1-2 m. Bebulu dan Balikpapan sebagian terlipat kuat dengan kemiringan antara 400-750. Batupasir kuarsa merupakan batuan utama. terpilah baik. Struktur yang dapat diamati di Lembar samarinda berupa lipatan antiklinorium dan sesar. Kedudukan lapisan batubara dapat terletak di dalam lapisan mudstone atau di dalam lapisan batupasir. padat. dengan sayap lebih curam di bagian tenggara. karbonan dan gampingan. Tebal Formasi lebih kurang 2000 m. Batulempung tebal. Dari hasil uji pemompaan. berbutir sedang-kasar. butiran membulat-membulat tanggung. Formasi Pamaluan. nilai permeabelitas batuan menghasilkan angka permebelitas sekitar 0.4. berlapis sangat baik. sedangkan Sesar turun terjadi pada kala pliosen. berbutir halus-sedang.2. Hidrogeologi dan Hidrologi a.

Intensitas curah hujan di lokasi KJA ini seperti umumnya daerah tropis termasuk hujan konvektif yang . sedangkan litologi akuifer tertekan sampai semi tertekan adalah batupasir dan batulanau pasiran atau mudstone. berdasarkan kondisi geologi dan keterdapatan air tanah. di wilayah area penambangan KJA ini termasuk dalam lapisan air tanah Formasi Warukin dengan dominasi lapisan batupasir dan batulempung serta sisipan batubara. Umumnya nilai permeabelitas relative kecil dikarenakan sifat lapisan pada formasi batuan tersebut bersifat padu. Secara regional. Perbukitan Roto _ Samurangau juga merupakan daerah tangkapan air hujan (cachment area). Hulu-hulu sungai menempati wilayah sepanjang ±13 km dengan lebar rata-rata 2.50 m di bawah muka tanah setempat (mbmt). Berdasarkan hasil kajian geologi. arah aliran air tanah tertekan sangat dipengaruhi oleh kedudukan lapisan batuan. sehingga system air tanah pada Formasi Warukin hamper mirip dengan bentuk mangkok yang dikelilingi oleh Formasi Berai. Curah hujan adalah salah satu penyumbang petmasalahan dalam akitivitas penambangan. umur Formasi Berai lebih tua dari Formasi Warukin.73 aquifer) dan semi tertekan (semi confined aquifer) serta sebagian lainnya berupa akuifer tak tertekan (unconfined aquifer).5 m/det. Air tanah tak tertekan di daerah penelitian ini mengikuti pola kontur topografi. Hal ini ditandai oleh banyaknya hulu-hulu sungai yang sebagian besar memotong jurus perlapisan batu pasir mudstone dan batubara dan sebagian lainnya mengalir searah dengan jurus perlaisan-perlapisan batuan tersebut. Sedangkan muka air tanah tertekan umumnya berkisar antara 0 hingga 10 m bmt. rawa dan air hujan. Muka air tanah tidak tertekan di daerah Samarangau terdapat pada kedalaman rata-rata kurang dari 5. Pada beberapa lokasi terdapat permunculan mata air dengan debit yang kecil yang biasanya melalui rekahan batuan sekitar 0. Pembentuk akuifer tak tertekan adalah lapisan batupasir lempungan yang bersifat lepas sampai kurang kompak. Secara hidrogeologis.5 km. Secara hidrologi kondisi awal dari sungai yang berada di lokasi KJA ini seperti di daerah Roto-Samurangau berbentuk perbukitan dan memiliki sumber air permukaan yang berasal dari sungai.

c. Sungai-sungai di sebelah timur daerah penyelidikan umumnya merupakan sungai sungai “Resekwen” dan “Obsekwen”. Kondisi Hidrogeologi dan Hidrologi di Lokasi PTBA Terdapat dua pola aliran sungai utama di daerah ini yaitu sebelah timur laut daerah penyelidikan umumnya membentuk pola aliran dendritik. Pemisah aliran berarah hampir utara-selatan dimana pada bagian barat daerah penyelidikan sungai-sungai mengalir kearah sungai Semanggus.5 mm pada bulan Juni.6 mm pada bulan Januari dan terendah yaitu 111. Pola ini pada umumnya menempati satuan batuan Formasi Muara-Enim dan Formasi Kasai. sungai-sungai pada satuan ini umumnya telah nenunjukan tahapan dewasa dengan tingkat pengendapan yang cukup tinggi. Muara Enim dan Kasai menghasilkan pola aliran sungai yang berbeda. Bulan-bulan basah berlangsung pada bulan Oktober hingga Mei. curah hujan minimum adalah 1367 mm/tahun. pola umum aliran sungainya menunjukan pola aliran trellis. sedangkan pada bagian timur daerah penyelidikan sungai sungai mengalir ke arah timur dengan Sungai Baung dan Sungai Benakat sebagai sungai Utama. Sedangkan curah hujan rata -rata tertinggi yaitu 449.74 mempunyai ciri intensitas tinggi dan durasi hujan pendek. Curah hujan maksimum adalah 4627 mm/tahun. sedangkan disebelah barat daerah penyelidikan sungai-sungainya merupakan sungai “Konsekwen” dan “obsekwen” Secara umum morfologi daerah penyelidikan dikontrol oleh struktur lapisan dan litologi pembentuk dimana daerah penyelidikan satu sayap homoklin dari suatu antiklin dengan perbedaan litologi pembentuk antara Formasi Air benakat. pola aliran ini umumnya menempati batuan yang dibentuk oleh Formasi Air Benakat. b. Lokasi penambangan Tambang Air La ya (TAL) terletak pada daerah beriklim tropis. Sungai utama di daerah penyelidikan terdiiri atas sungai Semanggus di daerah barat dan Sungai Benakat serta Sungai Baung di daerah sebelah timur daerah penyelidikan. Adapun tahapan daerah penyelidikan sudah pada tahapan dewasa. Kondisi Hidrogeologi dan Hidrologi di Lokasi BBE dan MSJ . Sebelah barat daya daerah ini.

Di beberapa tempat sampai kedalaman 120 m airnya dapat mengalir ke luar. Kondisi air tanah di daerah ini ditentukan terutama oleh faktor geologi berikut struktur yang membentuknya. dan akan ditemukan terutama dalam akuifer yang terdapat dalam Formasi Kampungbaru .Batuan penyusun mandala air tanah ini terdiri terutama dari pasir kasar sampai halus. Melihat lingkungan pengendapannya kemungkinan mutu . Mahakam ini. Sebaran daerah dataran pantai dan delta terdapat di bagian pantai timur dan tidak seberapa luas. Air tanah tak tertekan umumnya dangkal. Di mandala dataran ini air tanah tertekan ditemukan pada batuan berumur Tersier yang mengalasinya. dan lumpur. Akibat pengendapan yang menerus pada muara S. terbentuklah delta Mahakam. tetapi sebagian besar mutu air tanah mengandung zat organik atau kadar garam tinggi. daerah ini merupakan daerah pelonggokan air tanah yang cukup potensial kandungan airnya. menempati bagian tengah daerah lembar peta dan dibentuk oleh deretan punggungan bukit antiklin yang terpisah satu sama lainnya oleh adanya alur lembah sempit di antaranya. Sekalipun data pemboran kurang namun melihat kondisi hidrogeologi setempat. Daerah dataran danau Semayang yang cukup luas dan terdapat di bagian baratlaut lembar peta ini disusun terutama oleh endapan aluvium berupa pasir.75 Secara regional keadaan hidrogeologi daerah yang dipetakan dapat dibagi menjadi 2 (dua) mandala air tanah sebagai berikut:  Mandala air tanah dataran. Makin mendekati kaki pebukitan mutu airnya bertambah baik. Air tanah tak-tertekan yang dangkal ditemukan terutama di daerah bertopografi rendah. dan lumpur. daerah ini merupakan daerah pelonggokan air tanah yang cukup potensial kandungan hidrogeologi setempat. Ke arah daratan ini dibatasi oleh kaki pebukitan terbentuk oleh batuan sedimen terlipat yang merupakan sumber bahan rombakan untuk kemudian diendapkan di daerah dataran pantai ini. Air tanah tertekan yang cukup potensinya terbatas sebarannya. lempung. mencakup daerah dataran pantai dan delta serta dataran Danau Semayang yang terdapat di bagian barat lembar peta. tetapi mutunya kadang-kadang kurang baik.  Mandala air tanah pebukitan. lempung.

Beberapa mataair yang ada sebagian telah dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air rumahtangga. daerah penyelidikan termasuk dalam zona 3a dengan akselerasi atau percepatan gempa 0.25 g. data parameter sifat fisik dan mekanik batuan antara lain dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan data hasil pengujian laboratorium geomekanika. Beberapa mataair yang terdapat di mandala air tanah ini umumnya berluah kecil.4. Daerah yang memiliki potensi air tanah cukup terdapat mandala air tanah dataran. Beberapa mataair yang ada sebagian telah dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air rumahtangga penduduk setempat. Dengan demikian daerah ini termasuk aman terhadap pengaruh kegempaan. Secara seismologi.20 – 0. Pada daerah dengan struktur sinklin pelonggokan air tanah dalam kedua Formasi ini lebih baik potensinya dibandingkan dengan daerah lereng atau puncak antiklinnya. dan 3. Sifat batuan keras dan padat apabila kondisi kering. 3. dan bersifat lengket apabila basah. Pada beberapa daerah yang ditutupi oleh Formasi Kampungbaru atau Formasi Balikpapan sering ditemukan akuifer yang cukup produktif. Struktur lapisan batuan agak kompak akibat pengaruh tektonik (sinklin – antiklin) namun ada beberapa yang memiliki rekahan-rekahan dan kekar yang disebabkan oleh patahan dan sesar. kurang dari tiga liter sedetik.5. . Sekalipun demikian. Pemanfaatan sumber air tanah di daerah ini masih terbatas pada mandala air tanah dataran saja.3. air tanah yang terkandung di dalamnya kadang-kadang mutunya kurang baik karena mengandung zat organik atau kadar garam cukup tinggi. Data Uji Laboratorium Geoteknik di KJA Susunan batuan pembentuk lereng pada dinding pit terdiri dari batupasir dan mudstone (lempung dan lanau) yang posisi stratigrafinya saling berselingan dan simpang siur. berdasarkan peta sesimik. terutama untuk mencukupi kebutuhan air rumahtangga. Data Uji Laboratorium Geoteknik a.76 dan Formasi Balikpapan. Beberapa pemboran eksplorasi batubara yang dilakukan di berbagai daerah yang menembus kedua formasi di atas membuktikan akan hal ini.6.

ɤ (ton/m3) Berat isi kering.98 23.86 53.5.40 223.15 1.35 1. Data Parameter Sifat Fisik Batuan di beberapa lokasi pemboran PT.98 27.65 88.20 24.32 74.88 44.25 40.63 2.33 - .24 2.28 20.64 0.00 10.18 29.52 38.00 DH-2 DH-3 DH-5 DH-6 DH-7 DH-8 10.06 47.72 1.66 2. n (%) Derajad Kejenuhan. Data Parameter Sifat Fisik Batuan di beberapa lokasi pemboran PT.23 1.29 22.53 32.07 40.12 46.98 0.97 0.77 Tabel 3.31 23.42 2.62 1.63 2.66 1.37 1.02 0.98 13.45 38.40 48.91 23.44 4.85 33.61 33.20 26.86 9.43 41.04 3. w (%) Berat Jenis (-) Berat isi Basah.81 0.32 4.12 2.43 17.37 30.98 0.86 49.43 40. KJA Parameter DH-1 Kadar air.57 21.05 0.21 17.11 0.80 28.50 7.20 4.26 45.16 1.16 2.46 20.05 0.15 1. (Wp) (%) Indeks Plastis (IP) (%) % Clay 6.37 50.04 0.40 10.64 2.59 - Material Campuran 62.61 38.41 55.23 2.98 27.32 7.6.41 33.30 2.21 3.08 0.12 2.32 23.19 1.82 1.20 24.20 15.64 38.93 1.08 0.1 16.67 16.11 2.82 17.11 0.38 21.03 66.64 25.00 3.07 35.27 25.11 2.90 1.80 34.96 29.54 0.84 19.25 2.08 12.29 0.97 15.30 1.25 2.91 33.42 2.86 1.46 0.23 41.10 35.34 24.73 26.02 68.80 2.36 26.11 26.29 3.62 2.16 63.27 44.77 13.49 24.90 19.20 52.07 28.49 1.53 51.78 43.06 21.11 2.03 22.16 29.46 98.42 3.59 37.19 0.57 41.61 2.99 30.4 2.32 74. S (%) Batas Cair.88 2.81 22.17 19. Bor/Jenis Pengujian qu Cpuncak DH-1 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu Cpuncak DH-2 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu Cpuncak DH-3 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu Cpuncak DH-5 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu Cpuncak DH-6 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu Cpuncak DH-7 Φpuncak (o) Csisa ϕsisa (o) qu DH-9 Cpuncak Batu Lempung Batu Lanau Batu Pasir 18.82 37.5 Tabel 3.62 29.03 54.44 23.56 36. (WL) (%) Batas Plastis.08 28.77 21.59 3.60 29.83 35.86 17.35 42.26 35.34 24.01 0.75 7.62 2.82 24.79 7. KJA Lob.72 134.80 84.47 26. ɤd (ton/m3) Angka pori (-) Porositas.03 26.12 11.19 2.56 7.97 0.41 10.02 0.

9. Pada Tabel 3. maka secara geoteknik batuan di daerah ini relatif lulus air dan dapat menyimpan air pada rongga-rongga porinya. Data Uji Laboratorium Geoteknik PTBA Data sekunder hasil pengujian laboratorium di lokasi Airlaya PTBA.33 41.50 0. poison’s ratio.36 2. S. porositas (16.148 – 22.7. point load.17 .812 kg/cm3) Batubara : 14. batulanau. batulempung lanauan dan batubara (Tabel 3.17 2.15 2.32 2.40 % .19 0.624 kg/cm3) b. modulus elastisitas.17 – 10.797 kg/cm3) Batupasir : 14.217 kg/cm3 (kisaran : 3.966 -16.23 2. Hasil Pengujian Sifat Fisik Batuan Parameter - Berat Isi Asli Berat Isi Jenuh Berat Isi Kering App.88 32.40 34.78 (o) Csisa ϕsisa (o) Φpuncak 42.885 kg/cm3 (kisaran : 2.943 – 24. Dari hasil pengujian terdapat perbedaan yang sangat kontras antara tanah dan batuan. disajikan ringkasan kuat tekan. batupasir.15 2.00 2.21 2.G Satuan (Gr/cc) (Gr/cc) (Gr/cc) BATUAN Sandstone Siltstone Silty clay 2. BAL – 06 dan BAL – 07.38 2.22.886 – 3.31 2.00 2. Tabel 3. Dilihat dari batuan di daerah penyelidikan yang memiliki rata-rata kadar air (7. seperti titik bor BAL – 01.12 %).522 kg/cm3) Batulempung : 6. Secara keseluruhan variasi batuan yang diuji terdiri dari batulempung.341 kg/cm3 (kisaran : 8.383 kg/cm3 (kisaran: 0.7 dan Tabel 3.871 kg/cm3 (kisaran : 4. Hasil nilai kuat tekan rata-rata dari beberapa jenis batuan adalah sebagai berikut : Tanah : 2. kuat geser residu dan kuat geser triaksial dari jenis batuan tersebut di atas.803 – 17.8).852 kg/cm3) Batulanau : 10.70 %). diambil dari beberapa hasil Uji laboratorium geomekanika terhadap contoh batuan yang diambil dari beberapa titik bor.69 - - Disamping itu secara khusus dilakukan pengujian kuat tekan untuk beberapa lokasi pemboran.

00 22.29 0.00 35.43 14.85 38.24 11.74 8.29 49.89 9.60 10.30 2.17 7.28 64.50 0.63 9.48 38.G Kadar Air Asli Kadar Air Jenuh (Absortion) Derajat Kejenuhan Porositas Void Ratio (%) (%) (%) (%) 2.8.40 0.26 Tabel 3.29 0.00 0.51 0. Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan .53 9.320.00 13.036.21 27.73 18.69 0.12 11.07 Tabel 3.81 1.07 26.68 28.59 0.85 1.60 0.80 59.70 0.00 10.75 39.00 0.50 0.18 14.79 - True S.58 7.42 0.85 41.00 9.45 0.25 50.20 0.281.77 20.45 62.13 31.00 18.50 13.947.70 0.32 1.00 0.9.215.39 88.20 2.14 0. Hasil Pengujian Sifat Mekanik dan Batubara Parameter - Kuat-tekan (UCS) Satuan c E ( Kg/cm² ) ( Kg/cm² ) µ - Ultrasonic E ( Kg/cm² ) µ - Triaxial p Cp - Kuat Geser Sisa r Cr - Point Load.77 10.25 0.52 0.43 0.15 20.97 16.30 0.61 13.36 35.34 23.36 28. Is (50) Dia Is (50) Ax - - Atterberg Limit Hydrometer & Sieve Analysis Ia Liquid Limit Plastic Limit Plasticity Index Shrinkage Limits Linear Shrinkage Gravel Sand Silt Clay LL PL PI SL LS - o ( ) ( Kg/cm² ) o ( ) ( Kg/cm² ) ( Kg/cm² ) ( Kg/cm² ) % % % % % % % % % BATUAN Sandstone Siltstone Silty clay 63.089.50 19.00 0.00 0.08 22.63 93.47 23.00 19.00 2.54 89.

21 0.23 Sudut Gesek puncak .106 MPa 0.099 0.24 0.11.0180 0.10. Sedangkan data sifat mekanik batuan di sekitar lokasi penelitian terdiri dari uji Kuat Tekan Uniaksial (Uniaxial Compressive Strength Test).0178 0..098 0.2 7.BBE Material Bobot Isi Modulus Elastisitas Poisson’ s Ratio Kuat Tarik Kohesi puncak Soil Claystone 1 Sandstone 1 Sandstone 2 Claystone 2 Claystone 3 Claystone 4 MN/m3 0.121 0.291 0.287 0.93 2 Bobot Isi asli (Unit Weight) (n) kN/m3 16.97 1923.03 0.233 MPa 0.09 0.0 16 23 27 29 24 Kohesi residu MPa 0.244 0. Triaxial (Triaxial Test) dan Kuat Geser (Shear Box Test).05 0.01 49.292 0.0171 0.107 0.2 7.0 16 24 28 29 24 26 26 Kohesi residu MPa 0.118 MPa 0.88 19.87 37.80 No Parameter Satuan Minimum Maksimum 1 Kadar air asli (w) % 29. Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di PT.0 6.04 0.244 0.20 3 Kuat Tekan Uniaksial (UCS) (c) MPa 0..0161 0.10 0.296 0.0171 MPa 1340 1882 2702 3536 1856 0.08 0.0170 0.0165 0. Data untuk uji geser langsung pada beberapa sampel untuk lokasi di BBE dan MSJ ini dapat dilihat pada Tabel 3.5 7.6 7.25 Sudut Gesek puncak .10 daqn 3.068 0. Ringkasan Data Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di PT.0173 0.30 0.02 19.70 c..248 0.25 0.0176 0.03 0.21 0.2 8. Tabel 3.214 0.26 0.07 Sudut Gesek residu .94 5 Poisson’s Ratio () - 0.91 4 Modulus Elastisitas (E) MPa 139.11.08 0.0 7.07 Sudut Gesek residu . Data Uji Laboratorium Geoteknik di BBE dan MSJ Data sekunder untuk uji geomekanika meliputi pengujian sifat fisik terdiri dari kadar air.29 0.0178 0.09 0..7 .96 276.06 0.8 7.0174 0.39 6 Kohesi puncak (Cp) kPa 40..250 MPa 0.0 Tabel 3...202 0.0176 MPa 1280 1894 2848 3276 1903 2142 2289 0.00 140 9 Sudut Gesek Dalam residu (r) Degree 5.8 8.41 8 Kohesi residu (Cr) kPa 5.118 0. MSJ Material Bobot Isi Modulus Elastisitas Poisson’ s Ratio Kuat Tarik Kohesi puncak Soil Claystone 1 Sandstone 1 Sandstone 2 Claystone 2 MN/m3 0.46 3.098 0.4 7.065 0.22 0.. Kekuatan geser puncak dan kekuatan geser sisa (peak and residual strength).15 0.107 0.13 7 Sudut Gesek Dalam puncak (p) Degree 10.22 0.0 6.5 9. bobot isi dan berat jenis.246 0.121 0.10 0. ditentukan berdasarkan ke tiga uji tersebut.

25.25 zigzag Unit Inch M M M M M Kg/BCM - Lapisan batubara di lokasi KJA ini cukup unik dibandingkan dengan lokasi lain.08 8.88 9. 4.12.09 0. Tabel 3.40 3. memerlukan peledakan dan sekitar 30% dapat digali dengan menggunakan excavator.256 0.12.7 7.00 5.0172 2049 2272 0. Secara umum geometri peledakan di KJA dapat dilihat pada Tabel 3. 5. Aktifitas Peledakan Batuan a.81 Claystone 3 Claystone 4 0.70 1.20 8.4. 7. karena lapisan batubara disini mempunyai kemiringan yang curam sekitar 70 derajad. . 1.234 0.24 dan 3. Aktifitas Peledakan di KJA Umumnya lokasi penambangan di KJA ini. Pola peledakan ini dapat dilihat pada gambar 3. Pola peledakan yang dilakukan adalah dengan mengupayakan batuan menumpuk di sisi tengah (untuk tanah asli).099 0. 3. 6.26 0.106 0.4. dan menumpuk ke sisi bidang bebas (untuk tanah jenjang).20 0. ripper dan bulldozer.25 25 25 0. sehingga proses penambangannya dilakukan dengan menggali overburden dan interburden yang berada di sisi lapisan batubara tersebut.6 3. 8. Nama Diameter Lubang Bor Kedalaman Lubang Bor Lebar Bebas Jarak Lubang Bor Penyumbat Subdrill Faktor Bahan Peledak Pola Peledakan Dimensi 7. 2.0172 0. Geometri Peledakan di Lokasi Tambang No.

80 0. namun demikian disamping ada beberapa lokasi yang batuannya cukup keras dan alasan penempatan BWE yang memerlukan space yang lebar. 6. 4.24. 3. Tabel 3.88 8.13.82 Gambar 3. Pola Peledakan Batuan Untuk Tanah Jenjang b.25. Pola Peledakan Untuk Tanah Asli Gambar 3.30 6. Secara umum geometri peledakan di KJA dapat dilihat pada Tabel 3.00 7. 1.30 Unit Inch M M M M M . 5. Geometri Peledakan di Lokasi Tambang No. 2. maka dibeberapa bukaan harus menggunakan peledakan untuk membongkar batuan. Aktifitas Peledakan di PTBA Lapisan batuan dan batubara di lokasi Airlaya pada umumnya relative masih dapat dibongkar dengan menggunakan alat mekanis seperti Bucket Wheel Excavator (BWE) atau excavator biasa.13. Salah satu areal yang ditambang menggunakan peledakan adalah di lapisan interburden B2 – C di Pit Pre-Bench. Nama Diameter Lubang Bor Kedalaman Lubang Bor Lebar Bebas (Burden) Jarak Lubang Bor Penyumbat Subdrill Dimensi 7.00 3.

sedangkan rancangan pola peledakan berdasarkan arah runtuhan batuan yaitu pola Box cut. Pengambilan Sampel di PT. 25 ms.14 dan 3. Tengah. KJA dilakukan di beberapa lokasi yaitu di Roto Selatan. Faktor Bahan Peledak Pola Peledakan 0. Utara dan Susubang. Sementara itu kegiatan penambangan di PT.5. 75 ms dan 100 ms serta inhole delay 500 ms. . Peledakan menerapkan metode non elektrik (NONEL) dengan pola peledakan berdasarkan waktu tunda adalah peledakan beruntun per lubang dengan waktu tunda berupa surface delay 17 ms.23 V cut. Box Cut dan Corner Cut dengan menerapkan pengeboran selang-seling (staggerd pattern) dengan diameter lubang bor hanya 76 mm. V cut dan Corner cut yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi lapangan. 3.15 menunjukkan hasil uji sifat fisik dan mekanik batuan asal KJA. Box Cut dan Corner Cut dengan menerapkan pengeboran tegak yang berselangseling (staggerd pattern) dengan diameter lubang bor sekitar 200 mm. Pola peledakan menggunakan V cut. Pola peledakan menggunakan V cut. data sifat fisik dan mekanik batuan juga dilakukan pada sampel yang di ambil dari bongkahan hasil peledakan di sekitar lokasi pengukuran. Pelaksanaan Pengujian Batuan di Laboratorium Disamping referensi data terdahulu (data sekunder). Tabel 3. Aktifitas Peledakan di BBE dan MSJ Kegiatan penambangan di Bukit Baiduri Energi (PT. 8. BBE) untuk pembongkaran lapisan tanah penutup umumnya menggunakan excavator dan hanya sebagain kecil menggunakan peledakan. 42 ms.83 7. Box Cut dan Corner Cut Kg/BCM - c. MSJ dilakukan oleh PT Leighton Contractors Indonesia dengan melakukan pembongkaran lapisan tanah penutup dan dari target produksi sekitart 85% dilakukan dengan menggunakan peledakan.

Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di beberapa Lokasi di KJA Tabel 3. Sampel diambil dari Pre-Bench sisi utara.84 Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan asal Pit Pre-Bench Airlaya – PTBA .15.16. Pada saat penelitian ini di PTBA hanya Pit Pre-Bench yang melakukan aktivitas penambangan menggunakan peledakan.14. Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan di beberapa Lokasi di KJA Pengambilan Sampel di PTBA dilakukan hanya di Pit Pre-Bench-Airlaya.16. Resume hasil uji hasil uji sifat fisik dan mekanik batuan asal PTBA dapat dilihat pada Tabel 3.

85 Sementara itu resume hasil pengujian laboratorium untuk masing-masing batuan asal BBE dan MSJ dapat dilihat pada Tabel 3.48 14.74 0.17.94 4 UCS 5 Triaxial Tegangan max Poisson' ratio Modulus Young Unconsolidated Undrained .61 524.12 2.712 3.864 38.09 1.32 496.10 773.34 524.65 2. Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanik Batuan asal BBE dan MSJ Sample/Hole No No Depth (m) Visual Description PIT PREBENCH SISI UTARA BBE-1 BBE-2 MSJ SANDSTONE SANDSTONE SANDSTONE Symbol Unit - 2.680 3 Unit Weight Natural State N q max C  gr/cm3 MPa MPa kPa deg 2.38 15.70 523.40 36.24 0.35 0.17.24 2.141 4.66 1 Specific Gravity GS 2 Natural Water Content WN % 15.29 146.60 2.122 35. Tabel 3.

81 . menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kekuatan batuan pada saat penambangan. Sementara itu seiring dengan meningkatnya produksi batubara.1 dan penjelasan rinci dari metode penelitian tersebut diperlihatkan pada Gambar 4. akibatnya penggalian batubara semakin dalam dan dampaknya resiko instabilitas lereng menjadi tinggi.2. Metodologi penelitian yang dilakukan diperlihatkan pada Gambar 4. untuk memecahkan permasalahan serta memberikan solusi praktis yang dapat diterapkan di lapangan untuk mengurangi dampak dari penurunan kekuatan batuan akibat aktivitas peledakan. Seiring dengan semakin tingginya lereng-lereng tambang batubara di Indonesia serta masih banyak terjadi kasus kelongsoran lereng. oleh karena itu diperlukan pemikiran secara deduktif untuk menghasilkan atau mendukung teoriteori yang diterapkan dalam penelitian ini. Nisbah kupas terus dikoreksi seiring dengan meningkatnya harga batubara. Induksi akumulatif merupakan fakta yang diperoleh berdasarkan pengamatan lapangan dan adanya kondisi tersebut perlu diketahui penyebab dan cara pemecahannya.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Fakta di lapangan menunjukkan bahwa lereng-lereng tambang batubara terbuka di Indonesia semakin tinggi akibat produksi batubara yang terus meningkat. Salah satu yang menjadi indikasi penyebab penurunan tersebut adalah intensitas dan luasan kerusakan batuan akibat peledakan pada saat operasional penambangan di sekitar lereng. Oleh karena itu perlu ada evaluasi terhadap data yang menyebabkan penurunan kekuatan batuan tersebut. meskipun telah dilakukan analisis pada saat desain dan perencanaan lereng tambang. Berdasarkan fakta tersebut. karena umumnya pembongkaran batuan pada tambang batubara di Indonesia menggunakan metode peledakan. frekuensi penggunaan bahan peledak pada operasional penambangan menjadi meningkat pula. maka dalam penelitian ini menerapkan cara induksi akumulatif dan deduksi.

selain pengamatan lapangan dan uji laboratorium. .82 Sumber data dalam penelitian ini sangat tergantung pada hasil pengamatan lapangan dan uji laboratorium. dilakukan juga permodelan numerik serta memvalidasi hasil permodelan terhadap data laboratorium dan lapangan. Agar kajian ini komprehensif.

pengukuran getaran peledakan dan pengambilan data sekunder.82 Pengumpulan data lapangan meliputi pengambilan contoh batuan.1. . data rekahan (crack) dengan borehole camera. Perencanaan program kerja. 4. waktu dan biaya penelitian. pembahasan dan memberikan kesimpulan serta rekomendasi. analisis termasuk permodelan numerik.2. Untuk melengkapi data klasifikasi massa batuan di lokasi penelitian. c) Pengukuran ground penetration radar (GPR). jurnal.3. Kajian pustaka dilakukan melalui survey literatur. penelitian dan pengambilan data lapangan. Kajian Pustaka. Penelitian Lapangan. prosiding dan disertasi sehingga akan diperoleh topik permasalahan yang akan dibahas. analisis laboratorium terdiri dari preparasi dan analisis contoh batuan yang meliputi penentuan parameter sifat fisik (porositas. dilakukan pengamatan kondisi batuan insitu meliputi pengukuran bidang diskontinyu (orientasi bidang. pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran. triaksial dan uji geser langsung). 4. celah dan kondisi rembesan air). Tahapan dalam metode penelitian seperti berikut : 4. isian. Tahapan penelitian ini dimulai dari tahap persiapan yang meliputi perencanaan kerja dan studi pustaka. data batasan indikasi kerusakan batuan dengan pengukuran seismik refraksi dan Ground Penetration Radar (GPR). kadar air dan densitas) dan mekanik batuan (uji kuat tekan se arah. Persiapan. b) Pengamatan kondisi retakan batuan sebelum dan sesudah peledakan. kemenerusan. spasi. Pekerjaan studio dilakukan untuk evaluasi. Pekerjaan lapangan ini meliputi : a) Pengambilan contoh batuan. kondisi permukaan.

misalnya hubungan antara tebal zona kerusakan batuan.5. pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran. 4. Dari korelasi ini diharapkan dapat diperoleh suatu model yang dapat memprediksi zona kerusakan batuan yang cepat mudah dan akurat serta dapat diaplikasikan langsung di tambang batubara di Indonesia.83 d) Pengukuran seismik refraksi. sehingga prediksi kondisi lereng dapat diketahui sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan. dan f) Pengamatan kondisi batuan di permukaan yang meliputi pengukuran bidang diskontinu (orientasi bidang. kadar air dan densitas)  Uji kuat tekan searah dan triaksial (kohesi. Uji Laboratorium Pekerjaan di laboratorium ini meliputi :  Sifat Fisik (porositas. isian. sudut geser dalam)  Uji geser langsung (kohesi dan sudut gesek dalam puncak dan sisa) 4. e) Pengamatan cepat rambat gelombang peledakan. celah dan kondisi rembesan air). kemenerusan. Analisis dan Permodelan Analisis terhadap data yang telah dikumpulkan dilakukan evaluasi. . Pekerjaan permodelan ini dilakukan untuk melihat deformasi yang terjadi pada batuan yang telah mengalami kerusakan akibat peledakan. spasi.4. Permodelan ini akan dilakukan dalam berbagai variasi parameter-parameter yang terkait dengan kondisi ketebalan zona kerusakan. GSI (atau RMR) dan ketinggian lereng. kondisi permukaan. Beberapa keterkaitan antara hasil pengamatan dan pengujian akan dilakukan korelasi. PPV. muatan bahan peledak. hubungan kecepatan seismic dengan frekuensi joint.

ρ. Diagram Alir Metodologi Penelitian 84 . ν. Vn. PEMECAHAN MASALAH Peak particle Velocity Model (Near-Field model) & Scale Distance Model Komparasi observasi Crack dng BH Camera dan Seismic RefraksI Perhitungan Hoek-Brown dan kriteria Mohr-Coulomb berdasarkan GSI METODE EMPIRIS Simulasi Zona kerusakan batuan akibat peledakan dengan UDEC Cp.1. PENGAMATAN VISUAL KONDISI PERMUKAAN BATUAN PENGAMATAN VISUAL DI LOBANG BOR PENGUKURAN SEISMIK REFRAKSI PEMETAAN GETARAN PELEDAKAN SIFAT FISIK DAN MEKANIK BATUAN INTAK UCS.PENGUMPULAN DATA SEKUNDER PENGUKURAN LAPANGAN UJI LABORATORIUM GEOMEKANIKA BATUAN DATA PENGUKURAN GETARAN PELEDAKAN PARAMETER DAN DESAIN PELEDAKAN DATA GEOLOGI. Peledakan menjadi salah satu penyebab menurunnya kekuatan batuan. Js. Prosiding. C. GEOTEKNIK. Vs Simulasi Kestabilan Lereng Sebelum dan sesudah Peledakan dengan ρ. E. C. Cs. DLL. SG. DATA PEMANTAUAN.  Karena itu studi terkonsentrasi pada. Ø METODE NUMERIK ANALISIS & PERHITUNGAN PREDIKSI KONDISI BATUAN VALIDASI DAN KOMPARASI ANALISIS KOMPREHENSIF PREDIKSI ZONA KERUSAKAN BATUAN AKIBAT PELEDAKAN Gambar 4. Jn. ν. Disertasi. (ii) mengukur secara kuantitatif tingkat kerusakan batuan dan (iii) klasifikasi batas ZKB sesuai tingkat kerusakannya. CURAH HUJAN.UDEC E.  Penambahan distribusi retakan setelah peledakan mengindikasikan terjadinya penurunan kekuatan batuan dan ZKB dapat dilihat menggunakan borehole camera atau dengan seismik refraksi dan diperkirakan semakin berkurang menjauhi sumber ledakan. Referensi buku PERMASALAHAN  Pendekatan untuk memprediksi tebal zona kerusakan batuan akibat peledakan di sekitar lereng tambang di Indonesia masih belum ada  Penambangan batubara terbuka semakin dalam dan adanya kerusakan batuan akibat peledakan disekitar lereng akan mengganggu kestabilan lereng tambang RUMUSAN PERMASALAHAN  Ketahanan batuan terhadap getaran peledakan dipengaruhi oleh cuaca & pelapukan. φ PENGUMPULAN DATA (Primer & Sekunder) STUDI PUSTAKA Catatan : ZKB = zona kerusakan batuan Journal. (i) Identifikasi faktor-faktor dan mekanisme yang mempengaruhi pengembangan dan pembentukan ZKB.

) UJI LABORATORIUM Sifat fisik: bobot isi.2. Luasan Kerusakan Batuan Peak particle Velocity Model (Near-Field model) & Scale Distance Model Output: Nilai ambang PPV. persistence. strike Pengukuran seismic refraksi (kecepatan seismic sebelum dan sesudah peledakan) indikasi luasan kerusakan batuan Intensitas retakan. dip. zona terganggu dan zona aman Simulasi Kestabilan Lereng Sebelum dan sesudah Peledakan dengan UDEC Output: FK lereng sebelum dan sesudah peledakan VALIDASI Menentukan zona kerusakan batuan akibat peledakan dan mendapatkan metode pendekatan praktis untuk penilaian kerusakan batuan akibat peledakan pada tambang batubara terbuka Gambar 4. SD Simulasi Zona kerusakan batuan akibat peledakan dengan UDEC Output: Dileniasi zona kerusakan. geoteknik. angka pori dan kadar air Sifat mekanik:  Kuat tekan (UCS. sudut geser dalam puncak dan sisa)  Uji kuat tarik (Brazilian)  Uji ultrasonik Data laboratorium : σci. ν. weathering) Data kualitas massa Batuan. Skala Jarak Kontur getaran Pengamatan pergerakan batuan. φi. sudut geser dalam puncak)  Uji geser langsung (kuat geser. GSI Pengamatan Visual di lobang bor dengan Borehole Camera sebelum dan sesudah peledakan Intensitas retakan. Dip.PENYELIDIKAN LAPANGAN Pengamatan visual di permukaan batuan (Orientasi. seepage. aperture. τ ANALISIS KOMPREHENSIF EMPIRIK NUMERIK Penilaian Kualitas Massa Batuan Komparasi observasi Crack dng BH Camera dan Seismic Refraksi Output: Intensitas retakan. geologi curah hujan dll. desain lereng kondisi geoteknik. kohesi. Luasan Zona Kerusakan. curah hujan. Strike. Skala Jarak Peledakan. luasan zona kerusakan batuan Pemetaan Getaran Peledakan (Pengukuran PPV saat peledakan) PPV. porositas. Data pendukung untuk analisis selanjutnya DATA MASUKAN Data lapangan : GSI. σci)  Uji triaksial (kohesi. mi. Metode pemecahan masalah 85 . E. dll. joint spacing. PPV. Intensitas Retakan. SG. ci. geologi. data sekunder (desain peledakan. setelah peledakan Batas kondisi elastic dan plastik Pengumpulan Data Sekunder (Desain peledakan. G.

Data Hasil Pengukuran 5.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Data Pengukuran Lobang Bor Setelah Peledakan 86 .1. mengilustrasikan hasil perekaman lobang bor sebelum dan sesudah peledakan. Data pengukuran ini dikorelasikan dengan data hasil analisis GPR dan Seismik refraksi. dan 5. Gambar 5.1.1. Data Pengukuran Lobang Bor Sebelum Peledakan Gambar 5.1.1. Data Pengukuran Kamera Lobang Bor Data pengukuran kamera lobang bor ini digunakan untuk melihat intensitas dan karakteristik kerusakan yang terjadi di beberapa jarak tertentu dari sumber peledakan.2.2. Gambar 5.

Hasil scanning dapat memperlihatkan perubahan intensitas kecepatan pengiriman gelombang elektro magnetic (EM) dari transceiver ke receiver yang diduga .12 0 10 . Scanning dilakukan sekitar 5 meter setelah baris terakhir lobang ledak dengan pola scanning sejajar dengan baris lobang ledak.10 1 8 .12 0 10 . Kondisi rata-rata retakan di dalam Lobang Bor sebelum dan sesudah peledakan di beberapa lokasi penelitian Frekuensi hancuran sebelum Peledakan*) Frekuensi hancuran setelah Peledakan*) 5 m di belakang sumber ledak Kedalaman Frekuensi (meter) 0–2 3 5 m di belakang sumber ledak Kedalaman Frekuensi (meter) 0–2 7 10 m di belakang sumber ledak Kedalaman Frekuensi (meter) 0–2 2 10 m di belakang sumber ledak Kedalaman Frekuensi (meter) 0–2 3 2-4 2 2-4 2 2-4 5 2-4 1 4–6 1 4–6 1 4–6 3 4–6 1 6-8 1 6-8 1 6-8 2 6-8 1 8 .12 0 Gambar 5.12 0 10 . Tabel 5.87 Berdasarkan data kamera lobang bor (borehole camera) terlihat bahwa terjadi perbedaan persentase frekuensi hancuran batuan yang signifikan antara kondisi lobang bor sebelum dan sesudah peledakan.2.3.1 dan Gambar 5. Pengukuran dilakukan pada lokasi dibelakang baris terakhir lobang ledak.1.10 0 8 . Kondisi rata-rata retakan sebelum dan sesudah peledakan pada jarak 5 dan 10 m dari sumber peledakan 5. seperti terlihat pada Tabel 5.1. yaitu pada saat sebelum dan sesudah peledakan. Data Pengukuran Ground Penetrating Radar Proses pengukuran dengan GPR dilakukan sama dengan kamera lobang bor.3.10 0 10 .10 0 8 .

Data Pengukuran Setelah Peledakan di Lokasi I TAL PTBA . Data Pengukuran Sebelum Peledakan di Lokasi I TAL PTBA Gambar 5.88 merupakan fungsi perubahan intensitas kerusakan batuan. Gambar 5.5.4.5 mengilustrasikan salah satu hasil scanning kondisi bawah permukaan batuan sebelum dan sesudah peledakan. Gambar 5.4 dan 5.

2 dan 5.3. Sumber energi ini (source). Data Pengukuran Seismik Refraksi Proses pengukuran dengan Seismic adalah dengan menggunakan Seismik Refraksi keluaran PASI. menggunakan getaran yang bersumber dari benda yang dijatuhkan seberat 25 kilogram pada jarak sekitar 1. Data Sesimik sebelum peledakan Gambar 5.5 meter dengan pola sentakan. Tabel 5.3 menggambarkan kondisi lapisan batuan yang direkam menggunakan seismic refraksi. dan 5. Tabel 5. Konsep dari pengukuran ini juga untuk melihat intensitas perubahan waktu perjalanan (travel times) dari compressional waves pada titik-titik yang diketahui sepanjang permukaan tanah yang berasal sumber energi impulsif.2. Proses pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah peledakan.6.7 menunjukkan perbedaan kecepatan rambat gelombang seismic sebelum dan sesudah peledakan.6. Interpretasi Kondisi Lapisan Batuan Sebelum Peledakan . Sedangkan Gambar 5.89 5.1.

Data Pengukuran Getaran Peledakan Pengambilan data getaran peledakan dilakukan dengan menggunakan dua jenis peralatan. yaitu single vibration monitor buatan Instantel.3. Jerman.1.4.90 Tabel 5. Data Sesimik setelah peledakan Gambar 5. KG.7. Canada dan DMT Summit M Vipa buatan DMT GmbH & Co. Selain itu data getaran peledakan diperoleh juga dari Seismoblast dengan system multivibration monitor . Interpretasi Kondisi lapisan Batuan Setelah Peledakan 5.

63 216.16 200 4.76 2. Pengamatan Kondisi Kekuatan Batuan Pengamatan kondisi kekuatan massa batuan (RMR) dilakukan dengan mengukur bidang diskontinu (orientasi bidang.57 2.06 2.75 2. dimaksudkan agar dapat dikembangkan .23 3.06 4.35 3.22 150 2.4 5.63 1.48 3.92 (2) PPV PVS T V L 2.88 12.60 6.4 10.55 2.88 3. umumnya dilakukan pada jarak lebih dari 300 meter dari sumber peledakan.53 187.5 2.18 175 2.49 3. spasi.24 4.33 5.48 2.85 1.06 2. kondisi permukaan.90 5.43 10.62 10.5 1.4 4.23 175 1.49 2.15 2.91 buatan Puslitbang Teknologi Mineral dan batubara (tekMIRA). Tabel 5.76 2.11 3.75 4.20 2.33 3.46 250 3. 75 meter 100 dan 125 meter dari sumber peledakan.27 9.7 16.24 3. isian.23 1.91 2.4 9.5 16.99 8.2 13.90 3. Data Pengukuran Nilai PPV dan PVS No 1 2 3 4 5 Jarak dari Bidang Ledak (meter) SeismoBlast Blastmate III Blastmate III (1) PPV PVS T V L 150 4.27 175 1.18 2. kemenerusan.1.7 7.01 10. pengamatan kondisi pelapukan dan kekasaran.11 3.49 (3) PPV PVS T V L 8.00 2.74 3.17 1.55 3.31 3.88 3.11 5.18 2. celah dan kondisi rembesan air).94 200 2. Konsep pengukuran dan pengamatan dengan RMR pada kondisi massa batuan di sekitar lereng tambang ini.89 12.73 1.5.66 143 3.57 1.68 2.25 1.06 1.2 13.21 2. Sedangkan pengukuran dengan Multivibration monitor dilakukan pada jarak 50 meter.61 175 2.25 1.18 2.70 1.83 3.59 7.2 4.44 3.66 6.48 7.85 200 1.32 5. Data yang diukur adalah nilai Peak Particle Velocity (PPV) dan Peak Vector Sum (PVS).74 225 3.19 3.93 8.78 225 2.04 250 3.65 2.00 2.01 187.12 4.18 3.70 7.5 2. Tabel 5. Jarak pengukuran untuk Single vibration monitor bervariasi.68 PPV PVS T V L 8.11 2.05 4.88 2.48 7.59 2.4.17 168 3.00 4.04 4.2 7.4 10.66 6.55 2.75 2.91 13.2 13.67 3.55 193 4. memperlihatkan data hasil pengukuran.33 BlastMate III 7.4.47 2.2 6.61 200 2.2 5.

Sifat fisik yang sangat dominan mengalami perubahan adalah porositas batuan.Drill core quality (RQD). Compressive fracture strenght .5 m) dimana perpindahan residu terbesar telah ditandai. pada interval 1 . Gambar 1 salah satu menunjukan tampilan visual dari retakan yang ada pada lobang bor. Hasil Pengamatan RMR pada beberapa lokasi LOKASI L-1 L-2 L-3 L-4 L-5 L-6 L-7 L-8 L-9 L-10 L-11 L-12 L-13 L-14 L-15 L-16 L-17 L-18 L-19 L-20 L-21 Parameter . Mpa discontinuities .Spacing of discontinuities. meskipun perbedaan cukup kecil terlihat pada interval 7 – 9 m.2 m dan pada 3 – 4 m.Strength of intact rock material Ra ting RMR 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .Adjusment for discontinuity 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 57 57 54 51 54 54 57 49 44 51 44 44 51 46 44 51 49 51 46 44 41 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 -5 52 52 49 46 49 49 52 44 39 46 39 39 46 41 39 46 44 46 41 39 36 orientation 5. Tingkat kekerasan batuan ini menandakan kekompakan (cohesiveness) suatu batuan yang dinyatakan dalam bentuk compressive fracture strength. % 20 20 17 17 17 17 20 13 8 13 8 8 . Perbedaan porositas ini mempengaruhi kekompakan dan kekerasan massa batuan.Conditoion of 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 1 1 1 13 8 8 13 13 10 10 8 10 8 13 8 8 8 10 10 8 20 20 20 20 20 5 20 20 20 20 (UCS). Pada interval 7 – 9 m berada pada kedalaman yang cukup dekat dengan dasar dari lobang ledak. Tabel 5. Evaluasi Data Hasil Pengukuran Dari pengamatan lapangan dengan menggunakan kamera lobang bor di sekitar lokasi peledakan. Hasil pengamatan RMR menunjukkan Rating RMR berkisar antara 36 sampai 44. mm 8 8 8 5 8 8 8 8 8 10 8 8 . Interval 1 – 2 m lebih dekat dengan permukaan (kedalaman sekitar 1.2. Setelah peledakan frekuensi hancuran lebih besar dari sebelumnya. Dua interval yang mempunyai peningkatan frekuensi hancuran cukup besar yaitu 50 – 130%. terjadi perubahan yang signifikan pada saat sebelum dan sesudah peledakan.Ground water . Sedangkan pengukuran dengan menggunakan peralatan GPR dan Seismic telah diketahui kondisi lapisan batuan bawah permukaan yang mengalami perubahan sifat sebelum dan sesudah peledakan.92 untuk menilai kondisi lereng.5.

0132 0.2 7.9 7.106 MPa 0.07 0.07 0.093 0.3.7 adalah parameter kekuatan batuan pada masing-masing jenis batuan pada beberapa lokasi yang sudah dirata-ratakan.7 9.07 0.294 0..07 0.233 0.291 0.15 0.25 0.5 9.5 9.0172 MPa 1340 1882 2650 2702 2650 3536 2650 1856 2650 2049 2650 2272 0.294 0.294 0.05 0.27 0.0171 0. Indikasi perubahan tersebut diperlihatkan oleh penurunan kecepatan rambat gelombang sebelum dan sesudah peledakan.6 Input parameter model FEM Section I Material Soil Claystone 1 Seam A_NR Sandstone 1 Seam A_LMT Sandstone 2 Seam A_G2 Claystone 2 Seam A_BN1 Claystone 3 Seam A_BN2 Claystone 4 Bobot Isi Modulus Elastisitas Poisson’ s Ratio Kuat Tarik Kohesi puncak MN/m3 0.9 9.121 0. Beberapa metode pengukuran yang telah dilakukan menunjukkan telah terjadi penurunan compressive fracture strength pada jarak yangb bervariasi di masing-masing lokasi penelitian.93 merupakan tekanan maksimum yang mampu ditahan oleh batuan untuk mempertahankan diri dari terjadinya rekahan (fracture).256 MPa 0.0176 0.287 0..0165 0.09 0.9 8.27 0.07 0. Variasi kecepatan pada masing-masing lapisan batuan sebelum peledakan berkisar antara 1750 m/detik sampai 3000 m/detik dan setelah peledakan mengalami penurunan menjadi 500 m/detik sampai 2000 m/detik.294 0.0174 0.6 9.27 0.0132 0. Permodelan Numerik Analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan konsep pseudo-static dari rambatan gelombang sesimik dikaitkan terhadap kekuatan massa batuan pada masing-masing parameter yang dibutuhkan dalam analisis numnerik ini.234 0. pada jarak antara 0 sampai 23 meter dari batas akhir baris peledakan.0172 0.093 0.9 7.27 0.0132 0.07 0. Tabel 5.9 7. 6.093 0..098 0. Table 5.27 0.08 Sudut Gesek residu 0 .0132 0.093 0.22 0.0171 0.107 0.25 Sudut Gesek puncak 0 .294 0. 5.099 0.25 0.118 0.10 0.03 0.30 0.6 .6 dan 5.065 0. Variasi perubahan tersebut terlihat dari data perubahan kecepatan yang terjadi sebelum dan sesudah peledakan.246 0.0132 0..09 0.7 9. 16 23 26 27 26 29 26 24 26 25 26 25 Kohesi residu MPa 0.202 0.26 0.093 0.

244 0.24 0.07 0.8 9.244 0.9 7.27 0.0178 0. Pseudo-static untuk beban peledakan tersebut diimplementasikan ke dalam perangkat lunak dengan menerapkan kekuatan batuan terhadap arah ledakan.093 0.0132 0. Sudut Gesek residu 0 ..0178 0.0 9.0132 0.214 0.27 0.8.0180 0.27 0.10 0.22 0.29 0.107 0.06 0.093 0.8 7.04 0.0132 0..093 0. vertikal.27 0.9 7. Model yang digunakan adalah kondisi kerusakan pada single hole dan kondisi pada lereng sebelum dan sesudah peledakan.94 Tabel 5..9 8.2 9. atau kombinasi keduanya.08 0.296 0. perangkat lunak UDEC dan Phase-2 digunakan pada simulasi numeric ini.118 0.07 0.7 Input parameter model FEM Section II Material Soil Claystone 1 Seam A_NR Sandstone 1 Seam A_LMT Sandstone 2 Seam A_G2 Claystone 2 Seam A_BN1 Claystone 3 Seam A_BN2 Claystone 4 Bobot Isi Modulus Elastisitas Poisson’ s Ratio Kuat Tarik Kohesi puncak MN/m3 0. dapat dilihat pada model yang ditampilkan pada Gambar 5.07 0.098 0. Arahnya dapat disimulasikan baik horisontal.294 0.0161 0.0170 0.08 0.03 0. Kekuatan gempa untuk setiap elemen hingga-ditentukan dengan menggunakan persamaan: Gaya Seismik = Koefisien Seismic * Luasan Elemen * Satuan Berat Elemen Model perubahan kondisi batuan setelah peledakan dengan mempertimbangkan parameter kekuatan batuan dan kondisi retakan yang terjadi di masing-masing lokasi yang telah disarikan dari beberapa hasil pengukuran pada ke empat lokasi penambangan tersebut.26 0.093 0.2 9.27 0.4 9.23 Sudut Gesek puncak 0 .0132 0.0176 MPa 1280 1894 2650 2848 2650 3276 2650 1903 2650 2142 2650 2289 0.07 0.121 0.9 7.292 0.09 0..294 0. 6.250 MPa 0.0132 0. 16 24 26 28 26 29 26 24 26 26 26 26 Kohesi residu MPa 0.07 0.294 0.0 .099 0.0173 0.093 0.9 8.294 0.248 0.294 0.106 MPa 0.21 0.068 0.07 Untuk menggambarkan kondisi batuan yang sebenarnya.

9a.1 Gambar 5.9c menunjukkan model penurunan kekuatan batuan akibat terjadinya kerusakan batuan disekitar lereng yang diilustrasikan pada kondisi lereng sebelum dan sesudah peledakan. Gambar 5.95 Gambar 5.9a. Model Single Hole dari peledakan dengan nilai g = 0. dan 5. 5.9b.8. Model Kondisi Kesetimbangan Lereng Sebelum Peledakan .

Kondisi Lereng Pada Faktor Keamanan 0. Prediksi kerusakan batuan dengan metode seismik .62 5.Kondisi kontur beban lereng Gambar 5.9b.9c.96 Gambar 5.4.

11d . namun angka-angka yang ditampilkan dari hasil pengukuran ini menunjukkan nilai yang signifikan.7 sampai 4.5 meter (Gambar 5. refraktor kedua berada pada kedalaman 2.10. Mengingat areal pengukuran di lokasi penambangan sangat terbatas sehingga kedalaman refraktor tidak mencapai batas yang diinginkan yaitu minimal sama dengan tinggi lereng tambang (single bench).15 sampai 2.11a. 5.11b. Refraktor pertama hanya berada pada kedalaman 0. Gambar 5.11c dan 5.97 Pengukuran yang telah dilakukan menggunakan jarak antar geophone 1. sesuai dengan hasil hipotesis awal dari kajian ini. Pengukuran yang telah dilakukan menggunakan dua cara yaitu sejajar dan melintang dari baris akhir lobang peledakan. Gambar 5.0 meter dengan jarak shoot point terjauh 24 meter dan hasilnya diperoleh 3 refraktor dengan kedalaman yang bervariasi.10).2 sampai 3.5 meter dan refraktor ketiga berada pada kedalaman 2. 5.1 meter dari permukaan. Hasil interpretasi ketebalan lapisan batuan pada salah satu lokasi penelitian Dari hasil pengukuran pada beberapa lokasi yang berbeda diperoleh tingkat kecepatan rambat gelombang yang cenderung mengikuti pola yang sama pada saat sebelum peledakan dan setelah peledakan.

98 menunjukkan grafik perbedaan kecepatan rambat gelombang untuk masing-masing lapisan sebelum dan sesudah peledakan pada beberapa lokasi pengukuran. Gambar 5. Gambar 5. KJA. Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PT.11b. Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PTBA .11a.

akibatnya kecepatan rambat gelombang akan mengalami penurunan.11d. Dari beberapa hasil pengukuran kecepatan rambat gelombang seismik . Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah Peledakan di salah satu Lokasi PT. Sejalan dengan pernyataan tersebut dari beberapa pengukuran yang telah dilakukan umumnya terjadi perbedaan kecepatan rambat gelombang. MSJ Gambar 5. Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Sebelum dan Sesudah peledakan di salah satu Lokasi PT. BBE Menurut Saiang (2008).11c.99 Gambar 5. terjadinya kerusakan batuan akibat peledakan ditandai oleh berubahnya struktur mikro.

Pada lapisan refraktor 1 kecenderungan kurva sejajar sepanjang jalur pengukuran. hal ini berarti sepanjang jalur pengukuran mengalami kerusakan dan terjadi perubahan struktur mikro. umumnya pada lapisan refraktor 3 menunjukkan kecepatan yang tinggi dibandingkan dua lapisan refraktor yang lain.12b. kecepatan rambat gelombang seismik setelah peledakan lebih lambat dibandingkan sebelum peledakan. sedangkan selebihnya tidak terjadi kerusakan. 5. Oleh karena refraktor 2 lebih tebal dari refraktor 1 seperti dilihat pada Tabel 1.12a. Gambar 5. namun kurva kecepatan cenderung berhimpitan. menunjukkan nilai-nilai persamaan garis perubahan kecepatan rambat gelombang P untuk lapisan refraktor 2. maka untuk menilai batas kerusakan yang terjadi akibat peledakan digunakan data lapisan refraktor 2. Sedangkan pada lapisan refraktor 2. kurva kecepatan rambat gelombang seismik cenderung mendekati pada titik tertentu. 5.12d. Gambar 5.100 untuk masing-masing lapisan batuan pada lokasi yang berbeda.12c dan 5. hal ini berarti bahwa sampai pada titik tersebut batuan mengalami kerusakan.12a. Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT. Sedangkan pada lapisan refraktor 1 dan 2. batuan cukup kompak dan tidak terjadi kerusakan yang signifikan. Hal ini berarti bahwa pada lapisan refraktor 3. KJA .

Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT. Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PTBA Gambar 5.101 Gambar 5.BBE .12b.12c.

00 meter (PTBA). yaitu 1. Nilai Persamaan Garis Perubahan Kecepatan Rambat Gelombang P untuk Lapisan Refraktor 2 di Lokasi PT.102 Gambar 5. Namun pada tulisan ini akan dicoba untuk mengkorelasikan dengan nilai kecepatan rambat gelombang yang berasal dari pengukuran seismik. dapat diketahui bahwa jarak minimum lapisan batuan yang aman dari kerusakan struktur akibat peledakan pada masing-masing lokasi adalah nilai x pada persamaan tersebut dikalikan dengan jarak geophone sebenarnya.MSJ Dari persamaan tersebut.12d.65 meter (PT. 39. Korelasi Data Seismik dan Getaran Peledakan Umumnya pengukuran getaran peledakan dilakukan untuk mengetahui mengetahui hubungan antara kecepatan rambat gelombang peledakan dengan jumlah bahan peledak.5. Sehingga diperoleh jarak minimum batuan yang aman dari kerusakan batuan untuk masing-masing lokasi penelitian adalah 35. MSJ) 5. Analisis kecepatan rambat gelombang P yang berasal dari .09 meter (PT. Analisis yang digunakan adalah bentuk regresi dengan menghubungkan antara log Peak Particle Velocity dengan log Square Root Scalling (Scale Distance).KJA). 29.BBE) dan 38. sehingga akan diketahui jumlah bahan peledak yang diizinkan. sehingga diperoleh gambaran grafik regresi linier.19 meter (PT.0 meter dan ditambah jarak geophone terdekat dengan baris terakhir dari lobang peledakan yaitu 5 meter.

103

pengukuran seismik refraksi tujuannya untuk mengetahui tingkat perubahan cepat
rambat gelombang sebelum dan sesudah peledakan dengan sumber getaran yang
berasal dari getaran yang dibuat dengan menjatuhkan beban pada jarak tertentu,
sedangkan untuk data getaran peledakan ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan
rambat gelombang pada saat peledakan dan sumber getarannya berasal dari
peledakan itu sendiri. Dari data pengukuran, diketahui variasi kecepatan rambat
gelombang yang diilustrasikan dengan grafik dapat dilihat pada Gambar 5.13.

Gambar 5.13. Kondisi Kecepatan Rambat Gelombang Pada Saat Peledakan
Pada Jarak Tertentu di beberapa lokasi Penambangan
Data grafik pada Gambar 5.13, kemudian dikorelasikan dengan nilai hasil
perhitungan jarak minimum batuan yang aman dari kerusakan batuan pada masingmasing lokasi penelitian, sehingga berdasarkan grafik titik potong seperti pada
Gambar 5.14, diperoleh nilai PPV yang menyebabkan terjadinya kerusakan batuan
yaitu 17,20 mm/detik (PT. KJA), 18,41 mm/detik (PTBA), 16,70 mm/detik (PT. BBE)
dan 16,80 mm/detik (PT. MSJ).

104

Gambar 5.14. Grafik Korelasi Nilai Seismik dan Getaran Peledakan
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dapat diketahui bahwa kondisi kerusakan
batuan pada beberapa lokasi penambangan batubara di Indonesia berada pada
jarak maksimum berkisar antara 29,00 meter ≈ 39,09 meter dengan nilai PPV 16,70
mm/detik ≈ 18,41 mm/detik.

105

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Dari uraian bab-bab terdahulu dapat dismpulkan hal-hal sebagai berikut :
a) Perlu

banyak

pemahaman

tentang

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

perkembangan dan tingkat zona kerusakan batuan. Beberapa perilaku mekanik
dari zona kerusakan batuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan
dalam berbagai kondisi telah dimasukkan sebagai parameter-parameter yang
menentukan dalam kajian yang dilakukan.
b) Penilaian terhadap kerusakan batuan akibat peledakan menggunakan beberapa
indikator yaitu secara visual dengan melihat kondisi crack batuan (pola fraktur,
intensitas crack, ukuran crack, dip dan strike), perbedaan kecepatan rambat
gelombang seismik (menggunakan seismic refraksi) dan kecepatan partikel
puncak – PPV (menggunakan vibration monitor) dianggap cukup mewakili
beberapa metode yang berkembang saat ini.
c) Dari kajian literature, hipotesis dari penelitian ini adalah adanya korelasi antara
kualitas massa batuan (Geological Strength Index – GSI atau Rock Mass Rating –
RMR), parameter peledakan terutama muatan bahan peledak per waktu tunda
dan zona kerusakan batuan akibat peledakan. Dengan demikian zona kerusakan
batuan berhubungan dengan faktor geologi batuan dan faktor peledakan.
Penilaian terhadap kerusakan batuan akibat peledakan menggunakan beberapa
indikator yaitu secara visual dengan melihat kondisi crack batuan (pola fraktur,
intensitas crack, ukuran crack, dip dan strike), perbedaan kecepatan rambat
gelombang seismik (menggunakan seismic refraksi) dan kecepatan partikel
puncak – PPV (menggunakan vibration monitor) dianggap cukup mewakili
beberapa metode yang berkembang saat ini.

105

refraktor kedua berada pada kedalaman 106 . 1. 2.24 MPa.106 d) Areal penelitian didominasi oleh batuan sedimen yang mengalami perubahan setelah peledakan dimana berdasarkan data visual kamera lobang bor.05 MPa. perubahan signifikan terjadi sekitar 0 sampai 23 meter dari baris terakhir peledakan dan diduga areal diluar radius tersebut mengalami perubahan elastis. h) Kekuatan intack rock diamati dengan melakukan uji Rock Mass Rating (RMR) pada dinding lereng di sekitar areal peledakan. g) Sifat fisik yang sangat dominan mengalami perubahan adalah porositas batuan. j) Pengukuran sesimik refraksi menggunakan jarak antar geophone 1. retak rata-rata yang diestimasi diberikan untuk berbagai variasi jarak di belakang baris peledakan. Tingkat kekerasan batuan ini menandakan kekompakan (cohesiveness) suatu batuan yang dinyatakan dalam bentuk compressive fracture strength. 3.1 meter dari permukaan.0 meter dengan jarak shoot point terjauh 24 meter diperoleh 3 refraktor dengan kedalaman yang bervariasi. e) Frekuensi retakan terbesar. terlihat adanya penurunan kecepatan rambat gelombang sebelum dan sesudah peledakan. Hasil uji RMR tersebut menunjukkan nilai berkisar antara 36 – 44 dan hasil uji laboratorium kekuatan batuan bervariasi sebesar 1. pada jarak antara 0 sampai 23 meter dari batas akhir baris peledakan. Refraktor pertama hanya berada pada kedalaman 0. disamping melakukan pengujian laboratorium.15 sampai 2. f) Hasil pengamatan dengan GPR dan Seismic.74 MPa dan 4. Perbedaan porositas ini mempengaruhi kekompakan dan kekerasan massa batuan. i) Berdasarkan hasil pengukuran dan analisis yang telah dilakukan.71 MPa. terjadi pada bagian atas lobang pengamatan yang mencapai 50 – 135% dari frekuensi retakan sebelumnya. Variasi kecepatan pada masing-masing lapisan batuan sebelum peledakan berkisar antara 1750 m/detik sampai 3000 m/detik dan setelah peledakan mengalami penurunan menjadi 500 m/detik sampai 2000 m/detik.35 MPa.

kecenderungan kurva berpotongan atau atau saling mendekati.65 meter (PT. 16. MSJ).2. Hal ini berarti bahwa pada lapisan refraktor 3.BBE) dan 38. tidak terjadi perubahan struktur batuan yang signifikan.5 meter dan refraktor ketiga berada pada kedalaman 2. Sedangkan pada lapisan refraktor 1 dan 2 terjadi perbedaan kecepatan yang signifikan sepanjang jalur geophone yang tegak lurus dengan baris terakhir lobang peledakan m) Pada lapisan refraktor 1 kecenderungan kurva sejajar kearah menjauhi lokasi peledakan.20 mm/detik (PT.19 meter (PT. o) Hasil korelasi antara nilai perhitungan jarak minimum batuan yang aman dari kerusakan batuan dengan grafik kecepatan rambat gelombang peledakan diketahui bahwa nilai PPV yang menyebabkan terjadinya kerusakan batuan yaitu 17.107 2. 39. MSJ). p) Berdasarkan kenyataan tersebut. Saran 107 .KJA).0 meter (PTBA).80 mm/detik (PT.09 meter (PT.2 sampai 3.7 sampai 4.00 meter – 39. KJA). 29.70 mm/detik (PT. sedangkan lapisan refraktor 2. 6. maka dapat diketahui bahwa kondisi kerusakan batuan pada beberapa lokasi penambangan batubara di Indonesia berada pada jarak berkisar antara 29. k) Dari hasil pengukuran pada beberapa lokasi yang berbeda diperoleh tingkat kecepatan peledakan yang cenderung mengikuti pola yang sama pada saat sebelum peledakan dan setelah peledakan.70 mm/detik – 18. l) Umumnya nilai kecepatan rambat gelombang pada lapisan refraktor 3.41 mm/detik. 18.09 meter dengan nilai PPV berkisar antara 16.41 mm/detik (PTBA). n) Dari perhitungan diperoleh jarak minimum batuan yang aman dari kerusakan untuk masing-masing lokasi penelitian adalah 35.5 meter. menunjukkan nilai kecepatan perambatan yang tinggi dibandingkan dua lapisan refraktor 1 dan 2 dan grafik cenderung berhimpitan. BBE) dan 16.

Oleh karena itu jarak minimum dari lereng tambang sebaiknya diluar dari radius tersebut. b) Perlu dilakukan simulasi berulang untuk beberapa variasi kekuatan batuan untuk memodelkan kestabilan lereng yang dipengaruhi oleh kerusakan batuan akibat peledakan ini. saran yang dapat diberikan adalah: a) Berdasarkan kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah areal yang paling beresiko terjadi perubahan struktur batuan berada pada jarak 0 sampai 23 meter dari baris akhir peledakan.108 Berdasarkan kesimpulan pada sub-bab sebelumnya. Perubahan secara horizontal dan vertical dapat dilakukan dengan memperbanyak lobang pengamatan. sehingga akurasi lebih baik lagi. 108 .

Atlas Powder Company. I. Z. Journal of Geology and Mining Research Vol. 177-185. Vol.S. 23-24 August. Barla. Canada. (2009): An Experimental and Theoretical Approach on the Modeling of Sliding Response of Rock Wedges under Dynamic Loading. Montreal. P. 375 . Arief. and Dey. 45(5). and Repetto. Selasa. Dallas.07 juta ton. 3. A. 601-620. http://www. Inst Civil Eng. Calder PN (1970): Open Pit Drilling and Blasting. G. 121-130. Bogdanhoff. Kingston.1007/s00603-009-0043.. Bauer A.. 12 th Int.. Afr. Minchinton A (1996): On the damage zone surrounding a single blasthole. Program Pasca Sarjana. Quebec. Barla. Bauer. K.. Proceedings of Rock fragmentation by blasting. Omer. (2011): DMO batubara tahun 2012 naik 3. p. ICOLD. 23-24 August. 68-73. Ontario. Seminar Mining Engg. S. 8 Swedish Rock Engineering Research. pp. 2(4). Mexico (1976). FRAGBLAST-5.H.. R32. Arora. Q 46. hal. Belytschko. (1973): Engineering Classification of Jointed Rock Masses..apbi-icma. Z..M. (1989): Engineering rock Mass Classifications.DAFTAR PUSTAKA Andersson.T. M. rock mechanics symposium (pp. News. Queen’s University. Black (1999): Elastic Crack Growth in Finite Elements With Minimal Remeshing. (1976): Rapid Site Appraisal for Dam Foundation by Geomechanics Classification. DOI 10. Kumsar.. Montreal. September 13. Bieniawski. CIM Special 30. Quebec. Rock Mechanic Rock Engineering. Aydan. From the Media.T. 335-344.. 9th Int. (1987): Explosive and Rock Blasting. publication. New York. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia.T. FRAGBLAST-5. Bieniawski. pp. Canada. pp 483-501. (Ed) Mohanty. 109 . Bidang Spesialisasi Geomekanika. (Ed) Mohanty. 15. Program Studi Rekayasa Pertambangan. Field Technical Operation. 2011. Large Dams. I. Dept. Congress on Rock Mech.. In 14th Can. T. Paris.com.8% menjadi 82. Blair D. (1997): Permodelan Struktur Alamiah. Canadian Institute of Mining and Metallurgy. C. S. SveBeFo Report No. John-Willey. Proceedings of Rock fragmentation by blasting. Congr. (1996): Vibration measurements in damage zone in tunnel blasting. pp.3–10). (1999): Continuum and discontinuum modeling for design analysis of tunnels. In Proc. and T. Burchell. (1982): Wall control blasting in open pits. International Journal for Numerical Methods in Engineering. (1992): Excavation disturbed zone in tunneling. Bieniawski. Pp. Trans. L. France. Institut Teknologi Bandung. Z. Halil. pp. Stockholm.A. (2010): Estimation of near-field peak particle velocity: A mathematical model. Texas U..406. & Orr. J.

W.W. Ortiz.. P. Li. C. 2. G. (2004): Investigation of blast-induced rock damage and development of predictive models in horizontal drivages.M.. K. Quan-ming.. and Murthy.. Qing-xing. Englewood Cliffs.M. C.. (2005): Analysis of rockfall and blasting backbreak problems. 45-103. NJ 07632. (1991): Investigation of development blasting practices. Dowding. International Journal of Engineering. Rock Fragmentation by Blasting. Dey. The 6th International Conference on Mining Science & Technology. pp. Procedia Earth and Planetary Science 1 (2009) 451– 459... Ferrero. 2002 November 25-28. D. D. W.. V. De-bing.. Forsyth.. K. D. CANMET MRL.V. Springer Science Business Media B. G. The Journal of The South African Institute of Mining and Metallurgy. 33: 185 -222. Gate. Dey. Chun-rui.E. Liu. Unpublished Ph. (Editor)... Prentice-Hall. In Paper ARMA/USRMS.. (2011): Delineating rockmass damage zones in blasting from in-field seismic velocity and peak particle velocity measurement. Gang. Da Gama... & Florez. E. pp.F and Smith.. (2009): The numerical analysis of borehole blasting and application in coal mine roof-weaken. 5. 51-62. (1983): Twenty third Rankine lecturer. 211. (Editors).. M.W. Northwood TD (1960): Experimental studies of effects of blasting on structures. Xu. pp. Mao. p.H. Li-junb. A. 161 166 pp. Choudhury. Inc. Strength of jointed rock masses. Qi. W.C. Edwards AT. (2010): Development of a New Experimental Apparatus for the Study of the Mechanical Behaviour of Rock Discontinuity Under Monotonic and Cyclic Loads. and Moss. (2010): Seismic Yield Accelerations of MSW Landfills by Pseudo-dynamic Approach. M.S. Elsevier. proceedings of the American rock mechanics conference. (1985): Blast Vibration Monitoring and Control. Geotechnique.. Savoikar. . T. FRAGBLAST 4. Vol. (1993): A discussion on the blast induced overbreak around underground excavations.. thesis in Indian School of Mines.E. 6 – 8. Tebaldi. 91 143 pp. Migliazza. G. Science and Technology Vol. B. 671–680. The Engineer. Hoek. 3. ISRM International Symposium on Rock Engineering for Mountainous Regions – Eurock 2002 Funchal. L. R. Forsyth.R. Kang. No. pp. (2002): Prediction of EDZ (Excavation Damaged zone) from Explosive Detonation in Underground Opening. A.110 Brent. Dhanbad. (2000): The detection of blast damage by borehole pressure measurement.

F.L. J. A.T. Liu. (2010): Deformation and Breakage Properties of Crushable Blocky Material. L. (1997): Practical estimates of rock mass strength. Ma.111 Hoek. UK Jimeno.A.. 405 pages. Technology & Medicine. DOI 10. L. Liang. ATM TAC 2002. 267 271. Rotterdam: Balkema. And Khilstrom. R. Hudson. Holmberg. J. (2010): Acoustic Response of Structures to Blasting Analyzed Against Comfort Levels of Residents Near Surface Coal Operations. London. Min. 113-127. Proceedings 3rd International Conference on Stability in Surface Mining.. University of Toronto. Proc. U. and Corkum. 34(8): p. KY . USA: National Highway Institute.. & Carcedo. An. C. DOI 10.. Lubis.1007/s 00603-009-003-5. Inst. 5th.. University of Toronto. ASCE.. and E. E. Zhao. 2nd Edition. Brown. R..1007/s00603-010-0117-3 Li.. 24 Januari 2011. Geotech... Jimeno. Yan. (2010): Comparative Study on Clculation Methods of Blasting Vibration Velocity. Imperial College of Science. E. PA. K. SME-AIME.. Div.. (1993): Comprehensive rock engineering: principles. Y. Metall.. (1981): Case Examples of Blasting Damage and Its Influence on Slope Stability.. S. B. Proceedings of Fourth Conference on explosive and blasting techniques. Hoffman. C... J.. D. B. Hoek.1007/s00603-010-0108-3. L. 106: 1013 1035 Hoek. E. (1980): Design of tunnel perimeter blasthole patterns to prevent rock damage.. Rock Mechanic Rock Engineering. University of Kentucky Mining and Minerals Resources Building. G. Eltschlager.. Engng. New York: Wiley. (2011): Kemandirian Industri Bahan Peledak di Indonesia Mendukung Aktifitas Pertambangan Indonesia. and projects. K. New York. 1165-1186. P.. A. Transc. E. and Persson.. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences.. E. Silva.J. practice..Q. and Brown. (2002): Hoek Brown failure criterion – 2002 edition. C. J. Rock Mechanic Rock Engineering. L. Carranza Toress. (2003): Rock blasting and overbreak control (2nd edition). Rock Mechanic Rock Engineering. and Maki.. Hotel Sultan Jakarta. (1995): Drilling and blasting of rocks. Holmberg. pp. Konya. North American Rock Mechanics Symposium and 17th Tunneling Association of Canada Conference. J. PERHAPI. (1980): Empirical strength criteria for rock masses. pp. J. Lexington.T. B. H. (1979: Swedish approach to contour blasting. Xing. DOI 10. (2009): Analysis of Wave Propagation Through a Filled Rock Joint.: A37 A40. Holmberg. E. (1973): The Modern Technique of Rock Blasting. R. Langefors. Lusk. Li. OSM Report. FHWA-HI-92-001. Persson.

Murthy VMSR.C. (2003a): The 2002 International EDZ Workshop: The excavation damaged zone – cause and effects. Germany. Proceedings of the 2002 International EDZ Workshop.. M.. Pennsylvania Martino. Martino. J. p A75-A80 Morris J. Pittsburgh. (1986): Perimeter controlled blasting for underground excavations in fractured and weathered rocks. (2003b): The excavation damaged zone and recent studies at the URL. Tectonophysics. M. Heuze F. Mark C. 38(7): 10351045. Maxwell. Monjezi. July 7 to July 10. Yazdian. pp.B.T. Canada. 105. Toyra J. International Journal of Rock Mechanics & Mining Sciences. (2001): A numerical study of cryogenic storage in underground excavations with emphasis on the rock joint response. Monsen. J.P. Bonn.. 609-616. Transactions of The Institution of Mining and Metallurgy. A. S. and Barton. N. Pittsburgh. September 11 14. Fragmentation and rockmass damage assessment Sunburst excavator and drill and blast. Malmgren L... J Appl Geophys 61(1):1–15. Dunn PG (1995). R. Martin A. (2001): Best Practice to Mitigate.. Blair S. and Beatty.F.. Expert Systems with Applications 37 (2010) 2637–2643. S. A. Meyer T. Vol. Saiang D.B. (2003): Comparative Study of Structure Response to Coal Mine. Dey K (2002): Prediction of Overbreak in Underground Tunnel Blasting – A Case Study. Elsevier Ltd.B.T. Assoc.. XXIII(4): 461 478.C. Injuries and Fatalities from Rock Falls.. Office of Surface Mining Reclamation and Enforcement Appalachian Regional Coordinating Center. N. 1499-1506. Bull. Sweden—by seismic measurements. Martino (Editor). Bodare A (2007): The excavation disturbed zone (EDZ) at Kiirunavaara mine. In: J. Geol. North American Rock Mechanics Symposium2002. Proceedings North American Rock Mechanics Symposium. et. 289(13): 17 30. pp. Toronto. NIOSH. Mojtabai. Glenn... L.112 MacKown. . . Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001..al. Rezaei. PA.. (1995): An Empirical Approach to Assessment of and Prediction of Damage in Bench Blasting.. and Young. Iannacchione A. Toronto. (2009): Prediction of backbreak in open-pit blasting using fuzzy set theory. Engg. Atomic Energy of Canada Limited. K. International Workshop Meshfree Methods of Partial Differential Equations.. (1998): Propagation effects of an underground excavation. (2001): The Distinct Element Method Application to Structures in Jointed Rock.

P. Ricketts. on Explosive and Blasting Res. (2009): The Dynamic Responses of Geo-Materials during Fracturing and Slippage. pp. and Lee. (2000): Rock mass damage from underground blasting.L. Explosive Engg. (1991): Overbreak control in VCR stopes at Homestake mine. Ramulu. NorthWestern University. L. Canada. R. New York. DOI 10. pp. T. (1988): Estimating underground mine damage produced by blasting.A. H.. Pusdatin-ESDM. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences. (Ed) Mohanty.1007/s00603-0100095-4.. L.. Potyondy. (2011): Statistik Batubara (2004 – 2011). R. 19.K.L. Montreal. Anaheim. O.113 Ohta. Lizotte Y.. FRAGBLAST International Journal for Blasting and Fragmentation. and Cundall. Scoble M. P.E.esdm... Dec. Publikasi Kementrian Rai. 244 285 pp Plis. Oriard. D. 17th Conference on Explosives and Blasting Res. J. Proceedings of Fifth International Symposium on Rock Fragmentation by Blasting...K. D. a Master Theses Field of Civil Engineering. Wattimena. Y. Licentiate Thesis Thesis. M. Raina.V. Quebec. and Jethwa.. CRC. (1982): Influence of Blasting on Slope Stability.. (2004): A bonded particle model for rock. Holmberg.A.N. . IL Paventi M. pp. Mohanty B (1996): Measuring Rockmass Damage in Drifting. Persson. California... Fletcher. Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang. FRAGBLAST-5..K.. S. Saiang..go. CIM Bulletin.A. (2005). J. Energy dan Sumberdaya Mineral. V. and Sterk.id. Ozer. a literature review. Proceedings 3rd International Conference on Stability in Surface Mining. Soc. pp. M. 131-138.J. Kramadibrata. August 23-24. 78(884): 63-68. State of the Art.O. Rock Mechanic Rock Engineering. Rustan. 115.. LN. Institut Teknologi Bandung. 4: 103 125. 4th Mini Symp. A.. Luleå University of Technology. Wireless Sensor Networks for Crack Displacement Measurement. (1996): Rock Blasting and Explosives Engineering. Tokyo. 121 pp. A.. Catatan Kuliah. SME-AIME. (2004): Damaged Rock Zone Around Excavation Boundaries and its Interaction with Shotcrete. Evanston. Aydan. (2011): TA 3111-Mekanika Batuan. 41(8): 1329 1364. M. Stachura. ISEE. 43-87. P. www. and lab and full scale tests to estimate crack depth by ultrasonic method. (1985): Controlled blasting in hard intense jointed rock in tunnels...R.. Chakraborty.

and Barton. Shimada. (1980): Structure Response and Damage Produced by Ground Vibration from Surface Mine Blasting. (1997): Disturbed zone around tunnels in jointed rock masses. Sato. Siskind. L.. D. US Bureau of Mines Report of Investigation. Depertment of Civil. E. Sitharam. Japan. D... Lee. US Bureau of Mines Report of Investigation...V. Mining Engineering (June): 103-108.. T.E. N. D. Paventi. Simangunsong. Tham. Stachura. China. K. C. and Sugihara. Mining and Environmental Engineering. J. Kubota.. Sheng. First International Symposium on Explosion. (1989): Comparative Study of Blasting Vibration from Indiana Surface Coal Mines. Damaged rock zone around excavation boundaries. Stagg...C.. Shen. 38: 437 448. Z. Luleå University of Technology. M..E. D. and Shimizu. (1987): Low-Frequency Vibration Produced by Surface Mine Blasting over Abandoned Undergrounds Mines. M. Siskind. Crum. Kopp. Engineering Geology.114 Saiang. (2004): Field Investigation of Blast-Induced Damage of the Sedimentary Strata Rock Mass at PT Kaltim Prima Coal. US Bureau of Mines Report of Investigation. J. Bulettin RI 9226. Bulettin RI 8507. dan Dowding. Matsui. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences.F. Nutting. Stagg. Kikuchi.. Saiang.. C.. Y. D.V. G. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences.H.M.J. S. Technical Report... D. K. and Mohanty. A progress report to Banverket. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences. Scoble.A progress report. S.Q. (2001): Practical equivalent characterization of jointed rock mass. Otterness. B. 39(2): 165 184.S.E. Q. S. 34(1): 117 125. Yulianto.. H.G. (1997): Measurement of blast damage. T. US Bureau of Mines Report of Investigation. T.. Wave and Hypervelocity Phenomena (1st ESHP Symposium). 56(1 2): 97 108.. (2008).. Kramadibrata. March 15-17.E. N.S. Damage Rock Zone Study . Kumamoto University. Siskind. H. Shock. Yue. central Japan. E. (2002): Estimating the excavation disturbed zone in the permanent shiplock slopes of the Three Gorges Project.J.W. Division of Rock Mechanics & Rock Engineering...W. J. B. Bulettin RI 8969 Siskind. Lizotte.. M... . Kopp. Sridevi. M.. (2008b). and Zhou.B. M. (2000): In situ experiments on an excavation disturbed zone induced by mechanical excavation in Neogene sedimentary rock at Tono mine. division of rock mechanics. Lulea University of Technology.G... Y. (1985): Blast Vibration Measurement Near and On Structure Foundation. J. Bulettin RI 9078.. Ogata. Indonesia’.

Canada. S. 89(998): 139 145. Katsabanis.. and Orr. 137-144.S. pp. Stagg. Van Gool.. C3TS Project No..S.... NorthWestern University. Plis. pp 1671-1692. Austria 5-8 July.. M. Bulettin RI 9523.R. Dissertation Thesis for the degree of Doctor of Philosophy in the School of Engineering. Canada. (2001): Bayesian estimation of rock mass boundary conditions with applications to the AECL underground research laboratory. B. (2000): Assesment of Blast Vibration Impact from Quarry Blasting in Dade County. a Master Theses Field of Civil Engineering. Kolokium Pertambangan 2009. D. B. Dwyer... James Cook University. 38(7): 995-1027. Stagg. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA.. S. Bulettin RI 9455. (2007): Use of a 3 D scanning laser to quantify dift geometry and overbreak due to blast damage in underground manned entries. RL. Belytschko (2008): Parametric enrichment adaptivity by the extended finite element method. Young. US Bureau of Mines Report of Investigation. Morrison (Editors). Evanston. Amadei. and T. US Bureau of Mines Report of Investigation.. and Collins. Vienna. (1994): Surface Mine Blasting near Pressurized Transmission Pipelines. London.. . D. Waisman.J. Pan. M. P. WF. Tonon. Eberhardt.V...S. Bandung. Rock Mechanics: Meeting Societys Challenges and Demands. P. Vancouver. T.N. and Frangopol. In: E.115 Siskind.. Warneke. (1993): Blast Vibration and other Potential Causes of Damage in Homes near a Large Surface Coal Mine in Indiana. M.. 38(6): 787 799. D. 1322-01. S.G.E. (2001): Seismic studies of rock fracture at the Underground Research Laboratory. D.E.P. F. Crum. J.. 93-100. Yu. Siskind. Rocque.E.. (2007): Effect of Blasting on the Stability of Paste Fill Stopes at Cannington Mine. Vol. Mujahidin. (1996): New blast damage criteria for underground blasting. J. CIM Bulletin. (Ed) Rossmanith. International Journal for Numerical Methods in Engineering. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences. (1993): Blast damage study by measurement of blast vibration and damage in the area adjacent to blast hole. J. Astika. Zulfahmi.L. H. Waldron. Blast Vibration Damage Assessment Study and Report. T. (2006): Residential Crack Response to Vibrations from Underground Mining. Taylor & Francis Group.M. 73. D.. H. Yang. pp. FRAGBLAST – 4.. D.. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences. Schulz. Proceedings of Fourth International seminar on Rock Fragmentation by Blasting.S. Stead and T.E. (2009): Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah. Wiegand.. D. E. R. Bawden. IL. and Vongpaisal. Siskind. M.

116 .