Anda di halaman 1dari 6

Memerintah Diri

Bung Hatta pernah usul, beberapa gelintir orang itu jangan disebut pemerintah, tapi pengurus.
Jadi, tugas mereka bukan memerintah tapi mengurusi rakyat. Tentu saja usul itu tak disukai.
Memberi perintah lebih mudah, semacam raja, lalu terima beres. Mengurusi rakyat berarti pelayan.
Siapa mau ?
Sialnya, manusia (= rakyat) lebih manut bila diperintah orang daripada diperintah diri sendiri.
Mencuri itu tidak baik, tapi bisakah setiap penduduk memerintah dirinya seindiri agar tak mencuri ?
Dibutuhkan perintah berupa aturan : Dilarang mencuri. Awas ! Rakyat patuh. Karena itu beberapa
gelintir yang menyebut dirinya pemerintah seolah mendapat angin, duduk di atas kepala rakyat,
sebagai pemerintah, sebagai penguasa.
Benarkah sulit patuh pada diri sendiri ? Memang, tetapi bukan berarti tidak bisa. Cuma, perlu
latihan.
Erje (17/6) pada kolom Catatan Minggu berjudul Menuju Sukses, memicu diksusi, perlu
paparan. Sukses itu butuh dua syarat : Kemujuran, dan Keinginan. Kemujuran, adalah penyerahan
penuh khidmat ke hadapan penentu hidup, Allah SWT. Tetapi syarat sukses lainnya, yakni keinginan,
buahnya beragam. Ada kemauan, semangat, pola pikir, sikap, sampai tindakan. Persoalannya, ada buah
positip, ada buah negatip.
Ingin sukses memimpin, cepat pelajari data yang disodorkan sekretaris (positip), jangan buang
waktu dengan mengajaknya mengobrol atau menikmati betisnya ketika dia keluar ruangan (negatip).
Seorang ibu marah bila anaknya tidak belajar (positip), padahal ia sendiri tak pernah belajar mematikan
sinetron TV saat anaknya ujian (negatip). Setiap detik kehidupan selalu memberikan peluang positip
dan negatip. Sukses hanya bisa diraih bila menyuburkan keinginan positip, sekaligus memangkas
keinginan negatip. Melibas keinginan negatip artinya memerintah diri sendiri.
Pertanyaannya, pernahkah kita secara sadar memerintah diri sendiri ? Banyak yang menjawab:
Selama hidup tidak pernah. Ia tak pernah secara sadar memerintah diri menendang keinginan
negatip. Ia tetap mencandu narkoba atau alkohol. Ia tetap merokok, mengumbar nafsu, makan tanpa
batas, ingin menggenggam kuasaan, ingin dihormati berlebihan.
Memberi perintah sekaligus mentaati diri sendiri perlu sebukit kekuatan, melibas keinginan negatip
butuh latihan. Pun bahkan seorang aktris yang punya kemujuran berwajah cantik, masih harus
ditopang keinginan hebat, kemauan sukses dengan kemampuan tinggi memerintah dirinya sendiri.
Berlatih gerak tubuh, menghafal dialog, diet ketat, mematuhi jadwal syuting atau show, seperti seorang

atlet yang berlatih sampai banjir keringat. Menuruti keinginan negatip dengan melahap semua
hidangan, begadang, tidur dan bertindak seenaknya, itu menggilas suksesnya sendiri.
Bagaimana latihan memerintah diri itu ? Sederhana, tanpa biaya. Salah satunya latihan di jalan
raya, saat ke kantor atau ke pasar pakai motor. Pasti ada keinginan menyalip motor lain. Gunakan
metoda Goethe yang berdialog dengan diri sendiri, ucapkan perintah Kamu tidak boleh menyalip.
Bila ada keinginan negatip hendak melanggarnya, kuatkan hati dengan ucapan
Bismillahirohmanirrohim atau Allahu Akbar. Justru bila disalip oleh motor lain yang sebenarnya
bisa ia salip, ucapkan Alhamdulillah.
Latihan memerintah diri sendiri ini terasa sulit permulaannya, lama-lama terbiasa, mudah. Hari
berikutnya dari satu pertigaan ke pertigaan lain jangan salip sepeda pancal, lalu becak bermuatan
penuh. Ngobrol di pasar atau kantor adalah negatip, Bertindaklah aktif dengan memberi jatah -Hanya 5
menit-. Temui teman akrab itu, setelah 5 menit tinggalkan, kalau perlu beri setengah menit, sekedar
ucapkan salam. Meski ada topik obrolan dan gosip menarik, patuhi perintah diri, tinggalkan. Melihat
tukang bakso biasanya timbul selera, perintahkan : Hari ini puasa bakso, puasa gosip, puasa bicara
politik, puasa tertawa seronok. Kuatkan perintah dengan ucapan Bismillahirohmanirrohim
Latihan ini perlu dilakukan, semula di jalan raya, berikutnya di tempat kerja, sekaligus di rumah.
Bila sholat dilakukan kilat, setiap rakaat perintahkan membaca Al Fatihah minimal satu menit. Paksa
membaca lambat, tancapkan makna setiap ayatnya. Bila sehabis sholat lalu pergi, kali ini paksa diri
membaca Al Fatihah lagi, satu dalam semenit. Gilas keinginan negatip mau lekas makan, tidur atau
nonton TV. Minggu berikutnya sehabis sholat, dua Fatihah, dua menit. Demikain juga dengan
berderma, berzakat, puasa. Pancung keinginan negatip berupa kepelitan, keserakahan. Paksa diri
mencari (aktif mencari !) peminta tua, lalu paksa merogoh kocek mengeluarkan uang ribuan. Sesekali,
paksa perut tidak berlebihan, satu piring dengan satu tempe plus satu cabe.
Tak ada medali emas bagi atlet tanpa latihan dan kesungguhan. Terbiasa memerintah diri,
menguasai hati, akan membuka jalan lempang ke arah sabar, pengendalian diri, dan tidak mudah
terprovokasi. Mat-Pelor sekarang penyabar, tidak sombong, murah senyum. Juragan Dulgimo
sekarang tidak boros, tidak berlebihan, rendah hati dengan doa lembut yang meresap panjang setiap
sembahyang. Anak-anak meneladani, isteri mengikuti, semua menuju muara berupa sukses yang
hakiki, sukses seperti dalam doa setiap Muslim : Bahagia dunia dan akhirat. Bukankah itu sukses
tiada tara ?

Jagal Manusia
Slobodan Milosevic diadili. Berapa darah dan air mata ditumpahkan, tak bisa dibilang. Adakah
jagal juga bersemayam di seputar Jember-Bondowoso ? Sejarah tak pernah menulis lurus, sering
bengkok, sering dilurus-luruskan. Minakjinggo misalnya, dalam pementasan cerita rakyat Jangeryang digemari, ia preman yang tergila-gila Kenconowungu. Sangar, buas, pembrontak. Tak aneh,
karena cerita Mojopahit sentris itu diangkut ke Demak, ke kerajaan Mataram. Naskahnya dalam
bentuk sastra tersimpan baik sampai hari ini di keraton Yogya. Tapi tanyakan Minakjinggo pada
beberapa gelintir Banyuwangi asli, ia satrya yang tidak ingin Mojopahit runtuh karena dipimpin wanita.
Ia pahlawan, pejuang teguh yang dikalahkan dengan licik.
Slobodan si Jagal Balkan, juga punya pecinta. Hitler, meski lebih setengah abad lalu, masih
banyak dipuja Neo-nazi yang plontos dan bersemangat menyepaki orang-orang Asia yang hendak
mengisap madu negerinya. Kalau Suara rakyat, suara Tuhan , pertanyaannya : Rakyat yang mana ?
Rakyat yang jumlahnya lebih banyak ?
Malam 5 Maret 1953 Stalin mati. Orang tenggelam dalam tangis mengenang jasanya. Sepuluh
tahun lalu ribuan tentara siap mati Untuk Stalin di garis depan Finlandia. Ia dipuja sebagai
pemenang PD II, menekuk Jerman di medan perang Rusia, bahkan masuk sampai ke jantung Berlin.
Kematiannya membuat dunia hening, Uni Sovyet terhenyak, kehidupan berhenti berdetak. Esoknya
orang berduyun-duyun seperti banjir ke lapangan Trubnaya, disana jenazah di semayamkan.
Yevtushenko, penyair itu masih 20 tahun. Ia melihat orang tumpah berdesak-desak, keinginannya :
Melihat keranda Stalin. Gelombang lautan manusia berayun. Stalin mati dan kaku jadi mesin
penggeraknya. Panser penjaga keranda tak bisa beringsut, di gencet tenaga dan teriakan dari segala
penjuru. Semesta manusia seperti deru bertenaga besar membentur apa saja. Dipinggiran orang
memekik karena tulang remuk ditekan ke tembok, di tengah ada yang sesak dan patah dalam lelah.
Yang kalah mati terinjak-injak. Tak sedikit wanita terkoyak-koyak, ada darah bercecer di aspal, ada
daging terkelupas di truk tentara. Saat pulang Yevtushenko ditanya, apakah ia melihat keranda Stalin,
jawabnya, Gelombang kerumunan, itulah Stalin.
Tiga tahun kemudian Stalin bukan hanya dilupakan, tapi dicemooh, malah diludahi. Padahal ia
diam di kuburan. Selang 40 tahun patungnya dirobohkan, namanya di injak. Suara rakyat itu, suara
ketika Stalin mati, tiga tahun sesudahnya, atau masa kini ? Apa yang tersisa, orang Rusia bilang, Tak
ada. Mereka bangga berkata seperti Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak, Kami bukan Soviet, kami
orang Rusia.
Stalin, Hitler dan Slobodan punya keberuntungan : Ia aktor sejarah. Tapi pahit. Ada masa di
anggap mulia, ada masa dicincang habis-habisan. Kita di negeri yang jauh bernama Indonesia,

termangu-mangu, heran. Kenapa ada manusia menyembah manusia lainnya. Mungkin cinta, mungkin
terpesona, di anggap turunan dewa dengan getaran wibawa, bicara, atau senyumnya seperti Monalisa.
Sejarah juga sudah berusaha bercerita dengan baik, yang disebut penguasa bukan cuma sosok
manusia. Bisa juga sebuah ideologi. Perancis sekitar abad 18 memasukkan ke keranjang ketololan
-bukan cendekiawan- bila tidak menganut materialisme. Jangan ada campur tangan agama (gereja)
untuk urusan astronomi, matematika, dan fisika. Urusan dunia, urusan kaisar, bukan urusan Tuhan.
Cucu Materialisme bernama Komunis menjadi penguasa, -dimulai revolusi Bolsyewik 1917, dikubur
menjelang tahun 2000.Mau tak mau, siapapun Stalin dengan Sovietnya, Slobodan dengan Serbianya- adalah bagian dari
sejarah, antara yang dipuja dengan pemuja. Hari ini yang dipuja begitu beragam, ada pemuja Stalin,
kapitalisme, sosialisme, Amerika, demokrasi, Madona, Rambo, juga gemerincing uang.
Sialan. Pertanyaan itu juga pantas untuk kita, yang juga bagian dari sejarah meski bukan
pemeran utama-. Siapa dan apa yang kita puja, mengapa disembah ? Sambil menoleh kanan kiri,
menggaruk kepala tak gatal, ada jawaban sepotong-sepotong, mungkin menyebut satu nama, ditambah
menyebut satu faham, berikutnya ling-lung. Tepat, karena kita memang tak tahu apa-apa. Kita cuma
ikut-ikutan doang. Memuja bersama membatunya pikiran dan hati, dengan mata buta. Jangan-jangan
yang kita puja hari ini : Jagal manusia juga. Kalaupun tidak mengucurkan darah, ia menyembelih akal,
hati dan pikiran. Manut, ho-oh, selalu setuju dan membenarkan tindakannya.
Akhirnya disadari, manusia secara fitri harus menggantungkan dirinya pada sesuatu yang lebih
besar, yang lebih agung, yang akan memberi kenyamanan di masa kini dan di masa mendatang.
Persoalannya, kemana sembah ini harus di persembahkan ? Kepada orang semacam Stalin, atau
kepada ideologi hasil olah pikir manusia ? Menyembah dan memuja manusia ?
Tentukan segera, karena mati tak pernah ingkar janji. Mungkin setahun, mungkin tiga puluh tahun,
tapi bisa jadi : Sehari lagi. Bahkan, semenit lagi.

Pabrik Cemas
Liburan. Seorang anak Jakarta, masih SD, seminggu di rumah neneknya membawa hand phone
(HP). Sang cucu selalu membawanya ketika sekolah atau bermain layang-layang. Orang tuanya bisa
nengetahui bahkan mengontrol apa yang dilakukan anaknya. Layang-layang putus, lewat HP ia minta si
Inem lari ke tanah lapang membawa gulungan benang baru. Sejak kecil sudah diajar efisiensi, kata

ibunya mengutip omongan seminar ahli pendidikan. Nenek di desa ujung Timur Jawa, kecil, dingin dan
sepi, cuma mengangguk, mengalah. Nenek itu tak bisa mengerti, efisiensi atau malas. Kontrol atau
cemas. Cemas anaknya bermain di jalan raya, cemas anaknya jajan bersaos bahan kimia.
Dulu, kata sang nenek, di desa ini setiap anak menembus sawah, padang gembala dan kebun karet
bila hendak sekolah. Keluarga bertemu sore hari setelah ayah ibunya pulang dari kebun. Itupun kalau
anaknya tidak sepak bola atau mencari ikan di sungai. Ayah dan anak berkumpul menjelang maghrib,
sesaat sebelum keduanya berangkat ke surau untuk sembahyang dan mengaji. Orang tua tak pernah
tersiksa cemas, apakah di kebun bertemu babi hutan, atau masuk angin kehujanan.
Semakin kaya, semakin modern, cemas makin menerkam. Manusia lalu mengejar kekayaan (uang
atau kuasa). Mungkin karena nyaman, mungkin dianggapnya kekayaan bisa membeli obat cemas.
Cemas maling bayar saja satpam, takut digusur dari jabatan, obatnya sogokan. Tapi, adakah obat
cemas agar anaknya tidak membentur pohon asam dengan ngebutnya. Adakah obat cemas agar
suaminya yang berdasi tidak ngobrol lama dengan sekretarisnya. Adakah obat cemas agar suaminya
yang berduit tidak memiliki isteri simpanan. Adakah, adakah.
Rumus dasarnya demikian : Semakin tinggi kepemilikan, semakin tinggi kecemasan. Dalam
bahasa matematik, cemas berbanding lurus (bisa kuadratik, kubik sampai kuartik) dengan kepemilikan.
Seorang pinggiran desa tak punya banyak kecemasan. Esok mencari kayu bakar lalu menjualnya. Titik.
Apakah kayunya laku dan bisa membeli sekilo beras plus ikan asin, tak usah dipikir, biarlah. Seorang
eksekutif harus minum air mineral, padahal tukang becak yang tak memiliki ilmu kesehatanmeminum air apa saja. Celakanya, kata pak dokter, sakit perut karena air keruh cukup obat duaratus
rupiah, sakitnya eksekutif menyerang jantung dan ginjal. Obatnya cuci darah, cuci uang. Karena itu cari
lagi, lantas dicuci lagi.
Kalau begitu, lebih baik bodoh saja, miskin saja. Tidak, itu tolol. Jadi, banyak kecemasan :
Konyol. Tanpa kecemasaan : Tolol. Lantas bagaimana ?
Itulah hidup. Al-Quran bercerita, beban kecemasan itu pernah ditawarkan pada langit dan gunung,
tak ada yang mau menerima. Justru manusia yakni Adam, lihat Tafsir Ibnu Katsir- menerimanya.
Tugas dipikul, bila baik masuk sorga, bila buruk jalan tol ke neraka. Semua harus berusaha -setiap saatselalu berusaha menjadi lebih baik. Yang bodoh harus belajar, agar naik jadi pintar, yang lusuh
disetrika, yang compang camping perlu ditambal, yang sakit harus menuju sehat, yang buram harus
dibersihkan. Tapi aneh, meski kaya ilmu : Wajib. Kaya sabar : wajib. Menjadi pemimpin : Juga wajib.
Oleh Islam kaya harta di nomor sekian-kan. Kalaupun harta harus dicari seperti hendak hidup seribu
tahun, toh anggap saja besok mati. Artinya : Harta seribu tahun tak lebih berharga dari waktu sehari.

Cemas telah ditempatkan di kotak yang salah. Mestinya manusia harus mecemasi kematian, bukan
ketiadaan harta. Orang Mesir 6000 tahun lalu lebih perasa dibanding manusia hari ini. Piramid adalah
tanda agar nyaman di dunia sana. Sejak dulu urusan arwah selalu diberi upacara khidmat di seantero
dunia, sejak Afrika Tengah, India, China, Melanesia, sampai Indian di Amerika. Kini, manusia dikuasai
sekaligus menguasai (tergila-gila ?) urusan duniawi. Orang bangga bisa menghitung matematik multi
dimensi disekitar fungsi Riemann, bisa menerangkan kebolehjadian gravitasi Einstein, lalu
membeberkan Freud, Weber sampai ekonominya John Maynard Keynes. Tetapi ketika anaknya
bertanya : Apakah mati itu ? ia tak mampu menjawabnya.
Ilmu dunia untuk mencangkul harta, untuk menanam kuasa, adalah pabrik cemas. Seperti rumus
tadi : Semakin besar harta diperoleh, semakin besar kecemasan. Berbahagialah orang yang mendalami
Islam, agama yang menuntut bahagianya manusia di dunia dan akherat. Agama yang memberi rasa
takut sekaligus harapan indah saat kini maupun nanti. Menurut Islam, manusia memang harus cemas.
Tanpa kecemasan adalah sombong , tapi sekali lagi- menimbun kecemasan adalah konyol. Cemas
mengingatkan manusia agar selalu memperbaiki diri, seiring itu Islam menaburkan obatnya, perlu
tawakal, berserah diri, bahwa hidup sebenarnnya bukan untuk menggali harta, tapi mengabdi
kepadaNya.
Mari belajar agama yang menyuruh menjadi lebih baik urusan dunia dan urusan setelah dunia.
Islam menuntut wajib fardu ain, dosa bila tidak mengerjakannya- agar setiap insan belajar agama.
Cuma fardu kifayah untuk matematik, ekonomi, kimia, fisika dan semacamnya.
Hidup lantas jadi indah. Berayun dalam debaran di antara batas cemas dan harapan, sedih dan
gembira, dunia dan akherat, marah dan sabar, pemaaf dan tegas. Islam tidak menghendaki manusia
menukik ke satu sisi yang berlebihan, marah yang tidak terkendali, lemah tanpa ketegasan, sembahyang
setiap saat tanpa mencari sesuap nasi, menyiksa diri dengan puasa terus-menerus, menekan hilang
sampai batas habis nafsu syahwatnya. Kecemasan di-nol-kan dengan penyiksaaan. Meski terhadap diri
sendiri, itu penganiayaan, pengingkaran terhadap anugerah Tuhan. Islam menghukumnya : Dosa.
Semogalah itu kita yang berusaha menjadi lebih baik dengan mempelajari agama- yang
menerima terbuka : Silahkan datang kecemasan tentang akhirat ataupun kematian, seiring itu, silahkan
bersinar harapan indah tentang kedamaian, kebahagiaan. Kini dan kelak. Oh, sorga.