Anda di halaman 1dari 6

CASE REPORT: BRONKOPNEUMONIA

Identitas Pasien
Nama

: An. R

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 5 tahun

Alamat

: Suradita

Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 15 Agustus 2009


Tinggi Badan

: 100 cm

Berat Badan

: 15 kg

Anamnesis
Alloanamnesis pada klinik anak Puskesmas Suradita
Keluhan Utama: Batuk 1 minggu (4 September 2014)
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan batuk dari 7 hari yang lalu, dengan batuk kering
yang kemudia menjadi produktif berwarna putih, darah (-) yang semakin hari
semakin parah. Pasien menjadi tidak aktif seperti biasanya dan nafsu makan
menurun. Si anak muntah setiap diberikan susu. Pada hari ke 3 (6 September
2014) suhu tubuh pasien meningkat, pasien diberikan obat pereda demam dan
suhu tubuh si anak mereda setelah beberapa kali meminum obat tersebut. Pada
hari ke 5 (8 September 2014) pasien terlihat sesak nafas dengan nafas tersengalsengal sehingga tidak dapat tertidur pulas, frekuensi batuk semakin parah dan
memutuskan untuk berobat ke puskesmas.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat penyakit seperti ini (-)


Alergi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat keluarga darah tinggi, diabetes, TBC (-)


Lingkungan sekitar TBC (-)

Riwayat Kebiasaan Anak

Anak makan sebanyak 3X sehari dengan menu beragam, namun seringkali


menolak sayur- sayuran
Anak memiliki asupan tambahan berupa susu formula
Anak sering sekali meminum berbagai minuman kemasan dengan es
Anak sering sekali memakan makanan kemasan (chiki)
Anak sering bermain diluar rumah dan kebersihan si anak kurang
(seringkali tidak mencuci tangan)

Riwayat Imunisasi: Ibu pasien lupa


Pemeriksaan Fisik
Berat Badan

: 15 kg

Tinggi Badan

: 100 cm

BMI

: 15 ( underweight)

Keadaan umum

: Lemah, pucat, kurang aktif

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
-

Tekanan darah: Nadi


: 120x/ menit (teratur, denyut cukup kuat)
RR
: 63x/ menit
Suhu Tubuh : 390 celcius

Kepala

: Tidak ada deformitas

Mata

: Simetris, konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-)

Telinga

: Simetris, discharge (-)

Mulut

: Mukosa basah, cyanosis (-), pembesaran tonsil (-)

Hidung

: Simetris, discharge (-), pernafasan cuping hidung (+)

Leher

: Deviasi trakea (-)

Thorax

: Bentuk thorax datar, luka(-), bekas operasi (-), massa (-),


diskolorisasi (-)

Cor

Pulmo

: Ictus cordis tidak terlihat, tidak bergeser, tidak kuat


angkat. Pelebaran batas jantung (-), Suara jantung S1-S2
normal, S3 (-), S4 (-), murmur (-), gallop (-)
: Bentuk dada simetris statis maupun dinamis, pernafasan
dangkal dan cepat, retraksi supclavicular (+), retraksi

intercostals (-), gerakan nafas lapang paru kanan dan kiri


normal dan seimbang. Suara perkusi sonor di kedua lapang
paru. Suara vesikuler kanan (+) melemah, kiri (+) normal.
Ronkhi basah halus seluruh lapang paru kanan (+), kiri (-).
Rabaan fremitus tidak dilakukan karena pasien tidak
kooperatif.
Abdomen

: Supel, bising usus normal, pembesaran hepar (-), suara


perkusi timpani.

Genitalia dan anus

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas
-

Atas
Bawah

: Simetris, edema (-), akral hangat


: Simetris, edema (-), akral hangat

Reaksi Ibu Pasien Terhadap Penyakit


Feeling
terlihat lesu
Idea

: Ibu merasa sangat khawatir karena si anak sakit dan


: Ibu telah mencoba memberikan anak obat syrup demam yang
dibelinya di warung namun hanya meredakan demam

Function

: Ibu merasa pekerjaannya terganggu karena harus menjaga pasien.

Expectation

: Si ibu berharap anaknya dapat segera sembuh dan kembali aktif

Resume
Seorang anak dengan usia 5 tahun dengan berat 15 kilogram dan tinggi
100 cm datang ke Puskesmas Suradita dengan diantar ibunya. Dengan keluhan
utama batuk yang berlangsung sudah 7 hari disertai sesak nafas. Pasien disebutkan
terlihat kurang aktif, pucat, sulit tertidur dan kurang nafsu makan. Terdapat
peningkatan suhu tubuh pada si anak pada hari ke 3(6 September 2014). Anak
muntah setiap diberikan susu formula. Pasien sudah diberikan obat pereda demam
dan suhu tubuh menurun. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien dalam
keadaan compos mentis dengan nadi 120x/ menit dan respiratory rate sebanyak
63x/ menit. Suhu tubuh pasien 390 celcius. Pada pemeriksaan per sistem, pada
pemeriksaan sistem integumen ditemukan kulit pasien pucat, peningkatan suhu
kulit, akral hangat. Pasien ditemukan melakukan pernafasan cuping hidung. Pada
pemeriksaan sistem pulmonal dapat terlihat pernafasan yang dangkal dan cepat,
bentuk dada simetris baik pada keadaan statis maupun dinamis. Terdapat batuk
yang produktif dengan dahak berwarna putih. Pasien menggunakan otot aksesori
sebagai alat bantu untuk bernafas dengan ditemukannya adanya retraksi sub

clavicular. Bunyi perkusi sonor pada kedua lapang paru, ditemukan ronhki basah
halus dan suara nafas melemah saat di auskultasi pada lapang paru bagian kanan.
Pasien mengalami muntah muntah setiap kali minum susu.
Analisis
Diagnosis Banding

: Bronkopneumoniae, TBC paru

Diagnosa

: Bronkopneumoniae

Pembahasan penyakit:
Bronkopneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh
bermacam- macam etiologi jamur, bakteri, virus dan benda asing
(Ngastiyah,2005). Pneumonia tercatat sebagai penyebab utama morbiditas dan
mortalitas pada anak berusia dibawah 5 tahun. Sebagian besar pneumonia terjadi
pada belahan dunia bagian Afrika dan Asia Tenggara. Penyebab utama pneumonia
adalah Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, dan Staphylococcus
aureus.
Sebenarnya bakteri hidup normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat
pertahanan tubuh menurun, seperti usia lanjut, dan malnutrisi, dan dalam keadaan
terinfeksi. Bakteri pneumonia dapat cepat berkembang dan merusak organ paruparu. Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu mikroorganisme paru
banyak disebabkan oleh reaksi imun dan peradangan yang dilakukan oleh pejamu.
Organisme ini juga mengeluarkan toksin yang dapat secara langsung merusak selsel system pernapasan bawah. Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun
dan peradangan yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari
lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus
paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan
(Sipahutar, 2007)
Pada umumnya gambaran klinis penderita pneumonia berkisar antara
ringan sampai sedang, dan dapat diobati dengan berobat jalan, hanya sebagian
kecil pneumonia yang mengancam kehidupan, sehingga hanya sedikit yang
membutuhkan perawatan inap di rumah sakit. Pada penderita bronkopneumonia
pada awalnya akan ditemukan infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa
hari, yang kemudian akan diikuti dengan adanya demam yang dapat meningkat
tiba- tiba berkisar 39o 40o celcius, pada beberapa kasus timbul kejang karena
demam yang tinggi. Anak akan merasa gelisah, sesak nafas, pernafasan cepat dan
dangkal disertai dengan pernafasan cuping hidung, dan juga diketemukan
sianosis. Batuk pada awalnya akan berupa batuk kering yang akan meningkat
menjadi produktif.

Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita pneumonia anak adalah


bakterimia, sepsis, penumothoraks. Pencegahan berupa imunisasi sangat berperan
dalam penyakit ini, Imunisasi berupa Hib, pneumokokus, campak dan pertusis
adalah cara yang efektif untuk mencegah. Pencegahan non imunisasi daoat berupa
perbaikan gizi, menjaga kebersihan .
Pengobatan Pneumonia
Menurut Mansjoer (2000), pengobatan pneumonia dapat dilakukan dengan
cara pemberian antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :
1. Untuk kasus pneumonia community base :
Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
Klorampenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
2. Untuk pneumoni hospital base :
Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
Amikasin 10 15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
Rekomendasi untuk Ibu Pasien dan Pasien
Mengkomsumsi obat- obatan yang telah diberikan secara rutin dan teratur.
Pola gizi si anak pun harus diperhatikan, dengan memakan makanan yang bergizi.
Si ibu harus berusaha mensiasati agar si anak mau memakan makanan yang
bergizi apabila si anak menolak. Komsumsi makanan kemasan dan minuman
kemasan sebaiknya dikurangi agar tidak menggaggu asupan makanan yang bergizi
bagi si anak.
Pola kebersihan si anak pun harus diperbaiki, dengan dimulai dengan hal
kecil seperti mencuci tangan. Pola kebersihan bukan hanya diterapkan pada si
anak, namun sebaiknya diterapkan juga pada lingkungan sekitar si anak, agar
tempat tumbuh kembang si anak adalah tempat tumbuh kembang yang baik.
Imunisasi si anak pun harus diperhatikan, dengan imunisasi yang baik dan pola
hidup yang baik, akan menurunkan resiko si anak dapat terkena penyakit yang
sama pada kemudian hari.
Untuk orang sekitar disarankan untuk tidak makan bersama maupun
bercampur alat makan, mengingat penularan penyakit ini yang dapat menular
melalui droplets. Si ibu juga harus memperhatikan agar si anak tidak membuang
dahak sembarangan. Piranti makan si anak sebaiknya dicuci secara terpisah dan
disiram oleh air panas sebelum mencuci menggunakan sabun.

Daftar Pustaka

1. Gray D, Zar HJ. Childhood Pneumonia in Low and Middle Income


Countries: Burden, Prevention and Management. The Open Infectious
Diseases Journal. 2010;4:74-84.
2. Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : media aesculapius.
3. Madhi SA, Levine OS, Hajjeh R, Mansoor OD, Cherian T. Vaccines to
prevent pneumonia and improve child survival. Bulletin of the World Health
Organization. 2008;86:36572.
4. Nurhaeni N, Sutadi H, Rustina Y, Supriyatno B. Pemberdayaan Keluarga
pada Anak Balita Pneumonia di Rumah Sakit: Persepsi Perawat Anak dan
Keluarga. Makara Kesehatan. 2011;15(2):58-64
5. Sipahutar.2007.KonsepPneumonia.http://www.medicastore.com/med/detail_p
yk.php?id. di akses tanggal 06 Desember 2014