Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG TEORITIS
SARAF PERIFER
Susunan saraf secara fungsional dapat dibagi menjadi dua yaitu susunan saraf
sensorik dan susunan saraf motorik. Sebagian susunan saraf sensorik dan susunan saraf
motorik berperan menjadi saraf pusat dan sebagian lagi menjadi saraf perifer. Nervus
ischiadicus(saraf perifer) merupakan salah satu saraf motorik somatik perifer. Nervus
ischiadicus(saraf perifer) mempunyai beberapa akson yang keluar dari cornu anterior
medulla spinalis. Kepekaan tiap akson Nervus ischiadicus mungkin saja memiliki tingkat
kepekaan yang berbeda dalam mensarafi musculus gastrocnemius(otot rangka).
Kepekaan tiap akson dari saraf perifer (nervus ischiadicus) dapat diamati melalui
pemberian rangsangan listrik tunggal pada nervus ischiadicus dengan intensitas yang
berbeda (dimulai dari intensitas rendah ke intensitas tinggi : rangsangan subliminal,
rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan submaksimal, rangsangan
maksimal, rangsangan supramaksimal). Respon rangsangan diamati melalui kontraksi
musculus gastrocnemius serta mengukur amplitudo (kekuatan) kontraksi dari otot tersebut.
Otot dirangsang dengan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple) dan
frekuensi ditinggikan berpotensi menimbulkan beberapa gambaran kontraksi otot yang
berbeda, seperti muscle twitch (kedutan otot), treppe, summation contraction (kontraksi
sumasi), incomplete tetanic contraction, complete tetanic contraction(kontraksi tetani
lurus).
Kekuatan kontraksi otot dipengaruhi oleh antara lain tingkat kepekaan saraf yang
melayaninya, cara perangsangannya, dan faktor pembebanan yang diberikan kepeda otot
tersebut. Pembebanan pada otot dapat diberikan pada saat otot kontrakasi (after loaded)
dapat juga diberikan pada saat sebelum otot kontraksi (preloaded). After loaded dan

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

preloaded memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kekuatan kontraksi dan kerja otot.
Semakin beban ditambah, maka kontraksi semakin kecil sehingga kerja otot berkurang.
OTOT RANGKA
Sistem rangka adalah suatu sistem organ yang memberikan dukungan fisik pada
makhluk hidup. Sistem rangka umumnya dibagi menjadi tiga tipe: eksternal, internal, dan
basis cairan (rangka hidrostatik), walaupun sistem rangka hidrostatik dapat pula
dikelompokkan secara terpisah dari dua jenis lainnya karena tidak adanya struktur
penunjang.
Rangka manusia dibentuk dari tulang tunggal atau gabungan (seperti tengkorak)
yang ditunjang oleh struktur lain seperti ligamen, tendon, otot, dan organ lainnya. Rata-rata
manusia dewasa memiliki 206 tulang, walaupun jumlah ini dapat bervariasi antara
individu.Hal ini terdiri dari tulang tubuh (kerangka), otot, tulang rawan, tendon, ligamen,
sendi,dan jaringan ikat lainnya yang mendukung dan mengikat jaringan dan organ
bersama-sama.
Fungsi utama sistem muskulo skeletal termasuk mendukung tubuh,sehingga gerak,
dan melindungi organ-organ vital. Bagian kerangka sistem berfungsi sebagai sistem
penyimpanan utama untuk kalsium dan fosfor dan berisi komponen-komponen penting dari
sistem hematopoietik.
Sistem ini menjelaskan bagaimana tulang terhubung ke tulang lain dan serat otot
melalui jaringan ikat seperti tendon dan ligamen. Tulang memberikan stabilitas ke tubuh
dalam analogi batang besi dalam konstruksi beton. Otot menjaga tulang di tempat dan juga
memainkan peran dalam gerakan tulang. Untuk memungkinkan gerak, tulang yang berbeda
dihubungkan oleh sendi. Cartilage mencegah tulang berakhir dari menggosok langsung
pada satu sama lain. Otot kontrak (bergerombol) untuk memindahkan tulang melekat pada
sendi.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

BAB II
METODE KERJA
SARAF PERIFER DAN OTOT RANGKA

I.

TUJUAN
a. Mempelajari dan mengetahui kepekaan syaraf perifer
(nervusischiadicus)
b. Mempelajari dan mengetahui kontraksi otot tetani (musculus
gastrocnemius)
c. Mengetahui pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot

II.

III.

dan kerja otot polos ( musculus gastroenemius ) : after load dan preload
SARANA
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum adalah :
Statif + alatpenulis + sekrup penyangga
Tempatbeban + beban
Papan fiksasi + jarum fiksasi
Alat atau jarum penusuk
Kimograf dan kertasgrafik
Stimulator listrik
Larutan ringer
Pipet
Benang
Katak

PROSEDUR KERJA
III.1. PREPARASI KATAK

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

Untuk membuat sediaan syaraf perifer( nervusischiadicus ) dan otot rangka (


musculas gastrocnemius ) dari hewan katak memerlukan 4 tahapan dengan tahapan
dengan rincian langkah-langkah sebagai berikut :
I.

Merusak Otak dan Medula Spinalis


Tujuannya adalah agar hewan coba (katak) yang kami gunakan tidak lagi
merasa sakit. Disamping itu juga menghilangkan pengaruh susunan syaraf pusat
yang dapat menggangu jalannya percobaan.
Langkah langkah yang kami lakukan untuk merusak otak dan merusak
medulla spinalis adalah:
1. Memegang katak dengan tangan kiri sedemikian rupa, meletakkan jari
telunjuk dibagian belakang kepala dan ibujari di bagian punggung
2. Menekan jari telunjuk agar katak sedemikian merunduk, sehingga terdapat
lekukan antara craium dan columna vertebralis
3. Menusukkan jarum penusuk pada lekukan tersebut dimana sela interspinalis
lebar, caranya dengan mengarahkan jarum ketempat yang tidak keras dan
menusukkan jarum ke dalam rongga tengkorak dan menggerakan kian
kemari untuk merusak otak katak. Setelah itu memindahkan arah jarum ke
jurusan medulla spinalis. Memutarkan jarum ke arah yang berlainan untuk
merusak medulla spinalis. Tanda bahwa jarum masuk kedalam rongga dan
merusak medulla spinalis adalah kekejangan dari kedua otot kaki katak

II.

Membuat Sedian Musculus Gastrocnemius


Setelah tindakan merusak otot dan medulla spinalis selesai, selanjutnya kami
membuat sediaan musculus gastrocnemius dengan langkah-langkah sebagai
berikuut :
1. Menggunting kulit katak tungkai bawah kanan melingkar setinggi
pergelangan kaki
2. Mengangkat kulit yang telah lepas keatas dengan pinset
3. Memisahkan tendon Achilles dari jaringan sekitarnya dengan alat tumpul.
Tendon Achilles tidak dipotong terlebih dahulu

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

4. Mengikat tendon Achilles dengan benang yang telah disediakan berupa


ikatan mati yang kuat pada insertiornya. Kemudian memotong tendon
Achilles pada bagian distal dari ikatan benang tersebut.
5. Membebaskan musculus gastrocnemius dari jaringan sekitarnya sampai
mendekati persendiaan lutut ( tidak memotong musculus gastronemius )
6. Memasang ikatan benang yang kuat pada tulang tibia, fibula serta otot-otot
yang melekat pada tulang tersebut ( kecuali gastoenemius ) kira-kira 5mm
dibawah lutut.
7. Memotong tulang-tulang tibia ,fibia serta otot-otot yang melekat pada
tulang tersebut di bawah ikatan tersebut.
8. Mengembalikan kulit tadi kebawah sehingga menutupi kembali otot-otot
gastroenemius untuk melindunginya agar tidak kering.
9. Membasahi sediaan ini setiap kali dengan larutan ringer ketika waktu mati.
III.

Membuat Sediaan Nervus Ischiadicus


1. Meletakkan katak pada posisi tertelungkup, menggunting kulit memanjang
pada bagian paha belakang kanan sehingga otot terlihat.
2. Mencari nervusischiadicus dengan cara memisahkan otot-otot pada daerah
paha belakang menggunakan alat tumpul. Dengan berhati-hati kami tidak
sampai merusak pembuluh darah yang berjalan bersama-sama
nervusischiadicus
3. Membuat simpul longgar pada nervusischiadicus dan mengembalikan
nervus tersebut diantara otot-otot.

IV.

Mempersiapkan Sediaan Nervus Ischiadicus dan Musculus


Gastrocnemius Untuk Percobaan Selanjutnya
1. Meletakkan katak tertelengkup pada papan katak
2. Memfiksir kaki kanan, dengan lutut pada tepi bawah papan sehingga
nantinya musculus gastrocnemius dapat tergantung bebas
3. Memfiksir ketiga kaki yang lain, sehingga paha kanan dalam posisi tegak
lurus untuk memudahkan pemasangan electrode perangsang
4. Menghubungkan tali pada ujung tendon acjilles dengan pelukis
5. Mengatur posisi penulis, tanda rangsangan dan tanda waktu sehingga
percobaan dapat berlansung dengan benar.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

III.2. KEPEKAAN SARAF PERIFER


Untuk mempelajari dan mengetahui kepekaan syaraf perifer, melakukan langkahlangkah berikut:
1. Menyiiapkan Sediaan nervusischiadicus dan musculus gastrocnemius
(langkah III.1)
2. Memberikan rangsangan tunggal( dengan menggunakan electrode
stimulator listrik ) pada nervusischiadicus dimulai dengan intensitas
rangsangan yang paling kecil, selanjutnya secara bertahap besar
intensitas rangsangan dinaikkan interval waktu 30 detik. Setiap kali
menambah rangsangan, drum kimograf diputar sekitar 0,5 cm supaya
gambaran alat penindih pada kertas kimograf tidak tumpang tindih.
3. Memperhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf.
Dengan melihat hasil kertas yang tergambar pada kertas kimograf,
menentukan besar :
I.
II.
III.
IV.
V.
VI.

Rangsangan subliminal
Rangsangan liminal
Rangsangan supraliminal
Rangsangan submaksimal
Rangsangan maksimal
Rangsangn supramaksimal

III.3. PENGARUH PEMBEBANAN TERHADAP KEKUATAN KONTRAKSI


DAN KERJA OTOT RANGKA
Pembebanan pada otot dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
Pembebanan yang diberikan pada saat otot kontraksi( after loaded )
Pembebanan yang diberikan sebelum otot kontraksi( preloaded )
Kontraksi After Loaded
Tahapan dalam mengamati kontraksi after loaded sebagai berikut :
LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN
OTOT RANGKA

Page

1. Mengatur sekrup penyangga sehingga ujung sekrup menyangga penulis dan garis
dasar (baseline ) penulis tidak berubah. Dengan demikian panjang otot tidak akan
berubah ( tidak direnggang oleh tempat beban maupun beban yang ditambah )
2. Dalam keadaan tanpa pengisi beban dengan kimograf dalam keadaan diam,
merangsang nervusischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal
3. Memberi beban 10 gram, memutar kimograf 0,5cm, interval waktu rangsang 30
detik kemudian memberi rangsangan tunggal maksimal lagi.
4. Mengulangi tindakan di atas dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram
hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.
5. Dari hasil gambar penulis pada kertas kimograf :
a. Menghitung kerja otot ( W) untuk setiap pembebanan
b. Membuat grafik yang menggambar hubungan antara besar beban ( pada absis )
dengan besar beban otot (pada ordinat )
c. Memberi penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.

Kontraksi Pre Loaded


Tahapan dalam mengamati kontraksi preloaded sebagai berikut :
1. Melonggarkan sekrup penyangga yang menyanga penulis sehingga musculus
gastroenemius secara langsung menahan tempat beban. Mengatur letak penulis
sehingga posisinya horizontal.
2. Merangsang nervusischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal
3. Memberi beban 10 gram, putra kimograf 0,5 cm, menembalikan penulis pada
posisi horizontal, kemudian memberi rangsangan tunggal maksimal lagi
4. Mengulangi tindakan diatas dengan setiap kali menambah beban 10 gramm,
sehingga otot tidak dapat lagi menggangkat beban lagi
5. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf :
a. Menghitung kerja otot ( W ) setiap pembebanan
Kerja otot = beban x pemendekan otot
b. Membuat grafik yang menggambarkan hubungan antara besar beban
( pada absis ) dengan besar kerja otot ( pada ordinat )
c. Memberikan penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut
LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN
OTOT RANGKA

Page

d. Membandingkan dan memberi penjelasan menganai perbedaan antara


grafik pada kontraksi after loaded dengan kontraksi preloaded
III.4. KONTRAKSI TETANI
Untuk mempelajari dan mengetahui kontraksi tetani, lakukan langkah langkah sebagai
berikut :
1. Memberikan rangsangan maksimal secara beruntun ( multiple maximal stimulus,
successive maimal stimulus ) dimulai dengan frekuensi rendah selama 3-5 detik,
selanjutnya secara bertahap frekuensi rangsangan ditingkatkan dengan interval
waktu sekitar 60 detik (untuk memberi istirahat yang cukup bagi otot ) sampai
terjadi complete tetanic contraction (kontraksi tetani lurus)
2. Memperhatikan apa yang tergambar oleh penulis kertas kimograf, dengan melhat
hasil yang tergambar pada hasil kertasimograf, mencatat masing-maisng data
frekuensi rangsangan dan menggambar kontraksi yang dihasilkan, selanjutnya
memasukkan data tersebut pada table data yang tersedia.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

TABEL I. DATA KEPEKAAN SARAF PERIFER


KEPEKAAN SARAF PERIFER
(Nervus Ischiadicus)
Rangsangan (Volt)

Kontraksi (cm)

0,01 x 0
0,01 x 5
0,01 x 10
0,01 x 15
0,01 x 20
0,01 x 25

0 cm
0 cm
0 cm
0 cm
0 cm
0 cm

0,1 x 0
0,1 x 5
0,1 x 10
0,1 x 15
0,1 x 20
0,1 x 25

0 cm
0 cm
1,5 cm
0 cm
0 cm
0 cm

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

1x0
1x5
1 x 10
1 x 15
1 x 20
1 x 25
a.
b.
c.
d.
e.
f.

0 cm
0 cm
0 cm
0 cm
0,5 cm
1 cm
Besar Rangsangan Subliminal
Besar Rangsangan Liminal
Besar Rangsangan Supralimal
Besar Rangsangan Submaksimal
Besar Rangsangan Maksimal
Besar Rangsangan Supramaksimal

= < 10 V
= 10 V
= 15 V
= 20 V
= 25 V
= > 25 V

TABEL II. DATA KONTRAKSI AFTER LOADED


KONTRAKSI AFTER LOADED
(Musculus Gastrocnemius)
Beban
(gram)(kg)

Kontraksi
(cm)(m)

Kerja
(Joule)

10 gram = 0,01 kg

1,8 cm = 0,018 m

18 x 10-6 Joule

20 gram = 0,02 kg

1 cm = 0,01 m

2 x 10-4 Joule

30 gram = 0,03 kg

0,3 cm = 0,003 m

9 x 10-5 Joule

GRAFIK HUBUNGAN BEBAN (kg) dan KONTRAKSI (m) TERHADAP KERJA OTOT
(Joule) AFTER LOADED

KONTRAKSI (m)

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

1,8 x 10-4 Joule

KERJA OTOT (Joule)

2 x 10-4 Joule

9 x 10-5 Joule

BEBAN (kg)
Semakin beban ditambah, maka kontraksi semakin kecil sehingga kerja otot berkurang

TABEL III. DATA KONTRAKSI PRELOADED


KONTRAKSI PRELOADED
(Musculus Gastrocnemius)
Beban
(gram)(kg)

Kontraksi
(cm)(m)

Kerja
(Joule)

10 gram = 0,01 kg

0,5 cm = 0,005 m

5 x 10-5 Joule

GRAFIK HUBUNGAN BEBAN (kg) dan KONTRAKSI (m ) TERHADAP KERJA


OTOT (Joule ) PRELOADED

KONTRAKSI (m)

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

5 x 10-5 Joule

KERJA OTOT (Joule)

BEBAN (kg)
Semakin beban ditambah, maka kontraksi semakin kecil sehingga kerja otot berkurang

TABEL IV. DATA KONTRAKSI RANGSANGAN BERBAGAI FREKUENSI


KONTRAKSI SUMASI KONTRAKSI TETANI
Frekuensi Rangsangan
(kali/detik)

Kontraksi Sumasi (+/-)

Kontraksi tetani (+/-)

0,2 x/detik

0,4 x/detik

0,8 x/detik

1 x/detik

2 x/detik

3 x/detik

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

4 x/detik

5 x/detik

6 x/detik

7 x/detik

8 x/detik

9 x/detik

10 x/detik

25 x/detik

50 x/detik

100 x/detik

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada saat tabel I. Data Kepekaan Saraf Perifer, kelompok kami mendapatkan suatu
hasil yang berbeda dengan teori yang telah kita pelajari, dimana kita mendapatkan hasil
seperti data dibawah ini :
0,1 x 0
0,1 x 5
0,1 x 10
0,1 x 15
0,1 x 20
0,1 x 25

0 cm
0 cm
1,5 cm
0 cm
0 cm
0 cm

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

Pada umumnya, saraf perifer mampu berkontraksi pada saat rangsangan 1 x 5


sampai dengan 1 x 25 dan tergantung pada kemampuan masing-masing katak. Seharusnya
di dalam data, jika terjadi kontraksi data berikutnya juga terjadi kontraksi.
Pada saat percobaan, kami melihat ada kontraksi pada saat saraf perifer diberi
rangsangan 0,1 x 10 V sebesar 1,5 cm, tetapi pada data selanjutnya tidak terjadi kontraksi.
Adapun faktor-faktor lain yang menyebabkan data kami tidak sesuai dengan teori adalah
sebagai berikut :
1. Pada saat percobaan terjadi ketidaksengajaan salah satu anggota kami
menyentuh jarum penulis pada kimograf (human eror) yang menyebabkan
jarum penulis pada kimograf tidak stabil dan bergerak sendiri.
2. Pada saat percobaan, kami menestekan larutan ringer ke saraf perifer di saat
kimograf dalam keadaan menyala, sehingga menyebabkan saraf berkontraksi
dan menggerakkan jarum penulis.

Kepekaan Saraf Perifer


Besarnya rangsangan yang diberikan pada nervus ischiadicus (saraf perifer)
mempengaruhi kontraksi pada otot gastrocnemius (otot rangka). Otot memiliki stimulus
ambang yaitu voltase listrik minimum yang menyebabkan otot berkontraksi. Jika stimulus
tidak mencapai ambang batasnya maka otot tidak akan memberikan respon.

Rangsangan subliminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan belum ada satu

motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk kontraksi. Dalam
praktikum kami, besar rangsangan subliminalnya adalah < 10 V. Dimana belum terjadi
kontraksi. Ini menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami adanya
rangsangan yang mengalir, sehingga belum ada kontraksi otot dari katak.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

Rangsangan liminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dan mulai terjadi

kontraksi otot terkecil pertama kali. Dalam praktikum kami, besar rangsangan liminalnya
adalah 10 volt. Ini adalah saat pertama kali katak memberikan respon berupa kontraksi otot
kepada rangsangan yang kami berikan. Hal ini menandakan bahwa satu unit saraf motorik
pada katak itu telah berkontraksi.

Rangsangan supraliminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dapat

menyebabkan terjadinya kontraksi terkecil yang lebih besar daripada liminal. Dalam
praktikum kami besar rangsangan supraliminalnya adalah 15 volt. Hal ini menandakan
bahwa serabut saraf lain juga mulai berkontraksi sehingga hasil kontraksi pada kertas
kimograf mengalami kenaikan.

Rangsangan submaksimal adalah rangsangan terkecil yang diberikan sehingga

terjadi kontraksi yang besarnya mendekati nilai maksimalnya. Dari hasil pratikum kami,
didapatkan rangsangan sebesar 20 volt.

Rangsangan maksimal adalah rangsangan terkecil yang mengakibatkan semua

serabut saraf memberikan reaksi dan menghasilkan kontraksi otot terbesar. Dari hasil
pratikum kami besar rangsangannya adalah 25 volt dengan kontraksi otot sebesar 1 cm.

Rangsangan supramaksimal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dapat


menghasilkan kontraksi otot sebesar kontraksi otot maksimal. Hal ini dikarenakan seluruh
serabut saraf dalam percobaan ini sudah aktif yakni berkontraksi saat rangsangan
maksimal. Namun dalam praktikum kami rangsangan supramaksimal besar rangsangannya
pada >25 volt, hal ini tidak sama dengan rangsangan maksimal pada 25 volt yang
menghasilkan kontraksi otot sebesar 1 cm.
Sebuah otot akan berkontraksi dengan cepat apabila tanpa melawan beban. Akan
tetapi apabila diberi beban, kecepatan kontraksi otot akan menurun secara progresif seiring
dengan penambahan beban. Besar beban meningkat sampai sama dengan kekuatan
maksimum yang dapat dilakukan otot tersebut, maka kontraksi otot akan menjadi nol atau
tidak terjadi kontraksi otot sama sekali. Hal ini dikarenakan beban yang diberikan pada
otot kekuatannya berlawanan arah dengan yang menggerakkan kontraksi otot.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

Kontraksi After loaded dan Preloaded


Kontraksi after loaded adalah pengencangan yang diberikan saat otot berkontraksi.
Sedangkan pre loaded adalah peregangan yang diberikan sebelum adanya kontraksi.
Sehingga hasil kontraksi otot akan lebih besar saat after loaded daripada saat preloaded.
Peregangan yang diberikan sebelum kontraksi menyebabkan otot mengalami kelelahan
terlebih dahulu sebelum kontraksi. Ini mengakibatkan terjadinya pemendekan otot dan
tidak ada kontraksi otot yang terjadi.
Dalam praktikum kami didapatkan bahwa data pada proses after load menunjukkan
progres kontraksi otot yang semakin menurun akibat penambahan beban.

Kontraksi Somasi dan Kontraksi Tetani


Kontraksi somasi merupakan kekuatan kontraksi otot setelah adanya relaksasi
sempurna, kontraksi ini menimbulkan garis lurus.
Kontraksi tetani menimbulkan garis bergerigi, kontraksi ini ialah pertambahan
panjang kontraksi otot yang sempat mengalami relaksasi sempurna yang kemudian
dirangsang kembali.
Kontraksi somasi berlangsung pada frekuensi rangsangan otot rangka mengalami
relaksasi.
KONTRAKSI SUMASI KONTRAKSI TETANI
Frekuensi
(kali/detik)

Rangsangan Kontraksi Sumasi (+/-)

Kontraksi tetani (+/-)

0,2 x/detik

0,4 x/detik

0,8 x/detik

Dalam percobaan kami, data hasil praktikum tidak sesuai dengan teori yang telah
ada. Factor penyebab dari kesalahan data hasil praktikum kami adalah kesalahan presepsi
dari kelompok kami tentang pengertian kontraksi sumasi dan tetani (human error)

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

Frekuensi
(kali/detik)

Rangsangan Kontraksi Sumasi (+/-)

Kontraksi tetani (+/-)

0,2 x/detik

0,4 x/detik

0,8 x/detik

Dalam kontraksi tetani dalam data percobaan akan menimbulkan garis bergerigi pada
data percobaan 25x/detik

BAB V
BUKTI DATA
KERTAS GRAFIK YANG KAMI PERGUNAKAN DALAM
PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan
Kontraksi otot terjadi karena adanya rangsangan. Rangsangan tersebut ditangkap
oleh reseptor sensorik yang kemudian mengubahnya menjadi implus saraf. Setelah melalui
reseptor, impuls saraf tersebut akan diteruskan ke saraf pusat melalui serangkaian potensial
aksi. Kemudian setelah diolah dalam saraf pusat menjadi informasi , maka akan diteruskan
ke efektor melalu saraf motorik
Pre loaded adalah penetapan derajat regangan otot ketika otot mulai berkontraksi.
(Guyton , 2007). Otot teregang sebelum kontraksi.
After loaded adalah penetapan beban yang dilawan oleh kontraksi otot.
(Guyton, 2007). Otot tidak teregang sebelum kontraksi. Peregangan diberikan pada saat
otot berkontraksi.
Semakin beban ditambah, maka kontraksi semakin kecil sehingga kerja
otot berkurang.
Sumasi merupakan penjumlahan kontraksi kedutan otot untuk meningkatkan
intensitas keseluruhan kontraksi otot.
LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN
OTOT RANGKA

Page

. Kontraksi sumasi berlangsung pada frekuensi rangsangan dimana otot rangka masih dapat
berelaksasi.
Frekuensi rangsangan yang begitu tinggi tanpa adanya relaksasi menyebabkan otot
mengalami kontraksi tetani.

Kontraksi tetani adalah kontraksi yang terjadi jika frekuensi stimulus meningkat
melebihi batas relaksasi otot, dimana kontraksi akan bergabung menjadi kontraksi yang
panjang dan kuat. Tetani sebagian disebabkan karena sifat-sifat liat otot dan sebagian dari
kenyataan bahwa keadaan aktivitas serat otot pulsatil yang banyak bergabung menjadi
keadaan aktivasi kontinu yang lama.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page

DAFTAR PUSTAKA
Guyton , John E hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Rumpis, Agus Sunarko. 2008. Fisiologi Latihan. FIK UNY, Jogjakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SARAF PERIFER DAN


OTOT RANGKA

Page