Anda di halaman 1dari 9

MATERI PENYULUHAN CORPUS ALIENUM DI POLI MATA

RSD dr. SOEBANDI JEMBER


I.

Pengertian
Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan dalam
istilah medis. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering
mengenai sklera, kornea, dan konjungtiva. Trauma mata adalah cidera mata
yang dapat mengakibatkan kelainan mata.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa
berakibat serius. Apabila suatu korpus alienum masuk ke dalam bola mata
maka biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi
bola mata dan terjadi iridocylitis serta panophthmitis. Karena itu perlu cepat
mengenali benda asing tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola
mata untuk kemudian mengeluarkannya.
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari
besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses
infeksi dan jenis bendanya sendiri. Bila ini berada pada segmen depan dari
bola mata, hal ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini
terdapat di dalam segmen belakang
Jenis Benda Asing pada Mata
1. Benda logam
Terbagi menjadi benda logam magnit dan bukan magnit
Contoh: emas, perak, timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, besi.
2. Benda bukan logam
Contoh : batu, kaca, porselin, karbon, bahan pakaian dan bulu mata.
3. Benda Insert
Adalah benda yang terdiri atas bahan bahan yang tidak menimbulkan
reaksi jaringan mata, ataupun jika ada reaksinya sangat ringan dan tidak
mengganggu fungsi mata.
Contoh : emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, plastik tertentu

II. Etiologi
Trauma mata dapat terjadi secara mekani dan non mekanik
1.
Mekanik, meliputi :

2.

a. Trauma oleh benda tumpul, misalnya :


1) Terkena tonjokan tangan
2) Terkena lemparan batu
3) Terkena lemparan bola
4) Terkena jepretan ketapel, dan lain-lain
b. Trauma oleh benda tajam, misalnya:
1) Terkena pecahan kaca
2) Terkena pensil, lidi, pisau, besi, kayu
3) Terkena kail, lempengan alumunium, seng, alat mesin tenun.
c. Trauma oleh benda asing, misalnya:
Kelilipan pasir, tanah, abu gosok dan lain-lain
Non Mekanik, meliputi :
a.
Trauma oleh bahan kimia:
1) Air accu, asam cuka, cairan HCL, air keras
2) Coustic soda, kaporit, jodium tincture, baygon
3) Bahan pengeras bakso, semprotan bisa ular, getah papaya, miyak
b.
1)
2)
c.
1)
2)
3)

putih
Trauma termik (hipermetik)
Terkena percikan api
Terkena air panas
Trauma Radiasi
Sinar ultra violet
Sinar infra merah
Sinar ionisasi dan sinar X

Gangguan-gangguan trauma pada mata


1. Trauma mata karena benda tajam
a. Plasits
b. Gangguan pergerakan bola mata
c. Ketajaman penglihatan buruk
d. Perdarahan didalam bola mata
e. Lensa yang pecah
f. Rusaknya susunan jaringan bola mata
g. Terlihat bintik mata yan dangkal karena perforasi kornea
h. Bentuk pupil yang lonjong / terjadi perubahan bentuk pupil akibat
perlengkapan iris dengan bbir luka kornea
i. Tekanan bola mata akan rendah akibat cairan mata keluar melalui
luka
2. Trauma mata oleh benda asing
a. Mata terasa mengganjal dan ngeres
b. Mendadak merasa tidak enak jika mengedikan mata
c. Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat
d. Fototobia

e. Gangguan gerak bola mata dan lain-lain


3. Trauma karena bahan kimia
a. Trauma Akali
1) Dapat menyebabkan pecah atau rusaknya jaringan
2) Meningkatkan tekanan infra akuler
3) Karena keruh dalam beberapa menit
4) Pembentukan jaringan parut pada kelenjar asesari air mata, yang
mengakibatkan mata menjadi kering
5) Lensa keruh diakibatkan kerusakan kaps lensa
b. Trauma Asam
1) Terjadi koogulasi protein epitel kornea yang mengakibatkan
kekerutan pada kornea
2) Akibat koogulasi kadang seluruh kornea terkelupas
3) Bila terjadi penetrasi jaringan yang lebih dalam akan terjadi
edema kornea dan iris
4) Keadaan terburuk apabila terkena trauma asam berupa
vaskularisasi berat pada kornea
c. Trauma Mata Mekanik (hipertemik)
1) Bila siperficila dan bulu mata hangus kulit palpebra hipermis
dan terjadi edema palpebra
2) Bila lebih berat terjadi nekrosis sehingga dapat kehilangan
sebagian palpebra
3) Bila kornea terkena dapat terjadi erosi karena adanya reflek
menutup pada kelopak umumnya kornea tidak terkena
d. Trauma Mata karena radiasi
III. Faktor Predisposisi
1. Mengendarai motor tanpa menggunakan helm yang disertai kaca penutup
2. Berjalan dibawah terik matahari dalam waktu begitu lama tanpa
menggunakan topi atau kaca mata pelindung
3. Pekerja las dalam pekerjaannya tanpa menggunakan kaca pelindung mata
IV. Klasifikasi
Berdasarkan keparahannya trauma mata diklasifikasi sebagai berikut:
1.

Trauma Ringan
a. Trauma disembuhkan tanpa tindakan atau pengobatan yang berarti
b. Kekeringan ringan pada kornea
c. Prognosis baik

2.

3.

Trauma sedang
a. Kekeruhan kornea sehingga detail iris tidak dapat dilihat, tapi pupil
masih tampak
b. Iskemik mekrosis pada konjungtiva dan sklera
c. Prognosis sedang
Trauma berat
a. Kekeruhan kornea sehingga pupil tidak dapat dinilai
b. Konjungtiva dan sklera sangat pucat karena istemik nekrosis berat
c. Prognosis buruk

V. Gambaran Klinik
Trauma mata karena benda tumpul
1.
Penurunan ketajaman penglihatan
2.
Adanya kelainan disekitar mata, seperti : adanya perdarahan sekitar
mata, adanya pembengkakan di dahi, pipi dan hidung
3.
Adanya eksuftalmos dan gangguan gerak bola mata akibat perdarahan
4.
5.
6.
7.

di dalam rongga orbita


Adanya hematomom dan edema pada kelopak mata
Konjungtiva akan tampak merah dengan batas tegas
Terjadi erosi kornea
Pupil akan menyempit, dapat juga juga melebar dan reaksi terhadap

8.
9.
10.
11.

cahaya akan menjadi lembat atau hilang


Timbul ruptur yang tidak langsung pada kapsul lensa
Edema retina
Perubahan tekanan bola mata
Terjadi gangguan gerak bola mata, kelopak mata tidak dapat menutup

12.

atau tidak dapat membuka dengan jelas.


Lesi termis ditimbulkan oleh sinar infra red berupa : kekeruhan kornea,
atrati, iris, kerusakan macula karena berfokusnya sinar pada mocula,
jaringan berpigmen seperti ovea dan retina lebih mudah mengalami

13.

kerusakan
Lesi obiotik ditimbulkan oleh UV (ultra violet) : setelah periode laten

14.

terlihat eriterna yang terbatas jelas hanya pada daerah yang teriritasi.
Lesi ionisasi ditimbulkan oleh sinar X; terjadi perubahan vaskulariasi,
korpus siliarsis menjadi edema dan dilatasi yang mengakibatkan
terjadinya glaukoma.

VI. Tanda dan Gejala


1. Ekstra Okular
a. Mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata

b. Ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea, oleh


kedipan bola mata.
c. Lakrimasi hebat.
d. Benda asing dapat bersarang dalam torniks atas atau konungtiva
e. Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat
2. Infra Okuler
a.

Kerusakan pada tempat masuknya mungkin dapat terlihat di


kornea, tetapi benda asing bisa saja masuk ke ruang posterior atau

limbus melalui konjungtiva maupun sklera.


b.
Bila menembus lensa atau iris, lubang mungkin terlihat dan
c.

dapat terjadi katarak.


Masalah lain diantaranya infeksi skunder dan reaksi jaringan
mata terhadap zat kimia yang terkandung misalnya dapat terjadi
siderosis.

VII.Manifestasi Klinis
1. Lagaltafmas : Keadaan tidak menutupnya mata secara sempurna
2. Katarak : Kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat hidrasi (penambahan
cairan) lensa, denaturasi proteksi lensa, atau akibat kedua-duanya.
3. Kebutaan : Tidak dapat melihat karena kerusakan mata
VIII. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan umum
Pemeriksaan pada kasus trauma mata dilakukan baik subjektf maupun
objektif.
a. Pemeriksaan subjektif
Pemeriksaan ketajaman penglihatan. Hal ini berkaitan dengan
pembutatan visum et repertum. Pada penderita yang ketajamannya
menurun, dilakukan pemeriksaan retraksi untuk mengetahui bahwa
penurunan penglihatan mungkin bukan disebabkan oleh trauma
tetapi oleh kelainan retraksi yang sudah ada sebelum trauma
b. Pemeriksaan Objektif
Saat penderita kita inspeksi sudah dapat diketahui adanya kelainan di
sekitar mata seperti adanya perdarahan sekitar mata. Pembengkakan
di dahi, pipi, hidung dan lain-lain yang diperiksa pada kasus trauma

mata ialah: keadaan kelopak mata kornea, bilik mata depan, pupil,
lensa dan tundus, gerakan bola mata dan tekanan bola mata.
Pemeriksaan segmen anterior dilakukan dengan sentotop, loupe slit
lamp dan atlalmoskop.

IX. PENATALAKSANAAN
1. Trauma Mata Benda Tumpul
Penanganan ditekankan pada utama yang menyertainya dan penilaian
terhadap ketajaman penglihatan. Setiap penurunan ketajaman penglihatan
tanda mutlak untuk melakukan rujukan kepada dokter ahli mata.
Pemberian pertolongan pertama berupa:
a. Obat-obatan analgetik : untuk mengurangi rasa sakit. Untuk
pemeriksaan mata dapat diberikan anesteshi local: Pantokain 0,5%
atau tetracain 0,5% - 1,0 %.
b. Pemberian obat-obat anti perdarahan dan pembengkakan
c. Memberikan moral support agar pasien tenang
d. Evaluasi ketajaman penglihatan mata yang sehat dan mata yang
e.

terkena trauma
Dalam hal hitema ringan (adanya darah segar dala bilik mata

depan) tanpa penyulit segera ditangani dengan tindakan perawatan:


Tutup kedua bola mata
1) Tidur dengan posisi kepala agar lebih tinggi
2) Evaluasi ketajaman penglihatan
3) Evaluasi tekanan bola mata
f.
Setiap penurunan ketajaman penglihatan atau keragu-raguan
mengenai mata penderita sebaiknya segera di rujuk ke dokter ahli
mata.
2. Trauma mata benda tajam
Keadaan trauma mata ini harus segera mendapat perawatan khusus
karena dapat menimbulkan bahaya; infeksi, siderosis, kalkosis dan
atlalmia dan simpatika. Pertimbangan tindakan bertujuan :
a. Mempertahankan bola mata
b. Mempertahankan penglihatan
Bila terdapat benda asing dalam bola mata, maka sebaiknya dilakukan
usaha untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada penderita diberikan:
a.
Antibiotik spectrum luas

b.
Analgetik dan sedotiva
c.
Dilakukan tindakan pembedahan pada luka yang terbuka
3. Trauma mata benda asing
a. Ekstra Okular
1) Tetes mata
2) Bila benda asing dalam forniks bawah, angkat dengan swab.
3) Bila dalam farniks atas, lipat kelopak mata dan angkat
4) Bila tertanam dalam konjungtiva, gunakan anestesi local dan
angkat dengan jarum
5) Bila dalam kornea, geraka anestesi local, kemudian dengan hathati dan dengan keadaan yang sangat baik termasuk cahaya yang
baik, angkat dengan jarum.
6) Pada kasus ulerasi gunakan midriatikum bersama dengan
antibiotic local selama beberapa hari.
7) Untuk benda asing logam yang terlalu dalam, diangkat dengan
jarum, bisa juga dengan menggunakan magnet.
b. Intra okuler
1) Pemberian antitetanus
2) Antibiotic
3) Benda yang intert dapat dibiarkan bila tidak menybabkan iritasi
4. Trauma mata bahan kimia
a. Trauma akali
1) Segera lakukan irigasi selama 30 menit sebanyak 2000 ml; bila
dilakukan irigasi lebih lama akan lebih baik.
2) Untuk mengetahui telah terjadi netralisasi bisa dapat dilakukan
pemeriksaan dengan kertas lokmus; pH normal air mata 7,3
3) Diberi antibiotic dan lakukan debridement untuk mencegah
infeksi oleh kuman oportunie.
4) Diberi sikoplegik karena terdapatnya iritis dan sineksis posterior
5) Beta bloker dan diamox untuk mengatasi glukoma yang terjadi
6) Steroid diberikan untuk menekan radang akibat denoturasi kimia
dan kerusakan jaringan kornea dan konjungtiva namun diberikan
secara hati-hati karena steroid menghambat penyembuhan.
7) Kolagenase intibitor seperti sistein diberikan untuk menghalangi
efek kolagenase.
8) Vitamin C diberikan karena perlu untuk pembentukan jaringan
kolagen.
9) Diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek.
10) Karataplasti dilakukan bila kekerutan kornea sangat menganggu
penglihatan.

b. Trauma Asam
1) Irigasi segera dengan gara fisiologis atau air.
2) Kontrol pH air mata untuk melihat apakah sudah normal
3) Selanjutnya pertimbangan pengobatan sama dengan pengobatan
yang diberikan pada trauma alkali.
Tindakan pada trauma kimia dapat juga tergantung dari 4 fase peristiwa,
yaitu:
1.
Fase kejadian (immediate)
Tujuan dari tindakan adalah untuk menghilangkan materi penyebab
sebersih mungkin, yaitu meliputi:
a. Pembilasan dengan segera, denan anestesi tapical terlebih dahulu.
b. Pembilasan dengan larutan non toxic (NaCl 0,9% ringer lastat dan
2.

sebagainya) sampai pH air mata kembali normal.


Fase Akut (sampai hari ke-7)
Tujuan tindakan adalah mencegah terjadinya penyulit dengan prinsip

sebagai berikut:
a. Mempercepat proses re-epitelisasi kornea
b. Mengontrol tingkat peradangan
c. Mencegah infeksi sekunder
d. Mencegah peningkatan tekanan bola mata
e. Suplemen / anti oksidan
f. Tindakan pembedahan
3.
Fase Pemulihan Dini (early repair : hari ke 7 21)
Tujuannya membatasi penyakit setelah fase 2
4.
Fase pemulihan akhir (late repair : setelah hari ke 21)
Tujuannya adalah rehabilitasi fungsi penglihatan
5.
Trauma Mata Termik (hipertemik)
Daerah yang terkena dicuci dengan larutan steril dan diolesi dengan salep
atau kasa yang menggunakan jel. Petroleum setelah itu ditutup dengan
verban steril.
6.

Trauma Mata Radiasi


Bila panas merusak kornea dan konjungtiva maka diberi pada mata
a. Lokal anastesik
b. Kompres dingin
c. Antibiotika lokal

Daftar Pustaka

Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 1994. Patofisiologi, konsep klinis prosesproses penyakit. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan medikal bedah 2.
(Ed 8). Jakarta: EGC
Tjokronegoro dan Hendra Utama. 1996. Ilmu penyakit dalam jilid 1. Jakarta:
FKUI.
Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. D dengan Corpus Alienum di Poli Mata
RSU

Prof.

Dr.

R.D.

Kandou

Manado.

http://www.scribd.com/doc/135951311/Askep-Corpus-Alienum

2012.