Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Eksplorasi Tembaga Dengan Metode Geofisika


Indonesia mempunyai cadangan bijih tembaga (Cu) yang sangat besar,

sebagian besar dalam cadangan porphyry dengan kadar Cu dalam bijih beragam
antara 0,1-2%. Potensi tembaga terbesar yang dimiliki Indonesia terdapat di
Papua.
Dalam laporan ilmiah ini, konsesi eksplorasi pasir besi berada di daerah
pegunungan di Papua. Pasir besi adalah sejenis pasir dengan konsentrasi besi yang
signifikan. Hal ini biasanya berwarna abu-abu gelap atau berwarna kehitaman.
Pasir ini terdiri dari magnetit, Fe3O4, dan juga mengandung sejumlah kecil
titanium, silika, mangan, kalsium dan vanadium. Daerah konsesi tersebut
membujur sepanjang lembah dan perbukitan yang ditumbuhi hutan belum ada
jalan. Sebagian dari daerah konsesi tertutup oleh endapan kuarter dan sebagian
lagi berupa singkapan batuan intrusi. Batuan intrusi prospek bersifat non fragmen,
porfiritik monzodiorit membentuk kuarsa magnetit, dengan kandungan tembaga
1.5% dan emas 2gr/ton
Di samping Cu, biasanya bijih berasosisasi dengan logam lain seperti emas
(Au), Perak (Ag) dan logam jarang seperti Palladium (Pd), Selenium (Se) dan
lain-lain. Beberapa jenis bijih Cu yang ada adalah Bornite (Cu5FeS4), Calcopyrite
(CuFeS2), Covellite (CuS), kalkosit (Cu2S), bornit (Cu5FeS4), dan enargit
(Cu3As4) dengan beberapa pengotor seperti Pyrite (FeS2), Magnetite (Fe3O4),
Hematite (Fe2O3), ataupun Quartz (SiO2). Logam-logam pengotor ini lah yang
dimanfaatkan sebagai indikasi eksplorasi geofisika dengan metode geolistrik :
Induced Polarization (IP) dan Magnetik.
Mineral tembaga utama dalam bentuk deposit oksida adalah krisokola
(CuSiO3.2HO), malasit (Cu2(OH)2CO3), dan azurit (Cu3(OH)2(CO3)2). Deposit
tembaga dapat diklasifikasikan dalam lima tipe, yaitu: deposit porfiri, urat, dan
replacement, deposit stratabound dalam batuan sedimen, deposit masif pada

batuan volkanik, deposit tembaga nikel dalam intrusi/mafik, serta deposit nativ.
Umumnya bijih tembaga di Indonesia terbentuk secara magmatik. Pembentukan
endapan magmatik dapat berupa proses hidrotermal atau metasomatisme.
Tembaga berwarna coklat keabu-abuan dan mempunyai struktur kristal FCC.
Tembaga ini mempunyai sifat sifat yang sangat baik yakni; sebagai penghantar
listrik dan panas yang baik, mampu tempa, duktil dan mudah dibentuk menjadi
plat-plat atau kawat. Adapun sifat-sifat lain dari tembaga adalah sebagai berikut
a) Rapat massa am-lo.tLf : 8,9 gr/cm3
b) Titik lebur : 1070-1093C (tergantung kadar kemurniannya).
c) Sifat-sifat :
1) Tembaga murni adalah lunak, kuat dan malkabel,
2) Konduktivitas panas dan listriknya sangat tinggi.
3) Kekuatan tarik :200 300 N/mm2
Kecenderungan terdapatnya emas terdapat pada zona epithermal atau
disebut zona alterasi hidrothermal. Zona alterasi hidrotermal merupakan suatu
zona dimana air yang berasal dari magma atau disebut air magmatik bergerak naik
kepermukaan bumi. Celah dari hasil aktivitas Gunungapi menyebabkan air
magmatik yang bertekanan tinggi naik ke permukaan bumi. Saat air magmatik
yang yang berwujud uap mencapai permukaan bumi terjadi kontak dengan air
meteorik yang menyebabkan larutan ion tio kompleks, ion sulfida, dan ion klorida
yang membawa emas terendapkan. Air meteorik biasanya menempati zona-zona
retakan-retakan batuan beku yang mengalami proses alterasi akibat pemanasan
oleh air magmatik. Seiring dengan makin bertambahnya endapan dalam retakanretakan tersebut, semakin lama retakan-retakan tersebut tertutup oleh akumulasi
endapan

dari logam-logam

yang mengandung ion-ion

kompleks

yang

mengandung emas. Zona alterasi yang potensial mengandung emas dapat


diidentifikasi dengan melihat lapisan pirit atau tembaga pada suatu reservoar yang
tersusun atas batuan intrusif misalnya granit atau diorit.
Respon emas terhadap IP atau magnetik (magnetotelurik) sangat beragam
dan cukup sulit diidentifikasi dimana tidak setiap vein atau retakan bekas
hidrotermal mengandung emas. Berdasarkan hasil IP atau magnetotelurik suatu

vein dapat diidentifikasi mengandung emas dengan melihat pada nilai true_R atau
tahanan sebenarnya yang sangat kecil namun perlu diperhatikan bahwa tidak
setiap nilai resistivity yang rendah dari suatu vein dipengaruhi oleh emas karena
selain emas juga ikut terendapkan mineral pirit dan tembaga yang juga memiliki
nilai tahanan jenis yang rendah.
Korelasi data IP dan magnetotelurik dengan data geokimia suatu zona
alterasi sangat penting dimana melalui data geokimia kita dapat menentukan
mineral apakah yang dominan mengontrol rendahnya nilai resistivitas apakah
emas, tembaga, atau pirit. Sehingga kita dapat mengetahui mineral apa yang
dominan terendapkan pada suatu vein.
1.2

Tahapan Eksplorasi
Tahapan pekerjaan survei geofisika dan masalah-masalah umumnya

Macam
Pekerjaan

Macam
potensi
Problem

Tahap 1
Merencana survei
Merencana survei

1. Menentukan
target
2. Biaya survei
3. Menentukan
spesifikasi survei

Tahapan Pekerjaan
Tahap 2
Mengumpulkan data
1. Mengukur di
lapangan
2. Mereduksi data
3. Mengontrolkualitas
data
1. Kualitas data
2. Manajemen nama
stasion pengukuran
3. Manajemen data
mentah dan
tereduksi
4. Komunikasi

Tahap 3
Menggunakan data
1. Mengolah data
2. Membuat
model
3. Menginterpreta
si
1. Kompilasi data
2. Pemilihan filter
3. Pemilihanmeto
daolah data
lanjut
4. Evaluasi
terpadu dengan
kondisi geologi

5. Logistik
6. Kesulitan medan
Metoda geofisika merupakan salah satu metoda yang umum digunakan
dalam eksplorasi endapan bahan galian. Metoda ini tergolong kepada metoda
tidak langsung, dan sering digunakan pada tahapan eksplorasi pendahuluan
(reconnaissance), mendahului kegiatan-kegiatan eksplorasi intensif lainnya.

Adapun tahapan-tahapan pekerjaan yang umum digunakan dalam metoda


geofisika adalah :
a) Survei pendahuluan (penentuan lintasan)
b) Pemancangan (penandataan titik-titik ukur) dalam areal target.
c) Pengukuran lapangan.
d) Pembuatan peta-peta geofisika
e) Penarikan garis-garis isoanomali.
f) Penggambaran profile
g) Interpretasi anomaly

BAB II
PELAKSANAAN SURVEI

2.1

Pelaksanaan Survei dengan Metode Geolistrik Induksi Polarisasi


Salah satu metode yang tepat untuk mendeteksi distribusi keberadaan

endapan emas di bawah permukaan adalah dengan menggunakan metode


geolistrik. Metode geolistrik sendiri didefinisikan sebagai suatu metoda geofisika
yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana mendeteksinya
di permukaan bumi. Metoda geolistrik terdiri dari beberapa metoda antara lain
metoda geolistrik tahanan jenis, IP (Indeks Polarization), potensial diri (Self
Potensial) dan lain-lain. Setiap metoda memberikan manfaat dan pengukuran yang
berbeda. Salah satu metoda geolistrik yang baik digunakan untuk eksplorasi
mineral logam adalah metoda induksi polarisasi atau metoda polarisasi terimbas,
prinsip kerja dari metoda induksi polarisasi ini adalah untuk mendeteksi terjadinya
polarisasi listrik pada permukaan mineral-mineral logam di bawah permukaan
bumi (Reynold, 1997).
Metoda Induksi Polarisasi (IP) merupakan metoda geolistrik, yang dalam
geofisika umumnya di bidang eksplorasi logam dasar (base-metal). Metoda ini
banyak digunakan dalam eksplorasi logam dasar karena adanya fenomena
polarisasi yang terjadi di dalam suatu mediun batuan. Fenomena polarisasi itu
menandakan adanya kandungan logam di bawah permukaan yang tidak terdeteksi
dengan baik jika hanya menggunakan metoda geolistrik resistivitas. Sehingga,
dalam eksplorasi logam dasar umumnya dilakukan dengan menggabungkan dua
metoda yaitu metoda IP dan resistivitas (Telford, 1990).
Metoda geolistrik adalah salah satu metoda geofisika untuk menyelidiki
kondisi bawah permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat aliran listrik pada
batuan di bawah permukaan bumi. Penyelidikan ini meliputi pendeteksian
besarnya medan potensial, medan elektromagnetik dan arus listrik yang mengalir
di dalam bumi baik secara alamiah (metoda pasif) maupun akibat injeksi arus ke
dalam bumi (metoda aktif) dari permukaan. Metode geolistrik mempunyai prinsip

dasar mengirimkan arus ke bawah permukaan, dan mengukur kembali potensial


yang diterima di permukaan (Berau, 2009).
Polarisasi adalah kemampuan batuan untuk menciptakan atau menyimpan
sementara energi listrik, pada umumnya lewat proses elektrokimia. Induksi
polarisasi adalah efek yang muncul saat batuan terinduksi oleh energi listrik yang
ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui batuan, dan batuan itu menyimpan
induksi untuk sememtara (Nurhakim, 2006). Jadi metode Induksi Polarisasi
adalah metode yang didasarkan atas fenomena polarisasi yang terjadi di dalam
suatu medium batuan.
Aliran listrik pada suatu formasi batuan terjadi terutama karena adanya
fluida elektrolit pada pori-pori atau rekahan batuan. Oleh karena itu resistivitas
suatu formasi batuan bergantung pada porositas batuan serta jenis fluida pengisi
pori-pori batuan tersebut. Batuan poros yang berisi air atau air asin tentu lebih
konduktif (resistivitas-nya rendah) dibanding batuan yg sama yg pori-porinya
hanya berisi udara (kosong).
Temperatur tinggi akan lebih menurunkan resitivitas batuan secara
keseluruhan karena meningkatnya mobilitas ion-ion penghantar muatan listrik
pada fluida yg bersifat elektrolit.
2.1.1

Maksud dan Tujuan


Berdasarkan kemampuan mendeteksi dan memetakan distribusi nilai

resistivitas atau tahanan jenis di bawah permukaan maka metoda geolistrik dapat
dimanfaatkan untuk mendeteksi dan menentukan keberadaan material serta
penyebarannya di bawah permukaan bumi. Metoda geolistrik yang dapat
digunakan dalam kegiatan eksplorasi antara lain vertical sounding (1-D) dan
lateral mapping (2-D) atau geoscaner.
Metode Geolistrik IP digunakan untuk eksplorasi tembaga dan emas
karena terjadi polarisasi pada medium batuan. Fenomena polarisasi tersebut
menandakan adanya kandungan logam di bawah permukaan yang tidak dapat
terdeteksi dengan baik jika hanya menggunakan metode geolistrik resistivitas.
Sehingga,

dalam

eksplorasi

logam

dasar

umumnya

dilakukan

dengan

menggabungkan dua metode yaitu metode IP dan resistivitas (Telford, 1990).

2.1.2

Cara Kerja Metode Geolistrik IP


Arus searah (DC) dialirkan melalui rangkaian empat elektroda dan

dimatikan secara tiba-tiba, potensial yang tertangkap pada elektroda potensial


tidak turun langsung menjadi nol namun arus turun secara perlahan yang disebut
dengan potential decay.
Sumber Polarisasi Polarisasi pada suatu medium dapat terjadi karena
adanya penyimpan energi saat medium dialiri arus listrik. Secara teoritis, bentuk
energi yang tersimpan pada medium dapat berupa energi mekanik (elektrokinetik)
dan energi kimia (elektrokimia). Penyimpanan energi secara elektrokimia ini
dapat diakibatkan oleh :
a) Variasi mobilitas ion dalam fluida yang terkandung pada medium.
b) Variasi antara jalur penghantaran secara elektronik, hal ini terjadi jika di
dalam medium terdapat mineral logam.
Efek elektrokimia disebut sebagai polarisasi elektroda atau over voltage
effect. Efek ini biasanya lebih besar dibandingkan efek polarisasi membran,
dimana besarnya sangat tergantung pada kandungan mineral logam yang ada
dalam medium batuan (Telford , 1990).
2.1.3

Polarisasi Elektroda
Model penampang melintang sebuah batuan dalam skala mikroskopis dan

terdapat larutan elektrolit yang mengisi pori pori batuan tersebut. Dalam hal
menghantarkan arus listrik, larutan elektrolit yang mengisi pori-pori batuan
merupakan media yang baik untuk menghantarkan arus listrik. Jika terdapat
partikel partikel mineral yang bersifat logam terdapat pada jalur pori pori
batuan, maka partikel partikel mineral yang bersifat logam akan menghambat
aliran arus listrik dalam bentuk akumulasi ion positif dan ion negatif saat arus
diinjeksikan. Namun jika tidak terdapat partikel partikel mineral yang bersifat
logam pada jalur pori pori batuan, maka saat arus diinjeksikan ion negatif dan
ion positif dapat mengalir dengan lancar.
Saat arus yang diinjeksikan dihentikan maka ion - ion yang mengalir akan
berhenti bergerak dan kembali ke posisi stabil awalnya. Hal yang sama juga
terjadi pada ion ion yang tertahan dalam bentuk akumulasi. Perbedaannya

terdapat pada waktu tempuh menuju posisi stabilnya. Waktu tempuh ion ion
yang mengalir kembali ke posisi stabil jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan
ion ion yang tertahan. Maka ion ion yang tertahan inilah yang mendominasi
beda potensial yang terukur setelah injeksi arus dimatikan tidak langsung nol
tetapi perlahan-lahan turun (Telford, 1990)
2.1.4

Langkah kerja pengukuran


Langkah kerja untuk melakukan pengukuran data survei Induced

Poliraziation adalah sebagai berikut:


a) Menghubungkan accu dengan alat ukur ARES
b) Menghidupkan alat dengan menekan tombol ON
c) Memilih metoda pengukuran yang tersedia beserta konfigurasinya, dalam
hal ini metode IP dengan konfigurasi Dipole-dipole
d) Melakukan pengukuran
e) Melakukan pengukuran pertama IP dimulai pada frekuensi 50 Hz atau 60
Hz setelah pulsa arus dimatikan.
f) Menggunakan Tegangan 100 mv untuk IP, Tegangan ini berguna untuk
mendapatkan pengukuran yang bagus selama pengurangan pulsa
eksponensial.
g) Perhitungan kesalahan pengukuran (standar deviasi), paling kurang
digunakan 4 pulsa untuk satu titik pengukuran.
h) Apabila standar deviasi pada titik pengukuran besar dari standar deviasi
maksimum, maka pengukuran harus di ulang lagi. Standar deviasi yang
diperbolehkan paling besar 10%
i) Data hasil pengukuran dikirim ke PC melalui software ARES
j) Rancangan pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini dengan Jarak
antara kedua elektroda arus (C1 dan C2) maupun kedua elektroda
potensial (P1 dan P2) sebesar a dan jarak antara C2 dengan P1 adalah
sebesar na

2.2

Pelaksanaan Survei dengan Metoda Magnetik


Metoda Geomagnet adalah salah satu metoda di geofisika yang

memanfaatkan sifat kemagnetan bumi. Menggunakan metoda ini diperoleh


kontur yang menggambarkan distribusi susceptibility batuan di bawah permukaan
pada arah horizontal. Dari nilai susceptibility selanjutnya dapat dilokalisir /
dipisahkan batuan yang mengandung sifat kemagnetan dan yang tidak.
Beberapa tipe bijih seperti magnetit, ilmenit, dan phirotit yang dibawa oleh
bijih sulfida menghasilkan distorsi dalam magnet kerak bumi, dan dapat
digunakan untuk melokalisir sebaran bijih. Disamping aplikasi metoda Induced
Polarization, metoda magnetik dapat juga digunakan untuk survei prospeksi untuk
mendeteksi formasi-formasi pembawa bijih dan gejala-gejala geologi lainnya
(seperti sesar, kontak intrusi, dll).
Penggunaan metoda magnetik didalam prospek geofisika adalah
berdasarkan atas adanya anomali medan magnet bumi akibat sifat kemagnetan
batuan yang berbeda satu terhadap lainnya. Alat untuk mengukur perbedaan
kemagnetan tersebut adalah magnetometer.
2.2.1 Sifat Umum Kemagnetan Batuan
Medan magnet bumi secara sederhana dapat digambarkan sebagai medan
magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet raksasa yang terletak didalam inti
bumi, namun tidak berimpit dengan pusat bumi. Medan magnet ini dinyatakan
dalam besar dan arah (vektor) dimana arahnya dinyatakan dalam deklinasi
(penyimpangan

terhadap

arah

utara-selatan

geografis)

dan

inklinasi

(penyimpangan terhadap arah horizontal).


Kuat medan magnet yang terukur dipermukaan sebagian besar berasal dari
dalam bumi (internal field) mencapai lebih dari 90%, sedangkan sisanya adalah
medan magnet dari kerak bumi, yang merupakan target didalam eksplorasi
geofisika, dan medan dari luar bumi (external field).
Karena medan magnet dari dalam bumi merupakan bagian yang terbesar,
maka medan ini sering juga disebut sebagai medan utama yang dihasilkan oleh
adanya aktivitas di dalam inti bumi bagian luar (salah satu konsep adanya medan
utama ini adalah dari teori dinamo).

2.2.2 Kerentanan (susceptibilities) Batuan Pengotor Tembaga


Kerentanan magnetik merupakan parameter yang menyebabkan timbulnya
anomali magnetik dan karena sifatnya yang khas untuk setiap jenis mineral,
khususnya logam, maka parameter ini merupakan salah satu subjek didalam
prospek geofisika.
Telah diketahui bahwa adanya medan magnet bumi menyebabkan
terjadinya induksi magnetik yang besarnya adalah penjumlahan dari medan
magnet bumi dan magnet batuan dengan kerentanan magnetik yang cukup tinggi.
Besaran ini adalah total medan magnet yang terukur oleh magnetometer apabila
remanan magnetiknya dapat diabaikan.
2.2.3 Metode Pengukuran Data Geomagnetik
Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang
digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat
medan magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission
Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan
magnetik total. Peralatan lain yang bersifat pendukung di dalam survei magnetik
adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur
posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu.
Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei
magnetik, antara lain :
1. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan
magnet bumi.
2. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik
pengukuran pada saat survei magnetik di lokasi
3. Sarana transportasi
4. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data
5. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lainlain.
Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan
peralatan PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama

10

proses pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi
cuaca dan lingkungan.
Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah
menentukan base station dan membuat station station pengukuran (usahakan
membentuk grid grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi
pengukuran, kemudian dilakukan pengukuran medan magnet di station station
pengukuran di setiap lintasan, pada saat yang bersamaan pula dilakukan
pengukuran variasi harian di base station.
2.2.4 Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada
setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF
dan topografi.
1.

Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan

magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam
satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu
pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang
akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan
dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu
terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi
harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan
nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan
magnetik yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan
H = Htotal Hharian
2.

Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi

dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik
luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali
IGRF. Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka
kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi

11

IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai


medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran
pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi
harian) dapat dituliskan sebagai berikut :
H = Htotal Hharian H0
Dimana H0 = IGRF
3.

Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei

megnetik sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak


mempunyai aturan yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai
koreksinya adalah dengan membangun suatu model topografi menggunakan
pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan
pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui,
sehingga model topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan
magnetik (Htop) sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah
dilakukan koreski harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai
H = Htotal Hharian H0 Htop
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang
terukur dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di
topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan
sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah permukaan yang
mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta
kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang
memiliki nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.
2.2.5 Reduksi ke Bidang Data
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik,
maka data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di topografi harus
direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses transformasi ini mutlak dilakukan,
karena proses pengolahan data berikutnya mensyaratkan input anomali medan
magnetik yang terdistribusi pada biang datar. Beberapa teknik untuk
mentransformasi data anomali medan magnetik ke bidang datar, antara lain :

12

teknik sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer)


dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap teknik
mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1995).
2.2.6 Pengangkatan ke Atas
Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses
transformasi data medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya
yang lebih tinggi. Pada pengolahan data geomagnetik, proses ini dapat berfungsi
sebagai filter tapis rendah, yaitu unutk menghilangkan suatu mereduksi efek
magnetik lokal yang berasal dari berbagai sumber benda magnetik yang tersebar
di permukaan topografi yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan
tidak boleh terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang
bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target survei
magnetik ini.
2.2.7 Koreksi Efek Regional
Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi target
survei selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik lain yang
berasal dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah permukaan bumi.
Anomali magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik regional (Breiner, 1973).
Untuk menginterpretasi anomali medan magnetik yang menjadi target survei,
maka dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan untuk menghilangkan efek
anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik hasil pengukuran.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional
adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana
peta kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami
perubahan pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi.
2.2.8

Penyajian Data Lapangan


Hasil pengukuran oleh magnetometer umumnya disajikan dalam bentuk

Peta Anomali Magnetik dengan kontur yang mencerminkan harga anomali yang
sama. Dari peta ini, untuk kepentingan eksplorasi masih memerlukan proses lebih
lanjut untuk memperoleh daerah targetan atau daerah prospek.

13

2.2.9

Interpretasi
Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu

interpretasi kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola


kontur anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda
termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola
anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi
geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi,
yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan
kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis.
Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu
dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh,
sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran.
2.3

Sebaran Lintasan Survei


Terlampir

2.4

Jarak titik amat


Dengan menggunakan Metode Geolistrik IP dan Metode Geomagnet maka

akan diketahui jarak titik amat masing-masing metode. Jarak titik amat Metode
Geolistrik kira-kira 500 meter, jarak tersebut adalah jarak antar elektroda.
Sedangkan metode Geomagnet mempunyai titik amat yang sama yaitu 500 meter
tetapi jarak ini diperoleh dari selisih kedua titik yang menunjukkan potensi yang
diukur oleh Magnetometer.
2.5
1.

Peralatan yang digunakan.


Peralatan geolistrik ( IP ) (Biaya sewa Rp. 7.000.000 sehari) terdiri atas
a. IPMGEO-4100/16100 (Induced Polarization dan Geolistrik)
Induced polarization atau polarisasi terimbas merupakan salah satu metode
geofisika yang mendeteksi terjadinya polarisasi listrik pada permukaan
mineral

logam.

IPMGEO-4100/16100

dirancang

untuk

mengukur

parameter polarisasi terimbas melalui nilai chargeability.


b. ARES
Peralatan yang mengukur resistivitas dan pencitraan IP.

14

c. PC
Komputer untuk mengolah data
2.

GPS Diferensial (Biaya sewa Rp. 350.000,00 sehari )


Pengembangan dari GPS yang mempunyai akurasi yang tinggi , dan
mempunyai Akurasi dari 15 meter sampai 10 cm.

3.

GPS Handheld (Biaya sewa Rp. 150.000,00 sehari)


Pengembangan GPS yang sangat portable dan mempunyai daya tahan
tinggi.

4.

Peralatan geomagnet (Magnetometer) (Biaya sewa perhari perunit


Rp.600.000). Peralatan yang digunakan untuk mengukur medan magnet
dari sebuah bahan.

5.

Peralatan total station


Total station adalah teodolit elektronik (angkutan) yang terintegrasi
dengan jarak meter elektronik (EDM) untuk membaca jarak kemiringan
dari instrumen ke titik tertentu

2.6

Struktur organisasi Pelaksanaan Survei

Kepala Tim Survey 1orang)


(
Asisten Kepala Survey (1 orang)

Pra-Survey

Survey

Survey Geolistrik (6 orang)

Perizinan (3 orang)

Survey Geomagnet (6 orang)

Keamanan (7 orang)

Pemetaan (3 orang)

15

2.7

Time schedule pelaksanaan


Hari 1-2 : Tim Survei berangkat dari Jakarta dan tiba di daerah Survei.
Hari 3-18: Tim Survei melakukan Survei pada area yang dituju.
Hari 19-20: Tim Survei kembali ke Jakarta.

2.8

Biaya pelaksanaan survei


Terlampir

16

DAFTAR PUSTAKA

http://www.geotec.co.il/?categoryId=23222
http://fisika.um.ac.id/skripsi/472-identifikasi-deposit-batuan-yang-mengandung
endapan-tembaga-dengan-menggunakan-geolistrik-flashres64-61-channel-di
dusun-tirtosinawang-desa-panggungunim-kecamatan-pucanglaban-kabupaten
tulungagung.html
http://geoful.wordpress.com/metode-geofisika/
http://geofisika-ceria.blogspot.com/2010/12/alat-alat-geofisika.html
http://kampungminers.blogspot.com/2013/03/mineralogi-endapan-bijih-tembagacu.html
http://fisikabumi-geofisika.blogspot.com/2010/07/aplikasi-geolistrik.html
http://metodeinduksipolarisasi.blogspot.com/2011/02/metode-induksi-polarisasiinducted.html#more
http://geoelamanyofan.blogspot.com/2012/05/tembaga.html
http://densowestliferz.wordpress.com/category/mining/teknik-eksplorasi/

17

Anda mungkin juga menyukai