Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radikal bebas adalah atom-atau molekul yang kehilangan elektron / memiliki
elektron yang tidak berpasangan, Keadaan tersebut menyebabkan radikal bebas
bereaksi dengan cara mengikat elektron dari molekul sel yang stabil
didekatnya.
Radikal bebas dapat dihasilkan dari hasil metabolisme tubuh dan faktor
eksternal seperti asap rokok, beberapa logam, hasil penyinaran ultra violet, radiasi, zat
kimiawi dalam makanan dan polutan lain. Misalnya pada molekul air, ikatan atom
oksigen dengan atom hidrogen berupa ikatan kovalen.
Oksidan adalah molekul relative yang menyerang molekul lain, sebagian
berupa radikal bebas, yang bersifat reaktif karena memiliki elektron yang tidak
berpasangan, sehingga mengakibatkan ia tidak stabil. Oksidan, dalam pengertian ilmu
kimia, adalah senyawa penerima elektron, (electron acceptor), yaitu senyawasenyawa yang dapat menarik elektron. Ion ferri (Fe+++), misalnya, adalah suatu
oksidan.
Antioksidan (untuk melindungi diri dari oksidan) adalah suatu senyawa
berkadar rendah yang dapat mencegah ataupun menghentikan terjadinya reaksi
berantai dari pembentukan radikal bebas dalam tubuh kita. Antioksidan dapat juga
diartikan sebagai zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini adapun rumusan masalah nya adalah :
a. Bagaimana proses pembentukan radikal bebas dan H2O dalam tubuh?
b. Apa yang dimaksud dengan oksidan dan antioksidan?
c. Apa dampak oksidan dan antioksidan bagi tubuh?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah biokimia 1
b. Untu mengetahui proses pembentukan radikal bebas dan H2O dalam tubuh.
c. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan oksidan dan antioksidan.
d. Untuk mengetahui dampak oksidan dan antioksidan dalam tubuh.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam makalah ini terbatas pada rumusan masalah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembentukan Radikal Bebas Dan H2O
2.1.1 Pengertian Radikal Bebas
Radikal bebas adalah atom atau molekul (kumpulan atom) yang memiliki elektron
yang tak berpasangan (unpaired electron).
Radikal bebas memiliki 2 sifat, yaitu:
Reaktifitas yang tinggi, karena kecenderungan untuk berikatan.
Dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal (Purnomo,1993)
Sumber Radikal Bebas
Sumber Internal
Mitokondria

Sumber Eksternal
Rokok

Fagosit

Polutan lingkungan

Reaksi yang melibatkan besi dan logam transisi

Radiasi

lainnya

Obat-obatan tertentu, pestisida

Peroksisom

dan anestesi dan larutan industri

Olah raga

Ozon

Peradangan
Iskemia/reperfusi

2.1.2 Proses Pembentukan Radikal Bebas dan H2O

Dalam mekanisme ini, transpor elektron melalui berbagai komponen rantai transpor
elektron menyebabkan perubahan struktural dalam protein pada rantai. Membran dalam
mitokondria terdapat komplek protein I V.
Kompleks 1. Kompleks 1 menengahi transfer elektron dari NADH + H + menuju koenzim Q.
Reduksi koenzim Q ini bersamaan dengan transpor protein vektorial.
Komplek II. Kompleks II menengahi transfer elektron dari suksinat menuju koenzim Q.
Proses ini tampaknya tidak bersamaan dengan translokasi proton vektorial.
Kompleks III. Kompleks III mengkatalisis transfer elektron dari koenzin Q tereduksi menuju
sitokrom c. Proses ini bersamaan dengan translokasi proton vektorial dengan stoikiometri
H+/e- sebesar 2.
Kompleks IV. Kompleks IV mengatalisis transfer elektron dari sitokrom c menuju O2. Proses
ini tampaknya bersamaan dengan translokasi proton dengan nilai H+/e- sebesar 2.

2e- + 2H+ + 1/2H2O H2O


(Yohanis, 2013 : 484-485)

2.1.2.1 Senyawa Oksigen Reaktif


Senyawa oksigen reaktif, sesuai dengan namanya, berasal dari oksigen (O 2), senyawa
yang diperlukan oleh semua organisme aerobik termasuk manusia.Organisme aerobik
memerlukan oksigen untuk menghasilkan ATP, suatu senyawa yang merupakan sumber
energi bagi kebanyakan makhluk hidup, melalui fosforilasi oksidatif

yang terjadi di

mitokondria. Proses tersebut secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

NADH + H+ + O2
ADP + P + energi

NAD+ + H2O + energi

ATP

Pada proses tersebut terjadi reduksi O2 menjadi H2O yang secara sederhana dapat
ditulis sebagai berikut :
O2 + 4H+ + 4 e- 2 H2O
Dari persamaan tersebut diatas mudah dilihat bahwa reduksi oksigen menjadi H2O
merupakan pengalihan 4 (empat) elektron (4 electron transfer).

2.1.2.2 Reduksi Oksigen


Amat penting bagi sel bahwa molekul oksigen harus tereduksi sempurna menjadi dua
H2O dengan menerima empat elektron. Jika O2 hanya tereduksi sebagian dengan menerima
dua elektron, produknya adalah hidrogen peroksida. Jika O 2 menerima hanya satu elektron,
produk yang dihasilkan adalah radikal superoksida. Hidrogen peroksida dan radikal
superoksida amat beracun bagi sel karena senyawa tersebut bereaksi dengan komponen asam

lemak tidak jenuh pada lipida membran, sehingga merusak struktur membran. (Maggy, 1982 :
164-165)

Struktur elektron molekul oksigen (O2) ditulis:

O : : O atau O=O

Menurut struktur tersebut, semua elektron dalam molekul oksigen berpasangan


sehingga O2 seharusnya tidak reaktif.Namun dalam kenyataannya, oksigen ternyata cukup
reaktif.

O O atau O O

Berdasarkan struktur tersebut, maka O2 adalah suatu di-radikal karena memiliki dua
elektron yang tidak berpasangan.Sebagai di-radikal, oksigen mestinya sangat reaktif, lebih
reaktif dibanding dengan radikal hidroksil yang hanya memiliki satu elektron yang tidak
berpasangan.
Reduksi oksigen memerlukan pengalihan 4 (empat) elektron. Pengalihan ini tak dapat
terjadi sekaligus, tetapi dalam 4 tahapan yang setiap tahap hanya melibatkan pengalihan satu
elektron . Kendala yang mengharuskan oksigen hanya dapat menerima satu elektron setiap
tahap menyebabkan terjadinya dua hal, yaitu :
1. kurang reaktifnya oksigen
2. terjadinya senyawa-senyawa oksigen reaktif seperti O 2 (ion superoksida), H2O2
(hidrogen peroksida), OOH (radikal peroksil), dan OH (radikal hidroksil)
Perhatikan reaksi-reaksi dibawah ini yang merupakan pengalihan satu elektron :
_

1. OO +

_ _
e OO

atau

O2 ion superoksida
6

OO + H+ HOO
_ _

OOH

radikal peroksil

_ _

2. OO + e OO
_ _
OO

atau

atau

O2 ion peroksida

__

+ 2H+ HOOH

_ _
3. OO

+ e O

atau

H2O2 hidrogen peroksida

atau

H2O

atau

OH

atau

H2O

+ O

__
O

+ 2H+

HOH

+ 2H+

HO

radikal hidroksil

__
4. O

+ e O

_ _
O

_
+ 2H+ HOH

Pembentukan senyawa-senyawa oksigen reaktif tersebut secara singkat dapat ditulis


sebagai berikut :
O2

O2 +

e O2
e+

H+ OOH

O2

+ 2e + 2H+ H2O2

O2

+ 3e + 3H+OH + H2O

O2 + 4e + 4H+

2H2O

(Purnomo,1993)
7

Radikal bebas didalam tubuh merupakan bahan yang sangat berbahaya. Bahan
radikal bebas tersebut sebenarnya merupakan senyawa atau molekul yang mengandung satu
atau lebih electron yang tidak berpasangan pada bagian orbital luarnya.Adanya electron yang
tidak berpasangan itulah yang mengakibatkan senyawa tersebut sangat reaktif untuk mencari
pasangannya.Caranya,

mengikat

atau

menyerang

electron

molekul

yang

berada

disekitarnya.Yang diikat radikal bebas pada umumnya adalah molekul besar seperti lipid,
protein, maupun DNA (pembawa sifat). Apabila itu terjadi, akibatnya adalah kerusakan sel
atau pertumbuhan sel yang tidak bisa dikendalikan (bisa menimbulkan kanker)
Apabila radikal bebas sudah berikatan dengan sel jaringan tubuh, akan terjadi gangguan
kesehatan, antara lain:
1. Jika yang terkena mata, akan terjadi penurunan daya penglihatan, kadang juga dapat
menimbulkan kebutaan apabila yang diserang retina mata.
2. Jika yang diserang sel ginjal, akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang pada tahap
akhirnya akan memerlukan cuci darah.
3. Jika kerusakan terjadi pada pembuluh darah sekitar urat syaraf, akan terjadi gangguan
syaraf peraba, misalnya rasa kesemutan yang berkepanjangan.
4. Jika kerusakan terjadi pada system pertahanan tubuh, akan terjadi penurunan daya
tahan tubuh sehingga tubuh mudah terkena infeksi, terutama infeksi pada kulit,
saluran kencing, paru-paru dan lain-lain.
5. Bila yang diserang organ tubuh jantung atau otak, resiko untuk mendapatkan penyakit
jantung koroner maupun stroke dapat meningkat.
6. Bila yang diserang sel pankreas, produksi insulin akan berkurang sehingga
mengakibatkan terjadinya penyakit diabetes militus.

2.2 Oksidan
2.2.1 Definisi
Oksidan,

dalam

pengertian

ilmu

kimia,

adalah senyawa penerima elektron,

(electron acceptor), yaitu senyawa-senyawa yang dapat menarik elektron. Ion ferri (Fe +++)
misalnya, adalah suatu oksidan
Fe+++ + e-

Fe++

Oksidan adalah molekul relative yang menyerang molekul lain, sebagian berupa
radikal bebas, yang bersifat reaktif karena memiliki elektron yang tidak berpasangan,
sehingga mengakibatkan ia tidak stabil. Oksidan dapat berupa radikal bebas maupun
bukan radikal bebas.
2.2.2 Sumber Oksidan
Oksidan yang dapat merusak sel berasal dari berbagai sumber, yaitu :
a. Yang berasal dari tubuh sendiri, yaitu senyawa-senyawa yang sebenarnya berasal
dari proses-proses biologik normal (fisiologis)
b. Yang berasal dari proses-proses peradangan.
c. Yang berasal dari luar tubuh, seperti misalnya obat-obatan dan senyawa
pencemar (polutant)
d. Yang berasal dari akibat radiasi. Contohnya sinar matahari dari jam 10.00-15.00
e. Oksidan juga dapat ditemukan dalam makanan, misalnya makanan sejenis fast food
(cepat saji) dan makanan kemasan atau kaleng.

2.2.3 Mekanisme Kerja Oksidan


Jika di suatu tempat terjadi reaksi oksidasi dimana reaksi tersebut menghasilkan hasil
samping berupa radikal bebas (.OH) maka tanpa adanya kehadiran antioksidan radikal
bebas ini akan menyerang molekul-molekul lain disekitarnya. Hasil reaksi ini akan dapat

menghasilkan radikal bebas yang lain yang siap menyerang molekul yang lainnya lagi.
Akhirnya akan terbentuk reaksi berantai yang sangat membahayakan.
Reaktan Produk + .OH
(DNA,protein, lipid) + .OH Produk + Radikal bebas yang lain

Pada lipid
Komponen

terpenting membran sel adalah fosfolipid, glikolipid dan

kolesterol. Dua komponen pertama mengandung asam lemak tak jenuh. Justru asam
lemak tak jenuh ini (asam-asam linoleat, linolenat dan arakidonat) sangat rawan
terhadap serangan-serangan radikal, terutama radikal hidroksil. Radikal hidroksil
dapat menimbulkan reaksi rantai yang dikenal dengan nama peroksidasi lipid

LH

.OH

Asam lemak.

.L

.L

H2O

Radikal lipid

O2

LOO.

Radikal peroksilipid
LOO.

RH

.R

LOOH

dan seterusnya.
Akibat akhir dari rantai reaksi ini adalah terputusnya rantai asam lemak
menjadi berbagai senyawa yang bersifat toksis terhadap sel, antara lain berbagai
macam aldehida, seperti malondialdehida, 9-hidroksi-nonenal serta bermacam-macam
hidrokarbon seperti etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Dapat pula terjadi ikatan silang
(cross-linking) antara dua rantai asam lemak yang timbul karena reaksi dua radikal :
R1. + R2.

R1-R2

Semuanya itu menyebabkan kerusakan kerusakan parah membran sel sehingga


membahayakan kehidupan sel
10

Pada Protein
Oksidan dapat merusak protein karena dapat mengadakan reaksi dengan asamasam amino yang menyusun protein tersebut. Diantara asm-asam amino penyusun
protein yang paling rawan adalah sistein. Sistein mengandung gugusan sulfidril (SH)
dan justru gugusan inilah yang paling peka terhadap serangan radikal bebas seperti
radikal hidroksil :

.OH

RSH

RS.

+ RS.

RS. + H2O
R-S-S-R

Pembentukan ikatan disulfida (-S-S-) menimbulkan ikatan intra atau antar molekul
protein tersebut kehilangan fungsi biologisnya (misalnya enzim kehilangan
aktivitasnya).
Pada DNA
Radikal bebas dapat menimbulkan berbagai perubahan pada DNA yang antara
lain .berupa : hidroksilasi basa timin dan sitosin, pembukaan inti purin dan pirimidin
serta terputusnya rantai fosfodiester DNA Bila kerusakan tak terlalu parah, maka
masih bisa diperbaiki oleh sistem perbaikan DNA (DNA repair system ). Namun
apabila kerusakan terlalu parah, misalnya rantai DNA terputus-putus diberbagai
tempat, maka kerusakan tersebut tak dapat diperbaiki dan replikasi sel akan
terganggu.. Susahnya, perbaikan DNA ini sering justru menimbulkan mutasi, karena
dalam memperbaiki DNA tersebut sistem perbaikan DNA cenderung membuat
kesalahan (error prone ), dan apabila mutasi ini mengenai gen-gen tertentu yang
disebut onkogen, maka mutasi tersebut dapat menimbulkan kanker.

2.2.4 Dampak Oksidan


Oksidan menimbulkan banyak kerugian,

tetapi justru dampak negatif ini

dimanfaatkan oleh tubuh untuk melawan serbuan organisma patogen.


Untuk menghadapi serangan dari luar ini, alam telah menyediakan sel-sel khusus
yang disebut sel-sel radang (inflamatory cells ) seperti granulosit, monosit dan makrofag,
yang dapat menghasilkan oksidan seperti H2O2, O2, OH, ClO dan O2. Namun harap
11

diingat bahwa oksidan-oksidan tersebut selain dapat menghancurkan mikroorganisma


dapat pula merusak sel-sel jaringan tubuh sehingga sehingga apabila terjadi keradangan
hebat yang melibatkan banyak sel radang, kerusakan jaringan tak dapat dihindarkan.

2.3 Antioksidan
2.3.1 Definisi
Senyawa-senyawa oksigen reaktif terjadi akibat proses-proses biologis normal,
namun apabila aktifitas senyawa-senyawa tersebut tak diredam, maka oksigen
pembawa kehidupan organisma aerobik akan berbalik menjadi racun yang mematikan,
dan organisma aerobik sudah lama punah, mdari muka bumi. Dalam kenyataannya
organisma aerobik tetap

berjaya, dan saat ini merupakan organisma yang dominan

di muka bumi ini, termasuk


alam menyediakan

manusia. Organisma aerobik dapat bertahan

karena

sarana untuk meredam dampak negatif oksidan, yaitu senyawa-

senyawa anti-oksidan.
Dalam pengertian kimia, senyawa-senyawa anti-oksidan adalah senyawasenyawa pemberi elektron (electron donors). Namun dalam arti biologis, pengertian
anti-oksidan lebih luas, yaitu merupakan senyawa-senyawa yang dapat meredam
dampak negatif oksidan.
2.3.2 Penggolongan Antioksidan
Berdasarkan sumbernya ada dua macam antioksidan, yaitu:

Antioksidan Alami
Antioksidan alami adalah antioksidan yang diperoleh secara alami yang sudah ada

bahan pangan, baik yang terbentuk selama dari reaksi-reaksi selama proses
pengolahan maupun yang diisolasi dari sumber alami yang tidak dapat dimakan dan
digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Contoh antioksidan alami antara lain:
Vitamin A
Vitamin A terkenal sebagai antioksidan hebat yang mampu berperang
melawan kanker yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.Vitamin
ini tersedia pada sumber makanan hewani dalam bentuk retinol dan pada
12

sumber makanan nabati dalam bentuk beta-karoten. Sebagai antioksidan, betakaroten lebih memainkan peran. Ia merupakan agen yang sangat efektif dalam
menstimulasi sistem kekebalan untuk melindungi tubuh. Beta-karoten adalah
penetralisir yang sangat fisien terhadap oksigen berselubung radikal bebas.
William L. Fischer dalam How to Fight Cancer and Win, mengatakan betakaroten baik sebagai pencegah maupun pengobat kanker yang aktif. Betakaroten telah menunjukkan efektivitasnya dalam menghancurkan lapisan
lendir pelindung sel kanker. Itu sebabnya mengapa betakaroten juga sebagai
mekanisme pertahanan tubuh alamiah. Beta-karoten pada vitamin A banyak
terdapat pada wortel. Fischer mengatakan bagi mereka yang secara teratur
memakan wortel, diramalkan mengalami penurunan jumlah sel kanker-kanker
tertentu yaitu sampai 80% pada kanker paru-paru dan bronkus dan sampai 55
% pada kanker usus besar.
Vitamin C
Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting
untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin C juga dikenal
dengan nama Asam Askorbat. Vitamin C sangat penting untuk biosintesis
kolagen, karnitin dan berbagai sumber neurotransmitter. Kebnyakan tumbuhan
dan hewan dapat mensintesis asam askorbat untuk kebutuhannya sendiri.
Sedangkan manusia dan primata tidak dapat mensintesis sendiri termasuk
kelelawar dan marmut, sehingga harus disuplai dari luar.
Sebagai antioksidan, vitamin C bekerja sebagai donor elektron dengan
cara memindahkan satu elektron ke senyawa logam Cu (Kuprum). Selain itu
vitamin C juga dapat menyumbangkan elektron ke dalam reaksi biokimia
intraseluler dan ekstraseluler.
Vitamin C adalah 6 atom karbon lakton yang disintesis dari glukosa
yang terdapat dalam liver. Bentuk utama dari vitamin C yang dinamakan
adalah L-ascorbic dan dehydroascorbic acid.

13

Vitamin C mampu menghilangkan senyawa oksigen reaktif di dalam sel


netrofil, monosit, protein lensa dan retina. Juga dapat bereaksi dengan Feferritin. Di luar sel, Vitamin C mampu menghilangkan senyawa oksigen
reaktif, mencegah LDL teroksidasi, mentransfer elektron ke dalam tokoferol
teroksidasi dan mengabsorpsi logam dalam saluran cerna.
Vitamin E
Vitamin E sebagai sumber antioksidan yang larut dalam lemak dan
mudah memberikan hidrogen dari gugus hodroksil (OH) pada struktur cincin
ke radikal bebas. Cara kerja vitamin E dengan cara mencari, bereaksi, dan
merusak rantai reaksi radikal bebas serta mencegah lipid peroksidasi dari asam
lemak tak jenuh dalam membran sel dan membantu oksidasi vitamin A serta
mempertahankan kesuburan.
Vitamin E disimpan dalam jaringan adiposa dan dapat diperoleh di
dalam sayuran dan minyak biji-bijian, yang dapat ditemukan dalam bentuk
margarine, salad dressing, dan shortening. Minyak kacang dan minyak kulit
gandum mempunyai konsentrasi vitamin E yang tertinggi. Tingkat selanjutnya
adalah minyak jagung dan minyak biji bunga matahari. Satu sendok makan
dari sumber tersebut mengandung lebih dari RDA vitamin E yaitu 10 mg
perhari untuk pria dan 8 mg perhari untuk wanita.. Sebaliknya, lemak hewani
seperti butter dan susu hampir tidak mengandung vitamin E. Hal ini karena
vitamin E mudah rusak oleh pemanasan, maka akan lebih baik
memperolehnya dari makanan segar.
Glutation

14

The structure of glutathione is shows in fig 3.4. most free glutathione


in vivo is present as GSH rather than GSSG, but up to one-third of the total
cellular glutathione may be present as mixed disulphides with other
compounds that contain SH groups, such as cyteine, coenzyme A, and the
SH of the cysteine residues of several proteins. If R-SH is used to represent
these other molecules, then the mixed disulphides have the general formula :
glu-cys-gly
S-S-R

Glutathine peroxidase catalyses the oxidation of GSH to GSSG at the


expense of hydrogen peroxide,
H2O2 + 2GSH GSSG + H2O
It is found at high activity in liver, moderate activity in heart, lung, and brain,
and low activity in muscle. The enzyme is specific for GSH as a hydrogen
donor but accept other peroxides as well as hydrogen peroxide.
Antioksidan alami dalam tubuh mencakup senyawa seperti cystein, gluthation,
dan D-penicillamin, serta isi darah misalnya molekul transferin yang mengandung zat
besi dan seruloplasmin protein. Antioksidan ini bekerja dengan mencegah produksi
radikal bebas atau menapunya. Tubuh juga mengandung sejumlah enzim antioksidan
yang penting. Enzim adalah protein yang sangat aktif yang mempercepat suatu reaksi
kimia. Sebagain besar peristiwa yang terjadi didalam tubuh dipicu oleh ribuan jenis
enzim.
Enzim antioksidan yang paling menarik adalah dismutase superoksida (biasa
disebut SOD oleh para ilmuan). Minat yang besar muncul dikalangan ahli biokimia
ketika ditemukan bahwa enzim ini tidak memiliki fungsi lain selan mengubah radikal
15

bebas superoksida yang berbahaya menjadi hidrogen peroksida yang lebih aman.
Meskipun bukan radikal bebas, hidrogen peroksida (H2O2) bukanlah suatu bahan yang
menyenangkan. Atom oksigen ekstranya membuat hidrogen peroksida mudah
menimbulkan oksidasi.

Antioksidan Sintetis

Antioksidan sintetik merupakan antioksidan yang dibuat melalui sintesis


secara

kimia,

contohnya: ter-butyl

hidroquinone (tBHQ), butylated

ydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluene (BHT), dan propil galat (PG).


Konsentrasi rendah dari antioksidan tBHQ dan BHA telah lama digunakan untuk
mencegah oksidasi dari produk makanan sehingga dapat menstabilkan produk
tersebut (nutrisi, rasa, maupun warna). Dalam konsentrasi yang tinggi, tBHQ dapat
menyebabkan kanker. Penyebabnya adalah metabolit dari oksidasi tBHQ, yaitu 2tertbutyl-1,4-benzoquinone (tBBQ) dan ROS (G haravi, Haggarty, dan El-Kadi,
2007). Peters, Rivera, Jones, Monks, dan Lau pada tahun 1996 melaporkan bahwa
antioksidan sintetik, yaitu tBHQ dan 3-tert-butyl-4-hydroxyanisole dapat mempromosi
karsinogenesis renal dan kandung kemih pada tikus. Walaupun dalam penelitian
tersebut tidak diketahui secara pasti mekanisme karsinogenesisnya. Begitu pula
dengan BHA danBHT,

dalam

konsentrasi

tinggi

dan

penggunaan

yang

lama, BHA dapat menginduksi tumor pada perut hewan uji sedangkan BHT dapat
menginduksi tumor pada liver hewan uji. Semua publikasi juga setuju dengan fakta
tersebut. Lain halnya vitamin E yang merupakan antioksidan alami tidak memiliki
sifat karsinogenik (Parke dan Lewis, 1992; Kahl dan Kappus, 1993). BHT yang
diadministrasikan secara kronis terhadap mencit menyebabkan menurunnya
konsentrasi alpha isozyme of protein kinase C (PKCa) dalam paru-paru sehingga
dapat menginisiasi terjadinya tumor (Kahl, 1984; dan Malkinson, 1999).
Berdasarkan mekanisme kerjanya ada tiga macam antioksidan, yaitu sebagai berikut

Antioksidan primer
Menurut McCord (1979), Aebi (1984), dan Urisini et al (1995),
antioksidan primer meliputi enzim superoksida dismutase (SOD), katalase, dan
16

glutation peroksidase (GSH-Px). Antioksidan primer disebut juga antioksidan


enzimatis. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan primer, apabila dapat
memberikan atom hidrogen secara cepat kepada senyawa radikal, kemudian
radikal antioksidan yang terbentuk segera berubah menjadi senyawa yang lebih
stabil. Belleville-Nabet (1996) menyebutkan bahwa antioksidan primer bekerja
dengan cara mencegah pembentukan senyawa radikal bebas baru, atau
mengubah radikal bebas yang telah terbentuk menjadi molekul yang kurang
reaktif.
Sebagai antioksidan, enzim-enzim tersebut menghambat pembentukan
radikal bebas, dengan cara memutus reaksi berantai (polimerisasi), kemudian
mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil. Antioksidan dalam kelompok
ini disebut juga chain-breaking-antioxidant.
Enzim katalase dan glutation peroksidase bekerja dengan cara
mengubah H2O2 menjadi H2O dan O2 , sedangkan SOD bekerja dengan cara
mengkatalisis reaksi dismutasi dari radikal anion superoksida menjadi H2O

Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder disebut juga antioksidan eksogenus atau nonenzimatis. Antioksidan dalam kelompok ini juga disebut sistem pertahanan
preventif. Dalam sistem pertahanan ini, terbentukny senyawa oksiden reaktif
dihambat dengan cara pengkelatan metal, atau dirusak pembentukannya.
Pengkelatan metal terjadi dalam cairan ekstraseluler (Belleville-Nabet 1996).
Antioksidan non-enzimatis dapat berupa komponen non-nutrisi dan komponen
nutrisi dari sayuran dan buah-buahan. Kerja sistem antioksidan non-enzimatik
yaitu dengan cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau
dengan cara menangkapnya. Akibatnya, radikal bebas tidak akan bereaksi
dengan komponen seluler (Lampe,1999).
Menurut Soewoto (2001) dan lampe (1999), antioksidan sekunder
meliputi vitamin E, vitamin C, -karoten, flavonoid, asam urat, bilibrum, dan
albumin. Vitamin C dan karatenoid banyak terdapat dalam sayuran dan buahbuahan.oleh sebab itu, untuk memperoleh antioksidan vitamin C dan
karatenoid, diperlukan asupan sayuran dan buah-buahan dalam jumlah tinggi.
17

Orang dengan diet rendah sayur-sayuran dan buah-buahan dua kali lebih
berisiko terkena kanker, penyakit jantung, dan katarak dibandingkan orang
dengan diet tinggi bahan makanan tersebut.

Antioksidan Tersier
Antioksidan tersier berfungsi memperbaiki kerusakan sel dan jaringan

yang disebabkan oleh radikal bebas.Contohnya adalah enzim yang


memperbaiki DNA pada inti sel yaitu metionin sulfoksida reduktase.
2.3.3

Mekanisme pencegahan dampak negatif oksidan oleh antioksidan

1) Anti-oksidan Pencegah (antioksidan primer)


Pada dasarnya tujuan anti-oksidan jenis ini adalah adalah mencegah
terjadinya radikal hidroksil, yaitu radikal yang paling berbahaya. untuk membentuk
radikal hidroksil diperlukan tiga komponen, yaitu : logam transisi Fe atau Cu, H 2O2
dan O2.- . Agar reaksi Fenton tak terjadi, maka harus dicegah keberadaan ion
Fe++ atau Cu+ bebas. Untuk itu berperan beberapa protein penting, yaitu :
a) untuk Fe : transferin atau feritin
b) untuk Cu : seruloplasmin atau albumin
Penimbunan O2.- dicegah oleh enzim superoksida dismutase (SOD) yang
mengkatalisis reaksi dismutasi O2.- :
2 O2.- + 2 H+ H2O2 + O2

Penimbunan H2O2 dicegah melalui aktifitas dua jenis enzim, yaitu :


a) katalase, yang mengkatalisis reaksi dismutasi H2O2 :
2 H2O2

2 H2O + O2

b) peroksidase, yang mengkatalisis reaksi sebagai berikut :


R +

H2O2

RO + H2O

18

Diantara berbagai peroksidase, yang paling penting adalah glutation peroksidase


(GSPx), yang mengkatalisis reaksi :
2 GSH + H2O2 GSSG + 2 H2O
Apabila radikal hidroksil masih saja terbentuk, masih ada sarana lain untuk
meredamnya, tanpa memberi kesempatan untuk memulai reaksi rantai dengan
melibatkan senyawa-senyawa

yang mengandung gugusan sulfidril seperti

glutation dan sistein :


a) Glutation (GSH) :

.OH

GSH +
2 GS.

GS.

+ H2O

GSSG

b) Sistein (Cys-SH) :
Cys-SH + .OH
2 Cys-S.

Cys-S. + H2O

Cys-S-S-Cys
sistin

2) Anti-oksidan Pemutus Reaksi Rantai (antioksidan sekunder)


Dalam kelompok anti-oksidan

ini termasuk vitamin E (tokoferol), asam

askorbat (vitamin C), -karoten, dan dua senyawa yang juga berperan sebagai antioksidan pencegah rantai reaksi, yaitu glutation dan sistein. Vitamin E dan -karoten
bersifat lipofilik, sehingga dapat berperan pada membran sel untuk mencegah
peroksidasi lipid. Sebaliknya, vitamin C, glutation dan sistein bersifat hidrofilik, dan
berperan dalam sitosol.
Vitamin E sebenarnya terdiri dari empat senyawa, yaitu : alfa, beta, gamma
dan delta tokoferol. Karena keberadaannya dalam membran, vitamin E dapat bereaksi
dengan radikal lipid (L. ) dan radikal peroksilipid (LOO.)
Toc-H + L.
Toc-H

+ LOO.

Toc. + LH
Toc. + LOOH

19

Radikal vitamin E (Toc.) tak terlalu reaktif karena terjadinya resonansi.


Meskipun demikian, radikal vitamin E perlu juga dihilangkan. Untuk ini ada tiga
cara, yaitu :
a. Radikal vitamin E mengalami reaksi-reaksi intramolekul menghasilkan
senyawa-senyawa non-radikal
b. Setelah bergeser kearah permukaan molekul,

radikal vitamin E bereaksi

dengan vitamin C (Asc-H) dan menghasilkan radikal vitamin C (Asc.) :


Toc.

+ Asc-H2 Toc-H + Asc. + H+

Radikal vitamin C kemudian dihilangkan melalui reaksi dismutasi yang


menghasilkan vitamin C dan dihidro-asam ascorbat (DHAA) :
2 Asc. + 2 H+ Asc-H2

DHAA

c. Radikal vitamin E dapat pula bereaksi dengan glutation atau sistein yang juga
terdapat dalam sitosol :
Toc. + GSH (CysSH)
2 GS. (CysS. )
2.3.4

Toc-H + GS. (CysS. )

GSSG (CysS-Scys)

Manfaat antioksidan
Antioksidan memiliki banyak manfaat bagi tubuh, diantaranya adalah:

Untuk Kesehatan Jantung & Pembuluh Darah

Untuk Perlindungan Sel

Untuk Pengaturan Gula Darah

Untuk Perlindungan Kekebalan Tubuh

Untuk Menunda Penuaan

2.3.5

Sumber yang mengandung antioksidan


20

Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam
tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen).Adakalanya sistem antioksidan endogen
tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Stres oksidatif merupakan
keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen reaktif.
Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.

Kopi
Secangkir kopi yang kita minum tiap pagi ternyata tidak sekedar
membuat kita terjaga dan bersemangat. Penelitian terbaru di amerika
menunjukkan bahwa kopi adalah sumber utama antioksidan. Kopi yang
diminum tidak harus kopi yang keras, kopi tanpa kafein (decaf) juga memberi
antioksidan dalam jumlah yang sama. Cukup dengan minum satu atau dua
cangkir kopi tiap hari sudah memberi kebutuhan antioksidan yang dibutuhkan.

Teh
Pada dasarnya daun teh mengandung tiga komponen penting, yaitu
kafein yang memberikan efek penyemangat, tannin yang memberi kekuatan
rasa, dan polifenol yang mempunyai banyak khasiat kesehatan. Polifenol pada
teh ini adalah antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif
dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin E. Teh
kaya akan antioksidan, kegiatan antioksidan dalam darah peminum teh akan
meningkat41 48 % setelah 30 menit minum teh hijau dan 50 menit setelah
teh hitam. Teh juga dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung koroner
dan melindungi terhadap munculnya kanker esophageal. Untuk mendapatkan
khasiat antioksidan dalam teh, dianjurkan agar kita menyeduh teh dalam air
hangat selama tiga menit. Jangan minum teh panas, karena justru mendorong
timbulnya

kanker

tenggorokan,

karena

melepuhkan

esophagus

dan

menciptakan luka sehingga rentan terkena kanker.

Berry,
Kandungan

antosianin

di

dalamnya

sering

digunakan

untuk

meningkatkan kemampuan memori, bahkan mencegah Alzheimer.

21

Dark chocolate
Antioksidan lain adalah cocoa yang terdapat dalam dark chocolate.
Mangandung antioksidan yang dapat mencegah oksidasi LDL.

Buah Manggis
Buah manggis dikenal sebagai buah yang mengandung zat antioksidan
tertinggi di dunia.Di dalam buah Manggis terkandung senyawa yang disebut
xanthone dengan kandungan yang tinggi. Xanthone sendiri merupakan
senyawa polyhenolic yang sangat bermanfaat dalam membunuh berbagai
macam penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, dan trombosis.
Kandungan xanthone dalam kulit buah Manggis bisa mencapai 123,97 mg/ml.
Xanthone yang terkandung dalam kulit Manggis mempunyai aktifitas
antioksidan dan anti-inflamasi sehingga bisa menangkal radikal bebas dan
kerusakan sel serta menghambat bahkan membunuh sel-sel kanker yang ganas
dan berpotensi membahayakan manusia.

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Radikal bebas adalah atom atau molekul (kumpulan atom) yang memiliki

elektron yang tak berpasangan (unpaired electron).


senyawa oksigen reaktif adalah senyawa yang diperlukan oleh semua

organisme aerobik termasuk manusia.


Oksidan adalah molekul relative yang menyerang molekul lain, sebagian
berupa radikal bebas, yang bersifat reaktif karena memiliki elektron yang tidak

berpasangan, sehingga mengakibatkan ia tidak stabil


Oksidan dapat bersumber dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh
Oksidan dapat merusak lipid, protein maupun DNA
Antioksidan merupakan senyawa-senyawa pemberi elektron yang dapat
meredam dampak negatif dari oksidan
22

Antioksidan dapat bertindak sebagai pencegah dan pemutus reaksi berantai

yang disebabkan oleh oksidan


Sumber dari antioksidan sangat banyak, baik yang alami maupun sintetis
Antioksidan memiliki banyak manfaat bagi tubuh

2.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan, untuk itu
kritikan dan saran dari pembaca sangat diperlukan guna memperbaiki makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ngili yohanis. 2013. Biokimia Dasar Edisi Revisi. Bandung : Rekayasa sains
Tapan, Erik. 2005. Kanker, Antioksidan, dan Terapi Komplementer. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo
Thenawijaya Maggy. 1982. Lehninger. Jakarta : Erlangga
Winarsi, Hery. 2007. Antioksidan alami & Radikal Bebas. Yogyakarta : Kanisius
Youngson, Robert.2003. Antioksidan. Jakarta : Arcan
Website
http://purnomosuryohudoyo.blogspor.com/oksidan-antioksidan-dan-radikal.html

23