Anda di halaman 1dari 26

WALK THROUGH SURVEY TENTANG HIGIENE INDUSTRI

PADA PT. KARMA MANGGALA YUDHA


KAMIS, 18 DESEMBER 2014
KELOMPOK 1

Disusun Oleh:
Dr. Muhammad Faris Afif
Dr. Irvan Herdian
Dr. Atikah Isna Fatya
Dr. Jedi Rijendra
Dr. Julian Pratama
Dr. Karina Jurnalis
Dr. Kharismadi
Dr. Lisa Haerunisa
Dr. Lisbeth Sylvia
Dr. Merselya Ulfa
Dr. Osmond S
Dr. Prasetya Hadi Nugraha
Dr. Prima Paramita Putri
Dr. Raisa Radina
PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA
KEMENTRIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI
KELAS B PERIODE 15 - 22 DESEMBER 2014
JAKARTA, 2014
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Rendahnya pelaksanaan K3 di perusahaan, disebabkan sangat bervariasinya
jenis aktifitas industri, sedangkan ketersediaan sumber daya manusia yang
kompeten dibidang ini masih sangat terbatas. Kebutuhan akan pengelolaan
program K3 disegala bidang dan lapangan kerja semakin bertambah dan
berkembang, karena di setiap tempat kerja terdapat potensi bahaya yang dapat
menggangu

kesehatan

dan

keselamatan

tenaga

kerja.

Sebagaimana

diamanatkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan


Kerja.
Higiene Perusahaan sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta
prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif & kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui
pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada
lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja dan masyarakat
sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan
mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).
Sedangkan Kesehatan Kerja sendiri mempunyai pengertian spesialisasi
dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga
kerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau
mental maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif & kuratif terhadap penyakitpenyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan
dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum.
Pada tanggal 18 Desember 2014, kami telah melakukan kunjungan tempat
konstruksi apartemen Green Pramuka guna melakukan studi banding dan
pengamatan higiene industri terhadap hazard dan manajemen higiene serta
penerapannya di lingkungan kerja PT. Karma Manggala Yudha di Pramuka.
Dalam kunjungan tersebut kami mendapatkan beberapa hal yang menjadi
pusat perhatian kami yang berkaitan dengan higiene dan penerapannya di tempat
kerja sehingga dapat bermanfaat bagi bidang keilmuan kami. Dan bersama ini
2

kami juga mengucapkan terima kasih atas perkenaan dan arahan yang telah
diberikan oleh PT. Karma Manggala Yudha.
1.2 TUJUAN KUNJUNGAN
Peserta pelatihan Hiperkes diharapkan mendapatkan data yang berhubungan
dengan higiene perusahaan dan dapat mengolah serta menganalisa sehingga
dapat menghasilkan kesimpulan dan saran yang bermanfaat bagi PT. Karma
Manggala Yudha.
1.3 PROFIL PERUSAHAAN
PT Karma Manggala Yudha merupakan kontraktor utama dari proyek
pembangunan apartemen green pramuka. PT KMY berlokasi di Jalan Semangka,
Slipi. PT KMY saat ini membangun 5 menara apartemen dengan 27 lantai tahap
kedua dari 17 apartemen yang akan didirikan, dimana 4 apartemen pertama telah
selesai dibangun. Area kerja konstruksi ini mencakup area seluas kurang lebih 2
hektar.
Selaku kontraktor utama, PT KMY membawahi subkontraktor yaitu PT GKP
dan PT SPU, serta 32 mandor yang membawahi 5 tugas, yaitu tugas besi,
pembobokan, pengecoran, galian, dan petugas kebersihan. Total terdapat 500
pekerja, termasuk petugas P3K. Perusahaan sudah tersertifikasi SMK3 dan
bekerja sama dengan Klinik Medika Sari, RS Agung, dan RSAL Minto Rahardjo
bila terdapat penyakit yang tidak bisa ditangani petugas P3K.
1.4 ALUR PRODUKSI
Alur produksi dalam konstruksi apartemen dijabarkan sebagai berikut:

Pembebasan
Lahan

Pemasangan
Pondasi
Bore Pile

Pengecoran

Termasuk pengecoran
pondasi sebesar 6700
m3

Pembangun
an Struktur

Finishing

Dibuka

1.5 LANDASAN TEORI


1.5.1 DEFINISI
Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta
prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif & kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui
pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada
lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja dan masyarakat
sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan
mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).
1.5.2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KERJA
1. Faktor Fisik
A. Suara Bising
Secara umum kebisingan dalam lingkungan kerja didefinisikan sebagai
semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat alat proses
produksi dan atau alat alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat
4

menimbulkan gangguan pendengaran (Permenakertrans No.13/X/Men/2011).


Menurut Kepmenaker No.Kep-51/MEN/1999, untuk kebisingan dengan
intensitas 85dB, maka pekerja terpajan selama 8 jam sehari, kebisingan
dengan intensitas 88 dB maka pekerja dapat terpajan selama 4 jam sehari
dengan demikian setiap kenaikan 3 dB maka waktu pemajanannya berkurang
setengahnya. Telinga manusia hanya mampu mendengar frekuensi antara 1620.000 Hz. Jenis-jenis kebisingan yaitu:
a. Kebisingan kontinyu dengan frekuensi yang luas (steady state, wide band
noise), dengan sifat relative tetap dalam batas kurang lebih 5 dB dan
periode 0,5 detik berturut-turut. Misalnya suara kipas angin, dapur pijar.
b. Kebisingan kontinyu dengan spektrum kebisingan sempit (steady state,
narrow band noise), mempunyai frekuensi tertentu. Misalnya gergaji
sekuler, katup gas, dll.
c. Kebisingan terputus-putus (intermitten). Misalnya: lalu lintas pesawat
terbang.
d. Kebisingan impulsif/impact (impulsive noise), memiliki perubahan tekanan
suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya
mengejutkan pendengarnya, misalnya: pukulan, tembakan bedil atau
meriam dan ledakan.
e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan.
Akibat dari paparan kebisingan sebesar 85 dB selama 8 jam dan 40 jam
seminggu

maka

menimbulkan

penurunan

atau

kehilangan

fungsi

pendengaran yang dapat terjadi secara sementara atau permanen, seperti


NIHL (Noise Induced Hearing Loss) akibat kehilangan kekakuan stereocilia.
Gangguan lainnya akibat bising antara lain adalah gangguan fisiologis,
gangguan psikologis, gangguan komunikasi, dan gangguan keseimbangan.
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat sound level
meter. Alat ini mengukur kebisingan antara 30-130dB dan frekuensi dari 2020.000Hz. Pengendalian kebisingan dilakukan dengan metode eliminasi
sumber bising, substitusi, pengendalian teknis seperti penggantian bagian
logam dengan plastik atau peredam suara di sumber-sumber bising,
pengendalian administratif, atau penggunaan APD seperti earplug atau
earmuff.

B. Pencahayaan
Pencahayaan yang baik memungkinkan pekerja bisa melihat objek yang
dikerjakan dengan jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Intensitas
cahaya

dapat

diukur

dengan

Luxmeter.

Nilai

pencahayaan

yang

dipersyaratkan oleh kep-menkes RI No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 yaitu


minimal 10 Lux, dengan kemudian berdasarkan Permen Perburuhan No. 7
Tahun 1964 mensyaratkan penerangan disesuaikan dengan sifat kerja seperti
berikut:
1. Penerangan darurat = 5 Lux
2. Halaman dan jalan-jalan di lingkungan perusahaan = 20 Lux
3. Pekerjaan membedakan barang kasar = 50 Lux
4.
5.
6.
7.

Pekerjaan membedakan barang kecil secara sepintas lalu = 100 Lux


Membedakan barang kecil yang agak teliti = 200 Lux
Pekerjaan membedakan teliti barang kecil = 300 Lux
Pekerjaan membedakan barang halus dengan kontras sedang dalam

waktu yang lama = 500-1000 Lux


8. Pekerjaan membedakan barang sangat halus dengan kontras sangat
kurang dan waktu lama = 1000 Lux
1.
2.
3.
4.
5.

Pengendalian faktor pencahayaan dilakukan dengan:


Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan sesuai jenis pekerjaan.
Pencegahan kesilauan.
Pengaturan arah sinar.
Pengaturan warna cahaya
Pengaturan panas cahaya.
Apabila pencahayaan tidak diatur, maka akan menimbulkan pencahayaan

yang kurang ataupun berlebih. Efek dari pencahayaan yang kurang berupa
iritasi, mata berair dan merah, penglihatan ganda, sakit kepala, penurunan
ketajaman, akomodasi, dan konvergensi mata.
C. Getaran
Ada dua macam getaran yaitu: getaran seluruh badan dan getaran
lengan/tangan (handaram). Getaran seluruh tubuh adalah getaran yang bisa
melalui kaki (tempat berdiri) atau melalui tempat duduk. Getaran ini terjadi
biasa pada alat pengangkut eperti truk dan traktor. Sedangkan getaran lengantangan adalah getaran yang terjadi melalui lengan dan tangan, misalnya pada
gerinda, bor tangan, dan gergaji listrik. Tiga aspek penting pada getaran yang
6

perlu diperhitungkan adalah level getaran(m/dr2), frekuensi (Hz), dan lama


pemarapan (jam). Pengukuran getaran dilakukan dengan menggunakan
vibration acceleration meter. Efek dari pajanan getaran yang berlebihan antara
lain berupa:
1. Hand and arm vibration pada frekuensi 8-1000Hz dapat menyebabkan
white finger serta kelainan otot rangka.
2. Whole body vibration menyebabkan getaran pada ala-alat dalam
sehingga dapat menyebabkan gejala sakit dada, LBP, dan gangguan
penglihatan.
3. Pada frekuensi rendah dapat menyebabkan sea sickness.
D. Iklim dan suhu.
Respon fisiologis akan tampak jelas pada pekerja dengan iklim panas.
Saridewi (2002) menyatakan bahwa perbedaan peningkatan tekanan darah
yang signifikan pada tenaga kerja seblum atau sesudah terpapar panas yang
memperburuk kondisi tenaga kerja. Sistem termoregulasi pada hipotalamus
akan merespon dengan beberapa mekanisme kontrol seperti konduksi,
konveksi, radiasi dan evaporasi dengan tujuan untuk mempertahankan suhu
tbuh sekitara 36-37 derajat celcius. Namun apabila paparan dibiarkan terus
menrus akan menyebabkan kelelahan dan akan menyebabkan timbulnya efek
heat stress (ErwinD 2004).
Menteri Tenaga Kerja RI mengeluarkan standar NAB untuk ling.fisik
tertentu di lingkungan kerja yang salah satunya adalah NAB iklim kerja dengan
menggunakan indeks suhu bola basah (ISBB) diadopsi dari Wet Bulb Globe
Temperature Index (WBGTI) dikeluarkan oleh ACGIH. NAB menurut pasal 2
KEP-51/MEN/1999 untuk suhu di tempat kerja adalah sbb:
Tabel 1. Tabel NAB Iklim Panas
Pengaturan Waktu
setiap Jam
75% - 100%
50% - 75%
25% - 50%
0% - 25%

ISSB (C)
Beban kerja
Ringan
31,0
31,0
32,0
32,2

Sedang
28,0
29,0
30,0
31,0

Berat
27,5
29,0
30,5

Efek tekanan panas pada fisiologi tubuh antara lain adalah:

1. Banyak keringat yang dihasilkan, pada orang yang telah mengalami


aklimatisasi keringat yang dihasilkan kurang lebih 1-2 liter/ jam atau 1012 liter/ 8 jam kerja.
2. Banyaknya keringat yang menguap, ditentukan oleh perbedaan antara
tekanan uap air pada kulit dan tekanan parsial uap air yang terdapat
dalam udara atmosfir.
3. Denyut jantung, dapat dipengaruhi oleh beban fisik dan beban tambahan.
Masalah yang timbul akibat pajanan tekanan panas berlebihan dapat
berupa:
1.
2.
3.
4.

Ruam panas (prickly heat)


Kram karena panas
Kelelahan panas
Stroke karena panas
Penanganan terhadap adanya faktor iklim panas dilakukan dengan:

1.
2.
3.
4.
5.

Aklimatisasi
Pemeliharaan cairan tubuh
Diet yang tepat
Pakaian yangtipis
Memakai pakaian longgar seperti katn yang dapat dilewati gerak udara ke

seluruh tubuh kita


6. Pemakaian pinggiran topi yang lebar.
E. Radiasi
Terdapat beberapa jenis radiasi, yaitu:
1. Radiasi pengion: alpha, beta, gamma, sinar X dan neutron.
2. Radiasi non pengion: UV, IR, ultrasound dan mikorowave.
Pengaruh radiasi terhadap kesehatan terbagi menajdi 2, yaitu
1. Efek stokastik: tergantung frekuensi tingkat keparahan tidak tergantung
dosis. Cth: karsinogen, teratogen, mutagen.
2. Efek nonstokastik: tegrantung frekuensi dan dosis. Cth: katarak,
kerusakan nonmalignan kulit.
Oleh karena pengaruh dari radiasi yang cukup berbahaya, maka
diperlukan pengukuran radiasi untuk menentukan adanya

risiko dan

penanganan apa yang diperlukan. Alat untuk mengukur tingkat radiasi adalah
survei meter dan dosimeter personal.
2. Faktor biologi
8

Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah


Kepres No. 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja
(point) penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang
didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminan khusus.
Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup
dan produknya yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.
Faktor biologis dapat dikategorikan menjadi:
Faktor

biologis

ditempat

kerja

biasanya

dikenal

dalam

bentuk

mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, protozoa, cacing, kutu, pinjal,


tumbuhan dan juga dalam bentuk mikroorganisme seperti binatang berbisa,
binatang buas dan lain-lain. Bahaya faktor biologi meliputi:

Infeksi akut dan kronis


Parasit
Produk toksik.
Reaksi alergi terhadap tanaman dan hewan.
Iritan
Klasifikasi faktor biologis meliputi:

1. Mikroorganisme dan toksinnya. Cth: virus, bakteri dan produknya.


2. Arthropoda. Cth: crustacean
3. Alergen dan toksik tanaman.
4. Reaksi yang ditimbulkan: dermatitis alergi, asma.
5. Protein alergen dari hewan vertebrata.
6. Reaksi alergi yang ditimbulkan melaui urin, feses, rambut dan saliva.
Cara masuk agen biologis ke dalam tubuh melalui:
1. Inhalasi
2. Ingesti.
3. Kontak kulit.
4. Kontak dengan mata, hidung, dan mulut.
3. Faktor kimia
a. Bahan kimia
a. Debu
Suspensi partikel benda padat diudara. Biasa timbul karena proses
pekerjaan mekanisaasi (pekerjaan gerinda, pemboran, dll). Ukuran
debu sangat bervariasi mulai yang dapat dilihat dengan kasat mata (50
m) sampai dengan yang tidak terlihat.
b. Fume (asap)
Partikel-partikel zat padat yang terjadi oleh karena dari bentuk gas
yang biasanya sesudah penguapan benda padat yang dipijarkan.
c. Kabut
9

Bentuk pdari sebaran partikel-partikel cair di udara sebagai hasil dari


proses kondensasi/pengembunan dari bentuk uap atau gas.
d. Asap
Bentuk partikel-partikel karbon yang mempunyai ukuran kurang dari
0,5 m dan bercampur senyawa hidrokarbon.
b. Efek-efek bahan kimia
Iritasi
Reaksi alergi: flour, garlic powder.
Asfiksia
Cancer
Efek sistemik: otak, peripheral nervous sytem, pembentukan sel darah,
ginjal, paru
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, juga dapat menyebabkan resiko
keselamatan kerja berupa kebakaran dan peledakan, akibat dari bahan kimia
yang mudah tebakar dan meledak seerti pelaruh organik atau gas-gas yang
kontak dengan sumber api.
c. Pengukuran.
Pengukuran faktor kimia di urara mengunakan media yaitu: gas detektor
yang prinsip kerjanya adalah detektor tersebut akan menghisap baha-bahan
kimia di udara, dan kemudian bereraksi dengan reagen yang sudah tesedria
di dalam tabung detektor sehingga dapat diketahui nilai kualitas dan kuantitas.
Pengambilan sampel debu dilakukan secara impingmen, yaitu: filtrasi,
presipitasi,

sedimentasi,

imprengen,

prinsip

dan

kerjanya

segala
adalah

kombinasinya,

alatnya

debu

dan

dihisap

disebut

mengalami

imprengemen dan sejumlah debu dihitung di bawah mikroskop.


d. Nilai ambang batas.
NAB faktor kimia diatur berdasarkan surat edaran No.SE 01/MEN/1997
tentang NAB faktor kimia di udaran lingkungan Kerja.
Kategori nilai ambang batas:
NAB rata-rata selama jam kerja.
NAB pemaparan singkat.
NAB tertinggi
e. Pengendalian

10

Pemberian label dan simbol pada wadah untuk bahan yang berisikan
tentang: nama bahan kimia, resiko yang ditimbulkan, jalan masuknya
ke tubuh, efek paparan, cara penggunaan yang aman dan

pertolongan pertama keracunan.


Memiliki MSDS, yaitu semua informasi mengenai suatu bahan kimia
yang

dibuat oleh seuatu perusahaan, berisikan antara lain.:

kandungan/komposisi, sifat fisik dan kmia, cara pengangkutan dan


penyimpanan, informasi APD sesuai NAB, efek terhadap kesehatan,
gejala keracunan, pertolongan pertama keracunana, alamat dan

nomer telepon pabrik pembuat atau distributor.


Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia yang mempunyai
kewajiban, melakukan identifikasi bahaya melaksanakan prosedur
kerja aman, penganggulangan keadaan darurat dan mengembankan

pengetahuan K3 di bidang kimia.


Dasar hokum yang mengatur pengendalian bahan kimia berbahaya
adalah keputusan menteri tenaga kerja RI, No.KEP 187/Men/1999.
4. Sanitasi industri
Sanitasi industri adalah usaha yang dilakuakan untuk memelihara,
meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan industri termasuk caracara pengendalian terhadap penyebaran penyakit menular, sehingga aktivitas
produksi diharapkan tidak memberikan dampak negatif terhadap tenaga kerja,
lingkungan serta masyarakat disekitarnya.
Dasar hukum yang menetapkan harus dilaksanakannya sanitasi industri
di setiap tempat kerja adalah Peraturan Mentri Perburuhan No. 7 tahun 1964
tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan Dalam Tempat
Kerja.
Ruang lingkup sanitasi industri meliputi kebersihan lingkungan kerja
pengendalian penyakit menular, penyediaan air bersih, penyediaan tempat
pembuangan sampah, ruang makan, kantin perusahaan serta ketatarumah
tanggaan.
a. Kebersihan umum
Kebersihan lingkungan meliputi kebersihan didalam perusahaan seperti
dinding, lantai, atap, peralatan dan perkakas, gudang penyimpanan bahan
baku, gudang penyimpanan produk kerja serta kebersihan diluar perusahaan
meliputi kebersihan halaman dan jalanan.
b. Penyediaan air
11

Air sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan, diantaranya untuk


minum, makan, mandi, cuci untuk proses produksi, untuk mengalirkan kotoran
-

atau limbah industri dan lain-lain. Karakteristik air ditentukan oleh :


Karakteristik biologik, adanya organisme pathogen dan non pathogen, yang

ada kadar tertentu dapat menyebabkan dampak buruk pada penggunanya.


Karakteristik fisik, adanya bahan fisis yang sangat mengganggu pada

penggunanya.
Karakteristik kimiawi, bahan kimia yang terkandung dalam air dapat
mengganggu kesehatan penggunanya serta dapat merusak peraalatan dan

mesin-mesin yang menggunakan air tersebut.


Karakteristik radioaktif, dapat menimbulkan bahaya bagi manusia dan mesinmesin.
c. Sanitasi makanan
Sanitasi makanan bagi pekerja perusahaan perlu diperhatikan, karena
sanitasi yang kurang baik dapat menyebabkan keracunan makanan.
d. Pemeliharaan fasilitas industri
Lantai, atap dinding ruangan, peralatan kerja, mesin-mesin, gang, gudang
penyimpanan, tempat beristirahat dan merokok harus dibersihkan dan dirawat
dengan baik, bebas dari debu, dan sisa-sisa bahan produksi. Kebersihan
lantai dan dinding dapat mencegah pekerja dari bahaya terpeleset, terjadtuh
akibat ceceran minyak atau air.
e. Pencegahan dan pengendalian vektor penyakit
Serangga dapat memindahkan bibit penyakit kedalam tubuh manusia
lewat kulit atau selaput lendir dan menyebarkan penyakit. Serangga dan lalat
sering berkembang biak dalam sampah dan genangan air. Upaya
pencegahan dapat dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya
dan membersihkan bak penampungan air.
f. Pembuangan lembah domestik dan industri
Limbah padat dan limbah cair yang dihasilkan akibat proses produksi
sebaiknya ditempatkan pada bak sampah tersendiri yang telah dipilah-pilah
berdasarkan jenisnya, apakah bisa didaur ulang, atau bisa langsung dibkaar
atau dikubur.
g. Perlengkapan fasilitas higiene perseorangan
Higiene perseorangan memegang peranan penting dalam menentukan
tingkat kesehatan tenaga kerja. Setiap tenaga kerja wajib untuk memelihara
dan meningkatkan kebersihan pribadinya dan pihak perusahaan wajib
menyediakan

fasilitas

kebersihan

tersebut

sesuai

dengan

yang

dipersyaratkan. Fasilitas-fasilitas tersebut adalah :


12

WC (kakus). Tiap tempat kerja harus menyerdiakan WC yang


memenuhi syarat kesehatan dan harus terpisah antara WC tenaga
kerja wanita dan pria, tersedia air yang cukup, kertas, tisu, serta
terjaga kebersihannya. Perbandingan jumlah WC dengan tenaga kerja
adalah: 1 WC untuk 1-24 orang tenaga kerja, 2 WC untuk 25-50 orang
tenaga kerja, 3 WC untuk 51-100 orang tenaga kerja. Tiap hari WC

harus dibersihkan 2-3 kali sehari.


Tempat cuci tangan, mandi, dan ruang ganti. Tempat cuci harus
tersedia 1 tempat cuci untuk 25 tenaga kerja, dan 1 tiap tambahan 15
orang tenaga kerja kalau jumlah tenaga kerjanya lebih

dari 100

orang.
Ruang makan dan kantin yang memenuhi syarat. Ruang makan harus
cukup luas, tenaga kerja dapat makan secara sekaligus atau secara
bergilir. Tenaga kerja dilarang makan, minum dan merokok ditempat
kerja, terutama ditempat kerja yang banyak bahan berbahayanya.

5. Pengolahan Limbah
Pengelolaan bahan hasil industri, khususnya terkait dengan bahan kimia,
diatur dalam undang-undang sebagai berikut: 1
1. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja
2. UU No. 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi
Perburuhan Internasional No.120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan
dan Kantor-Kantor.
3. Keputusan menteri Tenaga Kerja RI No. Kep.187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
4. Peraturan menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat
kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja.
Limbah industri merupakan buangan hasil produksi yang keberadaannya
di tempat tertentu tidak dikehendaki karena tidak memiliki nilai ekonomi. 1
Limbah industri dapat berbahaya bagi lingkungan maupun makhluk hidup
karena mengandung bahan pencemar bersifat racun, disebut sebagai limbah
B3. Limbah industri dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan
nilainya, yaitu:
1. Memiliki nilai ekonomis, yakni limbah yang dapat memberikan nilai
tambah setelah proses lebih lanjut.
13

2. Tidak memiliki nilai ekonomis, yakni limbah yang tidak memberikan nilai
tambah, hanya mempermudah pembuangan meskipun telah mengalami
proses lebih lanjut.
Berdasarkan jenisnya, pengolahan limbah dapat dilakukan dengan tiga
proses, yaitu:1
1. Proses pengolahan secara fisika
a. Sedimentasi: proses pemisahan bahan padat dari bahan cair
dengan prinsip gravitasi.
b. Flotasi: pemisahan partikel dari densitasnya dengan menggunakan
aliran udara yang masuk ke dalam sistem pengolahan.
c. Separasi minyak-air: pemisahan minyak dari aliran limbah dengan
konsep perbedaan sifat spesifisitas gravitasi antara air dan minyak.
2. Proses pengolahan secara kimiawi
a. Koagulasi-presipitasi: proses pencampuran bahan kimia menjadi
gumpalan gumpalan yang lebih besar.
b. Netralisasi: proses penurunan sifat asam atau basa di dalam air.
3. Proses pengolahan secara biologi
a. Aerobic suspended growth process
b. Aerobic attached growth process
c. Aerobic lagoons
d. Anaerobic lagoons
Sebagai salah satu industri terbesar dengan proses produksi yang
banyak, industri konstruksi merupakan penyumbang limbah terbesar di
lingkungan. Brossink dan Brouwer pada tahun 1996 memperkirakan 15-30%
limbah yang ada merupakan hasil dari industri konstruksi. Pekerjaan
konstruksi akan menghasilkan limbah berupa sisa potongan material, material
rusak, bahan pembantu, dan lainnya. Bahan baku yang digunakan cukup
beragam tergantung jenis kontruksi bangunan yang dilakukan. 2
Menurut pustaka, hampir semua jenis limbah material bangunan dapat
diolah dan digunakan kembali sehingga limbah tersebut memiliki nilai
ekonomis. Beberapa jenis pengolahan limbah konstruksi di Jakarta adalah
sebagai berikut:2
1. Besi: dirangkai untuk dipakai sebagai rangka kolom praktis
2. Kayu: dapat diolah menjadi kusen, panel pintu, pagar dalam proyek
bangunan, penyangga dalam pengecoran, dll.

14

3. Bata, keramik, genteng (material tanah): jika hanya cacat sedikit, dapat
digunakan kembali.
4. Seng dan asbes gelombang: diolah kembali sebagai bahan atap atau
pagar proyek.
5. Puing material halus: bahan timbunan alat plumbing, aksesoris
bangunan, pipa, instalasi listrik, dll.

BAB II
PELAKSANAAN SURVEY
Survey dilaksanakan pada hari Kamis, 18 Desember 2014 pukul 14.00
16.00, berlokasi di area konstruksi tower O, P, N, M, dan Q apartemen Green
Pramuka, JL. Jend. A. Yani. Berikut hasil dokumentasi pengamatan.
Gambar 1. Area Konstruksi

15

Gambar 2. Tempat Tinggal Pekerja

Gambar 3. Tempat MCK Pekerja

16

Gambar 4.

Pembuangan Limbah
BAB III
HASIL PENGAMATAN
1. Konstruksi bangunan
A. Faktor Fisik
1. Bising
Secara umum kami merasakan keadaan kontruksi bangunan pada saat
dilakukan

kunjungan

memiliki

kondisi

kebisingan

yang

cukup

mengganggu. Menurut petugas pengawas, kebisingan pada konstruksi


berasal dari alat-alat kerja seperti alat cor, palu besi, gergaji listrik,
ataupun ketika menurunkan bahan-baham konstruksi. Menurutnya juga
ada pekerja yang sudah terkena penurunan pendengaran akibat
kebisingan tersebut. Namun nilai kebisingan ruangan belum diketahui.
2. Penerangan
Sumber penerangan berasal dari sumber sinar matahari dan sumber
buatan (lampu) yang dihidupkan sesuai dengan kebutuhan, namun nilai
lux pencahayaan belum diketahui. Tidak ditemukan permasalahan
pada penerangan.
3. Getaran

17

Sumber getaran berasal dari alat kerja seperti gerinda, bor tangan, dan
gergaji listrik dan tidak ditemukan permasalahan dengan getaran.
4. Radiasi
Sumber radiasi berasal dari sinar ultraviolet dan tidak ditemukan
permasalahan dengan radiasi seperti ruam-ruam kulit.
5. Panas
Saat melakukan pengamatan di lokasi kerja sebagian pekerja terpapar
oleh sinar matahari secara langsung yang juga dikeluhkan oleh
pekerja, namun suhu tempat kerja saat itu tidak bisa di ukur.
B. Faktor Kimia
Secara umum keadaan konstruksi bangunan pada saat dilakukan
kunjungan ditemukan adanya debu yang cukup mengganggu, serta kabut
hasil proses pemotongan dan gerinda. Debu tersebut berasal dari sisa-sisa
bahan kostruksi bangunan. Hal tersebut diperberat dengan kurangnya
kepedulian para pekerja konstruksi untuk menjaga lingkungan dari debu-debu
yang bertebaran di area konstruksi bangunan tersebut.
C. Faktor Biologi
Setelah melakukan pengamatan di PT. Karma Yudha Manggala
didapatkan adanya beberapa kemungkinan terdapatnya faktor faktor
bahaya biologi yaitu kemungkinan terdapatnya jentik nyamuk di beberapa
tempat karena adanya genangan air baik di dalam tempat kerja maupun di
luar tempat kerja seperti tempat di sekitar tempat tinggal kerja mereka
semetara, pengendalian yang di lakukan menurut perusahaan adalah dengan
dilakukan fogging sebanyak sebulan dua kali dalam seminggu.
Untuk faktor biologis yang lain di dapatkan berupa alergen seperti debu
dalam hal ini beberapa tenaga kerja yang mengabaikan penggunaan APD
masker saat bekerja jadi di dapatkan kemungkinan terhirupnya bahan alergen
melalui saluran walaupun pekerja sudah di periksa tidak mempunyai riwayat
alergi debu tetapi jika terpajan terus menerus dapat menimbulkan potensi
alergi debu serta bisa menimbulkan iritasi dalam pernapasan, pencegahan
yang di lakukan perusahaan adalah dengan dilakukan upaya promotif berupa
sosialisasi dan penyuluhan kepada tenaga kerja yang dilakukan hari rabu
setiap minggunya berupa safety talk dan preventif berupa pertukaran bagian

18

kerja bagi tenaga kerja yang mempunyai kecenderungan alergi dari bagian
yang sering terpapar alergen ke bagian yang jarang terdapat bahan alergen.
Untuk program preventif lainnya perusahaan juga melakukan program
berupa medical check up untuk seluruh perkerja yang dilakukan sewaktu
dalam penerimaan pekerja.
D. Kebersihan
Secara umum kebersihan lingkungan kerja pada daerah sekitar
konstruksi dapat dikatakan baik. Pada daerah konstruksi tidak terdapat WC.
Namun disediakan urinoir (tempat buang air kecil sementara berbentuk
jerigen). Didaerah pemukiman tersedia 10 WC dan satu kamar mandi dengan
ukuran bak yang besar (bak tidak tertutup). Air pada WC cukup.

E. Petugas Higiene
Pada saat dilakukan kunjungan ke PT Karma Manggala Yudha terpadat
25 orang petugas kebersihan hygiene, tiap tower memiliki 5 orang petugas
hygiene. Adapun tugas dari petugas hygiene disini adalah:
1. Dalam lingkup kebersihan:
a. Mengumpulkan sampah-sampah perusahaan yang dibagi menjadi
2 jenis yaitu sampah bangunan dan sampah rumah tangga.
Petugas mengumpulkan sampah dari pagi sampai sore hari dan
ditampung di TPS kemudian pagi harinya sampah tersebut di
angkut oleh petugas kebersihan Pemda. Sampah yang dibuang
perhari sekitar 12 truk sampah.
b. Urinoir (tempat penampungan urine sementara) ditempatkan di
beberapa kawasan bangunan ini hanya berfungsi sebagai
menampung urin sementara. Belum jelas berapa banyak urinoir
dibangun, pembangunan urinoir tersebut hanya menggunakan
drigjen bekas dengan pembatas triplek. Untuk pembuangannya
sendiri dilakukan tiap satu hari sekali dan dialiri ke pembuangan
limbah.
2. Dalam lingkup perapihan:
Petugas hygiene juga merapihkan alat-alat kontruksi bangunan jika ada
barang-barang tidak sesuai tempatnya.
19

F. Pengolahan Limbah
Berdasarkan fungsinya, limbah hasil produksi di PT. KMY terdiri atas
dua jenis, yaitu:
1. Bahan baku material sisa produksi, seperti puing pengecoran semen,
kawat besi, puing bangunan yang hancur, dsb.
2. Sampah/limbah rumah tangga, seperti bungkus makanan, minuman,
plastik, masker, sarung tangan, dll.
3. Limbah kamar mandi/kakus.
Berdasarkan sifatnya, limbah hasil produksi di PT.

KMY dibedakan

menjadi:
1. Limbah padat, contohnya semen, puing bangunan, kawat besi,
masker, sarung tangan, dsb.
2. Limbah cair, misalnya air kamar mandi.

Tabel 2. Jenis limbah di PT. KMY


No

Jenis limbah

Bentuk

Karakteristik

.
1.
2.

Sak semen
Puing sisa bangunan,

limbah
Padat
Padat

Berbahaya
Berbahaya

batu, kayu
3.
4.
5.
6.

Kawat besi
Kaleng cat
Paku
Bungkus makanan

Padat
Padat
Padat
Padat

Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya
Berbahaya

7.

Botol minuman

Padat

(lingkungan)
Berbahaya

Padat

(lingkungan)
Tergantung

Cair

jenis
Tidak

Cair

berbahaya
Berbahaya

8.

Sampah

rumah

9.

tangga lainnya
Air
kamar

10.

mandi/cuci/kakus
Sisa cat/pilox

20

PT. KMY telah membedakan cara pengelolaan limbah dari tiap tiap
jenis. Untuk sisa bahan baku material yang tidak digunakan lagi, perusahaan
bekerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta dan usaha
dagang (UD) untuk diambil setiap hari dan diolah kembali di tempat tertentu,
misal di Pulogadung. Untuk sisa material yang tidak dapat diolah kembali,
dibuat lubang penyimpanan sebesar 10 m x 10 m x 2 m sebanyak 3 lubang
yang kemudian limbah ditimbun dengan tanah.
Pengelolaan limbah untuk sisa bangunan sudah cukup baik dan diolah
kembali untuk mendapatkan nilai ekonomis limbah. Akan tetapi, limbah cair
sebaiknya dialirkan ke parit yang agak jauh dari pemukiman tempat tinggal
pekerja dan tempat makan agar higienitas dan kebersihan lingkungan dapat
terjaga.
2. Pemukiman pekerja
A. Faktor Fisika
1. Kebisingan
Sumber kebisingan berasal dari bangunan konstruksi yang letaknya
cukup jauh dari pemukiman sehingga tidak ada permasalahan dengan
kebisingan.
2. Penerangan
Sumber penerangan berasal dari lampu. Secara umum pencahayaan
tempat pemukimam memberi kesan redup walaupun begitu karena
tempat hanya dipakai untuk beristirahat sehingga tidak menimbulkan
masalah
3. Getaran
Tidak ditemukan permasalahan dengan getaran.
4. Radiasi
Tidak ditemukan permasalah radiasi.
5. Panas
Tidak ditemukan permasalahan panas.
B. Faktor Kimia
Tidak ditemukan permasalahan faktor kimia pada pemukiman pekerja.

21

C. Faktor Biologi
Terdapat sejumlah genangan air yang berpotensi menjadi sarang
nyamuk, serta pada bak mandi pekerja. Pihak perusahaan telah melakukan
upaya fogging sebanyak satu kali tiap dua minggu.
D. Kebersihan
Kebersihan lingkungan disekitar pemukiman konstruksi masih kurang,
walaupun sudah banyak disediakan tempat sampah dan tanda larangan
membuang sampah sembarangan tetap saja masih tampak sampah-sampah
yang berserakan. Sampah-sampah ditempat konstruksi dapat berupa puingpuing bekas cor, potongan kayu, dan kawat-kawat yang dikumpulkan ditempat
pembuangan sampah sementara di basement 2. Sedangkan sampah daerah
pemukiman tampak sampah bekas bungkus makanan dan botol minuman.
Tidak terdapat ruang makan atau kantin khusus yang disediakan oleh
perusahaan. Namun terdapat warung didaerah pemukiman namun belum
memadai dan kurang bersih. Begitupula tempat tinggal dan MCK pekerja yang
masih kurang baik dan bersih.
E. Pengolahan Limbah
Untuk limbah rumah tangga, PT. KMY juga bekerja sama dengan
Pemda untuk diangkut ke TPS terdekat setiap hari. Untuk limbah kamar mandi
dan cuci dialirkan ke parit terdekat. Sementara itu, limbah kakus ditampung di
septic tank (tidak diketahui berapa jumlahnya). Parit yang menampung hasil
limbah tersebut berada tepat di samping pemukiman tempat tinggal sementara
pekerja dan dekat lokasi kantin/rumah makan bagi pekerja. Selain itu, terdapat
banyak sampah di parit sehingga dapat mengganggu aliran limbah produksi.

22

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
Tabel 3.
Ringkasan Permasalahan Yang Ditemukan
No
1

Unit yang
dikunjungi
Konstruksi
Bangunan

Permasalahan
yang ditemui
Bising

Konstruksi
Bangunan

Iklim Panas

Konstruksi
Bangunan

Debu

Konstruksi
Bangunan

Genangan air

Konstruksi

Limbah Cair

Permasalahan dari
manajemen
- Belum pernah
dilakukan
pemeriksaan
sound level
meter
- kurang tegas
memberlakuka
n penggunaan
APD bagi
pekeja
Tidak melakukan
pengukuran suhu
tempat kerja

Jumlah debu yang


banyak, dikatakan
pernah diukur dan
tidak melewati
ambang batas, tapi
hasil tidak
diungkapkan

Pembuangan

Saran
-

Pemeriksaan
sound level
meter dan
audiometri bagi
pekerja,
memberlakukan
penggunaan
APD bagi
pekerja

Mengukur suhu
tempat kerja,
- memberlakukan
pemakaian
pakaian tipis
bagi pekerja,
- pengaturan jam
kerja dan
istirahat,
- penyediaan air
minum bagi
pekerja
-Penyiraman air
untuk
mengurangi
debu
-Penggunaan APD
(masker &
goggle)
-Pengukuran debu
Meneruskan
fogging rutin dan
menghilangkan
genangan yang
bisa dihilangkan
Mengalihkan aliran
-

23

Bangunan
6

Pemukiman
Pekerja

Pemukiman
Pekerja &
Konstruksi
Bangunan

dekat dengan
pemukiman
pekerja
Genangan air &
bak mandi
dengan air yang
diam

Banyak
sampah
domestik
berserakan
Banyak
sampah di
saluran
pembuangan
limbah

Pemukiman
pekerja

-Tempat tinggal
dan toilet
pekerja yang
kurang bersih

Pemukiman
pekerja

-Makanan belum
terjamin
kebersihanny
a

limbah

-Menghilangkan
genangan air di
dekat
pemukiman
-Meneruskan
fogging rutin
-Melakukan
pengurasan dan
pemberian abate
pada bak mandi
pekerja
Tempat sampah - Menambah
masih kurang
jumlah tempat
sampah
- Memberikan
sanksi pada
pekerja yang
tidak menjaga
kebersihan
- Membersihkan
saluran limbah
dan
mengalihkan
alirannya agar
tidak berdekatan
dengan
pemukiman
- Tempat tinggal -Memberlakukan
yang sempit
piket bagi
- Jumlah toilet
pekerja untuk
membersihkan
kurang (10 di
tempat tinggal
pemukiman,
dan toilet
namun menurut
-Menambah jumlah
penjelasan
safety manager
toilet
27)
-Memperluas
bedeng tempat
tinggal pekerja
- Tidak
-Mengukur
disediakan
kebersihan
kantin atau
makanan yang
makanan dari
dijual di sekitar
perusahaan
proyek

24

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Secara umum sistem K3 sudah diterapkan di PT Karma Manggala Yudha
dan dinilai cukup, meskipun masih banyak aspek yang perlu pengukuran
pasti untuk menentukan kesesuaiannya dengan K3 dan perbaikan pada
beberapa aspek.
2. Kunjungan ini dirasa

sangat

membantu

dalam

penerapan

ilmu

keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang didapat selama pelatihan


HIPERKES dan Keselamatan Kerja.
B. SARAN
1. Perlunya pengukuran atau pengukuran ulang beberapa faktor, seperti
kebisingan, debu, dan iklim panas.
2. Perbaikan aspek kebersihan terutama

kebersihan

personal

dan

pemukiman pekerja

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Tim Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Sanitasi Industri dan
Pengelolaan Limbah. Materi Ajar Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja
bagi Dokter Perusahaan. 2014; hal 127-34.
2. Lumbangaol P. Pengelolaan Limbah Hasil Konstruksi di Jakarta. Makalah.
2013; hal 1-11.

26