Anda di halaman 1dari 10

Analisa Biodiesel Sawit dalam Biosolar dengan Spektroskopi Near Infrared (Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono H)

Analisis Biodiesel Sawit dalam Biosolar


dengan Spektroskopi Near Infrared
Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono Herawan
Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Jl. Brigjend Katamso No.51 Medan
E-mail: hasibuan_abdi@yahoo.com
Teregistrasi I tanggal 9 November 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 12 Desember 2012
Disetujui terbit tanggal: 31 Desember 2012

ABSTRAK
Campuran biodiesel sawit dan solar telah dikomersialisasikan oleh PERTAMINA yang disebut dengan
biosolar. Sifat sika dan kimia antara biodiesel sawit dan solar berbeda sehingga memungkinkan adanya
perbedaan konsentrasi biodiesel pada biosolar dari SPBU ke pengguna. Hal ini dapat mempengaruhi
performa dan esiensi dari mesin kendaraan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh metode akurat dan
cepat dalam analisis konsentrasi biodiesel pada biosolar. Metode yang dikembangkan adalah spektroskopi
near infrared (NIR) dan kromatogra gas (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan konsentrasi
biodiesel berdasarkan kalibrasi NIR dan regresi kromatogram GC relatif konsisten. Penentuan konsentrasi
biodiesel dengan NIR dan GC diperoleh koesien korelasi (R2) masing-masing sebesar 0,9998 dan 0,972.
Uji korelasi metode NIR lebih tinggi dibandingkan metode GC sehingga metode NIR terverikasi untuk
digunakan dalam penentuan konsentrasi biodiesel pada biosolar. Kelebihan teknik NIR adalah waktu
analisis cepat, tanpa preparasi dan tidak menggunakan pelarut. Selain itu metode ini relatif aman bagi
teknisi dan ramah lingkungan.
Kata Kunci: biodiesel, biosolar, solar, spektroskopi NIR, kromatogra gas
ABSTRACT
A mixture of palm biodiesel and solar called biosolar have been commercialized by PERTAMINA.
The chemical and physical properties of palm biodesel and solar are different, as a result it may create
dissimilar biodiesel concentration in the biosolar from pump to user. This can affect the performance and
eciency of the engine. The study was conducted in order to obtaine acurate and rapid method of analysis
of biodiesel concentration in biosolar. The method developed were near infrared spectroscopy and gas
chromatography. The results show that determination of biodiesel concentration based on NIR callibration
and regression of GC chromatogram are relatively consistent. The coefcient correlations (R2) of NIR and
GC obtained for prediction of biodiesel concentration are 0.9998 and 0.972, respectively. NIR method
correlation test is higher than GC and veried for determination of biodiesel concentration in biosolar.
NIR is a rapid analysis method, neither preparation, nor solvent is required. In addition, this method is
relatively safe for the analyst and environment.
Keywords: biodiesel, biosolar, diesel, NIR spectroscopy, gas chromatography

I. PENDAHULUAN
Biodiesel sawit merupakan bahan bakar alternatif
terdiri atas alkil ester asam lemak yang dibuat
dengan cara transesterikasi minyak sawit dengan
alkohol. Biodiesel sangat kompetitif dengan solar
yang dihasilkan dari minyak bumi. Biodiesel lebih

ramah lingkungan karena dapat menurunkan emisi


CO2 dan SOx(1,19,20). Sejak 2006, PERTAMINA telah
menjual biosolar dengan campuran solar 95% dan
biodiesel 5%(18).
Peningkatan emisi NOx dianggap salah satu
masalah dari biodiesel dan campuran biodiesel
135

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46 No. 3, Desember 2012: 135 - 143

dibandingkan dengan solar pada mesin diesel. Emisi


NOx dapat diturunkan dengan memperlambat waktu
pembakaran bahan bakar pada mesin diesel. Hal
ini diperoleh dengan penambahan waktu injeksi
sesuai konsentrasi biodiesel dalam biosolar(5,7,8,21).
Berbedanya konsentrasi biodiesel menyebabkan
sifat sika kimia dari biosolar juga berbeda seperti
densitas, viskositas, ash point, pour point dan cloud
point sehingga penentuan konsentrasi biodiesel
menjadi penting.
Penentuan konsentrasi biodiesel pada campuran
biodiesel-solar yang telah dikembangkan adalah
menggunakan metode spektroskopi diantaranya infra
red(5,15), nuclear magnetic resonance(14), dan near
Infrared(10,16). Sedangkan, metode kromatogra gas
(GC) belum dikembangkan.
Penelitian ini fokus dilakukan dalam
pengembangan metode analisis cepat dan akurat,
khususnya kontrol mutu. Sehingga, kajian ini
dilakukan untuk menentukan metode yang akurat
dalam penentuan konsentrasi biodiesel dari biosolar.
Penelitian ini dilakukan dengan uji banding dua
metode yaitu spektroskopi near infra red dan GC.
II. BAHAN DAN METODE
A. Bahan
Sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah refined bleached deodorized palm
oil (RBDPO) (IV = 51,01) yang diperoleh dari
perusahaan minyak goreng di Medan, solar dari
SPBU di propinsi Aceh dan biosolar dari SPBU di
Aceh, Medan dan Riau. Bahan-bahan kimia seperti
heksan p.a, isooktan p.a, triorobromida (BF3) p.a,
natrium klorida p.a, kalium hidroksida p.a diperoleh
dari suplier lokal E. Merck.
B. Metode
1. Pembuatan Biodiesel sawit dan Campuran
Biodiesel - Solar
RBDPO direaksikan dengan metanol pada rasio
mol 1:6 dan ditambahkan katalis kalium hidroksida
1% (b/b). Campuran dipanaskan pada suhu 60oC
selama 1,5 jam dan setelah waktu tercapai, gliserol
dipisahkan dari metil ester. Metil ester dicuci dengan
air (suhu 45-50oC) hingga diperoleh pH 7. Campuran
dengan konsentrasi biodiesel 0-100% dibuat dengan
mencampurkan biodiesel dengan solar.
136

2. Analisa Kadar Biodiesel pada Campuran Biodiesel


-Solar
Kadar gliserol, ester, monogliserida (MG),
digliserida (DG) dan trigliserida (TG) pada biodiesel
ditentukan dengan metode standar AOCS(2) dan
densitas, viskositas, ash point, pour point, dan cloud
point pada biodiesel dan solar mengacu pada metode
standar ASTM(3).
a. Teknik analisis menggunakan NIR
Analisis dengan NIR dilakukan tanpa preparasi.
Spektroskopi NIR yang digunakan adalah seri
XDS near infrared, FOSS. Spektroskopi bekerja
menggunakan asesoris flow sel transmisi panas
dilengkapi dengan quartz windows dengan panjang
5 mm. Absorbansi dari sampel diukur pada daerah
400-2500 nm.
Campuran biodiesel-solar diukur absorbansinya
dengan alat NIR. Data yang diperoleh dari sistem
digunakan sebagai referensi untuk mengkalibrasi
sistem NIR dan memvalidasi prediksinya. Spektra dari
sampel dan data konsentrasi biodiesel dimasukkan
ke dalam program analisis untuk mengembangkan
kalibrasi NIR. Korelasi antara masing-masing spektra
dikembangkan dengan metode Partial Least Square
(PLS) untuk memprediksi nilai dari parameter
tersebut(11,12).
Regresi PLS merupakan metode kalibrasi pada
NIR dengan cara menyeleksi beberapa spektrum yang
diinvestigasi secara simultan. Proses tersebut dapat
menghubungkan antara spektra dengan data hingga
dihasilkan koesien korelasi (R2). Dalam kajian ini,
seleksi daerah panjang gelombang dan jumlah faktor
digunakan dalam model kalibrasi sesuai dengan
predicted residual error sum of squares (PRESS).
Nilai minimum dan maksimum selalu ditempatkan
pada daerah kalibrasi dan diyakinkan bahwa standar
eror kalibrasi lebih kecil dari standar eror validasi.
Evaluasi dari kesalahan pada kalibrasi dibandingkan
dengan data faktual diprediksi secara komputerisasi
yang disebut dengan standar error of calibration
(SEC)(6,13).
b. Teknik analisis menggunakan GC
Penentuan campuran biodiesel-solar dilakukan
dengan metode AOCS Ca 6c-65(2) (metode penentuan
hidrokarbon dalam minyak) yang dimodifikasi.
Kromatografi gas (GC) yang digunakan adalah
Shimadzu 14 B dilengkapi kolom DB 5 HT. Program
GC yang digunakan injektor 380C, detektor 380C,

Analisa Biodiesel Sawit dalam Biosolar dengan Spektroskopi Near Infrared (Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono H)

temperatur awal 50C dinaikkan menjadi 180C


(kenaikan suhu 15C/menit), dinaikkan menjadi
230C (kenaikan suhu 7C/menit), dinaikkan menjadi
380C (kenaikan suhu 4C/menit).
Campuran biodiesel-solar dipreparasi
menggunakan petroleum eter dan diinjeksikan ke GC.
Luas area dari puncak yang diduga ester diplotkan
terhadap konsentrasi biodiesel aktual. Hasil plot
keduanya diperoleh persamaan garis regresi dan
koesien korelasi.
3. Uji Konsistensi
Uji konsistensi dilakukan dengan membuat
campuran biodiesel dan solar dengan konsentrasi
biodiesel 0; 1; 2; 3; 4; 5; 7,5; 10,5; 12,5; 20%.
Sampel dianalisis dengan NIR dan GC, hasilnya
dibandingkan dengan nilai aktualnya dan dihitung
% perolehan kembali (% recovery).
4. Penentuan Konsentrasi Biodiesel pada Biosolar
Komersial
Sebanyak 40 sampel biosolar yang diperoleh
dari SPBU di propinsi Aceh, Sumatera Utara dan
Riau ditentukan kadar biodieselnya menggunakan
alat NIR.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Bahan Baku

gelombang <1100 nm dan > 2200 tidak informatif


maka spektra pada kisaran tersebut dikeluarkan pada
saat kalibrasi dan hanya menggunakan 1100-2200
nm.
Interpretasi dari puncak spektrum diprediksi
berdasarkan posisi dari ikatan masing-masing unsur
pada daerah NIR(11). Ikatan C-H terindikasi pada
kisaran panjang gelombang 2200-2400 nm dan
1100-1450 nm. Daerah panjang gelombang 15001800 nm terdiri dari ikatan overtone C-H dan O-H.
Panjang gelombang 1179 dan 1695 nm terindikasi
adanya overtone CH=CH- dalam bentuk cis. Telah
diketahui juga bahwa pada 2100-2200 diidentikasi
sebagai ikatan rangkap karbon dalam bentuk
isomer cis yang menandakan adanya asam lemak
dalam molekul lemak. Informasi tentang komposisi
asam lemak dalam kisaran panjang gelombang
tersebut berdasarkan derajat kejenuhan dari ikatan
karbon(5,13,17).
Coronado et al., (2009), menunjukkan bahwa
biodiesel pada konsentrasi berbeda akan menunjukkan
perbedaan absorbansi(5). Dan perbesaran spektra pada
2046-2200 nm dalam sampel penelitian ini, terlihat
adanya perbedaan tinggi puncak yang ditandai
dengan perbedaan warna (tanda panah) dari masingmasing sampel. Spektrum solar 100% pada panjang
gelombang 2068-2166 berada di bagian bawah
dan dengan penambahan konsentrasi biodiesel
maka absorbansi pada spektrumnya semakin besar.
Sedangkan spektrum dari biodiesel 100% berada di
bagian paling atas (Gambar 1), artinya mempunyai
absorbansi yang paling besar.

Karakteristik biodiesel sawit hasil proses


transesterikasi rened bleached deodorized palm oil
(RBDPO) dan solar sebagai bahan baku campuran
ditunjukkan pada Tabel 1. Biodiesel yang dihasilkan
sesuai dengan standar SNI-04-7182-2006(4).
Tabel 1
Meskipun kadar monogliserida (MG),
Karakteristik
biodiesel
sawit dan solar
digliserida (DG), dan trigliserida (TG)
Parameter
Biodiesel SNI Biodiesel*
Solar
tidak tercantum namun dari kadar ester
dan gliserol pada SNI dapat dihitung
Gliserol, %
0,21
Maks. 0,24
syarat dari total ketiga gliserida yaitu
Ester, %
99,57
Min. 96,5%
tidak lebih dari 3,26% dan biodiesel
MG, %
0,22
hasil penelitian ini hanya sebesar
Maks. 3,26%***
DG, %
0
0,22%.
TG, %
0
B. Analisis Menggunakan NIR
Sebanyak 60 campuran biodieselsolar dengan konsentrasi biodiesel
0-100% dianalisis dengan alat NIR
untuk menghasilkan spektra. Gambar
1 menunjukkan absorbansi pada
beberapa campuran. Noise pada panjang

Spek. Solar **
-

Densitas, kg/m 3 (40oC)

878,1

850-890

809,7

820-870 (15 oC)

Viskositas, cSt (40 oC)

5,5

2,3-6,0

3,83

1,6-5,8
-

Bilangan Iod, Wijs

51,01

maks. 115

Air dan Kotoran, %

0,01

maks. 0,05

Bilangan Asam, %

0,09

maks. 0,8

Flash Point, oC

162

min. 100

76,2

Min. 60

Keterangan: *SNI-04-7182-2006(4), **Wirawan, 2006(18), *** diperkirakan berdasarkan kadar


ester dan gliserol

137

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46 No. 3, Desember 2012: 135 - 143

Gambar 1
Spektrum absorpsi campuran biodiesel (panjang gelombang 1100-2200 nm)

Tabel 2 menunjukkan hasil analisis


PLS terhadap konsentrasi biodiesel.
Data hasil analisis dengan NIR diplotkan
dengan nilai aktual dan diperoleh kurva
regresi yang ditunjukkan pada Gambar
2. Persamaan standar yang diperoleh
dituliskan sebagai berikut:
X = Y ................................................ (1)
X adalah konsentrasi biodiesel
menggunakan NIR dan Y adalah konsentrasi
biodisel aktual. Hasil pembacaan NIR
dengan metode standar berada pada
garis yang sama dan ditunjukkan dengan
koesien korelasi yang tinggi (R2 sebesar
0,9998). Umumnya, nilai koefisien
korelasi yang baik adalah lebih besar
dari 0,9(14). Standar eror kalibrasi (SEC)
dan standar eror validasi (SEV) yang
diperoleh memiliki nilai yang hampir
sama dan cukup rendah berkisar < 0,5.
Ini menunjukkan bahwa metode PLS pada
setiap parameter di atas cukup valid.
138

Gambar 2
Kurva regresi menggunakan NIR

Analisa Biodiesel Sawit dalam Biosolar dengan Spektroskopi Near Infrared (Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono H)

C. Analisis Menggunakan Kromatogra Gas


Biodiesel terdiri atas alkil ester asam lemak dan
kadar ester yang umumnya ditentukan menggunakan
kromatogra gas (GC) sesuai metode standar AOCS.
Penentuan hidrokarbon pada minyak juga dapat
ditentukan menggunakan GC (AOCS Ca 6c-65)(2).
Sehingga campuran biodiesel-solar dapat ditentukan
menggunakan GC.
Hasil analisis kadar ester biodiesel pada GC
menunjukkan dua buah puncak pada waktu retensi

Tabel 2
Standar eror kalibrasi, standar eror validasi,
koesien korelasi dan jumlah faktor dengan
metode PLS pada spektroskopi NIR
Campuran biodiesel-solar

Parameter
Biodiesel

SEC

SEV

R2

Faktor

Regresi

0,4671

0,5104

0,9998

y=x

Keterangan:
SEC =standard error of calibration , SEV = standard error of validation ,
R2 = koefisien korelasi, * = model predicted residual error sum of squares (PRESS),
y = nilai secara NIR, x = nilai aktual

Gambar 3
Kromatogram biodiesel sawit

Gambar 4
Kromatogram solar murni

139

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46 No. 3, Desember 2012: 135 - 143

Gambar 5
Kromatogram campuran biodiesel sawit dan solar (5:95) (biosolar, B5)

9-10 menit (Gambar 3). Sedangkan hasil analisis kadar


ester pada solar murni tidak menunjukkan puncak.
Namun, kromatogram solar menunjukkan puncakpuncak kecil dengan retensi yang mendekati dengan
ester (Gambar 4). Sehingga pada campuran biodieselsolar (contoh campuran dengan konsentrasi biodiesel
5%) (Gambar 5), puncak yang mengindikasikan
ester dikurangi dengan puncak-puncak kecil dari
kromatogram solar. Luas area puncak solar pada
campuran biodiesel-solar diplotkan dengan nilai
konsentrasi biodiesel aktual diperoleh kurva kalibrasi
yang ditunjukkan pada Gambar 6. Persamaan standar
yang dihasilkan dituliskan sebagai berikut:
X = Y/16066 .............................. (2) dengan korelasi
r2 = 0,972
X adalah konsentrasi biodiesel dan Y adalah luas
area puncak ester.
D. Uji Konsistensi
Untuk membuktikan persamaan kurva standar
kedua metode tersebut di atas dapat dinyatakan
baik, dilakukan verifikasi dengan membuat satu
set sampel yang lain. Verikasi dilakukan dengan
penentuan perolehan kembali (% recovery). Gambar
7 menunjukkan perolehan kembali dari penentuan

140

Gambar 6
Kurva regresi luas area biodiesel
dengan konsentrasi biodiesel menggunakan GC

konsentrasi biodiesel menggunakan NIR dan GC.


Data dengan metode NIR tidak berbeda jauh dari
nilai sebenarnya dengan perolehan kembali (80107,6%) sedangkan menggunakan GC diperoleh 70111%. Persen rekoveri menggunakan NIR lebih baik
dibandingkan dengan GC karena nilai yang dapat
dinyatakan baik jika berada pada kisaran 80-110%(9).
Ini menunjukkan bahwa kalibrasi menggunakan NIR
cukup valid dan dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi bodiesel pada biosolar.

Analisa Biodiesel Sawit dalam Biosolar dengan Spektroskopi Near Infrared (Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono H)

E. Penentuan Konsentrasi Biodiesel pada


Biosolar Komersial
Tabel 3 menunjukkan konsentrasi biodisel
yang diperoleh dari SPBU di Aceh, Sumut dan
Riau. Biosolar yang didistribusikan memiliki
konsentrasi biodiesel berbeda dari masing-masing

SPBU dengan kisaran 3,1-12,9%. Coronado (2009)


juga menyatakan bahwa konsentrasi biodiesel akan
berbeda dari pompa ke pompa dan pengguna ke
pengguna(5). Hal ini disebabkan oleh biodiesel dan
solar memiliki sifat sika dan kimia yang berbeda
seperti densitas, viskositas dan lain-lain.

Gambar 7
Perolehan kembali kadar biodiesel dalam biosolar menggunakan NIR dan GC
Tabel 3
Konsentrasi biodiesel pada biosolar di SPBU (Aceh, Sumut, dan Riau)
Sampel

Biodiesel, %

Sampel

Biodiesel, %

Sampel

Biodiesel, %

Sampel

Biodiesel, %

SPBU 1

5,1

SPBU 11

10,4

SPBU 21

5,9

SPBU 31

5,1

SPBU 2

5,5

SPBU 12

11,9

SPBU 22

12,3

SPBU 32

5,6

SPBU 3

6,0

SPBU 13

12,9

SPBU 23

5,6

SPBU 33

3,6

SPBU 4

5,3

SPBU 14

7,1

SPBU 24

5,3

SPBU 34

5,2

SPBU 5

5,4

SPBU 15

7,3

SPBU 25

5,2

SPBU 35

5,4

SPBU 6

5,3

SPBU 16

10,6

SPBU 26

5,1

SPBU 36

4,0

SPBU 7

5,5

SPBU 17

6,3

SPBU 27

5,3

SPBU 37

3,1

SPBU 8

5,3

SPBU 18

12,6

SPBU 28

5,2

SPBU 38

4,2

SPBU 9

5,5

SPBU 19

5,7

SPBU 29

5,0

SPBU 39

5,0

SPBU 10

6,2

SPBU 20

12,3

SPBU 30

4,6

SPBU 40

4,9

141

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46 No. 3, Desember 2012: 135 - 143

IV. KESIMPULAN
Kajian ini menunjukkan bahwa spektroskopi
NIR dan kromatogra gas (GC) dapat digunakan
untuk menentukan konsentrasi biodisel pada biosolar.
Persamaan standar yang dapat digunakan untuk
menentukan konsentrasi biodisel menggunakan NIR
dan GC masing-masing adalah y = x (r2 = 0,9998) dan
y = 16066x (r2 = 0,972). Berdasarkan uji verikasi
menunjukkan kalibrasi NIR (% recovery 80-107,6%)
lebih baik dibandingkan GC (70-111,4%). Kelebihan
teknik analisis konsentrasi biodisel pada biosolar
menggunakan NIR ini adalah analisis dapat dilakukan
dengan cepat, tidak menggunakan pelarut, relatif
aman bagi teknisi dan ramah lingkungan.

9.

10.

11.

12.

KEPUSTAKAAN
1. Alamu, O.J., E.A. Adeleke, N.O. Adekunle, dan S.O.
Ismaila, 2009, Power and Torque Characteristics of
Diesel Engine Fuelled by Palm Kernel Oil Biodiesel,
Leonardo Journal of Sciences, ISSN 1583-0233, 14;
66-73.
2. American Oil Chemists Society, 1998, Ofcial
Methods and Recommended Practices of the American
Oil Chemists Society, 4th ed, American Oil Chemists
Society, Champaign, IL.
3. ASTM-IP Petroleum Measurement Tables, 1953,
Prepared jointly by American Society for Testing
Materials and the Institute of Petroleum, ASTM
Designation: D1250, IP Designation: 200, West
Conshohocken, Pa.: ASTM.
4. Badan Standardisasi Nasional, 2006, Standar Nasional Indonesia : Biodiesel, SNI-04-7182-2006.
5. Coronado, M., W. Yuan, D. Wang, dan F.E.
Dowell, 2009, Predicting The Concentration And
Specic Gravity of Biodiesel-Diesel Blends Using
Near-Infrared Spectroscopy, American Society of
Agricultural and Biological Engineers, Vol. 25(2):
217-221.
6. Galtier, O., N. Dupuya, Y.L. Dreau, D. Ollivier, C.
Pinatel, J. Kister, dan J. Artaud, 2007. Geographic
origins and compocitions of virgin olive oils
determinate by chemometric analysis of NIR spectra,
Analytica Chimica Acta, 595: 136 144.
7. Grimaldi, C.N., L. Postrioti, M. Battistoni, dan
F. Millo, 2002, Common rail HSDI diesel engine
combustion and emissions with fossil/bio-derived fuel
blends, SAE Tech, Paper 2002-01-6085, Warrendale,
Pa.: SAE.
8. Hansen, A.C., M.R. Gratton, dan W. Yuan, 2006,
Diesel engine performance and NOx emissions from

142

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

oxygenated biofuels and blends with eiesel, Trans.


ASABE, 49(3): 589-595.
Harmita, 2004, Petunjuk pelaksanaan validasi metode
dan cara perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian,
Vol. 1: 117-135.
Knothe, G., 2001, Analytical Methods used in The
Production and Fuel Quality Assesment of Biodiesel,
Transactions of the ASAE, American Society of
Agricultural Engineers, Vol. 44 (2): 193-200.
Li. H., V.D. Voort., A.A. Ismail, J. Sedman, R. Cox,
C. Simardo, dan H. Buijs, 2000a, Discrimination of
Edible Oil Products and Quantitative Determination of
Their Iode Value by Fourier Transform Near Infrared
Spectroscopy, JAOCS, Vol. 77. No. 1: 29-36.
Li. H., F.R. van de Voort, A.A. Ismail, dan R. Cox,
2000b, Determination of Peroxide Value by Fourier
Transform Near-Infrared Spectroscopy, JAOCS, Vol.
77. No. 2. 137 142.
Manley, M., dan K. Eberle, 2006, Comparison of
Furier Transform Near Infrared Spectroscopy Partial
Least Square Regression Medols for South African
Extra Virgin Olive Oil using Spectra Collected on Two
Spectrophotometers at Doifferent Resolution and Path
Lengths, J. Near Infrared Spectrosc, 14: 11- 126.
Monteiro, M.R., R.P. Alessandra, Ambrozin, L.M.
Lia, E.F. Boffo, E.R.P. Filho, dan A.G. Ferreira,
2009, H-NMR and Multivariate Calibration for
the Prediction of Biodiesel Concentration in Diesel
Blends, JAOCS, 86: 581-585.
Monteiro, M.R., Ambrozin A.R.P, Liao L.M., dan
Ferreira, A.G., 2008, Critical review on analytical
methods for biodiesel characterization, Talanta,
77:593605.
Pacheco F.J.G., M. Pimentel, L. Stragevitch,
L.S.G. Teixeira, G.M.G. Ribeiro, dan R.S.Cruz,
2006, Determination of the blend level of mixtures
of biodiesel with mineral diesel fuel using near
infrared spectroscopy, Bioenergy I, Tomar, Portugal,
Engineering International Conferences.
Weyer, L.G., dan S.C. Lo, 2002, Spectra Structure
Correlations in the Near Infrared, John Willey and
Sons, 1817 - 1837p.
Wirawan, S.S., dan A.H. Tambunan, 2006,
The Current Status and Prospects of Biodiesel
Development in Indonesia : A Review, Prosiding of
Third Asia Biomass Workshop, 16 November 2006.
Tsukuba. Japan. 1-15.
Yadav, P.K.S., O. Singh, dan R.P. Singh, 2010,
Performance Test of Palm Fatty Acid Biodiesel on
Compression Ignition Engine, Journal of Petroleum
Technology and Alternative Fuels, Vol. 1(1): 1-9.

Analisa Biodiesel Sawit dalam Biosolar dengan Spektroskopi Near Infrared (Hasrul Abdi Hasibuan dan Tjahjono H)

20. Yacob, A.R., M.K.A.A. Mustajab, dan N.S. Samadi,


2009, Calcination Temperature of Nano MgO Effect
on Base Transesterification of Palm Oil, World
Academy of Science, Engineering and Technology,
56, 2009, 408-412.

21. Yuan, W., A.C. Hansen, dan Q. Zhang, 2007,


Computational modeling of NOx emissions from
biodiesel combustion, Intl. J. Vehicle Design,
45(1/2): 12-32.

143

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46 No. 3, Desember 2012: 135 - 143

144