Anda di halaman 1dari 24

MENYUSUN FORMULASI PAKAN

(Laporan Praktikum Nutrisi Dan Manajemen Pakan)

Oleh :
Binti Amanah
Deki Ariansyah
Dewi Rosalia
Ratna Suri
Wahyu Taufiqurahman
Kelompok 2 (Dua)

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pakan merupakan kebutuhan terbesar dalam budidaya perikanan. Biaya produksi
untuk pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi. Dewasa ini volume pakan
komersil di pasar sangat beraneka baik jenis maupun komposisi. Hal ini tentu
menuntut sensivitas dan selektifitas yang tinggi agar mampu memilih pakan yang
berkualitas untuk budidaya perikanan. Sejauh ini isu terpenting terkait masalah
pakan ikan adalah kesulitan memperoleh pakan yang memilki nutrisi dan sifat
sesuai dengan kebutuhan serta kondisi biologis ikan atau biota kultur itu sendiri.
Sehingga hal ini menjadi salah satu inhibitor dalam pengembangan budidaya ikan,
(Djangkaru Z, 1974).
Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan baku pakan yang bermutu yang
dapat berasal dari berbagai sumber dan sering kali digunakan karena sudah tidak
lagi dikonsumsi oleh manusia. Pemilihan bahan baku tersebut tergantung pada
kandungan bahan gizinya, kecernaannya dan daya serap ikan, tidak mengandung
anti nutrisi dan zat racun, tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah.
Umumnya bahan baku berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga
beberapa yang berasal dari produk samping atau limbah industri pertanian atau
peternakan. Bahan-bahan tersebut dapat berupa kacang ijo, dedak halus, tepung
terigu, tepung ikan, tepung jagung, bungkil kacang tanah, dll.
Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi dan gizi yang
dibutuhkan oleh ikan. Pakan yang berkualitas mengandung 70% protein, 15%
karbohidrat, 10% lemak, dan 5% vitamin, air, dan mineral (Murtidjo,2001).
Kualitas pakan tidak hanya sebatas pada nilai gizi yang dikandungnya melainkan

pada sifat fisik pakan seperti kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau, rasa dan
anti nutrisi yang dikandung. Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan baku
yang digunakan. Pemilihan baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator
nilai gizi yang dikandungnya;digestibility (kecernaanya), dan biovaibility (daya
serap). Pakan yang berkualitas akan mendukung tercapainya tujuan produksi
yang optimal. Oleh karena itu pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta
kualitas secara fisik perlu diketahui, (Kasno, S. 1990).
Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi
ikan yang dibudidayakan, seperti protein (asam amino esensial), lemak (asam
lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan
tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi,
perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan banyaknya
interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah penyerapan di
dalam pencernaan ikan.
Ilmu nutrisi pakan ikan tidak terbatas pada cara pembuatan pakan saja.
Pengetahuan tentang formulasi bahan dalam pembuatan pakan juga perlu
diketahui. Komposisi suatu pakan perlu kita ketahui baik sebelum atau sesudah
pembuatan pakan sebagai database dalam pembuatan pakan. Sebelum pembuatan
pakan bobot masing-masing bahan harus diketahui untuk menghasilkan jumlah
pakan dengan nilai nutrisi tertentu. Demikian juga setelah dalam bentuk pakan.
Berdasrkan uraian sebelumnya maka pengetahuan mengenai cara pembuatan
pakan (penyediaan bahan baku) perlu dilatih melalui kegiatan praktikum.
I.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum Menyusun Formulasi Pakan ini adalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui cara menyusun formulasi pakan ikan
2. Memperkirakan jenis dan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk pakan
I.3 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum Menyusun Formulasi Pakan ini adalah


Mahasiswa/i dapat mengetahui cara menyusun formulasi pakan dan dapat
memperkirakan jenis dan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk membuat
pakan.

II.

II.1

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Formulasi Pakan

Formulasi pakan adalah perhitungan nutrisi (karbohidrat, protein, lemak, mineral


dan vitamin) yang dibutuhkan dalam membuat pakan ikan untuk memenuhi
kebutuhan gizi atau nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan atau udang.
Formulasi adalah komposisi bahan dalam pakan buatan yang disusun berdasarkan
kebutuhan zat gizi setiap jenis ikan atau udang. Formulasi yang baik berarti
mengandung semua jenis zat gzi yang diperluka ikan dan secara ekonomis murah
dan mudah diperoleh. Penyusunn formulasi harus memperhatikan perhitungan
nilai kandungan protein dari pakan,( Afrianto, E. 2005).
Terdapat berbagai cara untuk menyusun protein yaitu dengan cara bujur sangkar
kusdrat, metode persamaan aljabar dan menggunakan metode lembar kerja atau
exel.
Formulasi pakan merupakan rumusan pakan dengan komposisi bahan pakan yang
diperlukan dan sesuai dengan macam pakan yang akan dibuat. Formulasi yang
baik berarti mengandung semua nutrisi yang diperlukan biota air dan secara
ekonomis murah serta mudah diperoleh sehingga memberikan keuntungan. Oleh
karena itu, penyusunan formulasi pakan bertujuan untuk memperoleh nutrisi yang
diperlukan, baik didalam jumlah dan perbandingan yang tepat untuk pertumbuhan
biota air yang optimal. Untuk menyusun formulasi pakan, diperlukan pengetahuan
tentang bahan baku pakan. Anda pasti masih ingat mengenai jenis jenis bahan
baku yang digunakan untuk membuat pakan. Nah, untuk menyusun formulasi

pakan, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan


bahan, antara lain kesediaan bahan dan harga, (Djajasewaka H., 1985)
II.2

Syarat-Syarat Pemilihan Bahan Baku Pakan

Pakan buatan adalah alternatif pakan ikan atau budidaya hewan lain yang dibuat
untuk menekan biaya produksi budidaya untuk mendapatkan untuk sebanyakbanyaknya atau lebih banyak dari penggunaan pakan pabrikan, (Djajasewaka H.,
1985).
Sebelum membuat pakan buatan harus memahami tentang bahan yang digunakan
dalam proses pembuatannya. Dalam membuat pakan buatan untuk usaha
perikanan baik di kolam air tawar maupun payau, hal terpenting yang perlu untuk
menjadi bahan yang harus dipertimbangkan adalah persyaratan bahan baku pakan
itu sendiri yaitu:
Bahan baku tidak mengandung racun. Bahan baku yang mengandung racun dapat
menghambat pertumbuhan, bisa saja terjadi ikan menjandi mabuk dan strtess
bahkan dapat menyebabkan kematian baik itu ikan ataupun udang yang diperihara
secara masal, (Mudjiman, A., 2000).
Bahan baku pakan tidak boleh bersaing dengan bahan makanan manusia. Bahan
baku harus tersedia dalam waktu lama, atau tersedia secara kontinyu. Harga
bahan baku, walaupun dapat digunakan tetapi harganya mahal; "Sebenarnya
murah atau mahalnya bahan baku harus dinilai dari manfaat bahan baku tersebut".
Sebagai contoh tepung ikan harganya memang mahal tetapi bila dibandingkan
dengan nilai dan kegunaannya terutama kandungan proteinnya yang tinggi dan
kelengkapan asam aminonya maka penggunaan tepung ikan menjadi murah.
Kualitas gizi bahan baku, menjadi persyaratan penting, walaupun harganya
murah, dan tersedia cukup melimpah tetapi kandungan gizinya buruk, maka bahan
baku seperti ini tidak dapat digunakan, (Sumeru. U.S., 1992).
Selain kesediaan dan harga bahan baku, komposisi pakan juga disusun
berdasarkan kebiasaan makan dan makanan biota air, kemampuan organisme

memanfaatkan bahan, tipe pakan yang diinginkan sesuai dengan umur biota air
yang dibudidayakan, serta kebutuhan biota air akan zat gizi/nutrisinya, seperti
karbohidrat, protein, lemak, serat dan beberapa zat esensial lain yang dibutuhkan
sebagai energi. Dalam hal nutrisi, kandungan protein menjadi salah satu nilai yang
harus diperhatikan, karena zat ini merupakan komponen utama untuk
pertumbuhan biota air. Namun dalam kondisi tertentu, pakan buatan biasanya
dikombinasikan dengan zat-zat suplemen (antara lain vitamin) untuk mengatasi
kekurangan zat yang diperlukan oleh biota air, (Asmawi, S. 1983).
II.3

Macam-Macam Tepung Pengganti Pelet Ikan dan Kandungan

Nutrisinya
Adapun macam-macam tepung yang digunakan sebagai pengganti pellet ikan dan
kandungan nutrisinya adalah sebagai berikut :
Sumber Nabati
a. .Jagung Kuning.
Selain jagung kuning, ada jagung warna putih dan jagung merah. Diantara ke tiga
warna tersebut yang banyak teredia dan diproduksi di Indonesia hanyalah jagung
kuning. Jagung ini merupakan bahan baku pakan ternak dan ikan/udang, bahan
baku jenis ini digunakan sebagai bahan baku pakan sumber energi, karena kadar
proteinnya rendah ( 8.9%) bahkan desifisiensi terhadap asam amino penting
terutama lysine dan triptofan.
Kandungan Nutrisi jagung
Nutrisi

Kandungan

Bahan kering

75 90 %

Serat kasar

2,0 %

Protein kasar

8,9 %

Lemak kasar

3,5 %

Energi gross

3918 Kkal/kg

Niacin

6,3 mg/kg

Calsium

0,02 %

Fosfor

3000 IU/kg

Vitamin A

Asam Pentotenat

3,9 mg/kg

Riboflavin

1,3 mg/kg

Tiamin

3,6 mg/kg

Jagung sebagai sumber energi dengan kandungan serat kasar yang rendah dan
sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik jagung harus dilakukan uji
labhoratorium, (Suriatna. 1990)
b. Dedak halus.
Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi
manusia sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Kandungan serat kasar
dedak 13,6%, atau 6 kali lebih besar dari pada jagung kering, merupakan factor
pembatas, sehingga dedak tidak dapat digunakan berlebihan.. Kandungan asam
amino dedak, walaupun lengkap tapi kuantitasnya tidak mencukupi kebutuhan
ikan, demikian pula dengan vitamin dan mineralnya.
Kandungan Nutrisi Dedak
Nutrisi

Kandungan

Bahan kering

91 %

Serat kasar

13,5 %

Protein kasar

0,6 %

Lemak kasar

13,0 %

Energi metabolis

1890 kal/kg

Calsium

0,1 %

Total Fosfor

17 %

Vitamin A

Asam Pentotenat

22,0 mg/kg

Riboflavin

3,0 mg/kg

Tiamin

22,8 mg/kg

c. Bungkil kedelai.
Kacang kedelai mentah mengandung penghambat typsin, dan dapat lepas melalui
pemanasan atau metoda lain, edangkan bungkil kacang kedelai merupakan limbah

dari proses pembuatan minyak kedelai. Yang menjadi factor pembatas pada
penggunaan kedelai hdala asam amino metionin
Kandungan Nutrisi Bungkil kedelai
Nutrisi

Kuantitas

Protein kasar

42 50 %

Energi metabolis

2825 2890 Kkal/kg

Serat kasar

6%

d. Bungkil Kacang Tanah


Merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang tanah atau loan lanilla.
Koalitas bungkil kacang tanah ini tergantung pada proses pengolahan kacang
tanah menjadi minyak. Disamping itu, proses pemanasan selama pengolahan
berlangsung, juga menentukan koalitas bungkil ini, selain dari kualitas kacang
tanah, pengolahan dan varietas kacang Sangay berpengaruh terhadap kandungan
nutrisi. Kadar metionin, triptopan,treonin dan lysin bungkil kacang tanah juga
mudah tercemar oleh Namun beracun (Aspergillus flavus )
Kandungan Nutrisi Bungkil Kacdang Tanah
Nutrisi

Kuantitas

Bahan Kering

91,5 %

Protein kasar

47,0 %

Lemak kasar

12,0 %

Serat kasar

13,1 %

Energi metabolis

2200 kal/kg

e. Minyak Nabati.
Pengunaan minyak diperlukan pada pembuatan pakan ikan, terutama yang
membutuhkan energi tinggi, yang hanya dapat diperoleh dari minyak. Minyak
nabati yang dipergunakan hendaknya minyak nabati yang baik, tidak mudah
tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal
dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2- 6 %

f. Hijauan.
Sebagai bahan campuran pakan, kini hijauan mulai dilirik kembali, karena
ternyata sampai tertentu hijauan dengan protein tinggi dapat mensubstitusi tepun
bagi ikan. Hijauan yang dimaksdu antara lain azola, turi dan daun talas, yang bila
akan digunakan harus diolah terlebih dahulu, yaitu dikeringkan tetapi tidak
sampai merusak warna, selanjutnya ditepungkan. Selain ketiga jenis daun tersebut
beberapa jenis hijauan yang lain seperti ; daun singkong, kacang, eceng gondok
dapat digunakan sebagai bahan campuran pakan.
Sumber Hewani
a. Tepung ikan.
Tepung ikan, berasal dari ikan rucah, atau buangan yang tidak dikonsumsi oleh
manusia, atau sisa pengolahan industri makanan ikan, sehingga kandungan
nutrisinya Sangay beragam, tapi pada umumnya berkisar antara 60-70%. Tepung
ikan merupakan pemasok lysin dan metionin yang baik, dimana hal ini tidak
terdapat pada kebanyakan bahan baku nabati. Mineral kalsium dan fosfornya
Sangay tinggi, karena beberapa keunggulan inilah maka tepung ikan menjadi mal.
Kandungan Nutrisi Tepung ikan.
Nutrisi

Kandungan

Protein kasar

60 70 %

Serat kasar

1,0 %

Kalsium

5,0 %

Fosfor

3,0 %

b. Tepung Darah.
Merupakan limbah dari rumah potong hewan, yang banyak dipergunakan oleh
pabrik pakan, karena protein kasarnya tinggi. Walaupun demikian ada pembatas
religi. BAik buruknya koalitas tepung darah ini Sangat tergantung pada
penanganan dalam penampungan jangan sampai tercampur dengan kotoran.
Kandungan Nutrisi tepung darah.

Nutrisi

Kandungan

Protein kasar

80 %

Serat kasar

1,6 %

Lemak kasarKalsium

1,6 %

Kelemahan dari tepung darah adalah miskin isoleusin , rendah kalsium dan fosfor
pemakaian maksimum 5%.
c. Tepung Keong mas
Keong mas, merupakan bahan baku local yang digunakan sebagai bahan alternatif
dalam mensubstitusi tepung ikan.
Kandungan Nutrisi tepung Keong Mas.
Nutrisi

Kandungan

Protein kasar

57,76 %

Lemak

14,62 %

Abu

15,3 %

Karbohidrat

0,68 %

Kadar air

11,05 %

(Djarijah S., 1998)

III.

III.1

METODELOGI

Waktu dan Tempat

Adapun praktikum ini dilakukan pada hari Jumat, 24 April 2015 pukul 13.00 WIB
s.d selesai, di Laboratorium Perikanan (Gedung K), Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung.
III.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Menyusun Formulasi
Pakan adalah spidol, bulpoin, kertas dan kalkulator.
III.3 Prosedur Kerja
Adapun metode yang digunakan dalam Menyusun Formulasi Pakan adalah
metode Bujur Sangkar Kuadrat dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Menggambar kotak persegi empat.
b. Menulis kadar protein pakan yang diharapkan pada bagian tengah kotak.
c. Pada sudut sebelah kiri atas menempatkan nilai protein primer, sedangkan
pada sudut sebelah kiri bawah menempatkan protein sekunder.
d. Mengurangkan jumlah protein yang terdapat dalam bahan baku dengan
protein pakan yang diharapkan, secara diagonal dan tempatkan hasilnya (nilai
positif) pada sudut bagian kanan kotak.
e. Menjumlah kedua hasil pengurangan tersebut.
f. Menghitung jumlah pada sudut kanan dalam bentuk presen dengan
menggunakan angka poin c dibagi dengan poin e dan dikalikan 100%.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Praktikum


Adapun hasi dari praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Buatlah 50 Kg pakan dengan bahan penyusun :
a. Tepung Tulang 38%
b. Tepung Magot 30 %
c. Tepung kedelai 27 %
d. Tepung kepala udang 35%
e. Tepung topioka 11%
f. Tepung terigu 9%
Protein yang dikehendaki 30 %
Dengan perbandingan :

proporsi primer (4:3:2:1)


Proporsi sekunder (2:1)

Protein primer 32,5%

30-10

= 20 %

30 %

Protein Sekunder 10%

32,5- 30 = 2,5% +
22,5 %

Protein Primer =

20
22,5

x 100% = 88,89%

Perbandingan (4:3:2:1)
Tepung Tulang =

4
x 88,89
10

Tepung Kepala Udang


Tepung Magot

35,56
x 50 kg=17,78 k g
100

3
26,67
x 88,89 =
x 50 kg=13,34 k g
10
100

2
17,78
x 88,89 =
x 50 kg=8,90 k g
10
100

Tepung Kedelai

1
8,89
x 88,89 =
x 50 kg=4,45 kg
10
100

Protein sekunder =

2,5
22,5

x 100% = 11,11%

Perbandingan (2:1)
Tepung Topioka =
Tepung Terigu

2
7,41
x 11,11 =
x 50 kg=3,70 kg
3
100

1
3,70
x 11,11 =
x 50 kg=1,85 kg
3
100

Jadi untuk membuat 50 kg pakan ikan dengan kandungan protein 30% dengan
perbandingan protein primer (4:3:2:1) dan protein sekunder (2:1) dibutuhkan
tepung tulang 17,78 kg, tepung kepala Udang 13,34kg , tepung

Magot 8,90kg,

tepung kedelai 4,45 kg, tepung topioka 3,7 kg dan tepung terigu 1,85 kg.
2.
a.
b.
c.
d.
e.

Buat 2500 gram pakan dengan bahan penyusun :


Tepung Darah 30%
Tepung Kepala Ikan Teri 36%
Tepung Biji Lamtoro 18%
Tepung Ikan Rucah 34%
Tepung dedak 11%

Protein yang diharapkan 35%


Dengan perbandingan : proporsi primer (3:2:1)
proporsi sekunder (2:1)

Protein primer 33,3%

35-14,5% = 20,5 %
35 %

Protein Sekunder 14,5%

35-33,3% = 1,7% +
22,2 %

Protein Primer =

20,5
22,2

x 100% = 92,3%

Perbandingan (3:2:1)
Tepung Kepala Ikan Teri =

3
x 92,3
6

46,2
x 2500 gr =1152,5 gr
100

2
30,8
x 2500 gr=770 rg
Tepung Ikan Rucah x 92,3 =
6
100

1
15,4
x 2500 gr=385 gr
Tepung Darah x 92,3 =
6
100
2,5
22,5

Protein sekunder =

x 100% = 11,11%

Perbandingan (2:1)
Tepung Biji Lamtoro =
Tepung Dedak =

2
5,1
x 7,7 =
x 2500 gr=127,5 gr
3
100

1
2,6
x 7,7 =
x 2500 gr=65 gr
3
100

Jadi untuk membuat 2500 gr pakan dengan kandungan protein 35% dengan
menggunakan perbandingan proporsi protein primer (3:2:1) dan protein sekunder
(2:1) dibutuhkan tepung ikan teri 1152,5 gr, tepung Ikan rucah 770 gr, tepung
darah 385 gr, tepung Biji Lamtoro 127,5 gr dan tepung dedak 65 gr.
3. Buat 10000 gr pakan dengan bahan penyusun :
a. Tepung ikan 39%
b. Tepung daun singkong 28%
c. Tepung bulu ayam 25%
d. Tepung Jagung 19%
e. Tepung dedak 23%
f. Tepung terigu 17%
Protein primer 28,75%

37-18

= 19 %

37 %

Protein Sekunder 18%

37- 28,75 = 8,27% +


27,25 %

Protein Primer =

19
27,25

x 100% = 69,72%

Perbandingan (4:3:2:1)
Tepung Ikan =

4
x 69,72
10

Tepung Daun Singkong


Tepung Bulu ayam
Tepung Kedelai

27,89
x 10000 gr=2788,8 gr
100

3
20,926
x 69,72 =
x 10000 gr=2092,6 gr
10
100

2
13,944
x 69,72 =
x 10000 gr =13994,4 gr
10
100

1
69,72
x 69,72 =
x 10000 gr=6972 gr
10
100

Protein sekunder =

8,25
27,25

x 100% = 30,28%

Perbandingan (2:1)
Tepung Topioka =
Tepung Terigu

2
20,17
x 30,28 =
x 10000 gr =2017 gr
3
100

1
10,09
x 30,28 =
x 10000 gr =1009 gr
3
100

Jadi untuk membuat 10000 gr pakan dengan kandungan protein 37% dengan
menggunakan perbandingan proporsi priimer (4:3:2:1) dan sekunder (2:1) dinutuh
kan tepung ikan 2988,8 gr, tepung daun singkong 2092, 6 gr, tepung bulu ayam
1394,4 gr, tepung dedak 697,2 gr, tepung jagung 2017 gr dan tepung terigu 1009
gr.
4. Buatlah 25 kg pakan dengan bahan penyusun :
a. Tepung ikan 38 %
b. Tepung terigu 12 %
Protein yang dikehendaki = 32 %
38 %
12 %

32 %

32 % - 12 % = 20 %
38 % - 32 % = 6 % +
= 26 %

Tepung ikan = 20 % : 26 % x 100 % = 76,9 %


Tepung ikan = 76,9 % : 100 x 25 kg = 19,222 %
Tepung Terigu = 6 % : 26 % x 100 % = 23,1 %
Tepung Terigu = 23,1 % : 100 x 25 kg =5,755 kg
Jadi yang dibutuhkan untuk 25 kg pakan, dengan kandungan protein yang
dikehendaki 32 % yaitu tepung ikan 19,225 dan tepung terigu 5,775 kg.

5. Buatlah 50 kg pakan dengan bahan penyusun :


a. Tepung ikan 40 %
b. Tepung kedelai 25 %
c. Tepung jagung 15 %
4. Protein yang dikehendaki yaitu 38 %
5. 40 %+25% : 2 = 32,5 %
6. 15 %

38 %

7. 38 % - 15 % = 23 %
8. 38 % - 32 %= 5,5 %
9. = 28,5 %
10.

Tepung ikan + tepung kedelai = 23% : 28,5 % x 100 % = 80,7 %

11.

Tepung ika + tepung kedelai = 80,7 % : 100 x 50 kg = 40,35

12.

Tepung jagung = 5,5% : 28,5 x 100 % = 19,3 %

13.

Tepung jagung = 19,3 % :100 x 50 kg = 9,65 kg

14.

Jadi yang dibutuhkan untuk 50 kg pakan dengan kandungan protein yang

dikehendaki, yaitu tepung ikan dan tepung kedelai masing-masing 20,175 kg dan
tepung jagung 9,65 kg.
15.
6. Buatlah 1000 gr pakan dengan bahan penyusun :
a. Tepung ikan rucah 44 %
b. Tepung biji lamtoro 27 %
c. Tepung jagung 15 %
d. Tepung terigu 11 %
16. Protein yang dikehendaki yaitu 30 %
17. 44 % + 27 % : 2 = 35, 5 %
18. 15 % + 11 % : 2 = 13 %
19. 30 % - 13 % = 17 %
20. 35,5 % - 30 % = 5,5 %
21. = 22,5 %
22. Tepung ikan rucah + tepung biji lamtoro
23. = 17 % : 22,5 % x 100 % = 75, 6 %
24. Tepung ikan rucah + tepung biji lamtoro
25. = 75,6 % : 100 x 1000 gr = 756 gr
26. Per tepung = 378 gr.

27. Tepung jagung + tepung terigu


28. = 5,5 % : 22,5 % x 100 % = 24,4 %
29. Tepung jagun + tepung terigu
30. = 24,4 % : 100 x 1000 gr = 244 gr
31. Per tepung 122 gr
32.

Jadi yang dibutuhkan untuk 1000 gr pakan, dengan kandungan protein

yang dikehendaki yaitu 30 % adalah tepung ikan rucah dan tepung biji lamtoro
sebanyak 378 gr tiap tepung dan tepung jagung dan tepung terigu 122 gr per
tepung.
33.
34.
35.

4.2 Pembahasan

36.

Adapun hasil praktikum dari menyusun formulasi ikan yaitu :

37.

Jadi untuk membuat 50 kg pakan ikan dengan kandungan protein 30%

dengan perbandingan protein primer (4:3:2:1) dan protein sekunder (2:1)


dibutuhkan tepung tulang 17,78 kg, tepung kepala Udang 13,34kg , tepung
Magot 8,90kg, tepung kedelai 4,45 kg, tepung topioka 3,7 kg dan tepung
terigu 1,85 kg.
38.

Jadi untuk membuat 2500 gr pakan dengan kandungan protein 35%

dengan menggunakan perbandingan proporsi protein primer (3:2:1) dan protein


sekunder (2:1) dibutuhkan tepung ikan teri 1152,5 gr, tepung Ikan rucah 770 gr,
tepung darah 385 gr, tepung Biji Lamtoro 127,5 gr dan tepung dedak 65 gr.
39.

Jadi untuk membuat 10000 gr pakan dengan kandungan protein 37%

dengan menggunakan perbandingan proporsi priimer (4:3:2:1) dan sekunder (2:1)


dinutuh kan tepung ikan 2988,8 gr, tepung daun singkong 2092, 6 gr, tepung bulu
ayam 1394,4 gr, tepung dedak 697,2 gr, tepung jagung 2017 gr dan tepung terigu
1009 gr.
40.

Jadi yang dibutuhkan untuk 25 kg pakan, dengan kandungan protein yang

dikehendaki 32 % yaitu tepung ikan 19,225 dan tepung terigu 5,775 kg.
41.

Jadi yang dibutuhkan untuk 1000 gr pakan, dengan kandungan protein

yang dikehendaki yaitu 30 % adalah tepung ikan rucah dan tepung biji lamtoro

sebanyak 378 gr tiap tepung dan tepung jagung dan tepung terigu 122 gr per
tepung.
42.

Jadi yang dibutuhkan untuk 50 kg pakan dengan kandungan protein yang

dikehendaki, yaitu tepung ikan dan tepung kedelai masing-masing 20,175 kg dan
tepung jagung 9,65 kg.
43.
44.

Kandungan protein yang paling baik yaitu protein tepung darah

berdasarkan referensi yang telah dibaca karena tepung darah memiliki nili protein
yang paling tinggi. Protein merupakan komponen yang penting bagi mekhluk
bidup. Dalam pakan protein memiliki banyak fungsi untuk ikan atau udang
budidaya yaitu sebagai sumber energy, untuk pertumbuhan, metabolism,
mempercepat matang gonad, memperbaiki jaringan yang rusak, serta sebagai
imun untuk pertahanan tubuh.
45.
46.

Protein primer merupakan protein yang memiliki kadar presentesi lebih

dari 20% dan protein sekunder kurang dari 20%. Protein primer merupakan
susunan linier asam amino protein. Susunan tersebut merupakan suatu rangkaian
unik dari asam amino yang menentukan sifat dasar dari berbagai protein dan
secara umum menentukan bentuk struktur sekunder dan tersier. Sedangkan protein
sekunder kekuatan menarik di antara asam amino dalam rangkaian protein
menyebabkan struktur utama membelit, melingkar, dan melipat diri sendiri.
Bentuk-bentuk yang dihasilkan dapat spriral, heliks, dan lembaran. Bentuk ini
dinamakan struktur sekunder. Dalam kenyataannya struktur protein biasanya
merupakan polipeptida yang terlipat-lipat dalam bentuk tiga dimensi dengan
cabang-cabang rantai polipeptidanya tersusun saling berdekatan. Contoh bahan
yang memiliki struktur sekunder ialah bentuk -heliks pada wol, bentuk lipatanlipatan (wiru) pada molekul-molekul sutra, serta bentuk heliks pada kolagen.
47.
48.
49.

V.

PENUTUP

50.
51.
V.1 Kesimpulan
52.

Adapun kesimpulan yang dapat diberikan darp praktikum ini adalah :


a. Protein primer memiliki presentase lebih dari 20 % dedangkan protein
sekunder memiliki presentase kurang dari 20%.
b. Formulasi dapat disusun dengan menggunakan metode bujur sangkar
kuadrat, metode persamaan aljabar dan merode exel.
c. Protein yang paling baik memiliki nilai presentasi kadar protein yang
tinggi dan biasanya berasal dari bahann baku hewani.

53.
54.
V.2 Saran
55.

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum kali iini adalah agar

asisten dosen dapat mennjelaskan terlebih dahulu materi yang akan


dipraktikumkan sebelum praktikum dimulai agar praktikan dapat menambah ilmu
pengetahuannya.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.

DAFTAR PUSTAKA
67.

68.
69.

Afrianto, E. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

70.

Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. PT


Gramedia. Jakarta.

71.

Djajasewaka H., 1985. Teknologi Pakan Ikan. Yasa Guna : Jakarta.

72.

Djangkaru Z., 1974. Makanan Ikan. Kanisius : Yogyakarta.

73.

Djarijah S., 1998. Membuat Pellet Pakan Ikan. Kanisius : Yogyakarta.

74.

Kasno, S. 1990. Memelihara Ikan Bersama Udang. Penebar Swadaya.


Jakarta.

75.

pakan-ikan.html

76.

Mudjiman, A., 2000. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.

77.

Sumeru. U.S., 1992. Pakan Udang Windu. Kanisius, Yokyakarta.

78.

Suriatna. 1990. Makanan Ikan. ITB : Bandung.

79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.

94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105. LAMPIRAN
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.

121.

122.

123.

124.

125.

126.

127.
128.