Anda di halaman 1dari 5

Muammar Fuadi

03041281320041

PROPAGASI HORN ANTENNAMICROWAVE DI RUANG BEBAS


Propagasi gelombang yang diteliti adalah lintasan Line of Sight (LOS) dan
Non Line Of Sight (NLOS). Dari pengukuran dapat diketahui bahwa, semakin
jauh jarak penerima terhadap pemancar maka level daya yang diterima akan
semakin kecil dan dipengaruhi dengan keadaan lingkungan yang ada. Proyek
akhir ini, telah dapat menghasilkan sebuah program visualisasi perambatan
gelombang elektromagnetik pada propagasi indoor 2,4 GHz dengan menggunakan
metode ray tracing 2D pada Java 2SE. Kata kunci: Wi-Fi, Level Daya Sinyal, Ray
Tracing, Java 2 SE I. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan teknologi
telekomunikasi yang cukup pesat, semakin banyak pula sistem komunikasi dalam
ruang (indoor) yang menggunakan Wi-Fi. Dimana, Wi-Fi bekerja pada jaringan
dan perangkat sistem komunikasi nirkabel (wireless communication system),
contohnya jaringan WLAN.
Bagian

terpenting

dalam

komunikasi

nirkabel

adalah

propagasi

gelombang. Propagasi gelombang radio didefinisikan sebagai perambatan


gelombang radio di suatu medium (umumnya udara). Gelombang radio akan
melakukan propagasi untuk mentransmisikan suatu informasi. Propagasi
gelombang radio dapat dikatakan ideal jika gelombang yang dipancarkan oleh
antena pemancar diterima langsung oleh antena penerima tanpa melalui suatu
hambatan (line of sight/LOS). Seluruh pemodelan dasar pada propagasi radio,
disebut sebagai model propagasi ruang bebas (free space). Propagasi ruang bebas
(free space) terjadi apabila diantara transmitter dan receiver tidak terdapat
penghalang apapun. Proyek akhir ini mengacu pada penelitian yang pernah
dilakukan oleh [1] Cyntia Widiasari dalam proyek akhirnya membuat visualisasi
radiasi emisi pada link komunikasi kanal multipath dimana, data pengukuran
ditransmisikan melalui proses ray tracing. Pembuatan program dengan
menggunakan software Visual C++ berbasis OpenGL.
Sedangkan pada proyek akhir ini akan dibahas tentang suatu visualisasi
jalannya propagasi gelombang elektromagnetik dari transmitter (Tx) ke receiver

Propagasi Horn Antenna-Microwave Di Ruang Bebas P6 - 1

M Qorie Suhendi

Muammar Fuadi
03041281320041

(Rx) yang dapat menunjukkan perubahan fase pada sinyal dengan pengukuran
level daya dalam ruang pada Wi-Fi 2,4 GHz menggunakan metode Ray Tracing
dengan tampilan 2D dalam bentuk gambar bergerak dengan menggunakan
software Java 2 SE. Karena sulitnya memahami jalannya propagasi gelombang
elektromagnetik dari transmitter (Tx) ke receiver (Rx) yang menunjukkan
perubahan fase pada sinyal yang tidak kasat mata, maka perlu adanya visualisasi.
Sumber : Visualisasi Propagasi Gelombang Indoor Pada Wi-Fi 2,4 GHz Nur
Khasanah, Tri Budi Santoso1 , Haniah Mahmudah.
. Seiring dengan perkembangan para peneliti baik yang bersifat komersil
maupun riset telah banyak menyajikan disain antena yang tepat untuk keperluan
komunikasi tersebut [Sujarwati dkk,2002], [Oktafiani dkk,2005], dan [Suherman
dkk,2008]. Antena horn [Aswoyo dkk, 2000] dan [Ohri dkk, 2003] dengan disain
yang sederhana telah diteliti dan mempunyai penguatan antara 9,5 sampai 22,0
dBi. Lebar pita yang luas iini menjadikan antena horn ideal untuk berbagai
aplikasi broad band. Ada dua tipe antena horn yaitu rectangular horn dan circular
horn. Antena rectangular horn mempunyai waveguide dan aperture horn
berbentuk kotak sedangkan antena circular horn terdiri dari waveguide dan
aperture horn yang berbentuk silinder. Salah satu bentuk antena rectangular horn
adalah antena pyramidal horn dengan pelebaran di kedua bidang E dan H dengan
berbasis saluran pandu gelombang (waveguide). Antena pyramidal horn pada
umumnya dioperasikan pada frekuensi gelombang mikro (microwave) diatas
1.000 MHz. Antena Bi-horn yang terdiri dari gabungan dua antena horn dengan
satu pandu gelombang kotak ditengahnya menjadi obyek penemuan kami yang
cukup menarik, secara detail struktur dan karakteristiknya akan dipaparkan dalam
makalah ini.
Sumber : Seminar Nasional Informatika 2009 PROTOTIPE ANTENA BIHORN DENGAN DUA ARAH RADIASI DAN SATU FEEDING MONOPOLE
BEROPERASI PADA FREKUENSI 2,4 GHz Ifa Hidayah.

Propagasi Horn Antenna-Microwave Di Ruang Bebas P6 - 2

M Qorie Suhendi

Muammar Fuadi
03041281320041

Pada penelitian sebelumnya Ir. Budi Aswoyo, MT dosen politeknik


Elektronika Negeri Surabaya telah melakukan penelitian dengan judul
perancangan optimasi dan implementasi antena horn sektoral bidang-E pada
frekuensi band-X [1]. Dalam penelitian tersebut disajikan tentang antena horn
sektoral bidang-E, perancangan optimasi dan implementasinya pada frekuensi
gelombang mikro (mikrowave) bandX, tepatnya 9.000 MHz. Sehingga
menghasilkan pengarahan radiasi (directivity) yang optimum. Perancangan
optimasi ini dilakukan dengan menggunakan algoritma genetika. Dari hasil
simulasi perancangan dibuat 4 sampel antena dan diukur harga pengarahan
radiasinya untuk dibandingkan dengan hasil rancangan. Antena horn sektoral
bidang-E adalah antena celah (aperture antenna) berbentuk piramida yang
mulutnya melebar sejajar dengan arah bidang listrik (E) dengan berbasis saluran
pandu gelombang (waveguide). Antena jenis ini umumnya dioperasikan pada
frekuensi gelombang mikro (microwave) di atas 1.000 MHZ. Pengarahan radiasi
(directivity) dari antena ini selain tergantung dari dimensi saluran pandu
gelombangnya, juga pelebaran mulut horn ke arah medan listrik-nya (jarak dari
virtual apex ke bidang aperture-nya = R dan panjang pelebaran bidang aperture
ke arah medan listrik = B), hingga mencapai akumulasi pase error yang domain
untuk menghasilkan harga pengarahan radiasi yang optimum. Pada proyek akhir
ini akan dibuat antena horn sektoral bidang-E dengan menggunakan tiga bahan
yang berbeda yaitu aluminium,tembaga dan seng, dengan ukuran sama. Dari
ketiga antena tersebut akan membandingkan dan mengevaluasi efisiensinya
dengan pengukuran directivitas yang didapatkan dari gain. Pencatu (driver) antena
ini menggunakan Wireless USB Adapter.
Sumber : PERBANDINGAN EFISIENSI ANTENA HORN SEKTORAL
BIDANG-E DENGAN BERBAGAI BAHAN UNTUK APLIKASI WIRELESS
LAN 2,4 GHz Anindita Kemala Hardiani.

Propagasi Horn Antenna-Microwave Di Ruang Bebas P6 - 3

M Qorie Suhendi

Muammar Fuadi
03041281320041

Antena Horn Konikal merupakan antena celah (aperture anntena) berbasis


saluran pandu gelombang lingkaran (circular waveguide) dengan bentuk akhir
antena ini menyerupai kerucut, yang mulutnya melebar ke arah bidang medan
listrik (E) dan bidang magnet (H). Dalam Proyek Akhir ini akan dilakukan
perancangan dan pembuatan antena Horn Konikal pada frekuensi 2,4 GHz. Pada
Proyek Akhir ini akan dibuat tiga buah antena Horn Konikal berukuran sama
(diameter = 9 cm) dengan tiga bahan yang berbeda, yaitu aluminium, seng,
tembaga. Dari ketiga antena tersebut akan dibandingkan efisiensi dengan cara
pengukuran direktivitas dan penguatan (gain) dari masing masing antena. Ketiga
antena tersebut diimplementasikan pada aplikasi video conference pada jaringan
wireless LAN (WLAN) 2,4 GHz. Pencatu (driver) antena ini menggunakan USB
Adapter WiFi. Proyek Akhir ini mempunyai bentuk pola radiasi yang
hampir sama, menghasilkan HPBW sebesar 25 pada bidang-H, dan 24 pada
bidang-E. Direktivitas yang dihasilkan sebesar 18,37 dB untuk ketiga antena.
Penguatan (gain) untuk antena bahan tembaga sebesar 16,15 dB, alumunium
sebesar 14,15 dB, dan untuk antena bahan seng menghasilkan penguatan (gain)
sebesar 10,15 dB. Sehingga efisiensi yang dihasilkan untuk bahan tembaga
sebesar 59,94%, antena bahan alumunium sebesar 37,82%, dan untuk antena
bahan seng menghasilkan efisiensi sebesar 15,05%. Berdasarkan hasil pengukuran
parameter QoS pada implementasi WLAN 2,4 GHz, peningkatan nilai delay
terjadi pada saat siang hari. Nilai delay, jitter, dan throughput yang terjadi sesuai
dengan standar ITU yang telah ditetapkan, sehingga ketiga antena tersebut masih
layak digunakan untuk video conference. Kata kunci: Antena Horn Konikal,
circular waveguide, wireless LAN (WLAN) 2,4 GHz, USB Adapter WiFi.
Sumber : PERBANDINGAN EFISIENSI ANTENA HORN KONIKAL
DENGAN BERBAGAI BAHAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN 2,4 GHz
Shannaz Natia1

Propagasi Horn Antenna-Microwave Di Ruang Bebas P6 - 4

M Qorie Suhendi

Muammar Fuadi
03041281320041

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai breakpoint untuk


masingmasing daerah agar dapat memperkirakan efektifitas antena. Hasil
penelitian berupa grafik nilai breakpoint untuk setiap daerah pada masingmasing
daerah pengukuran yaitu, urban, sub urban dan rural. Nilai breakpoint yang
dihasilkan berdasarkan frekuensi CDMA. Nilai breakpoint yang dihasilkan pada
daerah urban pada jarak 1,1 km, untuk nilai breakpoint pada daerah sub urban
terjadi pada jarak 2,1 km dan utuk daerah rural nilai breakpoint terjadi pada jarak
3,2 km. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada daerah yang diukur.
Nilai breakpoint paling jauh terdapat pada daerah rural. Kata kunci : breakpoint,
urban, sub urban, rural, walfish-Ikegami, Okumuta-Hata.
Breakpoint merupakan titik dimana nilai dari level daya pada suatu
pemancar turun secara terusmenerus. Hal ini menunjukkan bahwa pemancar
tersebut berada pada batas daya jangkau pemancarannya. Dengan adanya
pengukuran titik breakpoint, maka kita akan dapat mengukur besarnya level daya
dan pathloss, sehingga dpat menetukan area efektif dari pemancar. Kita juga bisa
memperkirakan dimana akan meletakkan pemancar. Sehingga pengkuran ini dapat
dijadikan sebagai acuan untuk membangun sebuah pemancar.
Sumber : PERBANDINGAN NILAI BREAKPOINT DI DAERAH RURAL,
URBAN DAN SUB URBAN PADA FREKWENSI CDMA Yudha Mulia
Romadhon.

Propagasi Horn Antenna-Microwave Di Ruang Bebas P6 - 5

M Qorie Suhendi