Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN
Identitas :
o
o
o
o
o
o

Nama
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Masuk RS
No. RM

:
:
:
:
:
:

An. A
Laki-laki
14 tahun
Cianjur
23 Desember 2012
6975xx

Anamnesis :
o Keluhan Utama :
Nyeri perut kanan bawah sejak 3 minggu SMRS
o Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 3 minggu SMRS. Keluhan
dirasakan hilang timbul. Nyeri bertambah berat jika pasien berjalan. Keluhan nyeri
perut kanan bawah dirasakan tidak menjalar. Keluhan disertai dengan demam sejak 3
minggu SMRS. Demam dirasakan terus menerus, tidak disertai dengan menggigil.
Keluhan juga disertai dengan mual dan muntah sejak 1 minggu SMRS. Muntah > 3 x
sehari, berisi makanan. Keluhan juga disertai dengan pusing serta nafsu makan yang
menurun. Pasien juga mengeluh BAB sulit yaitu 3 4 hari sekali. BAB keras. BAK
normal.
o Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini. Riwayat operasi
sebelumnya disangkal. Riwayat TB Paru disangkal.
o Riwayat Penyakit Keluarga :
Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti ini.
o Riwayat Pengobatan :

Pasien sudah pernah berobat sebelumnya 3 x ke dokter tetapi keluhan tidak


berkurang. Ibu pasien lupa nama obat yang teah diberikan kepada pasien.
o Riwayat Alergi :
Riwayat Alergi obat maupun makanan disangkal oleh orang tua OS.

Pemeriksaan Fisik :
KU
Kesadaran
Tekanan darah
HR
Pernapasan
Suhu
Status generalis
Kepala
Mata
Hidung
Mulut
Leher
Thorax
Pulmo

Cor

: Sakit sedang
: Compos mentis
: 100/70 mmHg
: 80x/menit
: 18x/menit
: 36,50C
: Normocephal, rambut hitam
: Konjungtiva anemis -/-, Sclera ikterik -/: Deviasi septum nasi -/-, sekret (-), epistaksis (-)
: mukosa bibir lembab
: Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
: Inspeksi : simetris, barrel chest (-), retraksi ICS (+)
Palpasi : vocal fremitus ka = ki, ICS lebar (+)
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : vesicular +/+, wheezing +/+, ronki +/+
: Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS VI linea maxillaris anterior sinistra
Perkusi : batas jantung kanan pada ICS II linea parasternalis dextra
batas jantung kiri atas pada ICS II linea parasternalis sinistra
batas kiri bawah ICS V linea midclavicula sinistra
Auskultasi : BJ I,II reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen :
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi
: nyeri tekan dan lepas RLQ (+), hepatomegali (-), splenomegali (-)
Perkusi : timpani
Ekstremitas :
atas : hangat +/+, CRT < 2 detik +/+
bawah : hangat +/+, CRT < 2 detik +/+

Status Lokalis
a/r abdomen

inspeksi : abdomen datar, tidak cembung, asites (-), luka bekas jahitan (-)
auskultasi : bising usus (+) normal

palpasi : supel, nyeri tekan dan nyeri lepas RLQ (+), massa (+) permukaan rata,
mobile, berbatas tegas dengan ukuran + 3x2 cm , rovsing sign (-), psoas sign (-),

obturator sign (-).


Perkusi : timpani seluruh kuadran abdomen

Resume :
Berdasarkan anamnesa :
An.A mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 3 minggu SMRS yang dirasakan
hilang timbul, bertambah berat jika pasien berjalan. Keluhan disertai dengan demam sejak 3
minggu SMRS serta mual dan muntah sejak 1 minggu SMRS. Muntah > 3 x sehari. Keluhan
juga disertai dengan pusing serta nafsu makan yang menurun. Pasien juga mengeluh BAB
sulit yaitu 3 4 hari sekali. BAB keras. BAK normal.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan umum : tampak sakit sedang, Kesadaran GCS = 15, TD = 100/70 mmHg, Nadi =
80 x/menit, RR = 18 x/menit, suhu = 36,5 o C. Status generalis dalam batas normal. Status
lokalis a/r abdomen inspeksi : datar. Auskultasi : BU (+) normal. Palpasi abdomen supel,
nyeri tekan dan nyeri lepas di RLQ (+),massa (+) permukaan rata, mobile, berbatas tegas
dengan ukuran + 5x2 cm , rovsing sign (-), psoas sign (-), obturator sign (-).

Pemeriksaan Penunjang :
Hasil Laboratorium ( 24 Desember 2012 )
Pemeriksaan
WBC
HGB
HT
PLT

Hasil
11.2
13.7
42.1
397

USG Abdomen ( 24 Desember 2012 )

Satuan
10 /uL
g/dL
%
103/uL
3

Nilai Normal
4 10 x 103
11.5 14.5
32.0 42.0
150 450 x 103

Ginjal : kedua ginjal tidak membesar, sistem pelvokalikses tidak melebar, tidak tampak
bati, tidak tampak massa.

Mc.burney : tampak bayangan tubuler dengan target sign, tidak tampak bayangan bebas
gema di sekitar caecum.

VU : tidak membesar, dinding tidak menebal, tidak tampak batu, tidak tampak massa

Kesan : susp. App akut, tidak tampak nefrolitiasis atau vesikolitiasis

Hasil Laboratorium ( 28 Desember 2012 )


Pemeriksaan
WBC
HGB
HT
PLT

Hasil
16.3
12.9
37.2
303

Diagnosa : appendicis infiltrate


Rencana Penatalaksanaan :

Infus NaCl 0,9% 20 tpm

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Rantidin 2 x 1 amp

Appendectomy

Satuan
10 /uL
g/dL
%
103/uL
3

Nilai Normal
4 10 x 103
11.5 14.5
32.0 42.0
150 450 x 103

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi
Appendiks vermiformis adalah organ sempit berbentuk tabung yang mempunyai otot
dan mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang appendix vermiformis bervariasi dari 3-5
inci (8-13 cm). Dasarnya melekat pada permukaan posteromedial caecum, sekitar 1 inci (2,5
cm) di bawah junctura ileocaecalis. Bagian appendiks vermiformis lainnya bebas. Appendix

vermiformis diliputi seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah
mesenterium intestinum tenue melalui mesenteriumnya yang pendek, mesoappendiks.
Mesoappendiks berisi arteria, vena appendicularis dan saraf-saraf.

Appendiks vermiformis terletak di regio iliaca dextra, dan pangkal diproyeksikan ke


dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca
anterior superior dan umbilicus (titik Mc Burney). Di dalam abdomen, dasar appendiks
vermiformis mudah ditemukan dengan mencari taeniae coli caecum dan mengikutinya
sampai dasar appendiks vermiformis, tempat taeniae coli bersatu membentuk tunica
muscularis longitudinal yang lengkap.

Ujung appendix vermiformis mudah bergerak dan mungkin ditemukan pada tempattempat berikut ini: (1) tergantung kebawah ke dalam pelvis berhadapan dengan dinding pelvis
dextra; (2) melengkung di belakang caecum; (3) menonjol ke atas sepanjang pinggir lateral
caecum, dan (4) di depan atau di belakang pars terminalis ileum. Posisi pertama dan kedua
merupakan posisi yang sering ditemukan.

Vaskularisasi
Arteriae. Arteri appendicularis merupakan cabang arteria caecalis posterior. Arteria ini
berjalan menuju ujung appendiks vermiformis di dalam meso-appendiks.
Venae. Vena appendicularis mengalirkan darahnya ke vena caecalis posterior.
Aliran limfe
Pembuluh limfe mengalirkan cairan limfe ke satu atau dua nodi yang terletak di dalam
mesoappendix dan dari sini dialirkan ke nodi mesenterici superior.
Persarafan
Saraf-saraf berasal dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus)
dari plexus mesentericus superior yang mengikuti a.mesentrika superior dan a.apendikularis.
Serabut saraf aferen yang menghantarkan rasa nyeri visceral dari appendix vermiformis
berjalan bersama saraf simpatis dan masuk ke medulla spinalis setinggi vertebra thoracalis X.

Histologi
Struktur histologi dari apendiks serupa dengan usus besar , terdiri dari empat lapisan
yakni mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler), dan
serosa. Mukosa apendiks terdiri dari selapis epitel di permukaan. Pada epitel ini terdapat selsel absorbtif, sel-sel goblet, sel-sel neuro endokrin, dan beberapa sel paneth. Lamina propia
dari mukosa adalah lapisan seluler dengan banyak komponen sel-sel migratory, dan agregasi
limfoid. Berbeda dengan di usus besar dimana limfoid folikel tersebar, pada apendiks folikel
limfoid ini sangat banyak dijumpai terutama pada apendiks individu berusia muda.
Seringkali, folikel limfoid ini mengubah kontur lumen dari apendiks. Lapisan terluar dari

mukosa adalah muskularis mukosa, yang merupakan lapisan fibromuskuler yang kurang
berkembang pada apendiks.
Lapisan submukosa memisahkan mukosa dengan muskularis eksterna. Lapisan ini
tersusun longgar oleh jaringan serat kolagen dan elastin, serta fibroblast. Lapisan submukosa
juga dapat mengandung sel-sel migratori seperti makrofag, sel-sel limfoid, sel-sel plasma
serta sel mast. Pembuluh darah dan limfe merupakan komponen yang dominan pada lapisan
ini. Pembuluh limfatik terdapat jelas di bawah dasar dari folikel limfoid. Di lapisan ini juga
terdapat struktur neural berupa pleksus Meissner. Pleksus saraf in terdiri dari ganglia, sel-sel
ganglion, kumpulan neuron dengan prosesusnya, dan sel Schwann yang saling
berinterkoneksi membentuk jaringan saraf di lapisan submukosa.
Lapisan otot polos yang tebal berada diantara submukosa dan serosa , merupakan
lapisan muskularis eksterna dari apendiks. Lapisan ini terpisah menjadi 2 bagian, yakni
lapisan sirkular di dalam dan lapisan longitudinal di sebelah luar. Pada lapisan ini sering
terlihat degenerasi granular sitoplasmik eosinofilik terutama pada lapisan sirkular. Di antara
dua lapisan otot ini terdapat pleksus mienterik atau pleksus Auerbach, yang serupa secara
morfologi dan fungsi dengan pleksus Meissner di lapisan submukosa. Sebagai tambahan,
pembuluh limfatik dan pembuluh darah juga terdapat pada lapisan ini.
Lapisan terluar dari apendiks adalah lapisan serosa, diantara lapisan serosa dan
muskularis eksterna terdapat region subserosal, yang terdiri dari jaringan penyambung
longgar, pembuluh darah, limfe dan saraf. Lapisan serosa sendiri merupakan selapis sel-sel
mesotelial kuboidal, yang terdapat pada lapisan tipis jaringan fibrosa.

Fisiologi

Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang
terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah igA. Imunoglobulin itu sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil sekali jika
dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

APPENDICITIS
Definisi
Appendicitis adalah peradangan di appendix yang terletak di perut kuadran kanan
bawah dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga
umbai cacing.

Epidemiologi
Insiden apendisitis akut di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang.
Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun, diduga disebabkan oleh
meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. Apendisitis dapat
ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan.
Insidens tertinggi pada umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan
perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens laki-laki lebih
tinggi.

Etiologi
Etiologi apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai
faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai
faktor pencetus di samping hyperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks dan cacing
askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan
apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti Entamoeba histolytica.

Penelitian epidemiologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan rendah serat


dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya
apendisitis akut.

Patologi
Patologi apendisitis dapat mulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan
dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh adalah
membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau
adneksa sehingga terbentuk masa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah
infiltrate apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat
mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa
periapendikuler akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri saecara lambat.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan berbentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan di sekitarnya. Perlengketan
ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini
dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai eksaserbasi akut.

Patofisiologi

Apendisitis disebabkan mula-mula oleh sumbatan lumen.


Obstruksi lumen apendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia
jaringan limfoid submukosa. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks
mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa

sumbatan.
Sumbatan lumen apendiks menyebabkan keluhan sakit di sekitar umbilikus dan

epigastrium, nausea dan muntah.


Proses selanjutnya ialah invasi kuman E.coli dan spesibakteroides dari lumen ke
lapisan mukosa, submukosa, lapisan muskularis dan akhirnya ke peritoneum

parietalis sehingga terjadilah peritonitis lokal kanan bawah. Suhu tubuh mulai naik.
Gangren dinding apendiks disebabkan oleh oklusi pembuluh darah dinding apendiks
akibat distensi lumen apendiks. Bila tekanan intralumen terus meningkat terjadi
perforasi dengan ditandai kenaikan suhu tubuh menigkat dan menetap tinggi.

Tahapan peradangan apendisitis:


Apendisitis akuta (sederhana, artinya tanpa perforasi)
Apendisitis akuta perforata (termasuk apendisitis gangrenosa, karena
gangren dinding apendiks sebenarnnya sudah terjadi mikroperforasi).

Gambaran klinis
Apendisitis akut memiliki gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai
cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum
lokal. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri
viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan
kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih
jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri
epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.
Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila
terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau
batuk.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung oleh sekum,
tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal.
Rasa nyeri lebih ke arah sisi perut kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan atau kontraksi
m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala
dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristalsis meningkat, pengosongan
rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke
kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya.
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya hanya sering rewel
dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam
kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi lemah dan letargi. Karena gejala
yang tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi 80-90%
apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.

Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani
pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya pada orang berusia lanjut yang gejalanya
sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah
perforasi.
Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah.
Yang perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan
muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga
keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke region lumbal kanan.

Diagnosa

Anamnesis dan pemeriksaan fisik harus diarahkan untuk mendiagnosis apendisitis dan
mengeklusi diagnosis altrenatif seperti gastroenteritis viral, konstipasi, infeksi saluran kemih,
sindrom hemolitik-uremik, abses psoas, dan penyakit tuboovarian (kehamilan ektopik, kista
ovarium, Pelvic inflamator disease.
Pemeriksaan fisik harus dimulai dengan inspeksi yang meliputi ekspresi pasien dan
keadaan abdomen. Pada auskultasi bising usus normal atau meningkat pada awal apendisitis,
dan bising melemah jika terjadi perforasi.
Demam biasanya ringan. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa
terdapat perbedaan suhu aksilar dan rectal sampai 1C. Pada inspeksi perut tidak ditemukan
gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.
Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada masa atau abses periapendikuler.
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai
nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri
tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah
akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada apendisitis
retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adnaya rasa nyeri.
PEMERIKSAAN

Penekanan
iliaka kiri
melingkar
menuju ilika
kanan

DESKRIPSI
Rovsing's sign begin with Continuous deep
palpation starting from the left iliac fossa upwards
(counterclockwise along the colon) may cause pain
in the right iliac fossa, by pushing bowel contents
towards the ileocaecal valve and thus increasing
pressure around the appendix.

The psoas sign. Pain on passive extension of the


right thigh. Patiens lies on left side. Ecaminer
extends patients right thigh while applying counter
resistence to the right hip ( asterisk )

The obturator sign. Pain on internal rotation of the


flexed thigh. Examiner moves lower leg laterally
while applying resistence to the lateral side pf the
knee ( asterisk ) resulting in internal rotation of the
femur.

Increased pain
in the right
lower quadrant
with coughing

Increased pain in the right lower quadrant with


coughing

2/3 dari ASIS ke Umbilikus

Peristalsis colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari
telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan laboratorium pada pasien yang
dicurigai apendisitis biasanya meliputi hitung jenis sel darah lengkap dan urinalisis. Peran
utama pemeriksaan laboratorium ini adalah untuk mengekslusi diagnosis alternatif seperti
infeksi saluran kemih. Leukositosis moderat biasanya sering terjadi pada pasien (75%)
dengan apendisitis dengan jumlah leukosit bekisar antara 10.000 18.000 sel /mL dengan
pergeseran ke kiri dan didominasi oleh sel polimorfonuklear. Sekalipun demikian, tidak
adanya leukositosis tidak menutup kemungkinan terhadap apendisitis akut. Pada urinalisis
terdapat peningkatan berat jenis urin, terkadang ditemukan hematuria, piuria, dan
albuminuria. Obat-obatan seperti antibiotik dan steroid dapat mempengaruhi hasil
laboratorium.
Pada pemeriksaan radiologi, foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 97 %),

terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah
dengan pemeriksaan CT scan (93 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran
apendiks.
Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah
nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan psoas dan uji obturator
merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas
dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang
menempel di m. psoas, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan
untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. obturator internus yang
merupakan dinding panggul pada posisi terlentang akan meimbulkan nyeri pada apendisitis
pelvika.
Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen dilakukan apabila dari hasil pemeriksaan riwayat sakit dan
pemeriksaan fisik meragukan. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran
perselubungan, mungkin terlihat ileal ataupun caecal ileus (gambaran garis permukaan
cairan-udara di sekum atau ileum). Patognomonik bila terlihat gambaran fekilit.
Foto polos pada apendisitis perforasi:
o
o
o
o
o

Gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat terbatas di kuadran kanan bawah
Penebalan dinding usus di sekitar letak apendiks, seperti sekum dan ileum.
Garis lemak pra peritoneal menghilang;
Skoliosis ke kanan;
Tanda-tanda obstruksi usus seperti garis-garis permukaan cairan akibat paralisis
usus-usus lokal di daerah infeksi.

Gambaran tersebut di atas seperti gambaran pertonitis pada umumnya, artinya dapat
disebabkan oleh bermacam-macam kausa. Apabila foto terlihat gambaran fekolit maka
gambaran seperti tersebut di atas patognomonik akibat apendisitis.
Pemeriksaan USG pada appendicitis akut menunjukkan appendisitis akut ditandai
dengan perbedaan densitas pd lapisan apendiks, lumen yg utuh dan diameter 9 11 mm. Pada
appendicitis yang gangren ditandai dengan distensi kumen oleh cairan, penebalan dinding

appendiks dengan atau appendikolit. Dan appendicitis yang perforasi ditandai dengan dinding
appendiks yg tebal dan asimetris, cairan bebas intraperitonial.
Laboratorium
Pemeriksaan darah: lekosist ringan umumnya pada apendisitis sederhana. Lebih dari
13.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya lekositosis tidak
menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin:
sedimen dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit > normal bila apendiks yang
meradang menempel pada ureter atau vesika.

Diagnosis Banding

Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.
Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis
kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.
Limpadenitis Mesenterika
Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis yang ditandai dengan nyeri perut,
terutama kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan perut samar, terutama kanan.
Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah
pada pertengahan siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul terlebih
dahulu. Tidak ada tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin
dapat mengganggu selama dua hari.
Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi panggul
pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul
nyeri hebat di panggul jika uterus dilayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur jika
perlu untuk diagnosis banding.
Kehamilan diluar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada
ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang
mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan
vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldosentsis didapatkan
darah.
Endometriosis eksterna
Endometriosis di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di tempat endometriosis
berada, dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.

Urolitiasis pielum/ureter kanan


Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut
menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan.
Foto polos perut atau urografi intravena dapt memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis
sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral di sebelah kanan dan
piura.
Penyakit saluran cerna lainnya. Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan
di perut, seperti divertikulitis Meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis
akut, pankreatitis, divertikulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid
abdominalis, karsinoid, dan mukokel apendiks.

Terapi
Apendisitis perforasi
Persiapan prabedah: pemasangan sonde lambung dan tindakan dekompresi. Rehidrasi.
Penurunan suhu tubuh. Antibiotika dengan spektrum luas, dosis cukup, diberikan secara
intravena.
Apendisitis dengan penyulit peritonitis umum
Umumnya pasien dalam kondisi buruk. Tampak septik dan dalam kondisi hipovolemi
serta hipertensi. Hipovolemi diakibatkan oleh puasa lama, muntah dan pemusatan cairan di
daerah proses radang, seperti udem organ intraperitoneal, dinding abdomen dan pengumpulan
cairan dalam rongga usus dan rongga peritoneal.
Persiapan prabedah:
-

Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi


Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin
Rehidrasi
Antibiotika dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena
Obat-obat penurun panas, phenergen sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka
pembuluh-pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.

Pembedahan

Pembedahan dikerjakan bila rehidrasi dan usaha penurunan suhu tubuh telah tercapai.
Suhu tubuh tidak melebihi 38, produksi urin berkisar 1-2 ml kg/jam.
Teknik pembedahan
Insisi transversal di sebelah kanan sedikit di bawah umbilikus. Sayatan Fowler Weier
lebih dipilih, karena cepat dapat mencapai rongga abdomen dan bila diperlukan sayatan dapat
diperlebar ke medial dengan memotong fasi dan otot rektus.
Sebelum membuka peritoneum tepi sayatan diamankan dengan kasa. Membuka
peritoneum sedikit dahulu dan alat penghisap telah disiapkan sedemikan rupa sehingga nanah
dapat langsung terisap tanpa kontaminasi ke tepi sayatan. Sayatan peritoneum diperlebar dan
pengisapan nanah diteruskan. Apendektomi dikerjakan seperti biasa. Pencucian rongga
peritoneum mutlak dikerjakan dengan larutan NaCl fisiologis sampai benar-benar bersih.
Cairan yang dimasukkan terlihat jernih sewaktu diisap kembali. Pengumpulan nanah biasa
ditemukan di fosa apendiks, rongga pelvis, di bawah diafragma dan di antara usus-usus. Luka
sayatan dicuci dengan larutan NaCl fisiologis juga setelah peritoneum dan lapisan fasi yang
menempel peritoneum dan sebagian otot dijahit. Penjahitan luka sayatan jangan dilakukan
terlalu kuat dan rapat.
Pemasangan dren intraperitoneal masih merupakan kontroversi. Bila pencucian
rongga peritoneum benar-benar bersih maka dren tidak. Lebih baik dicuci bersih tanpa dren
daripada dicuci kurang bersih lalu dipasang dren.

Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan sehingga berupa massa
yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.

Prognosis
Bila ditangani dengan baik, prognosis apendiks adalah baik. Secara umum
angka kematian pasien apendiks akut adalah 0,2-0,8%, yang lebih berhubungan
dengan komplikasi penyakitnya daripada akibat intervensi tindakan.

DAFTAR PUSTAKA

Snell. Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta :


EGC . 2006
Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem, Edisi I. Jakarta : EGC.
2001.
Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta :
EGC; 2008. p. 843
Bickley, Lynn S, Peter G. Szilagyi. Bates Guide to Physical Examination And History
Taking Tenth Edition.China;Wolters Kluwer Lippincott Williams and Wilkins. 2009. p. 454455.
Bernard M. Jaffe and David H.Berger. Brunicardi F. Charles et all. Schwartzs:
Principles of Surgery 9th Edition. 2010. Chapter 31 and 32
Sjamsuhidayat.R & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi III. Jakarta : EGC.
2010. p. 755-762.