Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFERAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

JULI 2015

NEVUS PIGMENTOSUS

Gustavita Maria Bandong


K1A2 11 034

SUPERVISOR
dr. Shinta Novianti Barnas, Sp.KK, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2015

NEVUS PIGMENTOSUS
Gustavita Maria Bandong, Shinta Novianti Barnas
1. Pendahuluan
Nevus pigmentosus adalah tumor jinak yang terdiri dari melanosit, sel-sel
penghasil pigmen yang berkoloni di epidermis. Melanosit berasal dari neural
crest dan bermigrasi ke ektodermal (terutama kulit dan sistem saraf pusat)
selama embriogenesis, juga ke mata dan telinga. Melanosit ektopik telah
diidentifikasi di saluran pencernaan dan saluran genitourinari.1 Nevus
pigmentosus (nevomelanocytic nevi, tahi lalat) dapat ditemukan pada semua
umur, dengan frekuensi sama pada pria dan wanita. 2 Nevus pigmentosus
merupakan tumor jinak yang sangat sering ditemukan. Bentuknya berupa
makula, papul, atau nodul berpigmen yang berukuran kecil (biasanya <1cm),
berbatas tegas. Hampir setiap orang mempunyai nevus, sedangkan nevus yang
mengalami perubahan mempunyai risiko 400 kali lebih tinggi untuk menjadi
ganas. 3
2. Definisi
Nevus pigmentosus adalah tumor jinak yang terdiri dari melanosit, sel-sel
-

penghasil pigmen yang berkoloni di epidermis. 1


Nevus pigmentosus (Common Moles, Nevocellular

nevi,

Moles

Pigmentosus) adalah tumor jinak melanosit yang terlokalisir.4


Nevus pigmentosus adalah proliferasi sel-sel melanosit (juga dikenal
sebagai sel-sel nevus) tersusun dalam sarang-sarang di epidermis, dermis
atau di jaringan lainnya. 5
Klasifikasi berdasarkan tempat berkumpulnya melanosit yang abnormal

dapat dilihat pada tabel. 4


Klasifikasi nevus pigmentosus

Nevus pigmentosus kongenital


Nevus pigmentosus didapat
Nevus junctional
Nevus compound
Nevus intradermal
Nevus Spitz
Nevus biru (blue naevus)
Atypical melanocytic naevus
3. Etiologi
Penyebab tidak diketahui. Faktor genetik kemungkinan terjadi pada
banyak orang, dan paparan sinar matahari pada masa kanak-kanak.4 Sel-sel
nevus kulit berasal dari neural crest, sel-sel ini membentuk sarang-sarang
kecil pada lapisan sel basal epidermis dan pada zona taut dermo-epidermal.
Sel-sel ini membelah dan masuk dermis dan membentuk sarang-sarang pada
dermis. 3
Paparan ultraviolet diduga merupakan faktor pencetus timbulnya nevus
pigmentosus, hal ini dilihat dari beberapa individu asal Eropa utara, terutama
yang berasal dari Jerman, Belanda, Belgia, dan Inggris, tidak jarang memiliki
nevus besar (diameter terbesar 1 cm), sering dalam jumlah banyak (> 50,
hingga beberapa ratus), dengan warna merah-coklat. Nevus ini disebut nevus
atipikal atau nevus displastik. 1,6
4. Epidemiologi
Mortalitas / Morbiditas
Jika nevus pigmentosus stabil secara biologis, lesi benar-benar jinak.
Namun, nevus pigmentosus dapat berhubungan dengan melanoma. Frekuensi
perubahan nevus pigmentosus menjadi melanoma tidak diketahui, beberapa
data menunjukkan bahwa 40% dari melanoma berhubungan dengan prekursor
nevus pigmentosus. 1

Nevus pigmentosus yang didapat dan nevus pigmentosus kongenital


memiliki risiko untuk menjadi melanoma. Nevus pigmentosus kongenital
memegang risiko yang lebih besar, terutama nevus pigmentosus kongenital
raksasa. Hal ini disebabkan karena jumlah melanosit dalam lesi lebih banyak,
dan dengan demikian kemungkinan peristiwa transformasi lebih besar. Nevus
pigmentosus kongenital raksasa sering memiliki dua implikasi, yaitu secara
biologis dan kosmetik. Beberapa data menunjukkan 5% dari kasus nevus
pigmentosus kongenital raksasa dapat berubah menjadi melanoma. 1
Ras
Nevus pigmentosus lebih sering pada pasien kulit putih dibandingkan pada
kulit hitam. Perbedaan prevalensi ini sebagian disebabkan oleh kenyataan
bahwa mengidentifikasi tahi lalat di pasien kulit hitam sering sulit, terutama
jika lesi makula (datar). 1 Ras Asia dan kulit gelap memiliki lebih banyak
nevus pada telapak tangan, telapak kaki, dan kuku.6
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa sebagian Nevus pigmentosus
distimulasi oleh paparan sinar matahari. Jika demikian, individu dengan kulit
gelap mungkin memiliki nevus yang sedikit karena sifat protektif dari
melanin. Bukti menunjukkan bahwa tabir surya spektrum luas menghambat
pengembangan/evolusi Nevus pigmentosus saat digunakan pada anak-anak.
Oleh karena itu, orang yang berkulit gelap mungkin memiliki perlindungan
terhadap pengembangan nevus karena melanisasi kulit. 1
Usia dan Jenis Kelamin
Pada kasus nevus pigmentous, insiden yang terjadi adalah 8-15 % dari
seluruh jumlah penduduk yang ada dan sebagian kecil yang bisa menjadi

malignan. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan sama dan dapat


terjadi pada semua umur. 1
5. Patofisiologi
Melanosit berada dalam lapisan basal epidermis. Non neoplastik melanosit
biasanya menunjukkan inhibisi kontak satu sama lain, dan dengan demikian
sel melanosit biasanya tidak ditemukan bersebelahan. Dengan bentuk-bentuk
stimulasi tertentu, seperti radiasi ultraviolet, kepadatan melanosit di epitel
normal dapat meningkat. Melanosit normal mungkin juga melibatkan epitel
adneksa, terutama ujung papila folikel.1
Nevus pigmentosus merupakan proliferasi melanosit yang berdekatan,
membentuk kumpulan kecil sel-sel yang dikenal sebagai sarang. Nevus
pigmentosus biasanya terbentuk pada usia dini. Salah satu faktor pemicu yang
diyakini adalah paparan sinar matahari (ultraviolet). Namun, faktor genetik
juga jelas terlibat dalam perkembangan beberapa jenis nevus pigmentosus.

Beberapa generasi (keturunan) mengekspresikan kondisi dominan autosomal


(yang disebut sindrom nevus displastik atau familial atypical multiple mole
dan sindrom melanoma), di mana anggota keluarga memiliki banyak nevus
yang berukuran besar, kadang-kadang ratusan, tersebar di kulit. 1
Nevus pigmentosus yang didapat (acquired melanocytic nevi) dianggap
neoplasma jinak. Sebaliknya, nevus pigmentosus kongenital kemungkinan
dapat diartikan sebagai cacat bawaan. Melanosit berasal dari neural crest, dan
nevus bawaan mungkin merupakan bentuk kesalahan dalam pengembangan
dan migrasi unsur neuroectodermal. Bukti kesalahan migrasi embriologis
dapat dilihat secara histopatologi pada nevus pigmentosus kongenital raksasa.
Dalam hal ini, melanosit dapat didistribusikan ke seluruh dermis, sekitar dan
di dalam dinding pembuluh darah, sekitar struktur adneksa seperti folikel

rambut, dalam subkutis, dan kadang-kadang dalam otot lurik, otot polos, saraf,
atau kelenjar sebaseus. 1
6. Manifestasi Klinik
Nevus pigmentosus dapat terjadi di semua bagian kulit tubuh, termasuk
membrana mukosa dekat permukaan tubuh. Lesi dapat datar, papuler. atau
papilomatosa, biasanya berukuran 24 mm, namun dapat bervariasi dari sebesar
peniti sampai sebesar telapak tangan. Pigmentasinya juga bervariasi dari
warna kulit sampai coklat kehitaman. 3
Nevus yang ada sejak lahir didefisinikan sebagai nevus pigmentosus
kongenital. Beberapa ilmuwan juga memasukkan nevus pigmentosus dalam
kategori kongenital jika nevus timbul sebelum 6 bulan setelah kelahiran. 5
Menurut ukurannya dapat dibagi menjadi 2 kelompok : lesi kecil bila diameter
nevus lebih kecil dari 1,5 cm sampai dengan 20 cm, dan lesi luas (giant) bila
bergaris tengah lebih dari 20 cm. 3

Gambaran nevus pigmentosus kongenital raksasa (>20cm)

Nevus pigmentosus didapat biasanya berukuran kurang dari 1 cm (sering


<6mm), dengan permukaan yang halus dan teratur. bergantung pada ukuran dan
elevasi, nevus pigmentosus yang didapat bisa terlihat sebagai makula, papul atau
nodul.5 Secara histologis nevus pigmentosus dapat dibagi menjadi nevus
intradermal; nevus junctional; dan nevus campuran. Secara klinis bentuk-bentuk
ini susah dibedakan. Nevus junctional biasanya berwarna coklat kehitaman
berbentuk makula. Lesi yang sedikit menonjol, warna coklat, dan berbentuk papul

atau nodul merupakan nevus campuran, sedangkan nevus intradermal hampir


selalu mempunyai tangkai hampir dan tidak memiliki warna yang spesifik.6,7
Nevus junctional
Secara umum tidak berambut, makula terang sampai coklat kehitaman, ukuran
bervariasi dari 1 mm sampai 1 cm (diameter), permukaan halus dan rata. Lesi
biasanya berbentuk bulat, elips, ada yang berbentuk kecil, irregular. Lokasi sering
di telapak tangan, telapak kaki dan genitalia. Nevus junctional jarang didapatkan
setelah lahir dan biasanya berkembang setelah berumur 2 tahun.

Nevus Junctional 7
Nevus Campuran (Compound)
Hampir sama dengan nevus junctional tetapi sedikit menonjol dan ada
yang berbentuk papilomatous. Warnanya seperti warna kulit sampai berwarna
coklat. Permukaan halus, lokasi banyak di wajah dan biasanya ditumbuhi rambut.
Sel nevusnya barada pada epidermis dan dermis.

Nevus campuran (compound) 7


Nevus intradermal
Bentuk papul (kubah), ukuran bervariasi dari beberapa mm hingga 1 cm
atau lebih (diameter). Lokasi dimana-man tetapi paling banyak di kepala, leher
dan biasanya diumbuhi rambut kasar, berwarna coklat kehitaman. Sel nevusnya
berada pada dermis.

Nevus Intradermal7
Pada dasarnya nevus pigmentous tidak memberikan gejala-gejala apabila
nevus tersebut jinak, terkecuali jika nevus pigmentous tersebut bersifat ganas
maka akan timbul gejala-gejala seperti ;

Lesi di kulit kepala, mukosa, anogenital;


Tumbuh cepat;
Warna bervariasi;
8

Tepi ireguler;
Erosi di lesi tanpa trauma mayor;
Gatal persisten, sakit, berdarah;
Dermoskopi: melanoma atau displastik. 3

Nevus pigmentosus yang didapat mengikuti aturan nevus ABCD (A symetry, B


order irregularity, C olor variation, size/D iameter, dan E vulationary change).
Adanya penyimpangan dari petunjuk ini maka perlu mendapat perhatian. Dalam
hal ini perlu dilakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi.6
Nevus Pigmentosus Displastik (Atypical Melanocytic Nevi)
Nevus pigmentosus displastik adalah nevus pigmentosus didapat yang
berproliferasi di kulit dengan tampilan klinis dan histologik yang berbeda. Ukuran
nevus displastik bervariasi, tetapi biasanya lebih besar dibanding dengan nevus
biasa. Tetapi menurut pengalaman, nevus displastik ada yang berukuran kurang
dari 3 mm dan bentuk ini mencapai 30% dari keseluruhan nevus displastik.
Nevus pigmentosus displastik berbentuk makula, dan/atau papul yang
ireguler, batas yang tidak jelas,

bervariasi dari warna coklat hingga hitam

kecoklatan dengan dasar yang eritematous. Pemeriksaan lesi berpigmen


menggunakan lampu Wood atau dermoskopy (mikroskop epiluminens) dapat
mempertajam deteksi klinik dan membantu diagnosis lesi berpigmen jinak,
suspek, dan lesi yang ganas. 8

Nevus displastik4
Nevus Biru (Blue nevi)
Disebut nevus biru karena warnanya yang abu-kebiruan menyolok. Nevus
biru biasanya muncul pada masa kanak-kanak dan remaja di ekstremitas, bokong,
dan punggung bawah. Biasanya tunggal.4 Pada umumnya nevus biru berukuran
kecil (<1 cm). Berbentuk makula, papul, atau plak, biasanya berlokasi di kepala,
leher, regio presakral, atau distal ekstremitas.9

Nevus biru 4

Nevus Spitz

10

Nevus spitz merupakan varian nevus pigmentosus yang yang secara klinis dan
histologi berbeda, terdiri dari kumparan (spindle) dan/atau epiteloid melanosit.
Gambaran nevus spitz meliputi varian junctional, compound/campuran, dan
intradermal. Nevus spitz pada umumnya muncul pada kulit kepala dan leher atau
pada ekstremitas (lebih sering pada ektremitas bawah). Biasanya nevus spitz
tampak tunggal, lunak, batas jelas, tidak ada luka (non-ulcerted), papul berbentuk
kubah, biasanya berukuran kurang dari 6-10mm (diameter) (sangat jarang sampai
3 cm) dan berisi gambaran warna merah muda-merah-coklat-coklat terang-coklat
kehitaman didalamnya. 10

Nevus Spitz 4

Sindrom Nevus Epidermal


Sindrom nevus epidermal (SNE) atau disebut juga organois nevus
phakomatosis, Schimmelpenning, sindrom Feuerstein dan Mini serta sindrom
Solomon merupakan suatu sindrom kongenital didapat yang diturunkan secara
autosomal dominan. Penyakit ini ditandai adanya kelainan kulit berupa nevus
epidermal yang berhubungan dengan berbagai kelainan pada sistem organ lain
yaitu susunan saraf pusat, skeletal, kardiovaskular, mata dan urogenital.3

11

Penyebab SNE belum diketahui dengan pasti, namun diduga karena


adanya kesalahan migrasi dan perkembangan jaringan embrionik atau terjadinya
kesalahan pada proses pemisahan ektoderin dari neural tube. 3
Penyakit ini lebih sering disertai dengan kelainan skeletal, saraf dan mata.
Kelainan skeletal ditemukan pada 15-70% pasien, kelainan neurologik ditemukan
pada 15-50% pasien dan kelainan mata ditemukan pada 9-30% pasien. Sindrom
nevus epidermal merupakan suatu kasus yang jarang ditemukan. Angka
kejadiannya hanya 16% dari seluruh kasus nevus epidermal. Penyakit ini dapat
ditemukan sejak lahir hingga usia 40 tahun dengan perbandingan yang sama
antara laki-laki dan perempuan. 3
7. Histopatologi
Secara histopatologi dikenal nevus junctional, nevus compound dan nevus
dermal. Seperempat sampai sepertiga kasus melanoma maligna dikatakan
berasal dari nevus pigmentosus. Tipe nevus penting diketahui untuk
menentukan prognosis. Dari ketiga tipe nevus, dikatakan bahwa nevus
junctional lebih mempunyai potensi untuk menjadi ganas. 3
Pada nevus junctional didapatkan sarang-sarang sel nevus pada epidermis
bagian bawah atau menonjol ke dermis. Sel nevus berbentuk kuboid, tersebar
difus. Pada nevus campuran, terdapat sel nevus sedikit pada epidermis dan
beberapa sel nevus sudah mulai turun kedalam dermis (dropping off). Pada
nevus intradermal, sel-sel nevus tampak kompak di dalam dermis,
bergerombol membentuk pulau-pulau sel nevus. 2

12

Nevus pigmentosus junctional dengan sarang-sarang melanosit yang


halus/lunak6

Nevus pigmentosus campuran dengan sarang-sarang melanosit yang


halus/lunak di zona taut dermo-epidermal 6

Nevus pigmentosus intradermal dengan sarang-sarang melanosit berada


di dalam dermis6
13

Pemeriksaan histopatologi selain memerlukan waktu, juga tidak semua


pasien setuju untuk dibiopsi. Pada keadaan biopsi tidak dapat dilaksanakan,
diperlukan suatu cara untuk lebih mendekati diagnosis histopatologi.
Berdasarkan hal tersebut maka dikembangkan alat yang disebut surface
microscopy dengan menggunakan tehnik mikroskop epiluminesen. Tehnik ini
non invasive yang memungkinkan untuk melihat secara in vivo gambar
histomorfologi kulit dan memberikan harapan bagi para klinisi untuk
membuat diagnosis kelainan pigmentasi kulit secara lebih akurat. Apabila
gambaran klinis nevus bisa dipertajam dengan tehnik epiluminesen, maka
banyak manfaat yang akan didapat.3
8. Diagnosis Banding
1.
2.
3.
4.
5.

Melanoma maligna
Nevus biru
Nevus sel epiteloid dan atau nevus spindel
Keratosis seboroika: permukaan licin, lebih hitam,
Nevus keratosis: permukaan tidak rata, warna agak coklat 7

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan nevus biasanya sehubungan dengan segi kosmetik,
ataupun adanya kemungkinan nevus berubah menjadi suatu keganasan.
Kebanyakan lesi melanositik tidak membutuhkan terapi khusus. Pengangkatan
nevus melalui teknik biosi eksisi ataupun shave eksisi electro dessication atau
ekstipasi elips komplit (tergantung pada ukuran, bantuk dan lokasi lesi).

10. Prognosis
Pada umumnya baik. Tetapi pada nevus junctional dan nevus compound
harus mendapat perhatian karena ada kemungkinan berubah menjadi ganas.3

14

DAFTAR PUSTAKA
1. McCalmot, Timothy. 2013. Melanocytic Nevi. Journal of Cutaneos Pathology.
San Fransisco.
2. Siregar, RS. 2013. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, E/2. Jakarta: EGC.

15

3. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. 2008.
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th Edition. New York:
McGraw Hill. p 1054-67.
4. Weller R, Hunter J, Savin J, Dahl M. 2008. Clinical Dermatology . 4th Edition.
Australia: p297-294.
5. Viana ACL, Gontijo B, Bittencourt F. Giant congenital melanocytic nevus. AN
Bras Dermatol. 2013; 88 (6):863-78
6. Leleux TM. Pathology of Benign

Melanocytic

Nevi:

overview,

pathophysiology, and etiology, epidemiology. Medscape Reference. 2013.


7. Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. 2007. Fitzpatricks Dermatology Atlas.
McGraw-Hills.
8. Curry JL. Pathology

of

Dysplastic

(Atypical)

Melanocytic

Nevi.

http://emedicine. medscape.com/article/1960604-overview. 2013 Oct 30.


9. Gerardo F, Argenziano G. 2007. Blue Nevus. ColorAtlas of Melanocytic
Lesions of the Skin. New York: Springer.
10. Fung MA. Pathology of spitz nevi: overview, pathophysiology and etiology,
epidemiology.

http://emedicine.medscape.com/article/1963323-overview.

2013 Jun 06.

16