Anda di halaman 1dari 16

BUDAYA SEBAGAI EKSPRESI PENGAMALAN

AJARAN AGAMA HINDU


A. Kebudayaan Dan Unsur-Unsurnya
Dalam bahasa Sanskerta kita mengenal kata buddhi yang dalam bahasa Indonesia yang
berarti budi atau akal. Bentuk jamak dari kata buddhi adalah buddhayah. Kita tahu bahwa sangat
banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia merupakan hasil adopsi dari bahasa Sanskerta,
termasuk kata kebudayaan. Sesuai dengan makna definisi yang diberikan oleh Kuntjaraningrat
bahwa kebudayaan merupakan hasil dari pengembangan akal manusia, demikian pula dalam
Kamus Besar Indonesia keterangan dengan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan
batin ( akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Dari keseluruhan
uraian ini kita dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan pada dasarnya adalah semua produk akal
budi manusia. Sebagai produk akal budi kebudayaan juga mempunyai wujud, yaitu:
1. Wujud Kebudayaan
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia lengkap dengan akal dan pikiran, dengan
mengembangkan akal dan pikirannya manusia menjadi makhluk yang berbudaya. Sebagai
produk akal dan pikirannya setidak-tidaknya ada tiga wujud kebudayaan yaitu:
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma,dan peraturan.
b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam
masyarakat.
c. Wujud kebudayaan sebagai suatu benda-benda hasil karya manusia
Sebagai suatu kompleks dari suatu ide, gagasan dari pikiran manusia budaya mempunyai
wujud yang abstrak. Tidak dapat dilihat, diraba, dipandang maupun diflmkan dan letaknya dalam
kepala-kepala manusia penganutnya. Para ahli antropologi dan ahli sosiologi menyebutkan
sebagai sistem budaya.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam
masyarakat, dapat berbentuk interaksi antar anggota masyarakat dapat diamati, dapat dilihat,
dapat diasakan, oleh para ahli antropologi dan ahli sosiologi disebut sistem sosial.
Wujud ketiga dari kebudayaan sebagai benda-benda hasil kaya manusia disebut kebudayaan
fisik, jelas dapat dilihat, dapat didokumentasikan, bentuknya ada yang besar, seperti candi,
gapura, rumah, pabrik, dan pesawat terbang. Ada juga benda-benda yang kecil seperti manikmanik, kancing baju, dan transistor.
Apabila dicermati lebih mendalam ketiga wujud kebudayaan tersebut diatas, yaitu wujud
gagasan, wujud aktivitas, dan wujud benda-benda fisik tampaknya saling ada keterkaitan satu
sama lainnya. Biasanya wujud gagasan dapat mendorong timbulnya tindakan bahkan mengatur
aktivitasnya menata sistem sosialnya. Kedua wujud kebudayaan ini dapat mendorong timbulnya
bermacam-macam benda peralatan yang diperlukan, sehubungan dengan adanya aktivitas sosial
tertentu berupa benda-benda fisik kalau wujud gagasan kita tempatnya paling atas, wujud

2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

1.

2.

3.

4.

aktivitas dibawahnya, dan wujud benda-benda fisik paling bawah maka pengaturan dari atas ke
bawah biasanya dikaitkan selaras dengan dukungan dari bawah. Pengaturan atau hubungan,
sepeti ini sering disebut sibernatik, yaitu hubungan diantara yang diatas dengan di bawah, yang
diatas mengatur yang di bawah, yang di bawah memberi energi pada yang diatas, yang sekaligus
merupakan kaitan hubungan, dalam hal ini kaitan hubungan antara tiga wujud kebudayaan tadi.
Unsur-Unsur Kebudayaan
Adapun unsur-unsur universal kebudayaan itu adalah sebagai berikut:
Sistem religi
Sistem organisasi kemasyarakatan
Sistem pengetahuan
Bahasa
Kesenian
Sistem mata pencarian
Sistem teknologi dan peralatan
Dari ketujuh unsur kebudayaan ini selalu tampak ada dalam setiap kebudayaan, dari
kebudayaan yang paling sederhana sekalipun sampai pada kebudayaan yang sudah maju dan
berkembang modern.
Sistem religi berkaitan dengan keyakinan atau kepercayaan, unsur ini selalu ada dalam
kenyataan setiap kebudayaan dari yang paling primitif sekalipun sampai pada kebudayaan yang
sudah maju. Kebudayaan pada makhluk-makhluk gaib pada kelompok yang dikatakan masih
primitif hingga pada keyakinan agama yang sudah terstruktur dalam masyarakat yang sudah
maju.
Sistem organisasi kemasyarakatan
Sistem kebudayaan mempunyai sistem organisasi sosial yang menata kehidupan masyarakatnya,
menentukan dan mengatur hubungan antar orang-orang yang diberi kedudukan tertentu, dengan
orang-orang dibawahnya. Kriteria orang-orang yang mempunyai kekuasaan memerintah dan lain
sebagainya. Dalam kebudayaan yang sudah maju, pada masyarakatnya akan berkembang
organisasi-organisasi sosial yang sudah berstruktur yang jelas jenis tugas masing-masing pejabat
dalam oraganisasi, seperti rukun tetangga, rukun warga, dan lain-lainnya. Dalam masyarakat
lainnya kita mengenal adanya kepala adat atau kepala suku yang mempunyai otoritas mengatur
dalam kehidupan sukunya.
Sistem pengetahuan
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia, dan ini ada dalam setiap kebudayaan.
Semakin maju komunitas kebudayaan itu semakin maju pula pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam masyarakat yang kebudayaannya masih sederhana mereka juga memiliki pengetahuan
misalnya mereka tahu mana tanaman yang buahnya dapat dimakan, mana tanaman yang dapat
dijadikan obat, dan lain-lainnya. Dalam kebudayaan yang sudah maju, pengetahuannya juga
maju, mungkin sudah merupakan pengetahuan ilmiah yang disebut ilmu pengetahuan
Bahasa
Bahasa merupakan unsur kebudayaan yang universal, artinya bahasa ada pada setiap kebudayaan
manusia di dunia. Betapapun sederhananya kebudayaan itu, selalu ada unsur bahasa yang

dipergunakan sebagai alat komunikasi antar warganya. Sampai sekarang belum pernah
diketemukan suatu masyarakat manusia atau sesuatu kebudayaan yang tidak memiliki unsur
bahasa. Selain sebagai alat berkomunikasi, bahasa yang juga suatu sistem suara yang mempunyai
lambang-lambang juga dapat menjadi alat penampung akalnya. Dengan dapatnya ditampung
gagasan-gagasan baru itu, dapat dikembangkan menjadi konsep-konsep yang dapat
dikomunikasikan, dipercaya dan diajarkan pada generasi berikutnya. Demikianlah bahasa
merupakan unsur penting dalam kebudayaan dan unsur penting pula dalam proses belajar.
5. Kesenian
Kesenian berhubungan dengan rasa keindahan ( estetika). Dalam setiap kebudayaan selalu ada
unsur seni. Kesenian ini bermacam-macam bentuknya, ada seni suara, seni lukis, seni tari atau
seni gerak. Kesenian merupakan unsur menonjol pada setiap kebudayaan. Setiap orang
sesungguhnya mempunyai rasa seni dan dapat mengembangkan bakat seninya itu. Unsur seni
ada pada setiap kebudayaan. Kita mengenal patung asmat dari Papua dan hiasan diantara kening
penari-penari suku Aborigin Australia.
6. Sistem mata pencaharian
Setiap orang merasa perlu mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, selalu berusaha untuk
mengikuti suatu mata pencaharian. Sistem mata pencaharian selalu ada pada setiap kebudayaan
atau yang disebut dengan sistem ekonomi. Tentu saja sistem ekonomi dapat berbeda pada setiap
kebudayaan, ada sistem perkebunan, sistem ladang berpindah, sistem pertanian, sebagai nelayan,
karyawan industri. Biar betapapun primitifnya kebudayaan itu sistem mata pencaharian selalu
ada.
7. Sistem teknologi dan peralatan
Sistem ini selalu ada pada setiap kebudayaan karena setiap manusia selalu memerlukan peralatan
untuk memecahkan sesuatu. Dalam masyarakat yang masih primitif pada jaman dahulu, ilmu
pengetahuan dapat menemukan kapak batu, tombak batu sebagai peralatan yang membantu
kehidupan mereka.
B. Kebudayaan Hindu Di Indonesia
1. Pembawa Pengaruh Kebudayaan Hindu di Indonesia
Ada bermacam-macam pendapat tentang siapa yang menyebarkan kebudayaaan Hindu di
Indonesia. Berikut ini adalah beberapa pendapat menurut para ahli.
Krom berpendapat bahwa penyebar kebudayaan Hindu di Indonesia adalah para pedagang.
Para pedagang itu datang ke Indonesia dan mereka mereka menetap beberapa waktu di Indonesia
dan merekalah yang berperan penting dalam penyebaran pengaruh kebudayaan itu. Di antara
para pedagang mempunyai hubungan baik bahkan ada yang mengawini orang setempat. Melalui
perkawinan campuran ini penyebaran pengaruh kebudayaan Hindu jadi sangat mudah, tanpa
menimbulkan gejolak apapun sama sekali. Penyebaran secara damai ini disebut penetration
paepique, pendapat Krom ini oleh Bosch disebut dengan hipotesis Vaisya karena kaum pedagang
adalah termasuk kelompok Vaisya.
Berg berpendapat bahwa yang berperanan penting dalam penyebaran pengaruh kebudayaan
kebudayaan Hindu adalah para ksatria. Para ksatria datang secara berombongan mereka

2.

1.
2.
3.

merampok dan merampas koloni dan menetap di sana. Kemudian, koloni-koloni para ksatria
India ini menjadi pusat penyebaran kebudayaan Hindu di Indonesia. Mungkin juga mereka
mendapatkan kedudukan tinggi karena dapat mengawini putri raja Jawa pada kerajaan yang
sudah ada. Jadi, para ksatria dianggap berperan besar dalam membentuk dinasti-dinasti di pulau
Jawa. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Moun yang menganggap bahwa para keturunan
dari dinasti-dinasti di India yang telah runtuh banyak yang datang ke Indonesia merekalah yang
mendirikan kerajaan-kerajaan di Indonesia dan menjadi nenek moyang dari dinasti-dinasti
kerajaan Hindu di Indonesia.
Pendapat-pendapat tersebut banyak mendapat sanggahan dari para pembanta. Bahwa para
pedagang tidak mungkin membawa pengaruh kebudayaan Hindu karena kebudayaan Hindu yang
tampak berkembang dalam kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan dalam bentuk syair, ini
adalah kemampuan para brahmana. Seandainya kebudayaan itu dibawa para ksatria apalagi
pelaut-pelaut, para niagawan, sudah tentu pusat-pusat kebudayaan Hindu ada di dekat pantai,
bukan pedalaman, seperti pusat-pusat kerajaan di Jawa maupun Kutai Kalimantan Timur,
demikian juga kerajaan Taruma di Jawa Barat.
Pendapat lain datang dari Van Leur yang menyatakan bahwa yang membawa pengaruh
kebudayaan Hindu ke Indonesia adalah para Brahmana. Para Brahmana yang memahami
masalah kebudayaan, agama, filsafat, kesusastraan, seni arca, dan seni bangunan. Tidak menutup
kemungkinan para Brahmana itu datang memang sengaja diundang untuk keperluan upacara
keagamaan sehingga para Brahmana itu mendapat kedudukan tinggi dan terhormat di istana para
penguasa Indonesia. Dengan kedudukan, seperti itu sangat mudah bagi para Brahmana untuk
menyebarkan pengaruhnya. Apalagi kenyataan yang ada dalam pengaruh kebudayaan India itu
tidak hanya seni sastra, pranata-pranata kenegaraan kenegaraan dan lain-lain tetapi termasuk pula
pengaruh agama Hindu.
Ternyata dalam masyarakat Hindu, agama merupakan faktor yang amat penting maka
pendapat yang menyatakan bahwa pengaruh kebudayaan Hindu dibawa oleh para agamawan,
yaitu para brahmana dan kaum cendikiawan mempunyai kebenaran yang kuat. Namun demikian,
tidak pula berarti para ksatria dan para pedagang tidak berperan, mereka mempunyai peranan
walau tidak sebesar peranan Brahmana.
Unsur-Unsur Kebudayaan Hindu yang Mempengaruhi Indonesia
Sebagaimana yang telah diuraikan di depan bahwa wujud kebudayaan universal ada tiga
yaitu wujud gagasan pemikiran, wujud aktivitas, dan wujud benda-benda fisik. Koentjaraningrat
berpendapat bahwa pengaruh kebudayaan Hindu terhadap kebudayaan Indonesia berwujud
gagasan, konsep dan pandangan-pandangan, jadi berupa sistem nilai yang terdapat dalam kitabkitab agama dan kesusastraan yang berbahasa Sanskerta di samping pengaruh upacara-upacara
agama dan wujud kebudayaan material lainnya.
Pengaruh unsur-unsur kebudayaan Hindu terhadap kebudayaan Indonesia setidaknya terdiri
dari 6 unsur, yaitu sebagai berikut:
Agama, seperti agama Hindu maupun Buddha
Kesenian, berwujud seni sastra, seni bangunan, seni patung dan seni hias
Bahasa, bahasa Sanskerta

4. Teknologi, terutama arsitektur bangunan


5. Organisasi sosial dalam wujud konsepsi dasar dan organisasi sistem kasta
6. Sistem pengetahuan, terutama ilmu kedokteran dan pengobatan, ilmu hukum, seperti dalam kitab
Manawadharma satra.
Dengan melihat keenam unsur kebudayaan tersebut tampak bahwa sesungguhnya adalah
telah diresapi nilai-nilai agama Hindu yang di tranformasi dari kitab-kitab Veda, dan unsur-unsur
itulah yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.
C. Nilai-Nilai Agama Hindu Dalam Kebudayaan
1. Nilai-Nilai Agama Hindu dalam Sistem Religi
Dalam hubungan dengan agama Hindu, sistem religi dipahami sebagai tata cara pengamalan
ajaran keyakinan agama Hindu yang telah membudaya dalam masyarakat. Pokok-pokok
keyakinan dalam ajaran Hindu disebut Panca Sradha.
a. Panca Sradha
1) Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang di dalam kitab-kitab suci Hindu disebut
Brahman. Dalam bahasa masyarakat dipakai sebutan Sang Hyang Widhi Wasa. Dipuja dalam
berbagai manifestasi yang disebut Ista Dewata, seperti Brahman, Wisnu, Siwa, yang juga dikenal
dengan Trimurti. Brahma adalah Maha Pencipta, disebut Wisnu waktu memelihara alam ini dan
disebut Siwa pada saat melaksanakan maha pralaya melebur alam semesta kembali pada asalnya.
Demikian dalam keyakinan masyarakat Hindu Tuhan Yang Maha Esa disebut Dibata Sibincar
Mulana Jadi, Brahma disebut Dibata Kaci-Kaci atau Dibata Banua Kaling atau Dibata Tengah,
Siwa disebut Padukkah Ni Aji atau Dibata Teruh, sedangkan Trimurti disebut Sisada Telu. Pada
masyarakat Hindu dengan budaya yang lain tentu kita akan memerlukan nama lain sesuai dengan
bahasa dalam budaya itu. Brahman disebut juga Parama Atma sumber segala yang ada.
2) Keyakinan Terhadap Atma atau Atma Sraddha
Atma adalah percikan terkecil dari Parama Atma, yaitu Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di
dalam tubuh setiap makhluk. Atman dalam tubuh manusia disebut Jiwatman yang menghidupkan
manusia itu.Jadi manusia hidup karena adanya atman pada tubuhnya. Bilamana ditinggal oleh
atman badan itu akan mati.
Eko devas sarva bhutesu gudhas
Sarva vyapi sarva bhuta tarat ma
Karma dhyaksas sarva bhuta divasas
Saksi ceta kevalo nirgunasca
(Sveta Svataraupanisad VI.II)
Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa yang bersembunyi pada tiap makhluk, memerintah semua tindakan,
berada dalam setiap ciptaan dan menjadi saksi abadi tanpa memiliki sifat apa pun.
3) Keyakinan terhadap hukum karma
Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan
yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi, seseorang yang berbuat baik pasti
baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula akan

diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah
laku kita agar selalu mendasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita-cita yang luhur
dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk, inilah nilai-nilai agama Hindu dalam hukum
karma.
Pahala dari karma itu ada 3 macam, yaitu berikut ini.
a) Sancita Karmaphala ialah pahala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis
dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
b) Prarabda Karmaphala ialah pahala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
c) Kriyamana Karmaphala ialah hasil perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat
sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.
Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah cepat atau labat, dalam kehidupan
sekarang atau nanti segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan
hukum.Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk surga atau masuk neraka .Bila dalam
kehidupannya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah surga, sebaliknya bila
hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya.Dalam pustakapustaka dan cerita-cerita keagamaan dijelaskan bahwa surga, artinya alam atas, alam suksma,
alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan.Neraka adalah alam hukuman,
tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dari perbuatan buruk selama masa
hidupnya. Selesai menikmati surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan
mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.
4) Keyakinan terhadap penjelmaan kembali
Dalam sastra-sastra Hindu keyakinan terhadap penjelmaan kembali disebut juga punarbhawa.
Jadi, Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga
penitisan atau Samsara.Dalam Pustaka Suci Weda dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman
berulang-ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut Samsara.Kelahirannya yang
berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka.
Punarbhawa atau Samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh Wisaya dan
Awidya sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali. Dalam Bhagawadgita Sang
Krisna berkata demikian.
Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang-ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu,
sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan
diikuti oleh kelahiran.
Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatma. Bekas-bekas perbuatan
(karma wasana) ada bermacam-macam, jika yang melekat bekas-bekas keduniawian maka
jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal-hal keduniawian sehingga
jiwatman itu lahir kembali.
5) Keyakinan terhadap bersatunya Atman dengan Brahman
Tujuan hidup umat Hindu ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin (moksartham
jagadhita).Kebahagiaan batin yang tertinggi ialah bersatunya Atman dan Brahman yang disebut
Moksa.Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan, kemerdekaan atau terlepas dari ikatan
karma, kelahiran, kematian atau belenggu maya/ penderitaan hidup keduniawian.Moksa adalah

tujuan terakhir bagi umat Hindu. Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam
kehidupan sehari-hari secara baik dan benar, misalnya dengan menjalankan sembahyang batin
dengan menetapkan cipta (Dharana), memusatkan cipta (Dhyana) dan mengheningkan cipta
(Semadhi), manusia, berangsur-angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya tertinggi ialah
bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman.
Bhagawadgita VII. 9
Bahunan janmanam ante
Jnnanawan mam pradadyate
Wasudewah sarwam iti
Sa mahatma sudurlabhah.
Artinya:
Pada akhir dari banyak kelahiran orang yang bijaksana menuju kepada Aku karena mengetahui
bahwa Tuhan adalah semuanya yang ada.
Kebebasan yang sulit dicapai banyak makhluk akan lahir dan mati, serta hidup kembali tanpa
kemauannya sendiri. Akan tetapi, masih ada satu yang tak tampak dan kekal, tiada binasa di kala
semua makhluk binasa.Nah, yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama
supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia, tetapi mencapai tempat Brahman yang
tertinggi. Jika kita selalu ingat kepada Brahman, berbuat demi Brahman maka tak usah
disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. Untuk mencapai ini orang harus selalu
berusaha, berbuat baik sesuai dengan ajaran agamanya.Kitab suci telah menunjukan bagaimana
caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat
bersatu dengan Brahman (suka tan pawali duka) sehingga penderitaan.Dapat dikikis habis dan
tidak lagi menjelma ke dunia ini.
b. Panca Yadnya
Panca yadnya adalah 5 jenis karya suci sebagai bentuk pengamalan yang diselenggarakan
oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup.Adapun Panca Yadnya atau
Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari berikut ini.
1) Dewa Yadnya
Ialah suatu korban suci/persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh
manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu sebagai
Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembalikepada asalnya) dengan
mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandya (bersembahyang tiga kali di
dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan dilaksanakan pada hari-hari suci, hari
peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari-hari raya lainnya, sepertiHari
Raya Galungan dan Kuningan. Hari Raya Saraswati, dan Hari Raya Nyepi.
2) Pitra Yadnya
Ialah suatu korban suci/persembahan suci yang ditujukan kepada roh-roh sucileluhur (pitra)
dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa
Wedhana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedhana.
Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus
iklas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di dalam

a)
b)
c)
3)

a)
b)
c)
d)

4)

a)
b)
c)
d)
e)
5)

surga.Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan
sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk
pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia
telah berutang kepada orang tuanya (leluhur), seperti berikut ini.
Kita berutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit
Kita berutang budi yang disebut dengan istilah Anadtha
Kita berutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha
Manusa Yadnya
Adalah suatu korban suci/pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun keselamatan, diantaranya ialah
sebagai berikut ini
Upacara selamatan (jatasamskara/Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir
Upacara selamatan(nelu bulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari)
Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/weton)
Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/Citra Wiwaha/WidhiWidhana.
Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan-kegiatan spiritual tersebut, masih ada
lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di
dalam bidang pendidikan, kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh bkehidupan
bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia
mulai dari tata cara menerima tamu (athiti karma), memberikan pertolongan kepada sesama yang
sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa
Yadnya.
Rsi Yadnya
Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha
Rsi, orang-orang suci, Rsi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaanya dapat diwujudkan
dalam bentuk berikut.
Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa
Membangun tempat-tempat pemujaan untuk Sulinggih
Menghaturkan/memberikan punia pada saat-saat tertentu kepada Sulinggih
Menaati, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran para Sulinggih
Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina
dan mengembangkan ajaran agama
Bhuta Yadnya
Adalah suatu korban suci/pengorbanan suci kepada sarwa bhuta, yaitu makhluk-makhluk
rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang)
tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi
Wasa.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci)
yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta, yang disebut dengan istilah

Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagad
raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur-unsur Panca Yadnya telah tercakup di
dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan
2. Nilai-nilai Agama Hindu dalam Kesenian
Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa kesenian adalah produk kebudayaan. Sebagai
produk kebudayaan maka kesenian memiliki bentuk yang beraneka ragam. Seorang seniman
dalam berkarya tidak semata-mata mengandalkan kemampuan intelektualnya saja, melainkan
juga melaksanakan olah batin sesuai ajaran agama, melakukan renungan mohon petunjuk dari
Tuhan Yang Maha Esa, agar karyanya itu mengandung nilai-nilai spiritual.
Oleh karena itu, karya seni yang telah dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama Hindu dapat
menjadi media yang sangat efektif dalam membangkitkan emosi keagamaan sehingga pada
gilirannya dapat memantapkan kekhidmatan dan kekhusyukan dalam melaksanakan upacaraupacara agama.Agama Hindu dengan budayanya memang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan.
Dalam kitab suci Rgveda VIII.742 terdapat sebuah mantra demikian.
Visvesam aditir yajniyanam, visvesam atithir manusanam.
Artinya:
Dia (Tuhan) adalah Aditi yang utama diantara penerima sajian.Dia (Tuhan) adalah Atithi (tamu)
di antara semua manusia.
Jadi, dalam setiap upacara agama kehadiran Tuhan adalah merupakan Tamu Agung yang
sangat utama maka harus mendapat pelayanan dan persembahan terbaik. Oleh karena itu,
pantaslah setiap bhakti ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik ke hadapan Tuhan yang
dipandang sebagai yang sangat utama dan tamu yang paling mulia yakni sebagai Aditi dan Atithi
untuk dipuja, sikap inilah yang melahirkan berbagai ciptaan seni yang merefleksikan rasa bakti
yang ingin dipersembahkan.
Orang-orang suci zaman Veda menemukan bahwa nyanyian merupakan saranan pengungkapan
perasaan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, kecintaan kepada Tuhan dilahirkan dalam
bentuk nyanyian dan menginginkan agar nyanyian mereka diterima dengan penuh cinta kasih,
sebagaimana terungkap dalam Veda:
Arcata prarcata priyamevaso arcata,
Arcantu putraka utam puram na dhrsnvarcata
(Rgveda.VIII.69 :80)
Artinya :
Nyanyikanlah-nyanyikanlah lagumu oh Priyammeda, nyanyikanlah-nyanyikanlah Dia (yang
menjadi tempat berlindung/Tuhan) laksana istana yang kokoh).
Ava savarati gargaro godha, pari sanisvanat pinga pari,
Caniskadat indraya brahmodyatama
(Rgveda VIII.69 :9)

a.

1)

2)

3)

4)

5)

Artinya :
Nah geseklah garbha (rebab) dengan nyaring, kumandangkanlah suara kecapi, dengungkanlah
suara music, kepada Tuhan kami persembahkan nyanyian.
Mantra-mantra tersebut mengilhami lahirnya berbagai macam seni yang semuanya tujuannya
untuk mempersembahkan rasa bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa Hyang Widhi Wasa.
Seni Musik
Dengan irama lagu yang syahdu sangat mendukung terwujudnya suasana khusuk khidmat,
hening dan suci, dipadu dengan seni vokal, berupa kidung-kidung maupun kakawin semakin
terasa suasana keagamaan.
Perhatikanlah mantra-mantra veda berikut.
Belajarlah mantra-mantra musik (gambelan)
Svaras ca me, slokas ca me.
Yjajurveda XVIII.1
Hendaknyalah Anda belajar nada-nada seni bunyi-bunyian (music) dan pengubahan lagu
Nyanyikanlah dalam nada-nada yang berbeda
Gaye sasasravartani.
Samaveda 1829.
Kami menyanyikan mantra-mantra Samaveda dalam ribuan cara
Ubhe vacau vadati samaga iva
Gayatram ca traistubham canu rajati.
Regveda II. 43. 1
Burung menyanyi dalam nada-nada yang berbeda, seperti seorang perapal samaveda, yang
mengidungkan mantra dalam irama Gayatri dan Tristubh.
Nyanyikanlah lagu-lagu bagi keagungan Tuhan YangMaha Esa
Gayatri tva gayatripah,
Arcanti-arkam arkinah.
Samaveda 342
Ya, Tuhan Yang Maha Esa, para penyanyi memuliakan Engkau dengan mantra Gayatri dan para
perapal Rgveda memuja Engkau dengan mantra-mantra Rgveda.
Nyanyikanlah mantra-mantra untuk Tuhan Yang Maha Esa
Indra sama gayata
Samaveda 388
Wahai para penyanyi, nyanyikanlah Samaveda bagi Sang Hyang Indra
Bernyanyi (berkidung) dalam paduan suara
Sakhyana a ni sidata
Punanaya pra gayata
Rgveda IX. 104.1
Ya, teman-teman, duduk dan nyanyikanlah lagu-lagu dalam paduan suara bagi dewa.
Oleh karena dalam masyarakat Bali perangkat seni musik, seperti seni tabuh

dipandang memiliki dewanya masing-masing maka pada setiap acara sebelum menabuh selalu
diawali dengan upacara tertentu, untuk memohon kepada yang Maha Kuasa agar diberi Taksu
atau tuah agar sajian musik atau tabuhannya mampu menggetarkan perasaan.
Irama tabuh yang diciptakan banyak mendapat inspirasi dari suara alam ciptaan Tuhan, seperti
suara angin yang kencang dan lembut ditransfer dalam kumbang ngisep sari dalam seni tabuh
maupun kidung. Seni kekawin jenis lagunya juga banyak mendapat inspirasi dari suara penghuni
alam semesta ciptaan Tuhan, seperti adanya wirama aswa lalita (kuda birahi) bramara ngisep sari
dan sebagainya. Melalui seni vocal dan kerawitan tersebut telah mampu memperdengarkan irama
lagu yang dirasakan sesuai dengan jenis yadnya yang disertainya.
6) Peralatan music (gamelan)
Ava svarati gargaro
Godha pari sanisvanat
Pinga pari caniskadad
Indra ya brama-udyatman
Regveda VIII. 69.9
Kelompok orang-orang yang bersembahyang mempersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan alat-alat musik (gamelan) yang menyertainya dimainkan oleh pengatur tinggi nada, kecapi
dan seruling.
Mahesa vina vadam
Krosaya tunavadharman,
Avarasparaya sankhadhmam.
Yajurveda XXX. 19
Peniup seruling, peniup terompet dan peniup terompet-kulit-kerang dipergunakan untuk
upacara-upacara dan mengundang banyak orang.
Yatragatah karkaryah
Sam vadanti
Atharvaveda IV 37.5
Tarian itu diiringi dngan canang (ceng-ceng) dan kecapi-kecapi.
7) Kecapi itu berisi tujuh dawai
Iyam asya dhamyate nadir,
Ayam girbhih pariskrtah
Regveda X. 135. 7
Pipa itu ditiup dan nada-nadanya diserasikan dengan ucapan.
8) Permainan seruling
Satam venun
Regveda VIII. 8.55.3
(Sang Hyang Indra memberikan seratus buah seruling kepada pengikut/penganutnya).
b. Seni tari
Seni tari ditampilkan sebagai wujud penyambutan banyak memperkaya khasanah
kebudayaan Hindu yang memberi daya tarik tersendiri. Mantra-mantra veda tersebut juga telah

1)

2)

3)

4)

5)

6)

c.

mengilhami ciptaan dari, seperti baris gede, rejang dewa, dalam kesenian Bali yang melukiskan
Widyadara dan Widyadari di alam surge tatkala menyambut kehadiran para dewa, perhatikan
mantramantra veda berikut.
Mari kita menyanyi dan tertawa
Pranco agama nrtaye hasaya.
Regveda X. 18.3
Marilah kita maju untuk menai dan bersuka-ria
Gadis penari
Pranco agama nrtaye hasaya.
Regveda I.124.7
Dewi Fajar, seperti seorang gadis yang menari, memamerkan kecantikannya
Tarian bersama
Samrbhya dhirah svasrbhir
anartisur, aghosayantah prthivim
upabdhibhih.
Regveda X. 94.4
Orang-orang yang berpengetahuan tinggi ini menari bersama saudara-saudara perempuan
mereka, bergemerincing bumi dengan derap-derap kaki mereka
Pesta tari
Suparna vacam akrata-upa dyaviakhare krsna isira anartisuh
Regveda X. 94.5
Burung-burung berkicau dan rusa hitam yang liar menari di sarang-sarang mereka
Sebuah kombinasi tarian dan gamelan (musik)
Nrttaya sutam, gitaya sailusam
Yajurveda XXX.6
Para pengendara kereta perempuan dan para seniman pria menyanyi
Seni tari dan peralatan musik (gamelan)
Nrttaya-anandaya talavam
Yajurveda XXX.20
Tarian dan keriang-gembiraan itu diiringi dengan tabla atau kendang
Beberapa tarian seperti Baris Gede dan Rejang Dewa, kemudian dibakukan sebagai pengiring
upacara di Pura-pura pada saat mamendak maupun ketika nedunang Ida Bhatara ke Bale
Paselang dalam upacara-upacara besar sebagaimana diatur dalam lontar Dewa tattwa di Bali.
Seni rupa
Seni rupa dalam bentuk lukisan-lukisan kain dinding (parba) pada bangunan di pura, temanya
tidak lepas dari nilai-nilai ajaran agama. Apalagi lukisan rerajahan yang memang bernilai
sakral, dengan lukisan dasakrasa, senjata nawa sanga serta lukisan sakral lainnya dijiwai nilainilai agama Hindu dipergunakan dalam upacara-upacara khusus. Kita dapat menjumpai lukisan
Dewi Saraswati, sebagai lambang ilmu pengetahuan, lukisan Smara Ratih yang terbakar oleh api
kemarahan yang keluar dari dahi Bhatara Siwa, dalam cerita Kama Ratih atau lukisan Tegal

d.

e.

f.

3.

Panangsaran yang menggambarkan bagaimana siksaan yang dialami para atma yang papa.
Mengenai lukisan rerajahan yang dipergunakan secara khusus diyakini mampu menangkal
gangguan-gangguan dari roh-roh jahat.
Seni pahat atau seni ukir
Seni pahat atau seni ukir memanfaatkan dinding tembok atau dinding bangunan sebagai
media pahatan atau ukiran umumnya mengambil tema dari itihasa Ramayana, Mahabharata atau
cerita Tantri Kamandaka, sesuai dengan pesan dharma yang disampaikan.
Contohnya:
Di kawasan Candi Prambanan, pada Candi Siwa dinding-dindingnya dihias dengan relief
Ramayana, demikian pula pada Candi Brahma dihias dengan cerita Ramayana lanjutan dari
Candi Siwa. Pada Candi Wisnu relief yang dipahatkan adalah cerita-cerita tentang Kresna.
Seni tok
Seni arsitektur atau seni bangunan khususnya bentuk-bentuk bangunan Pelinggih di pura
atau bangunan candi, masing-masing mempunyai cirri-ciri tersendiri. Bentuk Padmasana,
Gedong atau Meru, misalnya masing-masing mempunyai karakter tersendiri. Bangunan untuk
pemujaan dan bangunan rumah tinggal masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda.
Bangunan-bangunan atau pelinggih-pelinggih di Pura umumnya dibuat sedemikian rupa
mengandung tuntutan dan makna-makna simbolik tertentu, seperti Padmasana yang melukiskan
pemutaran Mandalagiri.
Seni pentas
Seni pentas atau seni tari dibedakan dalam tiga katagori dilihat dari keterkaitannya dengan
kegiatan agama, yaitu seni wali, merupakan bentuk seni yang harus ada dan menyertai
pelaksanaan upacara tertentu, seperti Rejang Dewa, Baris Gede, Pendet, dan sejenisnya. Katagori
kedua dikenal dengan bebali merupakan jenis kesenian (tari/pentas) yang menyertai dan
bersifat melengkapi kegiatan suatu upacara, seperti topeng Sida Karya, Wayang Lemah, Gambuh
dan sejenisnya ditampilkan untuk melengkapi upacara-upacara tertentu. Katagori ketiga yang
dikenal dengan istilah balih-balihan adalah bentuk kesenian tontonan yang bersifat hiburan
untuk memeriahkan selama serangkaian kegiatan upacara berlangsung. Walaupun fungsinya
lebih banyak sebagai hiburan, dalam menyertai kegiatan upacara keagamaan biasanya juga
dipilih yang sesuai, seperti arja, parembon, calong, orang, wayang, drama dan sejenisnya.
Pada umumnya setiap bhakta Hindu pasti ingin memprsembahkan yang terbaik ke hadapan
Tuhan Yang Maha Esa. Dorongan keinginan seni, masih ada, misalnya seni penataan buah dalam
membuat bebanten, seperti gebogan jerimpen, demikian juga yang mengandung makna
simbolik, seperti tercantum dalam lontar indik tetandingan. Tidak ketinggalan pula seni dalam
mengolah berjenis-jenis makanan, seperti tercantum dalam lontar Dharma Caruban.
Demikianlah unsur seni tidak pernah ketinggalan dalam upacara-upacara keagamaan yang
dilaksanakan oleh umat Hindu.
Nilai-nilai Agama Hindu dalam Bahasa
Sebagaimana kita ketahui bahwa pengaruh kebudayaan Hindu terhadap kebudayaan
Imdonesia adalah dalam unsur bahasa, dalam hal ini adalah bahasa Sanskerta. Kitab suci Veda
ditulis dalam bahasa Sanskerta yang pada muanya disebut Daivivak yang artinya bahasa atau

a.

b.

c.

d.

4.

sabda para dewata. Para Maharsi, kemudian mengembangkan kitab Veda yang berupa himpunan
Sruti ke dalam kitab-kitab turunannya berupa kitab-kitab Itihasa yang banyak pengaruhnya
dalam kehidupan masyarakat. Hindu mempunyai itihasa (epos) Ramayana dan Mahabharata
yang dalam versi aslinya juga berbahasa Sanskerta. Mahabharata terkenal pula dengan nama
Astadasa parwa atau delapan belas parwa atau delapan belas bagian cerita. Ramayana
mengisahkan peperangan antara Sri Rama melawan Rahwana, sedangkan Mahabharata
mengisahkan keluarga bharata yang menceritakan Pandawa dan Kaurawa yang terlihat perang
besar di medan Kuruksetra. Rama dan Pandawa adalah tokoh-tokoh dharma, sedangkan
Rahwana dan Kaurawa adalah tokoh-tokoh kejahatan yang adharma. Itihasa Ramayana dan
Mahabharata mengisahkan peperangan dharma melawan adharma yang berakhir pada
kemenangan dharma.
Itihasa Ramayana dan Mahabharata diadopsi oleh budaya Indonesia dan telah digubah
menjadi kekawin Ramayana dan kekawin bharata yuda dalam bahasa Jawa Kuno. Ditulis oleh
pujangga-pujangga Indonesia, seperti empu Yogiswara dikenal sebagai penulis Ramayana dan
Empu Sedah dan Empu Panuluh penulis Bharatayuda, dalam zman kerajaan-kerajaan Hindu di
Jawa.
Kedua karya sastra ini besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat, seperti bahasa
maupun pemberian nama orang.
Dalam masyarakat Bali
I Wayan Gededus, I Made Cedo, dan I Ketut Cekeg, setelah mendapat pengaruh bahasa
Sanskerta menjadi I Wayan Suranata, I Made Candra, Ni Ketut Puspawati, dan I Ni Nyoman
Wina Aryani.
Dalam masyarakat Jawa
Poniran, Wagiman, Legiman, Ponirah, yang berbau bahasa Sanskerta: Shudarmono, Sukoasmoro,
Wardoyo, Parwati, styawati, dan Dewi Puspowati.
Dalam masyarakat Sunda
Dadang, Dudung, Iding, Deden, yang berbau sanskerta Akik Sudarmaji, Dudun Adiningrat, dan
Uju Suryadinata.
Dalam berbagai masyarakat ada kegemaran memakai nama tokoh-tokoh dalam Ramayana,
Mahabharata maupun memakai nama-nama yang ada dalam kitab Veda, seperti Gunawan
Wibisono, Kresna, dan Laksmi.
Nilai-nilai Agama Hindu dalam Teknologi
Ternyata untuk membuat bangunan-bangunan ada kaidah-kaidah tertentu yang harus
dipedomani terutama yang berkaitan dengan arsitektur bangunan itu sendiri. Secara garis besar
ada dua jenis bangunan, yaitu bangunan tempat tinggal dan bangunan pemujaan. Bangunan
pemujaan juga ada beberapa macam di antara pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan
segala manifestasinya dan bangunan pemujaan Bhatara atau Bhatari, yakni para leluhur.
Bangunan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya
umumnya berbentuk Padmasana. Pada bagian puncak bangunan menyerupai singgasana atau
kursi dengan bagian belakang (ulon) agak tinggi pada bagian paling bawah terdapat bedawang
nala, yaitu wujud kura-kura dibelit oleh seekor atau dua ekor naga. Ada pula bentuk khusus yang

disebut meru, bangunan dengan atap bertingkat-tingkat (tumpang: bahasa Bali). Jumlah tingkat
atap meru adalah bilangan ganjil dari satu sampai sebelas yang tertinggi. Meru dengan atap
tingkat sebelas dapat dipakai tempat pemujaan manifestasi Tuhan, seperti Brahma atau Wisnu,
seperti kita jumpai di Pura Kiduling Kreteg dan Pura Batu Madeg di Besakih, demikian pula
Meru Brahma dan Meru Wisnu di Pura Penataran Agung Khertabhumi Taman Mini Indonesia
Indah di Jakarta. Tata cara pembangunan Padmasana maupun Meru berdasarkan petunjuk lontar
Asta Kosala-kosali dan Asta Bhumi.
Bangunan pemujaan terhadap para leluhur umumnya berbentuk gedung, candi atau bangunan
yang disebut bebaturan bangunan, bangunan ini rata-rata memakai atap. Ada pula bangunan,
seperti Padmasana, hanya tidak memakai Bedawangnala pada bagian dasar, disebut Padmasari
dan yang lebih rendah lagi disebut Padmacapah. Kedua bangunan ini dapat dibangun berdiri
sendiri dan berfungsi sebagai tempat penyawangan.
Demikianlah nilai-nilai agama Hindu dalam teknologi terutama dalam arsitektur bangunan
dengan tipe-tipe tertentu dengan fungsi yang berbeda-beda.
5. Nilai-nilai Agama Hindu dalam Organisasi Sosial
System sosial Hindu mengenal konsep warna sebagaimana dalam Pustaka Bhagawadgita IV.
13
Chatur varnyam maya sristam
Guna karma vi bhagasah
Tasya kartaram api mam
Viddhy akartaram avyayam
Artinya:
Catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walau
penciptanya Aku, tidak berbuat dan berubah diriku.
Konsep catur warna ini selalu dikaitkan dengan arti kata memilih lapangan kerja sesuai
dengan arti kata warna yang berasal dari urat kata Vri dalam bahasa Sanskerta. Implikasinya
masyarakat membagi masyarakatnya atas pilihan-pilihan kerja yang ditekuni tanpa membedakan
tingkatan dari jenis pekerjaan yang ditekuni perbedaan yang timbul semata karena perbedaan
fungsi masing-masing. Sesuai dengan makna sloka di depan tadi dalam masyarakat Hindu
dikenal adanya empat kelompok masyarakat yang dibedakan atas fungsi masing-masing.
Brahmana kelompok masyarakat yang berfungsi di bidang rohani keagamaan, kesatria adalah
kelompok masyarakat Hindu yang bertugas pada pemerintahan dengan tanggung jawab
ketatanegaraan, Waisya adalah kelompok masyarakat Hindu yang berfungsi dalam
penyelenggaraan kesejahteraan material masyarakat melalui bidang perekonomian, dan Sudra
yaitu kelompok masyarakat Hindu yang berfungsi pada penyediaan jasa tenaga kerja sebagai
pekerja-pekerja dengan etos kerja tinggi.
Dalam Regveda x terdapat mantrayang artinya sebagai berikut. Brahmana dilahirkan dari
kepala Brahman, Kesatria dilahirkan dari tangan Brahman, Waisya dilahirkan dari perut
Brahman dan Sudra dilahirkan dari kaki Brahman. Dalam penggambaran seperti itu berarti
keempat kelompok masyarakat itu dilukiskan sebagai satu kesatuan yang saling mendukung,

6.

1)
2)
3)
4)
5)

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

terspesialisasi namun saling ketergantungan satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan yang ada
ditentukan oleh guna dan karma, guna adalah sifat, bakat dan pembawaan, sedangkan karma
adalah perbuatan.
Dalam perkembangan masyarakat tidak tertutup terjadinya pergeseran pemahaman, namun
secara konsepsional demikianlah seharusnya pemahaman masyarakat Hindu.
Nilai-nilai Agama Hindu dalam Sistem Pengetahuan
Dalam sistem pengetahuan ini nilai-nilai agama Hindu dikaitkan dengan pengetahuan
kedokteran dan pengobatan. Secara garis besar Veda dikelompokkan ke dalam kelompok Veda
Sruti, yaitu himpunan wahyu, wahyu (sruti) dan Veda Smerti, yaitu kitab-kitab turunan yang
dikembangkan dari Veda.
Dalam kelompok Veda Smerti ini ada kelompok kitab-kitab yang disebut Upaveda, yaitu
berikut ini.
Itihasa
: Yaitu tentang cerita kepahlawanan terdiri dari epos Ramayana
dan Mahabharata
Purana
: Kitab-kitab yang memuat cerita-cerita tentang kejadian pada
zaman dahulu kala.
Artha Sastra
: Memuat pengetahuan tentang pemerintahan Negara isinya
pokok-pokok pemikiran ilmu politik.
Ayurveda
: Memuat tentang ilmu kedokteran dan pengobatan.
Gandarwaveda : Jenis-jenis buku yang menguraikan pengetahuan tentang
berbagai aspek ilmu seni.
Ayurveda terdiri atas 8 cabang ilmu yang terdiri atas berikut ini.
Salya adalah ajaran mengenai ilmu bedah.
Salakya adalah ajaran tentang ilmu penyakit.
Kayacikitsa, ajaran tentang ilmu obat-obatan.
Bhutavidya yaitu ajaran tentang psikoterapi.
Kaumarabhrtya adalah ilmu tentang pendidikan anak-anak yang merupakan dasar bagi ilmu jiwa
anak-anak.
Agada tantra, ilmu tentang toksikologi.
Rasayama tantra yaitu ilmu tentang mukjizat.
Wajikarana tantra, yaitu ilmu jiwa remaja.
Dari 8 ilmu inilah, kemudian berkembang berbagai sistem pengobatan yang berbasis pada ajaran
Veda, yang pada umumnya dikenal dengan nama ayurveda.