Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH INDONESIA

OLEH

KELOMPOK 5
A. NURUL MUAFIYAH ERTASMIN (03)
FAJRIANA RUSDY (11)
NINDA DWIYANA (17)
YULIA ARDANA (22)
ANDI AINUN NAJIB (26)
M. RIDHO FIQRIAWAN (31)
TUGAS KELOMPOK
A.

SEJARAH VOC DI INDONESIA

Akhir abad ke-16 bangsa Belanda berhasil memperoleh peta-peta informasi ke Timur dari
bangsa Italia (Venesia) yang banyak berjasa membuat peta ke Timur yang kemudian digunakan
oleh bangsa Portugis. Semenjak itu bangsa Belanda mulai melakukan perjalanan laut ke arah
Timur (Asia). Tahun 1595 kapal-kapal niaga Belanda mulai berdagang di daerah Banten dan
Sunda Kelapa di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Karena ketidaksopanan Cornelis de
Houtman dalam menjalin hubungan dengan penduduk Banten, maka penduduk Banten
mengusirnya dari Banten. Tahun 1598 pedagang Belanda datang kembali ke Indonesia di bawah
pimimpinan Jacob Van Neck mendarat di Banten. Banyaknya kapal-kapal yang berdagang di
wilayah itu pada awalnya menghasilkan keuntungan-keuntungan besar bagi bangsa Belanda,
namun pada perkembangan selanjutnya banyak terjadi persaingan yang terjadi antara
perusahaan-perusahaan pelayaran hingga menyebabkan kemerosotan keuntungan. Meskipun
terjadi kemerosotan keuntungan dalam perdagangannya, Belanda akhirnya dapat menanamkan
kekuasaan perdagangan di Indonesia. Akhirnya Pangeran Maurits sebagai raja Belanda
memberikan izin kepada Johan van Olden Barnevelt menganjurkan untuk penggabungan semua
kongsi dagang itu menjadi sebuah perusahaan dagang besar yang dinamakan Vereenidge Oost
Compagnie.
1. AWAL BERDIRINYA VOC
Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
sebagai Persekutuan Dagang Hindia Timur didirikan pada 20 Maret 1602. VOC merupakan
gabungan beberapa perusahaan Belanda yang dulunya saling bersaing satu sama lain. Dalam
rangka menghentikan persaingan tersebut, empat wilayah di negeri Belanda yaitu Amsterdam,
Zeeland, de Maas, dan Noord Holland bergabung dan didirikanlah perusahaan VOC. Pendirian
VOC dilengkapi dengan akta Oktroi dari Staaten Generaal (Parlemen Belanda). Akta Oktroi ini
yang mendasari VOC mempunyai hak dagang terbentang dari Tanjung Harapan sampai Selat
Magellan, termasuk pulau-pulau di selatan Pasifik, kepulauan Jepang, Sri Lanka dan Cina Selatan.
Berikut merupakan hak-hak istimewa (hak Oktroi) yang diberikan kepada VOC oleh pemerintah
Belanda, diantaranya adalah VOC berhak memonopoli perdagangan, mencetak uang, mengangkat
dan memperhentikan pegawai, mengadakan perjanjian dengan raja-raja, memiliki tentara untuk
mempertahankan diri dan juga membentuk angkatan perang, mendirikan benteng, menyatakan
perang dan damai, mengangkat dan memberhentikan penguasa-penguasa setempat, wewenang
untuk membuat undang-undang dan peraturan, serta membentuk pengadilan (Raad van Justitie)
dan mahkamah agung (Hoog Gerechtshof).
TUJUAN
Tujuan utama dibentuknya VOC seperti tercermin dalam perundingan 15 Januari
1602 adalah untuk menimbulkan bencana pada musuh dan guna keamanan tanah
air. Yang dimaksud musuh saat itu adalah Portugis dan Spanyol yang pada kurun
Juni 1580 Desember 1640 bergabung menjadi satu kekuasaan yang hendak

merebut dominasi perdagangan di Asia. Untuk sementara waktu, melalui VOC


bangsa Belanda masih menjalin hubungan baik bersama masyarakat Nusantara.

GUBERNUR JENDRAL VOC


Tahun 1610 VOC menunjuk Pieter Both sebagai Gubernur Jendral VOC beserta
sejumlah gubernur wilayah. Hal ini dilakaukan untuk memudahkan koordinasi dalam
wilayah yang luas. Both merupakan Gubernur Jenderal VOC pertama yang
memerintah tahun 1610-1614 di Ambon, Maluku. Jan Pieterzoon Coen yang
menjabat 1619-1629 memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta (Batavia).
Karena letaknya strategis di tengah-tengah Nusantara memudahkan pelayaran ke
Belanda. Sejak 1620, tempat kedudukan gubernur jendral VOC dipindahkan dari
Ternate ke Batavia. Kemudian Maluku dipimpin oleh seorang gubernur jendral yang
berkedudukan di Ternate sebagai markas besar VOC sebelumnya. Gubernur jendral
Ternate tersebut adalah Frederik de Houtman (1621-1623). Antonio Van Diemen
(1636-1645), Joan Maetsycker (1653-1678), Cornelis Speeldman (1681-1684).
HAK ISTIMEWA

Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret


1602 meliputi:

Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung
Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan
untuk kepentingan sendiri;

Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara


untuk:
1. memelihara angkatan perang,
2. memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian,
3. merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda,
4. memerintah daerah-daerah tersebut,
5. menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan
6. memungut pajak.

B.

KEGIATAN PERDAGANGAN VOC DI INDONESIA


Setelah berpusat di Batavia, VOC melakukan perluasan kekuasaan dengan pendekatan
serta campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia antara lain Ternate, Mataram,
Banten, Banjar, Sumatra, Gowa serta Maluku. Perluasan kekuasaan Belanda ke daerah-daerah
luar Jawa benar-benar berbeda dengan perluasan kekuasaannya di Jawa, karena di sebagian
besar daerah luar Jawa tidak pernah ada alasan yang permanen atau sungguh-sungguh untuk
menguasai oleh pihak Belanda. Akibat hak monopoli yang dimilikinya, VOC memaksakan
kehendaknya sehingga menimbulkan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Untuk
menghadapi perlawanan bangsa Indonesia VOC meningkatkan kekuatan militernya serta
membangun benteng-benteng seperti di Ambon, Makasar, Jayakarta dan lain-lain. VOC dapat
memperoleh monopoli perdagangan Indonesia karena melakukan beberapa hal diantaranya
adalah melakukan pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan
VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempah kepada
pedagang asing seperti Inggris, Perancis dan Denmark. Hal ini banyak dijumpai di pelabuhan
bebas Makasar. Melakukan Ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik rakyat. Tujuannya adalah
mepertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan. Melakukan
sistem Verplichte Leverantien, merupakan perjanjian dengan raja-raja setempat terutama yang
kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang dibutuhkan VOC dengan harga yang ditetapkan
VOC. Kemudian VOC menerapkan sistem Contingenten yang berarti rakyat wajib menyerahkan
hasil bumi sebagai pajak.

C.

POLITIK EKONOMI VOC


Usaha VOC untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya adalah melalui monopoli
perdagangan. Untuk itu VOC menerapakan beberapa aturan dalam melaksanakan monopoli
perdagangan antara lain :
1. Verplichhte Leverantie
Verplichhte Leverantie yaitu penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah
ditetapkan oleh VOC. Peraturan ini melarang rakyat untuk menjual hasil bumi kepada pedagang
lain selain VOC.
2. Contingenten
Contingenten yaitu kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak berupa hasil bumi.
3. Ektripasi
Ektripasi yaitu hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah agar tidak terjadi
kelebihan produksi yang dapat menyebabkan harga merosot.
4. Pelayaran Hongi
Pelayaran Hongi yaitu pelayaran dengan menggunakan perahu kora-kora untuk
mengawasi pelaksanaan perdagangan VOC dan menindak pelanggarnya.

D.

KEBANGKRUTAN DAN PEMBUBARAN

Pada pertengahan abad ke-18 VOC mengalami kemunduran karena beberapa sebab sehingga
dibubarkan. Alasannya adalah sebagai berikut:

Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi

Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari
Gowa

Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai
yang banyak

Pembayaran dividen (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah


VOC mengalami kekurangan pemasukan

Bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis

Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis
dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.

Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan hutang
136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal
serta daerah kekuasaan di Indonesia. Aset-asetnya dialihkan kepada pemerintahan Belanda.