Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI SISTEM ORGAN

Cara Penanganan dan Pemberian Obat Pada Hewan Percobaan


Kamis, 12 Maret 2015
Kelompok 5
Kamis Pukul 10.00 13.00 WIB

Nama
Michael Djajaseputa
Silvi Wulandari
Rani Cyinthia
Teresya Puteri
Junaedi Siahaan
Wirna Sihombing

NPM

Tugas

200110130087Pembahasan
200110130088Alat, bahan, prosedur
200110130089Pembahasan
200110130090Data pengamatan
200110130091Teori dasar, dapus
200110130092Tujuan, prinsip,
simpulan, editor

LABORATORIUM FARMAKOLOGI SISTEM ORGAN


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Nilai

TTD

Cara Penanganan dan Pemberian Obat


Pada Hewan Percobaan
I.

TUJUAN
Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa diharapkan: 1. Mengetahui dan
mampu menangani hewan untuk percobaan farmakologi secara baik. 2.
Mengetahui sifat-sifat hewan percobaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
responnya. 3. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute
pemberian serta pengaruhnya terhadap efek yang ditimbulkan.

II.

PRINSIP
Oral : Diberikan dengan alat suntik yang dilengkapi sonde oral (kanula).
Kanula dimasukkan ke dalam mulut lalu perlahanlahan dimasukkan ke

belakang melalui tepi langit-langit (palate) sampai esofagus.


Subkutan : Diberikan di bawah kulit tengkuk.
Intravena : Diberikan melalui vena ekor dengan jarum suntik No. 24.
Mencit dimasukkan ke dalam pemegang (restainer) dengan ekor

menjulur keluar.
Intramuskular : Disuntikkan pada otot paha posterior dengan jarum

suntik No. 24
Intraperitoneal : Mencit dipegang dengan posisi kepala lebih rendah dari
abdomennya. Jarum disuntikkan dengan membentuk sudut 100 dari
abdomen, agak menepi dari garis tengah, untuk mencegah terkenanya
kandung kemih dan tidak terlalu tinggi agar tidak mengenai hati.

III.

TEORI DASAR
Rute penggunaan obat dipilih tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta
kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti
berikut:

a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik

b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacammacam rute.

(Anief, 1990).

Kecepatan dan besar kecilnya obat yang diabsorpsi pada umumnya dipengaruhi oleh
bentuk sediaan. Oleh karena itu, hal tersebut akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek
terapi obat. Bentuk sediaan obat pun dapat dapat memberi efek lokal atau sistemik. Efek
sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang
efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1990).

Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:


a) Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
b) Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan
c) Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.
Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:
a) Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b) Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
c) Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran
kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau

larut dalam cairan badan.


Rute penggunaan obat dapat dengan cara:
a) Melalui rute oral
b) Melalui rute parenteral
c) Melalui rute inhalasi
d) Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan
sebagainya
e) Melalui rute kulit
(Anief, 1990).

Sejak puluhan tahun lalu penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah
dibidang kedokteran/biomedis telah dilakukan. Hewan sebagai model atau sarana
percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan
genetis/ keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping

faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis
yang mirip kejadiannya pada manusia (Tjay, T.H dan Rahardja,K, 2002).
Dalam penggunaan hewan uji, cara memegang dan menentukan jenis kelamin perlu
diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan memiliki perbedaan
dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya.
Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa
sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan
darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya (Ridwan, 2013).
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis
telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan
keselamatan manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki,yang dihasilkan oleh
Sidang Kesehatan Dunia ke 16 di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964. Deklarasi
tersebut merupakan rekomendasi kepada penelitian kedokteran, yaitu tentang segi etik
penelitian yang melibatkan manusia sebagai obyek penelitian. Disebutkan, perlunya
dilakukan percobaan pada hewan sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset
lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia. Hewan sebagai model atau sarana
percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan
genetis/ keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping
faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis
yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono, M.E., 1986).
Berbagai cara pemberian perlakuan terhadap hewan coba dapat dilakukan dengan
cara :
a) Per oral
Mencit atau tikus diletakkan di atas ram kawat, ekor ditarik.
Jarum suntik yang sudah disolder dimasukkan ke dalam mulut mencit namun harus
diperhatikan proses masuknya jarum agar tidak melukai organ dalam mencit.
Setelah selesai, tarik kembali jarum tersebut secara perlahan.
b) Intramuskular
Pembantu memegang paha, penyuntik memegang paha kiri dari depan dengan tangan
kiri.

Jarum ditusukkan dari balik dengan sudut tegak lurus terhadap permukaan kulit kirakira ditengah paha sehingga tusukan sampai ke otot bicep femoris.
Lalu suntikkan bahan perlakuan, tarik jarum, tempat suntikan dipijat pelan-pelan.
c) Intraperitoneal
Mencit dihandling dengan benar
Tusukkan jarum disisi dekat umbilicus / kira-kira 5mm disamping garis tengah antara
2 puting susu paling belakang
Tarik jarum lalu lepaskan mencit.
d) Subkutan
Obat/bahan disuntikkan di bawah kulit di daerah punggung, terasa longgar bila jarum
digerak-gerakkan, berarti suntikan sudah benar. Pengawasan lingkungan.
Semua jenis hewan percobaan harus ditempatkan dalam lingkungan yang stabil dan
sesuai dengan keperluan fisiologis, termasuk memperhatikan suhu, kelembaban dan
kecepatan pertukaran udara yang ekstrim harus dihindari. Kebanyakan hewan coba
tidak dapat berkembangbiak dengan baik pada kamar lebih tinggi dari suhu 300 C.
Mencit, tikus dan marmut maksimum perkembangbiakannya pada suhu 300 C,
kelinci pada suhu 250 C
(Malole, 1989).

IV.

ALAT BAHAN
Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bak penyimpanan hewan percobaaan


Kapas
Ram kawat
Restrainer
Sonde
Syringe
Timbangan mencit dan tikus

Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Alkohol
Diazepam
Mencit
Nacl Fisiologis
Tikus

Gambar alat

Bak penyimpaanan hewan


kawat

Restrainer
Syringe

Kapas

Ram

Sonde

Timbangan untuk hewan uji

V.

PROSEDUR
Perhitungan dosis hewan
Hewan uji disiapkan lalu masing masing ditimbang bobot badannya dengan
menggunakan timbangan , kemudian dihitung dosis yang akan digunakan
1. Rute pemberian obat melalui oral pada mencit
Mencit disiapkan. Disiapkan sonde yang telah berisi diazepam dengan dosis
yang telah ditentukan. Ekor dipegang menggunakan tangan kiri. Kulit
tengkuk dijepit dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri. Hewan
diarahkan menghadap praktikan. Sonde dimasukan ke dalam mulut lalu
perlahan lahan dimasukan menuju langit langit sampai esophagus. Obat

mulai dialirkan dari sonde. Diamati perubahan yang terjadi dan dicatat waktu
onset dan duration of effect.
2. Rute pemberian obat melalui intravena pada mencit
Mencit disiapkan, kemudian dimasukan ke dalam restrainer. Disiapkan
syiringe yang telah diisi dengan diazepam. Ekor diolesi dengan kapas yang
telah berisi alkohol. Disuntikan syiringe pada vena yang terdapat pada ekor
lalu syiringe ditekan agar obat masuk ke dalam pembuluh darah.Diamati
perubahan yang terjadi dan dicatat waktu onset dan duration of effect.
3. Rute pemberian obat melalui intraperitoneal pada
Mencit disiapkan. Disiapkan syiringe yang telah berisi diazepam dengan
dosis yang telah ditentukan. Ekor dipegang menggunakan tangan kiri. Kulit
tengkuk dijepit dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri. Hewan
diarahkan menghadap praktikan. Posisi kepala dibuat lebih rendah dari
abdomennya. Syiringe disuntikan 100dari abdomen. Diusahakan jangan
terlalu menepi dan syiringe tidak terlalu tinggi. Diamati perubahan yang
terjadi dan dicatat waktu onset dan duration of effect.
4. Rute pemberian oral pada tikus
Tikus disiapkan. Disiapkan sonde yang telah berisi NaCl fisiologis dengan
dosis yang telah ditentukan. Ekor tikus dipegang menggunakan tangan kiri.
Kulit tengkuk dijepit dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri. Hewan
diarahkan menghadap praktikan. Sonde dimasukan ke dalam mulut lalu
perlahan lahan dimasukan menuju langit langit sampai esophagus. NaCl
fisiologis mulai dialirkan dari sonde.
5. Rute pemberian intravena pada tikus
Tikus disiapkan. Kemudian dimasukan ke dalam restrainer. Disiapkan
syiringe yang telah diisi dengan NaCl fisiologis. Ekor tikus diolesi dengan
kapas yang telah berisi alkohol. Disuntikan syiringe pada vena yang terdapat
pada ekor
6. Rute pemberian intraperitoneal pada tikus
Tikus disiapkan dan disiapkan syiringe yang telah berisi NaCl fisiologis.
Ekor tikus dipegang menggunakan tangan kiri. Kulit tengkuk dijepit dengan
menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri. Hewan diarahkan menghadap
praktikan. Posisi kepala dibuat lebih rendah dari abdomennya. Syiringe
disuntikan 100dari abdomen. Diusahakan jangan terlalu menepi dan syiringe
tidak terlalu tinggi.
7. Rute pemberian subkutan pada tikus
Tikus disiapkan, dan disiapkan syiringe yang telah berisi NaCl fisiologis.
Kulit tengkuk dijepit dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari. Syiringe
disuntikan pada kulit bagian tengkuk.
8. Rute pemberian intramuskular pada tikus.

Tikus disiapkan, dan disiapkan syiringe yang telah berisi NaCl fisiologis.
Ekor tikus dipegang menggunakan tangan kiri. Kulit tengkuk dijepit dengan
menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri. Hewan diarahkan menghadap
praktikan. Syiringe disuntikan pada paha bagian posterior.

VI.

HASIL PENGAMATAN
Data Pengamatan
1. Bobotbadanhewan
Hewan

Bobotbadan (g)

Tikus

137,5 g

Mencit 1

25,2 g

Mencit 2

34 g

Mencit 3

30,2 g

2. Rutepemberianobat
Hewan

Tikus

Mencit
1

Mencit
2

Mencit
3

Pemberian
Obat

Po

Foto

Iv

Ip

Sc

Im

3. Waktu onset

Waktu onset
Perhitungan
Mencit 1 =

Mencit 2 =

Mencit 1

Mencit 2

Mencit 3

6 menit

5 menit

3,5 menit

Mencit 3 =

0,25 = 0,375

Tikus =

VII.

PEMBAHASAN

Pada praktikum penanganan hewan percobaan ini bertujuan untuk


mengetahui dan mampu menangani hewan untuk percobaan farmakologi
secara baik, mengetahui sifat-sifat hewan percobaan dan faktor-faktor
yang mempengaruhi responnya, serta mengenal teknik-teknik pemberian
obat melalui berbagai rute pemberian serta pengaruhnya terhadap efek
yang ditimbulkan. Ketepatan cara pemberian obat bisa menjadi faktor
penentu keberhasilan suatu pengobatan, karena cepat lambatnya obat
sampai ditempat kerjanya atau site of action sangat tergantung pada cara
pemberian obat. Cara pemberian obat melalui oral, sublingual), rektal dan
parenteral, seperti melalui intradermal, intramuskular, subkutan, dan
intraperitonial, melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-beda.
Kecepatan

absorbsi

masing-masing

cara

pemberian

dapat

menunjukan keefektifan berbeda pada obat tersebut. Absorbsi merupakan


pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat tertentu
pada organ ke dalam aliran darah.Absorbsi obat yang diberikan secara oral
dapat berlangsung didalam mulut, lambung ataupun usus.Absorbsi dapat
berlangsung dimulut melalui mukosa mulut, jika obat diberikan secara
sublingual (dibawah lidah) atau secara bukal (antara mukosa pipi dan
gusi).Cara ini dapat menguntungkan karena mencegah perusakan obat oleh
asam lambung. Disamping itu,obat dari lambung akan dibawa ke hati
melalui vena porta sehingga dapat dimetabolisme oleh hati. Hal ini harus
diperhitungkan agar jangan sampai salah hitung pada pemberian dosis.Jika
dikehendaki bahan aktif obat tidak dirusak oleh asam lambung, maka
sediaan obat (tablet) dapat dibuat agar tidak mengalami desintegrasi atau

pecah didalam lambung tapi baru pecah didalam usus. Dengan cara
melapisi bahan obat dengan bahan yang tahan asam. Jika absorbsi terjadi
di usus, obat dapat mengalami metabolisme oleh hati pada saat pertama
kali melintasi hati (first pass metabolism). Pemberian obat per oral
merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif mudah
dan praktis serta murah.Kerugiannya ialah banyak faktor dapat
mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi
dalam absorpsi di saluran cerna). Karena ada obat-obat yang tidak semua
yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik.
Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan atau di hati
pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau
eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat dihindari
atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau
memberikannya bersama makanan. Selain itu, kerugian pemberian melalui
oral yang lain adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran cerna, dan
perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien
koma.
Pemberian dengan cara intravena paling cepat responnya karena
tidak mengalami tahap absorbsi
karena langsung masuk ke dalam
vena

dan

dapat

langsung

bereaksi dengan darah, maka


kadar

obat

dalam

darah

diperoleh secara cepat dan dapat


disesuaikan

langsung

dengan

respon penderita. Tetapi cara intravena juga memiliki kerugiannya yaitu


efek toksik mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera mencapai
darah dan jaringan, disamping itu obat yang disuntikkan secara intravena
tidak dapat ditarik kembali. Sedangkan obat dalam larutan minyak yang
mengendapkan konstituen darah dan menyebabkan hemolisis tidak boleh
diberikan dengan cara intravena.

Cara penyuntikan secara subcutan


hanya boleh digunakan untuk
obat

yang tidak menyebabkan iritasi


jaringan.Subkutan
disuntikkan
melalui

(s.c)

kedalam

bagian

yaitu
tubuh

yang

sedikit

lemaknya dan masuk ke dalam


jaringan di bawah kulit.Absorbsi biasanya terjadi lambat dan konstan
tetapi efeknya bertahan lama. Biasanya obat-obat dilakukan dengan
pencampuran obat dengan vasokontriktor juga akan memperlambat
absorbsi obat tersebut. Subcutan memiliki keuntungan yaitu obat dapat
diberikan dalam kondisi sadar atau tidak sadar, sedangkan kerugiannya
dalam pemberian obat perlu prosedur steril, sakit, dapat terjadi iritasi lokal
ditempat injeksi.
Intraperitonel

(I.P)

tidak

dilakukan

pada

manusia

karena

bahaya.Disini obat langsung


masuk ke pembuluh darah
sehingga

efek

yang

dihasilkan

lebih

cepat

dibandingkan intramuscular
dan subkutan karena obat di
metabolisme
sehingga

serempak

durasinya

agak

cepat.
Percobaan menggunakan hewan percobaan merupakan suatu
pengujian uji praklinik, yang termasuk salah satu tahap penelitian yang
terjadi sebelum uji klinik atau pengujian pada manusia.Uji praklinik
memiliki satu tujuan utama yaitu mengevaluasi keselamatan produk
baru.Informasi yang diperoleh dengan menafsirkan data dalam uji
praklinik sangat bermanfaat untuk mendeteksi untuk mencegah produk
berbahaya dan beracun agar tidak memasuki lingkungan dan masyarakat.

Melalui penelitian ini, peneliti dapat mempercepat penemuan obat dan


meringkas proses pengembangan obat.
Kebanyakan uji praklinik melibatkan penggunaan hewan.Binatang
seperti tikus, ayam, monyet, dan kelinci percobaan (guinea pig) biasanya
digunakan dalam uji praklinik.Para peneliti menguji produk pada hewan
dan kemudian mengamati efeknya pada kesehatan hewan. Produk hanya
lulus uji praklinik jika tidak memengaruhi hewan dengan cara yang
berbahaya. Pengujian pada manusia hanya disetujui jika produk tidak
memiliki efek berbahaya yang teramati pada hewan.
Hewan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu mencit dan tikus.
Tikus digunakan sebagai hewan percobaan karena hewan pengerat ini
berukuran kecil, mudah disimpan dan dipelihara, dapat beradaptasi baik
dengan lingkungan baru, cepat berkembang biak (tikus merupakan hewan
yang cukup cepat dalam berkembang biak dan berumur pendek sehingga
generasi tikus selanjutnya dapat di amati).

Karakteristik biologi dan

perilakunya juga sangat mirip manusia, dan banyak gejala kondisi manusia
yang dapat direplikasi pada tikus. Sedangkan mencit digunakan sebagai
hewan coba karena mencit memiliki kesamaan secara fisiologis dengan
hewan lainnya terutama hewan mamalia sehingga sangat cocok untuk
digunakan sebagai hewan penelitian. Keunggulan lainnya antara lain
mudah dalam penanganan, pengadaan hewan ini tidak sulit, pola
reproduksinya yang singkat, bersifat penakut, fotofobik (takut terhadap
cahaya). Selain itu, mencit memiliki keunggulan-keunggulan seperti siklus
hidup relatif pendek, jumlah anak per kelahiran banyak, variasi sifatsifatnya tinggi, serta sifat produksi dan karakteristik reproduksinya mirip
hewan lain, seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Selain itu, tikus dan
mencit digunakan untuk hewan percobaan karena harganya relatif murah
dan dapat dibeli dalam jumlah besar dari produsen komersial yang
mengembang biakkan pengerat khusus untuk penelitian.
Mencit yang digunakan adalah mencit putih yang merupakan strain
albino yang mempunyai bulu putih. Mencit merupakan hewan yang paling
banyak digunakan sebagai hewan model laboratorium dengan kisaran

penggunaan antara 40-80%. Mencit dapat hidup mencapai umur 1-3 tahun
tetapi terdapat perbedaan usia dari berbagai galur terutama berdasarkan
kepekaan terhadap lingkungan dan penyakit. Reproduksi mencit yang
tergolong cepat menjadikan hewan ini menjadi mudah ditemukan dan juga
dikembangbiakan. Oleh karena itulah mencit sering sekali menjadi hewan
percobaan oleh para peneliti atau ahli biologi.
Prosedur pertama yang dilakukan

oleh

praktikan

adalah

menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum ini.
Mencit yang digunakan berjumlah 3 ekor dimana 2 ekor jantan dan 1 ekor
betina serta 1 ekor tikus. Obat atau cairan yang digunakan adalah
diazepam dan NaCl fisiologis. Digunakan diazepam sebagai obat yang
diharapkan memiliki efek terhadap hewan percobaan. Sedangkan
penggunaan NaCl fisiologis disini karena setelah pemberian diazepam
selesai dilakukan, diharapkan pemberian selanjutnya tidak memberikan
efek apapun yang diberikan pada mencit. NaCl tidak memberikan efek
karena NaCl fisiologis memiliki kandungan dan sifat larutan yang
merupakan bahan yang juga terkandung dalam tubuh mencit, dengan
begitu tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mencit
yang diuji coba. Pada percobaan ini, Praktikan hanya mempelajari
bagaimana cara menangani hewan untuk percobaan farmakologi secara
baik dan mengenal teknik-teknik pemberian obat yaitu diantaranya cara
menyuntikkan hewan percobaan melalui intravena, intraperitonial,
subkutan, dan peroral. Volume obat atau cairan yang diberikan pada hewan
harus diperhatikan. Untuk diazepam, dosis yang diberikan jangan melebihi
dosis yang telah diperhitungkan berdasar berat badan hewan. Bahan yang
digunakan adalah diazepam dan NaCl fisiologis sebagai cairan yang akan
disuntikkan, alkohol sebagai antiseptik dan kapas sebagai media
mengusapkan alkohol pada tempat injeksi. Alkohol dapat memberikan
efek menyejukan yang dapat mengurangi rasa sakit dari suntikan yang
diberikan. Alkohol juga dapat mensterilkan daerah injeksi dari kumankuman sehingga tidak masuk ke tubuh ketika penyuntikan dilakukan. Alat

yang digunakan adalah jarum suntik, sonde, dan restainer. Jarum suntik
yang digunakan haruslah yang masih baru sehingga sifatnya masih steril
untuk mencegah masuknya kuman penyebab infeksi ketika penyuntikan
dilakukan. Sonde atau nama lainnya kanula untuk mempermudah
pemasukan cairan ke dalam kerongkongan hewan. Sedangkan restainer
dibutuhkan untuk menahan tikus untuk mempermudah injeksi pada ekor
dengan cara menahan ekornya di luar restainer. Sebelum hewan
diujicobakan, hewan ditimbang untuk menentukan volume pemberian
obat.
Langkah berikutnya setelah semua alat dan bahan disiapkan adalah
praktikan mengambil mencit dan tikus dari kandang

yang telah

disediakan. Penanganan hewan percobaan harus dilakukan secara cermat


dan hati-hati. Cara mengambil dan memegangnya pun harus diperhatikan,
karena jika kurang benar hewan uji akan merasa tidak nyaman sehingga
memberontak dan dapat menggigit jari atau tangan praktikan yang
bersangkutan. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan
berbeda-beda ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil)
serta tujuannya. Kesalahan dalam cara perlakuan akan dapat menyebabkan
kecelakaan atau rasa sakit bagi hewan (sehingga menyulitkan dalam
melakukan

penyuntikan)

dan

juga

bagi

praktikan

yang

memegangnya. Untuk menenangkan mencit atau tikus percobaan, dapat


dilakukan dengan cara mengelus-elus badan mencit atau tikus sehingga
mencit atau tikus menjadi lebih mudah dikontrol dalam penyuntikan.
Cara perlakuannya yaitu pertama, mencit diangkat ujung ekornya
(namun jangan terlalu ujung untuk mencegah terlepasnya kembali mencit)
dengan tangan kanan, sedangkan tikus diangkat ekornya pada bagian
pangkal, lalu letakkan mencit atau tikus pada suatu tempat yang
permukaannya tidak licin misalnya kasa, ram kawat, sehingga jika ditarik
mencit akan mencengkram. Permukaan yang digunakan dalam percobaan
ini adalah ram kawat. Lalu jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri menjepit
kulit tengkuk sedangkan ekornya masih dipegang dengan tangan kanan.
Kemudian posisi tubuh mencit dibalikkan sehingga perut menghadap

praktikan dan ekor dijepitkan antara jari manis dan kelingking tangan kiri.
Setelah posisi mencit telah steady (kukuh/stabil) maka praktikan dapat
mulai memberikan cairan pada mencit atau tikus secara oral,
intraperitonial, intravena, maupun intramuskular.
Rute pemberian obat pertama diberikan secara peroral.Melalui rute
ini, digunakan alat suntik yang dilengkapi dengan sonde oral (kanula).
Kanula ditempelkan pada langit-langit atas mulut mencit, kemudian
masukkan pelan-pelan sampai ke esophagus/kerongkongan. Pemberian
lewat langit-langit dan dimasukkan langsung ke kekerongkongan
bertujuan agar cairan dapat langsung tertelan tanpa keluar lagi sehingga
mengurangi volume cairan yang seharusnya masuk.
Pemberian selanjutnya yaitu secara intraperitonial. Pemberian obat
secara peritoneal ini dilakukan dengan cara mencit atau tikus dipegang
dengan cara telunjuk dan ibu jari kiri menjepit kulit tengkuk sedangkan
ekornya dipegang dengan tangan kanan, lalu posisi tubuh mencit
dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap praktikan dan ekornya
dijepit diantara jari manis dan kelingking kiri. Kepala diposisikan agak
dibawah abdomen. Jarum disuntikkan dengan sudut 10o dari abdomen,
agak menepi dari garis tengah pada perut. Hal ini dilakukan untuk
mencegah terkenannya kandung kemih dan tidak terlalu tinggi agar tidak
mengenai hati.
Berikutnya, pada pemberian obat secara intravena diberikan
melalui vena ekor dengan jarum suntik no.24. Sebelum disuntikkan ke
vena ekor, ekor mencit terlebih dahulu diberi alkohol. Pemberian alkohol
ini bertujuan untuk melebarkan pembuluh darah sehingga lebih terlihat
dan jarum suntik mudah masuk ke dalam vena. Selain itu fungsi alcohol
ini adalah sebagai desinfektan sebelum jarum disuntikkan, untuk
membasmi kuman yang berada di sekitar area penyuntikkan. Penyuntikkan
yang dilakukan melalui ekor vena pada percobaan ini menyebabkan ekor
mencit menjadi berwarna putih dan membesar di daerah injeksi.
Pemberian yang benar apabila pada saat penyuntikan tidak menyebabkan
ekor menjadi putih dan membesar di daerah injeksi. Kesalahan dalam

pemberian rute obat secara intravena ini ditandai dengan keluarnya cairan
obat ketika di injeksikan pada ekor mencit. Hal ini terjadi karena cairan
obat tidak masuk ke dalam pembuluh darah.
Pada saat pengambilan cairan ke dalam jarum suntik sangat
dianjurkan untuk memperhatikan ada atau tidaknya gelembung udara pada
alat suntik. Bila terdapat gelembung di dalam alat suntik, dapat
dihilangkan dengan cara sentil tabung suntik dengan jari hingga
gelembung naik ke atas (jarum). Setelah udara sudah naik semua, buang
udara itu dengan sedikit mendorong gagang suntik (otomatis sedikit cairan
obat juga ikut terbuang). Hal ini penting untuk dilakukan karena bila
terdapat gelembung pada alat suntik yang akan digunakan dan suntikkan
tetap dilanjutkan, obat dapat menyebabkan udara tersebut masuk ke
pembuluh udara dan terus menuju jantung dan akibat terburuknya dapat
menyebabkan kematian.
Untuk pemberian diazepam hanya dilakukan pada mencit, yaitu
secara peroral, intraperitonial, dan intravena. Sedangkan untuk pemberian
NaCl fisiologis dilakukan terhadap tikus secara peroral, intraperitonial,
intravena dan intramuskular. Untuk pemberian secara intramuscular, cairan
dimasukkan pada otot paha posterios atau pangkal paha.
Masing masing rute pemberian obat dilakukan terhadap ketiga
mencit. Sonde yang dimasukkan kedalam mulut mencit berada di saluran
pernapasan. Sehingga saat cairan dimasukkan melalui sonde akan masuk
ke paru-paru dan memenuhi isi paru-paru. Hal ini menyebabkan tikus
kejang-kejang, tidak bernapas, kemudian mati. Hal ini juga yang menjadi
salah satu alasan mengapa percobaan peroral ini dilakukan terakhir karena
rentan menyebabkan kematian pada mencit karena cairan yang
dimasukkan melalui mulut tidak masuk ke esophagus dengan benar.
Efek yang ditimbulkan oleh diazepam secara umum adalah
penenang. Diazepam digunakan untuk pengelolaan gangguan kecemasan
atau untuk bantuan jangka pendek gejala kecemasan. Diazepam juga dapat
digunakan untuk meringankan agitasi, kegoyahan, dan halusinasi pada saat
penarikan alkohol dan meringankan beberapa jenis kejang otot. Hal ini

juga dapat digunakan untuk mengobati kejang dan insomnia. Tindakan


farmakologi dari diazepam meningkatkan efek neurotransmitter GABA
dengan mengikat ke situs benzodiazepine pada reseptor GABA A
mengarah ke sistem saraf pusat depresi. Diazepam juga telah digunakan
sebagai obat rekreasi. Pada mencit pertama yang diberikan diazepam
dengan cara peroral, memiliki berat badan 25,2 g sehingga volume
diazepam yang diberikan 0,315 mL. Dalam waktu 6 menit setelah
pemberian, mencit yang awalnya bergerak aktif menjadi lemas dan tidak
banyak bergerak. Pada pemberian obat dengan oral yang menggunakan
sonde merupakan reaksi yang paling lama diantara cara pemberian yang
lainnya karena terdapat absorbsi di saluran pencernaan dan terdapat
metabolisme lintas pertama di hepar. Mencit kedua memiliki berat badan
34 g sehingga volume diazepam yang diberikan 0,425 mL, diberikan
melalui rute intraperitonial. Rute ini efisien dan memiliki bioavabilitas
yang sama dengan intravena tetapi lebih mudah dilakukan dibandingkan
dengan intravena, khususnya terhadap mencit. Sedangkan dibandingkan
dengan cara oral, biovabilitas secara intraperitoneal lebih besar.Waktu
yang dibutuhkan mencit untuk mulai tenang yaitu pada menit ke 5 setelah
pemberian diazepam. Pada intraperitoneal banyak terdapat pembuluh
darah sehingga obat dapat langsung masuk ke dalam pembuluh darah
sehingga efek yang dihasilkan juga lumayan cepat tetapi, tidak secepat
pada injeksi intravena. Sedangkan mencit ketiga memiliki berat badan
30,2 g, volume diazepam yang dibutuhkan adalah 0,3775 mL diberikan
melalui intravena. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek lebih
cepat disbanding dua prosedurnya yaitu 3 menit 30 detik setelah
pemberian. Pada percobaan pemberian diazepam melalui injeksi intravena
menunjukkan pengaruh yang paling cepat dibandingkan cara pemberian
lain karena penyerapannya langsung ke sirkulasi sistemik dan memiliki
bioavaibilitas paling tinggi. Injeksi intravena tidak mengalami tahap
absorbsi.

Faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi

kondisi

mencit

diantaranya adalah kebisingan suara di dalam laboratorium dan frekuensi


perlakuan terhadap mencit tersebut. Dalam menangani mencit, semua
kondisi yang menjadi faktor internal dan eksternal dalam penanganan
hewan percobaan harus optimal, untuk menjaga kondisi mencit tersebut
tetap dalam keadaan normal. Apabila kondisinya terganggu, maka mencit
tersebut akan mengalami stress. Kondisi stress yang terjadi pada mencit
akan mempengaruhi hasil percobaan yang dilakukan. Hasil yang tidak
sesuai dari percobaan (misalnya waktu efek peroral lebih cepat dari
intravena) dapat disebabkan oleh diantaranya tidak masuknya semua obat
ke dalam tubuh sehingga efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan dosis
sebenarnya, perlakuan kasar yang diberikan oleh praktikan kepada hewan
uji, dan kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan hewan uji.

VIII.

SIMPULAN
1. Penanganan pada hewan percobaan farmakologi telah dapat dikuasai dengan
baik dengan menggunakan hewan coba mencit dan tikus
2. Teknik pemberian obat yang dilakukan adalah secara oral, intravena, dan
intraperitonial. Dilakukan dengan pemberian dosis sesuai bobot masing-masing
hewan coba.
3. Faktor yang mempengaruhi respon dari hewan uji antara lain usia, bobot dan
status kesehatan
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Malole, M.M.B, Pramono. 1989. PenggunaanHewan Hewan Percobaan Laboratorium.
Bogor : IPB. DitJen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi.

Ridwan, E. 2013. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan J


Indon

Med

Assoc.

Volume:

63,

Nomor:

3.

Tersedia

http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/1237/1210.
[Diakses tanggal 13 Maret 2015].
Sulaksono, M.E., 1986. KEADAAN DAN MASALAH HEWAN PERCOBAAN DI
INDONESIA.

Tersedia online di http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=71041&val=4882 [Diakses tanggal 13 Maret 2015].


Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan EfekEfek Sampingnya Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia.

Nilai : 75
Masih banyak yang belum rapi, banyak hal yang belum dijelasin secara keseluruhan.
Gimana efek obat terhadap mencit betina (hormon dsb). Kenapa ini itunya terjadi, sesuai
apa belum. Terlalu banyak teori di dalam pembahasan.