Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Pada Basis Cranii

Shienowa Andaya Sari


102012445 /D5
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
shienowa.sari@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Kepala manusia terdiri dari otak, mata, telinga, hidung, dan mulut (yang kesemuanya
membantu berbagai fungsi sensor seperti pengelihatan, pendengaran, penciuman, dan
pengecapan). Apabila terjadi cedera pada kepala maka akan berakibat fatal dalam bagian
dalam kepala manusia. Pada kepala manusia terdapat yaitu tengkorak, meninges, LCS (liquor
cerebrospinalis), sawar darah otak (blood brain barrier) dan otak serta terdapat saraf-saraf
penting yang berfungsi mengendalikan tubuh manusia. Saraf-saraf penting yang berfungsi
mengendalikan tubuh manusia adalah sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Dalam
kepala manusia juga terdapat sistem vaskularisasi berperan dalam sistem pembuluh darah
manusia. Suatu fraktur basis cranii adalah suatu fraktur linear yang terjadi
pada dasar tulang tengkorak yang tebal. Fraktur pada daerah ini sering melukai
struktur lain pada bagian dalam tengkorak.
Kata kunci: Pelindung otak, saraf, vaskularisasi cerebral.
Abstract
Human head consists of the brain, eyes, ears, nose, and mouth (all of which help various
functions such as vision sensors, hearing, smell, and taste). In the event of an injury to the
head would be danger in the inside of the human head. On the human head there is the skull,
meninges, CSF (liquor cerebrospinalis), blood-brain barrier (blood brain barrier) and the
brain and the nerves are important to control the human body functions. Important nerves
that control the functioning of human body is central nervous system and peripheral nervous
system. In the human head vascularity systems are also involved in human vascular system. A
fracture is a fracture of the base linear cranii occurring at the base of the skull is thick.
Fractures in this area often injure other structures on the inside of the skull.
Keywords: Protector brain, nerves, cerebral vascularization.
Pendahuluan
Kepala adalah bagian rostral yang biasanya terdiri dari otak, mata, telinga, hidung, dan
mulut (yang kesemuanya membantu berbagai fungsi sensor seperti pengelihatan,
pendengaran, penciuman, dan pengecapan). Bagian yang terdapat pada kepala manusia yaitu
tengkorak, meninges, LCS (liquor cerebrospinalis), sawar darah otak (blood brain barrier)
dan otak. Serta terdapat pembuluh darah dan saraf-saraf penting yang berfungsi
mengendalikan tubuh manusia. Apabila terjadi cedera pada kepala maka akan berakibat fatal
dalam bagian dalam kepala manusia. Dalam hal ini penulis akan membahas tentang struktur
bagian kepala manusia itu sendiri akan dibahas secara makroskopik dan mikroskopik serta
sistem saraf yang mensarafi tubuh manusia. Sarasan pembelajaran yang diharapkan dapat
dicapai yaitu dapat mengetahui struktur cranium dan fungsinya, serta mengetahui
pembentukan LCS (liquor cerebrospinalis).

Isi
1. Pelindung Otak
1.1 Tengkorak
Tengkorak dibentuk oleh gabungan beberapa tulang.1 Tulang-tulang dasar tengkorak
umumnya besar, mengalami penulangan, erat menjadi satu dan keras. Masing-masing tulang
(kecuali mandibula) disatukan pada sutura. Cranium atau atap tengkorak terdiri atas beberapa
tulang yaitu os occipitale di belakang, dua buah os parietale pada kedua sisi, dan dua buah os
temporal, dan dua buah os frontale di depan (Gambar 1).2 Fungsi tengkorak adalah untuk
melindungi otak dan indera pengelihatan dan pendengaran, sebagai tempat melekatnya otot
yang bekerja pada kepala, dan sebagai tempat penyangga gigi.
Pada atap tengkorak, permukaan dalam dan luar dibentuk oleh tulang padat dan lapisan
spongiosa yang disebut diploe terletak di antaranya. Terdapat variasi yang cukup besar pada
ketebalan tulang tengkorak antar-individu. Tengkorak paling tebal pada tempat yang tidak
dilindungi oleh otot. Pada gambaran klinis fraktur tulang tengkorak biasanya terjadi akibat
benturan langsung. Benturan terlokalisasi pada kubah tengkorak sering menyebabkan fraktur
dengan tulang melesak ke dalam otak, pembuluh darah dan meningen di sekitar otak sering
mengalami cedera. Basis cranii sangat keras dan fraktur pada daerah ini sering melukai
struktur lain yaitu sinus udara, pembuluh darah yang melaluinya, dan saraf kranial. Selain itu
fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada duramater.

Gambar

1.

Cranium3

Pada kasus kali ini penulis akan membahas lebih terperinci tentang basis cranii. Basis
cranii berarti tulang tengkorak yang lihat dari bawah (dengan menyingkirkan mandibula). 2
(Gambar 2) Menunjukan beberapa bagian yaitu gigi rahang atas, cekungan palatum durum,
yang dibentuk oleh processus palatinus maxilla di bagian depan dan sebagian os palatinus di
2

bagian belakang. Kemudian pada arcus zygomaticus, dibentuk terutama oleh os zygomaticus,
dengan penonjolan maxilla di bagian depan dan os temporale di bagian yang lain di belakang.
Ada fossa infratemporalis, ruang di antara arcus zygomaticus dan kubah tengkorak,
merupakan bagian dari os sphenoidale, serta bagian os temporale, mencakup processus
mastoideus, processus styloideus, dan canalis caroticus (yang dialui arteria carotis internus).
Os occipital, mengelilingi foramen magnum. Foramen magnum yang dilalui oleh medulla
spinalis dan arteria vertebralis. Condylus occipitalis di setiap sisi foramen magnum,untuk
articulation atlantoocopitalis (vertebra cervicalis I), serta beberapa foramen untuk pembuluh
darah dan saraf.
Tengkorak dilihat dari dalam, dengan menyingkirkan kubah tengkorak menunjukan tiga
serambi pada setiap sisi yaitu fossa cranii anterior, fossa cranii media, dan fossa cranii
inferior.

Gambar 2. Basis cranii3


1.1.1 Fossa Cranii Anterior
Fossa cranii anterior dibentuk oleh lamina orbitalis os frontale, yang membentuk atap
orbita. Kemudian crista galli dan lamina cribriformis os ethmoidale, terletak di antara dua
lamina orbitalis. Dibentuk juga oleh ala minor os sphenoidal. Serta ada pula foramen
opticum adalah sebuah lubang pada os sphenoidale yan dilalui nervus opticus di setiap sisi
dari orbita menuju otak.
1.1.2 Fossa Cranii Media
Fossa crania media dibentuk oleh os sphenoidale di bagian tengah, kemudian os
temporale di bagian tengah, dan bagian depa pars petrosa os temporale di bagian belakang.
Fossa hypophysialis adalah cekungan di bagian tenga os sphenoidale yang merupakan bagian
yang melindungi kelenjar hipofisis. Pocessus clinoideus anterior dan posterior merupakan
penonjolan tulang yang sangat kecil, dua di depan dan dua di belakang fossa hypophysialis.
Kemudian terdapat arteria carotis internus memasuki tengkorak melalui lubang di bagian
posterolateral fosa.
1.1.3 Fossa Cranii Inferior
Fossa crania posterior merupakan fossa yang terbesar dan terdalam, dibentuk dari pars
petrosa os temporale pada bagian belakang dan os occipitale. Fosa ini menunjukan cekungan
dalam pada tiap sisi tempat dari cerebellum, foramen magnum, dan alur tempat sinus
venosus.
3

1.2 Meninges
Meninges adalah membrane tipis yang membungkus otak dan medula spinalis. Terdapat
tiga meninges: dura mater (thick mother) di bagian luar, araknoid (seperti laba-laba)
sebagai lapisan tengah, dan pia mater (little mother) yang terdapat tepat di atas otak.4
1.2.1 Dura mater
Dura mater, lapisan terluar adalah lapisan yang tebal dan terdiri dari dua lapisan yaitu
lapisan periosteal luar dan lapisan meningeal dalam.5 Lapisan periosteal luar pada dura mater
melekat di permukaan dalam cranium dan berperan sebagai periosteum dalam tulang
tengkorak. Sedangkan lapisan meningeal dalam pada dura mater tertanam sampai ke dalam
fisura otak dan terlipat kembali arahnya untuk membentuk bagian-bagian yaitu falks
serebrum, falks serebelum, tentorium serebelum, dan sela diafragma. Pada beberapa regia,
kedua lapisan ini dipisahkan oleh pembuluh darah besar, sinus vena yang mengalirkan darah
keluar dari otak. Ruang antara lapisan-lapisan tersebut diisi dengan CSS.
Ruangan di atas dura mater disebut epidural, dan ruangan di bawah dura mater, tetapi di
atas araknoid disebut subdural. Ruang epidural dan subdural berisi banyak pembuluh darah
kecil. Ruang subdural memisahkan dura mater dari araknoid pada regia cranial dan medulla
spinalis sedangkan ruang epidural adalah ruang potensial antara periosteal luar dan lapisan
meningeal dalam pada dura mater di regia medulla spinalis. Kerusakan pada pembuluh darah
tersebut menyebabkan penimbunan darah di ruang epidural atau subdural.
1.2.2 Araknoid
Lapisan araknoid (tengah) terletak di bagian eksternal pia mater dan mengandung sedikit
pembuluh darah.5 Terdapat ruang subaraknoid yang memisahkan lapisan araknoid dari pia
mater dan mengandung cairan serebrospinalis, pembuluh darah, serta jaringan penghubung
seperti selaput yang mempertahankan posisi araknoid terhadap pia mater diawahnya.
Kemudian terdapat berkas kecil jaringan araknoid yaitu vili araknoid, menonjol ke dalam
sinus vena dura mater.
1.2.3 Pia mater
Pia mater adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, serta melekat erat pada otak,
karena melekat erat pada otak maka lapisan pia mater mengikuti alur gyrus dan sucus. 5
Lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah untuk mensuplai jaringan saraf.
1.3 LCS (liquor cerebrospinalis)
LCS (liquor cerebrospinalis) atau cairan serebrospinal (CSS) adalah cairan jernih yang
mengelilingi otak dan medula spinalis.4 CSS bersirkulasi di ruang subaraknoid, dan
memberikan perlindungan kepada otak terhadap getaran fisik. Komposisi cairan
serebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan interstisial, tetapi tidak mengandung
protein. Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh pleksus koroid yaitu jaring-jaring kapilar
berbentuk bunga kol yang menonjol dari pia mater ke dalam dua ventrikel otak. Kemudian
melalui sekresi oleh sel-sel ependimal yang mengitari pembuluh darah sereral dan melapisi
kanal sentral medula spinalis.
Cairan serebrospinalis mengalami sirkulasi sebagai berikut.5 Cairan bergerak dari
ventrikel lateral melalui foramen interventrikular (Munro) menuju ventrikel ketiga otak,
tempat cairan semakin banyak karena ditambahkan oleh pleksus koroid ventrikel ketiga. Dari
ventrikel ketiga cairan mengalir melalui akuaduktus serebral (Sylvius) menuju ventrikel
keempat, tempat cairan ditambahkan kembali dari pleksus koroid. Cairan mengalir melalui
4

tiga lubang pada langit-langit ventrikel keempat kemudian bersirkulasi melalui ruang
subaraknoid di sekitar otak dan medulla spinalis. Cairan kemudian direabsorpsi di villi
araknoid (granulasi) ke dalam sinus vena pada dura mater dan kembali ke aliran darah tempat
asal produksi cairan tersebut. Reabsorpsi cairan serebrospinalis berlangsung secepat
produksinya, dan hanya menyisakan sekitar 125 ml pada pada sirkulasi. Rearbsorpsi normal
berada di bawah tekanan ringan (10 mmHg sampai 20 mmHg). Tetapi jika ada hambatan saat
reabsorpsi berlangsung maka cairan akan bertambah dan tekanan intracranial akan semakin
besar. (Gambar 3)

Gambar 3. Cairan serebrospinalis5


Fungsi cairan serebrospinalis adalah sebagai bantalan untuk jaringan lunak otak dan
medulla spinalis, juga berperan sebagai media pertukaran nutrien dan zat buangan antara
darah dan otak serta medulla spinalis. Secara klinis cairan serebrspinalis dapat diambil untuk
pemeriksaan melalui prosedur pungsi lumbal (Spinal tap) yaitu jarum berongga diinsersi ke
dalam ruang sub-araknoid di antara lengkung saraf vertebra lumbal ketiga dan keempat.
1.4 Sawar Darah Otak (blood brain barrier)
Sawar darah-otak adalah struktur unik sistem vaskular otak yang mencegah lewatnya
material dari darah ke cairan serebrospinal di otak. 4 Sawar darah-otak terbentuk dari sel
endotel yang berikatan erat di kapiler otak dan dari sel yang melapisi ventrikel yang
membatasi difusi dan filtrasi. Fungsi transport khusus mengatur cairan yang keluar dari
sirkulasi umum untuk membasahi sel otak. Swar darah otak melindungi sel otak yang halus
dari pajanan terhadap zat yang berpotensi membahayakan. Banyak obat dan zat kimia tidak
dapat menembus darah-otak.
2. Saraf
Jaringan saraf terdiri atas sel saraf (neuron) dan sel penyokong (neuroglia). Neuron adalah unit
utama sistem saraf dan merupakan sel yang sangat khusus. Setiap neuron memiliki fungsi untuk
menerima rangsangan yang datang dan mengirimkan rangsangan ke saraf lain maupun ke otot.
Neuron terdiri dari dendrit, badan sel, dan akson. Dendrit adalah bagian dari neuron yang menerima
rangsangan dari saraf lain atau bekerja sebagai reseptor. Badan sel memiliki fungsi untuk
menyampaikan sinyal rangsangan ke akson. Sementara itu, akson adalah perluasan memanjang tempat
lewatnya sinyal yang dicetuskan di dendrit dan badan sel. 4 (Gambar 4)
5

Gambar 4. Neuron4
Sinaps adalah titik kontak antara neuron satu dengan neuron lainnya. Sinaps ada yang
sinaps kimiawi dan sinaps listrik. Dalam satu sinaps terdisi atas unsur presinaptik (prasinaps)
dan unsur postsinaps (pascasinaps). Pada sinaps kimiawi, suatu neurotransmiter (zat kimia)
dilepas dari terminal akson presinaptik (parasinaps), mengalir menyebrangi celah sinaptik
dan melekat pada resptor membran postsinaps (pascasinaps).
Sistem saraf adalah sekumpulan serabut sel-sel saraf, atau neuron-neuron. 6 Sel-sel ini
merupakan sel-sel dengan prosesus percabangan yang panjang (serabut saraf) yang dapat
mengirimkan impuls saraf. Sistem saraf terbagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf tepi
dan sistem saraf pusat.
2.1.

Sistem Saraf Tepi


Sistem saraf tepi (SST) terdiri atas cabang-cabang ini yang berjalan dalam saraf kranial
dan spinal dan kelompok neuron di luar terkait yang dikenal sebagai ganglia. Fungsi semua
bagian tubuh diintegrasi leh sistem ini.7 Sistem saraf perifer terdiri atas saraf yang berjalan
antara otak atau medula spinalis dan bagian tubuh lainnya. Sistem saraf perifer dapat dibagi
menjadi bagian aferen dan eferen.
Serabut aferen dan eferen berjalan bersama dalam arah yang berlawanan di semua saraf
spinal dan sebagian besar saraf kranial. Beberapa saraf kranial hanya membawa informasi
aferen. Neuron aferen menyampaikan informasi ke sistem saraf pusat dari semua organ
sensorik, reseptor tekanan dan volume, reseptor suhu, reseptor regangan, dan reseptor nyeri.
Neuron eferen mnyampaikan stimulasi saraf ke otot dan kelenjar. Neuron eferen
menyampaikan stimulasi saraf ke otot dan kelenjar. Neuron eferen termasuk dalam sistem
saraf otonom atau sistem saraf somatik.
Terdapat 12 pasang saraf yang berjalan ke dan dari otak dan 31 pasang yang berjalan ke
dan dari medula spinalis. Tetapi pada pembahasan kali ini akan lebih menitikberatkan
pembahasan kepada 12 pasang saraf yang berjalan ke otak dan dari otak atau lebih di kenal
dengan 12 saraf kranial. Saraf-saraf ini penting dalam pengelihatan, pendengaran,
pengecapan, penghidu, sensasi wajah dan kulit kepala, gerakan mata, mengunyah, menelan,
ekspresi wajah, dan salviasi.8 Saraf kranial ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. 12 Saraf Kranial9
No
I
II
III

Saraf kranial
Olfaktorius
Optikus
Okulomotorius

Komponen
Sensorik
Sensorik
Motorik

Fungsi
Penciuman
Penglihatan
Menegakkan kelopak mata
atas, kontraksi pupil,
6

Tempat Keluar
Lamina cribosa
Canalis optikus
Fissura orbitalis
superior

IV

Troklearis

Motorik

Trigeminus
I. Opthalmius
II. Maxillaries
III.
Mandibularis

Motorik dan
sensorik

VI

Abdusens

Motorik

VII

Fasialis

Motorik, sensorik

VIII Vestibulokokle
aris

Sensorik

IX

Glosofaringeus

Motorik, sensorik

Vagus

Motorik, sensorik

XI

Asesorius

Motorik

XII

Hipoglosis

Motorik

sebagian besar gerakan


ekstraokular
Gerakan mata ke bawah
dan ke dalam
Motorik: otot temporalis
dan maseter (menutup
rahang dan mengunyah)
gerakan lahan ke lateral.
Sensorik: kulit wajah, duaIII.
pertiga depan kulit kepala,
mukosa mata, mukosa
hidung di rongga mulut,
lidah dan gigi.
Deviasi mata ke lateral

Fissura orbitalis
superior
Fissura orbitalis
superior
Foramen
Rotundum
Foramen Ovale

Fissura orbitalis
superior
Motorik: otot-otot ekspresi Meatus
wajah termasuk otot dahi,
acusticus
sekeliling mata serta mulut. internus
Sensorik: pengecapan dua
pertiga depan lidah (rasa,
manis, asam, dan asin)
Keseimbangan
Meatus
acusticus
internus
Motorik: faring menelan,
Foramen
refleks muntah, partis
jugulare
salivasi.
Sensorik: faring, lidah
posterior, termasuk rasa
pahit.
Faring: menelan, refleks
Foramen
muntah, fonasi: visera
jugulare
abdomen.
Otot stemokleidomastideus Foramen
dan bagian atas dari otot
jugulare
trapezius; pergerakan
kepala dan bahu.
Pergerakan lidah
Canalis nervi
hypoglossi

2.2.

Sistem Saraf Pusat


Sistem saraf pusat (SSP), yang terdiri dari otak dan medula spinalis merupakan sistem
saraf utama dari tubuh serta mengandung sel-sel saraf, atau neuron, dan sel-sel penyokong
disebut neuroglia.10,7 Fungsi utama sistem saraf pusat adalah mengolah informasi sensorik yan
masuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan respons motorik yang tepat. 11 Setelah
7

informasi sensorik penting dipilih, informasi tersebut disambungkan ke bagian yang tepat
dari sistem saraf pusat untuk menimbulkan respons yang diinginkan.
2.2.1

Otak

Otak adalah massa besar jaringan saraf yang terletak di dalam kranium (tengkorak). Otak
adalah tempat reflex berintegrasi untuk mempertahankan lingkungan internal. Otak juga
merupakan sumber beberapa hormon dan tempat intergasi semua informasi sensorik. Otak
yang sudah berkembang penuh merupakan sebuah organ besar yang terletak di dalam rongga
tengkorak. Pada perkembangan awal, otak dibagi menjadi 3 bagian yaitu otak depan, otak
tengah, dan otak belakang.12,13
Otak depan menjadi belahan otak (hemisferium serebri), korpus striatum dan talami
(thalamus dan hipotalamus). Otak tengah menjadi otak tengah atau diensefalon. Kemudian
otak belakang menjadi pons varoli, medula oblongata, dan serebelum ketiga bagian ini
membentuk Batang otak. (Gambar 5) Pada pembahasan kali ini akan menitikberatkan pada
batang otak.

Gambar 5. Otak12

2.2.1.1 Batang otak


Seperti yang telah kita bahas di atas, batang otak terdiri dari medula, pons, dan otak
tengah. Batang otak adalah penghubung vital antara medula spinalis dan bagian-bagian otak
yang lebih tinggi.8 Batang otak juga merupakan jalur penghubung penting antara bagian otak
lain dan medula spinalis, serta berperan dalam mengatur reflex otot yang terlibat dalam
keseimbangan dan postur. Sebagian besar dari 12 pasang saraf kranialis berasal dari batang
otak (gambar 6). Batang otak tempat berkumpulnya kelompok-kompok neuron-neuron atau
pusat yang mengontrol fungsi jantung dan pembuluh darah, pernapasan, dan banyak aktivitas
pencernaan.

Gambar 6. Saraf Kranial8


Di dalam batang otak terdapat suatu anyaman neuron-neuron yang
saling berhubungan yang disebut formasio retikularis. 8 Jaringan ini
menerima dan mengintegrasikan semua masukkan sinaps. Serat-serat
asendens yang berasal dari formasio retikularis membawa sinyal keatas
untuk membangunkan dan mengaktifkan korteks serebrum. Serat-serat ini
menyusun system aktivasi retikuler (reticular activating system) yang
mengontrol seluruh derajat kewaspadaan korteks dan penting dalam
kemampuan mengarahkan perhatian. Dari gambar (gambar 7) dapat kita
lihat Reticular Activating System formasio retikularis,suatu jaringan
neuron yang tersebar luas didalam batang otak, menerima dan
mengintegrasikan semua masukan sinaps. Reticular Activating System,
yang mendorong kesiagaan korteks dan membantu mengarahkan
perhatian ke kejadian-kejadian tertentu, terdiri dari serat-serat asendens
(warna putih) yang berasal dari formatio retikularis yang membawa sinyal
keatas untuk membangunkan dan mengaktifkan serebrum.

Gambar 7. Formasio Retikularis


2.2.2 Medula Spinalis
Medula spinalis berlanjut dengan medula oblongata di atas otak dan merupakan sistem
saraf pusat di bawah otak. Struktur ini berawal pada foramen magnum dan berakhir pada
lumbal pertama tulang belakang, dengan panjang sekitar 45 cm. Pada ujung bagian bawah, ia
berangsur-angsur menghilang ke dalam suatu kerucut, yang dinamakan konus medularis dari
ujung, tempat filum terminal turun ke koksigis yang dikelilingi oleh akar saraf, yang disebut
kauda equina.12 (Gambar 7) Fungsi utama medula spinalis adalah sebagai penyaur impuls dari
perifer ke otak dan dari otak ke perifer.

Gambar 7. Ujung Medula Spinalis12


3. Pembahasan pada Kasus
Skenario yang di dapat pada kasus kali ini adalah seorang pengendara mobil di bawa ke
UGD karena mengalami kecelakaan beruntun. Hasil pemeriksaan fisik pasien tidak sadar,
hasil pemeriksaan rontgen didapati fraktur pada basis cranii.
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya. Penyebab fraktur meliputi pukulan langsung, gaya meremuk,
gerakan punter mendadak, dan kontraksi otot ekstrem.14 Dalam skenario telah kita lihat
bahwa setelah pasien menjalani pemeriksaan fisik hasil pemeriksaan rontgen menunjukan
adanya fraktur pada basis cranii. Pemeriksaan rontgen (radiodiagnostic) merupakan
pemeriksaan yang menggunakan Sinar X untuk dapat menampilkan organ tubuh . Fraktur
basis cranii terjadi akibat kecelakaan. Dimana daerah dasar tulang tengkorak mengalami
benturan pada saat tabrakan beruntun. Keadaan ini membuat pasien tidak sadar pada saat
pemeriksaan fisik.
Ketidaksadaran ini disebabkan adanya kerusakan batang otak yang mengganggu RAS
(reticular activating system) pada formasio retikularis.8 Batang otak adalah
penghubung vital, serta tempat dimana 12 pasang saraf kranialis berasal dan berfungsi untuk
10

mengontrol fungsi jantung dan pembuluh darah atau vaskularisasi. Pada gambaran klinis
fraktur tulang tengkorak biasanya terjadi akibat benturan langsung. Basis cranii sangat keras
dan fraktur pada daerah ini sering melukai struktur lain yaitu sinus udara, pembuluh darah
yang melaluinya, dan saraf kranial. Selain itu fraktur ini seringkali disertai dengan
robekan pada duramater.
Kesimpulan
Pada kasus kali ini, kelompok kami telah menyusun hipotesis yaitu fraktur pada basis
cranii menyebabkan gangguan pada struktur kepala dan saraf kranial. Hipotesis dibenarkan
karena telah di sebutkan pada pembahasan di atas basis cranii sangat keras dan fraktur pada
daerah ini sering melukai struktur lain yaitu sinus udara, pembuluh darah yang melaluinya,
dan saraf kranial. Selain itu fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada
duramater. Dengan demikian dapat di pastikan apabila terjadi fraktur pada basis cranii
maka dapat mengganggu kerja batang otak, 12 pasang saraf kranial, serta sistem
vaskularisasi.
Daftar Pustaka
1. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.
2. Oxorn H, Forte WR. Ilmu kebidanan: patologi dan fisiologi persalinan. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medica (YEM); 2010.
3. Paulsen F, Waschke J. Sobotta atlas anatomi manusia kepala, leher, dan neuroanatomi.
Edisi 23. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.
4. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC; 2004.
6. Broom B. Anatomi dan fisiologi kelenjar endokrin dan sistem persarafan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.
7. Fawcett DW. Buku ajar histology. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2007.
9. Muttaqin A. Buku ajar asuhan keperawatan dengan ganggan sistem persarafan. Jakarta:
Salemba Medika; 2008.
10. Anugerah P. Farmakologi pendekatan proses keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.
11. Ester M. Bahaya bahan kimia pada kesehatan manusia dan lingkungan. Jakarta: Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.
12. Watson R. Anatomi dan fisiologi keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2003.
13. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama;
2005.
14. Suratun , Heryati, Manurung S, Raenah E. Klien gangguan sistem musculoskeletal sAK.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.

11