Anda di halaman 1dari 4

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan peninjauan literatur dengan mengevaluasi


semua studi yang telah dipublikasikan dalam PubMed sejak tahun 1960 menggunakan
istilah ''pengobatan oksigen dan infark miokard akut (IMA)" atau 'oksigen dan koroner'
muncul dalam judul dan melacak hasil penelitian dari literatur tersebut untuk mendapatkan
data lebih lanjut. Penelitian ini mengevaluasi efek oksigen pada parameter kardiovaskular
dan melaporkan data hemodinamik dan membahas data dasar tentang efek biologis dan
kardiovaskular oksigen dan data klinis pada nilai oksigen IMA.

Pembahasan
Sebagian oksigen dalam darah terikat dengan hemoglobin. Hubungan antara tekanan
parsial oksigen dalam aliran darah dan hemoglobin jenuh tercermin dalam disosiasi oksigenhemoglobin kurva-pada tingkat 0,60 mm Hg, kurva disosiasi standar relatif datar, dan
kandungan oksigen dalam darah tidak berubah secara signifikan, bahkan dengan kenaikan
besar dalam tekanan parsial oksigen.
Selama pmberiani oksigen rutin, kenaikan oksigen yang larut dalam plasma tidak dapat
dipantau, dan yang lebih penting, efek dari peningkatan kadar oksigen dalam darah tidak
diketahui. Molekul-molekul yang sangat reaktif, yang merupakan produk dari metabolisme
oksigen normal, dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada sel-sel. Pada keadaan
iskemia, Reactive Oxygen Species (ROS)

adalah faktor yang memicu kemotaksis leukosit

dan inflamasi serta merusak transport elektron di mitokondria, dan efek reperfusi kematian
sel. Miosit yang tepapar oksigen dengan konsentrasi tinggi akan menghasilkan peningkatan
jumlah angiotensin I, meningkatkan tonus pembuluh darah. Namun, miosit yang telah
terpapar oksigen konsentrasi rendah mengeluarkan adenosine, mennurukan tunus
pembuluh darah.
Efek merugikan ROS lainnya adalah dapat menyebabkan aritmia yang mematikan,
ventriklar takikardi dan ventrikular fibrilasi. Meskipun ROS berbahaya, namun tidak ada
antioksidan yang terbukti berkhasiat dalam penyakit kardiovaskular.

Dalam penelitian ini juga ditampilkan hasil penelitian mengenai efek pemberian terapi
oksigen pada pasien dengan IMA, dimana hasil dari penelitian-penelitian tersebut masih
bervariasi. Pada beberapa penelitian menunjukkan adanya efek negatif yang dihasilkan dari
pemberian terapi oksigen seperti peningkatan insidensi sinus takikardi, nanmun pada
penelitian-penelitia lain menunjukkan bahwa terapi oksigen tidak menunjukkan efek
perbaikan yang signifikan.

Pada penelitian yang membahas mengenai efek hemodinamik dari pemberian terapi
oksigen, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa oksigen tidak memiliki efek hemodinamik
menguntungkan dan bahkan berbahaya. Pada pasien normoxaemic (SaO2 >90%) dengan
IMA, terapi oksigen menurun CO dan stroke volume (SV) dan menimbulkan resistensi
vaskular sistemik(SVR). Pada pasien hypoxaemic dengan IMA, terapi oksigen meningkatkan
CO. Sebuah studi terpisah menunjukkan bahwa pemberian oksigen 100% pada pasien
dengan penyakit arteri koroner (CAD) mengakibatkan peningkatan produksi laktat mungkin
karena aliran darah koroner menurun.

Kesimpulan
Oksigen sudah tersedia dan mudah digunakan. Mereka yang merekomendasikan terapi
oksigen rutin berpendapat bahwa terapi oksigen tidak berbahaya. Sebuah survei baru-baru
ini diterbitkan evaluasi alasan dokter untuk menggunakan oksigen pada pasien IMA-kira-kira
setengah dari responden percaya bahwa oksigen menurun kematian, sementara 25%

percaya bahwa itu mengurangi rasa sakit. Meskipun 25% dari dokter menyatakan bahwa
oksigen tidak berpengaruh, 96% dari mereka memilih untuk menggunakan oksigen pada
pasien IMA
Pada pasien hipoksemia, pemberian terapi oksigen menunjukkan adanya manfaat, namun
pada pasien normoxaemic tidak ada bukti yang cukup menunjang manfaat dan keamanan
pemberian oksigen. Bahkan penelitian lain menyatakan pemberian terapi ini tidak efektif dan
berbahaya. Sehingga perlu adanya evaluasi lebih lanjut mengenai efek dari pemberian
oksigen dan menentukan pedoman yang tepat untuk penggunaannya.