Anda di halaman 1dari 15

BAB V

BATUBARA

5.1.

Pembahasan Umum
Batubara adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa

tumbuhan purba, berwarna coklat-hitam, yang sejak pengendapannya mengalami


proses kimia dan fisika, yang mengakibatkan pengayaan pada kandungan
karbonnya. Batubara merupakan salah satu jenis batuan sedimen yang memiliki
material penyusun khas dan berbeda dari batuan sedimen lainnya, baik secara
kimia maupun petrografi. Unsur-unsur utama batubara adalah karbon, oksigen dan
hidrogen. Endapan batubara dapat diartikan sebagai endapan yang mengandung
hasil akumulasi material organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang telah
melalui proses litifikasi untuk membentuk lapisan batubara. Material tersebut
telah mengalami kompaksi, ubahan kimia dan proses metamorfis oleh
peningkatan panas dan tekanan selama periode geologi.

5.1.1. Proses Pembentukan Batubara


Dalam proses pembentukan batubara, terdapat 2 proses utama yang
berperan, yaitu proses penggambutan (peatification) dan pembatubaraan
(coalification).

5.1.1.1. Penggambutan (Peatification)


Gambut adalah sedimen organik yang dapat terbakar, berasal dari
tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam
kondisi tertutup udara (dibawah air), tidak padat, memiliki kandungan air lebih
dari 75% (berat) dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi
kering (Anggayana, 2000).
Proses penggambutan ini merupakan tahap paling awal dari proses
pembentukan batubara, meliputi proses mikrobial dan perubahan kimia
(biochemical). Faktor yang sangat penting dalam proses ini adalah keberadaan air

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

31

dan mikro-organisme (bakteri). Tumbuhan tersusun dari berbagai unsur, yaitu C,


H, O dan N. Setelah tumbuhan mati, terjadi proses degradasi biokimia. Tumbuhan
akan mengalami pembusukan, yang kemudian diuraikan oleh mikro-organisme,
memotong ikatan kimia sehingga menjadi humus. Dalam keadaan melimpahnya
oksigen dan jumlah bakteri yang banyak, terjadi proses biokimia dimana semua
unsur tumbuhan akan terubah yang berakibat lepasnya H, O, dan N dalam bentuk
air dan NH3, sebagian unsur C dalam bentuk gas CO2, CO dan metan (CH5). Akan
tetapi jika tumbuhan tertutup air atau terendam dengan cepat maka akan terhindar
dari proses pembusukan, perubahan unsur pada tumbuhan tidak sempurna
seluruhnya, sisa tumbuhan akan bertumpuk dan bereaksi menghasilkan gambut.
Pada tahap selanjutnya, proses penggambutan akan diikuti oleh proses
pembatubaraan, meliputi proses geologi dan perubahan kimia (geochemical). Pada
tahap ini bakteri tidak ikut berperan.

5.1.1.2 Pembatubaraan (coalification)


Proses ini adalah perkembangan gambut menjadi lignit, brown coal, subbituminus, bituminus dan antrasit yang dikontrol terutama oleh temperatur,
tekanan dan waktu. Selama proses perubahan gambut menjadi lignit, terjadi
proses kenaikan temperatur dan penurunan porositas. Hal ini ditunjukkan oleh
penurunan kandungan airnya (moisture content) yang cepat. Kenaikan temperatur
dan penurunan prositas ini diakibatkan oleh kompaksi yang dihubungkan dengan
peningkatan tekanan overburden (pembebanan sedimen-sedimen diatasnya) dalam
kurun waktu tertentu. Seiring peningkatan temperatur dan tekanan dalam waktu
geologi, yang diantaranya disebabkan oleh adanya gradien geothermal dan
tekanan overburden, brown coal akan terubah menjadi batubara sub-bituminus
dan bituminus. Selama proses pembatubaraan ini, persentase karbon (C)
meningkat karena unsur H, O dan N didalamnya akan terlepas sebagai gas O2,H2
dan N2. Proses akhir pembatubaraan adalah terbentuknya batubara antrasit yang
dicirikan oleh penurunan unsur H secara cepat. Faktor peningkatan temperatur
memegang peranan yang sangat penting pada tahapan ini.

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

32

5.1.2. Lingkungan Pengendapan Batubara


Batubara terbentuk dari sisa material tumbuhan dalam suatu lingkungan
tertentu dimana tumbuhan tersebut dapat terendam oleh air, sehingga dapat
disimpulkan lingkungan yang memungkinkan terbentuknya endapan batubara
yang digenangi oleh air dalam kurun waktu tertentu, yaitu rawa. Secara geografis
rawa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagai berikut :
1. Rawa Paralis (tepi laut), seperti rawa pinggir pantai, delta dan laguna.
2. Rawa Limnik (tepi danau), seperti rawa meadow dan tepi danau.
Delta merupakan lingkungan pengendapan batubara yang sering
ditemukan. Berdasarkan morfologinya, lingkungan delta dibagi menjdi 3 bagian,
yaitu delta plain, delta front dan pro-delta. Delta plain sendiri terdiri dari upper
delta plain dan lower delta plain.
Horne, dkk (1978) membagi lingkungan pengendapan batubara di daerah
delta menjadi 4 bagian, yaitu sebagai berikut :
1. Lingkungan back barrier dengan ciri lapisannya tipis, penyebaran lateral tidak
menerus dan kandungan sulfur tinggi.
2. Lingkungan lower delta plain dengan ciri lapisan tipis, penyebaran luas dan
distribusi kandungan sulfur tidak teratur.
3. Lingkungan upper delta plain-fluvial dengan ciri lapisan agak tebal, setempat
dan biasanya penyebaran lateral tidak merata serta kandungan sulfur rendah.
4. Lingkungan zona transisi antara upper dan lower delta plain, dengan ciri
lapisan yang tebal dan penyebarannya lateral luas dan rendah sulfur.

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

33

Gambar 5.1. Lingkungan Pengendapan Batubara (Horne dkk, 1978)

5.1.3. Analisis Kualitas Batubara


Penentuan kualitas batubara dilakukan dengan memperhatikan sejumlah
parameter kualitas yang dihasilkan dari analisis kimia dan pengujian laboratoriun.
Analisis kimia batubara terdiri dari 2 jenis, yaitu sebagai berikut :

5.1.3.1. Analisis Ultimat


Analisis ultimat adalah cara sederhana utnuk menunjukkan unsur
pembentuk batubara dengan mengabaikan senyawa kompleks yang ada dan hanya
dengan menentukan unsur kimia pembentuk yang penting. Ada 5 unsur utama
pembentuk batubara, yaitu karbon, hidrogen, sulfur, nitrogen, oksigen dan fosfor.
Kandungan sulfur yang sangat umum dijumpai dalam endapan batubara, yaitu :
1. Pirit terjadi dalam bentuk makrodeposit (lensa, vein, joint).
2. Sulfur Organik, jumlahnya 20-80% dari sulfur total. Secara kimia terikat
dalam bentuk batubara.

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

34

3. Sulfur Sulfat, umumnya berupa kalsium sulfat dan besi sulfat dengan jumlah
yang kecil.

5.1.3.2.Analisis Proksimat
Analisis Proksimat digunakan untuk menentukan kelas atau rank batubara.
Analisis ini terdiri dari 4 parameter utama, yaitu sebagai berikut :

Kadar Air atau Lengas (Moisture) merupakan kandungan air yang terdapat
dalam batubara, dapat dibedakan menjadi kadar air bebas atau free (surface
moisture), kadar air bawaan (inherent moisture) dan kadar air total (total
moisture).

Kadar Abu (ash) didefinisikan sebagai bahan inorganik yang tertinggal atau
tidak terbakar sewaktu batubara dibakar pada temperatur 8150 C.

Zat Terbang (volatile matter) adalah komponen dalam batubara yang dapat
lepas atau menguap pada saat dipanaskan tanpa udara pada temperatur 9000 C,
meliputi volatile mineral matter dan volatile organic matter.

Karbon Tertambat (fixed carbon) yaitu jumlah karbon yang tertambat dalam
batubara setelah kandungan air, abu dan zat terbang dihilangkan.

5.1.4. Klasifikasi Batubara


Penggolongan batubara yang secara umum digunakan adalah klasifikasi
yang dikeluarkan oleh ASTM (American Standard For Testing Minerals).
Parameter yang digunakan sebagai dasar klasifikasi ini adalah jumlah karbon yang
tertambat dan zat terbang untuk batubara dengan rank tinggi, fixed carbon > 69%.
Nilai kalori (calotific value) untuk batubara dengan rank rendah < 69%. Parameter
tambahan berupa sifat coking (karakter penggumpalan).
Dalam klasifikasi ASTM, batubara digolongkan berdasarkan nilai kalori
yang dihitung pada kondisi (basis) dry mineral matter free (dmmf), sedangkan
nilai kalori yang diperoleh dari data kualitas analisa laboratorium dalam kondisi
air dried (adb), maka nilai kalori dalam kondisi adb tersebut harus dikonversi
menjadi dmmf dengan menggunakan parr formulas sebagai berikut :
Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji
dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

35

Fc (dmmf) =

{(fc - 0.15 x S) 100}


[100 - (M + 1,08 x A + 0,55 x S]

Vm (dmmf) = 100 fc (dmmf)


Cv (dmmf) =

{(Btu - 50 x S) 100}
[100 - (M + 1,08 x A + 0,55 x S]

Ket :
Fc = % karbon padat (adb)
Vm = % zat terbang (adb)
M = % moisture (adb)
A = % abu (adb)
S = % sulfur (adb)
Btu = british termal unit; per pound = 1,8185 x CV(adb)

Tabel 5.1 Klasifikasi Rank Batubara (ASTM, 1981 op cit. Wood, dkk. 1983)

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

36

5.2.

Batubara Daerah Penelitian


Berdasarkan hasil pemetaan geologi yang telah dilakukan pada daerah

penelitian, endapan batubara hanya ditemukan pada Satuan Batulempung yang


merupakan pembawa batubara dari anggota Formasi Muaraenim. Batubara yang
terdapat di daerah penelitian dijumpai sebagai sisipan.
Pada daerah penelitian ditemukan cukup banyak singkapan batubara dan
penyebarannya cukup luas. Penentuan korelasi antar singkapan batubara pada
daerah penelitian agak sukar karena tidak terdapat ciri unik yang dapat dijadikan
penentuan korelasi. Oleh karena itu, penentuan hanya didasarkan atas letak
singkapan yang berdekatan. Berdasarkan rekontruksi penampang geologi
diperkirakan terdapat 6 lapisan (seam) batubara pada daerah penelitian.

5.2.1. Lapisan Batubara A (Seam A)


Batubara Seam A (Gambar 5.5) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
UAL 016 dan SBN 005. Berdasarkan data singkapan, ketebalan batubara seam A
ini 1 1,5 meter dengan kemiringan berkisar antara 20 - 25 ke arah baratdaya.
Lapisan ini cenderung tidak menerus dan merupakan sisipan pada
perlapisan batulempung karbonan. Batulempung karbonan umumnya merupakan
litologi pada atap dan alas pada singkapan batubara seam A.
Ciri - ciri batubara pada Seam A, yaitu berwarna hitam kecokelatan,
kusam, getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit dan parting berupa
batulempung dengan ketebalan antara 5-10 cm.

Gambar 5.2. Foto Singkapan Batubara Seam A (Lokasi UAL 016)

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

37

5.2.2. Lapisan Batubara B (Seam B)


Batubara Seam B (Gambar 5.6) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
UAL 010, UAL 011, UAL 017, UAL 018, LPG 001, PAU 014, PAU 015, SBN
004 dan SBN 006. Berdasarkan data singkapan, ketebalan batubara seam B ini
bervariasi antara 1 2 meter. Kemiringan singkapan berkisar antara 15 - 25 ke
arah baratdaya dan 10 - 110 ke arah timurlaut membentuk pola antiklin.
Lapisan ini cenderung tidak menerus dan merupakan sisipan pada
perlapisan batulempung karbonan. Batulempung karbonan umumnya merupakan
litologi pada atap dan alas pada singkapan batubara seam B.
Ciri - ciri batubara pada Seam B, yaitu berwarna cokelat kehitaman, kusam,
getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit dan parting berupa batulempung
dengan ketebalan antara 5-8 cm.

(a) Lokasi UAL 017

(b) Lokasi SBN 006


Gambar 5.3. Foto Singkapan Batubara Seam B

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

38

5.2.3. Lapisan Batubara C (Seam C)


Batubara Seam C (Gambar 5.7) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
UAL 006, UAL 021, LPG 002, PAU 005, PAU 006 dan PAU 011. Berdasarkan
data singkapan, ketebalan batubara seam B ini bervariasi antara 0,5 2 meter.
Kemiringan singkapan berkisar antara 10-11 kea rah timurlaut dan 200 ke arah
baratdaya membentuk pola antiklin.
Lapisan ini cenderung menerus dan merupakan sisipan pada perlapisan
batulempung karbonan. Batulempung karbonan umumnya merupakan litologi pada
atap dan alas pada singkapan batubara seam C.
Ciri - ciri batubara pada Seam C, yaitu berwarna cokelat kehitaman, kusam,
getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit.

Batulempung

Batubara

(a) Lokasi PAU 011

Gambar 5.4. Foto Singkapan Batubara Seam C

(b) Lokasi PAU 005

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

39

5.2.4. Lapisan Batubara D (Seam D)


Batubara Seam D (Gambar 5.8) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
UAL 003, UAL 004, UAL 005, UAL 022, SNP 001, SNP 002, SNP 003, PNG
004, PNG 005, PNG 006, PNG 007, PNG 008, PAU 002, PAU 003, PAU 004,
PAU 008, PAU 009, PAU 010 dan LPG 003. Berdasarkan data singkapan,
ketebalan batubara seam D ini bervariasi antara 0,5 1,5 meter. Kemiringan
singkapan berkisar antara 9 - 13 ke arah timurlaut dan 200 ke arah baratdaya dan
membentuk pola antiklin.
Lapisan ini cenderung menerus dan merupakan sisipan pada perlapisan
batulempung karbonan. Batulempung karbonan umumnya merupakan litologi pada
atap dan alas pada singkapan batubara seam D.
Ciri - ciri batubara pada Seam D, yaitu berwarna cokelat kehitaman, kusam,
getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit dan parting berupa batulempung
dengan ketebalan antara 5-10 cm.

(a) Lokasi PNG 007

(b) Lokasi PAU 004

Gambar 5.5. Foto Singkapan Batubara Seam D

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

40

ara

Batubara

5.2.5. Lapisan Batubara E (Seam E)


Batubara Seam E (Gambar 5.9) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
PNG 009. Berdasarkan data singkapan, ketebalan batubara seam E ini bervariasi
antara 0,4 meter. Kemiringan singkapan berkisar antara 10 ke arah timurlaut.
Lapisan ini cenderung tidak menerus dan merupakan sisipan pada
perlapisan batulempung. Batulempung ini merupakan litologi pada alas pada
singkapan batubara seam E.
Ciri - ciri batubara pada Seam E, yaitu berwarna cokelat kehitaman, kusam,
getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit dan parting berupa batulempung
dengan ketebalan antara 5-10 cm.

Batubara
Parting Lempung
Batubara

Gambar 5.6. Foto Singkapan Batubara Seam E (lokasi PNG 009)

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

41

5.2.6. Lapisan Batubara F (Seam F)


Batubara Seam F (Gambar 5.10) tersingkap di lokasi penelitian pada titik
LPG 004, LPG 005 dan LPG 006. Berdasarkan data singkapan, ketebalan batubara
seam F ini bervariasi antara 0,7 1,5 meter. Kemiringan singkapan berkisar antara
15 - 20 ke arah baratdaya.
Lapisan ini cenderung tidak menerus dan merupakan sisipan pada perlapisan
batulempung karbonan. Batulempung karbonan umumnya merupakan litologi pada
atap dan alas pada singkapan batubara seam F.
Ciri - ciri batubara pada Seam F, yaitu berwarna cokelat kehitaman, kusam,
getas, jarak antar cleat cukup rapat, terdapat pirit dan parting berupa batulempung
dengan ketebalan antara 10-15 cm.

Gambar 5.7. Foto Singkapan Batubara Seam F (lokasi LPG 004).

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

42

5.3.

Sumberdaya Batubara Daerah Penelitian


Ada 5 metoda yang umum digunakan dalam menghitung sumberdaya

batubara, yaitu sebagai berikut :


1. Metoda Penampang
2. Metoda Circular USGS
3. Metoda Blok
4. Metoda Polygon
Pemakaian metoda diatas disesuaikan dengan kualitas data, jenis data yang
diperoleh dan kondisi lapangan serta metoda penambangan. Karena data yang
digunakan dalam perhitungan hanya berupa data singkapan, maka metoda yang
digunakan adalah Metoda USGS.
Secara umum, langkah - langkah yang dilakukan untuk menghitung
sumberdaya batubara dengan menggunakan Metoda USGS (Wood, dkk, 1983)
adalah sebagai berikut :
1. Pembuatan peta sebaran batubara.
2. Pembuatan lingkaran di setiap titik singkapan batubara, dimana
a. Daerah yang berada pada radius 0 - 400 meter merupakan sumberdaya
terukur (measured resources)
b. Daerah yang berada pada radius 400 1200 meter merupakan sumberdaya
tertunjuk (indicated resources)
c. Daerah yang berada pada radius 1200 4800 meter merupakan
sumberdaya terkira (inferred resources)
3. Berdasarkan radius lingkaran yang telah dibuat berdasarkan Metoda USGS
sebelumnya, maka akan didapat titik pepotongan pada tiap lingkaran, dimana
hasil dari titik perpotongan tersebut akan menghasilkan cadangan daerah yang
akan dihitung jumlah sumberdayanya (Gambar 5.3).

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

43

Gambar 5.8. Metoda Circular USGS (Wood et al., 1983)

4. Rumus perhitungan jumlah sumberdaya batubara daerah penelitian mengacu


pada Metoda Circular USGS, dimana aturan perhitungan di atas berlaku untuk
kemiringan lapisan batubara lebih kecil atau sama dengan 300, sedangkan
untuk batubara dengan kemiringan lapisan lebih dari 300 aturannya adalah
harga proyeksi radius lingkaran tersebut ke permukaan (Gambar 5.4).
Adapun rumus perhitungan adalah sebagai berikut :
a. Untuk dip @ 300
Sumberdaya = luas area (m2) x tebal (m) x berat jenis (ton/m3)
b. Untuk dip @ > 300
Sumberdaya = luas area (m2) x tebal (m) x berat jenis (ton/m3)
Cos

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

44

Gambar 5.9. Penghitungan Sumberdaya Batubara Metoda USGS


Dengan Memperhatikan Kemiringan Lapisan.

Geologi dan Endapan Batubara di Daerah Kecamatan Semidang Adji


dan Pengadonan dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Sumatera Selatan.

45