Anda di halaman 1dari 2

At Thayyib (Yang Maha baik)

Ath-Thayyib adalah salah satu nama Allah Taalaa.


Nabi Shallallahualaihi wasallam telah menyebutkan nama Allah Taalaa ini dalam salah satu haditsnya,

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu,
membentangkan tangannya ke langit, Ya Rabb! Ya Rabb!, sedangkan makanannya haram, minumannya
haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, lalu bagaimana mau dikabulkan karena itu?
(Sahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)
Makna ath-Thayyib
Al-Qadhi Rahimahullah mengatakan, Ath-Thayyib dalam sifat Allah Taalaa bermakna yang suci dari
segala kekurangan dan itu bermakna al-Quddus, yang Mahasuci. Asal makna kata ath-Thayyib adalah
bersih suci dan bebas dari yang kotor. (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi)
Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, Ath-Thayyib di sini bermakna ath-Thahir, artinya suci dari segala
kekurangan dan aib seluruhnya. (Jami al-Ulum wal Hikam)
Buah Mengimani Nama Allah ath-Thayyib
Buahnya adalah mengetahui kesucian Allah Taalaa, keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya, tiada
sesembahan yang seperti-Nya, tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali dari segala sisi-Nya.
Di samping itu, di antara buahnya sebenarnya telah diterangkan oleh Nabi Shallallahualaihi wasallam
dalam hadits di atas, yaitu bahwa Allah Yang Maha baik tidak menerima selain yang baik.
Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, Allah Taalaa mencintai sifat-sifat-Nya, seperti disabdakan
Nabi Shallallahualaihi wasallam, Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai
pengampunan, sabdanya yang lain, Sesungguhnya Allah Taalaa indah dan mencintai keindahan, dan

sabda beliau, Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik. (ashShawaiqul Mursalah 4/ 1458, dinukil dari kitab Shifatullah al-Waridah hlm. 170)
Jadi, sebuah ucapan tidak akan diterima di sisi-Nya kecuali yang baik, amal perbuatan tidak akan
diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya melainkan yang baik.
Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya. Allah Taalaa berfirman,
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa ke dalam jannah (surga) berombong-rombongan
(pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan
berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah
baik! Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya. (az-Zumar: 73)
Maksudnya, baik kalbu kalian dengan mengenal Allah Taalaa, mencintai-Nya, maupun takut kepada-Nya,
baik lisan kalian dengan berzikir kepada-Nya maupun anggota badan kalian dengan taat kepada-Nya.
Dengan sebab kebaikan kalian, Masuklah kalian ke dalam jannah kekal di dalamnya, karena surga
adalah negeri yang baik tidak pantas masuk ke dalamnya selain mereka yang baik. (Tafsir as-Sadi)
Dengan ini, dalam hal makanan pun hendaknya selalu menjaga yang baik yakni terutama halal, karena
makanan akan berpengaruh pada amalan. Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahualaihi wasallam bercerita
di akhir hadits tersebut tentang seorang yang sudah berbuat baik dengan berdoa, bahkan dalam sebuah
perjalanan yang panjang, dalam kondisi sangat butuh kepada Allah Taalaa, kusut, berdebu,
membentangkan tangannya ke langit, lagi meminta-minta kepada Allah Taalaa sembari merengek
dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Ini adalah keadaan yang sangat mendukung terkabulnya doa.
Namun, Allah Taalaa tidak menerimanya dan menolak doanya. Mengapa? Karena makanannya haram,
dia tidak baik, kotor tubuhnya, tidak suci dari yang haram.
Oleh karena itu, jangankan kita, para rasul pun diperintah untuk memakan dari yang thayyib, baik, halal,
seperti dalam hadits tersebut.
Penulis : al Ustadz Qomar Suaidi Lc