Anda di halaman 1dari 6

BAB VI

PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

Jarak antara dua buah titik dimuka bumi dalam ukur tanah adalah merupakan jarak
terpendek antara kedua titik tersebut tergantung jarak tersebut terletak pada bidang
datar, bidang miring atau bidang tegak. Pada bidang datar disebut jarak datar, pada
bidang miring disebut jarak miring sedang pada bidang tegak disebut jarak tegak/tinggi.
Cara pengukuran jarak, dibagi dalam:

V.1. Pengukuran Jarak Langsung


Jarak didapat langsung tanpa melalui perhitungan, pada pengukuran jarak langsung
digunakan alat utama dan bantu. Alat-alat utama, antara lain adalah :
1. Pita ukur, alat ukur jarak yang material utamanya terbuat dari fiber, plastik, atau
campuran dari padanya.
2. Pegas ukur, material utama terbuat dari plat baja.
3. Rantai ukur, terbuat dari rantai baja.
Panjang alat-alat tersebut umumnya dari 30m, 50m dan 100m dengan lebar antara 1 cm
sampai 2 cm. tebal antara 0.1mm sampai 0.2mm, pembagian skala bacaan dari skala
terkecil mm sampai dengan skala terbesar m.

Universitas Gadjah Mada

Gambar V.1. Macam alat utama


Alat-alat bantu, pengukuran jarak langsung antara lain adalah :
1. Jalon atau anjir adalah tongkat dari pipa besi dengan ujung runcing (seperti lembing)
panjang antara 1.5m sampai 3m, diameter pipa antara 1.5cm sampai 3cm dicat merah
dan putih berselang-seling. Jalon ini berguna pada pelurusan dan untuk menyatakan
adanya suatu titik dilapangan pada jarak jauh.
2. Pen ukur, adalah alat untuk memberi tanda titik sementara dilapangan. Terbuat dari besi
dengan panjang 40m dan runcing diujungnya dan ujung lain lengkung.

Gambar

Gambar V.2. alat-alat bantu pengukuran jarak langsung.


3. Unting-unting : alat untuk membantu memproyeksikan suatu titik terbuat dari besi atau
dari kuningan.
4. Water pas tangan : alat bantu untuk mendatarkan pita ukur.

Universitas Gadjah Mada

5. prisma dan kaca sudut: alat bantu untuk menentukan sudut 900/ siku.siku
V.2. Pengukuran jarak langsung pada lapangan datar.
Pada pengukuran jarak Iangsung, dimana jaraknya tidak dapat diukur dengan satu kali
bentangan pita ukur, maka pelaksanaannya terdiri dari:

a. Pelurusan

: menentukan titik-titik antara, sehingga terletak pada


satu garis lurus (terletak pada satu bidang vertikal)

b. pengukuran jarak.
Misal akan diukur jarak antara titik A dan Titik B, seperti pada gambarar berikut :

Gambar V.3. Pengukuran jarak mendatar


Pelaksanaan pelurusan
1. Tancapkan jalon dititik A dan dititik B
2. Orang I berdiri dinelakang jalon di A, dan orang II dengan membawa jalon
disekitarnya titik a, dengan petunjuk orang I orang II bergeser kekanan/kekiri sampai
dicapai orang II di a, bahwa jalon di A di a dan jalon di B tampak jadi satu/ berimpit
kemudian jalon di a diganti dengan pen ukur. Demikian pada dilakukan dititik-titik b,
c dan seterusnya.
Pelaksanaan Pengukuran Jarak.
1. Bentangkan pita ukur dari A ke a, skala 0 m diimpitkan pada titik A dan pada saat
skala pita ukur tepat dititik a, baca dan catat, misal terbaca d1 m.
2. lakukan hal yang sama antara a ke b, misal terbaca d2 m. demikian terus sampai ke
bentangan antara c ke b.
3. Jarak AB adalah penjumlahan dari jarak jarak tadi; AB = di+d2+d3+d4.
4. Pengukuran jarak dilakukan dua kali, dari A dan B disebut pengukuran persegi dan
pengukuran pulang dari B ke A.
5. Jarak AB adalah jarak rerata pengukuran persegi dan pengukuran pulang.
V.3. Pengukuran Jarak langsung pada lapangan miring.
Pelaksanaan pelunasan :
Pelaksaan pelunasan pada dasarnya sama saja dengan pelunasan pada lapangan datar
misal diukur jarak AB pada lapangan miring.

Universitas Gadjah Mada

Gambar V.4. Pengukuran Jarak datar pada bidang miring


Pelaksanaan pengukuran

a. Bentangkan pita ukur secara mendatar dari A ke atas titik a dengan perantaraan
nivo, gantungkan unting-unting diatas titik a. Unting-unting yang menyinggung pita
ukur misal terbaca dim (lihat gambar)

b. Pekerjaan tersebut dilakukan oada penggal-penggal jarak ab, bc dan cb.


c. Pengukuran jarak dilakukan dari A dan B dan dari B ke A. dan hasil akhir adalah
harga rerata.

Gambar V.5. Pembacaan skala pita ukur dengan bantuan tali unting-unting.
V.4. Pengukuran jarak yang terhalang
1. Bila titik A dan B terhalang kolam

Gambar. V.6 Jarak AB terhalang

Universitas Gadjah Mada

Proyeksikan B pada C garis yang melalui A dititik C ukur jarak A/C dan jarak BC :
Jarak AB = AC2+BC2
3. Bila titik A dan B tepat di tepi bangunan

Gambar V.6. A,B Ditepi Bangunan

Pelaksanaan pelurusan AB

a. buat garis L1 lewat titik A, tentukan titik 1 lubangkan 1B sebagai garis m1.
b. Pada garis m1 tentukan titik 2 dan hubungkan A2 sehingga terbentuk garis 12 .
c. Tentukan titik 3 pada 12, hubungkan 3B sehingga terbentuk garis m2.
d. Pekerjaan tersebut dilanjutkan sampai didapat.
Titik 5-4-B satu garis dan
Titik 4-5-A satu garis berarti
Titik A-5-4-B satu garis lurus
Selanjutnya pengukuran jarak AB
V.5. Sumber-sumber kesalahan dan kesalahan pada pengukuran jarak.
1. Panjang pita ukur tidak standar (I)
2. Suhu yang tidak baku (a)
3. Tarikan yang tidak tetap (p)
4. Pelurusan yang tidak baik (p)
5. Pita tidak mendatar (p)
6. Pemasangan unting-unting tidak tepat
7. salah menandai
8. salah baca
9. Lenturan pita ukur.
V. 6. Beberapa kasus pengukuran jarak
Bisa disebutkan pengukuran jarak langsung yang melintasi sungai, ataupun
pengukuran jarak langsung yang lurus melewati cekungan/lembah. Kemungkinan lain
adalah pengukuran jarak seperti pada soal no.2 adalah:
Soal-soal
Universitas Gadjah Mada

1. Mengapa diperlukan pelurusan pada pengukuran jarak dengan pita ukur?


Terangkan!
2. Uraikan pelurusan pengukuran jarak AB pada kondisi berikut.

Universitas Gadjah Mada