Anda di halaman 1dari 3

PERMASALAHAN DESA SURODADI

1. Rusaknya Bendungan Pemisah Air Tawar dengan Air Asin


Permasalahan umum yang terjadi di Desa Surodadi adalah permasalahan fasilitas irigasi,
yaitu rusaknya bendungan pemisah antara air tawar dengan air asin. Bendungan ini terletak di
Sungai Kaligawe dan menjadi batas antara wilayah padi sawah dan tambak garam. Sebelumnya,
bendungan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan terakhir dilakukan sekitar
tahun 2012. Setahun kemudian bendungan tersebut rusak dengan adanya kebocoran di bagian
kiri bendungan. Hal tersebut mengakibatkan bercampurnya air tawar dengan air asin sehingga
petani padi sawah tidak dapat menggunakan air dari Sungai Kaligawe untuk irigasi sawah.
Petani padi sawah di Desa Surodadi umumnya hanya dapat menanam padi dua kali
dalam satu tahun. Jika terjadi kekeringan, biasanya terjadi gagal panen pada masa tanam yang
kedua. Kebutuhan air untuk padi sawah dapat dipenuhi dari irigasi dan air hujan hanya pada saat
musim hujan. Irigasi tersebut berasal dari aliran sungai dari desa sebelah, yaitu Desa Sowan
Kidul yang melintasi wilayah Desa Surodadi. Debit air dari Desa Sowan Kidul memang sudah
kecil sehingga hanya sedikit air yang sampai di areal persawahan Desa Surodadi. Ditambah lagi
dengan rusaknya bendungan pemisah air tawar dengan air asin semakin memperparah
permasalahan irigasi di Desa Surodadi. Dengan demikian kebutuhan air sawah hanya dapat
dipenuhi pada saat musim hujan.
Selain petani padi sawah, petani garam adalah salah satu mata pencaharian dominan yang
dimiliki warga Desa Surodadi. Areal tambak garam ini berada di sebelah barat bendungan
pemisah air tawar dengan air asin karena posisinya yang dekat dengan laut. Sebelumnya, hanya
sedikit warga Surodadi yang bermata pencaharian sebagai petani garam. Karena intrusi air laut
yang semakin parah, sehingga tanah di sebagian wilayah Surodadi yang dekat dengan laut telah
diresapi oleh air laut. Areal persawahan padi kemudian berubah menjadi tambak garam karena
tanaman padi tidak dapat hidup pada daerah dengan salinitas tinggi. Petani padi sawah banyak
yang beralih profesi menjadi petani garam.
2. Rendahnya Kesadaran Petani Garam terhadap Keberlanjutan Usaha dan Lingkungan
Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan telah memberikan berbagai macam
bantuan kepada petani garam melalui Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR). Bantuan
tersebut berupa sarana fisik berupa jalan produksi, plasik geomembran, mesin slender dan juga
berupa uang sebagai modal pengembangan usaha. Banyaknya bantuan yang telah diberikan
pemerintah tak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan warga Kecamatan Kedung,
khususnya Desa Surodadi. Hal tersebut terbukti dengan predikat kantong kemiskinan yang
ditujukan untuk Kecamatan Kedung.
Berdasar temuan di lapang, beberapa petani garam penerima bantuan telah
menyalahgunakan bantuan tersebut. Misalnya dana bantuan untuk modal yang sifatnya adalah
pinjaman yang harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu tetapi mereka tidak

mengembalikannya. Petani garam beranggapan bahwa bantuan tersebut diberikan secara cumacuma dan bukan bersifat pinjaman. Contoh lain, bantuan mesin yang harusnya digunakan untuk
operasional produksi ada yang dijual. Warga berdalih bahwa tahun depan pemerintah akan
memberikan bantuan lagi sehingga tidak apa-apa jika mesin tersebut dijual.
Adanya koperasi untuk petani garam, nelayan, dan petambak ikan di Desa Surodadi juga
belum memberikan dampak optimal terhadap kesejahteraan warga Surodadi. Salah satu koperasi
yang terdapat di Desa Surodadi termasuk dalam koperasi yang dapat dikatakan cukup berhasil.
Namun, warga Surodadi sendiri, khususnya petani garam, nelayan, dan petambak ikan belum
memahami pentingnya bergabung menjadi anggota koperasi.
Garam hasil produksi petani biasanya diangkut keluar desa dengan menggunakan truk.
Truk bermuatan berat tersebut melewati jalan-jalan utama desa dan menyebabkan kerusakan
yang cukup parah. Banyak petani garam yang tutup mata akan hal tersebut. Mereka mengelak
bahwa kerusakan jalan disebabkan oleh para petani garam. Mereka selalu menuntut
pemerintahlah yang bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan tersebut.
3. Kurangnya Kesadaran Manajemen Ternak
Selain bermata pencaharian utama sebagai petani padi sawah dan petani garam, warga
Surodadi juga beternak untuk menambah penghasilan keluarga. Ternak yang dominan dipelihara
warga antara lain, kambing, ayam, dan itik. Permasalahan yang terjadi adalah ternak tersebut
tidak dipelihara dengan baik. Ternak dibiarkan berkeliaran mencari makan di jalan-jalan desa dan
sawah-sawah warga sehingga mengganggu aktivitas warga lainnya. Pada malam hari, seringkali
ditemukan beberapa kambing yang tidur di jalan. Warga yang mempunyai ternak pun tidak dapat
memberikan jawaban pasti ketika ditanyai mengenai jumlah ternaknya.
Meskipun demikian, ada beberapa warga yang telah sadar akan pentingnya manajemen
ternak. Mereka membangun kandang-kandang di dekat rumahnya. Itik menjadi ternak yang
dirasa cukup menguntungkan untuk diusahakan. Dengan adanya kandang ini, pemilik bisa
mengontrol pakan yang baik untuk itinya sehingga dapat memberikan keuntungan yang optimal.
4. Kurangnya Kesadaran akan Kebersihan Lingkungan
Sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang dihadapi warga Desa Surodadi. Di
sepanjang aliran sungai masih banyak ditemukan sampah. Selain di sungai, warga juga
membuang sampah di selokan-selokan dekat rumah. Sekitar satu tahun yang lalu telah terjadi
banjir untuk pertama kalinya di desa ini. Hal tersebut karena intensitas hujan yang turun cukup
tinggi dan juga saluran-saluran air serta sungai yang dipenuhi sampah. Di beberapa titik di
pinggir jalan desa, telah ada tempat khusus untuk membuang sampah. Tempat sampah tersebut
adalah bantuan KKN dari UGM beberapa tahun yang lalu. Kondisinya saat ini penuh oleh
tumpukan sampah, tanah, kayu, dan kotoran-kotoran lain. Tempat sampah tersebut tidak dikelola
dengan baik sehingga tidak termanfaatkan sesuai fungsi seharusnya.

Di sepanjang aliran Kali Gawe dan Kali Sendari dapat ditemukan WC sederhana yang
dibuat dari kayu dan bambu. Masih banyak warga yang lebih memilih untuk buang air besar di
sungai daripada membuat septic tank sendiri. Sebenarnya telah ada bantuan dari pemerintah
berupa MCK bersama yang dibangun di dekat Masjid. MCK tersebut dalam kondisi cukup baik.
Namun karena kurang perawatan, MCK tersebut menimbulkan bau tidak sedap dan kurang
bersih.
5. Posyandu
Sistem Lima Meja di Posyandu belum berjalan dengan benar. Masih ada meja yang
belum dilakukan sesuai prosedur sistem. Meja tersebut adalah meja 4 yang harusnya diisi dengan
penyuluhan. Selain itu, manajemen administrasi tidak berjalan dengan baik. Penyebabnya adalah
karena beberapa kader yang sudah tua dan tidak mau mengundurkan diri.
Masalah gizi kurang juga ditemukan di Desa Surodadi. Berdasar informasi dari Bidan
Desa, terdapat tiga balita yang menderita gizi kurang. Penyebab gizi kurang yang ditemukan
antara lain karena masalah ekonomi, pola asuh orang tua, dan faktor-faktor lain.