Anda di halaman 1dari 100

KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH TANGGA

MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2004 DAN HUKUM ISLAM


(Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga
No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006)

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban dan Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Hukum Islam

Disusun Oleh:

SRI MULYATI
21103006

JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI AL AHWAL AL SYAKHSIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2007

i
DAFTAR ISI

Judul ................................................................................................................... i
Deklarasi ............................................................................................................ ii
Nota Pembimbing ............................................................................................... iii
Pengesahan ......................................................................................................... iv
Motto .................................................................................................................. v
Persembahan ...................................................................................................... vi
Kata Pengantar ............................................................................................ ...vii
Daftar Isi ....................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B Penegasan Istilah ........................................................................... 5
C Rumusan Masalah ......................................................................... 7
D Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................. 7
E Telaah Pustaka .............................................................................. 8
F Kerangka Teori ......................................................................... 11
G Metodologi Penelitian ............................................................... 15
H Sistematika Pembahasan ........................................................... 17

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM


RUMAH TANGGA
A Konsep Kekerasan Menurut Undang-undang No. 23 tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga ......... 20
1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga ..................... 20
2. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ............... 22
3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya KDRT ......... 29
4. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga ......................... 32

ii
B Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum Islam
.................................................................................................... 34
1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ............... 34
2. Faktor-faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga ................. 43
3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga ......................... 44
BAB III PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP
KDRT DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A Gambaran Umum tentang Pengadilan Negeri Salatiga ............. 46
1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga .................................... 46
2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga ........................... 49
3. Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga ................. 52
B Putusan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga di
Pengadilan Negeri Salatiga ....................................................... 53
1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005 ........................... 53
2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006 ............................. 63
C Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara
Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di Pengadilan
Negeri Salatiga .......................................................................... 74

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KDRT DI


PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga No.
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006 ........... 78
B Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap Kekerasan
dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga ............... 83
BAB V PENUTUP
A Kesimpulan ............................................................................... 89
B Saran ......................................................................................... 92

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rumah tangga merupakan unit yang terkecil dari susunan kelompok

masyarakat, rumah tangga juga merupakan sendi dasar dalam membina dan

terwujudnya suatu negara. Indonesia sebagai negara yang berlandaskan

pancasila yang didukung oleh umat beragama mustahil bisa terbentuk rumah

tangga tanpa perkawinan. Karena perkawinan tidak lain adalah permulaan dari

rumah tangga. Perkawinan merupakan aqad dengan upacara ijab qobul antara

calon suami dan istri untuk hidup bersama sebagai pertalian suci (sacral),

untuk menghalalkan hubungan kelamin antara pria dan wanita dengan tujuan

membentuk keluarga dalam memakmurkan bumi Allah SWT yang luas ini.

Dengan perkawinan terpeliharalah kehormatan, keturunan, kesehatan jasmani

dan rohani, jelasnya nasab seseorang.1

Ada tiga hal mengapa perkawinan itu menjadi penting. Petama:

perkawinan adalah cara untuk ikhtiyar manusia melestarikan dan

mengembangbiakan keturunanya dalam rangka melanjutkan kehidupan

manusia di muka bumi. Kedua: perkawinan menjadi cara manusia

menyalurkan hasrat seksual. Yang dimaksud di sini adalah lebih pada kondisi

terjaganya moralitas, dengan begitu perkawinan bukan semata-mata

menyalurkan kebutuhan biologis secara seenaknya, melainkan juga menjaga

alat reproduksi agar menjadi tetap sehat dan tidak disalurkan pada tempat

1
H. Bgd, M. Leter, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana, Angkasa
Raya, Padang, 1985, hlm. 7.

46
yang salah. Ketiga: perkawinan merupakan wahana rekreasi dan tempat orang

menumpahkan keresahan hati dan membebaskan diri dari kesulitan hidup

secara terbuka kepada pasanganya.2

Pada dasarnya tujuan perkawinan ialah membentuk keluarga yang

bahagia dan kekal, dalam undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang

perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita

sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa3. Dari pengertian

tersebut untuk mewujudkan keluarga yang bahagia landasan utama yang perlu

dibangun antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri adalah adanya

hak dan kewajiban di antara keduanya.

Al-Qur’an sendiri menyebutkan tujuan perkawinan dalam Surat Ar-

Rum ayat 21:

‫ﻞ َﺑ ْﻴ َﻨ ُﻜ ْﻢ‬
َ ‫ﺟ َﻌ‬
َ ‫ﺴ ُﻜ ُﻨﻮْا ِاَﻟ ْﻴﻬَﺎ َو‬
ْ ‫ﺴ ُﻜ ْﻢ َأ ْزوَاﺟًﺎ ِﻟ َﺘ‬ ِ ‫ﻦ َا ْﻧ ُﻔ‬ْ ‫ﻖ َﻟ ُﻜ ْﻢ ِﻣ‬
َ ‫ﺧَﻠ‬
َ ‫ن‬ ْ ‫ﻦ َأ َﻳ ِﺘ ِﻪ َأ‬
ْ ‫َو ِﻣ‬
‫ن‬
َ ‫ﺖ ِﻟ َﻘ ْﻮ ٍم َﻳ َﺘ َﻔ ﱠﻜ ُﺮ ْو‬
ٍ ‫ﻷ َﻳ‬ َِ ‫ﻚ‬َ ‫ﻰ َذِﻟ‬ْ ‫ن ِﻓ‬
‫ِإ ﱠ‬, ‫ﺣ َﻤ ًﺔ‬
ْ ‫َﻣ َﻮ ﱠد ًة َو َر‬
“Diantara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah bahwa dia telah
menciptakan pasangan bagi kamu dari bahan yang sama agar kamu
menjadi tenteram bersamanya. Dia menjadikan kamu berdua saling
menjalin cinta (mawadah warohmah) pelajaran yang berharga bagi
orang-orang yang berfikir.” (Q.S. Al Rum: 21).4

Dalam ayat tersebut dikatakan sakinah, mawadah dan rahmah,

mempunyai arti antara lain: diam sesudah bergerak, tetap, menetap, bertempat

2
Suara Rahima, No. 14 Th. 15 April 2005, hlm. 19
3
UU RI No. 1 tahun 1974, tentang Perkawinan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta, Cet. I,
2004, hlm. 8.
4
Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al-Qur’an, 1997, hlm. 407.

47
tinggal, tenang, dan tentram, ini menyebutkan bahwa perkawinan

dimaksudkan sebagai wahana atau tempat dimana orang-orang yang ada

didalamnya terlindungi dan dapat menjalani hidup dengan penuh kedamaian

dan aman. Dengan ketiga arti ini perkawinan merupakan ikatan yang dapat

melahirkan hubungan saling mencintai, saling menasehati, dan saling

mengharapkan satu sama lain, ungkapan al-Qur’an dengan bahasa bainakum

atau dengan kata lain satu sama lain. Tentu saja menunjukan bahwa cinta dan

kasih sayang bukan hanya dimiliki oleh salah satu pihak. Yakni suami istri

konsekuensi logisnya mereka tidak boleh saling menyakiti dan menghianati.5

Fenomena kadang berbicara lain, perkawinan yang diharapkan sakinah,

mawadah, warahmah, ternyata harus kandas ditengah jalan karena

permasalahan dalam keluarga, dan Islam menyikapi dengan memberi solusi

perceraian bagi keluarga yang memang sudah tidak dapat dipertahankan.

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu permasalahan dalam

keluarga untuk mempertahankan sebuah keluarga. Kekerasan dalam rumah

tangga bisa menimpa siapa saja termasuk bapak, suami, istri, dan anak, namun

secara umum pengertian dalam KDRT di sini dipersempit artinya

penganiayaan terhadap istri oleh suami. Hal ini bisa dimengerti karena

kebanyakan korban dalam KDRT adalah istri.

Bila kita teliti lebih jauh banyak sekali keluarga yang tidak bahagia,

rumah tangga yang selalu ditiup oleh badai pertengkaran dan percekcokan.

Dengan keadaan yang semacam ini istri manapun tidak akan nyaman dalam

5
Suara Rahima, op cit, hlm. 30.

48
mejalani kehidupanya. Kasus seperti ini sangat banyak sekali terjadi dalam

masyarakat. Akan tetapi mengapa masyarakat enggan melaporkan kasusnya

pada pihak yang berwenang? Bahkan dari hasil observasi yang penulis

lakukan di Pengadilan Negeri Salatiga, selama adanya Undang-undang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga baru ada dua kasus yang

diputuskan oleh Pengadilan yang diajukan oleh istri. Hal ini disebabkan

karena dari pihak korban takut kasus dalam keluarganya diproses di

Pengadilan karena itu merupakan aib dalam keluarganya ataukah kurang

sadarnya dari pihak korban akan perlindungan hukum yang telah diberikan

oleh negara.

Majlis Hakim dalam menetapkan sebuah keputusan tidak hanya

berpedoman pada UU PKDRT saja, tetapi hakim juga mempertimbangkan

dari beberapa keterangan saksi yang berbeda-beda dalam memutuskan suatu

perkara.

Dalam dua putusan kekerasan dalam rumah tangga yang diputuskan

oleh Pengadilan Negeri Salatiga terdapat beberapa hal-hal yang meringankan

dan hal-hal yang memberatkan, yang diantara keduanya juga berbeda, putusan

No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 yang diajukan pada tanggal: 21 Desember 2005

dan diputus pada hari Kamis tanggal 23 Februari 2006 terdapat hal-hal yang

memberatkan diantaranya Terdakwa main hakim sendiri dan Terdakwa

sebagai suami tidak melindungi istri. Sedangkan hal-hal yang meringankan

Terdakwa mengaku bersalah dan minta maaf pada istrinya, Terdakwa dan

Saksi masih berhubungan suami istri meskipun perkaranya sudah diproses di

49
Pengadilan, dan belum pernah dihukum. Sedangkan dalam putusan No:

20/Pid.B/PN.Sal/2006 yang diajukan pada 5 April 2006 dan diputus pada hari

Senin Tanggal 5 Juni 2006, terdapat hal-hal yang memberatkan yaitu

Terdakwa main hakim sendiri, Terdakwa sebagai suami tidak melindungi, dan

Terdakwa tidak minta maaf pada korban, sedangkan hal-hal yang

meringankan yaitu Terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa mengaku

bersalah dan menyesalinya. Akan tetapi putusan yang dijatuhkan dalam

perkara tersebut sangatlah jauh perbedaanya, untuk putusan No:

116/Pid.B/PN.Sal/2005 dijatuhkan pidana 1 tahun dengan masa percobaan 2

tahun serta dibebankan biaya sebesar 1000 rupiah, sedangkan putusan No:

20/Pid.B/PN.Sal/2006 dijatuhkan pidana 6 bulan dan harus dijalani serta di

bebankan biaya sebesar 500 rupiah.

Dari paparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan menelitian

terhadap putusan-putusan hakim mengenai “KEKERASAN TERHADAP

ISTRI DALAM RUMAH TANGGA (Studi Putusan Pengadilan Negeri

Salatiga No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006)”.

B. Penegasan Istilah

Untuk memudahkan pembahasan mengenai judul skripsi ini, terlebih

dahulu penulis akan mengemukakan arti istilah yang terkandung dalam judul

tersebut, sehingga tidak akan terjadi kerancauan pemahaman mengenai judul

penelitian “KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH

50
TANGGA” (Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga No.

116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006).

1. Kekerasan : Serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun

integritas mental psikologis seseorang.6

2. Istri : Wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang

bersuami7

3. Rumah Tangga : Sering juga disebut dengan keluarga yang berasal dari

bahasa sansekerta, yakni kula yang berarti famili dan

warga yang berarti anggota. Jadi, keluarga adalah

anggota famili yang dalam hal ini adalah terdiri dari

ibu (istri), bapak (suami), dan anak.8

4. Studi : Pemikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan.9

5. Putusan : Putusan adalah pernyataan hakim yang diucapkan

dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa

pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan

hukum.10

6. PN Salatiga : Pengadilan tingkat pertama bagi perkara perdata

maupun pidana, Pengadilan Negeri dibentuk oleh

6
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
1996, hlm. 17.
7
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1989, hlm. 341.
8
Ratna Batara Munti, Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Lembaga Kajian
Agama dan Gender, Jakarta, Cet. I, 1999, hlm. 2.
9
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,Balai Pustaka, Jakarta, 1982,
hlm. 965.
10
UU RI No. 8 tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana, PT. Karya Anda, Surabaya, tt,
hlm. 5.

51
Menteri Kehakiman Agung. Daerah hukumnya

meliputi satu daerah tingkat dua.11

C. Rumusan Masalah

Dari beberapa permasalahan tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan

masalah yang merupakan central pembahasan ini:

1. Bagaimana konsep kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-

undang No. 23 tahun 2004 dan fiqh?

2. Bagaimana putusan hakim dalam perkara kekerasan terhadap istri dalam

rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.?

3. Bagaimana petimbangan hakim dalam menyelesaikan perkara kekerasan

terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga ditinjau

dari UU No. 23 tahun 2004 dan hukum Islam?

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan pokok masalah di atas, penelitian ini mempunyai tujuan

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui konsep kekerasan dalam rumah tangga menurut

peraturan perundang-undangan dan (fiqh)

2. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara

kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri

Salatiga.

11
JST. Simorangkir, et. al, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. VI, 2000, hlm. 124.

52
3. Untuk mengetahui putusan hakim mengenai perkara kekerasan terhadap

istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

Adapun kegunaan dari penyusunan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Dengan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis untuk

menambah wawasan dan pengetahuan di bidang hukum khususnya

pertimbangan-pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara kekerasan

terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

2. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana

dalam bidang Hukum Islam (syari’ah)

E. Telaah Pustaka

Kekerasan dalam sebuah rumah tangga akan dianggap tabu

dipublikasikan atau diceritakan kepada orang lain, wajar jika kemudian

masalah-masalah KDRT jarang sekali yang muncul ke muka persidangan.

Farha Ciciek dalam bukunya Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam

Rumah Tangga Belajar dari Kehidupan Rasulullah SAW. Mengemukakan

panjang lebar tentang kekerasan domestik yang menimpa kaum perempuan.

Dalam bahasanya yang singkat dan padat, dia menulis latar belakang dan

segala sesuatu yang menyangkut masalah kekerasan dalam rumah tangga. Dia

juga menyebutkan bahwa masalah kekerasan dalam rumah tangga adalah salah

satu permasalahan yang menjadi tanggung jawab masyarakat dan

membutuhkan peran negara, sehingga dibutuhkan kolektif untuk

53
menanggulanginya. Akan tetapi tidak menulis tentang bagaimana bentuk

perlindungan yang diberikan oleh negara melalui Undang-undang No. 23

tahun 2004 dan pandangan hukum Islam mengenai kekerasan.

Faqihuddin Abdul Kodir dkk dalam bukunya Fiqh Anti Trafiking

(Jawaban atas Berbagai Kasus Kejahatan Perdagangan Manusia dalam

Perspektif Hukum Islam) menjelaskan pandangan keagamaan yang timbul dari

teks-teks al Quran, Hadits Nabi, dan pendapat para Ulama’ mengenai berbagai

persoalan menyangkut trafiking seperti persoalan buruh migran, penjualan

organ tubuh, penjualan bayi, aborsi korban perkosaan dan bentuk-bentuk

kekerasaan lain yang berbasis gender termasuk juga KDRT. Jawaban yang

diberikan dalam buku tersebut tidak hanya terhenti pada penguatan etis moral

dalam al Quran dan Hadits tetapi juga dikaitkan dengan potensi yuridis formal

dari Undang-undang yang berlaku.

Sebenarnya sudah banyak peneliti yang mengkaji tentang kekerasan

dalam rumah tangga seperti halnya Perlindungan Hukum Terhadap

Perempuan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT

(Studi Kasus di Polres Salatiga tahun 2004-2006), Kekerasan Terhadap Istri

Sebagai Alasan Perceraian (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga tahun

1999-2001), dan Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga (Studi

Komparatif Terhadap Hukum Islam dengan UU No. 23 tahun 2004).

Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan dalam

Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga tahun

2004-2006) merupakan skripsi yang dibahas oleh Eni Kusrini. Dalam skripsi

54
ini diuraikan bentuk perlindungan Polres Salatiga terhadap korban kekerasan

diantaranya yaitu:

a. Menerima laporan atau pengaduan;

b. Penyidikan terhadap pelaku tindak pidana;

c. Membuatkan surat keterangan atau pengantar untuk visum ke RSU

sebagai bukti;

d. Mengamankan korban jika ada ancaman dari pelaku kekerasan;

e. Menerima konseling untuk menguatkan korban;

f. Melakukan penangkapan terhadap tersangka.12

Kekerasan Terhadap Istri Sebagai Alasan Perceraian (Studi Kasus di

Pengadilan Agama Salatiga tahun 1999-2001) merupakan skripsi yang

dibahas oleh Siti Nakiyah yang secara spesifik tidak ada kasus perceraian yang

dikarenakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga. Sebetulnya ada

perceraian yang dikarenakan tindak kekerasan dalam rumah tangga, akan

tetapi setelah perkara dibawa kemuka Pengadilan kontek kekerasan dimasukan

dalam koridor hukum yang lain, misalnya perceraian itu karena tidak ada

keharmonisan, ada pihak ketiga, penelantaran, penganiayaan, cemburu, krisis

akhlak dan sebagainya.13

Sedangkan Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga (Studi

Komparatif Terhadap Hukum Islam dengan UU No. 23 tahun 2004) yang

12
Eni Kusrini, Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan Dalam
Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga), Skripsi untuk memperoleh
gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006, hlm. 52.
13 Siti Nakiyah, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga Sebagai Alasan
Perceraian, (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga ) Skripsi untuk mempereh gelar S-1 pada
Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2004, hlm. 61.

55
diteliti oleh Fithri Awwalin menjelaskan tentang Hukum Islam serta UU No.

23 tahun 2004 dalam memandang hukum yang terjadi dalam rumah tangga

yang meliputi bentuk-bentuk kekerasan dilihat dari perspektif Islam dan UU

No. 23 tahun 2004, dan akibat hukum dari tindak kekerasan yang dilakukan

serta permasalahan lainya yang menyangkut KDRT dalam perspektif lainya.14

Dari paparan di atas maka penulis berupaya untuk seobyektif mungkin

menampilkan pembahasan yang berbeda dalam meneliti dan menganalisa

putusan yang masih berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga dengan

mengambil judul “KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH

TANGGA (Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga No.

116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006)”.

F. Kerangka Teori

Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dalam masyarakat, dan ini

adalah salah satu bentuk ketidak adilan gender yang biasa terjadi. Kekerasan

terhadap perempuan merupakan tindakan yang merugikan perempuan baik

secara fisik dan nonfisik. Kebanyakan orang memahami kekerasan itu hanya

sebagai tindakan fisik yang kasar saja, sehubungan bentuk perilaku menekan

tidak pernah diperhitungkan sebagai kekerasan. Padahal yang disebut dengan

14 Fithri Awwalin, Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga (Studi Komparatif
Hukum Islam dengan UU No. 23 Tahun 2004), Skripsi untuk memperoleh gelar S-1 pada Ilmu
Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006. hlm. 18.

56
kekerasan itu mencakup keseluruhanya15, termasuk kekerasan fisik, psikis,

seksual atau penelantaran rumah tangga.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh

suami adalah kekhilafan sesaat dan tidak banyak para pihak yang menyadari

bahwa kekerasan terhadap rumah tangga itu merupakan suatu perilaku yang

berulang, dan yang menjadi permasalahan di sini, banyak korban yang takut

melaporkan kekerasan tersebut kepada pihak-pihak yang berwenang.

Di dalam rumah tangga, konflik merupakan hal yang biasa, perselisihan

pendapat, perdebatan, pertengkaran, tapi semua itu tidak serta merta disebut

sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan

dalam Rumah Tangga (PKDRT), Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah

setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat

timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologi, atau

penelantaran rumah tangga termasuk juga hal-hal yang mengakibatkan

ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,

rasa tidak percaya, atau penderitaan psikis berat pada seseorang16.

Undang-undang ini merupakan jaminan yang diberikan negara untuk

mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku

Kekerasan dalam Rumah Tangga, dan melindungi korban Kekerasan dalam

Rumah Tangga. Undang-undang PKDRT ini juga tidak bertujuan untuk

15
“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”, Peket Informasi, Rifka
Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta, t.t, hlm 2.
16
UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006, hlm. 5.

57
mendorong perceraian, sebagaimana sering dituduhkan orang. Undang-undang

PKDRT ini justru bertujuan untuk memelihara keutuhan Rumah Tangga yang

benar-benar harmonis dan sejahtera dengan mencegah segala bentuk

kekerasan sekaligus melindungi korban dan menindak pelaku Kekerasan

dalam Rumah Tangga.

Banyak ayat al-Qur’an yang menyinggung persoalan kekerasan terhadap

perempuan menyangkut kekerasan fisik. Al-Qur’an berbicara mengenai

pemukulan suami yang nunyuz hal ini dijelaskan dalam Q.S. An Nisa’ ayat 34.

‫ﺾ َو ِﺑ َﻤ ﺎ‬ ٍ ‫ﻋَﻠ ﻰ َﺑ ْﻌ‬ َ ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ‬ َ ‫ﷲ َﺑ ْﻌ‬ ُ ‫ﻞا‬َ‫ﻀ‬ ‫ﻋَﻠ ﻰ اﻟ ﱢﻨ ﺴَﺎ ِء ِﺑﻤَﺎ َﻓ ﱠ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ل َﻗﻮﱠا ُﻣ ْﻮ‬
ُ ‫ﺟﺎ‬ َ ‫اﻟ ﱢﺮ‬
‫ﷲ‬ُ ‫ﻆا‬ َ ‫ﺣ ِﻔ‬
َ ‫ﺐ ِﺑ َﻤ ﺎ‬
ِ ‫ت ِﻟ ْﻠ َﻐ ْﻴ‬
ُ ‫ﻈﺎ‬َ ‫ت ﺣَﺎ ِﻓ‬ُ ‫ت ﻗَﺎ ِﻧ َﺘ ﺎ‬
ُ ‫ﻦ َا ْﻣ ﻮَاِﻟ ِﻬ ْﻢ ﻓَﺎﻟ ﺼﱠﺎِﻟﺤَﺎ‬ ْ ‫َا ْﻧ َﻔ ُﻘ ﻮْا ِﻣ‬
‫ﺟ ِﻊ‬ِ ‫ﻲ اﻟ َﻤ ﻀَﺎ‬ ْ ‫ﺠ ُﺮ ْو ُهﻦﱠ ِﻓ‬ ُ ‫ﻦ وَا ْه‬‫ﻈ ﻮ ُه ﱠ‬ ُ ‫ﺸ ْﻮ َز ُهﻦﱠ َﻓ ِﻌ‬ ُ ‫ن ُﻧ‬ َ ‫ﺨ ﺎ ُﻓ ْﻮ‬
ْ ‫ﻲ َﺗ‬ْ ‫ﻼ ِﺗ‬ ‫وَاﻟ ﱠ‬
‫ﻴ ﺎ َآ ِﺒ ْﻴﺮًا‬ ‫ﻋِﻠ‬
َ ‫ن‬
َ ‫ﷲ َآ ﺎ‬
َ ‫نا‬ ‫ﻼ ِا ﱠ‬
ً ‫ﺳ ِﺒ ْﻴ‬
َ ‫ﻦ‬
‫ﻋَﻠ ْﻴ ِﻬ ﱠ‬
َ ‫ﻼ َﺗ ْﺒ ُﻐﻮْا‬
َ ‫ﻃ ْﻌ َﻨ ُﻜ ْﻢ َﻓ‬
َ ‫ﺿ ِﺮ ُﺑ ْﻮ ُهﻦﱠ ّﻓﺎِن َا‬
ْ ‫وَا‬
( ٣٤ :‫)اﻟﻨﺴﺎء‬
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita), dan karena mereka ( laki-laki) telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah
taat kepada Allah lagi memelihara diri. Ketika suaminya tidak ada oleh
karena Allah telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu
khawatiri Nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah
mereka ditempat tidur mereka, dan pukulah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkanya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”
(Q.S. Surat an Nisa’Ayat 34).17

Surat An-Nisa ayat 34 di atas merupakan salah satu ayat yang

membahas kelebihan derajat pria dari wanita dalam hal kepemimpinan. Jadi

kemudian beranggapan bahwa dengan dasar tersebut, kaum laki-laki berhak

berbuat seenak hati terhadap kaum wanita. Sebab sebuah himbauan yang

17
Depertemen Agama RI, AlQuran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
al Qur’an, 1997, hlm. 85.

58
tersurat maupun tersirat dalam ayat itu adalah bahwa kaum pria harus menjadi

pemimpin bagi kaum wanita dengan memberikan perlindungan dan

pemeliharaan terhadap mereka bukanya untuk menguasai ataupun

memenopoli.18

Di antara tugas kaum laki-laki adalah melindungi kaum perempuan. Ini

sebabnya mengapa hanya diwajibkan kepada laki-laki, tidak kepada

perempuan, begitu juga menafkahi keluarga. Inilah yang lebih banyak dalam

harta warisan, tetapi di luar hak-hak yang disebutkan (hak mengendalikan,

menuntut dan memimpin) maka dalam masalah hak ataupun kewajiban adalah

sama.19

Ayat ini sebagai landasan bahwa kaum laki-laki berkewajiban

memelihara dan menjaga perempuan karena laki-laki diberi kelabihan jasmani,

ayat ini juga sebagai pijakan bagi suami untuk membari pendidikan kepada

istri mereka yang membangkang dengan cara menasehati. Dan jika dengan

nasehat dia masih membangkang maka pukulah mereka. Akan tetapi pukulan

itu tidak boleh terlalu menyakitkan dan melukai.

Selain al Qur’an yang jelas sudah melarang tindakan kekerasan juga ada

hadits yang menjelaskan tentang larangan ini.

‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺎس اﻟﻌﻨﺒﺮى أﺧﺒﺮﻧﺎ أﺑﻮ داود اﻟﻄﻴﺎﻟﺴﻰ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ‬
‫ﻋﺒﺪ اﷲ ﺑﻦ أﺑﻰ ﺳﻠﻤﺔ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﷲ ﺑﻦ دﻳﻨﺎر ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻰ‬
‫ "اﻟﻈﻠﻢ ﻇﻠﻤﺎت ﻳﻮم اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ " وﻓﻰ اﻟﺒﺎب ﻋﻦ‬:‫ﺻﻞ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻗﺎل‬

18
Salim Bahreisy, Tafsir Ibnu Kasir, Jilid II, PT, Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hlm. 387.
19
Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir Al Qur’anul Majid An-Nuur, Jilid I,
PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, hlm. 843.

59
‫ﻋﺒﺪ اﷲ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ وﻋﺎﺋﺸﺔ وأﺑﻰ ﻣﻮﺳﻰ وأﺑﻰ هﺮﻳﺮة هﺬا ﺣﻴﺚ ﺣﺴﻦ‬
.‫ﻏﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ‬
Abbas Al- Anbari menceritakan kepada kami, Abu Dawud Ath Thayalisi
memberitahukan kepada kami dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah
dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW bersabda:
“perbuatan aniaya adalah merupakan kegelapan-kegelapan di hari qiyamat”
dalam bab ini terdapat dari Badillah bin Umar bin Amir, Aisyah, Musa dan
Abu Hurairah. Hadis ini adalah hadis hasan gharib dari hadis ibnu umar.20

Demikianlah seharusnya hubungan suami istri dalam rumah tangga

Islam, namun dalam kenyataan pasangan suami istri itu kadang-kadang lupa

menerapkan petunjuk-petunjuk Allah tersebut, dan tergelincir dalam

pertengkaran di antara mereka dan terjadilah apa yang tidak dikehendaki serta

yang paling dibenci Allah SWT yaitu putusnya hubungan pernikahan.

G. Metode Penelitian

Untuk memperolah data yang akurat penulis menggunakan Metode

penelitian yang diantaranyan adalah:

1. Pengumpulan Data

a. Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan

dan pencatatan secara langsung dengan sistematis terhadap fenomena-

fenomena yang diselidiki21;

b. Wawancara yaitu:“Sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara

(interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara

(interviewer)”22;

20
Muh Zuhri Dipl. Talf dkk, Tarjamah Sunan at-Tirmidzi, Jilid III, CV. Asy Syifa,
Semarang, tt, hal. 533.
21
Erna Widodo Mukhtar, Konstruksi Ke Arah Penelitian Diskriftif, Avyrouz, Yogjakarta,
2000, hlm.79.

60
c. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal yang variable yang

berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen

rapat, agenda dan sebagainya.23 Dokumentasi yang dimaksud di sini

adalah mengambil sejumlah data mengenai putusan kekerasan terhadap

istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga yaitu putusan

Nomor 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan Nomor 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

d. Studi Pustaka yaitu penelitian yang mengambil data dari bahan-bahan

tertulis (khususnya berupa teori-teori).24

e. Subyek Penelitian dalam mengumpulkan data Penulis wawancara

dengan Hakim Pengadilan Negeri Salatiga yaitu Edi Pengaribuan,

SH.MH., Viktor Togi Rumahorbo, SH.MH., Hariyadi, SH. Dan

Sutiyono, SH. untuk memberikan informasi khususnya berupa

pertimbangan dan dasar putusan Hakim mengenai kasus kekerasan

dalam rumah tangga.

2. Metode Analisis data

Analisis data yaitu analisis pada teknik pengolahan datanya dan

melakukan uraian dan penafsiran pada suatu dokumen.25 Analisis yang

dimaksud disini adalah menganalisis informasi yang menitik beratkan

pada penelitian dokumen, menganalisis peraturan dan putusan-putusan

hakim. Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa pendekatan:

22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktrek, Rineka Cipta,
Jakarta, 1998, hlm.145.
23
Ibid, hlm. 236.
24
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali, Jakarta, Cet. III, 1990, hlm.
135.
25
Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, PT. Bumi Aksara, Jakarta, Cet.
1, 2004, hlm. 30.

61
a. Pendekatan Analisis (Analicical Appoach) yaitu mengetahui makna

yang terkandung oleh istilah-istilah yang digunakan dalam aturan

perundang-undangan secara konsepsional, sekaligus mengetahui

penerapanya dalam praktik dan putusan-putusan hukum26.

b. Pendekatan kasus yaitu mempelajari pendekatan norma-norma atau

kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum27. Terutama

mengenai kasus-kasus yang telah diputus yang dapat dilihat dalam

yurisprudensi terhadap perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian.

H. Sistematika Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belekang Masalah

B. Penegasan Istilah

C. Rumusan Masalah

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

E. Telaah Pustaka

F. Kerangka Teori

G. Metodologi Penelitian

H. Sistematika Pembahasan

26
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media
Publishing, Jakarta, Cet II, 2006, hlm. 310
27
Ibid, 321.

62
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM

RUMAH TANGGA

A. Konsep Kekerasan Menurut Undang-undang No. 23 tahun 2004

tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga

1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga

2. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga

3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya KDRT

4. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga

B. Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum

Islam

1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga

2. Faktor-faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga

3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga

BAB III PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP KDRT

DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA

A. Gambaran Umum tentang Pengadilan Negeri Salatiga.

1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga

2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga.

3. Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga

B. Putusan Hakim Terhadap Kekerasan DALAM Rumah

Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005.

2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

63
C. Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara

Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di

Pengadilan Negeri Salatiga.

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KDRT DI

PENGADILAN NEGERI SALATIGA

A. Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga No.

116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

B. Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap

Kekerasan dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri

Salatiga.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

64
BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM RUMA TANGGA

A. Konsep Kekerasan Menurut UU No. 23 Tahun 2004 tentang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan terhadap wanita telah tumbuh sejalan dengan

pertumbuhan kebudayaan manusia. Namun hal tersebut baru menjadi

perhatian dunia internasional sejak 1975.

Kekerasan terhadap perempuan menurut perserikatan bangsa-bangsa

dalam deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan pasal 1

kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan

yang berbasis gender yang mengakibatkan atau akan mengakibatkan rasa

sakit atau penderitaan terhadap perempuan baik secara fisik, seksual,

psikologis, termasuk ancaman, pembatasan kebebasan, paksaan, baik yang

terjadi di area publik atau domestik28.

Menurut Herkutanto, kekerasan terhadap perempuan adalah

tindakan atau sikap yang dilakukan dengan tujuan tertentu sehingga dapat

merugikan perempuan baik secara fisik maupun secara psikis.

Hal penting lainnya ialah bahwa suatu kejadian yang bersifat

kebetulan (eccidental) tidak dikategorikan sebagai kekerasan walaupun

menimbulkan kerugian pada perempuan.

28
“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”, Peket Informasi, Rifka
Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta, t.t, hlm. 2

65
Pengertian di atas tidak menunjukkan bahwa pelaku kekerasan

terhadap perempuan hanya kaum pria saja, sehingga kaum perempuanpun

dapat dikategorikan sebagai pelaku kekerasan29.

Kekerasa dalam Rumah Tangga khususnya penganiayaan terhadap

istri, merupakan salah satu penyebab kekacauan dalam masyarakat.

Berbagai penemuan penelitian masyarakat bahwa penganiayaan istri tidak

berhenti pada penderitaan seorang istri atau anaknya saja, rentetan

penderitaan itu akan menular ke luar lingkup rumah tangga dan

selanjutnya mewarnai kehidupan masyarakat kita30.

Menurut Mansour Fakih, Kekerasan adalah serangan atau invasi

terhadap fisik maupun integritas keutuhan mental psikologi seseorang31.

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga khususnya terhadap istri

sering didapati, bahkan tidak sedikit jumlahnya. Dari banyaknya kekerasan

yang terjadi hanya sedikit saja yang dapat diselesaikan secara adil, hal ini

terjadi karena dalam masyarakat masih berkembang pandangan bahwa

kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi rahasia atau aib rumah

tangga yang sangat tidak pantas jika diangkat dalam permukaan atau tidak

layak di konsumsi oleh publik.

Menurut UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan

dalam Rumah Tangga (PKDRT), Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah

29
Herkutanto, Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Sistem Hukum Pidana, dalam buku
Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, PT. Alumni, Bandung, 2000, hlm. 267-268.
30
Ciciek Farha, Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga belajar dari
kehidupan Rasulullah SAW , PT. Lembaga Kajian Agama dan Jender, Jakarta, Cet. I, Desember
1999, hlm. 22
31
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
Cet. I, 1996, hlm. 17.

66
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat

timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologi,

atau penelantaran rumah tangga termasuk juga hal-hal yang

mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya

kemampuan untuk bertindak, rasa tidak percaya, atau penderitaan psikis

berat pada seseorang32.

Dua tahun setelah diterbitkanya UU No 23 tahun 2004 Tentang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), jumlah kasus

kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi. LBH Asosiasi

Perempuan Indonesia untuk keadilan (APIK) Semarang mencatat

sepanjang Januari – Juni 2007 terjadi 44 kasus kekerasan dalam rumah

tangga.

Akan tetapi dari 44 kasus itu hanya sembilan korban yang

menempuh upaya hukum. Lima korban lapor ke Polisi, tiga korban

mengajukan gugatan cerai, dan seorang melapor kepada instansi dimana

pelaku bekerja.33

2. Bentuk-bentuk Kekerasan Terhadap Istri

A. Bentuk-bentuk Kekeraan Terhadap Istri

Bentuk-bentuk kekeraan terhadap istri dapat berupa fisik, atau

psikis, hal ini dapat dilakukan secara aktif (menggunakan kekerasan)

atau pasif (menelantarkan) dan pelanggaran seksual.

32
UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006, hlm. 5
33
Suara Merdeka, 7 Agustus 2007.

67
Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan menurut undang-

undang PKDRT untuk lebih jelasnya penulis akan mencantumkan

pasal demi pasal yang tertuang dalam pasal 5-9.

Pasal 5.

“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga

terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:

a. Kekerasan fisik

b. Kerasan psikis

c. Kekerasan seksual, atau

d. Penelantaran rumah tangga”

Pasal 6

“Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a adalah

perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat”

Pasal 7

“Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b adalah

perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri,

hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau

penderitaan psikis berat pada seseorang.

Pasal 8

“Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf c

meliputi:

a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang

menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut

68
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam

lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan

komersial dan/atau tujuan tertentu”

Pasal 9

(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah

tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau

karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan,

perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi

setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan

cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di

dalam atau di luar rumah sehingga korban berada dibawah kendali

orang tersebut.34

B. Ketentuan Pidananya diatur dalam Pasal 44 sampai dengan pasal 53.

Pasal 44

(1) Setiap orang yang malakukan perbuatan kekerasan fisik dalam

lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf

a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau

denda paling banyak Rp 15. 000.000,00 (lima belas juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat,

dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun

34
op cit, hlm. 5-6

69
atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta

rupiah)

(3) Dalam Hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara

paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp

45.000.000,00 (empat puluh juta rupiah)

(4) Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh

suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan

penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau

mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan

pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling

banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)

Pasal 45

(1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan psikis dalam

lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud pada pasal 5 huruf b

dipidana dengan penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda

paling banyak Rp 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah)

(2) Dalam hal perbuatan sebagimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak

menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan

jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari dipidana

penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp

3.000.000,00 (tiga juta rupiah)

70
Pasal 46

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual

sebagaimana dimaksud pada pasal 8 huruf a dipidana penjara paling

lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp 36.000.000,00

(tiga puluh enam juta rupiah)”

Pasal 47

“Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah

tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 8 huruf b dipidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan

pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling

sedikit Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling

banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)”

Pasal 48

“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksdud dalam Pasal 46 dan

Pasal 47 mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi

harapan akan sembuh sama sekali, mengalami gangguan daya pikir

atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 (empat) minggu terus

menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya

janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat

reproduksi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)

tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta

rupiah)”

71
Pasal 49

Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda

paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), setiap orang

yang:

a. Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya

sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1).

b. Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2)

Pasal 50

Selain dipidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini hakim dapat

menjatuhkan pidana tambahan berupa:

a. Pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjatuhkan

pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu, maupun

pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku

b. Penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah

pengawasan lembaga tertentu

Pasal 51

“Tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44

ayat (4) merupakan delik aduan”.

Pasal 52

“Tindak pidana kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal

46 yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya

merupakan delik aduan”.

72
Pasal 53

“Tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal

46 yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya

merupakan delik aduan”35.

Kekerasan dalam Rumah Tangga bukanlah persoalan domestik

(privat) yang tidak boleh diketahui orang lain. KDRT merupakan

pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat

kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapuskan. UU ini

merupakan jaminan yang diberikan negara untuk mencegah terjadinya

kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku KDRT, dan melindungi

korban KDRT

Undang-undang ini juga tidak bertujuan untuk mendorong

perceraian, sebagaimana sering dituduhkan orang. UU PKDRT ini justru

bertujuan untuk memelihara keutuhan rumah tangga yang (benar-benar)

harmonis dan sejahtera dengan mencegah segala bentuk kekerasan

sekaligus melindungi korban dan menindak pelaku kekerasan dalam

rumah tangga.

Menurut Harkutanto bentuk-bentuk kekerasan dapat berupa

Kekerasan Psikis, bentuk tindakan ini sulit untuk dibatasi pengertiannya

karena sensifitas emosi seseorang sangat berfariasi. Dalam suatu rumah

tangga hal ini dapat berupa tidak diberikannya suasana kasih sayang pada

istri agar terpenuhi kebutuhan emosionalnya. Hal ini penting untuk

35
op cit, hlm. 16-19.

73
perkembangan jiwa seseorang identifikasi yang timbul pada kekerasan

psikis lebih sulit diukur dari pada kekerasan fisik.

Kekerasan Fisik, bila didapati perlakuan bukan karena kecelakaan

pada perempuan. Perlakuan itu dapat diakibatkan oleh suatu episode

kekerasan yang tunggal atau berulang, dari yang ringan hingga yang fatal.

Penelantaran perempuan, penelantaran adalah kelalaian dalam

memberikan kebutuhan hidup pada seseorang yang memiliki

ketergantungan pada pihak lain khususnya pada lingkungan rumah tangga.

Pelanggaran seksual, setiap aktifitas seksual yang dilakukan oleh

orang dewasa atau perempuan. Pelanggaran seksual ini dapat dilakukan

dengan pemaksaan atau dengan tanpa pemaksaan. Pelanggaran seksual

dengan unsur pemaksaan akan mengakibatkan perlukaan yang berkaitan

dengan trauma yang dalam bagi perempuan36.

3. Faktor Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan

Secara garis besar faktor-faktor yang menjadikan kekerasan dalam

rumah tangga dapat dirumuskan menjadi dua, yakni faktor eksternal dan

faktor internal. Faktor ekternal ini berkaitan erat hubunganya dengan

kekuasaan suami dan diskriminasi dikalangan masyarakat. Di antaranya:

a. Budaya patriarkhi yang menempatkan pada posisi laki-laki dianggap

lebih unggul dari pada perempuan dan berlaku tanpa perubahan,

seolah-olah itulah kodrati.

36
op cit, hlm. 268-270.

74
b. Interpretasi agama, yang tidak sesuai dengan universal agama,

misalnya seperti Nusyuz, yakni suami boleh memukul istri dengan

alasan mendidik atau istri tidak mau melayani kebutuhan seksual

suami, maka suami berhak memukul dan istri dilaknat malaikat.

c. Kekerasan berlangsung justru tumpang tindih dengan legitimasi dan

menjadi bagian dari budaya, keluarga, negara dan praktik di

masyarakat sehingga menjadi bagian kehidupan.

Faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam

rumah tangga antara lain:

a. Labelisasi perempuan dengan kondisi fisik yang lemah cenderung

menjadi anggapan objek pelaku kekerasan sehingga pengkondisian

lemah ini dianggap sebagai pihak yang kalah dan dikalahkan. Hal ini

sering kali dimanfaatkan laki-laki untuk mendiskriminasikan

perempuan sehingga perempuan tidak dilibatkan dalam berbagai peran

strategis. Akibat dari labeling ini, sering kali laki-laki memanfaatkan

kekuatannya untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan baik

secara fisik, psikis, maupun seksual.

b. Kekuasaan yang berlindung dibawah kekuatan jabatan juga menjadi

sarana untuk melakukan kekerasan. Jika hakekat kekuasaan

sesungguhnya merupakan kewajiban untuk mengatur, bertanggung

jawab dan melindungi pihak yang lemah, namun sering kali

kebalikannya bahwa dengan sarana kekuasaan yang legitimate,

penguasa sering kali melakukan kekerasan terhadap warga atau

75
bawahannya. Dalam kontek ini misalnya negara terhadap rakyat dalam

berbagai bentuk kebijakan yang tidak sensitif pada kebutuhan rakyat

kecil.

c. Sistem Ekonomi kapitalis juga menjadi sebab terjadinya kekerasan

terhadap perempuan. Dalam sistem ekonomi kapitalis dengan prinsip

ekonomi cara mengeluarkan modal sedikit untuk mencapai keuntungan

sebanyak-banyaknya, maka memanfaatkan perempuan sebagai alat dan

tujuan ekonomi akan menciptakan pola eksploitasi terhadap

perempuan dan berbagai perangkat tubuhnya. Oleh karena itu

perempuan menjadi komoditas yang dapat diberi gaji rendah atau

murah37.

Sedangkan faktor internal timbulnya kekerasan terhadap istri adalah

kondisi psikis dan kepribadian suami sebagai pelaku tindak kekerasan

yaitu: a) sakit mental, b) pecandu alkohol, c) penerimaan masyarakat

terhadap kekerasan, d) kurangnya komunikasi, e) penyelewengan seks, f)

citra diri yang rendah, g), frustasi, h) perubahan situasi dan kondisi, i)

kekerasan sebagai sumber daya untuk menyelesaikan masalah (pola

kebiasaan keturunan dari keluarga atau orang tua)38

Salah satu indikasi permasalahan sosial yang berdampak negatif

pada keluarga adalah kekerasan yang terjadi dalam lembaga keluarga,

hampir semua bentuk kekerasan dalam keluarga oleh laki-laki misalnya

37
Mufidah et al, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan? Panduan Pemula Untuk
Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, PT. PSG dan Pilar Media,
2006, hlm. 8-10.
38
Siti Zumrotun, Membongkar Fiqh Patriarkhis; Refleksi atas Keterbelengguan
Perempuan dalam Rumah Tangga, STAIN Press, Cet.I, 2006, hlm. 103.

76
pemukulan terhadap istri pemerkosaan dalam keluarga dan lain sebagainya

semua itu jarang menjadi bahan pemberitaan masyarakat karena dianggap

tidak ada masalah, sesuatu yang tabu atau tidak pantas dibicarakan korban,

dari berbagai bentuk kekerasan yang umumnya adalah perempuan lebih

khususnya lagi adalah istri cenderung diam karena merasa sia-sia. Para

korban biasanya malu bahkan tidak berani menceritakan keadaanya

kepada orang lain

4. Dampak Kekerasan Terhadap Perempuan

Dampak kekerasan yang dialami oleh istri dapat menimbulkan

akibat secara kejiwaan seperti kecemasan, murung, setres, minder,

kehilangan percaya kepada suami, menyalahkan diri sendiri dan

sebagainya. Akibat secara fisik seperti memar, patah tulang, cacat fisik,

ganggungan menstruasi, kerusakan rahim, keguguran, terjangkit penyakit

menular, penyakit-penyakit psikomatis bahkan kematian.

Dampak psikologis lainya akibat kekerasan yang berulang dan

dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan intim dengan korban

adalah jatuhnya harga diri dan konsep diri korban (ia akan melihat diri

negatif banyak menyalahkan diri) maupun depresi dan bentuk-bentuk

gangguan lain sebagai akibat dan bertumpuknya tekanan, kekecewaan dan

kemarahan yang tidak dapat diungkapkan39.

Penderitaan akibat penganiayaan dalam rumah tangga tidak terbatas

pada istri saja, tetapi menimpa pada anak-anak juga. Anak-anak bisa

39
Kristi Poerwandari, Kekerasan Terdahap Perempuan Tinjauan Psikologis dalam buku
Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, Alumni, Bandung, 2000, hlm. 283.

77
mengalami penganiayaan secara langsung atau merasakan penderitaan

akibat menyaksikan penganiayaan yang dialami ibunya, paling tidak

setengah dari anak-anak yang hidup di dalam rumah tangga yang

didalamnya terjadi kekerasan juga mengalami perlakuan kejam. Sebagian

besar diperlakukan kejam secara fisik, sebagian lagi secara emosional

maupun seksual.

Kehadiran anak dirumah tidak membuat laki-laki atau suami tidak

menganiaya istrinya. Bahkan banyak kasus, lelaki penganiaya memaksa

anaknya menyaksikan pemukulan ibunya. Sebagian menggunakan

perbuatan itu sebagai cara tambahan untuk menyiksa dan menghina

pasangannya.

Menyaksikan kekerasan merupakan pengalaman yang sangat

traumatis bagi anak-anak, mereka sering kali diam terpaku, ketakutan, dan

tidak mampu berbuat sesuatu ketika sang ayah menyiksa ibunya sebagian

berusaha menghetikan tindakan sang ayah atau meminta bantuan orang

lain. Menurut data yang terkumpul dari seluruh dunia anak-anak yang

sudah besar akhirnya membunuh ayahnya setelah bertahun-tahun tidak

bisa membantu ibunya yang diperlakan kejam.

Selain terjadi dampak pada istri, bisa juga kekerasan yang terjadi

dalam rumah tangga dialami oleh anak. Diantara ciri-ciri anak yang

menyaksikan atau mengalami KDRT adalah:

a. Sering gugup

b. Suka menyendiri

78
c. Cemas

d. Sering ngompol

e. Gelisah

f. Gagap

g. Sering menderita gangguan perut

h. Sakit kepala dan asma

i. Kejam pada binatang

j. Ketika bermain meniru bahasa dan prilaku kejam

k. Suka memukul teman40.

Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan pelajaran pada anak

bahwa kekejaman dalam bentuk penganiayaan adalah bagian yang wajar

dari sebuah kehidupan. Anak akan belajar bahwa cara menghadapi tekanan

adalah dengan melakukan kekerasan. Menggunakan kekerasan untuk

menyelesaikan persoalan anak sesuatu yang biasa dan baik-baik saja.

KDRT memberikan pelajaran pada anak laki-laki untuk tidak

menghormati kaum perempuan.

B. Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum Islam.

1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan menurut hukum Islam ini paling sulit dideteksi karena

umumya terjadi di lingkungan domestik yang mencakup hubungan

perkawinan seperti poligami, kekerasan seksual, wali mujbir, belanja

keluarga (ekonomi) talak, dan lain sebagainya.

40
op cit, Farha Ciciek, hlm. 35-37.

79
Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam memang tidak mencakup

seluruh persoalan kekerasan terhadap perempuan, namun banyaknya ayat

yang berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan sudah cukup

menjadi bukti bahwa Islam sangat memberi perhatian terhadap kekerasan

dalam rumah tangga.

Adapun kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga perspektif

hukum Islam sebagai berikut:

1. Kekerasan Fisik

Al-Qur’an dan hadits diyakini semua umat Islam sebagai sumber

acuan utama dalam semua tindakan. Kedua sumber tersebut dipelajari

dan dikaji di lembaga pendidikan dan lapisan masyarakat, sehingga

lumrah jika terjadi banyak penafsiran.

Al-Qur’an memberi perhatian bagi istri yang Nusyuz hal ini

dijadikan dasar pemikiran Surat an-Nisa’ ayat 34. Dalam ayat ini yang

dijadikan dasar memberi pelajaran bagi istri yang Nusyuz yaitu

terdapat pada ayat

‫ﻲ‬
ْ ‫ﺠ ُﺮ ْو ُهﻦﱠ ِﻓ‬
ُ ‫ﺸ ْﻮ َز ُهﻦﱠ َﻓ ِﻌﻈُﻮ ُهﻦﱠ وَا ْه‬ ُ ‫ن ُﻧ‬ َ ‫ﻲ َﺗﺨْﺎ ُﻓ ْﻮ‬
ْ ‫ﻼ ِﺗ‬
‫وَاﻟ ﱠ‬...
‫ﻦ‬
‫ﻋَﻠ ْﻴ ِﻬ ﱠ‬
َ ‫ﻼ َﺗ ْﺒ ُﻐﻮْا‬
َ ‫ﻃ ْﻌ َﻨ ُﻜ ْﻢ َﻓ‬
َ ‫ﺿ ِﺮ ُﺑ ْﻮ ُهﻦﱠ ّﻓﺎِن َا‬
ْ ‫ﺟ ِﻊ وَا‬ ِ ‫اﻟ َﻤﻀَﺎ‬
...ً‫ﺳ ِﺒﻴْﻼ‬
َ
“wanita-wanita yang kamu khawatiri Nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukulah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkanya”.

Dalam tafsif al Azhar dijelaskan tindakan-tindakan yang patut

dilakukan suami terhadap istri yang Nusyuz yaitu dengan cara “maka

80
ajarilah mereka” beri mereka petunjuk dan pengajaran, ajarilah

mereka dengan baik, sadarkan mereka akan kesalahanya. Suami

hendaklah menunjukan pimpinan yang tegas dan bijaksana, cara yang

kedua yaitu dengan cara “pisahkanlah mereka dari tempat tidur’

kerapkali istri menjadi hilang kesombonganya karena pengajaran

demikian. Tetapi ada pula perempuan yang harus dihadapi dengan cara

yang lebih kasar, maka pakailah cara yang ketiga “dan pukulah

mereka” tentu saja cara yang ketiga ini hanya dilakukan kepada

perempuan yang sudah memang patut dipukul41. Dari pemahaman

surat an Nisa’ inilah banyak suami yang melakukan kekerasan

terhadap istri dalam segala bentuknya.

Sebagian Ulama’ menafsirkan al-Qur’an tentang pemukulan ini,

pertama, pemukulan tidak boleh di arahkan ke wajah, kedua,

pemukulan tidak boleh sampai melukai, dianjurkan dengan benda yang

paling ringan, seperti sapu tangan. Ketiga pemukulan dilakukan dalam

rangka mendidik. Keempat, pemukulan dilakukan dalam rangka

sepanjang memberikan efek manfaat bagi keutuhan dan keharmonisan

kembali relasi suami istri42.

Nabi Muhammad melarang seseorang melakukan kekejaman

dan penyiksaan. Beliau bersabda, “ tidak seorangpun boleh di jatuhi

hukuman dengan api” dan juga memperingatkan agar tidak memukul

siapapun pada wajahnya. Dalam hukum pidana, beberapa hukuman


41
Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz V, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983. hlm. 48-49.
42
Husen Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren, LKiS,
Yogjakarta, Cet. I, 2004, hlm. 242.

81
mungkin terlihat berat atau bahkan keras. Hukuman berat di ancam

bagi beberapa kejahatan seperti perzinaan. Islam memandang

kejahatan tersebut adalah perbuatan yang keji dan konsekuensinya

sangat menyakitkan. Contoh lainnya adalah pencurian yang

dikategorikan dalam hukuman hudud, Hukuman bagi kejahatan ini

adalah potong tangan.43

2. Kekerasan Psikis

Selain kekerasan fisik Islam juga memperhatikan kekerasan

psikis, sebagaimana kisah Khaulah binti Tsalabah mengadu kepada

Rasulullah karena selalu dicaci maki oleh suaminya Aus bin Samit,

Khaulah seorang muslimah yang taat beribadah dan taat pada suami.

Sehingga walaupun dicaci ia tetap bersabar, tetapi pada suatu hari

hilanglah kesabaranya karena dizhihar suaminya, lantaran marah

hanya karena pulang tidak ada makanan. Malam harinya Khaulah

menolak dicampuri suaminya. Peristiwa ini diajukan pada Rasulullah

lalu turunlah surat al Mujadalah ayat 1-6 tentang zhihar ayat ini

mengandung makna agar para suami tidak mudah menzhihar

istrinya44.

Ada sebuah hadits yang menjelaskan apabila seseorang telah

mengilla’ istrinya, mereka harus membayar kafarah ketika ia akan

mengauli istrinya.

43
Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, Gema Insani, Jakarta, 2003, hlm. 73.
44
op cit, Siti Zumrotun, hlm. 111.

82
‫ﻞ‬
َ‫ﺻ‬َ ‫ﷲ‬ ِ ‫لا‬
َ ‫ﺳ ْﻮ‬
ُ ‫ ِاﻟَﻰ َر‬:‫ﺖ‬ ْ ‫ﻋ ْﻨﻬَﺎ ﻗَﺎَﻟ‬
َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ﻰا‬َ‫ﺿ‬ ِ ‫ﺸ َﺔ َر‬ َ ‫ﻦ ﻋَﺎ ِﺋ‬ ْ‫ﻋ‬ َ
‫ﻞ‬
َ ‫ﺟ َﻌ‬
َ ‫ل َو‬َ‫ﻼ‬
َ ‫ﺤ‬َ ‫ﻞ ا ْﻟ‬
َ ‫ﺠ َﻌ‬
َ ‫ﺣ ﱠﺮ َم َﻓ‬
َ ‫ﻦ َﻧﺴَﺎ ِﺋ ِﻪ َو‬
ْ ‫ﺳﱠﻠ ْﻢ ِﻣ‬
َ ‫ﻋَﻠ ْﻴ ِﻪ َو‬
َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ا‬
(‫ﻦ َآﻔﱠﺎ َر ًة )رواﻩ اﻟﺘﺮﻣﺬى ورواﺗﻪ ﺛﻘﺎت‬ ِ ‫ِﻟ ْﻠ َﻴ ِﻤ ْﻴ‬
Artinya: dari Aisyah ra. Mengatakan “Rasulullah saw bersumpah illa’
terhadap istri-istrinya dan mengharamkan mereka, kemudian
menjadikan yang haram menjadi halal dan menyebar kafarah
tebusan sumpahnya”. (HR. Tirmidzi)

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa illa’ itu merupakan

sumpah untuk suami terhadap istrinya untuk tidak menggauli istrinya

hingga waktu yang ditentukan.

Para ulama sepakat ketika suami mengilla’ istrinya selama 4

bulan berturut-turut maka tidak boleh menjima’nya. Suami ketika akan

menjima’ istrinya lagi ia harus membayar kifarat yaitu memerdekakan

budak jika ada. Apabila tidak menemukan budak, maka puasa dua

bulan berturut-turut, apabila tidak mampu, maka memberi makan 60

orang miskin.45

Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukan bahwa antara

perempuan dan laki-laki itu sama atau setara misalnya tentang

kesempatan mendapatkan pahala, hubungan perempuan dengan laki-

laki dan juga kerabatnya. Dalam hal kepemilihan, Islam memberi hak

bagi perempuan untuk memilih jodoh. Semula hak itu ditentukan oleh

wali, setelah Islam datang tuntutan Islam anak gadis yang akan

dinikahkan, diajak bicara dan ikut menentukan pilihanya.

3. Kekerasan Seksual

45
Ibnu Hajar al Asqolani, Bulughul Maram, PT. Toha Putra, Semarang, tt, hlm. 237

83
Yang dimaksud kekerasan ini adalah pemaksaan aktivitas

seksual oleh satu pihak terhadap pihak lain; suami terhadap istri, atau

sebaliknya yang biasa disebut dengan marital rape, akan tetapi

pemahaman ini lebih dipahami berbagai kalangan marital rape adalah

istri yang beroleh tindak kekerasan seksual suami dalam sebuah

perkawinan atau rumah tangga. Dengan demikian marital rape

merupakan tindak kekerasan atau pemaksaan yang dilakukan oleh

suami terhadap istri untuk melakukan aktifitas seksual tanpa

pertimbangan kondisi istri46.

Berdasarkan pada beberapa pengertian marital rape di atas,

dapat dirumuskan bentuk-bentuk marital rape sebagai berikut: (1)

Hubungan seksual yang tidak dikehendaki istri karena ketidak siapan

istri dalam bentuk fisik dan psikis. (2) Hubungan seksual yang tidak

dikehendaki istri misalnya dengan oral atau anal .(3) Hubungan

seksual disertai ancaman kekerasan atau dengan kekerasan yang

mengakibatkan istri mengalami luka ringan ataupun berat47.

Terkait dengan masalah seksualitas suami istri, ada beberapa

statemen al-Qur’an yang bisa dikemukakan diantaranya dalam surat al

Baqarah ayat 187 yaitu:

... ‫هﻦ ﻟﺒﺎس ﻟﻜﻢ واﻧﺘﻢ ﻟﺒﺎس ﻟﻬﻦ‬...


“Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah
pakaian bagi mereka”

46
Milda Marlia, Marital Rape Kekerasan Seksual Terhadap Istri, PT, LKiS Pelangi
Aksara, Yogjakarta, Cet. 1, 2007. hlm. 11
47
Ibid, hlm. 13

84
Ayat lain juga menyatakan bahwa suami harus menggauli

istrinya dengan ma’ruf ini tentunya tidak diperbolehkan adanya

kekerasan baik pemukulan, penganiayaan dan lain sebagainya.

Al Syirazi mengatakan meskipun pada dasarnya istri wajib

melayani permintaan suami, akan tetapi jika memang tidak terangsang

untuk melayaninya, ia boleh menawarnya atau menangguhkannya, dan

bagi istri yang sedang sakit atau tidak enak badan, maka tidak wajib

baginya untuk melayani ajakan suami sampai sakitnya hilang. Jika

suami tetap memaksa pada hakekatnya ia telah melanggar prinsip

muasyaroh bil ma’ruf dengan berbuat aniaya kepada pihak yang justru

seharusnya ia lindungi.48

Ulama’ Madzhab memandang ‘azl (coitus interruptus) yakni

menarik dzakar (penis) keluar dari farji (vagina) pada saat-saat mau

keluar mani. Tiga dari empat madzhab yaitu: Imam Hanafi, Imam

Maliki, dan Hambali sepakat bahwa ‘azl tidak boleh dilakukan begitu

saja oleh suami tanpa seizin istri, dengan alasan dapat merusak

kenikmatan istri. Umar berkata:

.‫ﻻ ِﺑِﺈ ْذ ِﻧﻬَﺎ‬


‫ﻦ اْﻟ َﻤ ْﺮَأ ِة ِإ ﱠ‬
ِ‫ﻋ‬
َ ‫ل‬
َ ‫ن َﻳ ْﻌ ِﺰ‬
ْ ‫ل اﷲ َا‬
ُ ‫ﺳ ْﻮ‬
ُ ‫َﻧﻬَﻰ َر‬
Rasulullah melarang seseorang malakukan ‘azl tanpa seizin istrinya.
(HR. Ibnu Majah)

Sejalan dengan prinsip melindungi hak istri untuk menikmati

hubungan seksnya. Dengan merujuk pada hadits di atas jelas bagi kita

48
Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, PT. Mizan Hazanah
Ilmu-ilmu Islam, Bandung, Cet. II, 1997, hlm. 113.

85
bahwa dalam hubungan seks dan justru pada detik-detik

kenikmatannya istri sama sekali bukan hanya objek tapi juga menjadi

subjek.49

Dari sini jelaslah perspektif al-Qur’an melarang adanya

pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan suami terhadap istri atau

marital rape, ia bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam

tentang seksualitas dalam perkawinan.

4. Kekerasan Ekonomis

Yang dimaksud kekerasan ekonomi ialah apabila suami tidak

memberikan nafkah, perawatan atau pemeliharaan sesuai dengan

hukum yang berlaku atau perjanjian antara suami dan istri tersebut.

Selain itu juga yang termasuk dalam kategori penelantaran ekonomi

adalah membatasi atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam

atau di luar rumah, sehingga korban dibawah kendali orang tersebut.

Islam mengatur secara jelas melalui pengalaman-pengalaman

masa kenabian Muhammad, jelaslah bahwa Islam tidak menoleransi

penelantaran dan kekerasan dari segi ekonomi.

Islam menetapkan kewajiban memberi nafkah kepada istri, oleh

karena itu seorang suami yang tidak memberi nafkah kepada istrinya

telah berdosa kapada istrinya dan Tuhan.

Dan para istri yang menuntut suami untuk membelikan sesuatu

selain keperluan-keperluan pokok yang menjadi tanggung jawab suami

49
Ibid, hlm. 117-118.

86
harus benar-benar dipertimbangkan apakah menurut ajaran agama

sesuatu yang dimintanya itu merupakan pemborosan ataukah benar-

benar menjadi kebutuhan hidup, sedangkan keperluan istri yang

menjadi tanggung jawab suami adalah:

a. Keperluan makan dan minum

b. Keperluan pakaian

c. Keperluan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan

d. Seorang istri juga hendaknya mempertimbangkan hal-hal yang

akan diminta kepada suaminya, sehingga tidak membebani suami

dengan tuntutan diluar kewajibanya50

Adapaun dasar kewajiban suami menafkahi istri tersebut dalam

firman Allah Q.S. Al Baqarah ayat 233.

4 sπtã$|ʧ9$# ¨ΛÉ⎢ムβr& yŠ#u‘r& ô⎯yϑÏ9 ( È⎦÷⎫n=ÏΒ%x. È⎦÷,s!öθym £⎯èδy‰≈s9÷ρr& z⎯÷èÅÊöムßN≡t$Î!≡uθø9$#uρ

4 Å∃ρã÷èpRùQ$$Î/ £⎯åκèEuθó¡Ï.uρ £⎯ßγè%ø—Í‘ …ã&s! ÏŠθä9öθpRùQ$# ’n?tãuρ


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan
kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan
cara ma'ruf”.

Dari beberapa paparan di atas jelas sekali bahwa Islam benar-

benar telah melarang bertindak kekerasan terhadap istri, termasuk juga

penelantaran pemberian nafkah. Bahkan ketika terjadi cerai pun Islam

masih memberi perhatian terhadap perempuan, salah satunya adalah

50
Muhammad Thalib, Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, PT. Irsyad Baitus Salam,
Bandung, Cet. I, 2000. hlm. 21-22.

87
dengan adanya Iddah, dan larangan mengambil kembali sesuatu yang

telah diberikan kepadanya, hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqoroh

ayat 229:

ωr& !$sù$sƒs† βr& HωÎ) $º↔ø‹x© £⎯èδθßϑçF÷s?#u™ !$£ϑÏΒ (#ρä‹è{ù's? βr& öΝà6s9 ‘≅Ïts† Ÿωuρ ...

«!$# yŠρ߉ãn $uΚ‹É)ムωr& ÷Λä⎢øÅz ÷βÎ*sù ( «!$# yŠρ߉ãm $yϑŠÉ)ãƒ


“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah
kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak
akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir
bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum
Allah.51

2. Faktor-faktor Terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap istri

antara lain:

a. Istri melakukan Nusyuz, suami boleh memukul bagian badan istri

kecuali wajah istri, sebab hal ini merupakan hak istri manakala istri

melakukan kesalahan. Hal ini boleh dilakukan jika memang membawa

faedah, jika tidak maka tidak perlu malakukan pemukulan52.

b. Istri tidak mengindahkan kehendak suami untuk berhias dan bersolek.

Juga karena istri menolak diajak ke tempat tidur.

c. Istri keluar dari rumah tanpa izin, istri memukul anaknya menangis.

d. Istri menghina suami dengan kata-kata yang tidak enak didengar.

e. Istri berbincang-bincang dengan laki-laki lain bukan muhrimnya.

51
Depertemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
al Qur’an, 1997. hlm. 37.
52
Muhammad bin Umar An-Nawawi, Syarah Uqudullujain Etika Rumah Tangga, Pustaka
Amani, Jakarta, Cet II, 2000. hlm. 22.

88
f. Istri tidak mandi haid ketika sudah memasuki waktu suci.53 Hal ini

menyebabkan suami tidak bisa menggauli istrinya.

3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Korban kekerasan bisa mengenali fakta kekerasan psikis sementara

waktu, sebagai pengenalan awal untuk menyadari seseorang diketahui

menjadi korban atau sedang menderita gangguan psikologis sebagai

variasi dan tanda-tanda terganggunya kondisi psikologis

a. Ketakutan (fear). Diantara gejala yang muncul seperti jika seseorang

berada dalam keadaan kecemasan berkelanjutan karena relasi dirasa

tidak berimbang. Seseorang merasa sama sekali tidak bisa mengambil

keputusan terutama dalam situasi mendesak. Selalu khawatir bersikap

karena ketergantungan permanen.

b. Rasa tidak percaya diri (PD). Rasa tidak PD dapat berarti orang tidak

bisa membuat konsep diri positif orang kemudian terjangkiti dan

didominasi oleh konsep diri negatif hingga tidak menemukan cara

menghargai dirinya. Gejala ini ditandai dengan oleh sikap merendah

terus menerus atau minder (inferior), selalu menyerahkan urusan

kepada orang lain, dan merosotnya eksistensi diri hingga tidak lagi

memiliki harapan untuk membuat nilai positif dalam hidupnya.

c. Hilangnya kemampuan untuk bertindak. Orang dengan situasi trauma

atau mengalami kejenuhan permanen akibat harga dirinya lemah akan

jatuh pada situasi pesimis dalam memandang hidup dan hingga enggan

53
Ibid, 35.

89
melakukan tindakan yang sesuai dengan apa yang diharapkanya. Efek

kekerasan psikis menimbulkan trauma degenetatif (mematahkan

semangat berkembang generasi)

d. Adanya situasi tidak berdaya (helplessness) situasi ini juga merupakan

gangguan pribadi dan dikatakan orang sakit secara psikologis. Ciri-ciri

helplessness antara lain putus asa, menyerah sebelum berbuat,

fatalistic, dan selalu menggantung diri, pada otoritas. Orang yang tidak

berdaya akan sulit melakukan komunikasi54

54
op cit, hlm. 94.

90
BAB III

PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP KDRT DI

PENGADILAN NEGERI SALATIGA

D. Gambaran Umum Tentang Pengadilan Negeri Salatiga

1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga

Pengadilan Negeri Salatiga dibentuk pada abad ke-19 yaitu tahun

1896 berupa Landraad untuk keperluan Warga Negara Asing dan Belanda,

Pemerintah Daerah pada masa itu berupa Kabupaten Semarang dan

Kawedanan Salatiga yang berpusat di Salatiga berbentuk Gamanto yang

pada perubahannya setelah kemerdekaan menjadi kota Pbebek dan kini

berbentuk Kotamadya. Pada waktu berbentuk Landraad hakim-hakim di

Salatiga terdiri atas tokoh Ahli Hukum pada jaman itu yaitu:

1) Mr. Whirlmink

2) Mr. Carnalis

3) Mr. Peter

4) Mr. Ter Haar

5) Mr. Lekkerkarkar

6) Mr. Sebeeler

7) Mr. Rykee

8) Mr. Cayauk

9) Mr. Dr. Gondo Koesoemo

10) Mr. Shoot

11) Mr. Wiednar

91
12) Mr. R. Soeprapto

Pada masa Pendudukan Jepang (Tihoo-Ho-in)

1) Mr. Lio Oen Hok

2) P. Salamoon

Pada Jaman ReVolusi kemerdekaan Ketua Pengadilan Negeri Salatiga

adalah:

1) Mr. Trank

2) Mr. Kresno

Setelah Indonesia Merdeka, yang pernah menjadi Ketua Pengadilan

Negeri Salatiga adalah:

1) Mr. Soebiyono

2) Mr. Woeryanto

3) Soehono Soedjo, SH.

4) Soenarso, SH.

5) Soeharto, SH.

6) Acmadi, SH.

7) Imam Soetikno, SH.

8) H. Mohammad Hatta, SH.

9) Soetopo, SH.

10) Djautan Purba, SH.

11) Agus Air Guliga, SH.

12) Sarwono Soekardi, SH.

13) Sabirin Janah, SH.

92
14) Suhartatik, SH.

15) Tewer Nussa Steven, SH.

16) Winaryo, SH.MH. (Sekarang).

Dalam perkembanganya Wilayah daerah Pemerintahan mengalami

perubahan demikian juga daerah Hukum Pengadilan Negeri Salatiga.

Untuk mengatur Wilayah Kabupaten Semarang yang begitu luas, pada

tahun 1963 Pengadilan Negeri Salatiga terpecah menjadi dua yaitu:

1) Pengadilan Negeri Salatiga dengan wilayah Hukum Kabupaten

Semarang bagian Selatan dan Kotamadya Salatiga.

2) Pengadilan Negeri Ambarawa dengan wilayah Kabupaten Semarang

bagian Utara.

Setelah pembagian wilayah Hukum tersebut, maka pada tahun 1983

berdasarkan proses pengurangan Wilayah Hukum maka kejaksaan Negeri

Salatiga mempunyai 2 (dua) wilayah hukum, yaitu:

1) Kejaksaan Negeri Salatiga sebagai penuntut umum di Wilayah

Kotamadya Salatiga yang terdiri atas satu kecamatan.

2) Kejaksaan Ambarawa dengan wilayah Hukum Kabupaten Semarang

bagian Selatan, namun setelah Pengadilan Negeri Kabupaten Ungaran

diresmikan, Wilayah Pengadilan Negeri Salatiga yang tadinya meliputi

Kabupaten Semarang bagian Selatan, maka Wilayah Hukum

Pengadilan Negeri Salatiga tinggal 1 (satu) Kecamatan terdiri dari 9

(sembilan) Kelurahan. Dan dalam perkembangannya saat ini Wilayah

93
Hukum Pengadilan Negeri Salatiga meliputi 4 (empat) Kecamatan

terdiri dari 22 (dua puluh dua) Kelurahan.

2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga.

a. Tugas dan Wewenang Ketua Pengadilan:

1) Menetapkan/menentukan hari-hari tertentu untuk melakukan

persidangan perkara.

2) Menetapkan panjar biaya perkara. Dalam hal penggugat atau

tergugat tidak mampu, ketua dapat mengizinkannya untuk beracara

secara prodeo.

3) Membagi perkara gugatan dan permohonan kepada hakim untuk

disidangkan

4) Dapat mendelegasikan wewenang kepada Wakil Ketua untuk

membagi perkara permohonan dan menunjuk Hakim untuk

menyidangkannya.

5) Menunjuk Hakim untuk mencatat gugatan atau permohonan secara

lesan

6) Memerintahkan kepada Jurusita untuk melakukan pemanggilan,

agar terhadap termohon eksekusi dapat dilakukan teguran

(anmaning) untuk memenuhi putusan yang telah berkekuatan

hukum tetap, putusan serta merta, putusan provisi dan

melaksanakan eksekusi lainnya.

7) Memerintahkan kepada Jurusita untuk melaksanakan somasi.

94
8) Berwenang menangguhkan eksekusi untuk jangka waktu tertentu

dalam hal ada gugatan perlawanan. Berwenang memerintah,

memimpin, serta mengawasi eksekusi sesuai ketentuan yang

berlaku.

9) Menetapkan biaya Jurusita dan menetapkan biaya eksekusi.

10) Menetapkan:

- Pelaksanaan lelang

- Tempat pelaksanaan lelang

- Kantor lelang Negara sebagai pelaksana lelang

11) Melaksanakan putusan serta merta:

- Dalam hal perkara dimohonkan banding wajib meminta izin

kepada Pengadilan Tinggi.

- Dalam hal perkara dimohonkan kasasi wajib meminta izin

kepada Mahkamah Agung

12) Menyelesaikan permohonan kewarganegaraan

13) Melakukan penyumpahan terhadap permohonan kewarganegaraan

yang telah memperoleh Surat Keputusan Presiden.

14) Menyediakan buku khusus untuk anggota Hakim Majlis yang ingin

menyatakan berbeda pendapat dengan kedua anggota Hakim Majlis

lainya dalam memutuskan perkara serta merahasiakannya

15) Mengawasi pelaksanaan court calender dan mengumumkannya

pada pertemuan berkala para Hakim. Meneliti court calender yang

95
membina hakim agar memutus perkara yang diserahkan kepadanya

paling lama 6 bulan.

16) Mengevaluasi laporan mengenai penanganan perkara yang

dilakukan Hakim dan Panitera Pengganti, selanjutnya mengirimkan

laporan dan hasil evaluasinya secara periodik kepada Pengadilan

Tinggi dan Mahkamah Agung.

17) Memberikan izin berdasarkan ketentuan undang-undang untuk

membawa keluar dari ruang Kepaniteraan: daftar, catatan, berita

acara serta berkas perkara.

18) Meneruskan SEMA, PERMA dan surat-surat dari Mahkamah

Agung atau Pengadilan Tinggi yang berkaitan dengan hukum dan

perkara kepada para Hakim, Panitera, Wakil Panitera, Panitera

Muda, Panitera Pengganti dan Jurusita.

b. Tugas dan Wewenang Wakil Ketua Pengadilan

a. Melaksanakan tugas ketua apabila ketua berhalangan.

b. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua kepadanya.

c. Dalam hal Ketua mendelegasikan wewenang pembagian perkara

permohonan, harus membagikannya kepada Hakim secara merata.

c. Tugas dan Wewenang hakim/Ketua Majlis

a. Menetapkan hari sidang

b. Menetapkan sita jaminan

c. Bertanggung jawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara

persidangan.

96
3. Struktur Pengadilan Negeri Salatiga

Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga adalah sebagai berikut:


BAGAN SUSUNAN PENGADILAN NEGERI SALATIGA

KETUA
ERWIN TUMPAK PASARIBU, SH. MH.
WAKIL KETUA
SRI HERAWATI, SH. MH
MAJELIS HAKIM
VICTOR TOGI R., SH
HISBULLAH, SH. PANITERA / SEKRETARIS
NELSON P., SH SUTJIPTO HADI, SH.
NINIK H., SH
FERI SUMELANG, SH. WAKIL PANITERA WAKIL SEKRETARIS
SRI PRIHUTAMI SUSI HANDAYANI W., SH.

KEPANITERAAN PERDATA/ KEPANITERAAN PIDANA/ KEPANITERAAN HUKUM/


PANITERA MUDA PERDATA. PANITERA MUDA PIDANA. PANITERA MUDA HUKUM. URUSAN KEPEGAWAIAN URUSAN KEUANGAN URUSAN UMUM

S.ER.RIJADI, SH IVAN R.A. TULANDI


ABADI, SH. ENDANG WUEDIAATI, SH.
NIKEN PRAMESTI CATUR PRIO KUNCORO WIDODO SOETARNO
ENDANG SUMARNI ERI PRIHANTONO
DWI SETYONINGRUM, SH JUWARINI SITI KHOTIJAH, SH. MASRUR SHOKEH
YUWONO AHMAD WAHYUDIN
WINARNO SURATIYEM SUHARNI SUTIMIN
WEDOWATI, SH. S. YUNANTO AW,SH
SUBARDI
S. HANANTA, SH. NGARBI
ARTIYANI
KELOMPOK FUNGSIONAL KEPANITERAAN
1. PANITERA PENGGANTI
2. JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI
SUKARMAN
KAMAMI
SURYA KARYOSA
MARGANA
E.M. DWI ANGGOROWATI
SRI TEGUH WALUYO, SH.
RINI ADRIATI, SH.
WIGATI HARYATI
SUMINAH, SH.
ACHMAD RAFFIK ARIEF, SH.
R. RUDI HARSOJO
MULYADI, SH.

52
53

E. Putusan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga Di Pengadilan

Negeri Salatiga.

Perkara kekerasan dalam rumah tangga selama adanya Undang-undang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga terdapat empat putusan, satu

putusan terhadap adik ipar, satunya lagi putusan terhadap kemenakan dan dua

putusan terhadap istri. Dalam pembahasan ini, penulis hanya mencantumkan

dua putusan kekerasan terhadap istri.

1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005

Pengadilan Negeri Salatiga yang memeriksa dan mengadili perkara

pidana dalam tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut

dalam perkara terdakwa:

Nama : BMB Bin SD

Tempat Lahir : Semarang

Umur/ tanggal lahir : 26 tahun / 24 Nopember 1979

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Karang Kepoh I Rt. 6/I Kel. Tegalrejo Kc.

Argomulyo Kota Salatiga

Agama : Islam

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : SMA

Terdakwa tidak di tahan:

53
54

Terdakwa tidak didampingi penasehat hukum tetapi akan menghadapi

sendiri perkaranya di Pengadilan Negeri tersebut;

Telah membaca:

1. Surat pelimpahan perkara biasa dari penuntut umum/ kepala Kejaksaan

Negeri Salatiga No. B-1354/0.3.20/ Ep. 2/12/2005, yang isinya pada

pokoknya meminta agar Ketua Pengadilan Negeri Salatiga menetapkan

hari persidangan untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut dan

menetapkan pemanggilan terhadap para Terdakwa dan saksi-saksi serta

mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan para Terdakwa.

2. Surat dakwaan Penuntut Umum tanggal: 21 Desember 2005, Nomor

regester perkara PDM-/SALTI / Ep.2 / 12 / 2005 serta surat-surat yang

berkaitan dengan perkara tersebut.

a. Setelah memperhatikan barang bukti didalam perkara tersebut

b. Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan Terdakwa dimuka

persidangan

c. Setelah memperhatikan Visum Et Repertum

d. Setelah mendengar pula pembacaan tuntutan Pidana dari Penuntut

Umum tanggal 16 Februari 2006 No. Reg. Perk. PDM-

45/SALTI/Ep. 2.12/2005 yang pada pokoknya agar Majlis Hakim

yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan:

- Menyatakan Terdakwa BMB Bin SD bersalah melakukan

perbuatan pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup

54
55

rumah tangga sebagaimana dalam dakwaan Primair melanggar

Pasal 44 Ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004.

- Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa BMB Bin SD dengan

pidana penjara selama 1 (satu) tahun dengan masa percobaan 2

(dua) tahun

- Menyatakan barang bukti berupa lembaran kertas putih ukuran

panjang 40 cm lebar 30 cm tebal 0,5 cm terbungkus plastik

warna putih dirampas untuk di musnahkan

- Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara

sebesar Rp 1.000. (seribu rupiah)

Setelah mendengar dan memperhatikan pembelaan secara lisan dari

Terdakwa dimuka persidangan pada tanggal 16 Februari 2006 yang pada

pokoknya memohon agar Majlis Hakim menjatuhkan putusan yang

seringan-ringanya bagi diri terdakwa.

Menimbang bahwa selanjutnya Terdakwa oleh Penuntut Umum

dihadapkan ke muka persidangan karena telah didakwa

Primair

Bahwa Terdakwa BMB bin SD pada hari Rabu tanggal 28 September

2005 sekira jam 13.00 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu lain di tahun

2005 bertempat di Rumah Jl. Karang Kepoh I Rt. 6/I Kel. Tegalrejo Kec.

Argomulyo Kota Salatiga atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain

yang masih termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Salatiga,

melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga

55
56

sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 UU No. 23 tahun 2004, perbuatan

tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

Pada waktu dan tempat seperti tersebut di atas terdakwa BMB Bin

SD hendak pamitan pergi kepada istri yaitu saksi korban RA kemudian

saksi korban menjawab dengan kata-kata “paling kamu keluar bersama

cewek yang bernama GTN” lalu terdakwa bilang “kamu sok tahu” dari

kata-kata tersebut akhirnya terjadi pertengkaran mulut antara terdakwa

dengan saksi korban RA selanjutnya terdakwa mengibaskan satu bendel

kertas folio mengenai dahi saksi korban sebanyak satu kali, lalu saksi

korban RA membalas memukul terdakwa menggunakan sapu lidi

mengenai pinggang sebelah kiri sebanyak tujuh kali. Setelah mendapat

perlawanan (balasan) dari saksi korban RA lalu terdakwa menjadi emosi

dan langsung memukul saksi korban RA dengan tangan kosong mengenai

pelipis mata sebelah kiri sebanyak satu kali, akibat pukulan terdakwa

tersebut saksi korban RA menderita sakit atau membuat saksi korban RA

terhalang untuk menjalankan pekerjaan sementara itu, sebagaimana hasil

pemeriksaan Visum Et Repertum No. 370/1652 tanggal 11 Oktober 2005

yang ditandatangani oleh Dr. Jamaludin pada Badan Pengelolaan RSUD

Kota Salatiga dengan kesimpulan: memar pada pipi kiri, bergaris 0,5 cm

dapat disebabkan oleh persentuhan benda tumpul.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam

pasal 44 ayat 1 Undang-undang No. 23 tahun 2004.

56
57

Subsidair:

Bahwa terdakwa BMB Bin SD pada waktu dan tempat sebagaimana

diuraikan dalam dakwaan primair tersebut di atas melakukan perbuatan

kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam

pasal 5 huruf a UU. Nomor 23 tahun 2004 yang dilakukan oleh suami

terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau

halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau

kegiatan sehari hari, perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara

sebagai berikut:

Pada waktu dan tempat seperti tersebut di atas, ketika terdakwa

hendak pamitan pergi kepada istri yaitu saksi korban RA kemudian saksi

korban menjawab dengan kata kata “paling kamu keluar bersama cewek

yang bernama “GTN” lalu terdakwa bilang “kamu sok tau” dari kata-kata

tersebut akhirnya terjadi pertengkaran mulut antara tedakwa dengan saksi

korban RA membalas memukul terdakwa menggunakan sapu lidi

mengenai pinggang sebelah kiri sebanyak 7 kali, setelah mendapat

perlawanan (balasan) dari saksi korban RA menderita luka sebagaimana

hasil pemeriksaan Visum et Repertum Nomor 370/1652 tanggal 11

Oktober 2005 Kota Salatiga dengan kesimpulan: Memar pada pipi bergaris

0,5 cm dapat disebabkan oleh benda tumpul.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dasar dan diancam pidana dalam

pasal 44 ayat (4) UU No. 23 Tahun 2004.

57
58

Menimbang : bahwa terdakwa di muka persidangan telah mendengar,

mengerti dan membenarkan isi surat dakwaan tersebut serta

tidak akan mengajukan keberatan/eksepsi:

Menimbang : bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan

tersebut, majlis hakim akan meneliti apakah Terdakwa

terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan

sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum

Menimbang : bahwa Terdakwa oleh Penuntut Umum telah didakwa

melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam

dalam pasal Primair melanggar pasal 44 ayat (1) UU No. 23

Tahun 2004, Subsider melanggar pasal 44 ayat (1) UU No.

23 Tahun 2004 yang mengandung unsur-unsur sebagai

berikut:

1. Setiap Orang

Menimbang : bahwa yang dimaksud setiap orang adalah orang atau

pribadi yang merupakan subyek hukum pendukung hak

dan kewajiban yang mampu melakukan perbuatan yang

dapat dipidana dan dipersalahkan sebagai pelaku suatu

tindak pidana.

Menimbang : bahwa Terdakwa BMB bin SD adalah pribadi atau orang

yang beridentitas sebagaimana tersebut dalam dakwaan,

keadaan jasmani/ rohani sehat dan cukup umur/ dewasa

keterangan mana sesuai dengan pemeriksaan disidang,

58
59

terdakwa mengerti dan membenarkan dakwaan apabila

ternyata terdakwa sebagai subyek hukum adalah pelaku

perbuatan dari tindak pidana yang didakwakan

kepadanya dan bukan orang lain selain terdakwa

Menimbang : bahwa namun demikian unsur setiap orang ini telah

terpenuhi pula sehingga terbukti secara sah dan

meyakinkan

2. Melakukan Perbuatan Kekerasan Fisik

Menimbang : bahwa yang dimaksud dengan kekerasan fisik dalam

pasal 6 UU No. 23 Tahun 2004 adalah perbuatan yang

mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;

Menimbang : bahwa berdasarkan pengertian di atas dan fakta-fakta

yang terungkap di persidangan, yang didukung oleh

keterangan saksi dan juga terdakwa serta bukti Visum Et

Revertum terdakwa telah melakukan kekerasan fisik

berupa pemukulan terhadap istrinya yaitu saksi korban

RA pada hari Rabu tanggal 28 September 2005 antara

jam 13.00 WIB sampai dengan 13.30 WIB di dalam

kamar di rumah Terdakwa dengan menggunakan

gulungan kertas yang mengenai muka saksi korban RA

dan dengan menggunakan tangan kosong yang mengenai

pipi sebelah kirinya dan kepalanya merasa pusing

sehingga harus beristirahat selama tiga hari.

59
60

Menimbang : bahwa unsur melakukan perbuatan kekerasan Fisik telah

terbukti secara sah dan meyakinkan.

3. Dalam Lingkup Rumah tangga

Menimbang : bahwa ketika Terdakwa melakukan pemukulan tersebut

saksi korban masih merupakan istri Terdakwa yang sah

yang dibuktikan dengan Kutipan Akta Nikah Nomor:

182/19/VIII/2005, sehingga unsur dalam Lingkup Rumah

Tangga telah tebukti secara sah dan meyakinkan

Menimbang : bahwa sesuai dengan pengakuan terdakwa dan dikuatkan

dengan keterangan saksi-saksi serta barang bukti yang

juga dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap di

atas maka semua unsur-unsur yang terkandung dalam

pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004 tersebut telah

terpenuhi, maka Majlis Hakim berkesimpulan bahwa

Terdakwa secara sah dan meyakinkan telah terbukti

melakukan tindak pidana sebagaimana yang telah

didakwakan oleh Penuntut Umum tersebut, sehingga

oleh karenanya Terdakwa harus dinyatakan bersalah

tentang perbuatan yang telah terbukti itu dan oleh

karenaya harus dijatuhi pidana

Menimbang : bahwa dengan memperhatikan keadaan Terdakwa di

Persidangan, ternyata bahwa terdakwa

dipertanggungjawabkan atas perbuatanya tersebut,

60
61

disamping itu pula berdasarka fakta-fakta yang terungkap

di persidangan tidak dikemukakan adanya alasan alasan

pemaaf dan pembenar yang dapat menghapuskan sifat

melawan hukum atas perbuatan para Terdakwa tersebut;

Menimbang : bahwa sebelum Pengadilan Negeri menjatuhkan pidana

atas diri Terdakwa tersebut terlebih dahulu akan

dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal

yang meringankan bagi diri terdakwa tersebut:

Hal-hal yang memberatkan

ƒ Terdakwa main hakim sendiri

ƒ Terdakwa sebagai suami tidak melindungi istrinya.

Hal-hal yang meringankan

ƒ Terdakwa mengaku bersalah dan sudah minta maaf kepada istrinya

ƒ Terdakwa dan saksi masih berhubungan suami istri meskipun

perkaranya sudah diproses di Pengadilan

ƒ Terdakwa belum pernah dihukum

Menimbang : bahwa oleh karena Terdakwa telah dijatuhi pidana, maka

biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada

Terdakwa

Mengingat, pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004 jo pasal 197

KUHAP serta pasal lain dari Undang-undang yang bersangkutan.

61
62

MENGADILI

1. Menyatakan bahwa Terdakwa BMB BIN SD secara sah dan

meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan

kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga.

2. Memidana Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara

selama 1 (satu) tahun.

3. Menetapkan Pidana tersebut tidak perlu dijalani Terdakwa kecuali

dalam tenggang waktu masa percobaan 2 (dua) tahun terdakwa

melakukan perbuatan yang dapat di pidana berdasarkan putusan Hakim

atau berdasar atas perintah hakim.

4. Menetapkan barang bukti berupa: lembaran kertas putih ukuran

panjang 40 cm, lebar 30 cm, tebal 0,5 cm terbungkus plastik warna

putih dirampas untuk dimusnahkan.

5. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp

1.000 (seribu rupiah)

Demikian diputuskan dalam rapat musyawarah Majlis Hakim pada

hari Jum’at Tanggal 17 Februari 2006 oleh Kami Eddy Pangaribuan, SH.

MH, sebagai Ketua Majlis, Hariyadi, SH dan Victor Togi Rumahorbo,

SH.MH, masing-masing sebagai Hakim Anggota Majelis, putusan mana

diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari kamis

tanggal 23 Februari 2006, oleh Hakim Ketua Majlis dengan didampingi

oleh Hakim-hakim Anggota Majlis tersebut serta dibantu oleh S. ER.

62
63

Rijadi, SH, sebagai Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Wagino, SH,

Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Salatiga dan Terdakwa.

2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

Pengadilan Negeri Salatiga yang memeriksa dan mengadili perkara

pidana dalam tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut

dalam perkara terdakwa:

Nama : AS Bin HM

Tempat lahir : Kabupaten Semarang

Umur/tanggal lahir : 34 tahun/ 22 Mart 1971

Jenis kelamin : laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Tempat tinggal : Dsn Wiroyudan R.01/ RW. 03 Kelurahan Tingkir

Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga.

Agama : Islam

Pekerjaan : Pengemudi

Pendidikan : -

Dalam perkara ini terdakwa ditahan berdasarkan surat perintah

penetapan penahanan yang sah oleh :

1. Penyidik tanggal 6 Februari 2006 Nomor

Pol.SP.Han/10/II/2006/Reskrim sejak tanggal 6 Februari 2006 sampai

dengan 25 Februari 2006;

63
64

2. Perpanjangan Penuntut Umum tanggal 22 Februari 2006 Nomor :

B.126/0.3.20/Epp.1/02./2006 sejak tanggal 26 Februari 2006 sampai

dengan tanggal 6 April 2006.

3. Penuntut Umum tanggal 4 April 2006 Nomor: Print.90.0.3.20/04/2006

sejak tanggal 4 April 2006 sampai dengan 23 April 2006;

4. Majlis Hakim Pengadilan Negeri Salatiga tanggal 17 April 2006

sampai dengan tanggal 16 Mei 2006.

Terdakwa tidak didampingi penasehat Hukum tetapi akan

menghadapi sendiri perkaranya:

Pengadilan Negeri tersebut:

Telah membaca:

1. Surat pelimpahan perkara biasa dari Penuntut Umum / Kepala

kejaksaan Negeri Salatiga No. B-256/0.3.20/Ep.2./4/2006, yang isinya

pada pokoknya meminta agar Ketua Pengadilan Negeri Salatiga

menetapkan hari persidangan untuk memeriksa dan mengadili perkara

tersebut dan menetapkan pemanggilan terhadap para Terdakwa dan

saksi-saksi serta mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan para

Terdakwa:

2. Surat Dakwaan Penuntut Umum tanggal : 5 April 2006, Nomor

Register perkara PDM-13/ SALTI/ Ep.2/12/2006 serta surat-surat yang

berkaitan dengan perkara tersebut:

Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan Terdakwa di muka

Persidangan

64
65

Setelah memperhatikan Visum Et Repertum

Setelah mendengar pula pembaca Tuntutan Pidana dari Penutut

Umum tanggal 29 Mei 2006 No. Reg.Perk.PDM-13/SALTI/Ep.2/04/2006

yang pada pokoknya agar majlis Hakim yang memeriksa dan mengadili

perkara ini memutuskan:

1. Menyatakan Terdakwa AS Bin HM bersalah melakukan tindak pidana

melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana

diatur dalam Pasal 44 (1) UU No. 23 Tahun 2004

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa AS Bin HM dengan pidana

penjara selama 8 (delapan) bulan dikurangi salama terdakwa berada

dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap di tahan.

3. Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar

Rp 500 (lima ratus rupiah).

Setelah mendengar dan memperhatikan pembelaan secara lisan dari

Terdakwa di muka persidangan pada tanggal 29 Mei 2006 yang pada

pokoknya memohon agar Majlis Hakim menjatuhkan putusan yang

seringan-ringannya bagi diri terdakwa.

Menimbang bahwa selanjutnya terdakwa oleh Penuntut Umum

dihadapkan ke muka persidangan karena telah didakwa:

Pertama:

Bahwa ia terdakwa AS Bin HM pada hari sabtu tanggal 4 Februari

2006 sekitar jam 17.00 WIB. Atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam

tahun 2006 bertempat di belakang rumah saksi Eko di Dsn. Tanjung Rt.01

65
66

RW.02 Kel. Tingkir Tengah Kec. Tingkir Kota Salatiga atau setidak-

tidaknya pada suatu tepat lain dalam daerah hukum Pengadilan Negeri

Salatiga, melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah

tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a UU Nomor 23 Tahun

2004 perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Awal

mulanya pada hari Selasa tanggal 31 Januari 2006 ketika itu terdakwa

mendengar informasi dari petugas keamanan Café Cinsyo Ngawen

Salatiga kalau istri Terdakwa yang bernama NKH diboking oleh orang lain

dan saat itu juga terdakwa diperlihatkan SMS yang ada pada hand phone

milik LS yang berisi kata-kata menghina dan mengancam dari istri

terdakwa yang di ajukan kepada teman kerja istri terdakwa yang bernama

LS tersebut setelah mendengar dari informasi tersebut, sehingga terdakwa

menjadi jengkel, kemudian pada hari Sabtu tanggal 4 Februari 2006

terdakwa mendatangi saksi NKH yang berada di rumah Eko untuk

mengetahui kebenaran berita tersebut, ketika terdakwa bertemu dengan

saksi NKH lalu terjadi pertengkaran mulut, kemudian saksi NKH

mencakar terdakwa mengenai bagian muka terdakwa, akibat perbuatan

saksi NKH kepada Terdakwa tersebut, terdakwa menjadi emosi lalu

menjambak rambut saksi NKH sehingga saksi NKH terjatuh kemudian

saksi NKH melakukan perlawanan dengan mencakar dada Terdakwa,

selanjutnya Terdakwa membalas dengan memukul saksi NKH dengan

menggunakan tangan kosong mengenai bagian pipi kanan sebanyak 2

(dua) kali atau setidak-tidaknya lebih dari (satu) kali, akibat pukulan

66
67

tersebut saksi NKH menderita sebagaimana hasil pemeriksaan Visum et

Repertum nomor 370/425 tanggal 16 Februari 2006 yang ditandatangani

oleh dr. Husna, dokter pada bagian pengelola rumah sakit Umum Daerah

Kota Salatiga dengan kesimpulan ; lecet pada dagu bergaris tengah satu

centimeter, bengkak dan kebiruan pada sudut perbuatan terdakwa tersebut

saksi NKH tidak dapat menjalankan pekerjaan sahari-hari lebih kurang

selama 3 (tiga) hari dirawat di rumah sakit.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam

pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004

Kedua

Bahwa ia Terdakwa AS Bin HM pada waktu dan tempat

sebagaimana diuraikan dalam dakwaan ke satu di atas melakukan

panganiayaan dengan menggunakan tangan kosong terhadap terdakwa

yang bernama NKH, perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara

sebagai berikut:

Awal mulanya pada hari Selasa tanggal 31 Januari 2006 ketika itu

terdakwa yang bernama NKH diboking oleh orang lain yang saat itu juga

terdakwa diperlihatkan SMS yang ada pada hand phone milik LS yang

berisi kata-kata menghina dan mengancam dari istri terdakwa yang

bernama LS tersebut sehingga terdakwa menjadi jengkel, kemudian pada

hari Sabtu tanggal 4 Februari 2006 terdakwa mendatangi NKH yang

berada di rumah Eko untuk mengetahui kebenaran berita tersebut, ketika

terdakwa bertemu dengan saksi NKH lalu terjadi pertengkaran mulut,

67
68

kemudian saksi NKH mencakar terdakwa mengenai bagian muka

terdakwa, akibat perbuatan saksi NKH kepada terdakwa tersebut, terdakwa

menjadi emosi lalu menjambak rambut saksi NKH sehingga NKH terjatuh

kemudian saksi NKH melakukan perlawanan dengan mencakar dada

Terdakwa, selanjutnya terdakwa membalas dengan memukul saksi NKH

dengan menggunakan tangan kosong mengenai bagian pipi kanan

sebanyak 2 (dua) kali atau setidak-tidaknya lebih dari 1 (satu) kali, akibat

pukulan terdakwa tersebut saksi NKH menderita sakit sebagaimana hasil

pemeriksaan Visum et Revertum No. 370/425 tanggal 16 Pebruari 2006

yang ditandatangani oleh dokter Husna dokter pada bagian pengelola

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Salatiga dengan kesimpulan : lecet pada

dagu bergaris tengah satu centimeter bengkak dan kebiruan pada sudut

mata kanan dapat disebabkan oleh persentuhan benda tumpul, akibat

perbuatan Terdakwa tersebut saksi NKH tidak dapat menjalankan

pekerjaan sehari-hari lebih kurang selama 3 (tiga) hari dirawat di Rumah

Sakit.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam

pasal 356 ke-1 KUHP.

Menimbang : bahwa terdakwa di muka persidangan telah menerangkan

bahwa ia telah mendengar, mengerti dan membenarkan isi

surat dakwaan tersebut serta tidak akan mengajukan

keberatan / eksepsi.

68
69

Menimbang : bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan

tersebut, majelis Hakim akan meneliti apakah terdakwa

terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan

sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum.

Menimbang : bahwa terdakwa oleh Penuntut Umum telah didakwa

dengan dakwaan alternatif melakukan perbuatan

sebagaimana diatur dan diancam dalam ke satu melanggar

pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004, atau Kedua

melanggar pasal 356 pasal ke-1 KUHP.

Menimbang : bahwa oleh karena terdakwa telah didakwa dengan

dakwaan alternatif maka Majlis Hakim akan

mempertimbangkan dakwaan ke satu terlebih dahulu yaitu

pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004 yang mengandung

unsur-unsur sebagai berikut:

1. Setiap Orang

Menimbang : bahwa yang dimaksud setiap orang adalah orang atau

pribadi yang merupakan subjek hukum pendukung dan

kewajiban yang mampu melakukan perbuatan yang dapat di

pidana dan dipersalahkan sebagai pelaku suatu tindak

pidana.

Menimbang : bahwa terdakwa AS Bin HM adalah pribadi atau orang

yang beridentitas sebagaimana tersebut dalam dakwaan,

keadaan jasmani / rohani sehat dan cukup umum / dewasa

69
70

keterangan mana sesuai dengan pemeriksaan di sidang,

terdakwa mengerti dan membenarkan dakwaan Jaksa

Penuntut Umum bahwa terdakwa sebagai subjek hukum

yang dapat dipertanggungjawabkan segala sesuatu yang

diperbuatnya. Dan bukan orang lain selain terdakwa,

sehingga unsur barang siapa telah terbukti secara sah

meyakinkan

2. Melakukan perbuatan kekerasan fisik

Menimbang : bahwa yang dimaksud dengan kekerasan fisik dalam pasal

6 UU No.23 Tahun 2004 adalah perbuatan yang

mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;

Menimbang : bahwa berdasarkan pengertian di atas fakta-fakta yang

terungkap di persidangan, yang didukung oleh keterangan

saksi dan juga terdakwa serta Visum et Repertum terdakwa

telah melakukan kekerasan fisik berupa pemukulan istrinya

yaitu saksi korban NKH Binti Muh. Jupri pada hari Sabtu

tanggal 4 Februari 2006 sekitar jam 17.00 WIB di rumah

Mas Eko di Dusun Tanjung RT.1 Rw.2, Kelurahan Tingkir

Tengah Kota Salatiga dengan menggunakan tangan kosong

yang mengenai muka saksi korban NKH Binti Jupri yang

mengakibatkan bengkak dan kebiruan pada sudut mata

kanan dan lecet pada dagu.

70
71

Menimbang : bahwa akibat pemukulan tersebut saksi korban mengalami

penderitaan secara fisik sebagaimana tersebut dalam Visum

et Repertum di atas dan berdasarkan bukti surat berupa

tanda bukti penerimaan No.01736 tanggal 4 Februari 2006

dan tanda terima perincian biaya perawatan

No.00113/II/2006 tanggal 6 Februari 2006 saksi korban

harus di opname di RSU Salatiga selama 2 (dua) hari;

Menimbang : bahwa unsur melakukan perbuatan kekerasan fisik telah

terbukti secara sah dan meyakinkan.

3. Dalam Lingkup Rumah Tangga

Menimbang : bahwa yang dimaksud dalam lingkup rumah tangga dalam

pasal ayat 1 huruf a UU No. 23 Tahun 2004 meliputi suami,

istri dan anak;

Menimbang : bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa serta alat

bukti surat berupa fotocopy kutipan Akta Nikah

No.341/44/VII/2001 tertanggal 24 Agustus 2001, terdakwa

dengan saksi korban memiliki status sebagai suami istri,

sehingga unsur dalam Lingkup Rumah Tangga telah

terbukti dan secara sah meyakinkan.

Menimbang : bahwa oleh karena telah terpenuhi unsur ini maka semua

unsur yang didakwakan Penuntut Umum dalam dakwaan ke

satu telah terbukti dan terpenuhi.

71
72

Menimbang : bahwa karena terdakwa telah terbukti melakukan tindak

pidana sebagaimana dalam dakwaan ke satu maka dakwaan

kedua tidak perlu dipertimbangkan lagi.

Menimbang : bahwa dengan memperhatikan keadaan terdakwa di

persidangan ternyata bahwa terdakwa dapat

dipertanggungjawabkan atas perbuatannya tersebut, di

samping itu pula berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di

persidangan tidak dikemukakan adanya alasan-alasan

pemaaf dan pembenar yang dapat menghapus sifat melawan

hukum atas perbuatan Terdakwa tersebut, sehingga putusan

yang akan dijatuhkan kepada Terdakwa dalam amar

putusan menurut Majlis Hakim telah pantas dan adil.

Menimbang : bahwa sebelum Pengadilan Negeri menjatuhkan pidana atas

diri terdakwa tersebut terlebih dahulu akan

dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal

yang meringankan bagi diri terdakwa tersebut.

Hal-hal yang memberatkan:

ƒ Terdakwa main hakim sendiri

ƒ Terdakwa sebagai suami tidak melindungi istrinya.

ƒ Terdakwa tidak minta maaf kepada korban.

Hal-hal yang meringankan

ƒ Terdakwa mengaku bersalah dan menyesalinya dan tidak akan

mengulangi lagi perbuatannya.

72
73

ƒ Terdakwa belum pernah dihukum

Menimbang : bahwa selanjutnya oleh karena sebelum putusan ini

berkekuatan hukum tetap terdakwa telah menjalani masa

pertahanan maka lamanya masa penahanan tersebut

dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

Menimbang : bahwa apabila terdakwa dijatuhkan pidana lebih lama dari

masa penahanan dan terdakwa masih akan menjalani

pidanya tersebut maka terhadap terdakwa diperintahkan

untuk tetap berada dalam tahanan.

Menimbang : bahwa karena terdakwa dihukum maka kepadanya perlu

dihukum pula dengan dibebani membayar biaya perkara ini.

Menimbang : pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004 jo pasal 197

KUHAP serta pasal-pasal lain dari undang-undang yang

bersangkutan.

MENGADILI

1. Menyatakan bahwa terdakwa AS bin HM secara sah dan meyakinkan

bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan kekerasan

fisik dalam lingkup rumah tangga.

2. Menghukum terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara

selama 6 (enam) bulan.

3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangi

seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan

73
74

5. Menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp

500,00 (lima ratus rupiah).

Demikian diputuskan dalam rapat musyawarah majlis Hakim pada

hari Senin tanggal 5 Juni 2006 oleh kami Edi Pangaribuan, SH.MH.

sebagai Hakim Ketua Majlis, Sutiyono, SH. Dan Viktor Togi Rumahorbo,

SH.MH. masing-masing sebagai Hakim Anggota Majlis, putusan mana

diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Senin

Tanggal 5 Juni 2006, oleh Hakim Ketua Majlis tersebut dengan

didampingi Hakim-hakim Anggota Majlis tersebut serta dibantu oleh Rini

Andriati, SH. Sebagai Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Widayati,

SH Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Salatiga dan Terdakwa.

F. Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara Kekerasan

Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan tindak pidana, dimana

dalam menyelesaikan masalah ini dimulai dari penyelidikan, penyidikan,

tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan dimuka persidangan, dan

pembuktian. Pembuktian disini adalah sebagai duduk perkara pidana yaitu

segala sesuatu yang terjadi di Persidangan.

Penyelidikan yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna

menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. Tahap yang kedua

adalah penyidikan yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut

cara yang diatur dalam Undang-undang untuk mencari serta mengpumpulkan

74
75

bukti dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna

menemukan tersangkanya. Sedangkan pembuktian adalah sebagai

pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara.

Dari hasil wawancara dengan hakim, pertimbangan dan dasar putusan

hakim terhadap perkara kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai

berikut:55

Pertimbangan Hakim dalam memutuskan perkara kekerasan dalam

rumah tangga di kelompokan menjadi tiga landasan, 1). Landasan hukum 2).

Landasan filosofi 3). Landasan Sosiologi.

Landasan hukum Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini tertuang dalam

pasal 44 ayat (1) yaitu “Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan

fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf

a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda

paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah )”.

Apabila dalam hal sebagaimana di maksud pada ayat (1) dilakukan oleh

suami terhadap istri atau sebaliknya, yang tidak menimbulkan penyakit atau

halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau

kegiatan sehari-hari, di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat)

bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000 (lima juta rupiah)

Apabila mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, di

pidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda

paling banyak Rp30.000.000 (tiga puluh juta rupiah).

55
Wawancara dengan Hakim Ketua Pengadilan Negeri Salatiga pada tanggal 13
September 2006.

75
76

Apabila mengakibatkan matinya korban, di pidana dengan pidana

penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak

Rp45.000.000 (empat puluh juta rupiah).

Hal ini di jadikan rujukan dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara

Kekerasan Dalam Rumah Tangga di tinjau dari hukum formil atau hukum

acaranya. Hukum formil adalah rangkaian peraturan yang memutat cara

bagaimana pengadilan harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan

perjalanan atau hukum materiil.

Landasan yang kedua yaitu landasan filosofi yaitu gambaran tentang

bagaimana perkara itu terjadi dengan pertimbangan keterangan beberapa saksi,

apakah ia sudah sering melakukan tindak pidana atau baru satu kali. Selain

mengacu pada Undang-undang hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang

memberatkan dan hal-hal yang meringakan. Seperti apakah terdakwa

menyesali perbuatanya dan minta maaf kepada korban atau tidak, terdakwa

pernah dihukum atau tidak. apakah kekerasan terjadi karena kesalahan dari

pihak istri ataukah pihak suami, Dan dengan pertimbangan sesuai dengan

derita yang dialami oleh korban tersebut termasuk luka ringan atau luka berat,

serta keterangan dari beberapa saksi Majlis Hakim memutuskan berdasarkan

Undang-undang yang ada. Dalam penagambilan keputusan boleh kurang dari

ketentuan yang ada, akan tetapi tidak boleh melebihi ketentuan yang telah di

tetapkan dalam Undang-undang.

76
77

Sedangkan pertimbangan yang ketiga yaitu pertimbangan sosiologi,

yaitu bagaimana kehidupan masyarakat mereka. Apakah lingkungan yang ada

juga sering terjadi kekerasan atau kekerasan di anggap hal yang sangat

dilarang dalam kehidupan masyarakatnya. Landasan filosofi dan sosiologi di

sini tidak di atur dalam undang-undang, sebagaimana landasan hukum yang

ada.

Dalam setiap putusan terdapat panjar biaya yang di jatuhkan bagi diri

terdakwa, mengenai besar kacilnya dilihat dari perkaranya apakah merupakan

tindak pidana ringan atau tindak pidana biasa. Sedangkan mengenai pidana

yang dijatuhkan dengan masa percobaan, tidak perlu dijalani. Akan tetapi jika

sewaktu-waktu Terdakwa melakukan pelanggaran sekalipun itu pelanggaran

lalu lintas, maka hukumam yang dijatuhkan tersebut harus dijalaninya terlebih

dahulu.

77
78

BAB IV

ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KEKERASAN DALAM

RUMAH TANGGA

C. Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga

Dari hasil observasi yang penulis lakukan di Pengadilan Negeri Salatiga

selama adanya Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam

Rumah Tangga ada dua putusan kekerasan yang di ajukan oleh istri. Maka

dalam analisis ini penulis hanya menganalisis pada dua putusan, yaitu putusan

kekerasan terhadap istri.

a. Putusan No. 116/Pid.B/PN.Sal/2005.

Perkara No.116/Pid.B/PN.Sal/2005. Kasus ini adalah kasus pidana

kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam

pasal 5 huruf a Undang-undang No. 23 tahun 2004 yang dilakukan suami

terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau

halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau

kegiatan sehari-hari. Dalam kasus ini sebenarnya Terdakwa juga tidak

berniatan untuk melakukan tindak pidana tersebut, hanya karena Terdakwa

merasa jengkel dengan pembicaraan korban mengenai mantan pacar

suaminya, sehingga terjadilah pertengkaran mulut, yang kemudian

menjadikan emosi, kemudian Terdakwa mengibaskan satu bendel kertas

folio yang mengenai dahi saksi korban sebanyak satu kali, dan kemudian

saksi korban membalas dengan menggunakan sapu lidi yang mengenai

pinggang Terdakwa sebanyak 7 (tujuh) kali, setelah Terdakwa mendapat

78
79

perlawanan dari saksi korban, terdakwa menampar saksi korban dengan

tangan kosong sebanyak 3 (tiga) kali. Akibat dari pemukulan Terdakwa

tersebut saksi korban terhalang untuk menjalankan pekerjaanya

dikarenakan memar pada pipi bergaris 5 (lima) centi meter. Dalam kasus

ini terdapat salah paham tentang mantan pacarnya terdakwa yaitu GTN.

Sehingga dengan kesalah pahaman tersebut membuat saksi korban

cemburu kepadanya.

Berdsarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, maka

sampailah pada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang

didakwakan yaitu perbuatan Terdakwa melanggar pasal 44 ayat (1) UU

No. 23 tahun 2004 yang isinya “Setiap orang yang melakukan perbuatan

kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 5 huruf a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun

atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah)”,

Subsidair perbuatan Terdakwa tersebut di ancam dengan pasal 44 ayat (4)

UU No. 23 tahun 2004 yang isinya “Dalam hal sebagaimana dimaksud

dalam pasal 44 ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap istri atau

sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk

menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan

sehari-hari di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat bulan

atau denda paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)”.

Selanjutnya dengan memperhatikan bahwa selama pemeriksaan

dipersidangan tidak terungkap adanya alasan pemaaf atau pembenar, maka

79
80

kepada Terdakwa harus dianggap sebagai orang yang mampu

bertanggungjawab atas perbuatannya sebagai perbuatan yang melawan

hukum dan kepada Terdakwa harus dituntut sesuai dengan kesalahannya.

Setelah melihat hal-hal tang meringankan dan hal-hal yang

memberatkan dan memperhatikan undang-undang yang bersangkutan

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Salatiga mengadili perkara ini

memutuskan:

1. Menyatakan terdakwa BMB bin SD bersalah melakukan perbuatan

pidana dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dalam dakwaan

primair melanggar pasal 44 ayat (1) UU No. 23 tahun 2004.

2. Menyatakan barang bukti berupa : lembaran kertas putih ukuran

panjang 40 cm lebar 30 cm tebal 05 cm terbungkus plastik warna putih

dirampas untuk dimusnahkan.

3. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa BMB bin SD dengan pidana

penjara selama 1 (satu) tahun dengan masa percobaan 2 (dua) tahun.

4. Menetapkan pidana tersebut tidak perlu dijalani Terdakwa kecuali

dalam tenggang waktu masa percobaan dua tahun terdakwa melakukan

perbuatan yang dapat di pidana berdasarkan putusan hakim atau

berdasar perintah hakim.

5. Menetapkan terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp.

1.000.

80
81

b. Putusan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

Perkara No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006. ini juga merupakan kasus

pidana, kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana

dimaksud dalam pasal 5 huruf a Undang-undang No, 23 tahun 2004 yang

dilakukan suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan

penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata

pencaharian atau kegiatan sehari-hari. Dalam kasus ini juga terdapat

kesalah pahaman antara Terdakwa dan saksi korban, sehingga Terdakwa

merasa jengkel ketika mendengar berita bahwa istrinya boking oleh orang

lain. Dari kesalah pahaman tersebut terjadi pertengkaram mulut, kemudian

saksi NKH mencakar Terdakwa mengenai bagian muka Terdakwa, akibat

perbuatan saksi korban tersebut Terdakwa menjadi emosi lalu menjambak

rambut saksi sehingga terjatuh. Kemudian saksi korban melakukan

perlawanan dengan mencakar dada Terdakwa selanjutnya Terdakwa

memukul dengan tangan kosong mengenai pipi sebanyak 2 (dua) kali.

Akibat pemukulan Terdakwa tersebut saksi NKH menderita sakit, tidak

dapat menjalankan pekerjaan sehari-hari lebih kurang selama 3 (tiga) hari

dan dirawat di rumah sakit dengan ketentuan lecet pada dagu bergais

tengah 1 (satu) centi meter dan bengkak pada sudut mata kanan.

Dalam kasus ini kesalah pahaman saksi korban diboking adalah

saksi korban menginap di Hotel. Dari hasil perkawinan mereka telah di

karuniai seorang anak laki-laki berumur 2 tahun 7 (tujuh) bulan,

sebelumnya keadaan rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi

81
82

dikarenakan Terdakwa tidak bekerja. Kekerasan ini terjadi karena

kurangnya komunikasi dalam keluarga, karena sudah pisah rumah selama

1 (satu) tahun dan keadaan ekonomi keluarga.

Berdsarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, serta hal-hal

yang meringankan dan hal-hal yang memberatkan. Maka sampailah pada

pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan yaitu

perbuatan Terdakwa melanggar dan dipidana pasal 44 ayat (1) UU No. 23

tahun 2004 yang isinya “Setiap orang yang melakukan perbuatan

kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 5 huruf a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun

atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah)” atau

melanggar pasal 356 ke I KUHP.

Dalam persidangan Terdakwa dapat mempertanggung jawabkan

atas perbuatanya tersebut, dan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di

persidangan tidak ditemukanya pemaaf dan pembenar yang dapat

menghapuskan sifat melawan hukum sehingga Majlis Hakim menjatuhkan

amar putusan sebagai berikut:

1. Menyatakan bahwa Terdakwa AS bin HM secara sah dan meyakinkan

bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan kekerasan

fisik dalam lingkup rumah tangga.

2. Menghukum terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara

selama 6 (enam) bulan.

82
83

3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa

dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

4. Memerintahkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan

5. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 500

(lima ratus rupiah).

D. Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah

Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

Perkara yang diputuskan di Pengadilan harus mempunyai alasan-alasan

yang jelas, Majlis Hakim butuh pembuktian tersebut untuk biasa memutuskan

perkaranya dengan menghadirkan saksi-saksi dan bukti.

Dasar putusan hakim meliputi dua hal yaitu landasan yang tersurat dan

landasan yang tersirat. Landasa yang tersurat yaitu pasal 44 ayat (1) dan ayat

(4), UU PKDRT yaitu:

Pasal 44 ayat (1) yang isinya:

”Setiap orang yang malakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup

rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a dipidana dengan

pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.

000.000,00 (lima belas juta rupuah)”

Pasal 44 ayat (4) yang isinya:

”Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami

terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan

untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan

83
84

sehari-hari, di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau

denda paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)”

Unsur undang-undang ini adalah sebagai berikut:

1. Setiap orang yang dimaksud setiap orang adalah setiap pribadi yang

merupakan subyek hukum pendukung hak dan kewajiban yang mampu

melakukan perbuatan dapat di pidana artinya sehat jasmani atau rohani dan

cukup umur.

2. Melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga, hal ini

diatur dalam pasal 6 UU PKDRT adalah perbuatan yang mengakibatkan

rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.

3. Dalam lingkup rumah tangga pasal 2 ayat (1) huruf a UU PKDRT meliputi

suami, istri dan anak.

Sebagaimana ketentuan diatas dapat di pidana sesuai dengan Undang-

undang yang di atur dalam pasal 44 sampai dengan pasal 53. Selain landasan

yang ada dalam Undang-undang Majlis Hakim juga memperhatikan landasan-

landasan yang tersirat yaitu landasan filosofi dan landasan sosiologis. Hal ini

hanya diperlakukan dalam hukum formilnya saja. Selain itu semua perkara

yang bisa di ajukan ke Pengadilan Negeri harus mempunyai alasan-alasan

yang sah, hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara. Hakim

akan minta bukti kebenaran tersebut, untuk bisa memutuskan perkaranya,

alasan tersebut adalah sebagai dasar hukum materiilnya.

Proses awal dalam menyelesaikan perkara dimulai dari penyelidikan,

penyidikan, tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan di Persidangan

84
85

dan pembuktian. Dengan ini Majlis Hakim dalam memutuskan perkara

kekerasan dalam rumah tangga sudah sesuai dengan perundang-undangan

yang ada.

Persoalan kekerasan terhadap istri berkaitan erat dengan persoalan

tindakan kriminalitas, meskipun pada awalnya dimulai dari persoalan sepele,

kemudian dilakukan terus menerus yang berakumulasi sampai pada

puncaknya menjadi sebuah kriminalitas yang pada mulanya hal seperti ini

dimulai dari stres masalah tekanan ekonomi, suami cemburu buta, ketidak

adilan gender yang dipengaruhi oleh faktor budaya. Dari sekian permasalah ini

suami bisa melakukan tindakan semena-mena terhadap istrinya.

Al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 34 jika dipahami dengan teliti kekerasan

dalam rumah tangga tidak diperbolehkan. Jika istri Nusyuz tindakan-tindakan

yang patut dilakukan suami terhadap istri yaitu dengan cara beri mereka

petunjuk dan pengajaran, ajari mereka dengan baik, sadarkan mereka akan

kesalahanya. Jika dengan cara ini istri tetap saja membangkang, maka

pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, Adapun mendiamkan istri

dengan tidak mengajak berbicara tidak boleh lebih dari 3 (tiga) hari. Ada pula

perempuan yang harus dihadapi dengan cara yang lebih kasar, yaitu dengan

cara yang ketiga pukulah mereka, akan tetapi pemukulan ini tidak boleh

membuat luka pada istri. Dalam memukul hendaknya dijauhkan dari tempat-

tempat yang menghawatirkan seperti muka serta dijauhkan dari pandangan

anak-anaknya. Karena tujuan dari pemukulan ini yaitu untuk memberi

pelajaran dan bukan untuk membinasakan.

85
86

Dalam pemukulan ini ada statemen yang perlu diperhatikan yaitu

pertama, pemukulan tidak boleh diarahkan ke wajah, kedua, pemukulan tidak

boleh sampai melukai, dianjurkan dengan benda yang paling ringan, seperti

sapu tangan. Ketiga pemukulan dilakukan dalam rangka mendidik. Keempat,

pemukulan dilakukan dalam rangka sepanjang memberikan efek manfaat bagi

kutuhan dan keharmonisan kembali relasi suami istri

Apabila suami telah memberikan nafkah pada istrinya akan tetapi istri

tetap membangkang dan menyeleweng, suami berhak meminta kembali sisa

nafkah yang telah diberikanya, artinya jika istri tetap membangkang pada

suaminya mereka tidak berhak mendapatkan nafkah. Karena nafkah diterima

sebagai imbalan terikatnya istri ditangan suami. Hal ini disepakati oleh imam

Syafi’i dan Muhammad bin Hambal56.

Dalam kafarat zihar ketika suami mengilla’ istrinya selama 4 bulan

berturut-turut maka tidak boleh menjima’nya. ketika suami akan menjima’

istrinya lagi ia harus membayar kifarat yaitu memerdekakan budak jika ada.

Apabila tidak menemukan budak, maka puasa dua bulan berturut-turut,

apabila tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin

Dari beberapa uraian di atas terdapat perbedaan dan persamaan antara

Undang-undang PKDRT dengan hukum Islam yang diantaranya yaitu:

56
Meminta kembali nafkah yang telah diberikan pada istrinya ini ada beberapa pendapat.
Pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf: suami tidak berhak meminta kembali nafkahnya, karena
nafkah itu sekalipun sebagai imbalan dari pengurungan namun di situ ada semi hibungan suami di
samping telah dipegang oleh istri.

86
87

1. Perbedaan

a. Dalam hal pemberlakuan hukum

Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

pada tanggal 14 September 2004 RUU disetujui oleh anggota DPR,

dan pada tanggal 22 September 2004 menjadi Undang-undang.

Sedangkan hukum Islam itu sendiri diberlakukan sebelum 2 (dua) abad

b. Dalam hal tujuanya

Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

mempunyai beberapa tujuan diantaranya:

ƒ Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga

ƒ Melindungi korban kekerasan

ƒ Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga

ƒ Memelihara keutuhan rumah tangga

Sedangkan dalam hukum Islam yaitu berbicara mengenai relasi

suami istri yang memberikan pengertian bahwa sebuah perkawinan

harus dijalani dengan suasana hati yang damai, keseimbangan hak dan

kewajiban antara suami istri yang tidak lain tujuanya untuk

menjadikan keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.

c. Dalam hal ketentuan hukum pidana

Ketentuan pidana dalam Undang-undang sudah terperinci yaitu

pasal 44 sampai dengan pasal 50, sedangkan dalam hukum Islam

tindak pidana bersifat umum dan elastis sehingga bisa mencakup

semua peristiwa seperti dalam had, qishos dan diyat dibatasi,

87
88

sedangkan mengenai hal-hal yang sekiranya merupakan tindakkan

penganiayaan dalam firman Tuhan akan dihukum dengan dosa bagi

orang yang melakukannya.

Dalam UU PKDRT ditentukan satu atau dua hukuman dengan

batas terendah dan tertinggi sehingga hakim terbatas dalam

menentukan hukumanya. Sedangkan dalam hukum Islam ditentukan

secara jelas sehingga hakim tidak menciptakan sendiri dalam had,

qishos dan diyat, sedang dalam ta’zir memberi pilihan dan hakim bisa

menghentikan pelaksanaan hukumanya.

2. Persamaan

a. Dalam hal melakukan kekerasan

Pasal 5 huruf a “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan

dalam lingkup rumah tangganya dengan cara kekerasan fisik, kerasan

psikis, kekerasan seksual, atau penelantaran rumah tangga.

Sedangkan dalam hukum Islam menjelaskan pola relasi yang

didasarkan pada mu’asyarah bil ma’ruf, maka jangan saling

melakukan kekerasan baik istri maupun suami.

b. Dalam hal asas yang digunakan

Undang-undang No. 23 Tahun 2004 dengan asas penghormatan

terhadap martabat manusia, serta anti kekerasan atau diskriminasi dan

juga asas perlindugan terhadap korban. Sedangkan dalam al-Qur’an itu

sendiri merupakan semangat pembebesan dalam menjalin

keseimbangan antara nilai kemanusiaan.

88
89

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Sebagai bab terakhir dari seluruh pembahasan pada bab-bab sebelumnya

maka pada bab ini penulis menyimpulkan sebagai rumusan terakhir dengan

harapan mendapatkan saran-saran dari semua pihak untuk menuju kesempurnaan

selanjutnya. Maka dengan ini penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:

1. Kekerasan terhadap perempuan ialah segala bentuk tindakan kekerasan

yang mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terhadap perempuan

termasuk ancaman, menghambat, mengekang, meniadakan kenikmatan,

dan mengabaikan Hak Asasi Manusia yang mengakibatkan penderitaan

secara fisik, psikologis atau seksual, baik yang terjadi di area publik

maupun domestik.

2. Bentuk-bentuk kekerasan dapat berupa:

a. Kekerasan fisik (Physical abuse)

Kekerasan fisik yaitu setiap perbuatan yang mengakibatkan rasa

sakit, atau luka berat seperti suami memukul, menampar, menendang

atau melukai istri, ataupun mengakibatkan cacat pada tubuh seseorang

atau menyebabkan kematian.

b. Kekerasan psikis (Emotional or psychologikal abose)

Kekerasan psikis adalah segala perbuatan yang mengakibatkan

ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk

89
90

betindak, rasa tidak berdaya, atau penderitaan psikis berat pada

seseorang.

c. Kekerasan seksual (Sexual abuse)

Kekerasan seksual ialah semua kekerasan seks yang mencakup

semua aktifitas seks yang dipaksakan pada istri (tanpa persetujuan

istri) ataupun pemaksaan hubungan seks dengan cara yang tidak wajar,

memaksakan istri untuk berhubungan seks pada saat istri tidak siap

karena lelah, sakit, haid, atau sebab lainya, atau tidak memenuhi

kebutuhan seks istri.

d. Kekerasan ekonomi (Economical abuse)

Kekerasan ekonomi yaitu tindakan yang membatasi istri untuk

bekerja di dalam atau diluar rumah sehingga korban dibawah kendali

tersebut, atau menelantarkan anggota keluarga dengan tidak

memberikan nafkah atau tidak memenuhi kebutuhan keluarga.

3. Sebuah pernikahan banyak di artikan sebagai suami memiliki istri secara

mutlak, sehingga suami dapat memperlakukan istrinya sesuai dengan

kehendaknya.

4. Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum Islam jangan dipahami

secara tekstual, namun harus dilihat juga tujuannya. Yang pada dasarnya

tujuan utama dari pernikahan adalah untuk memperoleh kehidupan yang

sakinah, mawadah, warahmah.

5. Persoalan UU PKDRT dan Hukum Islam mempunyai semangat yang sama

yang melandasi dua hukum tersebut, adalah penghormatan terhadap

90
91

martabat manusia, kaitanya dengan hak-hak suami istri dalam rumah

tangga, serta arti kekerasan atau diskriminasi terhadap perempuan. Hanya

saja dalam Undang-undang sudah jelas mengenai ketentuan pidananya,

sedangkan dalam hukum islam tidak di dapatkan ketentuan pidana bagi

mereka yang melakukan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga,

akan tetapi kembali pada konsep perkawinan yaitu sakinah, mawadah,

warahmah. Dari sini jelaslah bahwa kekerasan terhadap istri dalam rumah

tangga menurut UU PKDRT dan hukum islam tidak diperbolehkan.

6. Putusan Hakim terhadap kekerasan dalam rumah tangga ditinjau dari

perundangan-undangan sudah sesuai dengan kaidah-kaidah/ ketentuan

yang berlaku di Indonesia. Sehingga Majlis Hakim dalam memutuskan

perkara kekerasan dalam rumah tangga sudah memenuhi syarat keadilan,

tidak memberatkan salah satu pihak, karena sudah sesuai dengan hukum

formil dan hukum materiilnya. Ditinjau dari Hukum Islam hakim

Pengadilan Negeri tidak berlandaskan pada kaidah-kaidah hukum Islam,

akan tetapi secara tidak langsung prinsip Hukum Islam sudah terkandung

didalamnya.

7. Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara kekerasan dalam rumah

tangga dimulai dari penyelidikan, penyidikan, tuntutan oleh Jaksa

Penuntut Umum, pemeriksaan dimuka persidangan, dan pembuktian.

Pembuktian disini adalah sebagai duduk perkara pidana yaitu segala

sesuatu yang terjadi di Persidangan. Apabila pembuktian tersebut benar

dan hakim yakin atas perkara tersebut Majlis Hakim akan

91
92

mempertimbangkan perkara berdasarkan pada landasan-landasan hukum

baik yang tersurat maupun yang tersirat.

B. SARAN

1. Sosialisasi terhadap undang-undang terhadap masyarakat harus terus

dilakukan karena sampai saat ini banyak masyarakat yang belum tahu UU

PKDRT, sosialisasi pertama difokuskan kepada aparat penegak hukum,

kepada masyarakat dengan memberi penyuluhan-penyuluhan hukum.

Sosialisasi kepada kalangan agamawan dan pemuka agama untuk

mengubah kultur dan interpretasi agama.

2. Masih perlunya diadakan di masyarakat tentang kesetaraan gender, bukan

hanya kaum perempuan saja tapi juga laki-laki agar mereka lebih dapat

memahami hak dan kewajiban suami istri.

3. Agar para istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga jangan

takut untuk melaporkan kasusnya pada pihak yang berwenang, kalau hal

seperti ini dibiarkan terus menerus, mereka akan menganggap kekerasan

dalam rumah tangga adalah hal yang sudah biasa.

92
93

DAFTAR PUSTAKA

“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”,Peket Informasi,


Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta.

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktrek, Rineka


Cipta, Jakarta, 1998.

Awwalin Fithri, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga (Studi


Komparatif Hukum Islam dengan UU No. 23 Tahun 2004), Skripsi untuk
memperoleh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006.

Batara Ratna Munti, Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Lembaga


Kajian Agama dan Gender, Jakarta, Cet. I,1999.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai


Pustaka, Jakarta, 1989.

Depertemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara


Penerjemah al Qur’an, 1997.

Fakih Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar,


Yogyakarta, Cet. I, 1996.

Farha Ciciek, Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga belajar dari
kehidupan Rasulullah SAW , PT. Lembaga Kajian Agama dan Jender,
Jakarta, Cet. I, Desember 1999.

Hajar Ibnu al Asqolani, Bulughul Maram, PT. Toha Putra, Semarang.

Hamka, Tarsir al-Azhar, Juz V, Pustaka Panjimas, Jakarta.

Hasan Iqbal, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, PT. Bumi Aksara,
Jakarta, Cet. 1, 2004.

93
94

Herkutanto, Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Sistem Hukum Pidana,


dalam buku Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, PT. Alumni,
Bandung, 2000.

Ibrahim Johnny, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media
Publishing, Jakarta, Cet II, 2006.

JST. Simorangkir, et. al, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. VI, 2000.

Kasir Ibnu, Tafsir Ibnu Kasir, diterjemahkan oleh Bahreisy Salim, dalam buku
Tarjamah Tafsir Ibnu Kasir, Jilid II, PT, Bina Ilmu, Surabaya,1990.

Kusrini, Eni, Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan


Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga),
Skripsi untuk memperoleh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN
Salatiga, 2006.

M. Leter H. Bgd, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana,


Angkasa Raya, Padang, 1985.

M. Tatang Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali, Jakarta, Cet. III,


1990.

Marlia Milda, Marital Rape,Kekerasan Seksual Terhadap Istri, PT, LKiS Pelangi
Aksara, Yogjakarta, Cet. 1, 2007.

Mas’udi Masdar F, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, PT. Mizan


Hazanah Ilmu-ilmu Islam, Bandung, Cet. II, 1997.

Mufidah et al, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan? Panduan Pemula


Untuk Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak,
PT. PSG dan Pilar Media, 2006.

Muhammad Husen, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren,


LKiS, Yogjakarta, Cet. I, 2004.

94
95

Muhammad Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir Al Qur’anul Majid An-Nuur,


Jilid I, PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, tt.

Nakiyah Siti, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga Sebagai Alasan
Perceraian, (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga ) Skripsi untuk
mempereh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2004.

Poerwandari Kristi, Kekerasan Terdahap Perempuan Tinjauan Psikologis dalam


buku Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, Alumni, Bandung, 2000.

Santoso Topo, Membumikan Hukum Pidana Islam, Gema Insani, Jakarta, 2003.

Suara Merdeka, 7 Agustus 2007.

Suara Rahima, No. 14 Th. 15 April 2005.

Thalib Muhammad, Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, PT. Irsyad Baitus Salam,
Bandung, Cet. I, 2000.

Umar Muhammad An-Nawawi, Syarah Uqudullujain Etika Rumah Tangga,


Pustaka Amani, Jakarta, Cet II, 2000.

UU RI No. 1 tahun 1974, tentang Perkawinan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta,


Cet. I, 2004.

UU RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah


Tangga. Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006.

UU RI No. 8 tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana, PT. Karya Anda,
Surabaya, tt.

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia.

Widodo Erna Mukhtar, Konstruksi Ke Arah Penelitian Diskriftif, Avyrouz,


Yogjakarta, 2000.

95
96

Zuhri Muh, Dipl. Talf dkk, Tarjamah Sunan at-Tirmidzi, Jilid III, CV. Asy Syifa,
Semarang, tt, hal. 533.

Zumrotun Siti, Membongkar Fiqh Patriarkhis; Refleksi atas Keterbelengguan


Perempuan dalam Rumah Tangga, STAIN Press, Cet.I, 2006.

96
97

DAFAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Sri Mulyati


Tempat, Tanggal Lahir : Liwa, 10 April 1984
Alamat : Air Dadapan Rt. 03/IV Tri Mulyo, Gedung Surian
Lampung Barat
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan :

SEKOLAH NAMA SEKOLAHAN LULUS TAHUN

SDN 02 Gunung Terang, Lampung Barat 2007

MTs Al Manar Bener, Tangaran 2000

MA Al Manar Bener, Tangaran 2003

STAIN Salatiga 2007

Pengalaman Organisasi :

NO ORGANISASI JABATAN TAHUN

1. RESIMEN MAHASISWA Sekretaris 2005-2007

2. Edi Mancoro Rayon Pi 2006-2007

97

Anda mungkin juga menyukai