Anda di halaman 1dari 7

No.

ID dan Nama Peserta :

/ dr. Rahmi Dwi Ramadhana

No. ID dan Nama Wahana :

/ Perawatan RSUD Daya Makassar

Topik : Disentri
Tanggal Kasus : 19 November 2013
Nama Pasien : Ny.D
No. RM : 39711
Tanggal Presentasi : 27 Desember 2013
Pendamping : dr. Hj.A.Rahmawaty Malik
Tempat Presentasi : RSUD Daya Kota Makassar
Objek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Perempuan, 60 tahun, keluhan buang air besar encer sejak 3 hari yang lalu,
disertai lendir dan darah.
Tujuan : Mendiagnosis kelainan pasien, life saving, penatalaksanaan lebih lanjut pada
pasien, menentukan prognosis pasien, edukasi pasien dan keluarganya.
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Bahasan :
Pustaka
Cara
Presentasi dan
Diskusi
Email
membahas :
diskusi

Audit
Pos

Data Pasien :
Nama : Ny. D
No. Registrasi : 39711
Nama klinik :
Perawatan RSUD Daya Makassar
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Disentri Akut. Perempuan, 60 tahun, di rawat di Perawatan Interna RSUD Daya
dengan keluhan BAB encer sejak tiga hari yang lalu, frekuensi kurang lebih 5 x/hari,
ampas (+) , lendir (+), darah (+). Nyeri perut (+) terutama saat buang air besar, mual
(+), muntah (+), frekuensi kurang lebih 3 x/hari, isi sisa makanan dan air. Demam
tidak ada. Riwayat mengkonsumsi makanan dan minuman dari pinggir jalan (+).
Nafsu makan berkurang. BAK : lancar
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah berobat sebelumnya
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Pasien sebelumnya pernah mengalami gejala serupa tapi tidak disertai dengan lendir
dan darah. Riwayat Hipertensi disangkal. Riwayat Diabetes Melitus disangkal.
4. Riwayat Keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien merupakan seorang lansia yang tidak bekerja.
6. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Keadaan gizi
: Cukup
GCS
: E4V5M6
1

Tanda Vital
Tekanan Darah
Pernapasan
Nadi
Suhu
Status Genaralisata
Kelapa
Mata
Hidung
Mulut
Leher
Paru-paru
Jantung
Ekstremitas
Status Lokalis
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

:
: 100/70 mmHg
: 18 x/menit
: 88 x/menit
: 36,9oC
:
: Normocephal
: Konjungtiva anemis (-/-), ikterus (-/-), pupil bulat isokor
: Tidak ada pernapasan cuping hidung
: Sianosis (-)
: Deviasi trakea (-), pembesaran KGB (-)
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: Akral hangat, sianosis (-), ikterik (-), edem tibial (-)
:
: Permukaan abdomen rata, ikut gerak napas
: Peristaltik (+) kesan meningkat
: Nyeri tekan (+) regio epigastrik. Hepar/ lien tidak teraba
: Timpani (+)

7. Pemeriksaan Laboratorium :
Hasil laboratorium 18 November 2013 :
WBC : 9,7. 103/mm3
RBC : 3,97. 106 *
HGB : 11 g/dl *
HCT : 41,5%
Daftar Pustaka :
1. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke Tiga. Jakarta : Balai penerbit FKUI. 2001
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.2006
3. www.disentri.org
Hasil Pembelajaran :
1. Menegakkan diagnosis Disentri
2. Mengetahui penatalaksanaan Disentri
3. Mengetahui pencegahan Disentri
4. Konsultasi yang diperlukan untuk kasus Disentri
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio :
1. Subjektif :
Perempuan, 60 tahun, mengeluh buang air besar encer sejak tiga hari yang lalu,
frekuensi kurang lebih 5 kali sehari disertai lendir dan darah. Didapatkan nyeri perut
terutama saat pasien buang air besar, mual, dan muntah (isi sisa makanan dan air)
frekuensi kurang lebih 3 kali sehari. Selain itu di dapatkan nafsu makan berkurang.
2

Sebelum gejala muncul pasien mengkonsumsi makanan dan minuman dari pinggir
jalan (bakso). Pasien pernah mengalami gejala serupa tapi tanpa lendir dan darah.
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami gejala serupa.
2. Objektif :
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien terlihat lemas, sakit sedang, GCS E 4V5M6.
Dengan tanda vital, tekanana darah 100/70 mmHg, nadi 88 kali/menit, pernapasan 18
kali/menit, suhu 36,9oC per aksila. Pemeriksaan abdomen dari inspeksi didapatkan
tampak permukaan abdomen rata, ikut gerak napas. Auskultasi didapatkan peristaltik
meningkat, palpasi didapatkan nyeri tekan pada regio epigastrik, hepar/lien tidak
teraba, dan pada perkusi didapatkan timpani. Tenesmus (+).
Dan dari pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya penurunan sel darah merah
dan hemoglobin. Pemeriksaan feses rutin tidak dilakukan.
Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis,
pemeriksaan laboratorium, dan sanitasi pasien.
3. Assesment :
Berdasarkan subjektif dan objektif yang meliputi gejala klinis, pemeriksaan fisis,
pemeriksaan laboratorium, dan sanitasi pasien maka dapat disimpulkan bahwa pasien
menderita Disentri.
Tinjauan Pustaka
Disentri merupakan peradangan pada usus besar. Gejala penyakit ini ditandai dengan
sakit perut dan buang air besar encer secara terus-menerus (diare) yang bercampur
lendir, dan darah. Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu disentri amuba dan disentri basiler. Disentri amuba disebabkan oleh infeksi
parasit Entamoeba histolytica dan disentri basiler disebabkan oleh infeksi bakteri
Shigella. Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang
sudah terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat merupakan
serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah
menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi.

Bakteri

masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga


menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang
menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah.
Etiologi
1. Faktor infeksi
2. Faktor malabsorbsi
3

3. Faktor makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan


Gejala Klinis
Gejala yang akan dialami penderita disentri biasanya berupa mencret dan perut mulas,
bahkan sering kali penderita merasakan perih di anus akibat terlalu sering buang air.
Disentri Basiler (Shigella Sp)
Diare mendadak yang disertai darah dan lendir
dalam tinja
Permulaan sakit bisa terdapat diare encer tanpa
darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 1272 jam sesudah permulaan sakit dan didapatkan
darah dan lendir dalam tinja.
Panas tinggi (39,5oC 40oC), terlihat toksik
Muntah-muntah

Disentri Amoeba
Diare disertai darah dan lendir dalam tinja
Frekuensi BAB umumnya lenih sedikit
daripada disentri basiler (kurang dari 10
kali/hari)
Sakit perut hebat (kolik)
Gejala konstitusional biasanya tidak ada
(panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus)

Anoreksia
Sakit keram di perut dan sakit keram di anus
saat BAB
Disentri akut ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanya mengeluh
perut kembung, kadang nyeri perut ringan. Dapat timbul diare ringan, 4-5 kali sehari,
dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir. Terdapat
sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah epigastrium. Keadaan
tersebut bergantung pada lokasi ulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa
atau sedikit demam ringan(subfebris). Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau
sedikit nyeri tekan.
Disentri akut sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berat dibanding disentri ringan, tetapi pasien
masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanya disertai lendir dan
darah. Pasien mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali
yang nyeri ringan.
Disentri akut berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berat lagi. Penderita mengalami diare disertai darah
yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (40 o C-40,5oC), disertai anemia
berat.
Disentri kronik
4

Gejalanya menyerupai disentri ringan, serangan-serangan diare diselingi dengan


periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga
bertahun-tahun.. Serangan diare yang terjadi biasanya dikarenakan kelelahan, demam
atau makanan yang sulit dicerna.
Pemerikasaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis
disentri antara lain darah rutin, pemeriksaan feses makroskopik dan mikroskopik.
Akan tetapi untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur.
Penatalaksanaan
1. Mengatasi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Sebagian besar pasien
disentri dapat diatasi dengan rehidrasi oral. Pada pasien dengan diare berat disertai
dengan dehidrasi dan pasien yang muntah berlebihan sehingga tidak dapat
dilakukan rehidrasi oral harus dilakukan rehidrasi intravena. Serupa dengan
penanganan penyakit gangguan pencernaan lainnya, penderita disentri harus
segera mendapat asupan cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Dalam
keadaan darurat, dehidrasi ringan dapat diatasi dengan pemberian oralit. Jika
cairan yang hilang tidak segera tergantikan, dapat menyebabkan kematian pada
penderita.
2. Antibiotik. Pilihan utama untuk disentri adalah Cotrimoxazole 2 x 960 mg
diberikan selama 5 hari. Alternatif yang dapat diberikan antara lain Ampicilin 4 x
500 mg, Cefriaxon 50mg/kgBB/hari. Perbaikan seharusnya tampak dalam waktu 2
hari. Misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB
berkurang. Bila dalam 2 hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan
dan diganti dengan antibiotik lain. Terapi anti ameboik diberikan dengan indikasi
yaitu ditemukannya tropozoid entamoeba dalam pemeriksaan mikroskopis tinja,
tinja darah menetap setelah terapi dengan dua antibiotik berturut-turut, untuk
terapi digunakan Metronidazole 3 x 500 mg selama 5 sampai 7 hari.
3. Simtomatik
4. Edukasi mengenai sanitasi keluarga, kebersihan diri dan makanan untuk
mencegah infeksi.
Pencegahan
Disentri dapat dicegah dengan cara :
1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun secara
5

teratur dan teliti.


Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.
Memasak makanan sampai matang.
Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.
Mengatur pembuangan sampah dengan baik.

2.
3.
4.
5.
4.

Plan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pasien ini di diagnosis menderita Disentri Akut.
Pengobatan :

Infus RL 28 tpm
Cotrimoxazole 480 mg 2x2
Metronidazole tab 3x1
Asam traneksamat 3x1
Ranitidine 1 gr amp/8 jam/iv
Ondansetron 1 gr amp/12 jam/iv
Oralit

Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan feses rutin
Prognosis
Prognosis ditentukan berdasarkan perjalanan klinis pasien dan pemeriksaan laboratorium.
Prognosis pada pasien ini tergolong dubia ad bonam, jika pasien menjaga sanitasi dan
mengkonsumsi makanan minuman yang sehat dan bergizi.
Pendidikan
Edukasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit. Untuk menjaga kebersihan
makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, serta menjaga kebersihan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Serta tidak lupa melakukan edukasi kepada pasien mengenai
penatalaksaan dan prognosis pada pasien.
Rujukan
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harus ditangani di rumah sakit dengan saran
dan prasaran yang lebih memadai.
Follow up pasien
20/11/2013
TTV

21/11/2013

22/11/2013

TD : 110/70

TD : 120/70

TD : 110/70

N : 84 x/menit

N : 70 x/menit

N : 88 x/menit

P : 16 x/menit

P : 18 x/menit

P : 16 x/menit

Keluhan

S : 36,7oC

S : 36,7oC

BAB encer (+), frek. 3

BAB encer (+), frek. 2

x/hari.

x/hari.

Ampas

(+),

S : 36,9oC

Ampas

(+),

lendir (-), darah (+)

lendir (-), darah (+)

sedikit.

sedikit.

Nyeri perut (+)


NT abdomen (+) regio

NT abdomen (+)

NT abdomen (-)

epigastrik

Peristaltik (+) kesan

Peristaltik (+) kesan

Peristaltik (+) kesan

normal

normal

Diagnosis

meningkat
Disentri Akut

Disentri Akut

Disentri Akut

Terapi

Infus RL 28 tpm

Infus RL 28 tpm

Cotrimoxazole 2x2

Cotrimoxazole 2x2

Cotrimoxazole 2x2

Metronidazole 3x1

Metronidazole 3x1

Metronidazole 3x1

As. traneksamat 3x1

As. traneksamat 3x1

As. traneksamat 3x1

Ranitidine tab 2x1

Pemeriksaan

Ranitidine

amp/8 jam/iv
Ondansetron

Planning

gr Ranitidine

gr

amp/8 jam/iv
1

gr Ondansetron

amp/12 jam/iv

amp/12 jam/iv

Oralit
Observasi

Oralit
Observasi

gr

Boleh pulang