Anda di halaman 1dari 114

105

ANALISA PERTUMBUHAN NILA (Oreochromis niloticus)


STRAIN GIFT G6 PADA CLOSED-SYSTEM SECARA SUPERINTENSIF PADA
APLIKASI TEKNOLOGI BIOFLOK DENGAN C/N RATIO YANG BERBEDA

SKRIPSI
BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh:
ACHMAD FIRMANSYAH
0510850001

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010

106
ANALISA PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
STRAIN GIFT G6 PADA CLOSED-SYSTEM SECARA SUPERINTENSIF PADA
APLIKASI TEKNOLOGI BIOFLOK DENGAN C/N RATIO YANG BERBEDA

SKRIPSI
BUDIDAYA PERAIRAN
Oleh:
ACHMAD FIRMANSYAH
NIM.0510850001
Menyetujui,
DOSEN PEMBIMBING I

DOSEN PEMBIMBING II

Ir.Mohamad Fadjar, M.Sc


Tanggal:

Dr.Ir.Sri Handayani, MS
Tanggal:

DOSEN PENGUJI I

DOSEN PENGUJI II

Ir.Bambang Susilo Widodo


Tanggal:

Ating Yuniarti, S.Pi, M.Aqua


Tanggal:

Mengetahui,
KETUA JURUSAN MSP

Dr.Ir. Happy Nusyam, M.Si


Tanggal:

RINGKASAN
ACHMAD FIRMANSYAH. Analisa Pertumbuhan Nila (Oreochromis niloticus)
Strain GIFT G6 Pada Closed-System Secara Superintensif Pada Aplikasi
Teknologi Bioflok Dengan C/N Ratio Yang Berbeda
(Di bawah bimbingan Ir.Mohamad Fadjar, MSc dan Dr.Ir.Sri Handayani, MS)
Nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) merupakan varietas baru,
dimana pertumbuhannya 60% lebih cepat dan toleran. Permintaan sangat tinggi
tetapi baru terpenuhi 50%. Adanya teknologi Bioflok untuk memproses limbah
budidaya menjadi flok yang mengandung protein tinggi sehingga dapat
dipergunakan sebagai pakan pada budidaya Nila secara superintensif.
Aplikasi teknologi bioflok diperlukan penambahan karbon (C) organik untuk
menumbuhkan bakteri heterotrof sehingga memanfaatkan nitrog en (N) terutama NNH3 dalam air. Maka adanya keseimbangan antara C dan N di perairan dengan
kontrol C/N ratio agar flok terbentuk dengan baik.
Penelitian ini dilakukan selama 35 hari di Balai Pengembangan Budidaya Air
Payau (BPBAP) Bangil, Kabupaten Pasur uan, Jawa Timur. Parameter uji yaitu SGR
(Specific Growth Rate) sebagai parameter utama, kemudian parameter
penunjangnya yaitu FCR (Food Convertion Ratio), SR (Survival Rate) dan FK
(Faktor Kondisi) dan kualitas dan kuantitas flok serta kualitas air. Rancangan
percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang
digunakan yaitu C/N ratio 0, 12 dan 24 dengan penambahan tepung tapi oka
berturut-turut 0, 496,1 g/kg pakan, 992,2 g/k g pakan. Pakan yang digunakan yaitu
pakan F-999 mengandung protein 38%.
Nila yang digunakan memiliki berat awal 2,11+0,01 g yang ditebar pada kolam
dengan ukuran 1 m 3 dengan kepadatan 500 ekor/m 3. Kecepatan arus diatur 10
cm/detik agar flok selalu dalam keadaan tersuspensi. Alkalinitas dijaga diatas 100
ppm, TSS dicek tidak melebihi 130 mg/L apabila melebihi maka perlu diaktifkan flok
sparator. Setiap hari dilakukan pengambilan data suhu, pH, DO, diamati warna flok,
diameter flok dan volume flok. Setiap minggu dilakukan pengambilan data amoniak,
CO2, Kecerahan dan berat ikan uji dengan sampling 10%. Pakan diberikan secara
addlibitum dan tercatat, diberikan 3 kali sehari yaitu pagi pukul 08.00 WIB, siang
pukul 12.00 WIB dan pukul 15.00 WIB .
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan nila Gift G6 pada
aplikasi teknologi bioflok dengan kepadatan 500 ekor/m3 lebih rendah dibandingkan
pembesaran sistem konfensional di tambak dengan kepadatan 20 ekor/m 2. Nilai
SGR berbeda sangat nyata (>F 1%) dengan perlakuan terbaik pada C/N ratio 12
sebesar 4,48% berat tubuh/hari. SGR memiliki bentuk regresi kuadratik dengan
persamaan y = -0.012x2 + 0.444x + 0.996. Selain kurang baik dalam hal
pertumbuhan juga kurang baik dalam parameter faktor kondisi Nilai FK berbeda
nyata (>F 1%) dengan perlakuan terbaik pada C/N ratio 24 sebesar 2,23. FK
memiliki bentuk regresi kuadratik dengan persamaan y = -0.001x2 + 0.026x + 1.98.
Tetapi memiliki keunggulan dalam hal rasio konv ersi pakan, kelulushidupan
serta kualitas air yang baik dan stabil. Nilai FCR berbeda nyata (>F 1%) dengan
perlakuan terbaik pada C/N ratio 12 sebesar 0,65. FCR memiliki bentuk regresi
kuadratik dengan persamaan y = 0.012x2 - 0.436x + 4.09. Sedangkan nilai SR
berbeda sangat nyata (>F 1%) dengan perlakuan terbaik pada C/N ratio 24 sebesar
88,33%. SR memiliki bentuk regresi linier dengan persamaan y = 1.6056x+ 53,4.

Bila dilihat dari kuantitas dan kualitas flok yang paling baik pada perlakuan C/N
ratio 12 dan 24. Volume flok terbanyak pada C/N ratio 24 mencapai 13 ml/L,
Diameter flok terbesar pada C/N ratio 12 yaitu 210 m, Warna air pada C/N ratio 12
lebih stabil oranye daripada warna air pada C/N ratio 24 dan 0.
Amoniak pada C/N ratio 12 dan 24 (<1 ppm) lebih baik dibandingkan C/N ratio 0
(> 1ppm), Alkalinitas pada seluruh perlakuan masih berada pada kisaran ya ng
normal yaitu >100 ppm, TSS (Total Suspended Solid) pada seluruh perlakuan
masih dalam batas toleransi yaitu tidak melebihi 130 mg/L , CO2 pada seluruh
perlakuan berada pada kisaran normal yaitu tidak melebihi 20 ppm , Kecerahan C/N
ratio 12 dan 24 lebih baik dari pada C/N ratio 0 yaitu antara 25 -40 cm, DO pada
setiap perlakuan bagus yaitu lebih dari 3 ppm , pH pada setiap perlakuan masih
pada kisaran normal antara 6-8, Suhu setiap perlakuan berkisar 26-28 0C

xii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas karun iaNya,

maka penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di Fakultas
Perikanan Universitas Brawijaya. Laporan ini disusun berdasarkan hasil
penelitian yang dilaksanakan di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau
(BPBAP) Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur pada bulan September 2009
sampai Febuari 2010.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih ada kekurangan, untuk itu
penulis

mengharapkan

saran

dan

kritik

yang

membangun

untuk

menyempurnakan laporan ini baik dari penataan, penulisan ataupun isi .


Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan informasi
bagi semua pihak yang memerlukan pengetahuan te ntang analisa pertumbuhan
Ikan Nila (Oreochomis niloticus) strain Gift G6 pada Closed-System secara
Superintensif pada aplikasi Teknologi Bio-Flok dengan C/N Ratio yang berbeda.
Terimakasih yang sebanyak banyaknya Kami haturkan kepada Ir.Mohamad
Fadjar, M.Sc selaku Pembimbing 1 dan Dr.Ir.Sri Handayani, MS selaku
Pembimbing 2. Tak lupa salam hangat kepada Orangtua dan saudara, sahabat
serta teman yang selalu memberikan motivasi untuk menyelesaikan Skripsi ini.

Malang, Juli 2010

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................

ii

RINGKASAN.........................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR.................................................................. .........................

iv

UCAPAN TERIMAKASIH................................................... .................................

DAFTAR ISI ...................................... ................................. .................................

vi

DAFTAR GAMBAR........................................................................................... ..

viii

DAFTAR TABEL............................................................ .................................... .

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... ...

xi

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........

1.2 Rumusan Masalah....................................................................................

1.3 Tujuan Penelitian....

1.4 Kegunaan Penelitian.............

1.5 Hipotesis......................................................... ...........................................

1.4 Waktu dan Tempat

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi nila Gift G6..
2.1.1 Sistematika...

4
4

2.1.2 Histori dan Morfologi.......................................................................

2.1.3 Media Hidup....................................................................................

2.1.4 Pola Makan dan Pertumbuhan........................................................

2.2. Limbah Budidaya

2.3 Teknologi Bio-Flok...................................................................................

2.2.1 Pengertian dan Penerapan sistem.................................................

2.2.2 Keunggulan dan Kekurangan..........................................................

2.4 Konsep C/N ratio......................................................................................

2.4.1 Pengertian............................................................... ........................

2.4.2 Nilai Aplikasi C/N ratio.....................................................................

10

2.4.3 Perhitungan C/N ratio......................................................................

10

2.5 Sumber C-organik.....................................................................................

14

2.6 Bakteri Heterotrof


2.6.1 Pengertian dan Deskripsi................................................................

14
14

vii
2.6.2 Bakteri Heterotrof pada Flocculant (Floc/Flok)................................

15

2.7 Closed-System..........................................................................................

16

2.7 Superintensif........................................................ .....................................

17

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian ..

18

3.1.1 Alat........................................................................................ ..........

18

3.1.2 Data Sekunder................................................. ...............................

18

3.2 Metode Penelitian......................................................................................

20

3.3 Rancangan Penelitian...............................................................................

21

3.4 Prosedur Penelitian...................................................................................

21

3.4.1 Persiapan wadah............................................................................

21

3.4.2 Persiapan media.............................................................................

22

3.4.3 Persiapan nila GIFT G6..................................................................

22

3.4.4 Proses Pembentukan Bioflok................... .......................................

23

3.5 Pelaksanaan Penelitian............................................................................

23

3.6 Parameter Uji........................................................................................ ...

25

3.6.1 Parameter Utama............................................................................

25

3.6.2 Parameter Penunjang.....................................................................

25

3.7 Analisa Data.............................................................................................

26

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)...........................................................

27

4.2 Kelulushidupan (SR)........................................ ........................................

33

4.3 Rasio Konversi Pakan (FCR)...................................................................

36

4.4 Faktor Kondisi (FK)

40

4.5 Bioflok (Flocculant).................................. ................................................ .

44

4.6 Kualitas Air.

46

5. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan.

58

5.2 Saran................................................................................... .....................

58

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................

60

LAMPIRAN..........................................................................................................

67

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Ikan Nila Gift G6..................................................................................... ....

2. Siklus Nitrogen pada Kolam Khusus Budidaya

3. Denah Percobaan ..............................................................................

21

4. Berat rata-rata nila Gift G6 hasil sampling setiap minggu pada setiap
perlakuan dengan ulangan 3 kali ........................................................ ...

27

5. Rata-rata Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6..................................

28

6. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap laju


pertumbuhan spesifik nila Gift G6.

29

7. Komposisi bagian organik yaitu EPS ..........

30

8. Hubungan antara pengaruh amoniak terhadap SGR .......

31

9. Perbandingan lama pemeliharaan pada dua sistem ....

32

10. Rata-rata Kelulushidupan Ikan nila Gift G6 pada Teknologi Bioflok


dengan C/N ratio 0, 12 dan 24...

33

11. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap


kelulushidupan nila Gift G6....

34

12. Rata-rata Rasio Konversi Pakan nila Gift G6 pada Teknologi Bioflok
dengan C/N ratio 0, 12 dan 24 ...

37

13. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap rasio
konversi pakan nila Gift G6....

39

14. Warna Flok pada setiap penelitian yaitu kecoklatan ....................

39

15. Rata-rata Faktor Kondisi Ikan nila Gift G6 pada aplikasi Teknologi
Bioflok dengan C/N ratio 0, 12 dan 24.

41

16. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap Faktor
Kondisi nila Gift G6....................................................... ..............................

42

17. Dinamika volume flok setiap hari sekali pada setiap perlakuan ..

44

18. Dinamika diameter flok setiap hari sekali pada setiap perlakuan....

45

19. Dinamika warna air (suspensi flok) setiap hari sekali pada setiap
perlakuan dan setiap ulangan

45

20. Dinamika amoniak setiap minggu sekali pada setiap perlakuan ......

46

21. Dinamika alkalinitas setiap minggu sekali pada setiap perlakuan...

48

22. Dinamika TSS setiap minggu sekali pada setiap perlakuan.

49

23. Dinamika CO2 yang diukur setiap minggu sekali pada setiap perlakuan..

50

24. Dinamika kecerahan setiap minggu sekali pada setiap perlakuan.............

52

24. Dinamika DO setiap harinya pada setiap perlakuan..................................

53

26. Kisaran DO setiap harinya pada setiap perlakuan dan ulangan .

53

ix

27. Dinamika pH setiap harinya pada setiap perlakuan Dinamika pH setiap


harinya pada setiap perlakuan .......................................... ...

54

28. Kisaran pH setiap harinya pada setiap perlakuan dan ulangan.................

55

29. Kisaran suhu pada setiap perlakuan dan setiap ulangan........................ ...

56

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Analisa proksimat pakan HI-PRO-VIT FF-999........................................

19

2. Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6 selama penelitian ................

27

3. Hasil Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6.....

28

4. Analisa Beda Nyata Terkecil Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6.......

28

5. Kelulushidupan (SR) nila Gift selama penelitian ...

33

6. Analisa Sidik Ragam kelulushidupan nila Gift G6......................................

33

7. Analisa Beda Nyata Terkecil Kelulushidupan nila Gift G6....

34

8. Rasio Konversi Pakan nila Gift G6 selama penelitian ..

37

9. Hasil Sidik Ragam Rasio Konversi Pakan nila Gift G6..

37

10. Analisa Beda Nyata Terkecil Rasio Konversi Pakan nila Gift G6...

39

11. Faktor Kondisi nila Gift G6 selama penelitian

41

12. Analisa Sidik Ragam Faktor Kondisi nila Gift G6......

41

13. Analisa Beda Nyata Terkecil Faktor kondisi nila Gift G6...

41

14. Analisa statistik volume flok.......................................................................

44

15. Analisa statistik diameter flok..................................................... ................

45

16. Analisa statistik amoniak............................................................................

47

17. Analisa sidik ragam dan uji BNT (notasi) pada amoniak............................

47

18. Analisa statistik alkalinitas..........................................................................

49

19. Analisa statistik TSS...................................................................................

50

20. Analisa statistik CO2......................................... ..........................................

51

21. Analisa statistik Kecerahan........................................................................

52

22. Analisa statistik DO............................................................................. .......

53

23. Analisa statistik pH.....................................................................................

55

24. Analisa statistik Suhu..

56

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Penghitungan Pemberian Dosis Tepung Tapioka ...................................

67

2. Pengontrolan Alkalinitas .....................................

70

3. Prosedur Pengukuran TSS (Total Suspended Solid) dan Karbondioksida (CO2)

71

4. Pengukuran kualitas dan kuantitas Flok ....................

72

5. Data Berat Total dan Rata-rata Biomassa ..

73

6. Perhitungan Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)..

74

7. Perhitungan Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)..

75

8. Perhitungan Survival Rate (SR).

77

9. Perhitungan Sidik Ragam Survival Rate (SR).

78

10. Perhitungan Rasio Konversi Pakan (FCR)...

80

11. Perhitungan Sidik Ragam Rasio Konversi Pakan (FCR)...

81

12. Perhitungan Faktor Kondisi (FK)

83

13. Perhitungan Sidik Ragam Faktor Kondisi (FK)

87

14. Data Volume Flok

86

15. Data Diameter Flok .

87

16. Data Warna Air (Suspensi Flok).

88

17. Data Amoniak (ppm)....

89

18. Analisa Sidik Ragam pada Amoniak (ppm)..

90

19. Data Alkalinitas (ppm).............................................................. ...............

95

20. Data TSS (ppm)......................................................................................

96

21. Data Karbondioksida (ppm).....................................................................

97

22. Data Kecerahan (cm)..............................................................................

98

23. Data DO (ppm)........................................................................................

99

24. Data pH..................................................... ..............................................

100

25. Data Suhu ( C).......................................................................................

101

26. Laju Pertumbuhan Pembesaran nila Gift di Tambak...

102

1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Ikan Nila berasal dari Afrika, namun sekarang telah tersebar di berbagai dunia

dan diintroduksi secara legal untuk kepentingan masing -masing negara. Ikan Nila
termasuk jenis ikan yang relatif mudah mengalami perubahan genetik at aupun
fenotip. Beberapa jenis ikan nila yang tersebar dan berkembang di Afrika adalah
Mujahir (Tilapia mozambica) dan nila hitam (Tilapia nilotica) (Abbas, 2002).
Nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) merupakan varietas baru
hasil penyilangan induk yang dikumpulkan dari lima negara Afrika (Mesir, Ghana,
Kenya dan Senegal) dan nila yang dibuat di Filipina yang berasal dari seleksi empat
strain O. niloticus dari Israel, Singapura, Taiwan, Cina dan Thailand (Eknath et al.,
1993). Dibandingkan dengan ikan nila lokal, maka nila Gift mempunyai karaketristik
genetik yang lebih unggul terutama tingkat pertumbuhan yang 60 % lebih cepat
(Fortes, 2005). Dalam waktu 5 - 6 bulan ikan nila Gift mampu mencapai berat tubuh
sekitar 600 gram (Usni, 2000).
Oleh karena kemampuan pertumbuhannya yang sangat cepat itu maka
spesies nila Gift semakin digemari oleh masyarakat di banyak negara sehingga Ikan
nila Gift dinobatkan sebagai ikan abad 21 dalam suatu konferensi masyarakat
perikanan sedunia di Bangkok tahun 1996. Tingkat potensi konsumsi ikan di
Amerika Serikat mencapai 90 juta ton/tahun tetapi baru terpenuhi 50 %
(Anonymuos, 2001). Indonesia pada tahun 2002 memproduksi ikan nila sebesar
109.768 Ton (FAO, 2003).
Indonesia termasuk urutan ketiga dunia dalam produksi nila setelah Cina dan
Mesir (WAS, 2005). Sayangnya dengan tingginya produksi nila di Indonesia,
Pembudidaya umumnya lebih senang menjalankan budidaya secara praktis
dibandingkan memperhatikan tingkat kerusakan lingkungan atau konservasi (Niels
et al., 1999). Sumbangan limbah budidaya ini akan menurunkan kualitas

2
lingkungan, menimbulkan penyakit dan akhirnya akan berimbas buruk terhadap
penurunan produksi spesies yang dibudidayakan.
Sekarang telah dikenal Teknologi Bioflok, yaitu dengan teknik mengaktifkan
suspensi yang berasal dari limbah budidaya (N anorganik seperti: amoniak,
amonium, nitrit dan nitrat) kemudian dikonversikan menjadi bioflok. Sistem ini
membutuhkan aerasi dan pengadukan dalam air untuk menjaga tingginya mikrobial
flok dalam keadaan tetap tersuspensi dan penambahan karbon organik sebagai
substrat untuk melakukan dekomposisi aerobik (Avnimelech et al.,1986 dalam Azim
dan Little, 2008). Populasi bakterial heterotrofik pada bioflok memanfaatkan N
anorganik untuk disintesis menjadi protein dan PST (Protein Sel Tunggal) yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan (Rahmatulla dan Beveridge, 1993).
Karena bioflok dapat digunakan sebagai sumber pakan dan mengandung
protein yang cukup tinggi dan mengurangi penurunan kualitas air sehingga
diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila Gift.
1.2 Rumusan Masalah
Ikan nila Gift memiliki pertumbuhan yang lebih cepat sekitar 60 % (Fortes,
2005) atau tepatnya 57 % dibandingkan dengan nila lokal (Hussain et al., 2000)
maka dengan cepatnya pertumbuhan berati juga peningkatan laju metabolisme
yang tinggi. Metabolisme yang tinggi berati eksresi dan sekresi berada dalam
jumlah yang tinggi. Ekresi seperti feses dan amoniak ataupun hasil sekresi amoniak
dari insang berada pada tingkatan level p roduksi yang tinggi. Maka ikan nila Gift
lebih menghasilkan amoniak yang tinggi dibandingkan dengan nila lokal pada
sistem budidaya yang sama.
Dengan tingginya amoniak dalam budidaya ini maka dengan penerapan
teknologi bioflok, semakin banyak N anorganik yang dikonversi menjadi bioflok
sebagai pakan alami. Dengan adanya bioflok maka diharapkan dapat s emakin
meningkatkan pertumbuhan. Menurut Bitton (2005), flok tersusun atas bakteri

3
heterotrof dan bakteri filamen dimana menurut (Zhao et al., 1998 dalam Agustiyani,
2004), bakteri heterotrof menggunakan senyawa organik sebagai sumber
karbonnya. Dengan adanya karbohidrat (C6H12O6), bakteri mengkonsumsi nitrogen
anorganik seperti NH4+N (ammonia ionnitrogen), NH3N (amoniak anion
nitrogen), NO 2N (nitritnitrogen), dan NO 3N (nitratnitrogen) kemudian nitrogen
diambil dari air dan disintesis menjadi mikrobial protein (C5H7O2N) (Ebeling et al.,
2006). Hubungan antara penambahan karbohidrat dan reduksi ammonium
merupakan sebuah hubungan nilai ko nversi C/N ratio (Avnimelech, 1999).
Dari uraian diatas maka perlu diketahui sejauh mana C/N ratio pada teknologi
bioflok berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila Gift G6 (SGR) dalam budidaya
superintensif.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh C/N ratio yang berbeda
terhadap analisa pertumbuhan nila (Oreochromis niloticus) strain Gift G6 dengan
sistem budidaya superintensif mengunakan aplikasi teknologi bioflok.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penerapan
teknologi bioflok dalam sistem budidaya menyangkut sejauh mana C/N ratio
mempengaruhi pertumbuhan ikan nila Gift G6 pada sistem budidaya superintensif.
1.5 Hipotesis
Ho : C/N ratio yang berbeda pada teknologi bioflok tidak memb erikan pengaruh
pertumbuhan yang berbeda terhadap nila Gift G6 pada budidaya superintensif.
H1 : C/N ratio yang berbeda pada teknologi bioflok memberikan pengaruh
pertumbuhan yang berbeda terhadap nila Gift G6 pada budidaya superintensif.
1.6 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan bulan September 2009 sampai Febuari 2010 di
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (BPBAP) Bangil, Kabupaten Pasuruan,
Jawa Timur.

4
2. TINJAUAN PUSTAKA
c.

2.1 Biologi nila Gift G6


2.1.1 Sistematika
Menurut Myers et al. (2008), klasifikasi ikan nila Gift G6 (Gambar 1) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Sub-phylum

: Vertebrata

Kelas

: Actinopterygii

Crdo

: Perciformes

Sub-ordo

: Labroidei

Famili

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus

Gambar 1. Ikan Nila Gift G6 (Anonymous, 2009a)


www.tilapiathai.com/images/Tilapnet-a.jpg

2.1.2 Histori dan Morfologi


Ikan nila Gift adalah ikan hasil seleksi genetik dan persilangan dari 8 strain
ikan nila yang dikumpulkan dari 8 negara di dunia yaitu Mesir, Ghana, Sinegal,
Kenya, Israel, Singapura, Thailand dan Taiwan (Velasco et al., 1996). Ikan nila Gift

5
G3 ini melengkapi koleksi ikan-ikan nila yang sudah diintroduksi pada tahun-tahun
sebelumnya.
Penyebaran ikan nila yang pesat menyebabkan kualitasnya tidak terkontrol
dan cenderung menurun. Hal ini diduga karena banyak terjadi silang dalam
(inbreeding). Indikasi dari penurunan kualitas genetik ikan ini ditandai dengan sifatsifat pertumbuhan lambat, tingkat kematian tinggi akibat daya tahan terhadap
penyakit menurun dan matang kelamin pada usia dini atau muda. Untuk mengatasi
masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan genetik ikan nila (Imron et al., 2000).
Oleh karena itu pada tahun 1996 pemerintah mengintroduksi lagi ikan nila Gift
dari Filipina yaitu ikan nila Gift generasi ke 6 (G6). Karena ikan nila Gift G6 ini
pertumbuhannya relatif lebih baik dari pada ikan-ikan nila sebelumnya, termasuk
ikan nila Gift G3, maka ikan ini cepat sekali berkembang dan menyebar dikalangan
petani ikan. Hal ini cukup menarik, karena jika dilihat dari sejarah pembentukan ikan
nila Gift G6 adalah hasil seleksi yang dilakukan terhadap generasi sebelumnya yaitu
dari nila Gift G3. Nila Gift G3 diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1994 dan nila Gift
G6 pada tahun 1996. Keduanya juga dipelihara pada sistem budidaya yang relatif
sama. Secara morfologi ikan nila Gift G3 sedikit mirip dengan nila Gift G6, karena
nila Gift G3 lebih dulu beradaptasi dengan lingkungan dan sistem budidaya yang
dilakukan di Indonesia (Ariyanto, 2003).
Karakter-karakter yang dominan membedakan bentuk tubuh ikan mujair dan
nila adalah tinggi batang ekor, tebal badan, ling kar badan, panjang rahang dan
panjang dahi. Terutama ikan nila Gift yang mempunyai ciri-ciri utama daging tebal,
punggung tinggi dan kokoh, mulut agak lebar, mata menonjol dan garis pada
tubuhnya berjumlah lebih dari delapan garis (Anonymous, 1999).
2.1.3 Media Hidup
Nila dapat tumbuh baik pada suhu diatas 22 o C, sedangkan suhu air optimal
yang baik untuk pertumbuhan nila adalah 29 -31o C. Nila dapat bertahan hidup

6
dengan konsentrasi dissolved oxygen (DO) kurang dari 0,3 ppm, ketahananya lebih
baik dibandingkan batas toleransi kebanyakan ikan lainnya yang dibudidayakan.
Walaupun nila dapat tahan pada konsentrasi DO yang rendah hanya untuk
beberapa jam saja, kolam nila dapat diatur dengan menjaga DO diatas 1 mg/L.
Metabolisme, pertumbuhan dan ketahanan penyakit dap at tertekan pada kondisi
oksigen rendah untuk jangka waktu yang cukup panjang (Anonymous, 2009 b).
Tejnarine dan Kamila (2005) menjelaskan bahwa pH yang dibutuhkan untuk
pembesaran nila yaitu antara 6,5 sampai 9,0 . Produksi akan rendah bila pH berada
pada level dibawah 6,5 atau diatas 9,0. Titik mati pH yaitu 4 dan 11, ikan akan mati
bila pH dibawah 4 atau diatas 11.
2.1.4 Pola Makan dan Pertumbuhan
Nila dapat mencerna semua jenis makanan alami, termasuk plankton,
makrophyta akuatik, plankton, bentos, larva ika n, detritus dan bahan organik yang
terdekomposisi. Nila juga dipertimbangkan sebagai filter feeder karena nila dapat
memanfaatkan secara effisien plankton sebagai pakan alami (Anonymous, 2009 b).
Hal

ini

didukung

juga

oleh

Weliange

dan

Amarasinghe

(2007)

yang

mengungkapkan bahwa nila mengkonsumsi 51% detritus seperti sedimen halus dan
bahan organik, 9% zoobenthos seperti serangga, chironomidae, 39% tanaman dan
fitoplankton seperti diatom, alga hijau -biru, alga hijau, alga berfilamen dan 1%
zooplankton seperti Branchionus, Dinoflagellata.
Menurut El-Sayed dan Teshima (1992), anakan O.niloticus membutuhkan
pakan buatan dengan kandungan protein 45% dan dengan kandungan energi 400
kcal/100 g untuk pertumbuhan maksimum pada ikan nila yang dibesarkan pada
skala laboratorium.
Pada kondisi yang kurang baik, nila Gift ukuran gelondongan yang
dibudidayakan tumbuh menjadi 20-40 gram dalam waktu 5-8 minggu. Pada kolam
pembesaran nila monoseks yang dibudidayakan pada suhu yang kurang baik rata -

7
rata tumbuh paling rendah 200 gram dalam waktu 3-4 bulan, 400 gram dalam 5-6
bulan dan 700 gram dalam waktu 8-9 bulan (Anonymous, 2009 b).
2.2 Limbah Budidaya
Denitrifikasi N2

Volatilisasi NH3
Pakan/Nitrogen
N 100%

Pertumbuhan
N 17%

NO3
Nitrifikasi
Fotosintesis

NH4+

N 48%
Limbah
(feces, dan sisa pakan)
N 35%

Sedimentasi

Mineralisasi
Sedimen

Gambar 2. Siklus Nitrogen pada Kolam Khusus Budidaya (Suprapto, 2007)


Limbah budidaya yang utama, yaitu N (Nitrogen). N ini berasal dari Spesies
yang dibudidayakan. Pada Gambar 2 dapat dilihat persentase N yang di keluarkan
dalam dua bentuk yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat yaitu feces dan
sisa pakan menyumbang 35% N ke perairan, sedangkan limbah cair yaitu ammonia
dilepaskan ke perairan sebanyak 48% N dan hanya 17% N yang di konversi
menjadi biomassa (Suprapto, 2007).
Tetapi menurut Avnimelech dan Lacher (1979); Boyd (1985); Muthuwani dan
Lin (1996) dalam Avnimelech (1999) bahwa ikan di kolam mengasimilasi 25 %
nitrogen dalam pakan. Sisa yang dieksresikan sebagai NH 4 atau N-organik dalam
feses atau residu pakan. Ini dapat diasumsikan bahwa flux/perputaran amonium di
air NH4, secara langsung atau tidak langsung di degradasi oleh mikrobial sebagai
residu N-organik, secara kasar 50% dari N pada pakan yang dilepaskan.
2.3 Teknologi Bioflok
2.3.1 Pengertian dan Penerapan sistem
Menurut Tacon et al.(2002), flok adalah kumpulan berbagai mikroorganisme
termasuk bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda dan

8
gastrotricha. Sedangkan menurut Serfling (2006), mikrobial flok adalah kumpulan
yang terdiri dari bermacam bakteri, fungi, mikroalga dan organisme lain yang
tersuspensi dengan detritus dalam air media budidaya.
Teknologi Bioflok, yaitu dengan teknik mengaktifkan suspensi yang berasal
dari limbah budidaya kemudian dikonversikan menjadi bioflok yang dapat dijadikan
sebagai pakan alami dalam sistem budidaya. Sistem ini membutuhkan aerasi dan
pengadukan dalam air untuk menjaga tingginya mikrobial flok dalam keadaan tetap
tersuspensi dan penambahan karbon organik sebagai substrat untuk melakukan
dekomposisi aerobik (Avnimelech et al.,1986 dalam Azim dan Little, 2008)
Aplikasi Teknologi Bioflok harus menjaga alkalinitas berada pada konsentrasi
100-150 ppm dengan penambahan CaCO 3. Hal ini perlu karena setiap konsumsi
3,75 g karbon memproduksi 1 g TAN (Total Ammonia Nitrogen) dan setiap 1 g TAN
menghasilkan 9,65 g CO 2. Jika konsumsi alkalinitas tidak digantikan dengan dengan
suplementasi, maka pH pada sistem akan drop. Rendahnya pH akan menyebabkan
CO2 dalam bentuk bikarbonat sehingga CO 2 dalam bentuk terlarut, dan akan
meningkatkan kandungan CO 2 terlarut dalam air sehingga akan mempengaruhi
spesies yang dibudidayakan (Ebeling et al., 2006).
Aerasi juga memproduksi aliran air, yang mana menjaga bakterial flok tetap
dalam keadaan tersuspensi. Posisi aerator dijaga agar menciptakan aliran air
berputar, maka perlu melakukan percoba an peletakan aerasi untuk menghindari titik
mati terhadap arus pada kolam. Selain itu aerasi mutlak dibutuhkan dalam sistem
produksi akuakultur untuk menjaga konsentrasi DO tetap tinggi dan mendukung
dekomposisi bahan organik secara aerobik dan mendukung n itrifikasi oleh bakteri.
Jika aerator dimatikan maka DO akan berkurang ke level 3 -4 ppm dalam waktu satu
jam (Boyd dan Clay, 2002).
Untuk menghasilkan pengadukan menurut Hopkins et al.(1993) dalam
Chamberlain et al.(2001) melaporkan bahwa aerasi 20 Hp cukup untuk kolam
dengan ukuran 1 ha dengan sistem Aeration Microbial Reuse (AMR) atau Teknologi

9
Bio-Flok. Sedangkan menurut Mc Intosh (2000) dalam Chamberlain et al,(2001)
melaporkan bahwa pengadukan yang baik untuk sistem ini adalah menghasilkan
pergerakan air dengan kecepatan air 10-20 cm/detik untuk menjaga material
organik tetap tersuspensi.
2.3.2

Keunggulan dan Kekurangan


Menurut Nyan Taw (2006), teknologi bioflok memiliki keunggulan yaitu:

1. Biosecurity sangat baik


2. Tanpa pergantian air, hanya penambahan air y ang menguap
3. Produksi/Carrying capacity 5-10% lebih tinggi dibandingkan sistem biasa
4. Pada udang vannamei, ukurannya dapat lebih besar 2 gram dibandingkan
sistem biasa
5. Pada udang vannamei, nilai FCRnya rendah berkisar 1,0 sampai 1,3
6. Biaya produksi lebih rendah 15-20 %.
Sedangkan kekurangan dari sistem ini yaitu:
1. Energi yang dikeluarkan lebih besar, contoh: penggunaan kincir air 28 HP/ha.
2. Adanya gangguan pada sistem untuk penyediaan tenaga untuk mesin,
maksimal 1 jam perhari.
3. Kolam harus dilapisi plastik HDPE (Hight Density Polyethylen)/semi HDPE untuk
mencegah kebocoran
4. Teknologinya serupa dengan teknik budidaya pada umumnya tetapi lebih maju
sehingga perlu pelatihan khusus untuk aplikasi dan manajemen teknik ini
kepada pekerja.
2.4

Konsep C/N ratio

2.4.1 Pengertian
C/N ratio merupakan perbandingan antara Karbon (C) dan Nitrogen (N).
Mengontrol N-anorganik dengan manipulasi C/N ratio merupakan metode control
yang potensial untuk sistem budidaya. C/N ratio tampak seperti cara yang praktis

10
dan tidak mahal, dalam pengertian untuk mengurangi akumulasi nitrogen anorganik
di kolam. Kontrol nitrogen yaitu dengan memanfaatkan bakteri untuk mengkonsumsi
nitrogen dengan adanya karbohidrat, kemudian nitrogen diambil dari air dan
disintesis menjadi mikrobial protein. Hubungan antara penambahan karbohidrat dan
reduksi ammonium merupakan sebuah hubungan nilai konversi C/N ratio.
Penambahan karbohidrat atau persamaan nilai reduksi protein pada pakan dapat
diketahui dengan perhitungan (Avnimelech, 1999).
C/N ratio sangat penting karena mikroba dapat membentuk protein pada
persentase karbon dan nitrogen yang besar. Bahan organik yang mengandung
karbon diserap oleh mikroba kemudian digunakan untuk pertumbuhannya lalu
mikroba melepaskannya ke lingkungan dalam bentuk karbon dioksida. Persent ase
substrat karbon yang dikonversi kedalam protoplasma bakterial berhubungan
dengan assimilasi karbon. Nitrogen juga dibutuhkan untuk pertumbuhan sel
mikrobial. Jika subtrat mengandung banyak nitrogen, mikroba akan memiliki cukup
banyak nitrogen untuk

tumbuh dengan cepat, dan nitrogen akan dilepas ke

lingkungan sebagai amoniak. Proses ini berhubungan dengan mineralisasi nitrogen.


Mikroba tidak dapat tumbuh dengan cepat pada subtrat yang sedikit mengandung
nitrogen karena tidak cukup nitrogen untuk membang un kontruksi sel mikroba.
Nitrogen anorganik dapat dihilangkan dari lingkungan dan dimanfaatkan mikroba
untuk mengimbangi kurangnya kandungan nitrogen pada subtrat (Boyd, 1982).
2.4.2

Nilai Aplikasi C/N ratio


C/N ratio pada bakteri berkisar 5 (Rittmann dan McCarty, 2001 dalam Torres,

2005). C/N ratio dibutuhkan untuk respirasi, sehingga C/N ratio yang optimal untuk
kondisi aerob adalah diatas 10. Jika C/N ratio terlalu tinggi seperti sistem di alam,
maka N akan dalam jumlah yang sangat terbatas (Berard et al., 1995 dalam
Torres, 2005). Di dalam sistem resirkulasi dimana pakan menggunakan protein

11
diperkaya sampai 40-50%, menyebabkan C/N ratio sangat rendah yaitu 2 sehingga
perlu dilakukan penambahan karbon.

Berard et al.,(1995) dalam Torres (2005) menyarankan bahwa C/N ratio


di atas 10 bakteri akan mengasimilasi bahan organik dengan baik, tapi bila
C/N ratio di bawah 10 maka akan membutuhkan karbon dari fraksinasi CO 2.
Mohanty et al.(1994) dalam Torres (2005) mendemontrasikan bahwa bakteri, ratarata melakukan mineralisasi nitrogen dengan cepat pada C/N ratio 10-20 dan
berlangsung lambat pada C/N ratio 20-40. C/N ratio 20-25 termasuk kritis karena
tingginya C sehingga dapat menurunkan aktifitas mikroba.
2.4.3

Perhitungan C/N ratio


Menurut Suprapto (2007), pengukuran C/N Ratio dapat dilakukan dengan

pengukuran laboratorium, dengan cara mengukur Total Organic Carbon (TOC) dan
Total Kjedahl Nitrogen (TKN) kemudian dimasukan kedalam rumus sebagai berikut:
C/N ratio =

TOC
TKN

(1)

Tetapi cara ini tidak praktis untuk di lapang karena peralatannya mahal dan
tidak mungkin dimiliki oleh petambak, maka cara yang praktis adalah dengan
menghitung C/N ratio pada pakan karena proteinnya sudah diketahui.
Ebeling et al.(2006) menjelaskan bahwa untuk mengetahui C/N ratio dapat
menggunakan BOD 5/TKN ratio. Modifikasi BOD5/TKN dapat menggambarkan
penyesuaian untuk memperkirakan C/N ratio. TKN adalah jumlah amoniak nitrogen,
atau dari sudut pandang pengolahan limbah TKN yaitu oksigen yang diperlukan
untuk mengubah bentuk nitrogen yang tersedia menjadi nitrat-nitrogen. Sedangkan
BOD5 memperkirakan jumlah oksigen yang dikonsumsi untuk memanfaatkan C organik.
Menurut Avnimelech (2006), Cara yang terakhir yaitu dengan mengukur TAN,
kemudian ditentukan dosis karbohidrat yang h arus diberikan. Avnimelech (1999)

12
menganjurkan untuk mereduksi TAN dengan konsentrasi 1 ppm N atau maksudnya
1 g N/m3 dapat digunakan penambahan 20 g/m 3 karbohidrat. Pemberian ini akan
menghasilkan C/N ratio sekitar 10 (karena diperkirakan kandungan C -organik
sekitar 50%) atau menghasilkan C/N ratio 10,75 dan dapat meningkat sampai
15,75.
Karena sumber regulasi nitrogen terbesar berasal dari pakan, Timmons et al.
(2002) memperkirakan produksi amoniak-nitrogen yang dihasilkan perharinya dalam
sistem

budidaya

dapat

dihitung

berdasarkan

feeding

rate

(FR)

dengan

persamaannya sebagai berikut:


PTAN = F PC 0,092

(2)

dimana:
PTAN : Produksi Total Amoniak-Nitrogen (Kg/hari)
F

: Jumlah pakan (Kg/hari)

PC : Kandungan protein didalam pakan (dalam jumlah desimal)


Sedangkan untuk mengetahui kandungan C -organik didalam media dapat
diketahui dengan uji laboratorium pengukuran TOC. Menurut Asro (2008) TOC
adalah jumlah karbon yang menempel/terkandung didalam senyawa organik dan
digunakan sebagai salah satu indikator kualitas air (air bersih maupun air limbah).
Sebenarnya, karbon yang terkandung pada media terdiri dari dua jenis, yaitu
Organic Carbon (OC) dan Inorganic Carbon (IC). Sistem pengukuran karbon yaitu
dengan cara merubah karbon menjadi CO2, baru kemudian mengukur kadar CO 2
tersebut sebagai representasi dari kadar karbon yang ada.
Menurut Anonymous c (2009) perhitungan C/N ratio, yaitu sebagai berikut:

Jumlah carbon

= Jumlah bahan x kandungan C

(3)

Jumlah Nitrogen = Jumlah bahan x kandungan N

(4)

C/N ratio =

Jumlah Carbon
Jumlah Nitrogen

(5)

13
Karena TOC menggambarkan kandungan C pada bahan dan P TAN
menunjukan jumlah Nitrogen. Sehingga dengan mudah bila diketahui PTAN dan TOC
bahan maka dimasukan persamaan dibawah ini:
C/N ratio =

TOC

bahan karbohidrat

(6)

PTAN
Pendekatan lainnya dapat dilakukan dengan memperkirakan jumlah
karbohidrat yang akan ditambahkan mengikuti dengan amonium yang di eksresikan
oleh ikan atau udang dari pakan. Ditemukan bahwa ikan dan udang di kolam
menurut Avnimelech dan Lacher (1979); Boyd (1985); Muthuwani dan Lin (1996)
dalam Avnimelech (1999) mengasimilasi 25 % nitrogen yang ditambahkan dalam
pakan. Sisa yang dieksresikan sebagai NH 4 atau N-organik dalam feses atau residu
pakan. Ini dapat diasumsikan bahwa flux/perputaran amonium di air NH4, secara
langsung atau tidak langsung di degradasi oleh mikrobial sebagai residu N -organik,
secara kasar 50% dari N pada pakan yang dilepaskan:
N = Pakan x %Npakan x %Neksresi

(7)

Contoh pada Avnimelech (1999), yaitu pada pellet dengan protein 30%
diperkirakan mengandung 4,65% N dan 50% N yang dilepas ke air. Dari pakan yang
diberikan dengan kandungan protein 30% diberikan penambahan 46,5% karbohidrat
berdasarkan Persamaan 8.
CH = 0,465 x Pakan

(8)

Karena diperkirakan karbohidrat (CH) mengandung 50% C-organik, dan


Persamaan 7 dimasukan dalam Persamaan 8, maka:
CH = 0,465 x Pakan

2 x C 0,465

N
%Npakan x %Nekresi

2 x C 0,465
C
= 10
N

(9)

N
0,0465 x 0,5
(10)

14

Penambahan karbohidrat sebanyak 46,5% dari jumlah pakan yang diberik an


ini menghasilkan perhitungan C/N ratio 10 dan C/N ratio yaitu 10,75 pada pakan
dan dapat meningkat sampai 15,75.
2.5 Sumber C-organik
Karbohidrat merupakan salah satu bahan organik yang dapat diberikan
sebagai sumber karbon bagi sintesa protein mikroba. P emberian tepung tapioka
dapat digunakan sebagai bahan yang mudah didapat dan murah dengan
kandungan karbohidrat 86,9 % (Jonny, 2007). Bahan yang mengandung sumber
karbon yaitu sukrosa, tepung beras, tepung tapioka dan molase (Sulistiyowati,
2007). Onggok merupakan limbah padat dari proses pengolahan tepung tapioka.
Kandungan pati pada onggok masih tinggi (Kusmiati, 2009). Dedak dan sekam
dapat juga digunakan sebagai sumber karbon, kandungan karbon dedak dapat
mencapai 41-55% (Meilany, 2000) sedangkan sekam kandungan C-organik sebesar
45,06 % (Hidayati, 1993 dalam Tajuddin, 2006)
2.6 Bakteri Heterotrof
2.6.1 Pengertian dan Deskripsi
Bakteri heterotrof merupakan golongan bakteri yang mampu memanfaatkan
dan mendegradasi senyawa organik komplek baik yang mengandung uns ur C, H
dan N. Kelompok bakteri ini mengawali tahap degradasi senyawa organik lewat
serangkaian tahapan reaksi enzimatis, dengan menghasilkan senyawa yang lebih
sederhana/senyawa anorganik dan sel -sel bakteri baru, yang menyebabkan
pertambahan populasi. Pemecahan senyawa organik dapat berlangsung lebih cepat
apabila tersedia oksigen yang mencukupi aktivitas bakteri heterotrof (golongan
aerob) dapat lebih meningkat, serta akan membentuk flok-flok bakteri (gumpalangumpalan bakteri bersama dengan lumpur/senya wa organik), dan dalam bentuk ini

15
proses degradasi akan berlangsung secara sempurna tanpa menimbulkan bau
(metan dan H 2S) (Jenie dan Rahayu, 1993 dalam Parwanayoni, 2008).
Bakteri heterotrof menggunakan senyawa organik sebagai sumber karbonnya,
sedangkan bakteri autotrof memanfaatkan CO 2 sebagai sumber karbonnya. Laju
pertumbuhan bakteri heterotrof lebih cepat dibandingkan bakteri autotrof. Bakteri
yang bersifat heterotrof lebih toleran terhadap lingkungan yang asam dan tumbuh
lebih cepat dengan hasil yang lebih tinggi pada kondisi dengan konsentrasi DO
rendah (Zhao et al., 1998 dalam Agustiyani, 2004).
2.6.2 Bakteri Heterotrof pada Floculant (Floc/Flok)
Pada penerapan bioflok sistem heterotrof dapat menggunakan bakteri Bacillus
sp yang terdapat pada kebanyakan probiotik komersial (WAS, 2008).
Bibit bakteri baik dari isolat lokal atau bakteri produk komersil berbasis Bacillus
spp yang pasti diketahui paling tidak mengandung Bacillus subtilis, sebagai salah
satu bakteri pembentuk bioflok. Bakteri heterotrof yang mampu membentuk bioflok
diantaranya:

Zooglea

ramigera,

Escherichia

intermedia,

Paracolobacterium

aerogenoids, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Flavobacterium, Pseudomonas


alcaligenes, Sphaerotillus natans, Tetrad dan Tricoda (Anonymousd, 2009).
Bakteri Bacillus sp dapat memanfaatkan amoniak dan suplementasi karbon
pada aplikasi teknologi bioflok karena menurut Buchanan dan Gibbons (1974),
Bacillus sp membutuhkan sumber karbon dan nitrogen, seperti glukosa sebagai
sumber karbon dan nitrat dan ammonium sebagai sumber nitrogen. Menurut Doelle
(1975)

Bacillus

subtilis,

Bacillus

megaterium,

Pseudomonas

fluorescens,

Zymomonas mobilis, Leuconostoc mesenteroides dapat menghasilkan eksoenzim


yang dapat menguraikan/mengkatalis glukosa dengan metabolisme heterot rofik.
Berikut rumus stokiometri untuk bakterial aerob pada sistem heterotrof
menurut Ebeling et al. (2006), yaitu:
NH4+ + 1,18 C6H12O6 + HCO3 + 2,06 O 2 C5H7O2N + 6,06 H2O + 3, 07 CO2

16
Persamaan stokiometri diatas ini menjelaskan bahwa pada sistem bakteri
heterotrof,

amoniak-nitrogen

(NH4 )

pada

kondisi

aerob

dengan

adanya

penambahan sumber C-organik/karbohidrat (C6H12O6) akan membentuk biomassa


protein mikrobial (C5H7O2N).
2.7 Closed-System
Terdapat

beberapa

pengertian

teknologi

closed-system.

Berdasarkan

tujuannya cara ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu berdasarkan kebutuhan air,
bentuk/layout sistem dan lokasi instalasi. Intinya closed-system yaitu sistem
budidaya apapun dan bagaimanapun yang membatasi antara lingkungan budidaya
dengan alam. Berdasarkan penggunaan air, cara ini sedikit adanya kontak antara
sistem budidaya dan lingkungan karena membutuhkan input air sedikit, jumlah
limbah yang dilepas ke alam sedikit. Input air masuk dalam sistem selalu diolah
terhadap adanya kemungkinan bakteri, parasit, dan penyakit. Penggunaan air pada
sistem ini adalah 95%, sisanya dapat menguap. Memang masalah yang terjadi
dalam sistem ini yaitu mengatasi penguapan dan kebocoran (EPI, 2008).
Pada budidaya nila secara closed-system dengan resirkulasi, spesies ini dapat
tumbuh pada kepadatan yang sangat tinggi dan berkembang dengat baik pada air
tawar, payau maupun laut, dapat tahan dengan serangan penya kit. Pada sistem ini
nila dapat dibesarkan sampai kepadatan 100 Kg/m 3 (EPI, 2008). Bila produksi yang
diinginkan adalah 500 g/ekor, maka kepadatannya bisa mancapai 200 ekor/m 3.
2.8 Superintensif
Teknik

budidaya secara ekstensif merupakan cara yang paling tu a yang

sudah mulai ditinggalkan. Sistem ini sudah digunakan sejak abad 19 sampai
mendekati abad 20. Akuakultur juga dapat dijalankan secara Intensif, yang mana
sistem ini membutuhkan tingginya keterampilan dan tingginya investasi keuangan.
Sistem Intensif menerapkan padat penebaran hewan akuatik yang sangat tinggi,
sehingga membutuhkan manajemen kualitas air yang baik untuk meningkatkan

17
pertumbuhan, mengurangi stres dan kontrol penyakit. Tidak lupa kualitas nutrisi
pada pakan juga sangat menentukan keberhas ilan sistem ini. Sistem Intensif intinya
adalah menyediakan kondisi yang mendukung kehidupan biota yang dipelihara,
contohnya budidaya indoor atau dengan sirkulasi air dengan pemberian mesin
pompa untuk aerasi darurat (Rice dan Ganz, 1994).
Pola intensif dan Pola superintensif merupakan pola teknologi yang sama,
yaitu sama mengandalkan pakan buatan 3-5% biomass/hari, intensitas pergantian
air 5-10% per hari, memerlukan sejumlah kincir untuk memelihara oksigen agar
kandungannya >4 ppm dan menerapkan berbagai fasilitas lengkap. Hanya saja
perbedaan pola sistem budidaya ini adalah kepadatan tebar (Anonymous, 2008).
Dalam sistem superintensif seperti sistem resirkulasi, ikan memakan pelet
kemudian melepaskan kotoran dan partikel dari pakan yang tidak termakan kedalam
kolom air. Kotoran ini akan disaring secara mekanik dengan bilik pengendapan bila
pada sistem tertutup atau dengan mengaktifkan suspensi pada kolam/ Active
Suspension Ponds (ASP) menjadi substrat padatan sebagai tempat aktifitas bakteri
dan sebagai sumber pakan tambahan (Avnimelech, 2000).
Menurut Ritvo et al.(2003) menyatakan bahwa untuk penerapan superintensif,
yaitu kolam harus dilapisi plastik dan kolam tidak boleh dilberi tanah dasar.
Kepadatan ikan/biomassa yang digunakan yaitu 13 Kg/m 3 dengan pakan
mengandung protein tinggi (30-35%) dengan pemberian pakan 2% dari berat tubuh.
Serta harus menggunakan paddle wheel agar air dalam wadah teraduk konstan.
Nila dapat diterapkan secara superintensif, karena menurut Swick (2001) nila
dapat dipelihara dengan kepadatan yang tinggi atau dikenal sistem LVHD ( Low
Volume High Density). Kepadatan yang dapat diterapkan mencapai 500 ekor/m 3
karena nila merupakan ikan yang berkoloni. Ikan nila lebih senang bergero mbol di
salah satu sudut sehingga banyak ruang yang tersisa buat nila dan cukup untuk
ruang tumbuh. Pantas bila nila dapat dibudidayakan dengan kepadatan tinggi.

18
3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Materi Penelitian


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Bak pemeliharaan 9 buah dengan volume 1 m 3 sebagai wadah pemeliharaan


nila Gift G6

Blower dan instalasi aerasi (selang, batu aerasi , sambungan selang bentuk L
dan T, keran pengatur udara selang dan keran pengatur pipa ) sebagai
suplai oksigen dan menghasilkan pengadukan

Gelas ukur 1 L, 100 ml dan 10 ml untuk mengukur volume bioflok

Alat penunjang pengukuran kualitas air di Lapang (pH meter, DO meter ,


Termometer dan Secchi Disc) dan 1 set pengukuran kualitas air skala
laboratorium (alkalinitas, amoniak,CO 2 dan TSS)

Spektrofotometer

Alat penunjang analisa proksimat

Alat penunjang analisa karbon organik (TOC)

Timbangan Analitik

1 unit Genset

Mikroskop

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a) Ikan Uji
Ikan yang akan digunakan adalah ikan nila ( Oreochromis niloticus) strain Gift
G6 dengan ukuran 3-5 cm berkelamin jantan 100% yang diperoleh dari PT.CP
Prima, Tbk yang telah diseleksi untuk mendapatkan ikan nila Gift G6 yang sehat
dan berkualitas baik.

19
b) Air
Air yang digunakan adalah air sumur yang berada di BPBAP Bangil. Air
memiliki kadar salinitas 1 ppm dan nilai alkalinitas 680 ppm. Air diambil dengan
menggunakan pompa untuk dia lirkan ke bak penampungan. Sebelum dimasukan
diletakan saringan diujung pipa lalu disterilisasi menggunakan kaporit sebanyak 10
ppm dan dibiarkan seminggu sampai residunya hilang menguap.

c) Pakan
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan dengan produk kom ersial merk
HI-PRO-VIT yang diproduksi oleh PT.Central Proteina Prima, Tbk dengan kode
FF-999. Pemberian pakan dilakukan secara addlibitum sampai kenyang dan
diberikan sebanyak 3 kali sehari. Adapun hasil analisa proksimat dari pakan ini
adalah ditunjukan pada Tabel 1.
Tabel 1.Analisa proksimat pakan HI-PRO-VIT FF-999
No

Kandungan

Jumlah

Protein

38 %

Lemak

2%

Serat kasar

3%

Abu

5
Air
Sumber : PT.Central Proteina Prima, Tbk

13 %
12 %

d) Sumber C dan N
Untuk aplikasi teknologi bioflok ini sumber karbon terutama karbon (C) organik
yaitu menggunakan tepung tapioka karena bahan ini mudah didapat dan harganya
murah dengan kandungan C-organik yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil
pengujian laboratorium dengan pengukuran TOC diketahui kandunga n Corganiknya sebesar 73,53 % (Sumber : Lab.Kimia Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Brawijaya). Sedangkan sumber N yaitu berasal amoniak ikan Nila.

20
e) Starter Bakteri Heterotrof
Agar mempercepat proses pembentukan bioflok, maka diperlukan probiotik
sebagai sumber bakteri heterotrof. Probiotik yang digunakan yaitu probiotik
komersial dengan merk Minabacto produksi PT.Satwa Hidup Sejahtera, Tbk yang
mengandung probiotic single cell
(1975)

Bacillus

subtilis

yaitu bakteri Bacillus subtilis. Menurut Doelle

dapat

menghasilkan

eksoenzim

yang

dapat

menguraikan/mengkatalis glukosa dengan cara metabolisme heterotrofik. Pada


penerapan bioflok sistem heterotrof ini dapat menggunakan bakteri Bacillus sp yang
terdapat pada kebanyakan probiotik komersial (WAS, 2008).
f) Bahan-bahan penunjang

Paranet 90% untuk peneduh kolam

Pelapis plastik agar kolam tidak bocor/meresap

Bahan untuk mengukur kadar amoniak

Bahan untuk mengukur alkalinitas

Bahan untuk mengukur CO 2

Klorin untuk bahan sterilisasi air

Natrium thiosulfat untuk menetralkan kaporit

Kapur tohor/dolomit untuk menjaga alkalinitas pada level 100 -150 ppm

3.2 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Metode
eksperimen adalah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat sutu hasil atau
hubungan kausal antara variabel -variabel yang diselidiki (Sahri,1992). Menurut
Natzir (2003) tujuan dari penelitian eksperimental untuk menyelidiki ada tidaknya
hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan -perlakuan
tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk
perbandingan. Dengan metode eksperimen pengumpulan data bukan menekan
pada deskripsi sebagaimana halnya metode survey, tapi diharapkan menemukan

21
hubungan kausal bahkan meramal atas kejadian yang m ungkin terjadi. Dalam
eksperimen umumnya perlakuan dapat dikontrol. Oleh karena itu pengaruh variabel
(variabel bebas) dapat ditelusuri akibatnya khususnya jika percobaan dilakukan di
Laboratorium (Sahri, 1992).
3.3 Rancangan Penelitian
Rancangan

percobaan

yang

digunakan

dalam

penelitian

ini

adalah

Rancangan Acak Lengkap (RAL), yaitu rancangan yang digunakan untuk percobaan
yang mempunyai media atau tempat percobaan yang seragam. Sehingga banyak
digunakan untuk percobaan di laboratorium (Sastrosupadi, 2000 ).
Penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dan satu 1 kontrol dengan tiga kali
ulangan. Dalam penelitian ini, perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Perlakuan A : Pemeliharaan Nila GIFT tanpa Teknologi Bioflok (kontrol)
Perlakuan B : Pemeliharaan Nila GIFT dengan Aplikasi Teknologi Bioflok dan
penambahan Tapioka 496,1 g/kg pakan (C/N ratio 12)
Perlakuan C : Pemeliharaan Nila GIFT dengan Aplikasi Teknologi Bioflok dan
penambahan Tapioka 992,2 g/kg pakan(C/N ratio 24)
Denah atau layout dari perlakuan di atas dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :

A1

B1

C2

B2

C1

A3

C3

A2

B3

Gambar 3. Denah Percobaan


Keterangan :
A, B dan C

: perlakuan dengan padat tebar yang berbeda

1,2 dan 3

: Ulangan

22
3.4 Prosedur Penelitian
3.4.1 Persiapan wadah
Kolam semen yang akan digunakan dibersihkan dengan menggunakan sabun
detergen sampai bersih sampai baunya hilang dan dikeringkan lalu dilakukan
pemasangan/pelapisan plastik PE ( Polyethylen) pada kolam agar sistem tidak
bocor, mengingat akan diterapkan closed-system. Kemudian dipasang blower
kepada pipa PVC yang kemudian dicabang dengan selang plastik aerasi yang diberi
kran pengatur volume aerasi dan diatur posisi batu aerasi. 1 kolam diberi cabang
batu aerasi sebanyak 4 buah sampai menciptakan kecepatan pengadukan di kolam
10 cm/detik. Kemudian menyiapkan paranet dengan ilmuminasi cahaya yang masuk
90% agar suhu stabil mengingat sistem yang akan digunakan nanti adalah sistem
heterotrof yang tidak membutuhkan cahaya matahari.
3.4.2 Persiapan Media
Kolam yang sudah bersih dan siap digunakan langsung dimasukan air sumur
yang ada di BPBAP Bangil setinggi 90% tinggi kolam. Air yang sudah siap diberi
kaporit dengan kadar 10 ppm untuk mensterilkan air dari kemungkinan adanya
patogen dan diaerasikan selama 12 jam. Setelah itu air dinetralkan dengan Natrium
thiosulfat sebanyak 5 ppm.
3.4.3 Persiapan nila Gift G6
Ikan sebelum dimasukan ke kolam percobaan diadaptasikan terlebih dahulu
terhadap kondisi lingkungan pemeliharaan agar ikan tidak stress. Adapun langkah langkahnya sebagai berikut:

Perlakuan aklimatisasi yaitu dengan cara, kantong plastik yang berisi nila
dimasukan kedalam kolam/air untuk beberapa saat atau sekitar 15 menit untuk
menyamakan faktor fisika air (suhu) media percobaan.

Kemudian kantung plastik dibuka agar sifat kimia air dalam kantong dan media
percobaan bercampur perlahan dan dibiarkan nila keluar dengan sendirinya

23

Untuk hari pertama jangan diberi pakan pelet terlebih dahulu karena dianggap
nila masih stres akibat pengangkutan dan pelakuan dan melakukan
penyesuaian terhadap lingkungan barunya

Hari kedua dan selanjutnya ikan nila diberi pakan buatan pelet dengan dosis
menyesuaikan atau secara

addlibittum, karena kondisi ikan diperkirakan

masih labil sehingga pemberian pakan disesuaikan dengan nafsu makan ikan

Ikan dibiarkan dikolam selama 7 hari dari hari pertama agar ikan nila benar benar dalam kondisi yang sehat

3.4.4 Proses Pembentukan Bioflok


Bioflok yang terbentuk di media merupakan hasil pengkondisian sistem yang
diterapkan. Pengkondisian yang dilakukan yaitu:

Memberikan starter bakteri heterotrof sebagai bakteri agen pembetuk bioflok

Memasukan ikan Nila Gift G6 kedalam bak pemeliharaan dengan kepadatan


tinggi yaitu 500 ekor/m3 dan dibiarkan tanpa perlakuan selama 3 hari untuk
mengakumulasikan N-anorganik yaitu amoniak sebagai hasil eksresinya
sampai diatas 1 ppm yang digunakan oleh bakteri heterotrof untuk
menghasilkan eksopolimer (protein).

Meningkatkan jumlah C-organik di media dengan penambahan tepung tapioka


sebagai bahan yang dibutuhkan bakteri heterotrof.

Menciptakan pergerakan air media sampai kecepat an arusnya 10 cm/detik


agar flok tetap dalam keadaan tersuspensi.

Menciptakan kondisi yang aerob dengan menjaga DO diatas 2 ppm karena


bakteri heterotrof mengkonsumsi oksigen.

3.5 Pelaksanaan Penelitian


Setelah proses pembentukan bioflok kemudian Ikan dipelihara selama 5
minggu (35 hari) yang meliputi beberapa kegiatan diantaranya:

Ikan Nila Gift G6 ditimbang berat awalnya (W o) sebanyak 10 % dari populasi

24

Setiap hari dilakukan penambahan tepung tapioka dengan dosis sesuai


dengan perlakuan C/N ratio yang diberikan (perhitungan pemberian tapioka
pada Lampiran 1). Pemberian tepung tapioka dilakukan 1 kali dalam sehari
pada pukul 08.00 WIB

Dosis pakan yang diberikan atau feeding rate (FR) tidak ditentukan karena
pemberian secara addlibitum tetapi dicatat jumlahnya dan diberikan tiga kali
sehari yaitu pagi pukul 08.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB dan 15.00 WIB.

Kualitas Air media berupa suhu, DO dan pH diukur setiap hari, pengukuran
kandungan

amoniak

dilakukan

setiap

ming gu

sekali

sedangkan

pengontrolan alkalinitas, TSS dan CO2 dilakukan dengan mengukur kadar


alkalinitas (Lampiran 2), TSS dan CO 2 (Lampiran 3) setiap minggunya untuk
menjaga keseimbangan sistem bioflok dalam media. Alkalinitas dijaga antara
100-150 ppm sedangkan TSS dijaga jangan sampai melebihi 130 ppm.

Perhitungan berat nila dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan metode


sampling sebanyak 10 % dari total populasi

Setiap hari sekali diambil sampel flokulan dan diukur jumlah volume bioflok
dan ukuran diameter serta penampilan flok (Lampiran 4).

Perhitungan tingkat kelulushidupan (SR), tingkat pertumbuhan spesifik (SGR),


nilai konfersi rasio pakan (FCR) dan Faktor kondisi (FK) ikan nila GIFT G6
dilakukan pada akhir penelitian atau pada minggu ke -5 akhir.

3.6 Parameter Uji


3.6.1 Parameter Utama
Laju pertumbuhan spesifik (SGR) dapat diketahui dengan rumus perhitungan
sebagai berikut (Ricker,1979 dalam Jobling et al., 1997):
SGR =

ln Wt ln Wo 100%
t

(11)

Keterangan :
SGR

: Spesific Growth Rate/Laju Pertumbuhan Spesifik (% Berat tubuh/hari)

25
Wt

: bobot rata rata akhir (g/ekor)

Wo

: bobot rata rata awal (g/ekor)

: waktu (hari)

3.6.2 Parameter Penunjang


a. SR (Survival Rate)
Tingkat kelulushidupan (SR) dapat diketahui dengan rumus perhitungan
sebagai berikut (Effendie, 1997):
SR =

Nt
x 100%
No

(12)

Keterangan :
SR

: Survival Rate/Tingkat kelulushidupan (satuannya: %)

Nt

: Jumlah ikan yang hidup diakhir penelitian (ekor)

No

: Jumlah ikan yang hidup diawal penelitian (ekor)

b. FCR (Food Convertion Ratio)


Nilai rasio konfersi pakan (FCR) dapat diketahui dengan rumus perhitungan
sebagai berikut (Stickney, 2000):
FCR =

F
Wt Wo

(13)

Keterangan :
FCR

: Food Convertion Ratio/Rasio Konversi Pakan

Wt

: bobot rata rata akhir (gr/ekor)

Wo

: bobot rata rata awal (gr/ekor)

c. Faktor Kondisi (FK)


Nilai faktor kondisi (FK) dapat diketahui dengan rumus perhitungan sebagai
berikut (Ogunji et al., 2008):
FK =
Keterangan :
FK

: Faktor Kondisi

: Bobot (gr/ekor)

: Panjang (gr/ekor)

W
100
L3

(14)

26
d. Kualitas Air
Pengukuran kualitas air yang meliputi pengukuran suhu, pH, oksigen terlarut,
amoniak, alkalinitas, CO 2, TSS dan volume bioflok serta diameter flok. Pengukuran
suhu dilakukan dengan termometer, pH dengan pH meter, oksigen terlarut
menggunakan DO meter, amoniak menggunakan metode nesslerisasi, Alkalinitas
dan CO2 menggunakan titrasi sedangkan TSS dengan penimbangan . Untuk
pengukuran volume bioflok dilakukan dengan menggunakan gelas ukur dan
diameter flok menggunakan mikroskop.
3.7 Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian, akan dianalisis secara statistik
dengan menggunakan analisis keragaman (ANOVA) sesuai dengan rancangan
yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Apabila dari data sidik
ragam diketahui bahwa perlakuan menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata
(significant)

atau

berbeda

sangat

nyata

(highly

significant),

maka

untuk

membandingkan nilai antar perlakuan dilanjutkan dengan uji BNT ( Beda Nyata
Terkecil). Dari uji ini dilanjutkan dengan analisis regresi.

27
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)


Hasil pengukuran terhadap berat rata-rata nila Gift G6 selama

35 hari

penelitian dapat dilihat pada Lampiran 5. Sedangkan grafik berat rata-rata setiap 7
hari sekali pada setiap perlakuan yang didapat dari hasil sampling 10 % jumlah total
ikan yang dipelihara dapat dilihat pada Gambar 4 sebagai berikut.

Gambar 4. Berat rata-rata nila Gift G6 hasil sampling setiap minggu pada setiap
perlakuan dengan ulangan 3 kali

Setelah dilakukan perhitungan pada Lampiran 6, didapatkan hasil laju


pertumbuhan spesifik seperti tertera pada Tabel 2, sedangkan rata-rata tiap
perlakuan dapat dilihat pada Gambar 5.
Tabel 2.

Laju Pertumbuhan Spesifik (% Berat tubuh/hari) nila Gift G6 selama


penelitian

Perlakuan

Ulangan

Total

Ratarata

St.Deviasi

C/N ratio

II

III

0,81

0,88

1,30

2,99

1,00

+0,27

12

4,44

4,48

4,53

13,45

4,48

+0,05

24

4,33

4,08

4,42

12,83

4,28

+0,18

Total

29,27

28
% BB/hari
5.00

4.48

4.28

4.00
3.00

SGR

2.00

SD

1.00

1.00
0.00
0

12

24

C/N ratio

Gambar 5 Rata-rata Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6


Setelah dilakukan perhitungan analisa sidik ragam pada Lampiran 7 didapatkan
hasil sidik ragam pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total
**: Sangat Berbeda Nyata

JK
22,9579
0,2066
23,1647

KT
F-hitung
11,4789 333,37**
0,0344

F 5%
5,14

F1%
10,92

Hasil sidik ragam pada Tabel 3, menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan


aplikasi C/N ratio memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap

laju

pertumbuhan spesifik nila Gift G6 karena nilai F Hitung lebih besar dibanding F
Tabel 1 % (333,37 > 10,92). Selanjutnya, untuk mengetahui perlakuan mana yang
terbaik maka dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) seperti terlihat pada
Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Analisa Beda Nyata Terkecil Laju Pertumbuhan Spesifik nila Gift G6
rata-rata perlakuan
A = 1,00
C = 4,28
B = 4,48

A =1,00
3,28 **
3,49 **

C = 4,28
0,21

ns

B = 4,48
-

Notasi
a
b
b

ns : Tidak Berbeda Nyata, ** : Sangat Berbeda Nyata

Hasil uji BNT pada Tabel 4 menunjukan bahwa perlakuan A menunjukan hasil
yang sangat berbeda nyata terhadap perlakuan C dan sangat berbeda nyata
terhadap perlakuan B. Sedangkan perlakuan B tidak berbeda nyata terhadap
perlakuan C. Sehingga C/N Ratio 24 dan C/N ratio 12 lebih baik dari C/N ratio 0.
Untuk mengetahui hubungan antara pengaruh C/N ratio yang berbeda terhadap laju

29
pertumbuhan spesifik nila selama penelitian digunakan analisa regresi. Melalui
analisis regresi didapatkan hubungan yang kudratik antara perlakuan perbedaan
C/N ratio terhadap laju pertumbuhan spesifik nila dengan persamaan kuadratik
y= -0,012x2 + 0,444x + 0,996 dengan R2 = 0,98. Hal ini menunjukkan bahwa dengan
koefisien determinasi 0,98 yang artinya 98 % kenaikan tingkat laju pertumbuhan
spesifik nila dipengaruhi oleh tingkat pe mberian tepung tapioka dengan C/N ratio
berbeda. Dimana laju pertumbuhan spesifik tertinggi sebesar 4,48 % Berat
tubuh/hari terdapat pada perlakuan dengan aplikasi C/N ratio 12. Hubungan aplikasi
C/N ratio terhadap laju pertumbuhan spesifik nila dapat dilihat pada Gambar 6.
% BB perhari
6.00
5.00

Ulangan 1

4.00

y = -0.012x2 + 0.444x + 0.996


R = 0.98

3.00

Ulangan 2
Ulangan 3

2.00

Garis regresi

1.00
0.00
0

10
15
Aplikasi C/N Ratio

20

25

30

Gambar 6. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap laju
pertumbuhan spesifik nila Gift G6
Gambar 6 menunjukkan, bahwa dengan aplikasi C/N ratio pada teknologi
bioflok berpengaruh terhadap semakin meningkatnya laju pertumbuhan spesifik nila
Gift G6 sampai puncaknya tertinggi pada C/N ratio 17,4 dengan nilai 4,85 % Berat
tubuh/hari dan kemudian menurun dan semakin menurun sampa i C/N ratio 24. SGR
terendah yaitu pada perlakuan A (aplikasi C/N ratio 0) diikuti Perlakuan B (aplikasi
C/N ratio 12) dimana perlakuan ini memberikan nilai SGR tertinggi dibandingkan
oleh perlakuan C (aplikasi C/N ratio 24).
Mekanisme pemanfaatan flok oleh nila Gift G6 sebagai subtitusi pakan buatan
bila dilihat secara kuantitas, makanan yang dicerna memang tidak akan
memberikan perbedaan SGR nila yang diteliti apabila ikan dipelihara dengan pakan
dengan jumlah yang sama dengan kualitas lingkungan dan sis tem yang sama.

30
Semakin tinggi pemanfaatan pakan alami maka akan semakin berkurang
penggunaan pakan buatan. Pemanfaatan flok sebagai makanan alami pada C/N
ratio 12 lebih baik karena diameter flok lebih stabil dan besar sehingga nila tidak
kehabisan stok makanan alami, sedangkan SGR C/N ratio 24 kurang baik karena
pemanfaatan flok kurang maksimal karena diameternya yang labil mudah
kehilangan bentuk sehingga tidak dimakan nila. Menurut Sanderson et al.(1996)
ukuran diameter partikel yang dimakan oleh nila ya itu 38 m sampai 1,0 mm.
Volume flok C/N ratio 24 adalah yang tertinggi tetapi diameter floknya fluktuatif
sehingga memungkinkan nila tidak menyaring flok pada hari -hari tertentu. Diameter
flok terkecil pada C/N ratio 24 yaitu 10m, 30 m dan 20 m pada setiap
ulangannya. C/N ratio 12 memiliki volume flok yang tidak tinggi dibandingkan C/N
ratio 24 tapi setidaknya memiliki ukuran diameter flok yang stabil. Diameter flok
terkecil pada C/N ratio 12 yaitu 50m, 70 m dan 70 m pada setiap ulangannya
sehingga flok selalu dapat dimanfaatkan sebagai subtitusi pakan setiap saat
sehingga dapat mempengaruhi nilai SGR.

Protein (40-60%

Bahan Polimer
Ektraseluler (EPS)
40-60%

Humics (20-30%)
Polisakarida (10-20%)
Asam nuklat (2-5%)

Serat, bahan organic


Lainnya (10-20%)

Lemak, bahan lain,..(5-10%)

Biomassa sel (10-20%)

Gambar 7. Komposisi bagian organik yaitu EPS (Sumber: Nielsen, 2002)


Flok tersusun atas bakteri heterotrof dan bakteri filamen, Bitton (2005)
mengemukakan protein merupakan komponen polimer yang sering ditemukan di
ekstrak EPS (Extracelluler Polymeric Substances) (Gambar 7), EPS diproduksi oleh
beberapa mikroorganisme pembentuk flok pada fase pertumbuhan endogen.
Bila melihat flok dari segi kualitas berdasarkan (Gambar 7), persentasi protein
berada dalam jumlah yang cukup besar yaitu 40 -60 %. Menurut Tacon et al.(2002)

31
Mikrobial flok mengandung kandungan protein 35 -38%, lemak 5-9%, kadar abu 710% dan energi 19 kJ/g. Hal ini merupakan jumlah yang melebihi cukup dari protein
yang dibutuhkan oleh nila. Nila anakan membutuhkan protein yang tinggi mencapai
45% (El-Sayed dan Teshima, 1992), sehingga semakin banyak flok yang dimakan
akan semakin memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuh an spesifik sesuai
analisa SGR yaitu C/N ratio 12 memberikan SGR paling tinggi.
Bila dilihat dari segi kualitas air terutama kandungan amoniak, menurut Hesti
dan Barus (2006) ammonia merupakan hasil eksresi primer ikan, namun bila ada
dalam konsentrasi yang tinggi dapat menghambat laju pertumbuhan. Amonia (NH 4+)
lebih bersifat toksik dari pada bentuk (NH 3) pada konsentrasi yang sama, walaupun
ammonia komponen alami di perairan tapi pengaruhnya terhadap ikan menjadikan
ammonia ini polutan yang khas dan dapat menurunkan laj u pertumbuhan.
Bila dibuat hubungan antara ammonia dan SGR maka akan terlihat hubungan
yang berbanding terbalik seperti pada Gambar 8 berikut.

Amoniak
(ppm)

Gambar 8.Hubungan antara pengaruh amoniak terhadap SGR


Gambar 8 menunjukan semakin besar nilai C/N ratio yang diaplikasikan akan
semakin rendah nilai amoniak maka akan semakin tinggi nilai SGR yang dihasilkan
sampai aplikasi C/N ratio 12 dan tidak akan berbeda nyata nilai SGR pada C/N ratio
24. Perlakuan C/N ratio 12 dan 24 menunjukan perlakuan yang baik dibanding kan
C/N ratio 0 bila dilihat dari notasi SGR dan amoniak. Sesuai dengan pernyataan
Hari et al.(2004) bahwa penambahan substrat organik kaya karbon seperti tepung

32
tapioka dapat mengontrol perbandingan antara C dan N atau C/N ratio. Manipulasi
C dan N atau C/N ratio air ini bertujuan untuk menumbuhkan bakteri heterotrof. Hal
ini sesuai dengan pendapat Avnimelech (1999), bahwa pada C/N optimum akan
tumbuh bakteri heterotrof yang mampu mereduksi ammonia.
Selain baik untuk menambah nafsu makan, pemanfaatan flok sangat stabil
terhadap kualitas air dalam waktu yang relatif lama dengan pH relatif kecil dan
stabil. Kondisi air yang demikian menyebabkan ikan tidak mudah stres, sehingga
pertumbuhan akan lebih baik dan lebih tahan terhadap penyakit (Sutanto, 2001).
Bila dilihat pH penelitian masih dalam range toleransi kualitas air yang baik untuk
nila yaitu diantara pH 6-8 dan dinamika perubahannya stabil tidak fluktuatif sehingga
nila yang dipelihara tidak stres dan pertumbuhannya baik. Karena pH yang rendah
akan membuat amoniak bersifat racun sehingga dapat mereduksi pertumbuhan.
Tetapi SGR nila pada aplikasi teknologi bioflok dengan kepadatan tinggi (500
ekor/m3) masih kurang baik bila dibandingkan dengan pembesaran ditambak secara
semiintensif dengan padat penebaran 20 ekor/m2 dimana nila Gift dengan berat
1,25 g dapat mencapai 15 g selama masa pemeliharaan 30 hari (Dayat dan Wahid,
2009). Analisa perbandingan SGR pada dua sistem ini dapat dilih at pada Lampiran
26 dan Gambar 9.

Gambar 9. Perbandingan lama pemeliharaan pada dua sistem


Dimana SGR pada sistem semi intensif mencapai 8,28 % berat tubuh/hari
dibandingkan SGR terbaik pada penelitian yaitu 4,48 % berat tubuh/hari.
Berdasarkan Gambar 9 seharusnya nila pada penelitian (35 hari) mencapai berat
akhir hanya selama 21 hari (+ 3 minggu). Nila pada penelitian tumbuh lebih lambat
dikarenakan kepadatan yang terlalu tinggi.

33
4.1.2 Kelulushidupan (SR)
Kelulushidupan adalah jumlah nila Gift G6 yang hidup dibandingkan dengan
ikan yang dipelihara dalam wadah dan dengan sistem tertentu. Hasil perhitungan
kelulushidupan nila Gift G6 selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada Lampiran 8.
Sedangkan data kelulushidupan dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 10.
Tabel 5. Kelulushidupan (SR) nila Gift selama penelitian (%)
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

Ulangan
II

III

65,8
84,8
90,8

38
72
89,6

45,6
82,8
84,6

Total

Total
149,4
239,6
265
654

% SR
100.00
79.87

80.00
60.00

Rata-rata St.Deviasi
+14,37
+6,89
+3,29

49,8
79,87
88,33

88.33

49.80

SR
SD

40.00
20.00
0.00

0
12
24 C/N ratio
Gambar 10. Rata-rata Kelulushidupan Ikan nila Gift G6 pada Teknologi Bioflok
dengan C/N ratio 0, 12 dan 24

Setelah dilakukan perhitungan analisa sidik ragam pada data kelulushidupan


nila Gift G6 yang dipelihara secara superintensif dengan aplikasi teknol ogi bioflok
(Lampiran 9) didapatkan hasil sidik ragam pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Analisa Sidik Ragam kelulushidupan nila Gift G6
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
2
6
8

JK
0,50082
0,09433
0,59516

KT
0,25041
0,01572

F-hitung
15,93**

F 5%
5,14

F1%
10,92

(**) = Sangat berbeda nyata

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan perbedaan pemberian tepung


tapioka dengan C/N ratio yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat
berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan nila Gift G6 yang dipelihara dalam
closed-system secara superintensif, karena nilai F Hitung lebih besar dibanding F

34
Tabel 1 % (13,94 > 10,92). Selanjutnya, untuk mengetahui perlakuan mana yang
terbaik maka dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) seperti ter lihat pada
Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Analisa Beda Nyata Terkecil Kelulushidupan nila Gift G6
rata-rata perlakuan
A = 0,53
B = 0,93
C = 1,09

A =0,53
**
0,403
0,56 **

B = 0,93
0,1567 ns

C = 1,09
-

Notasi
a
b
b

ns = Tidak Berbeda Nyata


** = Sangat Berbeda Nyata

Hasil uji BNT pada Tabel 7 menunjukan bahwa perlakuan A menunjukan


hasil yang berbeda nyata terhadap perlakuan B Sedangkan perlakuan B tidak
berbeda nyata terhadap perlakuan C . Sehingga C/N Ratio 24 dan C/N ratio 12 lebih
baik dari C/N ratio 0. Untuk mengetahui hubungan antara pengaruh C/N ratio yang
berbeda terhadap kelulushidupan nila selama penelitian digunakan analisa regresi.
Melalui analisis regresi didapatkan hubungan yang linier antara perlakuan
perbedaan C/N ratio terhadap kelulushidupan nila dengan persamaan linier
y = 1,6056x + 53,4 dengan R2 = 0,81 yang artinya

81 % kenaikan tingkat

kelulushidupan nila dipengaruhi oleh tingkat pemberian tepung tapioka dengan C/N
ratio berbeda. Dimana kelulushidupan tertinggi terdapat pada perlakuan dengan
aplikasi C/N ratio 24 dengan nilai kelulushidupan sebesar 88,33 %. Hubungan padat
penebaran terhadap kelulushidupan nila dapat dilihat pada Gambar 11.
%

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

y = 1.605x + 53.4
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Garis regresi

R = 0.81

10

15

20

25

30

Aplikasi C/N Ratio

Gambar 11. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap
kelulushidupan nila Gift G6
Gambar 11 menunjukkan, bahwa dengan semakin tingginya aplikasi C/N
ratio pada teknologi bioflok, berpengaruh terhadap semakin men ingkatnya

35
kelulushidupan nila Gift G6, hingga kelulushidupan tertinggi dicapai pada perlakuan
aplikasi C/N ratio 24 (perlakuan C). Perlakuan C (aplikasi C/N ratio 24) memberikan
nilai kelulushidupan tertinggi yang diikuti oleh perlakuan B ( aplikasi C/N ratio 12),
dan A (aplikasi C/N ratio 0).
Dengan kepadatan yang semakin tinggi mencapai kepadatan 500 ekor/m 3
maka aktifitas dan sisa metabolisme yang dihasilkan akan semakin tinggi dan terjadi
pula kompetisi ruang gerak dan konsumsi oksigen yang dapat menyebabkan
kelulushidupan menjadi semakin rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Marzuki
et al.(1988), bahwa tingkat kepadatan yang tinggi menurunkan prosentase
kelulushidupan karena pada tingkat kepadatan yang tinggi maka ruang hidup akan
semakin sempit dan terjadi persaingan dalam mempertahankan hidup.
Kelulushidupan nila juga dapat dipengaruhi oleh kualitas air media
pemeliharaan, salah satunya adalah ammoniak (NH 3) yang bersifat racun bagi nila.
Kandungan ammoniak di kolam dihasilkan oleh sisa metabolisme eksesi dan
sekseri ikan, semakin tinggi padat penebaran nila pada sistem superintensif ini
maka semakin tinggi pula sisa metabolisme yang dihasilkan. Pakan nila yang
digunakan yaitu memiliki kandungan protein yang sangat tinggi yakni sebesar 38 %.
Menurut

Avnimelech (1999) yang menyatakan bahwa sumber utama ammonia

adalah pakan dengan kandungan protein yang tinggi. Dalam hal ini jika
dihubungkan dengan pemberian pakan buatan yang memiliki kandungan protein
yang cukup tinggi maka akan meningkatkan unsur N dalam perairan , terutama Namoniak.
Selain karena kandungan ammonia, SR nila juga diduga dipengaruhi oleh
kandungan protein (Protein Sel Tunggal) dari bakteri yang dimakan oleh nila
sehingga menyebabkan daya tahan meningkat dan pada akhirnya akan
meningkatkan kelulushidupan. Sesuai pernyataan Santiago dan Lovell (1988 ),
protein yang terdiri asam amino esensial dengan kadar prosentase tertentu positif
mempengaruhi nilai kelulushidupan nila.

36
Assaduzzaman et al.(2008) menjelaskan semakin ditingkatkan nilai C/N ratio
maka akan meningkatkan THB (Total Heterotrophic Bacterial). Karena flok tersusun
atas sebagian besar bakteri heterotrof, dengan adanya bakteri heterotrof maka akan
menekan pertumbuhan bakteri patogen karena limbah metabolisme yang ada akan
dimanfaatkan langsung oleh bakteri heterotrof. Bakteri patogen tidak aka n memiliki
kesempatan untuk memanfaatkan bahan sisa metabolisme sehingga tidak bisa
berkembang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bruno et al.(2000) yaitu pemberian
mikroorganisme probiotik potensial dapat menekan perkembangan bakteri pathogen
di dalam sistem budidaya. Di penelitian ini menggunakan Bacillus subtilis sebagai
starter bakteri heteotrof pembentuk flok. Gatesoupe (1999) menjelaskan bahwa
Bacillus spp memenuhi tiga syarat untuk dinominasikan sebagai mikroorganisme
probiotik karena (1) antagonis terhadap pathogen, (2) kolonisasinya potensial dan
(3) dapat meningkatkan daya tahan terhadap penyakit terhadap hostnya. Bakteri
probiotik juga dapat berkompetisi nutrisi dengan pathogen sehingga pathogen tidak
bisa berkembang.
Ini berarti semakin tinggi aplikasi C/N ratio berati semakin tersedianya karbon
organik sebagai bahan sintesis Bacillus subtilis sehingga berperan sebagai probiotik
di wadah budidaya sehingga menekan pathogen,meningkatkan daya tahan nila
sehingga

mengurangi

stress dan

dapat

meningkatka n

nilai

SR.

Hal

ini

menyebabkan perlakuan pada C/N ratio 12 dan 24 pada penelitian ini memiliki nilai
SR yang tinggi yaitu 79,87% dan 88,33%. Menurut El Sayed (2006), budidaya nila
air tawar secara intensif dengan kepadatan 9 -15 ekor/m2 memiliki SR 71-82%. Hal
ini berati aplikasi teknologi bioflok kepadatan 500 ekor/m 3 dengan aplikasi C/N ratio
12 dan 24 cukup baik dalam mempangaruhi kelulushidupan.
4.1.3 Rasio Konversi Pakan (FCR)
Hasil pengukuran terhadap Rasio Konversi Pakan nila Gift G6 selama 35 hari
penelitian dapat dilihat pada Lampiran 10. Sedangkan data Rasio Konversi Pakan

37
setiap perlakuan dan setiap ulangan dapat dilihat pada Tabel 8 dan Gambar 12
sebagai berikut.
Tabel 8. Rasio Konversi Pakan nila Gift G6 selama penelitian
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

Ulangan
II
4,05
0,47
0,78

I
4,75
0,93
0,86

Total

III
3,46
0,54
0,80

12,26
1,94
2,44
16,64

Total

Ratarata

St.Deviasi

4,09
0,65
0,81

+0,65
+0,25
+0,04

Index FCR
5.00

4.09
4.00
3.00
FCR
SD

2.00
0.65

1.00

0.81

0.00
0

12

24

C/N ratio

Gambar 12. Rata-rata Rasio Konversi Pakan nila Gift G6 pada Teknologi Bioflok
dengan C/N ratio 0, 12 dan 24
Setelah dilakukan perhitungan analisa sidik ragam pada Lampiran

11

didapatkan hasil sidik ragam pada Tabel 9 berikut ini.


Tabel 9. Hasil Sidik Ragam Rasio Konversi Pakan nila Gift G6
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total
**: Sangat Berbeda Nyata

JK
KT
22,5761 11,2880
0,9604
0,1601
23,5365

F-hitung
70,52**

F 5%
5,14

F1%
10,92

Hasil sidik ragam pada Tabel 9, menunjukkan bahwa perlakuan C/N ratio yang
berbeda memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap tingkat Rasio
Konversi Pakan nila Gift G6 yang dipelihara dalam closed-system secara
superintensif, karena nilai F Hitung lebih besar dibanding F Tabel 1 % (70,52 >
10,92). Selanjutnya, untuk mengetahui perlakuan mana y ang terbaik maka
dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) seperti terlihat pada Tabel 10
berikut ini.

38
Tabel 10. Analisa Beda Nyata Terkecil Rasio Konversi Pakan nila Gift G6
rata-rata perlakuan
B=
0,65
C=
0,81
A=
4,09

B =0,65
0,17 ns
3,44 **

C = 0,81
3,28 **

A = 4,09
-

Notasi
a
a
b

ns = Tidak Berbeda Nyata


** = Sangat Berbeda Nyata

Hasil uji BNT pada Tabel 10 menunjukan bahwa perlakuan A menunjukan


hasil yang sangat berbeda nyata terhadap perlakuan C dan sangat berbeda nyata
terhadap perlakuan B. Sedangkan perlakuan B tidak berbeda nyata terhadap
perlakuan C. Sehingga rasio konversi pakan pada C/N Ratio 24 dan C/N ratio 12
lebih baik dari C/N ratio 0. Untuk mengetahui hubungan antara pengaruh C/N ratio
yang berbeda terhadap rasio konversi pakan nila selama penelitian digunakan
analisa regresi. Melalui analisis regresi didapatkan hubungan yang kuadratik antara
perlakuan perbedaan C/N ratio terhadap rasio konversi pakan nila dengan
persamaan kuadratik y = 0,012 x2 - 0,436x + 4,09 dengan R2 = 0,95. Hal ini
menunjukkan bahwa dengan koefisien determinasi 0,95 yang artinya

95 %

kenaikan tingkat rasio konversi pakan nila dipengaruhi oleh tingkat pemberian
tepung tapioka dengan C/N ratio berbeda. Rasio konversi pakan terbaik dengan
nilai 0,65 terdapat pada perlakuan dengan aplikasi C/N ratio 12. Hubungan padat
penebaran terhadap rasio konversi pakan nila dapat dilihat pada Gambar 13.

Indeks FCR

5.00
4.50
4.00
3.50
3.00
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00

Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Garis regresi

y = 0.012x2 - 0.436x + 4.086


R = 0.95

10

15

20

25

30

Aplikasi C/N Ratio

Gambar 13. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap rasio
konversi pakan nila Gift G6
Gambar 13 menunjukkan, bahwa dengan aplikasi C/N ratio pada teknologi
bioflok berpengaruh terhadap semakin rendahnya rasio konversi pakan nila Gift G6

39
sampai puncaknya terendah pada C/N ratio 17,5 dengan nilai 0,28 dan mulai
meningkat lagi sampai C/N ratio 24. Konversi pakan tertinggi pada perlakuan A
(aplikasi C/N ratio 0) kemudian Perlakuan B (aplikasi C/N ratio 12) memberikan nilai
konversi pakan terendah dibandingkan oleh perlakuan C (aplikasi C/N ratio 24).

(a)

(b)

(c)

Gambar 14. Warna Flok pada setiap penelitian yaitu kecoklatan , (a) C/N ratio 0, (b)
C/N ratio 12 dan (c) C/N ratio 24
Pertumbuhan nila Gift G6 pada budidaya superintensif secara closed-system
dengan penerapan teknologi bioflok ini dapat dipengaruhi oleh t ersedianya makan
alami yang tumbuh dimedia yaitu flok-flok bakteri yang tumbuh akibat dari
pemberian C organik dengan rasio tertentu. Dijelaskan oleh Sutanto (2001) bahwa
sistem heterotrof yang sudah terbentuk ditandai dengan terbentuknya flok -flok
bakteri yang tampak seperti kabut melayang -layang dalam kolom air. Flok bakteri
dapat terbentuk dalam tiga warna, yaitu warna kecoklatan, kehijauan dan warna
kehitam-hitaman. Pada penelitian flok yang terbentuk berwarna coklat se perti yang
tampak pada Gambar 14 pada setiap perlakuan memiliki warna yang relatif sama.
Menurut Tejnarine dan Kamila (2005) Nila bersifat filter feeder yang
mengambil makanan tersuspensi di dalam badan air seperti plankton. Sehingga
pantas bila penerapan teknologi bioflok ini memberikan p engaruh yang nyata
terhadap nilai rasio konversi pakan karena adanya flok-flok sebagai substitusi pakan
buatan. Nilai rasio konversi pakan pada C/N ratio 12 memiliki nilai terbaik karena
diameter flok yang lebih stabil ukurannya dibandingkan pada C/N ratio 24 dimana

40
diameternya fluktuatif mengalami perubahan ukuran. Menurut Bitton (2005) ada 3
jenis bentuk flok yaitu flok normal, flok Pin-point dan Filamentous bulking. Flok
normal yaitu bentuk yang seimbang antara

jumlah bakteri filamen dan bakteri

pembentuk flok, flok ini memiliki ukuran besar dan berat sehingga mudah
mengendap. Flok Pin point diakibatkan kegagalan pembentukan flok karena
rendahnya karbohidrat dan jumlah bakteri filamen sebagai rangka flok sehingga
menyebabkan flok tidak bisa mengendap. Se dangkan Filamentous bulking terjadi
akibat pertumbuhan bakteri filamen yang berlebihan pada flok, bakteri ini selalu ada
dalam flok tapi keberadaan bakteri pembentuk flok dibawah kondisi yang tidak
mendukung pembentukan flok. Sedangkan, karbohidrat yang terlalu tinggi dan
kekurangan nutrient seperti nitrogen, fosfor, besi dan elemen lainya dapat
menyebabkan bulking. Perlu diketahui bahwa C/N ratio yang baik yaitu 20 cukup
menjaga nutrisi flok.
Hal inilah yang menyebabkan diameter flok selalu berubah-ubah pada aplikasi
C/N ratio 24 karena kelebihan C (karbon) sehingga kekurangan nutrien N atau N
berada dalam kadar yang rendah dalam media, menyebabkan pertumbuhan bakteri
filamen meledak tapi bakteri pembentuk flok dalam jumlah yang sedikit sehingga
kesulitan membentuk flok yang kokoh, kompak dan tidak mudah hancur. Sedangkan
C/N ratio 12 diameter floknya stabil karena tidak kekurangan N sehingga bakteri
pembentuk flok yaitu bakteri heterotrof selalu bisa memperbarui selnya. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Rahmatullah dan Beveridge (1993) dalam Hari
et al (2004) yang menyatakan bahwa, bakteri heterotrof memanfaatkan nitrogen
anorganik untuk mensintesa protein dan menghasilkan sel baru.
4.1.4 Faktor Kondisi (FK)
Hasil perhitungan faktor kondisi nila Gift G6 selama 35 hari penelitian dapat
dilihat pada Lampiran 12. Sedangkan data faktor kondisi setiap perlakuan dapat
dilihat pada Tabel 11 dan Gambar 15 berikut ini.

41
Tabel 11.
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

Faktor Kondisi nila Gift G6 selama penelitian


I
2,01
2,22
2,24

Ulangan
II
1,95
2,20
2,26

III
1,99
2,19
2,20

Total
indek FK
2.30

Total
5,94
6,61
6,70
19,25

St.Deviasi

1,981
2,202
2,234

+0,03
+0,01
+0,03

2.23

2.20

2.20

Ratarata

2.10
1.98

2.00

FK
SD

1.90
1.80
1.70
0

12

24

C/N ratio

Gambar 15. Rata-rata Faktor Kondisi Ikan nila Gift G6 pada aplikasi Teknologi
Bioflok dengan C/N ratio 0, 12 dan 24
Setelah dilakukan perhitungan analisa sidik ragam pada Lampiran 13
didapatkan tabel hasil sidik ragam pada Tabel 12 berikut ini.
Tabel 12. Analisa Sidik Ragam Faktor Kondisi nila Gift G6
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
2
6
8

JK
0,11362
0,00433
0,11795

KT
0,05681
0,00072

F-hitung
78,65**

F 5%
5,14

F1%
10,92

(**) = Sangat berbeda nyata

Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa perlakuan perbedaan pemberian tepung


tapioka dengan C/N ratio yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat
berbeda nyata terhadap faktor kondisi nila Gift G6 yang dipelihara dalam closedsystem secara superintensif, karena nilai F Hitung lebih besar dibanding F Tabel 1
% (78,65 > 10,92). Selanjutnya, untuk mengetahui perlakuan mana yang terbaik
maka dilanjutkan dengan uji BNT seperti terlihat pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13. Analisa Beda Nyata Terkecil Faktor kondisi nila Gift G6
rata-rata perlakuan
A=
1,98
B=
2,20
C=
2,23
(ns) : Tidak Berbeda Nyata
(**) : Sangat Berbeda Nyata

A =1,98
0,22 **
0,25 **

B = 2,20
0,03 ns

C = 2,23
-

Notasi
a
b
b

42
Hasil uji BNT pada Tabel 13 menunjukan bahwa perlakuan A menunjukan
hasil yang sangat berbeda nyata terhadap perlakuan B dan perlakuan C.
Sedangkan perlakuan B tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Sehingga C/N
Ratio 24 dan C/N ratio 12 lebih baik dari C/N ratio 0.
Untuk mengetahui hubungan antara pengaruh C/N ratio yang berbeda
terhadap faktor kondisi nila selama penelitian digunakan a nalisa regresi. Melalui
analisis regresi didapatkan hubungan yang kudratik antara perlakuan perbedaan
C/N ratio terhadap kondisi nila dengan persamaan y = -0,001x2 + 0,026x + 1,980
dengan R 2 = 0,95. Hal ini menunjukkan bahwa dengan koefisien determinasi 0,95
yang artinya

95 % kenaikan tingkat faktor kondisi nila dipengaruhi oleh tingkat

pemberian tepung tapioka dengan C/N ratio berbeda. Dimana faktor kondisi tertinggi
terdapat pada perlakuan dengan aplikasi C/N ratio 24 dengan nilai faktor kondisi
sebesar 2,23. Hubungan padat penebaran terhadap faktor kondisi nila dapat dilihat
pada Gambar 16.

2.30
2.25
2.20

y = -0.001x2 + 0.026x + 1.981


R = 0.95

2.15
Faktor
Kondisi
(FK)

2.10

Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Garis regresi

2.05
2.00
1.95
1.90
0

10

15
Aplikasi C/N Ratio

20

25

30

Gambar 16. Hubungan Aplikasi C/N ratio pada Teknologi Bioflok terhadap Faktor
Kondisi nila Gift G6
Gambar 16 menunjukkan, bahwa dengan aplikasi C/N ratio pada teknologi
bioflok berpengaruh terhadap semakin meningkatnya faktor kondisi nila Gift G6 dari
faktor kondisi terendah yaitu pada C/N ratio 0 sampai puncaknya tertinggi pada C/N
ratio 20,05 dengan nilai 2,2 dan menurun dan semakin menurun sampai C/N ratio
24. Faktor kondisi terendah pada perlakuan A (aplikasi C/N ratio 0) diikuti Perlakuan
B (aplikasi C/N ratio 12) kemudian perlakuan C (aplikasi C/N ratio 24).

43
Disini nila memiliki pengaruh yang sangat berbeda nyata dengan hasil notasi
uji BNT menunjukan bahwa perlakuan faktor kondisi C/N ratio 12 dan C/N ratio 24
lebih baik dari C/N ratio 0. Menurut Angelescu et al.(1956) dalam Johnny et al.
(2008) Faktor kondisi adalah nilai indeks yang menggambarkan interaksi antara
faktor biotik dan abiotik terhadap fisiologi kondisi ikan. Nilai ini menunjukan
kesejahteraan ikan selama siklus hidup. Faktor kondisi C/N ratio 0 sangat rendah
yaitu 1,98 sedangkan faktor kondisi

C/N ratio 12 dan 24 yaitu 2,20 dan 2,23.

Memang nila pada C/N ratio 0 lebih kelihatan kurus dan ukuran kepala lebih besar
berbeda dengan nila C/N ratio 12 dan 24 memiliki performa yang baik.
Faktor kondisi pada C/N ratio 0 nilainya kecil berarti ikan pada perlakuan ini
kondisinya kurang baik, dikarenakan ikan stres atau tidak tumbuh. Terlalu banyak
energi yang dibuang sehingga ikan tampak kurus, ikan pada perlakuan inipun
memiliki nafsu makan yang kurang dibandingkan dengan C/N ratio 12 dan 24. Hal
ini disebabkan karena faktor abiotik yaitu amoniak yang tinggi dan faktor biotik yaitu
adanya pathogen yang menyebabkan ikan stres sehingga nafsu makan menurun.
Perlakuan C/N ratio 12 dan 24 memiliki faktor kondisi yang lebih tinggi
dibandingkan C/N ratio 0, hal ini disebabkan karena ammonia berada dalam
konsentrasi yang rendah yang t idak mengganggu dan membahayakan nila. Adanya
aplikasi karbohidrat untuk menumbuhkan bakterial heterotrof dapat menghambat
pertumbuhan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh nilanya seperti dibahas
pada subbab kelulushidupan.
Faktor kondisi yang baik untuk nila yaitu 2,32 (Oyelese, 2006). Faktor kondisi
pada perlakuan C/N ratio 12 dan 24 belum mencapai 2,32. Hal ini disebabkan oleh
sistem teknologi bioflok yang diterapkan karena akibat adanya suspensi flok
menyebabkan kecerahan mencapai hanya 21 cm yan g tampak membuat warna air
menjadi oranye, belum lagi kepadatan yang membuat kompetisi ruang gerak dan
oksigen seperti yang telah dibahas pada susbab SR. Menurut Mulyono (1992)
kecerahan yang baik untuk ikan adalah berkisar antara 25 -40 cm. Menurut Kordi

44
dan Tancung (2007) bila nilai kecerahan rendah akan mengganggu pandangan
ikan. Tingginya suspensi yang melayang juga dapat menyebabkan kondisi ikan
kurang baik yang diindikasikan rendahnya pertumbuhan dan rusaknya lamella
insang (Mettam, 2005) yang dapat me nurunkan nilai indeks faktor kondisi.
4.1.5 Bioflok (Flocculant)
A. Volume Flok
Hasil pengukuran terhadap volume flok selama 35 hari penelitian dapat dilihat
pada Lampiran 14. Sedangkan grafik volume flok setiap hari sekali pada setiap
Dinamika
volume
flok padaGambar
budidaya nila superintensif
secara closed-system
perlakuan dapat
dilihat
pada
17 sebagai
berikut.dengan
aplikasi C/N Ratio berbeda pada Teknologi Bioflok
ml/L
20.0
18.0

Volume Flok

16.0
14.0

keterangan:

12.0

- : C/N 0 rerata
- : C/N 12 rerata
- : C/N 24 rerata

10.0
8.0
6.0
4.0
2.0
0.0
0

10

15

20

25

30

35

Hari

Gambar 17. Dinamika volume flok setiap hari sekali pada setiap perlakuan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 14, didapatkan hasil analisa
statistik volume flok seperti tertera pada Tabel 14. Dimana volume flok itu berada
pada range 0-13 ml/L.
Tabel 14. Analisa statistik volume flok (ml/L)
Perlakuan
C/N ratio 0
Ulangan
1
2
3
Min
0*
0
0
Max
1,5
1,5
1,5
Modus
0
2
1
Rata-rata
0,2
0,2
0,2
St.Deviasi
+0,3 +0,3 +0,3
*:nilai terendah,**:nilai tertinggi

C/N ratio 12
1
2
3
2
2
1
7,5
7,3
6
2
2
5
3,4
3,5
2,6
+1,7 +1,9 +1,8

C/N ratio 24
1
2
3
2
1
2
10
13 ** 10
5
1
3
4,9
4,5
4,4
+2,0 +4,1 +2,4

B. Diameter Flok
Hasil pengukuran terhadap diameter flo k selama 35 hari penelitian dapat dilihat
pada Lampiran 15.

Sedangkan dinamika diameter flok setiap hari sekali pada

45
setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 18 sebagai berikut. Dimana diameter
flok berada pada kisaran 10-210 m.

Gambar 18. Dinamika diameter flok setiap hari sekali pada setiap perlakuan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 15, didapatkan hasil analisa
statistik diameter flok seperti tertera pada Tabel 15.
Tabel 15. Analisa statistik diameter flok
Perlakuan
Ulangan
Min
Max
Modus
Rata-rata
St.Deviasi

C/N ratio 0
1
2
3
10
0*
10
70
60
60
30
30
20
33
30
33
+14,5 +17,1 +17,0

C/N ratio 12
1
2
3
50
70
70
170
180
190
130
130
130
128
126
126
+28,1 +28,8 +27,5

C/N ratio 24
1
2
3
10
30
20
210** 170
180
110
110
120
100
103
103
+47,1 +39,7 +44,7

C. Warna Air (Suspensi Flok)


Hasil pengukuran terhadap warna air akibat suspensi flokulan selama 35 hari
penelitian dapat dilihat pada Lampiran 16. Sedangkan dinamika diameter flok setiap
hari sekali pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 19.
Warna air
(Suspensi Flok)

oranye3
C/N ratio 0

coklat2

C/N ratio 12
C/N ratio 24

pucat

bening 0

10

15

20

25

30

35

40 Hari

Gambar 19. Dinamika warna air (suspensi flok) setiap hari sekali pada setiap
perlakuan dan setiap ulangan

46
Selama penelitian warna air berada pada sekitar antara warna coklat dan
oranye, maka warna air selama penelitian tergolong baik . Yang menyebabkan
warna pucat, coklat dan oranye hanyalah kepadatan flok dalam suspensi.
Dijelaskan oleh Sutanto (2001) bahwa sistem heterotrof yang sudah terbentuk
ditandai dengan terbentuknya flok -flok bakteri yang tampak seperti kabut melayang layang dalam kolom air. Flok bakteri dapat terbentuk dalam tiga warna, yaitu warna
kecoklatan, kehijauan dan warna kehitam-hitaman. Dari ketiga warna flok bakteri
tersebut, warna kecoklatan dan kehijauan memberikan pengaruh yang baik untuk
nafsu makan bagi udang sehingga akan berpengaruh pada pertumbuhan udang.
Selain baik untuk menambah nafsu makan, dijelaskan lebih lanjut bahwa air dengan
flok bakteri berwarna kecoklatan atau kehijauan, sangat stabil dalam waktu yang
relatf lama dengan pH relatif kecil dan stabil. Kondisi air yang demikian
menyebabkan udang tidak mudah stres, sehingga pertumbuhan akan lebih baik dan
lebih tahan terhadap penyakit.
4.1.6 Kualitas Air
A. Amoniak
Hasil pengukuran terhadap amoniak selama 35 hari penelitian dapat dilihat
pada Lampiran 17. Sedangkan dinamika amoniak setiap minggunya sekali pada
setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Dinamika amoniak setiap minggu sekali pada setiap perlakuan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 17, didapatkan hasil analisa
statistik amoniak seperti tertera pada Tabel 16 sebagai berikut.

47
Tabel 16. Analisa statistik amoniak
Perlakuan

C/N ratio 0

Ulangan

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Min

0,2

0,3

0,4

0,1

0,1

0,2

0,0

0,0

0,0

Max

1,7

2,1

1,5

1,2

1,5

1,3

1,1

1,4

1,3

Modus

0,2+0,04

Rata-rata
St.Deviasi

1,2
+0,61

- 0,4+0,02 0,1+0,02 0,5+0,04


0,4
+0,75

1,0
+0,47

0,5
+0,42

0,5
+0,52

- 0,1+0,03 0+0,04 0,1+0,05


0,6
+0,38

0,4
+0,47

0,5
+0,62

0,3
+0,51

Karena amoniak merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap


pertumbuhan maka dilakukan uji sidik ragam dan uji BNT (Lampiran 18) pada
masing-masing perlakuan setiap minggunya untuk mengetahui perlakuan mana
yang terbaik dengan notasi pada Tabel 17.
Tabel 17. Analisa sidik ragam dan uji BNT (notasi) pada amoniak
Perlakuan
24
12
0

0
1,27
1,30
1,46

a
a
a

1
0,81
0,59
0,93

a
a
a

MINGGU
2
3
a
0,20
0,06
b
0,64
0,36
c
1,76
1,28

a
a
b

4
0,05
0,28
0,30

a
a
a

5
0,03
0,15
0,35

ratarata
a
b
c

0,40
0,55
1,01

a
a
b

Dari Tabel 17 dapat diketahui bahwa pada awal minggu amoniak sama
buruknya dengan notasi yang sama dan dengan nilai lebih dari 1 ppm. Pada minggu
pertama amoniak turun tapi masih tidak ada perbedaan antara perlakuan. Pada
minggu kedua mulai terdapat perbedaan nilai dengan kuali fikasi amoniak C/N ratio
24 terbaik yaitu 0,2 ppm, C/N ratio 12 yaitu 0,64 ppm sedangkan amoniak C/N ratio
0 masi berada dalam kisaran amoniak yang tinggi yaitu 1,76 ppm. Pada minggu
ketiga amoniak C/N ratio 12 dan 24 memiliki notasi yang sama sedangkan C/ N ratio
0 memiliki nilai amoniak yang tinggi yaitu 1,28 ppm. Pada minggu ke empat tidak
ada amoniak yang tinggi, semua perlakuan memiliki notasi yang sama karena tidak
berbeda nyata. Terjadi penurunan yang drastis antara amoniak C/N ratio 0 pada
minggu ke tiga ke minggu empat. Rendahnya nilai amoniak bukan diakibatkan
adanya peranan bakteri heterotrof melainkan ikan sudah sedikit/banyak yang mati
dan sakit sehingga konsumsi pakan sedikit dan eksresi amoniak berkurang. Pada
minggu kelima nilai amoniak terbaik pada C/N ratio 24 kemudian 12 dan 0.

48
Dalam sistem budidaya intensif, ammonia-nitrogen dibangun dari sisa
metabolisme pakan dan biasanya merupakan faktor pembatas untuk mening katkan
produksi budidaya setelah oksigen terlarut (Ebeling et al., 2002). Perairan yang baik
untuk budidaya ikan adalah yang mengandung amonia kurang dari 0 ,1 ppm, Ikan
mulai terganggu pertumbuhannya dalam air yang mengandung amoniak 1 ,2 ppm,
sedangkan konsentrasi diatas 2 ppm dapat sangat mematikan bagi ikan (Kordi dan
Ghufran, 2005).
Bila dilihat dari rata-rata nilai amoniak yang terendah yaitu pada C/N ratio 24
kemudian C/N ratio 12 dan 0. Hal ini terjadi karena bakteri heterotrof
memanfaaatkan amoniak-nitrogen untuk proses metabolisme . Pada aplikasi C/N
ratio 24, karbon berada dalam kadar yang tinggi sehingga bakteri akan selalu
menfaatkan N yang ada di air termasuk N-amoniak. Sedangkan pada C/N ratio 12
karbon berada pada jumlah yang tidak tinggi/cukup,sehingga kadang kekurangan
karbon untuk memanfaatkan N-amoniak. Pada C/N ratio 0 sangat kekurangan
karbon sehingga membuat N-amoniak terakumulasi sedikit demi sedikit sehingga
bisa membuat selisih yang cukup nampak pada akhir peneli tian.
B. Alkalinitas
Hasil pengukuran terhadap alkalinitas selama 35 hari penelitian dapat dilihat
pada Lampiran 19. Sedangkan dinamika alkalinitas setiap minggunya sekali pada
setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 21.
(ppm)

800
700

Alkalinitas

600

- : C/N ratio 0
- : C/N ratio 12
- : C/N ratio 24

500
400

- : Batas

300
200

minimum
Alkalinitas
pada BFT

100
0
0

Minggu

Gambar 21. Dinamika alkalinitas setiap minggu sekali pada setiap perlakuan

49
Setelah dilakukan perhitungan pada Lampiran 19, didapatkan hasil analisa
statistik alkalinitas seperti pada Tabel 18.
Tabel 18. Analisa statistik alkalinitas
Perlakuan

C/N ratio 0

Ulangan

C/N ratio 12
3

C/N ratio 24
3

Min

135

120

130

120

140

115

130

110*

135

Max

685**

675

660

680

680

650

670

680

670

Modus

Rata-rata

327,50

465,83

355,00

360,00

353,33

329,17

465,83

348,33

353,33

St.Deviasi

+192,59

+199,79

+185,77

+197,38

+198,49

+189,80

+240,05

+200,37

+199,19

Keterangan: *:nilai terendah,**:nilai tertinggi

Selama penelitian dapat terlihat bahwa alkalinitas minimal yaitu 110 ppm dan
tertinggi yaitu 685 ppm. Hal ini termasuk baik karena menurut Ebeling et al.(2006)
untuk menerapkan sistem heterotrof perlu menjaga alkalinitas minimal 100 ppm
dengan penambahan karbonat, karena dengan mengkonsumsi 1 g karbohidrat/3 ,57
g N-amoniak akan menghasilkan 9,65 g CO2/1 g N-amoniak. Dengan nilai alkalinitas
di atas 100 ppm maka akan menjaga CO 2 tetap rendah dan tidak mempengaruhi pH
sehingga nilainya tidak fluktuatif.
C. TSS (Total Suspended Solid)
Hasil pengukuran terhadap TSS selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada
Lampiran 20. Sedangkan dinamika TSS setiap minggunya sekali pada setiap
perlakuan dapat dilihat pada Gambar 22 sebagai berikut.
mg/L

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

- : C/N ratio 0
- : C/N ratio 12
- : C/N ratio 24

- : nilai TSS
max
BFT

pada

5 Minggu

Gambar 22. Dinamika TSS setiap minggu sekali pada setiap perlakuan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 20, didapatkan hasil analisa
statistik TSS seperti tertera pada Tabel 19.

50
Tabel 19. Analisa statistik TSS (mg/L)
Perlakuan
Ulangan
Min
Max
Modus
Rata-rata
St.Deviasi

C/N ratio 0
C/N ratio 12
C/N ratio 24
1
2
3
1
2
3
1
2
3
2
6
4
5
2
4
3
3
3
22
23
15
156
170
180
178
148
160
12,0
93,3
10,3
111,7
120,5
121,2
93,3
90,7
104,2
+6,79 +6,20 +4,50 +54,82 +62,15 +62,87 +60,25 +57,86 +59,71

Banyak aspek penting yang perlu dijaga dalam sistem heterotrof. Yang
terpenting adalah sejumlah besar biomassa bakteri yang dihasilkan pada reaksi ini
dibandingkan dengan reaksi autotrof. Perlu sebuah manajemen untuk mengurangi
kadar TSS. Salah satu caranya dengan memasang pemisah pada sistem produksi
untuk mengontrol TSS (Ebeling et al., 2006).
Menurut Serfling (2000), TSS harus dijaga berkisar antara 70 -130 mg/L. Bila
nilai TSS lebih dari 130 mg/L maka akan menghasilkan amonia, maka perlu di
lakukan pengendapan terhadap suspensi. Sedangkan menurut Alabaster dan Lioyd
(1982) dalam Effendi (2003) nilai TSS kurang dari 25 mg/L tidak berpengaaruh,
antara 25-80 mg/L sedikit berpengaruh,

antara 81 -400 mg/L kurang baik bagi

kepentingan perikanan sedangkan lebih dari 400 tidak baik bagi kepentingan
perikanan.
D. Karbondioksida (CO2)
Hasil pengukuran terhadap CO2 selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada
Lampiran 21. Sedangkan dinamika CO2 setiap minggunya sekali pada setiap
perlakuan dapat dilihat pada Gambar 23 sebagai berikut.
ppm

12
10
CO2

- : C/N ratio 0
- : C/N ratio 12
- : C/N ratio 24

8
6
4
2
0
0

5 Minggu

Gambar 23. Dinamika CO2 yang diukur setiap minggu sekali pada setiap perlakuan

51
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 21, didapatkan hasil analisa
statistik CO2 seperti tertera pada Tabel 20.
Tabel 20. Analisa statistik CO2 (ppm)
Perlakuan

C/N ratio 0

Ulangan

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Min

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Max

11,16*

10,44

11,88

9,36

7,56

8,64

8,64

8,28

7,92

3+0,24
4,50

4,74

4+0,32
4,25

4+0,4
3,54

1+0,28
3,06

4+0,32
4,50

3,66

3+0,24
3,36

St.Deviasi +3,78 +3,50


Keterangan: *:nilai tertinggi

+4,16

+3,37

+2,50

+3,24

+3,44

+2,78

+2,67

Modus
Rata-rata

4,61

CO2 mutlak diproduksi oleh organisme heterotrof ik. Persamaan berikut ini
memprediksi menunjukan jumlah CO 2 yang dihasilkan setiap mengkonversi Namoniak mennjadi biomassa mikroba.
NH4+ + 1,18 C6H12O6 + HCO3 + 2,06 O 2 C5H7O2N + 6,06 H2O + 3, 07 CO2
Sehingga setiap 8,07 g biomassa mikroba mengasilkan 9,65 g CO 2. Dengan catatan
bahwa oksigen terlarut dibutuhkan dalam jumlah yang banyak karena CO 2 yang
dihasilkan 75% lebih banyak dibandingkan dengan reaksi ni trifikasi. Hal ini
dikarenakan proses heterotrof lebih cepa t 40 kali dibandingkan dengan autotrof
(Ebeling et al., 2006). Sehingga wajar bila terdapat kenaikan level CO 2 pada tren
dinamika mingguan pada Gambar 23. Hal ini juga disebabkan oleh menurunnya
nilai alkalinitas dimana merupakan fungsi pengikat CO 2.
Nilai tertinggi dari CO2 yaitu sebesar 11,16 ppm dimana masih dalam
batasan yang normal. Menurut Hargreaves dan Brunson (1996), CO2 tidak boleh
melebihi dari 20 ppm.
E. Kecerahan
Hasil pengukuran terhadap kecerahan selama 35 hari penelitian) dapat dilihat
pada Lampiran 22. Sedangkan dinamika kecerahan setiap minggunya sekali pada
setiap perlakuan C/N ratio 0,12 dan 24 dapat dilihat pada Gambar 24.

52

Kecerahan

cm
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

- : C/N ratio 0
- : C/N ratio 12
- : C/N ratio 24

Minggu

Gambar 24. Dinamika kecerahan setiap minggu sekali pada setiap perlakuan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 22, didapatkan hasil analisa
statistik kecerahan seperti tertera pada Tabel 21.
Tabel 21. Analisa statistik Kecerahan (cm)
Perlakuan
Ulangan

C/N ratio 0

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Min

72

78

75

27

27

25

22

21

24

Max

90

90

90

90

90

90

90

90

90

Modus

90

90

90

46

34

22

21

Rata-rata

84,5**

41,2

84,2

47,7

41,5

St.Deviasi +8,55 +6,06 +7,11 +22,15 +24,45


Keterangan: *:nilai terendah, **: nilai tertinggi

43,7

41,2

38,3*

44,0

+24,24

+26,17

+27,66

+24,44

Menurut Tejnarine dan Kamila (2005), kolam dalam memiliki kondisi yang
baik untuk ikan bila memiliki nilai kecerahan 30 -45 cm. Bila melihat kepada rata-rata
kecerahan pada C/N ratio 12 dan 24 ada lah yang terbaik karena kecerahannya 38 47,7 cm. Sedangkan modus kecerahan pada C/N ratio 0 kurang baik karena berada
pada nilai kecerahan 84 cm. Hal ini menunjukan bahwa suspensi flok sangat rendah
pada C/N ratio 0, sedangkan pada C/N ratio 12 dan 24 nila i kecerahannya
menunjukan bahwa suspensi flok sangatlah tinggi sehingga mengurangi penetrasi
cahaya yang masuk ke dasar air.
F. Oksigen Terlarut (DO)
Hasil pengukuran terhadap DO selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada
Lampiran 23. Sedangkan dinamika DO setiap hari sekali pada setiap perlakuan
dapat dilihat pada Gambar 25.

53

DO

ppm
10.00
9.00
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

C/N ratio 0
C/N ratio 12
C/N ratio 24

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Hari

Gambar 25. Dinamika DO setiap harinya pada setiap perlakuan


Dengan kisaran DO setiap perlakuan dan setiap ulangan seperti pada Gambar
26 berikut.

Gambar 26. Kisaran DO setiap harinya pada setiap perlakuan dan ulangan
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 23, didapatkan hasil analisa
statistik DO seperti tertera pada Tabel 22.
Tabel 22. Analisa statistik DO (ppm)
Perlakuan
C/N ratio 0
C/N ratio 12
Ulangan
1
2
3
1
2
3
Min
3,56*
4,12
4,82 4,57
3,89
4,00
Max
6,37
6,26
5,96 6,38**
6,09
5,67
5+0,45 5+0,36 5+0,48 6+0,5 5+0,48 5+0,5
Modus
Rata-rata
5,43
5,38
5,46
5,52
4,95
4,77
+0,48
+0,33 +0,56 +0,66 +0,33
St.Deviasi +0,54

C/N ratio 24
1
2
3
3,70
3,84
3,85
5,94
5,70
6,42
6+0,5 5+0,5 6+0,5
5,24
+0,64

4,83
+0,59

5,11
+0,66

Ket:*:minimal,**:maksimal

Oksigen memegang peranan penting dalam kehidupan organisme perairan


termasuk udang. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan faktor pembatas bagi
pemeliharaan ikan karena dibutuhkan untuk pernafasan dan sebagai salah satu

54
komponen utama dalam metabolisme tubuh. Kadar oksigen terlarut dalam air harus
memenuhi persyaratan untuk mendukung pertumbuhan dan kehidupan yang layak
bagi organisme yang dipelihara. Dalam penelitian DO terendah yaitu 3,56 ppm dan
tertinggi 6,38 ppm dengan modus yaitu 5 dan 6 ppm. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Mahasri (1999), bahwa batas minimum jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk pernafasan udang dan ikan tergantung pada ukuran, suhu dan tingkat
aktivitasnya, batas minimumnya yaitu 3 ppm dengan jumlah oksigen optimum 5 10
ppm. DO dengan kisaran ini juga masih baik untuk pertumbuhan bioflok karena
batas DO minimum untuk pembentukan flok adalah 2 ppm.
Bila dilihat dari rata-rata DO tiap perlakuan hanya memiliki selisih yang sedikit.
Seharusnya terdapat selisih antara perlakuan C/N ratio 0, 12 dan 24. adanya
volume flok yang tinggi pada C/N ratio 24 dan 12 seharusnya memberikan selisih
yang cukup nampak karena flok ini merupakan susunan bakteri aerob yang
membutuhkan konsumsi oksigen yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan blower yang
memompakan udara ke dalam media cukup mendifusikan oksigen dengan baik.
G. Derajat Keasaman (pH)
Hasil pengukuran terhadap pH selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada
Lampiran 24. Sedangkan Dinamika pH harian sekali dapat dilihat pada Gambar 27.

Gambar 27. Dinamika pH setiap harinya pada setiap perlakuan


Dengan kisaran pH setiap perlakuan dan setiap ulangan seperti pad a Gambar
28 berikut.

55

Kisaran pH pada budidaya nila superintensive secara close-system dengan aplikasi C/N
Ratio berbeda pada Teknologi Bioflok
8.00
7.80
7.60
7.40
7.20
pH

Min

7.00

Max

6.80

Rata-rata

- pH Netral

6.60
6.40
6.20
6.00
u1

u2

u3

C/N ratio 0

u1

u2

u3

C/N ratio 12

u1

u2

u3

C/N ratio 24

Gambar 28. Kisaran pH setiap harinya pada setiap perlakuan dan ulangan
Dan setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 24, didapatkan hasil
analisa statistik pH seperti tertera pada Tabel 23.
Tabel 23. Analisa statistik pH
Perlakuan
Ulangan
Min
Max
Modus
Rata-rata
St.Deviasi

C/N ratio 0
C/N ratio 12
C/N ratio 24
1
2
3
1
2
3
1
2
3
7,0 6,6* 6,7
6,9
6,8
6,7
6,7
6,7
6,6*
7,6
7,3
7,6
7,6
7,5
7,4 7,7** 7,5 7,7**
7,1
7
6,7
7
7,3
6,7
7,2
7,4
7,1
7,2
7,0
7,0
7,2
7,2
7,0
7,2
7,1
7,1
+0,2 +0,2 +0,3 +0,2 +0,2 +0,2 +0,3 +0,2 +0,3

Ket:*:minimal,**:maksimal

Bila melihat Gambar 27 terjadi tren penurunan nilai pH dari hari ke hari. Hal
ini disebabkan oleh tingginya produksi CO 2 yang menyebabkan menurunnya
alkalinitas. Dengan semakin menurunnya alkalinitas, maka akan berkurang fungsi
buffer pH di media sehingga menyebabkan pH menjadi semakin rendah. Bila
melihat Gambar 28 dapat disimpulkan bahwa pH masih berada dalam kisaran yang
normal antara 6-8, karena nilai ini yang masih dapat ditolerans i oleh nila. Walaupun
tren dinamika harian pH semakin menurun, nilai rata -rata pH setiap perlakuan masih
dalam batas yang wajar yaitu 7, 7,1 dan 7,2 nilai ini baik untuk pertumbuhan nila.
H. Suhu
Setelah dilakukan perhitungan pada L ampiran 25, didapatkan hasil analisa
statistik kecerahan seperti tertera pada Tabel 24.

56
Tabel 24. Analisa statistik Suhu
Perlakuan
Ulangan
Min
Max
Modus
Rata-rata
St.Deviasi

C/N ratio 0
1
2
26,0
26,0
28,0
28,0
27
26
26,7
26,5
+0,7
+0,7

C/N ratio 12
1
2
3
26,0
26,0
26,0
28,0
28,0
28,0
27
26
26
26,9
26,5
26,5
+0,6
+0,7
+0,7

3
26,0
28,0
26
26,5
+0,7

C/N ratio 24
1
2
3
26,0
26,0
26,0
28,0
28,0
28,0
27
26
26
26,9
26,5
26,5
+0,6
+0,7
+0,7

Hasil pengukuran terhadap suhu selama 35 hari penelitian dapat dilihat pada
Lampiran 25. Sedangkan kisaran suhu pada setiap perlakuan dapat dilihat pada
Kisaran
Suhuberikut.
pada budidaya nila superintensive secara close-system dengan
Gambar 29
sebagai
aplikasi C/N Ratio berbeda pada Teknologi Bioflok
oC

Suhu

28.50
28.00
27.50
27.00
Min
26.50

Max

26.00

Rata-rata

25.50
25.00
u1

u2

u3

C/N ratio 0

u1

u2

u3

C/N ratio 12

u1

u2

u3

C/N ratio 24

Gambar 29. Kisaran suhu pada setiap perlakuan dan setiap ulangan
Miller (1979) menyatakan bahwa suhu secara langsung berpengaruh terhadap
metabolisme ikan. Pada suhu tinggi metabolisme ikan dipacu, sedangkan pada
suhu rendah metabolisme diperlambat, sedangkan secara tidak langsung suhu air
yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap, akibatnya ikan akan
kekurangan oksigen. Menurut Boyd (1982) , suhu sangat berpengaruh terhadap
proses kimiawi dan biologi, dimana setiap kenaikan suhu sebesar 10 C maka ikan
akan menggunakan oksigen terlarut sebanyak dua kali lebih banyak. Menurut
Effendie (1997), peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kece patan
metabolisme dan respirasi
peningkatan konsumsi oksigen.

organisme air dan

selanjutnya mengakibatkan

57
Hal ini berhubungan bila dilihat dari nilai minimal suhu adalah 26
maksimal adalah 28

C dan nilai

C, dapat menyebabkan pertumbuhan nila menjadi la mbat.

Suhu optimal untuk nila adalah 28


adalah 26 dan 27

C, sedangkan selama penelitian modus suhu

C dengan rata-rata 26

C. Suhu yang tidak cukup optimal ini

disebabkan penelitian dilakukan pada saat musim hujan sehingga suhu statis pada
kisaran 26-28 o C.

58
5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisa hasil dan

melakukan pembahasan penelitian dapat

diambil kesimpulan bahwa:

Aplikasi teknologi bioflok dengan C/N ratio 12 pada Nila ( Oreochomis niloticus)
strain Gift G6 pada closed system secara superintensif menghasilkan laju
pertumbuhan (4,48 % berat tubuh/hari), Rasio konversi pakan (0,65) dan
kualitas air terbaik. Sedangkan pada C/N ratio 24 diperoleh kelulushidupan
(88,33 %) dan faktor kondisi (2,23) tertinggi

5.2. Saran
Berdasarkan analisa hasil penelitian dan pengalaman serta masalah-masalah
yang ditemui dilapang saat pelaksanaan penelitian disarankan bahwa:

Perlu diteliti tentang pengaruh C/N ratio terhadap perkembangan jumlah bak teri
filamen terhadap pembentukan flok

Perlu diteliti perbandingan jumlah bakteri hetrotrof sebagai pembentuk flok dan
bakeri filamen sebagai rangka flok agar menghasilkan flok yang kokoh dan
berukuran besar

Perlu diteliti apakah bisa melakukan peracikan komposisi mikroorganisme


dalam flok sehingga bisa dimainkan nilai proksimatnya, misalkan dibandingkan
pengaruh pertumbuhan terhadap flok dengan komposisi utama bakteri dan
komposisi variasi alga, kapang, jamur, arthopoda, cacing dll

Perlu diteliti pengaruh kuantitas flokulant terhadap daya penekanan bakteri


patogen

Perlu diteliti pengaruh padat penebaran ikan nila pada teknologi bioflok.

Untuk Para aplikator budidaya, bila ingin memperoleh SGR yang baik dengan
FCR yang rendah pada budidaya nila dalam closed-system dapat diterapkan

59
teknologi bioflok secara superintensif dengan pemberian tapioka dengan C/N
ratio 17,45+0,05

60
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1999. Petunjuk Teknis Budidaya Nila GIFT. Balai Penelitian


Perikanan Air Tawar, Puslitbang Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.
6 Hal.
----------------. 2008. Teknik Budidaya ikan Nila. Majalah Trobos. Jakarta.
----------------. 2009 a. Strain Nila GIFT. www.tilapiathai.com/Tilapnet-a.jpg
----------------. 2009b Gift from Africa Philippines. http://www.handsontv.info.
diakses tanggal 09 Agustus 2009.
----------------.
2009 c.
The
Carbon/Nitrogen
gardening.com. diakses tanggal 12 Juli 2009.

Ratio.

http://www.organic-

----------------. 2009 d. Konsep Budidaya Udang Sistem Bakteri Heterotroph


Dengan BioFlocs. AIYU SHIROTA BIOTA INDONESIA: Biotechnology
Consulting
&
Trading
Komp.
Bandung.Indonesia.
http://www.
aiyushirota.com. diakses tanggal 09 Juli 2009.
Abbas S.D. 2002. Budidaya Nila GIFT secara Intensif. Kanisius. Yogjakarta.
Agustiyani, D., Hartati I, Erni N.F dan Oedjijono. 2004. Pengaruh pH dan Substrat
Organik Terhadap Pertumbuhan dan Aktivitas Bakteri Pengoksidasi
Amonia. Biodiversitas ISSN: 1412-033X.Volume 5, Nomor 2 Juli 2005.Hal
43-47.
Ariyanto, D. 2003. Analisis Keragaman Genetik Tiga Strain Ikan Nila Dan Satu
Strain Ikan Mujair Berdasarkan Karakter Morfologinya. Zuriat, Vol. 14,
No. 1, 46 Januari-Juni 2003.
Asaduzzaman. M, M.A. Wahab, M.C.J. Verdegem, S. Huque, M.A. Salam dan M.E.
Azim. 2008. C/N ratio control and substrate addition for periphyton
development jointly enhance freshwater prawn Macrobrachium
rosenbergii production in ponds. Elsevier B.V Aquaculture Volume 280,
Issues 1-4, 1 August 2008,117-123 p.
Asro. 2008. Pengukuran TOC (1-Prinsip Kerja). Wordpress, category laboratoryinstrument. http://go2.wordpress.com. diakses tanggal 09 Juli 2009.
Avnimelech, Y. 1999. Carbon:Nitrogen ratio as a control element in aquaculture
systems. Aquaculture 176_1999. Faculty of Agricultural Engineering,
Technion, Israel Institute of Technology. Israel. 227235 p.
--------------------. 2000. Nitrogen control and protein recycling: activated
suspension ponds. Advocate, (April). 23 24 p
--------------------. 2006. Bio-filters: The need for a new comprehensive approach.
Aquacultural Engineering 34.172178 p.

61
Azim, M.E dan D.C, Little. 2008. The Biofloc Technology (BFT) in Indoor Tanks:
Water Quality, Biofloc Composition and Growth and Welfare of Nile
Tilapia (Oreochromis niloticus). Institute of Aquaculture, University of
Stirling. Stirling, United Kingdom.
Bitton, G. 2005. Wastewater microbiology/Gabriel Bitton edisi ketiga. John
Wiley & Sons, Inc. Hoboken, New Jersey, USA.
Boyd C.E. 1982. Water Quality Management In Pond Fish Culture. Fishery
Education and Training Institute. Alabama. 318 p.
Boyd, C. E. and J.W. Clay. 2002. Evaluation of Belize Aquaculture, Ltd: A
Superintensive Shrimp Aquaculture System. Report prepared under
the World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp
Farming and the Environment. Work in Progress for Public Discussion.
Published by the Consortium. 17 p.
Bruno Gomez-Gil, Ana Roque and J.F. Turnbull. 2000. The Use and Selection of
Probiotic Bacteria for Use in The Culture of Larval Aquatic Organisms.
Elsevier Publisher. Aquaculture 191_2000. 259270 p.
Buchanan, R.E dan N.E Gibbons. 1974. Bergeys Manual of Determinative
Bacteriology: Eight Edition. The Williams and wilkins Company.
Baltimore.1268 p.
Chamberlain G., Avnimelech Y., McIntosh R.P dan M, Velasco. 2001. Advantages
of Aerated Microbial Reuse Systems with Balanced C:N: 1. Nutrient
Tranformation and Water Quality Benefits. The Advocate. The Global
Aquaculture Alliance, February. 53-56 p.
Dayat B dan A. Wahid. 2009. Teknik Pembenihan Nila Gift Secara Massal Dan
Pembesaran Di Tambak. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar-Sukabumi.
http://bbat-sukabumi.tripod.com/t_benih_gift.htm. diakses 7 Juni 2009.
Doelle, H.W. 1975. Bacterial Metabolism: Second Edition. A Subsidiary of
Harcourt Brace Jovanovich Publishers.Academic Press .New York, San
Francisco, London. 223 p.
Ebeling J.M., Timmons M.B and J.J, Bisogni. 2002. Engineering Review
Photoautotrophic, Autotrophic, Heterotrophic Bacterial Control of
Ammonia in Zero Exchange Production Systems. The Conservation
Freshwater Institute. USA. 26 p.
Ebeling, J.M., Michael B. Timmons and J.J. Bisogni. 2006. Engineering Analysis
of The Stoichiometry of Photoautotrophic, Autotrophic, and
Heterotrophic Removal of AmmoniaNitrogen in Aquaculture Systems.
Aquaculture 257_2006. 346358 p.

62
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 Hal.
Effendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

62
Eknath, A.E., Tayamen, M.M., Palad a-de Vera, M.S., Danting, J.C., Reyes, R.A.,
Dionisio, E.E., Capili, J.B., Bolivar, H.L., Abella, T. A., Circa, A.V., Bensten,
H.B., Gjerde, B., Gjedrem, T. and R. S. V Pullin. 1993. Genetic
Improvement of Farmed Tilapias: The Growth Performance of Eight
Strains of Oreochromis Niloticus Tested in Different Farm
Environments. Aquaculture 111: 171-188 p.
El-Sayed, A.M. Teshima, S. 1992. Protein energy requirements of Nile tilapia,
Oreochromis niloticus, fry. Published by Elsevier Science B.V,
Aquaculture. 55-63 p.
El Sayed, Abdel Fattah M. 2006. Tilapia Culture. CABI Publishing. Cambridge,
USA.
EPI. 2008. Global Assessment of Closed System Aquaculture. EPI (Eco-Plan
International May 2008.The David Suzuki Foundation & The George Strait
Alliance on Behalf of the Coastal Alliance for Aquaculture Reform. 78 p.
FAO. 2003. Tilapias as Alien Aquatic in Asia The Pasific: a Review. Fisheries
and Departement. FAO Corporate Document Repository .
FAO. 2009. Food Composition Tables for International Use: Factors Used in
Converting Nitrogen to Protein and in Computing Calories. Agriculture
and Consumer Protection. FAO Corporate Document Repository
Fortes, R. D. 2005. Review of Techniques and Practices in Controlling Tilapia
Populations and Identification of Methods That May Have Practical
Applications in Nauru. Including a national tilapia plan/prepared by Romeo
D. Fortes. Secretariat of the Pacific Community.
Gatesoupe, F.J. 1999. The Use of Probiotics in Aquaculture. Elsevier Publisher.
Aquaculture 180_1999.147-165 p.
Hargreaves J dan B. Martin. 1996. Carbon Dioxide in Fish Ponds. SRAC
Publication No. 468. April 1996.
Hari B, Madhusoodana, K.B, Johny T. V, J.W. Schramab dan M.C.J Verdegem.
2004. Effects of Carbohydrate Addition on Production in Extensive
Shrimp Culture Systems. Aquaculture 241 (2004). 179194 p.
Hesti W dan T.A Barus. 2006. Ikhtiologi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sumater Utara. Sumater Utara.
Hussain, A.H.M. Kohinoor, M.S. Islam, S.C. Mahata, M.Z. Ali, M.B. Tanu, M.A .
Hossain and M.A. Mazid. 2000. Genetic Evaluation of GIFT and Existing
63
Strains of Nile Tilapia, Oreochromis niloticus L., Under On-Station and
On-FarmConditions in Bangladesh. Asian Fisheries Science. Manila,
Philippines.117-126 p.
IDF. 2006. Comprehensive Review of Scientific Literature Pertaining to
Nitrogen Protein Conversion Factors.Buletinof International Dairy
Federation (IDF).Belgia. http://www.fil-idf.org. diakses tanggal 09 Juli 2009.

63
Ignasius D.A. Sutapa. 2000. Teori Bioflokulasi Sebagai Dasar Pengelolaan
Sistem Lumpur Aktif. Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan dan
Lingkungan, Vol. 2, No.1/Feb. Hal 76-83
Imron, O.Z. Arifin, dan Subagyo. 2000. Keragaman Truss Morfometrik pada Ikan
Mas (Cyprinus carpio) Galur Majalaya, Rajadanu Wildan dan Sutisna.
Prosiding Seminar Penelitian Perikanan 1999/2000, Puslitbang Eksplorasi
Laut dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Hal.
188197.
Jobling M, Dominic H dan T Boujard. 2001. Food Intake in Fish. Black well
Publishing Company. Malden, USA. 639 p.
Jonny Raymi. 2007. Pengaruh Pemberian Tepung Tapioka dengan Dosis yang
Berbeda Terhadap kelimpahan Bakteri dan Pertumbuhan Udang
vannamei (Litopanaeus vannmei) PL 24 yang diberi Probiotik. Skripsi
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
Brawijaya. Malang
Kordi dan Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan.
Rineka Cipta. Jakarta.
Kusmiati, Ni Wayan S.Agustini, I. N. K. Kabinawa, Djumhawan R.P, dan M.
Afriastini. 2009. Pemanfaatan Onggok sebagai Substrat bagi
Konsorsium Mikroba Selulolitik untuk Produksi Enzim Selulase. Pusat
Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) .
Cibinong.
Mahasri, G. 1999. Manajemen Kualitas Air. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga. Surabaya. 115 hal.
Marzuki, M., Haryanti dan K. Suwirya. 1988. Pengaruh Jumlah Pergantian Air
Terhadap Tingkat Perkembangan dan Daya Keluluishudupan Larva
Udang Windu (Penaeus monodon Fab.). Jurnal Penelitian Budidaya
Pantai, Terbitan Khusus, Vol. 4. No. 2.. Balid Kandita. Maros. P. Hal 7-13.
Meilany S, L. 2000. Studi Kinetika Degradasi Aerobik Komponen Sampah
Domestik (Skala Laboratorium Dan Lapangan). Tesis Magister Teknik
Lingkungan, Bidang Khusus Teknologi Pengelolaan Lingkungan.
http://digilib.itb.ac.id/index.php. diakses tanggal 09 Juli 2009.
Mettam, J. 2005. An investigation into the use of gill pathologies in rainbow
trout (Oncorhynchus mykiss) as awelfare score reflecting water quality.
Thesis. University of Stirling, UK.

64
Miller, P.J. 1979. Fish Phenology (Anabolic Adaptiveness in Teleosts).
Academic Press. London. 449 p.
Mohammad T. Ridha. 2008. Preliminary Observation on Salinity Tolerance of
Three Sizes of the GIFT and Non-Improved Strains of the Nile Tilapia
Oreochromis Niloticus. European Journal of Scientific Research. ISSN
1450-216X Vol.24 No.3 (2008). 373-377 p.

64
Myers, P., R. Espinosa, C. S. Parr, T. Jones, G. S. Hammond, and T. A. Dewey.
2008. Classification of Oreochromis niloticus (nile tilapia).The Animal
Diversity Web (online). Accessed at http://animaldiversity.org. diakses
tanggal 11 Juli 2009.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian: Cetakan III Ghalia Indonesia. Jakarta. Hal 25 28.
Niels S, Helge R dan N, Michael. 1999. Sustainable Aquaculture: Food for the
Future?. A.A. Balkema Publisher. Netherland. 8 p.
Nyan Taw. 2006. Shrimp Production in ASP Systems, CP Indonesia:
Development of the Technology from R&D to Commercial Production.
PT. Dipasena Citra Darmja (Former VP, PT. Central Pertiwi Bahari).
Lampung
Ogunji J, Rahat-Ul-Ain S.T, Carsten S dan W Kloas. 2008. Growth Performance,
Nutrient Utilization of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fed Housefly
Maggot Meal (Magmeal) Diets. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic
Sciences 8: 141-147.Central Fisheries Research Institute (CFRI) Trabzon.
Turkey.
Oyelese, O.A. 2006. Submiison of Article for Publication-Implications of
Cascass Quality nad Conditon factor to the Processing of Some
selected Freshwater Fish Families. Juornal od Fisheries Internastional 1
(2-4), 2006.Medwell Online. 132-135 p.
Parwanayoni, N.M.S. 2008. Pergantian Populasi Bakteri Heterotrof, Algae Dan
Protozoa Di Lagoon BTDC Unit Penanganan Limbah Nusa Dua Bali.
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Udayana. Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8
No. 2, Agustus 2008. Hal 180-185.
Rahmatullah, S.M dan Beveridge, M.C.M., 1993. Ingestion of bacteria in
suspension by Indian major carps (Catla catla, Labeo rohita) and
Chinese carps (Hypophthalmichthys molotrix, Aristichthys nobilis).
Hydrobiologia 264. 7984 p.
Rice, M.A. and A.R. Ganz. 1994. Planning an Aquaculture Business in Rhode
Island: Getting Started. Rhode Island Sea Grant Publication, RIU-H-94003, University of Rhode Island. Narragansett. 39 p.
Ritvo, G., Oded D dan K, Malka. 2003. Salinity and pH Effect on The Colloidal
Properties of Suspended Particles in Super Intensive Aquaculture
Systems. Aquaculture 218 (2003). 379-386 p.
Rosenbery, B. 2006. Meet the Flocker. Shrimp News International.
http://www.shrimpnews.com/MeetFlockers.html. diakses tanggal 11 65Juli
2009.
Sahri, M. 1992. Diktat Kuliah Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan
Rancangan Percobaan. LUW/ UNIBRAW FISH Fesheries Project. Malang.

65
Sanderson S. L., M.C. Stebar, K.L. Ackermann, S.H. Jones, I. E. Batjakas dan L.
Kaufman. 1996. Mucus Entrapment of Particles by a SuspensionFeeding Tilapia (Pisces: Cichlidae). The Journal of Experimental Biology
199, (1996) 1743, The Company of Biologists Limited 1996 JEB0390.
Inggris. 17431756 p.
Santiago, C.B. and Lovell, R.T. 1988. Amino acid requirement for growth of Nile
tilapia. Journal Nutrition: 118. 1540-1546 p.
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian.
Kanisius. Yogyakarta.
Serfling, S.A.. 2000. Closed-Cycle, Controlled Environment Systems: The Solar
Aquafarms Story. Global Aquaculture Advocate. June 2000.
------------------. 2006. Microbial flocs: Natural Treatment Method Supports
Freshwater, Marine Species in Recirculating Systems. Global
Aquaculture Advocate 3436 June 2006.
Sitckney.R.R. 2000. Encyclopedia
Publication. Texas. 638 p.

of aquaculture.

A Wiley

Interscience

Sulistiyowati, L.F. 2007. Tesis Magister di SITH ITB: Fermentasi Monascus


purpureus Went Sebagai Pewarna Nata De Coco Pada Medium Whey
Tahu Dengan Sumber Karbon Yang Berbeda. http://digilib.bi.itb.ac.id/
print.php?id=jbptitbbi-gdl-s2-2007-lelafo nisu-1794. diakses tanggal 09 Juli
2009.
Suprapto. 2007. Pemahaman Bio-floc Tecknologi: Teknik budidaya alternatif.
Shrimp Club Indonesia. Bandar Lampung.
Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah: Konsep dan Kenyataan. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.
Swick, Robert A. 2001. Feed Based Tilapia Culture. Technical Bulletin, American
Soybean Association No.070/10/2001. Singapore.
Tejnarine S. G dan S, Kamila. 2005. Training Course on Tilapia Seed
Production. Mon Repos Freshwater Aquaculture Demonstration Farm and
Training Centre, Agriculture Road, Mon Repos. East Coast Demerara. 62 p.
Tacon, A.G.J., Cody, J.J., Conquest, L.D., Divakaran, S., Forster, I.P., Decamp P,
O.E. 2002. Effect Of Culture System on The Nutritiona and Growth
66
Performance of Pacific whiteshrimp Litopenaeus vannamei (Boone)
Fed Different Diets. Aquaculture Nutrition 8. 121-137 p.
Tajuddin B. 2006. Teknologi Pengolahan Padi Terintegrasi Berwawasan
Lingkungan. Makalah ini disampaikan pada Lokakarya Nasional
Peningkatan Daya Saing Beras Melalui Perbaikan Kualita s Gedung
Pertemuan Oryza Bulog (13 September 2006). Jakarta.
Timmons, M.B., Ebeling, J.M., Wheaton, F.W., Summerfelt, S.T.,Vinci, B.J., 20 02.
Recirculating Aquaculture Systems, 2nd Edition. Cayuga Aqua Ventures.
New York. 769 p.

66
Torres B.B. 2005. Organic Matter Decomposition in Simulated Aquaculture
Ponds. PhD thesis, Fish Culture and Fisheries Group, Wagenigen Institute
of Animak Sciences, Wageningen University. Netherlands.
Usni A. 2000. Pembenihan & Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya.Jakarta
Velasco R.R., M.J.R. Pante, J.M. Macaranas, C.C. Janagap, and A.E. Eknath. 1996.
Truss Morphometric Characterization of Eight Strains of Nile Tilapia (O.
Niloticus). The Third international Symposium on Tilapia in Aquaculture.
ICLARM. 575 p.
Weliange, W.S. and U.S. Amarasinghe, 2007.
Food and Feeding Habits
Summary Oreochromis niloticus niloticus. http://www.fishbase.com
/references/FBRefSummary.php?id=59235 . diakses tanggal 11 Juli 2009.
World Aquaculture Society. 2008. Abstract 420: Present Status of Heterotrophic
Super-Intensive Shrimp Culture in Southern Brazil. Laboratrio de
Maricultura, Universidade Federal do Rio Grande, C.P. 474, Rio Grande
(RS), 96201-900, Brazil.
Yeoh, H.H dan V.D, Truong,.1995. Research Article Protein Contents, Amino
Acid Compositions and Nitrogen-to-Protein Conversion Factors for
Cassava Roots. Journal of the Science of Food and Agriculture.Volume 70
Issue 1, Hal 51 54.Published Online: 26 Mar 1999.Society of Chemical
Industry.http://www3.interscience.wiley .com

67
LAMPIRAN

Lampiran 1. Penghitungan Pemberian Dosis Tepung Tapioka

Perlakuan A tanpa pemberian tepung tapioka (kontrol)

Perlakuan B (C/N ratio 12) dan Perlakuan C (C/N ratio 24)


- Menghitung berat rata-rata nila mingguan hasil sampling (W)
- Berat rata-rata ( W ) dikalikan dengan jumlah ikan
W total = W ikan
- Tentukan jumlah pakan yang diberikan
F=W

total

feeding level*

Ket:
*
F

: feeding levelnya 5%
: jumlah pakan

- Penentuan dosis Tapioka


#. Penentuan C/N ratio 12 berdasarkan Persamaan 5
C/N ratio = Jumlah Carbon
Jumlah Nitrogen

(Anonymous, 2009 b)

C
N
C
12 =
N

[C/N Ratio] =

#. Kandungan C-organik (C) pada karbohidrat (CH) seperti pada


Persamaan 3, yaitu:
Jumlah carbon

= Jumlah bahan x kandungan C (Anonymous, 2009 b)

C = CH TOC

Keterangan:
TOC : Total Organik Carbon (%) dalam desimal/kandungan C pada bahan
C

: Jumlah kandungan C (carbon)

CH : bahan karbohidrat, pada contoh ini yaitu tepung tapioka

#. Regulasi Nitrogen di badan air berasal dari pakan (Persamaan 7), yaitu:
N = feed x %Nfeed x %Nexcretion

(Avnimelech, 1999)

68
#. Untuk mengetahui jumlah tepung yang diberikan dibandingkan dengan
pakan yang diberikan maka dari Persamaan 3 dan 7, yaitu:

C
= 12
N
TOC CH
= 12
feed x %Nfeed x %Nexcretion

(15)

#. Diketahui TOC pada tepung tapioka yaitu 73,53 % dan jumlah N yang
dieksresi (Nexcretion) yaitu diperkirakan 50%, sedangkan jumlah N pada
pakan (Nfeed) yaitu berdasarkan rumus Faktor Konversi Nitrogen dibawah ini:
%CPfeed = %Nfeed kp

(FAO, 2009) (16)

Keterangan:
%CP : Crude Protein (%)/kandungan protein pada pakan, dalam desimal
%N : kandungan N (Nitrogen) dalam pakan
kp
: faktor konfersi, umumnya bernilai 6,25

Menurut Yeoh dan Truong (1995) nilai faktor konversi nitrogen yang
tradisional (6,25) tidak valid untuk perhitungan kandungan nitrogen pada
protein pada singkong, yang benar adalah 3,24. Oleh karena itu IDF (2006)
memiliki range faktor nitrogen konversi dari 4,70 7,08 pada berbagai
macam bahan makanan.
#.

Sehingga

berdasarkan

Persamaan

16,

Persamaan

15

dapat

dikembangkan sebagai berikut:


TOC CH
= 12
%CP
feed x
x %N excretion
kp

(17)

#. Setel ah ditemukan angka-angka maka langsung dimasukan kedalam


Persamaan 17:
0,7353 CH
= 12
0,38
feed x
x 0,5
6,25
CH = 0,4961 x feed

69
#. Pada aplikasi C/N ratio 12 dengan kandungan protein 38%, maka setiap
pemberian pakan sebanyak 1 Kg diberikan tepung tapioka sebanyak 0,4961
Kg atau 49,61%, sedangkan pada aplikasi C/N ratio 24 maka:

0,7353 CH
= 24
0,38
feed x
x 0,5
6,25
CH = 0,9922 x feed
#. Untuk aplikasi C/N ratio 24 dengan kandungan protein 38%, maka setiap
pemberian pakan sebanyak 1 Kg diberikan tepung tapioka seban yak 0,9922
Kg atau 99,22%.

70
Lampiran 2. Pengontrolan Alkalinitas

Setiap bak perlakuan diukur nilai alkalinitasnya dengan metode standart titrasi

Buat rata-rata nilai alkalinitas

Setelah diketahui nilai alkalinitas disetiap bak perlakuan, yaitu:


#. Kemudian dibuat larutan kapur yang konsentrasinya lebih tinggi dari pada
nilai alkalinitas rata-rata

pada bak perlakuan. Yaitu dengan melarutkan

beberapa kapur tohor kedalam aquades lalu diendapkan.


#. Diambil larutan beningnya sedangkan endapannya dibiarkan
#. Diukur kembali nilai alkalinitas pada larutan kapur bening

Gunakan rumus bujur sangkar dibawah ini untuk mengetahui larutan kapur
bening yang ditambahkan
A

=IBCI

IBCI/

IACI/

C
B

=IACI

: Alkalinitas pada kolam

: Alkainitas yang dibuat/akan ditambahkan

: Alkalinitas yang diinginkan

: Total volume air dalam kolam

Bila larutan yang ditambahkan kurang dapat mengulangi lagi cara diatas (Poin
ke-3)

71
Lampiran 3. Prosedur Pengukuran TSS (Total Suspended Solid) dan
Karbondioksida (CO2)
# TSS
Prosedur:
1. Total padatan terlarut (TSS) ditentukan dengan cara melewatkan 10 ml
sampel melalui membran filter
2. Kemudian ditentukan berat padatan yang terdapat pada filtrat secara
grafimetri. Berat padatan pada filtrat (mg) dibagi dengan volume sampel
yang melewati filter (L) menghasilkan konsentrasi total padatan terlarut.

# CO2
Prosedur:
1. Masukkan 25 mL air contoh ke dalam Erlenmyer, kemudian tambahkan 1 -2
tetes indikator PP.
2. a. Bila air berwarna pink berarti air tersebut tidak mengandung CO 2 bebas.
b. Bila air tetap tidak berwarna cepat titrasi dengan Na 2CO3 0,0454 N sampai
warna menjadi merah (pink) pertama kali stabil selama 30 detik.
3. Perhitungan
mL titran x N titran x 44/22 x 1000
CO2 bebas (mg/l) =
mL air contoh

72
Lampiran 4. Pengukuran kualitas dan kuantitas Flok

1. Volume Flok (ml/L)

Sampel diambil dengan ketentuan pengambilan antara pukul 10.00 -12.00


WIB dan diambil pada badan air yaitu sekitar kedalaman 15 cm dibawah
permukaan air.

Sampel dimasukan kedalam Beaker glass 1 L

Biarkan flok mengendap sekitar 15-20 menit

Sisa air dibuang, kemudian endapan dimasukan kedalam gelas ukur 25 ml,
biarkan 15-20 menit

Volume flok dapat diketahui dengan membedakan 2 lapisan, yaitu air dan
endapan flok

2. Ukuran Flok (m)

Ambil air sampel

Taruh 1 tetes sampel pada objek glass

Amati sampel flok dibawah mikroskop


#. Pilih beberapa flok dari endapan flok (5 flok)

#. Ukurlah diameter flok yang sekiranya ukurannya paling besar


#. Catat diameter flok

73
Lampiran 5. Data Berat Total dan Rata-rata Biomassa

Minggu

keterangan
perlakuan
ulangan
berat
biomassa
rata-rata
berat
biomassa
rata-rata
berat
biomassa
rata-rata
berat
biomassa
rata-rata
berat
biomassa
rata-rata
berat
biomassa
rata-rata

u1

Sampling biomassa 10% (gram)


C/N ratio 0
C/N ratio 12
C/N ratio 24
u2
u3
u1
u2
u3
u1
u2
u3

106,03 105,16 105,79 105,15 104,80 105,27 107,07 105,87 106,06


2,12
2,10
2,12
2,10
2,10
2,11
2,14
2,12
2,12
119,65 121,95 116,28 124,95 121,70 120,95 120,70 123,65 121,40
2,39
2,44
2,33
2,50
2,43
2,42
2,41
2,47
2,43
121,95 124,60 120,00 200,00 138,89 161,29 135,14 151,52 192,31
2,44
2,49
2,40
4,00
2,78
3,23
2,70
3,03
3,85
130,00 133,50 125,65 265,23 218,00 284,00 248,50 263,00 260,50
2,60
2,67
2,51
5,30
4,36
5,68
4,97
5,26
5,21
138,00 135,50 144,00 371,50 406,50 409,50 396,54 344,50 382,00
2,76
2,71
2,88
7,43
8,13
8,19
7,93
6,89
7,64
140,39 142,84 167,15 496,97 504,24 514,40 486,99 441,69 498,54
2,81
2,86
3,34
9,94
10,08
10,29
9,74
8,83
9,97

74
Lampiran 6. Perhitungan Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)
Perlakuan
C/N ratio 0

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Ulangan
u1
u2
u3
u1
u2
u3
u1
u2
u3

W0
(gram)
2,12
2,10
2,12
2,10
2,10
2,11
2,14
2,12
2,12

Wt
(gram)
2,81
2,86
3,34
9,94
10,08
10,29
9,74
8,83
9,97

ln Wt
1,033184
1,050822
1,205971
2,296567
2,310553
2,331173
2,276241
2,178155
2,299581

Keterangan:
W0: berat awal; Wt: berat akhir; t: waktu penelitian (35 hari)

ln Wo
0,751416
0,741937
0,751416
0,741937
0,741937
0,746688
0,760806
0,751416
0,751416

SGR
(% BB perhari)
0,805053
0,882527
1,298728
4,441799
4,481760
4,527099
4,329815
4,076397
4,423327

75
Lampiran 7. Perhitungan Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)
A. Analisis Data Hasil Penelitian
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
0,81
4,44
4,33

Ulangan
II
0,88
4,48
4,08

III
1,30
4,53
4,42

Ratarata

Total

Total

2,99
13,45
12,83
29,27

1,00
4,48
4,28

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK) :
95,19254
# JK Total
:
23,16456
# JK Perlakuan
:
22,95796
# JK Acak
:
0,2066
B.Analisa Sidik Ragam
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
JK
KT
F-hitung
2 22,95796 11,47898 333,37**
6
0,2066
0,034433
8 23,16456

F 5%
5,14

F1%
10,92

** :Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,151511
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED = 0,370747
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED = 0,561651
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
1,00
C/N 0 = 1,00
C/N 24 = 4,28
3,28 **
C/N 12 = 4,48
3,49 **
D. Uji Polynomial Orthogonal
Perlakuan
Hasil
Pembanding
C/N ratio
(Ti)
Linier
Kuadratik
0
2,99
-2,99
2,99
12
13,45
0
-26,9
24
12,83
12,83
12,83
Q =CiTi
9,84
-11,08
Kr =(Ci2)r
6
18
Jk regresi = Q2/Kr
16,1376
6,820356
Total JK regresi
22,95796

4,28

0,21 ns

4,48

Notasi
a
b
b

76
Sumber Keragaman
1. Perlakuan
#. Linier
#. Kuadratik
2. Acak
Total

db
2
1
1
6
8

JK
KT
22,95796
16,1376
16,1376
6,820356 6,820356
0,2066
0,034433
23,16456
-

F hitung
468,6621
198,0742
-

**

F 5%
5,99

F 1%
13,75

**

Keterangan: Regresi Linier dan kuadratik sangat berbeda nyata sehingga perlu uji R2

E.Uji Regresi
1. Regresi linier
y = 0,136x + 1,612
R = 0,702
2. Regresi kuadratik
y = -0,012x2 + 0,444x + 0,996
R = 1

Karena R kuadratik> R linier maka persamaan regresi yang dipakai adalah


kudaratik

F.Titik Puncak
Persamaan, y = -0,012x2 + 0,444x + 0,996
Mencari titik puncak, y=0, sehingga ketemu titik p uncak x:18,5 dan y: 5,10.

77
Lampiran 8. Perhitungan Survival Rate (SR)
Perlakuan
C/N ratio 0

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Ulangan
u1
u2
u3
u1
u2
u3
u1
u2
u3

Keterangan:
N0: jumlah awal; Nt: jumlah akhir

N0
500
500
500
500
500
500
500
500
500

Nt
329
190
228
424
360
414
454
448
423

SR (%)
65,80
38,00
45,60
84,80
72,00
82,80
90,80
89,60
84,60

78
Lampiran 9. Perhitungan Sidik Ragam Survival Rate (SR)
A. Analisis Data Hasil Penelitian
Perlakuan
Ulangan
C/N ratio
I
II
III
0
65,8
38
45,6
12
84,8
72
82,8
24
90,8
89,6
84,6
Menurut Gaspersz (1994), sebaran yang tidak normal atau pada kisaran
antara 0-30 dan 70-100 harus ditransformasikan terlebih dahulu kedalam bentuk Arc
Sin, sehingga nilainya seperti pada tabel berikut:
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
0,72
1,01
1,14

Ulangan
II
0,39
0,8
1,11

III
0,47
0,98
1,01

Total

Total

Rata-rata

1,58
2,79
3,26
7,63

0,53
0,93
1,09

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK) :
6,468544
# JK Total
:
0,595156
# JK Perlakuan
:
0,500822
# JK Acak
:
0,094333
B.Analisa Sidik Ragam
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
JK
KT
2 0,500822 0,250411
6 0,094333 0,015722
8 0,595156

F-hitung
15,93**

F 5%
5,14

F1%
10,92

** :Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,102379
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED = 0,250522
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED = 0,379519
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
C/N 0 =
0,53
C/N 12 =
0,93
C/N 24 =
1,09

0.53

0,93

0,40 **
0,56 **

0,16 ns

1,09

Notasi
a
b
b

79
D. Uji Polynomial Orthogonal
Perlakuan
Hasil
Pembanding
C/N ratio
(Ti)
Linier
Kuadratik
0
1,58
-1,58
1,58
12
2,79
0
-5,58
24
3,26
3,26
3,26
Q =CiTi
1,68
-0,74
Kr =(Ci2)r
6
18
Jk regresi = Q2/Kr
0,4704 0,030422
Total JK regresi
0,500822
Sumber Keragaman db
JK
KT
F hitung
F 5%
1. Perlakuan
2
0,500822
#. Linier
1
5,99
0,4704
0,4704
29,91943 **
#. Kuadratik
1
ns
0,030422 0,030422
1,934982
2. Acak
6
0,094333 0,015722
Total
0,595156 2989,84
Keterangan:
Regresi Linier sangat berbeda nyata sehingga persamaan regresi yang dipakai
adalah persamaan linier
E.Uji Persamaan regresi
Persamaan regresi liniernya; y = 1,605x + 53,4 dengan R = 0,905

F 1%
13,75
-

80
Lampiran 10. Perhitungan Rasio Konversi Pakan (FCR)
Perlakuan
C/N ratio 0

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Ulangan
u1
u2
u3
u1
u2
u3
u1
u2
u3

W0
1060,29
1051,60
1057,90
1051,50
1048,00
1052,70
1070,69
1058,69
1060,60

Wt
1336,06
1353,28
1403,45
4565,41
4638,48
4933,84
4852,72
4192,08
4690,78

F
1309,46
1222,37
1196,09
3282,92
1675,40
2076,48
3238,46
2454,61
2886,78

Keterangan:
W0: jumlah awal (g); Wt: jumlah akhir(g); F:Pakan yang diberikan(g)

FCR
4,75
4,05
3,46
0,93
0,47
0,54
0,86
0,78
0,80

81
Lampiran 11. Perhitungan Sidik Ragam Rasio Konversi Pakan (FCR)
A. Analisis Data Hasil Penelitian
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
4,75
0,93
0,86

Ulangan
II
4,05
0,47
0,78

III
3,46
0,54
0,80

Total

Ratarata

Total
12,26
1,94
2,44
16,64

4,09
0,65
0,81

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK) :
30,76551
# JK Total
:
23,53649
# JK Perlakuan
:
22,57609
# JK Acak
:
0,9604
B.Analisa Sidik Ragam
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
JK
KT
2 22,57609 11,28804
6
0,9604
0,160067
8 23,53649

F-hitung
70,52**

F 5%
5,14

F1%
10,92

** :Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,326667
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED = 0.799353
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED = 1,210953
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
0,65
C/N 12 =
0,65
C/N 24 =
0,81
0,17 ns
C/N 0 =
4,09
3,44 **
D. Uji Polynomial Orthogonal
Perlakuan
Hasil
Pembanding
C/N ratio
(Ti)
Linier
Kuadratik
0
12,26
-12,26
12,26
12
1,94
0
-3,88
24
2,44
2,44
2,44
Q =CiTi
-9,82
10,82
Kr =(Ci2)r
6
18
Jk regresi = Q2/Kr
16,07207
6,504022
Total JK regresi
22,57609

0,81

3,27 **

4,09

Notasi
a
a
b

82
Sumber Keragaman
db
JK
KT
1, Perlakuan
2
22,57609
#. Linier
1
16,07207 16,07207
#. Kuadratik
1
6,504022 6,504022
2. Acak
6
0,9604 0,160067
Total
23,53649
-

F hitung
100,4086 **
40,63321 **
-

F 5%
5,99

F 1%
13,75

Keterangan: Regresi Linier dan kuadratik sangat berbeda nyata sehingga perlu uji R2

E.Uji Regresi
1. Regresi linier
y = -0,136x + 3,49
R = 0,713
2. Regresi kuadratik
y = 0,012x2 - 0,436x + 4,09
R = 1

Karena R kuadratik > R linier maka persamaan regresi yang dipakai adalah
kudaratik

F.Titik Puncak
Persamaan, y = 0,012x2 - 0,436x + 4,09
Mencari titik puncak, y=0, sehingga ketemu titik puncak x: 36,33 dan y: 4,09.

83
Lampiran 12. Perhitungan Faktor Kondisi (FK)
Perlakuan
C/N ratio 0

C/N ratio 12

C/N ratio 24

Ulangan
u1
u2
u3
u1
u2
u3
u1
u2
u3

W (gram)
2,81
2,86
10,29
9,74
10,08
10,29
9,94
8,83
9,97

L (cm)
5,2
5,3
5,5
7,6
7,7
7,8
7,7
7,3
7,7

Keterangan:
W: berat (g); L: panjang(cm); FK :Faktor kondisi

FK
2,01
1,95
1,99
2,22
2,20
2,19
2,24
2,26
2,20

84
Lampiran 13. Perhitungan Sidik Ragam Faktor Kondisi (FK)
A. Analisis Data Hasil Penelitian
Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
2,01
2,22
2,24

Ulangan
II
1,95
2,20
2,26

III
1,99
2,19
2,20

Ratarata

Total

Total

5,94
6,61
6,70
19,25

1,981
2,202
2,234

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK) :
41,18441
# JK Total
:
0,117948
# JK Perlakuan
:
0,113615
# JK Acak
:
0,004333
B.Analisa Sidik Ragam
Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
JK
KT
2 0,113615 0,056807
6 0,004333 0,000722
8 0,117948

F-hitung
78,65**

F 5%
5,14

F1%
10,92

** :Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,021943
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED =
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED =
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
1,98
C/N 0 =
1,98
C/N 12 =
2,20
0,22 **
C/N 24 =
2,23
0,25 **
D. Uji Polynomial Orthogonal
Perlakuan
Hasil
Pembanding
C/N ratio
(Ti)
Linier
Kuadratik
0
5,944
-5,94
5,944
12
6,606
0
-13,212
24
6,703
6,703
6,703
Q =CiTi
0,759
-0,565
Kr =(Ci2)r
6
18
Jk regresi = Q2/Kr
0,096
0,018
Total JK regresi
0,114

0.054
0,081

2,20
0,03 ns

2,23
-

Notasi
a
b
b

85
Sumber Keragaman
db
1, Perlakuan
2
#. Linier
1
#. Kuadratik
1
2. Acak
6
Total
0,117948

JK
KT
0,113615
0,095889 0,095889
0,017725 0,017725
0,004333 0,000722
-

F hitung
132,7648 **
24,54198 **
-

F 5%
5,99

F 1%
13,75

Keterangan: Regresi Linier dan kuadratik sangat berbeda nyata sehingga perlu uji R2

E.Uji Regresi
1. Regresi linier
y = 0,010x + 2,011
R = 0,838
2. Regresi kuadratik
y = -0,001x2 + 0,026x + 1,980
R = 1

Karena R kuadratik > R linier maka persamaan regresi yang dipakai adalah
kudaratik

F.Titik Puncak
Persamaan, y = -0,001x2 + 0,026x + 1,980
Mencari titik puncak, y=0, sehingga ketemu titik puncak x: 20,05 dan y: 2,244

86
Lampiran 14. Data Volume Flok (ml/L)
.
C/N ratio 0
C/N ratio 12
Minggu
hari
U1
U2
U3
U1
U2
U3
1
1
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
5
6
6
3
1
1,5
1,5
5
6
5
4
1,5
1,5
1,5
2
5
5
5
0,3
0,5
0,1
3
6
5
6
0,5
0
0,1
6
7
5
7
0,5
0
0,1
7
7,3
5
2
8
0,5
0
0,1
7,5
7,3
5
9
0,5
0,1
0,1
6
7,3
5
10
0,5
0,1
0,1
6
5
5
11
0
0
0,3
6
4
4
12
0
0,1
0,5
5
3
5
13
0,5
0,1
0
2
4
3
14
0
0,1
0,1
4
3
1
3
15
0,5
0,1
0,1
3
3
2
16
0,3
0,1
0,1
2
3
3
17
0,1
0,1
0
2
3
1
18
0
0,1
0
2
2
2
19
0,1
0,1
0
2
3
1,5
20
0
0,2
0,1
2
2
1,5
21
0
0,1
0,1
2
2
2
4
22
0,1
0,2
0,1
3
2
1,1
23
0,1
0,1
0,1
2
2
1
24
0,1
0
0,1
3
2
1
25
0,1
0
0,1
3
2
2
26
0
0
0
3
3
1
27
0
0
0
2
3
1
28
0,1
0,1
0,1
3
3
2
5
29
0,1
0,1
0,1
3
2
1,5
30
0,1
0,1
0,1
2
2
1
31
0
0,1
0,1
3
2
1,5
32
0
0,1
0,1
3
3
1,5
33
0,1
0,1
0
3
3
2
34
0,1
0,1
0,1
3
2
1
35
0,1
0,1
0,1
2
2
1
Rata-rata
0,2
0,2
0,2
3,4
3,5
2,6
Min
0,0
0,0
0,0
2,0
2,0
1,0
Max
1,5
1,5
1,5
7,5
7,3
6,0
Modus
0,0
2,0
1,0
2,0
2,0
5,0
Keterangan: satuan volume flok yaitu mL/L

C/N ratio 24
U1
U2
U3
0
0
0
3
10
7
3
10
3
4
8,5
5
4
8,5
3
5
9
5
6
13
7
6
13
10
8
13
10
8
11
10
10
7
7
10
5
6
5
1
8
7
1
5
6
3
5
5
5
3
5
5
4
5
5
3
3
1
3
5
2
3
5
2
3
4
2
4
3
3
3
2
2
4
5
1,5
4
5
3
4
4
2
3
5
1
2
4
1
3
4
1,5
3
4
1,5
2
4
1
3
4
2
3
5
1
3
4
2
3
4,9
4,5
4,4
2,0
1,0
2,0
10,0 13,0 10,0
5,0
1,0
3,0

87
Lampiran 15. Data Diameter Flok (m)
.
C/N ratio 0
Minggu
hari
U1
U2
U3
1
1
0
0
0
2
20
30
30
3
50
50
50
4
40
50
50
5
40
30
50
6
40
30
40
7
30
30
30
2
8
30
30
30
9
20
10
20
10
20
20
20
11
30
30
40
12
40
50
60
13
50
50
50
14
20
60
50
3
15
40
60
60
16
40
50
40
17
70
30
20
18
60
10
10
19
30
0
20
20
30
10
20
21
20
20
20
4
22
30
20
30
23
30
40
60
24
50
40
50
25
30
40
60
26
10
10
30
27
30
30
10
28
40
50
20
5
29
40
30
30
30
50
40
50
31
40
20
30
32
20
0
20
33
10
10
10
34
20
20
10
35
30
40
20
Rata-rata
33
30
33
Min
10
0
10
Max
70
60
60
Modus
30
30
20
Keterangan: satuan diameter flok yaitu m

C/N ratio 12
U1
U2
U3

C/N ratio 24
U1
U2
U3

50

70

70

90

60

90

170

180

190

210

170

170

150

140

140

170

160

160

130

120

130

150

150

160

130

130

130

140

140

120

130

130

130

130

130

120

130

130

140

140

120

120

130

140

130

140

100

120

130

140

140

130

100

50

140

140

140

130

110

20

140

140

130

110

110

30

140

140

130

90

130

90

140

130

130

110

110

120

150

130

130

100

100

100

130

160

140

110

80

100

120

160

130

50

50

60

120

160

130

110

30

50

130

130

140

80

30

60

130

130

130

70

70

80

130

130

130

50

110

120

130

120

110

40

130

160

130

120

120

10

150

180

140

130

110

30

150

170

140

120

120

40

140

150

140

110

120

70

110

130

140

110

120

120

100

110

130

110

130

150

80

80

130

110

120

140

70

80

140

120

130

160

70

70

140

120

130

80

70

70

130

120

120

90

80

90

130

120

140

60

120

130

130

130

130

110

120

130

120

140

140

100

140

130

128
50
170
130

126
70
180
130

126
70
190
130

100
10
210
110

103
30
170
110

103
20
180
120

88
Lampiran 16. Data Warna Air (Suspensi Flok)
.
C/N ratio 0
C/N ratio 12
Minggu
hari
U1
U2
U3
U1
U2
U3
1
1 bening bening bening bening bening bening
2 bening bening bening putih putih putih
3 bening bening bening coklat coklat coklat
4 bening bening bening coklat coklat coklat
5 bening bening bening coklat coklat coklat
6 bening bening bening coklat coklat coklat
7 bening bening bening coklat orange coklat
2
8 bening bening bening coklat orange coklat
9 bening bening bening orange orange coklat
10 bening bening bening orange orange coklat
11 bening bening bening orange orange coklat
12 bening bening bening orange orange coklat
13 bening bening bening orange orange orange
14 bening bening bening orange orange orange
3
15 bening bening bening orange orange orange
16 bening bening bening orange orange orange
17 bening bening bening orange orange orange
18 bening bening bening orange orange orange
19 bening bening bening orange orange orange
20 bening bening bening orange orange orange
21 bening bening bening orange orange orange
4
22 bening bening bening orange orange orange
23 bening bening bening orange orange orange
24 bening bening bening orange orange orange
25 bening bening bening orange orange orange
26 bening bening bening orange orange orange
27 bening bening bening orange orange orange
28 bening bening bening orange orange orange
5
29 bening bening bening orange orange orange
30 bening bening bening orange orange orange
31 bening bening bening orange orange orange
32 bening bening bening orange orange orange
33 bening bening bening orange orange orange
34 bening bening bening orange orange orange
35 bening bening bening orange orange orange
Modus
bening bening bening orange orange orange

C/N ratio 24
U1
U2
U3
bening bening bening
putih

putih

coklat

coklat coklat orange


coklat orange orange
orange orange orange
orange orange orange
orange orange orange
orange orange orange
coklat orange orange
coklat orange

putih

coklat orange

putih

orange orange

putih

coklat orange coklat


orange orange orange
coklat coklat

coklat

coklat

putih

coklat

putih

putih

coklat

coklat

putih

putih

coklat

putih

putih

coklat coklat

coklat

putih orange orange


putih orange orange
bening orange orange
putih orange orange
putih orange orange
coklat orange orange
orange orange orange
orange coklat

coklat

orange coklat

coklat

orange coklat

coklat

coklat coklat

coklat

coklat coklat

coklat

coklat orange orange


orange orange orange
coklat orange orange
coklat orange orange

89
Lampiran 17. Data Amoniak (ppm)
Perlakuan
C/N ratio 0
C/N ratio 12
Ulangan
1
2
3
1
2
0
1,15
1,9
1,32
1,15
1,49
1
1,09
0,83
0,88
0,89
0,52
2
1,73
2,06
1,5
0,56
0,54
minggu
3
1,26
1,4
1,19
0,35
0,1
4
0,17
0,33
0,39
0,1
0,26
5
0,24
0,38
0,42
0,12
0,14
Min
0,2
0,3
0,4
0,1
0,1
Max
1,7
2,1
1,5
1,2
1,5
Modus
0,2+0,04
- 0,4+0,02 0,1+0,02 0,5+0,04
Rata-rata
1,2
0,4
1,0
0,5
0,5

3
1
1,26
1,13
0,35
0,77
0,82
0,13
0,63
0,07
0,47
0,03
0,19
0,04
0,2
0,0
1,3
1,1
- 0,1+0,03
0,6
0,4

C/N ratio 24
2
3
1,35
1,33
1,21
0,44
0,28
0,19
0,04
0,06
0,06
0,05
0,03
0,01
0,0
0,0
1,4
1,3
0+0,04 0,1+0,05
0,5
0,3

90
Lampiran 18. Analisa Sidik Ragam pada Amoniak (ppm)
1.Amoniak Minggu 0 (awal )
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
1,15
1,15
1,13

Ulangan
II
III
1,90
1,32
1,49
1,26
1,35
1,33

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Total
4,37
3,9
3,81
12,08

Ratarata
1,46
1,30
1,27

16,21404
0,459356
0,060289
0,399067

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total

JK
KT
F-hitung
0,060289 0,030144 0,45 ns
0,399067 0,066511
0,459356

F 5%
5,14

F1%
10,92

F 5%
5,14

F1%
10,92

Ns : tidak berbeda nyata


2.Amoniak Minggu 1
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
1,09
0,89
0,77

Ulangan
II
III
0,83
0,88
0,52
0,35
1,21
0,44

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Total
2,8
1,76
2,42
6,98

Ratarata
0,93
0,59
0,81

5,413378
0,673622
0,184622
0,489

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
2
6
8

JK
KT
F-hitung
0,184622 0,092311
1,13
0,489
0,0815
0,673622

91
Lampiran 18 (Lanjutan)
3.Amoniak Minggu 2
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
1,73
0,56
0,13

Ulangan
II
III
2,06
1,50
0,54
0,82
0,28
0,19

Total
5,29
1,92
0,6
7,81

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Ratarata
1,76
0,64
0,20

6,777344
4,118156
3,899489
0,218667

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total

JK
KT
F-hitung
3,899489 1,949744 53,50**
0,218667 0,036444
4,118156

F 5%
5,14

** : sangat berbeda nyata


C.Uji BNT
Bila hasil perlakuan berbeda nyata atau bahkan sangat berbeda nyata, maka
dilanjutkan dengan uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,155873
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED =
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED =
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
0,2
C/N 24 = 0,20
C/N 12 = 0,64
0,44 *
C/N 0 = 1,76
1,56 **

0.38142
0,57782

0,64

1,763333333

1,12 **

4,Amoniak Minggu 3
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24
Total

I
1,26
0,35
0,07

Ulangan
II
III
1,40
1,19
0,10
0,63
0,04
0,06

Total
3,85
1,08
0,17
5,1

Ratarata
1,28
0,36
0,06

Notasi
a
b
c

F1%
10,92

92
Lampiran 18 (Lanjutan)
Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)
# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

2,89
2,6132
2,449267
0,163933

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total

JK
KT
F-hitung
2,449267 1,224633 44,82**
0,163933 0,027322
2,6132

F 5%
5,14

F1%
10,92

** : Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT
Bila hasil perlakuan berbeda nyata atau bahkan sangat berbeda nyata, maka dilanjutkan
dengan uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,134962
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED =
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED =

0,330253
0,500305

2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan


rata-rata perlakuan
0,06

0,36

C/N 24 = 0,06

C/N 12 = 0,36

0,30

C/N 0 = 1,28

1,23

1,28

ns

**

0,92 **

5. Amoniak Minggu 4
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

Ulangan
I
II
III
0,17 0,33 0,39
0,10 0,26 0,47
0,03 0,06 0,05

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Notasi

0,3844
0,211
0,1158
0,0952

Total
0,89
0,83
0,14
1,86

Ratarata
0,30
0,28
0,05

93
Lampiran 18 (Lanjutan)
B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak

Db
2
6
8

Total

JK
KT
0,1158 0,0579
0,0952 0,015867
0,211

F-hitung
3,65

F 5%
5,14

F1%
10,92

6. Amoniak Minggu 5
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

I
0,24
0,12
0,04

Ulangan
II
0,38
0,14
0,03

Total

III
0,42
0,19
0,01

1,04
0,45
0,08
1,57

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Ratarata
0,35
0,15
0,03

0,273878
0,177222
0,156289
0,020933

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
2
6
8

JK
0,156289
0,020933
0,177222

FKT
hitung
0,078144 22,40**
0,003489

F 5%
5,14

F1%
10,92

**: sangat berbeda nyata


C.Uji BNT
Bila hasil perlakuan berbeda nyata atau bahkan sangat berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan
uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,048228
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED =
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED =
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
0,03
C/N 24 = 0,03
C/N 12 = 0,15
0,12 *
C/N 0 = 0,35
0,32 **

0,118014
0,178781

0,15

0,20 **

0,35

Notasi
a
b
c

94
Lampiran 18 (Lanjutan)
7. Amoniak Rata-rata Pada Tiap Perlakuan
A. Analisis Data Hasil Penelitian

Perlakuan
C/N ratio
0
12
24

Ulangan
I
II
III
0,94 1,15 0,95
0,53 0,51 0,62
0,36 0,50 0,35

Total
3,04
1,66
1,21
5,91

1,01
0,55
0,40

JK
KT
0,6062 0,3031
0,049 0,008167
0,6552

F-hitung
37,11**

Total

Perhitungan Jumlah Kuadrat (JK)


# Faktor Koreksi (FK)
# JK Total
# JK Perlakuan
# JK Acak

Ratarata

3,8809
0,6552
0,6062
0,049

B.Analisa Sidik Ragam

Sumber Keragaman
Perlakuan
Acak
Total

Db
2
6
8

F 5%
5,14

F1%
10,92

**: Sangat berbeda nyata


C.Uji BNT
Bila hasil perlakuan berbeda nyata atau bahkan sangat berbeda nyata, maka dilanjutkan
dengan uji BNT

1. Menghitung nilai BNT


SED = 0,073786
# BNT 5 % = t tabel 5% (db acak) x SED =
# BNT 1 % = t tabel 1% (db acak) x SED =
2. Menghitung selisih rata-rata perlakuan
rata-rata perlakuan
0,40
C/N 24 = 0,40
C/N 12 = 0,55
0,15 ns
C/N 0 = 1,01
0,61 **

0,180556
0,273526

0,55

0,46 **

1,01

Notasi
a
a
b

95
Lampiran 19. Data Alkalinitas (ppm)
Perlakuan

Minggu

Rata-rata
Minimal
Maksimal
Modus

1
2
3
4
5
6

C/N ratio 0
U1
U2
685
675
425
390
375
270
420
350
210
160
135
120
375
327,5
135
120
685
675
-

U3
660
440
330
360
210
130
355
130
660
-

C/N ratio 12
U1
U2
U3
680
680
650
430
455
410
350
350
280
390
325
340
190
170
180
120
140
115
360 353,33 329,17
120
140
115
680
680
650
-

C/N ratio 24
U1
U2
U3
670
680
670
665
420
465
660
365
360
440
335
330
230
180
160
130
110
135
465,83 348,33 353,33
130
110
135
670
680
670
-

96
Lampiran 20. Data TSS (mg/L)
Perlakuan

Minggu

Rata-rata
Minimal
Maksimal
Modus

1
2
3
4
5
6

C/N ratio 0
U1
U2
U3
2
6
4
12
23
15
7
11
14
22
9
6
11
8
10
7
15
13
10,17
12
10,33
2
6
4
22
23
15
-

C/N ratio 12
U1
U2
U3
5
2
4
110
109
118
145
165
180
134
133
142
156
170
167
120
144
116
111,67
120,5 121,17
5
2
4
156
170
180
-

C/N ratio 24
U1
U2
U3
3
3
3
126
113
121
70
45
63
116
147
133
178
148
160
67
88
145
93,33
90,67 104,17
3
3
3
178
148
160
-

97
Lampiran 21. Data Karbondioksida (ppm)

Perlakuan

Minggu

Rata-rata
Minimal
Maksimal
Modus

1
2
3
4
5
6

C/N ratio 0
U1
U2
U3
0
0
0
2,88
3,24
2,88
3,6
3,24
2,16
6,48
4,68
5,02
5,04
6,08
6,48
11,16
10,44
11,88
4,86
4,613
4,737
0,00
0,00
0,00
11,16
10,44
11,88
- 3+0,24
-

C/N ratio 12
U1
U2
U3
0
0
0
1,44
2,16
1,08
4,32
3,6
3,24
6,42
3,6
0,72
3,96
4,32
4,68
9,36
7,56
8,64
4,25
3,54
3,06
0,00
0,00
0,00
9,36
7,56
8,64
4+0,32
4+0,4 1+0,28

C/N ratio 24
U1
U2
U3
0
0
0
1,8
2,16
1,8
4,32
3,94
2,88
8,28
2,88
3,24
3,96
4,68
4,32
8,64
8,28
7,92
4,5
3,657
3,36
0,00
0,00
0,00
8,64
8,28
7,92
4+0,32
- 3+0,24

98
Lampiran 22. Data Kecerahan (cm)

Perlakuan

Minggu

Rata-rata
Minimal
Maksimal
Modus

1
2
3
4
5
6

C/N ratio 0
U1
U2
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50

U3
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50

C/N ratio 12
U1
U2
U3
50
50
50
46
43
50
46
27
29
44
30
34
33
31
34
27
28
25
41
34,83
37
27
27
25
50
50
50
46
34

C/N ratio 24
U1
U2
U3
50
50
50
50
50
47
36
26
44
22
21
34
27
22
25
22
21
24
34,5
31,67
37,33
22
21
24
50
50
50
22
21
-

99
Lampiran 23. Data DO (ppm)
,
C/N ratio 0
C/N ratio 12
C/N ratio 24
Minggu
hari
U1
U2
U3
U1
U2
U3
U1
U2
U3
1
1 5,36 5,28 5,22 5,77 4,11 4,13 4,26 4,07 4,20
2 5,14 5,66 5,26 5,66 5,57 5,51 5,74 5,63 5,78
3 5,62 5,10 5,64 6,04 5,27 4,50 5,90 5,03 5,62
4 5,92 5,90 5,78 6,20 4,47 4,71 4,94 4,67 4,80
5 5,24 5,20 5,18 5,28 4,13 4,08 4,26 4,14 4,34
6 5,93 4,80 5,40 4,97 5,55 4,67 5,84 4,64 5,76
7 5,42 5,34 5,48 5,28 4,16 4,05 4,44 4,14 4,48
2
8 4,58 5,22 5,14 5,42 4,43 5,53 4,96 5,54 5,76
9 5,20 4,85 4,97 6,31 5,66 4,69 5,75 5,62 5,87
10 5,92 5,86 5,84 4,62 4,81 4,85 4,92 4,95 4,94
11 5,01 5,54 5,56 6,06 5,44 5,43 5,64 5,40 5,50
12 5,71 4,84 5,78 5,54 5,65 5,67 5,32 5,11 5,26
13 3,56 4,12 5,32 4,68 5,12 4,09 5,76 3,84 6,42
14 6,04 5,16 5,10 4,64 4,92 5,04 5,46 5,07 5,04
3
15 6,37 5,36 5,50 6,12 5,51 4,67 5,88 5,14 4,33
16 6,30 6,12 4,82 5,06 5,10 5,13 5,32 5,08 5,40
17 5,34 5,36 5,32 5,30 4,10 4,14 4,30 4,11 4,20
18 5,12 4,88 5,96 5,30 5,76 4,14 5,68 5,25 5,04
19 5,40 5,28 5,20 5,18 4,01 4,13 4,36 4,14 4,20
20 5,45 4,81 5,91 5,59 5,63 5,63 5,67 5,56 5,93
21 5,38 4,78 5,40 6,04 5,35 5,32 5,90 4,35 5,40
4
22 5,44 5,68 5,52 6,00 4,41 4,47 4,70 4,44 3,85
23 5,00 6,26 5,84 6,30 5,60 5,64 5,80 5,10 5,90
24 5,20 5,60 5,26 5,02 4,71 5,44 5,78 4,14 4,34
25 5,00 6,22 5,06 4,92 5,37 4,64 4,90 5,03 5,50
26 5,96 5,34 5,76 4,57 5,05 5,61 5,94 4,19 5,84
27 5,32 5,06 5,36 5,50 4,14 5,01 5,26 5,13 4,96
28 5,06 5,72 5,18 5,34 5,48 4,00 4,54 4,13 5,62
5
29 5,76 5,80 5,74 6,06 3,91 4,71 5,62 4,54 4,64
30 5,19 6,20 5,90 5,76 5,16 4,08 3,70 4,11 5,98
31 6,36 5,30 5,18 6,38 5,61 5,17 5,84 5,57 5,14
32 5,42 5,82 4,94 6,12 5,21 4,51 5,80 5,61 4,58
33 5,00 5,36 5,72 6,26 4,03 5,08 5,90 5,70 4,78
34 5,45 5,17 5,85 4,95 6,09 4,18 5,05 5,46 4,49
35 5,96 5,36 5,92 4,98 3,89 4,28 4,26 4,50 4,84
Rata-rata
5,43 5,38 5,46 5,52 4,95 4,77 5,24 4,83 5,11
Min
3,56 4,12
4,82 4,57 3,89 4,00 3,70 3,84 3,85
Max
6,37 6,26
5,96 6,38 6,09 5,67 5,94 5,70 6,42
Modus
5+0,45 5+0,36 5+0,48 6+0,5 5+0,48 5+0,5 6+0,5 5+0,5 6+0,5
Keterangan: satuan DO yaitu mg/L

100
Lampiran 24. Data pH
Minggu
1

Rata-rata
Min
Max
Modus
St.Deviasi

hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

C/N ratio 0
U1
U2
U3
7,6
7,3
7,6
7,6
7,3
7,5
7,5
7,2
7,5
7,5
7,2
7,5
7,4
7,2
7,4
7,3
7,2
7,4
7,3
7,2
7,4
7,2
7,1
7,3
7,2
7,1
7,3
7,2
7,1
7,3
7,2
7,1
7,2
7,2
7,1
7,2
7,1
7,1
7,2
7,1
7
7,1
7,1
7
7,1
7,1
7
7,1
7,1
7
7
7,1
7
7
7,1
7
7
7,1
7
7
7,1
7
6,9
7,1
7
6,9
7,1
6,9
6,9
7,1
6,9
6,8
7,1
6,9
6,8
7
6,8
6,8
7
6,8
6,8
7
6,8
6,8
7
6,7
6,7
7
6,7
6,7
7
6,7
6,7
7
6,7
6,7
7
6,7
6,7
7
6,6
6,7
7
6,6
6,7
7,2
7,0
7,0
7,0
6,6
6,7
7,6
7,3
7,6
7,1
7
6,7
+0,2 +0,2 +0,3

C/N ratio 12
U1
U2
U3
7,6
7,5
7,4
7,6
7,5
7,4
7,5
7,4
7,4
7,5
7,4
7,3
7,5
7,4
7,3
7,4
7,4
7,3
7,4
7,3
7,3
7,3
7,3
7,2
7,3
7,3
7,2
7,3
7,3
7,2
7,3
7,3
7,1
7,3
7,3
7,1
7,2
7,3
7,1
7,2
7,3
7,1
7,2
7,3
7
7,2
7,3
7
7,2
7,2
7
7,1
7,2
7
7,1
7,2
6,9
7,1
7,2
6,9
7,1
7,2
6,9
7
7,2
6,8
7
7,1
6,8
7
7,1
6,8
7
7,1
6,8
7
7,1
6,8
7
7
6,8
7
7
6,7
6,9
6,9
6,7
6,9
6,9
6,7
6,9
6,9
6,7
6,9
6,9
6,7
6,9
6,9
6,7
6,9
6,8
6,7
6,9
6,8
6,7
7,2
7,2
7,0
6,9
6,8
6,7
7,6
7,5
7,4
7
7,3
6,7
+0,2 +0,2 +0,2

C/N ratio 24
U1
U2
U3
7,7
7,5
7,7
7,7
7,4
7,6
7,6
7,4
7,6
7,6
7,4
7,5
7,5
7,4
7,5
7,4
7,4
7,4
7,4
7,4
7,4
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,3
7,2
7,3
7,3
7,2
7,3
7,2
7,2
7,2
7,2
7,1
7,2
7,2
7,1
7,2
7,2
7,1
7,2
7,1
7,1
7,2
7,1
7
7,2
7,1
7
7,2
7,1
7
7,1
7
7
7,1
7
6,9
7,1
7
6,9
7
7
6,9
7
6,9
6,9
7
6,9
6,8
6,9
6,9
6,8
6,9
6,9
6,8
6,8
6,8
6,7
6,8
6,8
6,7
6,8
6,8
6,7
6,8
6,8
6,7
6,7
6,7
6,6
6,7
6,7
6,6
6,7
6,7
6,6
7,2
7,1
7,1
6,7
6,7
6,6
7,7
7,5
7,7
7,2
7,4
7,1
+0,3 +0,2 +0,3

101
Lampiran 25. Data Suhu (o C)
.
C/N ratio 0
Minggu
hari
U1
U2
U3
1
1
27
27
27
2
27
27
27
3
28
28
28
4
28
28
28
5
28
28
28
6
28
28
28
7
27
27
27
2
8
26
26
26
9
26
26
26
10
26
26
26
11
26
26
26
12
26
26
26
13
26
26
26
14
26
26
26
3
15
26
26
26
16
26
26
26
17
26
26
26
18
26
26
26
19
26
26
26
20
26
26
26
21
26
26
26
4
22
27
26
26
23
27
26
26
24
27
26
26
25
27
26
26
26
27
26
26
27
27
26
26
28
27
26
26
5
29
27
27
27
30
27
27
27
31
27
27
27
32
27
27
27
33
27
27
27
34
27
27
27
35
27
27
27
Rata-rata
26,7 26,5 26,5
Min
26,0 26,0
26,0
Max
28,0 28,0
28,0
Modus
27
26
26
St.Deviasi
+0,7 +0,7 +0,7

C/N ratio 12
U1
U2
U3
27
27
27
27
27
27
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
27
27
27
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
26,9 26,5 26,5
26,0 26,0 26,0
28,0 28,0 28,0
27
26
26
+0,6 +0,7 +0,7

C/N ratio 24
U1
U2
U3
27
27
27
27
27
27
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
27
27
27
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
26
26
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27
26,9 26,5 26,5
26,0 26,0 26,0
28,0 28,0 28,0
27
26
26
+0,6 +0,7 +0,7

102
Lampiran 26. Laju Pertumbuhan Pembesaran nila GIFT di Tambak

Analisa Laju Pertumbuhan Pembesaran nila GIFT di Tambak


Padat
Durasi
Wo
Wt
SGR
ln Wo
ln Wt
2
(ekor/m ) (hari) (gram) (gram)
(% BB perhari)
20
30
1,25
15
0,223144 2,70805
8,28

Berikut ini Perbandingan pertambahan berat harian nila GIFT pada pembesaran di
Tambak (30 hari dengan kepadatan 20 ekor/m2) dan penelitian (35 hari dengan
kepadatan 500 ekor/m3 aplikasi teknologi bioflok)

Pembanding
Hari ke-1

Sampel (Penelitian)
Lama Pertumbuhan
seharusnya
Hari ke35
Konversi
Lama
(Hari ke)
Pembanding

hari

berat

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Akhir

1,25
1,35
1,47
1,59
1,72
1,86
2,01
2,12*
2,18
2,36 (diantara
2,56 hari ke-6
2,77 dan 7)
3,00
3,25
3,52
3,81
4,12
4,46
4,83
5,23
5,67
6,14
6,64
7,19
7,79
8,43
9,13
9,81**
9,89
10,71
(diantara
11,59
hari ke-25
12,55
dan 26)
13,59
14,72

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

20-21 Hari
(+ 3 minggu)

Keterangan:
* : rata-rata W 0 dari perlakuan nilai SGR terbaik (C/N ratio 12 dan 24)
** : rata-rata W t dari perlakuan nilai SGR terbaik (C/N ratio 12 dan 24)

105
ANALISA PERTUMBUHAN NILA (Oreochromis niloticus)
STRAIN GIFT G6 PADA CLOSED-SYSTEM SECARA SUPERINTENSIF PADA
APLIKASI TEKNOLOGI BIOFLOK DENGAN C/N RATIO YANG BERBEDA

SKRIPSI
BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh:
ACHMAD FIRMANSYAH
0510850001

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010