Anda di halaman 1dari 20

TUTORIAL

JULI 2015

BAYI dari IBU DIABETES MELITUS

Oleh:
Micheline Brigita. B

N 111 14 012

Ribka Elda. P

N 111 14 048

Windy Mentari

N 111 14 026

Reza Aditya

N 111 14 033

Sulistyawati

N 111 14 017

Pembimbing

: dr. Suldiah, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2015

TUTORIAL
1

Skenario
Bayi laki-laki lahir secara sectio caesaria atas indikasi preeklamsia berat
dan letak lintang. Bayi lahir pada pukul 21.00 tanggal 10 Juli 2015 dengan berat
badan lahir 4000 gram dan panjang 50 cm. Bayi lahir langsung menangis, tidak
ada sianosis dan tidak merintih. Air ketuban berwarna keruh. Nilai Apgar score
7/9 dengan kehamilan cukup bulan. Ibu mempunyai penyakit gula yang baru saja
diketahui sewaktu mengandung bulan ketujuh, dengan GDS 380 mg/dL. Riwayat
maternal ibu G4P3A0 dengan usia ibu 28 tahun. Anak pertama dari ibu ini
premature dan meninggal. Anak kedua lahir dengan berat badan 3800 gr. Anak
ketiga lahir dengan berat badan 4500 gr. Ibu rutin mengikuti Antenatal Care
dengan bidan.
Pemeriksaan fisik bayi saat masuk di kamar bayi peristi RSUD Undata
palu adalaha denyut jantung 132x/menit, pernapasan 76 x/menit, dan suhu aksila
36,8C. Skor Downe 1 (tidak ada gawat napas). Skor Ballard 31 dengan estimasi
kehamilan 36-38 minggu. Refleks fisiologis baik. Bunyi jantung I dan II murni
reguler, tidak ada murmur atau gallop. Kulit tidak pucat dan tidak ikterus. Tidak
ada muntah, diare, atau residu lambung. Pada palpasi abdomen, hepar dan lien
tidak teraba. Bayi aktif, composmentis, fontanela datar, sutura belum menutup,
refleks cahaya +/+, tidak kejang, dan tonus otot normal. Tidak ditemukan anus
imperforata, hidrokel, hernia, hipospadia, atau epispadia. Testis sudah turun ke
scrotum.
Bayi dirawat dengan diagnosis Bayi aterm dan gangguan napas ringan.
Pemeriksaaan penunjang GDS 77 mg/dL

Pemeriksaan Fisik
2

Denyut jantung

: 132 x/menit

Pernapasan

: 76 x/menit

Suhu axilla

: 36,8 C

CRT

: 1 detik

Berat badan

: 4000 gram

Panjang badan

: 50 cm

Sistem pernapasan
-

Sianosis
: tidak
Merintih
: tidak
Apnea
: tidak
Retraksi dinding dada
: tidak
Pergerakan dinding dada
: simetris bilateral
Cuping hidung: tidak
Stridor
: tidak
Bunyi napas : bronkovesikuler +/+
Bunyi tambahan
: tidak ada

Skor Downe
-

Frekuensi napas
Retraksi
Sianosis
Udara masuk
Merintih
Total skor
Kesimpulan

:1
:0
:0
:0
:0
:1
: tidak ada gawat napas

Sistem kardiovaskular
-

Bunyi jantung
Murmur

: SI/SII murni reguler


: tidak

Sistem hematologi
-

Pucat
Ikterus

: tidak
: tidak

Sistem gastrointestinal
-

Kelainan dinding abdomen : tidak


Muntah
: tidak
Diare
: tidak
Residu lambung
: tidak
3

Organomegali : hepar dan lien tidak teraba


Bising usus : kesan normal
Umbilikus
: kering
o Keluaran
: tidak ada
o Warna kemerahan
: tidak
o Edema
: tidak

Sistem saraf
-

Aktivitas
Kesadaran
Fontanela
Sutura
Kejang
Tonus otot

: aktif
: compos mentis
: datar
: belum menutup
: tidak
: baik

Sistem genetalia
-

Anus imperforata
Laki-laki
o Hipospadia
o Hidrokel
o Hernia
o Testis

: tidak
: tidak
: tidak
: tidak
: sudah turun ke scrotum

Refleks Fisiologi
-

Rooting-sucking
Babinski
Moro
Palmar graps
Plantar grasp
Tonic neck

: +/+
: +/+
:+
: +/+
: +/+
:+

Pemeriksaan lain
-

Ekstremitas : lengkap
Turgor
: 1 detik
Kelainan kongenital : tidak ada
Trauma lahir : tidak ada

Pemeriksaan Penunjang
-

GDS : 77 mg/dL

Terapi

Menjaga kehangatan bayi


Mengatur posisi
ASI/PASI 8x30 ml

STEP 1
Identifikasi Masalah
Kelahiran secara sectio caesaria atas indikasi preeklamsi berat dan letak lintang
Ibu dengan diabetes mellitus
Riwayat obstetric tidak baik
Pernapasan 76x/menit (napas cepat?
STEP 2
Rumusan Masalah
1. Masalah-masalah pada bayi dengan ibu diabetes mellitus ?
2. Pengaruh kontrol gula darah yang baik pada ibu diabetes mellitus terhadap
kondisi bayi, beserta obat-obatan yang aman digunakan untuk pengobatan
diabetes mellitus pada ibu?
3. Definisi antenatal care dan hal-hal yang harus dilakukan bidan dalam antenatal
care?
4. Hubungan antara preeklamsi dan gangguan napas?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kelainan letak pada bayi?

1. Masalah pada bayi dari ibu penderita diabetes melitus?


Makrosomia
Makrosomia atau bayi besar adalah bayi yang dilahirkan dengan
berat badan lebih dari 4000 gram. Dari berbagai penelitian didapatkan
kesan bahwa hiperinsulinemia berperan dalam merangsang pertumbuhan
bayi besar. Hipotesis perdersen menyebutkan bahwa hiperglikemia
maternal

merangsang

hiperinsulinemia

janin

dan

makrosomia.

Hiperinsulinemia akan menekan glukoneogenesis dan glikogenolisis


janin.
Fetus normal mempunyai sistem yang belum matang dalam
pengaturan kadar glukosa darah. Glukosa melintasi barier plasenta
melalui proses difusi, dan kadar glukosa janin sangat mendekati kadar
glukosa ibu. Mekanisme transport glukosa melindungi janin terhadap
kadar maternal yang tinggi. Bila kadar glukosa ibu tinggi melebihi batas
normal akan menyebabkan dalam jumlah besar glukosa dari ibu
menembus plasenta menuju janin dan terjadi hiperglikemia pada janin.
Tetapi kadar insulin ibu tidak dapat mencapai fetus, karena insulin tidak
dapat melewati barrier plasenta. Sehingga kadar glukosa itulah yang
mempengaruhi kadar glukosa fetus. Sel beta pancreas fetus kemudian
akan menyesuaikan diri terhadap tingginya kadar glukosa darah. Hal ini

akan menimbulkan janin mengalami hiperinsulinemia yang sebanding


dengan kadar glukosa darah ibu. Hiperinsulinemia yang bertanggung
jawab terhadap terjadinya makrosomia karena meningkatnya lemak
tubuh
Trauma lahir
Taruma lahir dapat pada bayi yang lahir dari ibu penderita diabetes
melitus dikarenakan tubuh bayi yang besar. Hal ini menjadi penyulit pada
saat persalinan sehingga bisa menyebabkan terjadinya trauma saat lahir.
Hipoglikemia
Hipoglikemia disebabkan oleh terjadinya hiperinsulinemia karena
hiperplasia sel beta pankreas janin akibat hiperglikemia ibu janin.
Karena suplai glukosa yang berlangsung terus menerus oleh ibu ke janin
saat lahir di terhenti menyebabkan terjadinya hipoglikemia dikarenakan
tidak cukupnya substrat. Juga terjadinya stimulasi pelepasan insulin pada
bayi yang disebabkan hiperglikemia ibu.
Gangguan napas
Jumlah insulin kurang atau tidak berfungsi sehingga tidak mampu
berperan dalam siklus kreb, akibatnya dalam serum darah ibu hamil
terjadi peningkatan glukosa, badan keton, kolesterol, konsentrasi asam
lemak. Dampaknya pada janin dapat terjadi gangguan napas.
2. Pengaruh kontrol gula darah yang baik pada ibu diabetes mellitus terhadap
kondisi bayi, beserta obat-obatan yang aman digunakan untuk pengobatan
diabetes mellitus pada ibu
Jawaban:
Kontrol gula darah yang baik selama kehamilan dapat memantau dan
menurunkan angka kematian karena komplikasi DM pada ibu dan janin.
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester
pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga
(terutama pada akhir trimester ketiga).
Diabetes mellitus pada kehamilan dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

1. DM yang memang sudah diketahui sebelumnya dan kemudian menjadi


hamil (Diabetes Mellitus Hamil/ Diabetes pregestasional)
2. DM yang baru ditemukan saat hamil (Diabetes Mellitus Gestasional/
DMG)
Meskipun memiliki perbedaan pada awal perjalanan penyakitnya, baik
penyandang DM pregestasional maupun DMG memiliki penatalaksanaan
yang kurang lebih sama.
Wanita dengan DM Gestasional hampir tidak memiliki keluhan,
sehingga perlu dilakukan skrining. Pada pasien dengan resiko tinggi,
skrining sebaiknya sudah mulai dilakukan pada saat pertama kali ke klinik
tanpa memandang usia kehamilan. Apabila hasil tes normal, maka perlu
dilakukan tes ulang pada minggu kehamilan 24-28 minggu. Hal ini
dikarenakan kadar hormon laktogen plasenta dan hormon peptida (estrogen,
progesteron) meningkat secara linear sepanjang trimester kedua dan ketiga.
Hormon ini memberi peningkatan resistensi insulin jaringan karena kadar
hormon yang meningkat. Pada trimester ketiga, insulin dalam 24 jam 50%
lebih tinggi dari pada kondisi tidak hamil.
Faktor resiko DM gestasional:
A. Faktor resiko obstetrik
Riwayat keguguran beberapa kali
Riwayat melahirkan bayi 4000 gram
Riwayat pre eklamsia
B. Riwayat umum
Usia saat hamil > 30 tahun
Riwayat DM dalam keluarga
Riwayat DMG pada kehamilan sebelumnya

Skrining pemeriksaan glukosa pada DM gestasional dengan


pemeriksaan TTGO menggunakan 75 gram glukosa dan penegakkan
diagnosis cukup melihat hasil glukosa darah 2 jam pasca pembebanan
glukosa. Persiapan TTGO sebagai berikut:

Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari.


Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,

minum air puth tanpa gula tetap diperbolehkan.


Diberikan glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam 250ml air dan diminum

dalam waktu 5 menit


Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2
jam setelah selesai minum larutan glukosa selesai.

Hasil pemeriksaan TTGO dibagi menjadi 3 yaitu:


- glukosa darah 2 jam < 140 mg/dL

normal

- glukosa darah 2 jam 140-200 mg/dL

TGT

- glukosa darah 2 jam 200 mg/dL

DM

Pada kehamilan, ibu dengan hasil pemeriksaan TTGO menunjukkan TGT


akan dikelola sebagai DM gestasional.Pada ibu hamil juga dapat dilakukan
pemeriksaan glukosa plasma puasa dimana kadar 126 mg/dL dinyatakan sebagai
DM gestasional.
Penatalaksanaan DM gestasional dimulai dengan terapi nutrisi medik yang
diatur oleh ahli gizi. Secara umum, diperlukan penambahan kalori pada trimester
1 sebanyak 180kcal/hari, sedangkan pada ibu dengan berat badan normal
membutuhkan tambahan asupan kalori 30 kcal/kg berat badan saat hamil pada
trimester kedua dan ketiga. Pada ibu yang obesitas dengan IMT > 30 kg/m 2 maka
penambahan kalori hanya 25 kcal/kg berat badan saat hamil. Aktifitas fisik pada
saat hamil yang disarankan adalah aktifitas fisik sedang seperti melakukan
pekerjaan dirumah seperti menyapu, mencuci piring, bisa berjalan santai 15
menit, dan sebagainya.
Sasaran glukosa puasa yang ingin dicapai adalah konsentrasi glukosa
plasma puasa 105 mg/dL dan glukosa dua jam setelah makan 120 mg/dL.

Apabila sasaran tidak tercapai maka perlu ditambahkan insulin. Penggunaan obat
hipoglikemik oral sejauh ini tidak direkomendasikan.
Terapi insulin direkomendasikan oleh The American Diabetes Association
ketika terapi diet gagal untuk mempertahankan kadar gula darah puasa < 95 mg/dl
atau 2 jam setelah makankadar gula darah < 120 mg/dl. Takaran insulin untuk
mencapai konsentrasi gula darah normal berkisar dari 0,2 unit/kg BB/haribagi
pasien diabetes yang sehat hingga 2 unit/kg BB/hari pada pasien yang obesitas.

3. Definisi antenatal care dan hal-hal yang harus dilakukan bidan dalam
antenatal care?
Jawaban:
Tujuan umum adalah :
untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal
yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat,
bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat.
Tujuan khusus adalah :
a) Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas,
termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, konseling KB dan
pemberian ASI.
b) Menghilangkan missed opportunity pada ibu hamil dalam mendapatkan
pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan berkualitas.
c) Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang diderita ibu
hamil.
d) Melakukan intervensi terhadap kelainan/penyakit/gangguan pada ibu
hamil sedini mungkin.
e) Melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanan kesehatan sesuai dengan
sistem rujukan yang ada.
INDIKATOR
1. Kunjungan pertama (K1)
K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan

10

komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini


mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8.
2. Kunjungan ke-4 (K4)
K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga
kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan
terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak 4 kali dilakukan sebagai
berikut: sekali pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu) dan
trimester ke-2 (>12 - 24 minggu), minimal 2 kali kontak pada trimester ke3 dilakukan setelah minggu
ke 24 sampai dengan minggu ke 36.Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4
kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan
kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam K4.
3. Penanganan Komplikasi (PK)
PK adalah penanganan komplikasi kebidanan, penyakit menular maupun
tidak menular serta masalah gizi yang terjadi pada waktu hamil, bersalin
dan nifas. Pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi.

11

Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus


Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:
1. Timbang berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan
atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya
gangguan pertumbuhan janin.
2. Ukur lingkar lengan atas (LiLA).
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk
skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi
kronis disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan
telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari
23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir
rendah (BBLR).
3. Ukur tekanan darah.
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah 140/90
mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema
wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)
4. Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan
umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan,
kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran
menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.
5. Hitung denyut jantung janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya
setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau
DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.
6. Tentukan presentasi janin;
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan
untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin

12

bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada
kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah lain.
7. Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus
mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining
status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai
dengan status imunisasi ibu saat ini.
8. Beri tablet tambah darah (tablet besi),
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet
zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak
pertama.
9. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah,
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk
mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk
mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan
apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.
b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal
sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga.
Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut
menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi
anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam
kandungan.
c. Pemeriksaan protein dalam urin
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada
trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan
untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria
merupakan salah satu indikator terjadinya preeclampsia pada ibu
hamil.
d. Pemeriksaan kadar gula darah.
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada

13

trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada


trimester ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).
e. Pemeriksaan darah Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan
darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil
di daerah non endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria
apabila ada indikasi.
f. Pemeriksaan tes Sifilis
Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan
ibu hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya
dilakukan sedini mungkin pada kehamilan.
g. Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus
HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah
menjalani konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan
sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.
h. Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita
Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak
mempengaruhi kesehatan janin. Selain pemeriksaaan tersebut diatas,
apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di
fasilitas rujukan.
10. Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus
ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasuskasus yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
11. KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
a. Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara
rutin ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar
beristirahat yang cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per
hari) dan tidak bekerja berat.
b. Perilaku hidup bersih dan sehat

14

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama


kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali
sehari dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan
dan sebelum tidur serta melakukan olahraga ringan.
c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama
suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu
menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan
dan calon donor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi
kehamilan, persalinan, dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas
kesehatan.
d. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya baik
selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan pada
hamil muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada jalan lahir
saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting agar ibu
hamil segera mencari pertolongan ke tenaga kesehtan kesehatan.
e. Asupan gizi seimbang
Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan
yang cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting
untuk proses tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu.
Misalnya ibu hamil disarankan minum tablet tambah darah secara
rutin untuk mencegah anemia pada kehamilannya.
f. Gejala penyakit menular dan tidak menular.
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular
(misalnya penyakit IMS,Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular
(misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu
dan janinnya.
g. Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah
tertentu (risiko tinggi).
Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari pelayanan
kesehatan ibu dan anak. Ibu hamil diberikan penjelasan tentang risiko
penularan HIV dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk

15

menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak.


Apabila ibu hamil tersebut HIV positif maka dicegah agar tidak terjadi
penularan HIV dari ibu ke janin, namun sebaliknya apabila ibu hamil
tersebut HIV negative maka diberikan bimbingan untuk tetap HIV
negatif selama kehamilannya, menyusui dan seterusnya.
h. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayinya
segera setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh
yang penting untuk kesehatan bayi. Pemberian ASI dilanjutkan sampai
bayi berusia 6 bulan.
i. KB paska persalinan
Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya ikut KB setelah
persalinan untuk menjarangkan kehamilan dan agar ibu punya waktu
merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.
j. Imunisasi
Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
untuk mencegah bayi mengalami tetanus neonatorum.
k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain booster)
Untuk dapat meningkatkan intelegensia bayi yang akan dilahirkan, ibu
hamil dianjurkan untuk memberikan stimulasi
4. Hubungan antara preeklamsi dan gangguan napas
Jawaban:
Patofisiologi preeklampsia-eklampsia setidaknya

berkaitan

dengan

perubahan fisiologi kehamilan. Adaptasi fisiologi normal pada kehamilan


meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi
vaskular sistemik systemic vascular resistance (SVR), peningkatan curah
jantung, dan penurunan tekanan osmotik koloid Pada preeklampsia, volume
plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan
peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ
maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme
siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel
darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun. Vasopasme
merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai
preeklampsia. Vasopasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap

16

tekanan

darah,

seperti

angiotensin

II

dan

kemungkinan

suatu

ketidakseimbangan antara prostasiklin prostagladin dan tromboksan A2.


Peneliti telah menguji kemampuan aspirin (suatu inhibitor prostagladin)
untuk mengubah patofisiologi preeklampsia dengan mengganggu produksi
tromboksan. Investigasi pemakaian aspirin sebagai suatu pengobatan
profilaksis dalam mencegah preeklampsia dan rasio untung-rugi pada ibu dan
janin.
Selain kerusakan endotelil, vasospsme arterial turut menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan
lebih lanjut menurunkan volume intravaskular, mempredisposisi pasien yang
mengalami preeklampsia mudah menderita edema paru. Preeklampsia ialah
suatu keadaan hiperdinamik dimana temuan khas hipertensi dan proteinurea
merupakan akibat hiperfungsi ginjal. Untuk mengendalikan sejumlah besar
darah yang berfungsi di ginjal, timbul reaksi vasospasme ginjal sebagai suatu
mekanisme protektif, tetapi hal ini akhirnya akan mengakibatkan proteinuria
dan hipertensi yang khas untuk preeklampsia. Hubungan sistem imun dengan
preeklampsia menunjukkan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran
penting dalam perkembangan preeklampsia. keberadaan protein asing,
plasenta atau janin bisa membangkitkan respons imunologis lanjut.
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kelainan letak pada bayi
Jawaban:
a. Definisi
Malpresentasi meliputi semua presentasi selain verteks
b. Faktor Predisposisi:
Wanita multipara
Kehamilan multipel (gemeli)
Polihidramnion/oligohidramnion
Plasenta previa
Kelainan bentuk uterus atau terdapat massa (mis. mioma uteri)
Persalinan preterm
c. Patofisiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruang dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32
minggu,

jumlah

air

ketuban

relatif

lebih

banyak,

sehingga

17

memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin


dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau
letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang, karena bokong dengan kedua
tungkai terlipat lebih besar dari pada kepala maka bokong menempati
bagian yang lebih kecil disegmen bagian bawah uterus. Dengan demikian
dapat dimengerti mengapa pada kehamilan kurang bulan frekuensi letak
sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin
sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala
d. Kelainan Letak Janin
1. Letak sungsang
Merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang/membujur
dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum
uteri.
2. Letak Lintang
Merupakan suatu keadaan dimana janin melintang didalam uterus
dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang
lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada
kepala janin sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul.
Punggung janin dapat berada didepan (dorsoanterior), di belakang
(dorso posterior) atau di bawah (dorsoinferior).
Penyebab Letak lintang

Dinding abdomen teregang secara berlebihan disebabkan oleh


kehamilan multiparitas pada ibu hamil dengan paritas 4 atau lebih
terjadi insiden hampir 10x lipat dibanfing ibu hamil nullpara.
Relaksasi dinding abdomen pada perut yang menggantung akibat
multipara dapat menyebabkan uterus jatuh ke depan. H

al

ini

mengakibatkan defleksi sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan

lahir.
Pada janin premature letak janin belum menetap, masih terjadi
perputaran janin sehingga menyebabkan letak memanjang.

18

Dengan adanya plasenta atau tumor di jalan lahir maka sumbu

panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir.


Cairan amnion berlebih (hidramnion) dan kehamilan kembar
Bentuk panggul yang sempit mengakibatkan bagian presentasi tidak
dapat masuk ke dalam panggul sehingga dapat mengakibatkan sumbu

panjang janin menjauhi jalan lahir.


Bentuk dari uterus yang tidak normal menyebabkan janin tidak dapat
engagement sehingga sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan

lahir
3. Letak muka
Merupakan suatu kondisi dimana kepala dalam posisi hiperekstensi
sehingga oksiput menempel pada punggung bayi dan dagu menjadi bagian
terbawah janin.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Ralph D, et al. Oskis Pediatrics Principles & Practice , fourth edition,
Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia, 2006
2. Mustadjab I. Kumpulan Kuliah Perinatologi Manado. Bagian Ilmu Kesehatan
Anak FK Unsrat.
3. Sudoyo, Aru W., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna
Publishing; 2009
4. Kementerian Kesehatan. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Jakarta:
Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat; 2010
5. Thomas R Moore, MD et al. Diabetes Mellitus and Pregnancy. Diakses pada
http://emedicine.medscape.com/article/12754overview#showallmed/2349.
Jan 27, 2014 update.
6. Siregar,E dan Tarigan,S. Letak Lintang. Library Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara. 2012

20