Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Anestesi Lokal


Istilah anestesi diperkenalkan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak
ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi lokal dan anestesi
umum. Anestesi lokal adalah hilangnya rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran dan
anestesi umum, yaitu hilang rasa sakit disertai hilang kesadaran. Tindakan anestesi
digunakan untuk mempermudah tindakan operasi maupun memberikan rasa nyaman
pada pasien selama operasi.11
Anestesi lokal didefinisikan sebagai suatu tindakan yang menyebabkan hilangnya
sensasi rasa nyeri pada sebagian tubuh secara sementara yang disebabkan adanya depresi
eksitasi di ujung saraf atau penghambatan proses konduksi pada saraf perifer. Anestesi
lokal menghilangkan sensasi rasa nyeri tanpa hilangnya kesadaran yang menyebabkan
anestesi lokal berbeda secara dramatis dari anestesi umum.11,12

2.2 Anestetikum Lokal Yang Ideal


Anestetikum lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf
secara permanen, harus efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan
setempat pada membran mukosa dan memiliki toksisitas sistemik yang rendah. Mula
kerja bahan anestetikum lokal harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus
cukup lama sehingga operator memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tindakan
operasi, tetapi tidak demikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. Zat
anestesi lokal juga harus larut dalam air dan menghasilkan larutan yang stabil, serta
tahan pemanasan bila disterilkan tanpa mengalami perubahan.11,12,13

2.3 Fisiologi Konduksi Saraf

Universitas Sumatera Utara

Mekanisme kerja anestetikum lokal dapat dipelajari melalui fisiologi konduksi


saraf. Hodgkin dan Huxley (1952) telah memperkenalkan teori elektrofisiologi untuk
menjelaskan proses fisiologi konduksi saraf. Menurut teori ini, sel saraf berada pada
cairan tubuh dan sebagian besar pada kation ekstraseluler adalah natrium.
Sebagian kation pada intraseluler adalah kalium. Pada saat istirahat, rasio ion
kalium di dalam sel saraf dibandingkan di luar sel saraf sekitar 30:1. Berdasarkan rasio
ini, potensi pada membran sel saraf adalah -50 sampai-70millivolts. Ini disebut sebagai
membran potensial istirahat. Sebagai hasil dari distribusi ion, bagian luar membran sel
saraf memiliki muatan positif dan pada bagian dalam membran sel saraf bermuatan
negatif.
Membran sel saraf memiliki struktur berpori dengan ion kalsium berperan sebagai
'gerbang' dalam pori-pori tersebut. Pada membran potensial istirahat 'gerbang' ditutup,
ion natrium dan kalium tidak dapat melewati gerbang tersebut.
Ketika terjadi eksitasi saraf

dan potensial ambang tercapai, ion kalsium akan

digantikan dari pori-pori ini, 'gerbang' akan terbuka, dan ion natrium segera masuk ke
dalam sel saraf mengubah potensial transmembran. Bagian dalam membran sel saraf
akan menjadi relatif positif perubahan polaritas. Perubahan polaritas ini disebut sebagai
depolarisasi dan peningkatan aksi potential terbentuk yang disebarkan di sepanjang
membran sel saraf.
Saat depolarisasi maksimum terjadi, maka permeabilitas ion natrium akan menurun,
ion kalsium kembali ke pori-pori di membran sel saraf, dan 'gerbang' menutup serta
proses repolarisasi terjadi. Repolarisasi membawa potential transmembran serta
membran potensial yang istirahat kembali ke tingkat aslinya. Repolarisasi menyebabkan
penurunan gerakan ion natrium ke dalam sel saraf dan peningkatan permeabilitas ion
kalium dengan difusi resultan dari ion kalium ke luar. Oleh karena itu, peristiwa ionik
akan mengembalikan potensial transmembran ke tingkat istirahat pada -70 milivolts.
Akhirnya, natrium secara aktif dibawa keluar dari sel saraf, dan kalium secara aktif
ditransportasi ke dalam sel untuk mengembalikan konsentrasi ion.29

2.4 Mekanisme Anestetikum Lokal


Mekanisme anestetikum lokal yaitu dengan menghambat hantaran saraf bila
dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Bahan ini bekerja pada

Universitas Sumatera Utara

tiap bagian susunan saraf. Anestetikum lokal mencegah terjadi pembentukan dan
konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di membran sel, efeknya pada
aksoplasma hanya sedikit saja.
Potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat permeabilitas
membran terhadap ion natrium (Na+) akibat depolarisasi ringan pada membran. Proses
inilah yang dihambat oleh anestetikum lokal, hal ini terjadi akibat adanya interaksi
langsung antara zat anestesi lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya
perubahan voltase muatan listrik. Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di
dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap,
kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor
pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor ini akan mengakibatkan
penurunan

kemungkinan

menjalarnya

potensial

aksi,

dan

dengan

demikian

mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.


Anestetikum lokal juga mengurangi permeabilitas membran bagi (kalium) K+ dan
Na+ dalam keadaan istirahat, sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak
perubahan pada potensial istirahat. Menurut Sunaryo, bahwa anestesi lokal menghambat
hantaran saraf tanpa menimbulkan depolarisasi saraf, bahkan ditemukan hiperpolarisasi
ringan. Pengurangan permeabilitas membran oleh anestesi lokal juga timbul pada otot
rangka, baik waktu istirahat maupun waktu terjadinya potensial aksi.
Potensi berbagai anestetikum lokal sama dengan kemampuannya untuk
meninggikan tegangan permukaan selaput lipid monomolekuler. Mungkin sekali
anestesi lokal dapat meningkatkan tegangan permukaan lapisan lipid yang merupakan
membran sel saraf, dengan demikian pori dalam membran menutup sehingga
menghambat gerak ion melalui membran. Hal ini akan menyebabkan penurunan
permeabilitas membran dalam keadaan istiharat sehingga akan membatasi peningkatan
permeabilitas Na+. Dapat disimpulkan bahwa cara kerja utama bahan anestetikum lokal
adalah dengan bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na,
sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal tersebut, dan hal ini akan
mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.11,13,14,20

Universitas Sumatera Utara

2.5 Klasifikasi Anestetikum Lokal


Anestetikum lokal diklasifikasikan menjadi dua kategori umum sesuai dengan
ikatan, yaitu ikatan golongan amida (-NHCO-) dan ikatan golongan ester (-COO-).
Perbedaan ini berguna karena ada perbedaan ditandai dalam alergenitas dan
metabolisme antara dua kategori bahan anestetikum lokal.
Secara kimiawi bahan anestetikum lokal dapat diklasifikasikan menjadi dua
golongan, yaitu : 12,13,15,16
A. Golongan Ester (-COO-)
1. Prokain
2. Tetrakain
3. Kokain
4. Benzokain
5. Kloroprokain
B. Golongan Amida (-NHCO-)
1. Lidokain
2. Mepivakain
3. Bupivacaine
4. Prilokain
5. Artikain
6. Dibukain
7. Ropivakain
8. Etidokain
9. Levobupivakain

Perbedaan klinis yang signifikan antara golongan ester dan golongan amida
adalah ikatan kimiawi golongan ester lebih mudah rusak dibandingkan ikatan kimiawi
golongan amida sehingga golongan ester kurang stabil dalam larutan dan tidak dapat
disimpan lama. Bahan anestetikum golongan amida stabil terhadap panas, oleh karena
itu bahan golongan amida dapat dimasukkan kedalam autoklaf, sedangkan golongan
ester tidak bisa. Hasil metabolisme golongan ester dapat memproduksi paraaminobenzoate (PABA), yaitu zat yang dapat memicu reaksi alergi, sehingga golongan

Universitas Sumatera Utara

ester dapat menimbulkan fenomena alergi. Hal inilah yang menjadi alasan bahan
anestetikum golongan amida lebih sering digunakan daripada golongan ester.11,12,13,17

Tabel 1. Mula dan masa kerja penggunaan anestetikum lokal dengan dan

tanpa

vasokonstriktor3,13,20,21
Masa kerja, menit
Anestetikum
Lokal
Artikain

%
4

Vasokonstriktor

Mula kerja,

Jaringan

menit

pulpa

1:200.000

2-3

60

180-300

1:100.000

2-3

60

180-300

lunak

Bupivakain

0.5

1:200.000

6-10

90-180

180-720

Lidokain

3-5

10

60-120

1:50.000 /

3-5

60

180-300

3-5

5-10

120-180

1:100.000
Prilokain

(infiltrasi)
40-60
(blok saraf)

Mepivakain

1:200.000

3-5

60-90

180-480

3-5

20-40

120-180

1:100.000

3-5

60

180-300

2.5.1 Klasifikasi Mula Kerja Anestetikum Lokal


Klasifikasi anestetikum lokal berdasarkan mula kerjanya, dibagi menjadi mula
kerja yang cepat seperti kloroprokain, lidokain, mepivakain, prilokain dan etidokain.
Mula kerja menengah seperti bupivakain. Mula kerja lambat seperti prokain dan
tetrakain.4,13,22

Universitas Sumatera Utara

2.5.2 Klasifikasi Potensi Dan Masa Kerja Anestetikum Lokal


Klasifikasi anestetikum lokal berdasarkan potensi dan masa kerja dibagi menjadi
tiga kelompok yaitu kelompok I yang memiliki potensi lemah dengan masa kerja singkat
(30menit) seperti prokain dan kloroprokain. Kelompok II adalah kelompok yang
memiliki potensi dan masa kerja menengah (60menit) seperti lidokain, mepivakain dan
prilokain. Kelompok III merupakan kelompok yang memiliki potensi kuat dengan masa
kerja

panjang

(>90menit).

Contohnya

tetrakain,

bupivakain,

etidokain

dan

4,13,20

ropivakain.

2.6 Jenis-Jenis Anestetikum Lokal


1. Lidokain
Lidokain disintesis pada tahun 1943 dan pada tahun 1948, anestetikum lokal
golongan amida pertama telah dipasarkan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, dan
lebih ekstensif daripada yang ditunjukkan oleh prokain pada konsentrasi yang
sebanding. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototik dari anestetikum
lokal golongan amida. Penggunaan lidokain sebagai larutan polos dalam konsentrasi
sampai 2% memberikan efek anestesi yang pendek pada jaringan lunak. Formulasi
tersebut tidak memberikan efek anestesi yang cocok pada pulpa gigi. Ketika
vasokonstriktor ditambahkan ke 2% lidokain, maka efek anestesi bertambah pada gigi
yang di anestesi. Vasokonstriktor yang paling umum digunakan adalah epinefrin
(adrenalin) biasanya sekitar konsentrasi 1:200.000 ke 1:80.000. Oleh karena itu, lidokain
cocok untuk anestesi infiltrasi, blok dan topikal. Selain itu, lidokain memiliki
keuntungan dari mula kerja yang lebih cepat, penambahan epinefrin menyebabkan
vasokonstriktor dari arteri mengurangi perdarahan dan juga penundaan resorpsi lidokain
sehingga memperpanjang masa lama kerja hampir dua kali lipat.11,13,18
2. Mepivakain
Mepivakain merupakan anestetikum lokal golongan amida yang bersifat
farmakologiknya mirip lidokain. Mepivakain memiliki mula kerja yang lebih cepat
daripada prokain dan masa lama kerja yang menengah. Mepivakain menghasilkan
vasodilatasi yang lebih sedikit dari lidokain. Mepivakain ketika disuntik dengan
konsentrasi 2% dikombinasikan dengan 1:100 000 epinefrin, memberikan efek anestesi
yang mirip seperti lidokain 2% dengan epinefrin. Larutan mepivakain 3% tanpa

Universitas Sumatera Utara

vasokonstriktor akan memberikan efek anestesi yang lebih baik dari lidokain 2% .
Mepivakain digunakan untuk anestesi infiltrasi, blok saraf regional dan anestesi
spinal.11,13,18
3. Prilokain
Anestetikum lokal golongan amida ini efek farmakologiknya mirip lidokain,
tetapi mula kerja dan masa kerjanya lebih lama. Efek vasodilatasinya lebih kecil
daripada lidokain, sehingga tidak memerlukan vasokonstriktor. Toksisitas terhadap
sistem saraf pusat (SSP) lebih ringan, penggunaan intravena blok regional lebih aman.
Sifat toksik yang unik dari prilokain yaitu dapat menimbulkan methemoglobinemia, hal
ini disebabkan oleh adanya metabolit prilokain yaitu orto-toluidin dan nitroso-toluidin
yang mempengaruhi masa kerja prilokain. Efek anestesi prilokain kurang kuat
dibandingkan lidokain. Prilokain dipasarkan sebagai solusi 4% dengan dan tanpa
1:200.000 epinefrin. Efek toksisitas sistemik prilokain kurang dibandingkan lidokain.
Biasanya digunakan untuk mendapatkan anestesi infiltrasi dan blok.11,13,15
4. Artikain
Struktur amida dari artikain mirip dengan anestetikum lokal lainnya, tetapi
struktur molekulnya berbeda melalui kehadiran cincin thiophene bukan cincin benzena.
Artikain mengandung gugus ester tambahan yang dimetabolisme oleh estearases dalam
darah dan jaringan. Artikain dapat digunakan pada konsentrasi yang lebih tinggi, yaitu
artikain 4% dengan epinefrin 1:100 000 atau 1:200 000. Ada beberapa kekhawatiran,
bahwa anestetikum lokal ini apabila digunakan pada konsentrasi tinggi dapat
meningkatkan toksisitas lokal yang dapat menyebabkan kerja anestesia menjadi lama,
parestesia atau dysaesthesia ketika digunakan untuk blok regional. Ada beberapa bukti
bahwa infiltrasi bukal menggunakan artikain 4% seefektif anestesi lokal alveolar inferior
dengan lidokain 2% pada gigi mandibular orang dewasa. Artikain digunakan baik untuk
anestesi infiltrasi maupun blok, dengan teknik blok dapat menghasilkan masa kerja yang
lebih lama.13,18,19
5. Bupivakain
Bupivakain merupakan anestetikum lokal yang termasuk dalam golongan amida
amino. Bupivakain mempunyai masa kerja panjang. Ketika digunakan sebagai injeksi
intraoral, bahan ini telah terbukti mengurangi jumlah analgesik yang dibutuhkan untuk
mengontrol rasa nyeri pasca operasi setelah pembedahan. Formulasi bupivakain sekitar

Universitas Sumatera Utara

0,25-0,75% dengan dan tanpa epinefrin (biasanya 1:200 000). Mula kerjanya lambat tapi
masa kerjanya panjang. Digunakan untuk anestesi infiltrasi, blok saraf, epidural dan
anestesi intratekal.13,18
6. Etidokain
Etidokain dalam konsentrasi 1,5% dengan 1:200.000 epinefrin telah digunakan
dalam prosedur bedah mulut. Ia memiliki masa kerja yang lebih lama dari lidokain 2%
dengan epinefrin 1:100.000 bila digunakan sebagai anestesi blok tetapi tidak seefektif
lidokain dengan epinefrin saat digunakan untuk anestesi infiltrasi.4,13,18
7. Ropivakain
Ropivakain dikembangkan setelah bupivakain tercatat dikaitkan dengan serangan
jantung, terutama pada wanita hamil. Ropivakain ditemukan memiliki kardiotoksisitas
kurang dari bupivakain. Ropivakain diindikasikan untuk anestesi lokal termasuk
infiltrasi, blok saraf, epidural dan anestesi intratekal pada orang dewasa dan anak di atas
12 tahun. Karakteristiknya, yaitu memiliki mula kerja dan masa lama kerja yang sama
dengan bupivakain, dengan potensinya yang lebih rendah sedikit.18,22
8. Kokain
Kokain merupakan anestetikum lokal yang pertama digunakan dalam dunia
kedokteran. Bahan anestetikum lokal yang alami dan merupakan ester asam benzoat
dengan basa yang mengandungi nitrogen (N). Efek kokain yang paling penting bila
digunakan secara lokal yaitu menghambat hantaran saraf. Efek sistemik yang paling
mencolok yaitu rangsangan susunan saraf pusat (SSP). Berdasarkan efek ini, kokain
pernah digunakan secara luas untuk tindakan di bidang optalmologi, tetapi kokain ini
dapat menyebabkan terkelupasnya epitel kornea. Maka penggunaan kokain sekarang
sangat dibatasi untuk pemakaian topikal, khususnya untuk anestesi saluran nafas
atas.11,23
9. Prokain
Prokain disintesis dan diperkenalkan pada tahun 1905 dengan nama dagang
novokain. Selama lebih dari 50 tahun obat ini merupakan bahan terpilih untuk anestesi
lokal, namun kegunaannya tergantikan oleh anestetikum lain, lidokain yang ternyata
lebih kuat dan lebih aman dibanding dengan prokain. Larutan polos 2% prokain tidak
memberikan efek anestesi pada pulpa dan efek anestesi pada jaringan lunak 15 sampai
30 menit. Hasilnya didapatkan sifat vasodilatasi yang mendalam. Prokain menghasilkan

Universitas Sumatera Utara

efek vasodilatasi terbesar dibandingkan dengan anestetikum lokal lain. Maka lebih sulit
untuk mempertahankan prokain karena meningkatnya perdarahan sewaktu pembedahan.
Prokain secara klinis mempunyai masa kerja yang lambat karena daya penetrasinya yang
kurang baik. Prokain digunakan untuk anestesi infilrasi, blok saraf, epidural, kaudal, dan
spinal.11,13
10. Tetrakain
Tetrakain merupakan anestetikum lokal golongan ester yang mempunyai masa
kerja yang lama. Tetrakain adalah derivat asam para-aminobenzoat. Anestetikum lokal
ini 10 kali lebih kuat dan lebih toksik daripada prokain. Tetrakain tidak lagi tersedia
dalam bentuk injeksi di kedokteran gigi tetapi digunakan untuk anestesi topikal yang
paling umum dipasarkan dalam 2% garam hidroklorida berkombinasi dengan 14%
benzokain dan 2% butamben dalam larutan semprotan aerosol, gel, dan salep. Tetrakain
menjadi salah satu anestesi topikal yang paling efektif. Tetrakain mempunyai mula kerja
yang lambat untuk anestesi topikal dan masa kerjanya adalah sekitar 45 menit setelah
anestesi topikal.13,22

11. Levobupivakain
Levobupivakain merupakan isomer tunggal bupivakain dan memiliki keuntungan
hanya sedikit efek kardiotoksiknya. Telah terbukti bahwa bahan ini seefektif bupivakain
dan anestetikum lain. Penggunaannya sebagai injeksi intraoral pada saat anestesi umum
dapat mengurangi kebutuhan analgesik pasca operasi setelah pembedahan mulut.
Levobupivakain ini tersedia dalam konsentrasi antara 0,25-0,75%.18,22

2.7 Dosis Maksimum Anestetikum Lokal


Dosis anestetikum lokal dihitung berdasarkan miligram per unit berat badan yaitu
miligram per kilogram (mg / kg) atau miligram per pon (mg / lb). Pemberian dosis
maksimum tergantung pada usia, berat badan, jenis anestetikum yang digunakan dan
apakah menggunakan vasokonstriktor atau tidak. Disarankan agar dokter mengevaluasi
kebutuhan perawatan gigi setiap pasien dan menyusun rencana perawatan yang
memperhitungkan dosis yang minimal dari anestesi lokal pada setiap pasien.13
Pemberian dosis anestetikum lokal berdasarkan jenis anestetikumnya:

Universitas Sumatera Utara

1. Lidokain
Dosis maksimum dewasa yang aman adalah 4x2,2 ml ampul atau 3 mg/kg.
Penambahan 1:80 000 epinefrin memperpanjang efektivitasnya lebih dari 90 menit dan
meningkatkan dosis maksimum dewasa yang aman sampai 10x2,2 ml ampul atau 7
mg/kg.25
Menurut Malamed SF, dosis maksimum lidokain yang disarankan oleh FDA
dengan atau tanpa epinefrin adalah 3,2 mg / lb atau 7,0 mg / kg berat badan untuk
dewasa dan anak-anak pasien, tidak melebihi dosis maksimum absolut yaitu 500 mg.13
2. Mepivakain
Menurut Malamed SF, dosis maksimum mepivakain adalah 6,6 mg / kg atau 3,0
mg / lb berat badan dan tidak melebihi 400 mg. Satu ampul mepivakain biasanya sudah
cukup untuk anestesi infiltrasi atau blok regional.13,26

3. Artikain
Untuk orang dewasa sehat, dosis maksimum artikain HCl diadministrasikan pada
submukosa atau blok saraf tidak boleh melebihi 7mg/kg (0,175 mL / kg) atau 3,2 mg / lb
(0,0795 mL / lb) berat badan untuk pasien 150 pon.13,25,27
Untuk anak-anak di bawah 10 tahun yang memiliki massa tubuh normal, dosis
maksimum tidak boleh melebihi setara dengan 7 mg / kg (0,175 mL / kg) atau 3,2 mg /
lb (0,0795 mL / lb) berat badan. Pasien yang berumur antara 65-75 tahun, dosis
maksimumnya sekitar 0,43-4,76 mg / kg (0,9-11,9 mL) untuk prosedur sederhana, dan
dosis sekitar 1,05-4,27 mg / kg (1,3-6,8 mL) diberikan kepada pasien untuk prosedur
yang kompleks. Di antara pasien 75 tahun atau lebih tua, dosis 0,78-4,76 mg / kg (1,311,9 mL) diberikan kepada pasien untuk prosedur sederhana, dan dosis 1,12-2,17 mg /
kg yang aman diberikan kepada pasien untuk prosedur yang kompleks.27
4. Bupivakain
Dosis maksimum bupivakain yang direkomendasikan adalah 90 mg. Tidak ada
dosis yang disarankan untuk bupivakain berdasarkan berat badan di Amerika Serikat tapi
di Kanada, dosis maksimum adalah berdasarkan 2,0 mg / kg (0,9 mg / lb). Bupivakain
tidak dianjurkan pada pasien yang berusia muda atau mereka yang berisiko mencedera

Universitas Sumatera Utara

jaringan lunak pasca operasi akibat dari melukai diri sendiri, seperti fisik dan mental
penyandang cacat. Bupivakain jarang diindikasikan pada anak-anak karena prosedur gigi
pediatrik biasanya berlangsung singkat.13
Bupivakain larutan polos yang berkonsentrasi antara 0.25-0.5% digunakan untuk
anestesi blok dan infiltrasi dimana efek anestesi sampai 8 jam diperlukan. Dosis
maksimum yang aman adalah 2 mg/kg.25
5. Prilokain
Dosis maksimum yang direkomendasikan untuk prilokain adalah 8,0 mg / kg atau
3,6 mg / lb berat badan untuk pasien dewasa dan maksimum dosis yang
direkomendasikan adalah 600 mg. Efek toksisitas sistemik prilokain kurang
dibandingkan lidokain tapi efek anestesinya kurang kuat.13

6. Etidokain
Menurut Malamad, dosis maksimum yang direkomendasikan untuk pasien
dewasa adalah 3,6 mg/lb atau 8,0 mg/kg berat badan, dengan dosis maksimum absolut
tidak melebihi 400 mg.4
Tabel 2. Dosis maksimum anestetikum lokal yang direkomendasikan13,25,28
Anestetikum Lokal

Dosis Maksimum

Lidokain

7,0 mg/kgBB ( 3,2 mg/lb BB )

Mepivakain

6,6 mg/kgBB ( 3,0 mg/lb BB)

Artikain

7,0 mg/kgBB ( 3,2 mg/lb BB )

Bupivakain

2,0 mg/kgBB ( 0,9 mg/lb BB)

Prilokain

8,0 mg/kgBB (3,6 mg/lb BB)

Etidokain

8,0 mg/kgBB (3,6 mg/lb BB)

2.8 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mula dan Masa Kerja Anestetikum


Lokal
1. Nilai pH Jaringan

Universitas Sumatera Utara

Faktor yang paling penting mempengaruhi mula kerja anestetikum lokal adalah
pH jaringan dan pKa bahan anestetikum lokal. Nilai pH mungkin menurun pada suasana
infeksi, yang menyebabkan efek anestesi menjadi lambat atau bahkan tidak terjadi
langsung.17
Anestetikum lokal dipasarkan dalam bentuk garam yang mudah larut dalam air,
biasanya garam hidroklorid dan merupakan basa lemah. Larutan garam bahan ini
bersifat agak asam, hal ini menguntungkan karena menambah stabilitas bahan
anestetikum lokal tersebut. Bahan anestetikum lokal yang biasa digunakan mempunyai
pKa antara 8-9, sehingga pada pH jaringan hanya didapati 5-20% dalam bentuk basa
bebas. Bagian ini walaupun kecil sangat penting, karena untuk mencapai tempat
kerjanya bahan harus berdifusi melalui jaringan penyambung dan membran sel lain, dan
hal ini hanya mungkin terjadi dengan bentuk amin yang tidak bermuatan listrik.11
2. Morfologi Saraf
Mula kerja berhubungan dengan kecepatan difusi anestetikum lokal melalui
perineurium. Urutan lapisan pembungkus serabut saraf dari dalam keluar adalah
endoneurium, perineurium, dan epineurium. Lapisan ini terdiri dari jaringan pengikat
kolagen dan elastis. Bahan anestetikum lokal harus menembus jaringan pengikat yang
bukan jaringan saraf. Ada perbedaan kecepatan menembus jaringan yang bukan saraf.
Sebagai contoh, prokain dan kloroprokain mempunyai pKa yang sama dan mula kerja
yang sama pada saraf yang diisolasi, tetapi mula kerja kloroprokain lebih pendek
daripada prokain, ini menunjukkan bahwa kloroprokain lebih cepat menembus jaringan
yang bukan jaringan saraf.13,17
3. Lipid solubility
Kelarutan dalam lemak menggambarkan potensi intrinsik anestetikum lokal
tersebut. Makin tinggi kelarutannya dalam lemak, semakin poten bahan tersebut. Lipid
solubility prokain kurang dari satu, dan bahan ini paling kecil potensinya. Sebaliknya
koefisien partisi/kelarutan bupivakain, tetrakain dan etidokain bervariasi dari 30-140,
menunjukkan lipid solubility yang tinggi. Bahan ini menunjukkan blokade konduksi
pada konsentrasi yang sangat rendah karena potensi intrinsik anestesinya 30 kali lebih
besar dari prokain. Hubungan antara lipid solubility dan potensi intrinsik anestesi selalu
konsisten dengan komposisi lipoprotein dari membran saraf (ada 3 lapisan membran

Universitas Sumatera Utara

saraf terdiri dari protein-lipid-protein). Kira-kira 90% axolemma terdiri dari lemak.
Karena itu anestetikum lokal yang kelarutan lemaknya tinggi dapat menembus membran
saraf dengan lebih mudah, yang direfleksikan sebagai peningkatan potensi.13,22,24
4. pKa Anestetikum Lokal
Secara klinis, tidak ada perbedaan yang signifikan pada pKa antara amida, kecuali
bupivakain, yang memiliki pKa sedikit lebih tinggi yang menyebabkan mula kerjanya
lebih lambat. pKa komponen kimia didefinisikan sebagai pH dimana bentuk ion dan
non-ion ada dalam keseimbangan.17
Anestetikum lokal yang tidak berubah bentuk, diperlukan untuk berdifusi
menembus selubung saraf. Mula kerja secara langsung berhubungan dengan kecepatan
menembus epineurium, yang berkolerasi dengan jumlah bahan dalam bentuk dasar.
Persentase dari bahan anestetikum lokal dalam bentuk dasar bila disuntikkan ke dalam
jaringan yang mempunyai pH 7,4, maka pKa bahan tersebut akan terjadi sebaliknya.
Sebagai contoh, lidokain yang mempunyai pKa 7,9 adalah 75% dalam bentuk ion
dan 25% dalam bentuk non-ion pada pH jaringan 7,4. Hasilnya bahan tersebut
mempunyai pKa hampir mendekati pH jaringan akan mempunyai mula kerja yang lebih
cepat daripada anestetikum lokal dengan pKa yang tinggi.14,22,24

Tabel 3. pKa bahan anestetikum lokal9,13,22


Anestetikum Lokal
AMIDA
Bupivakain
Ropivakain
Lidokain
Prilokain
Mepivakain
Artikain
Etidokain
Levobupivakain
ESTER
Prokain
Kloroprokain
Kokain
Tetrakain

pKa
8.1
8.1
7.7
7.7
7.7
7.8
7.9
8.1
9.1
9.3
8.6
8.6

Universitas Sumatera Utara

5. Efek Vasokonstriktor
Masa kerja anestetikum lokal berbanding langsung dengan waktu kontak aktifnya
dengan saraf. Akibatnya, tindakan yang dapat melokalisasi bahan pada saraf akan
memperpanjang waktu anestesi. Dalam klinis, larutan injeksi anestetikum lokal biasanya
mengandungi epinefrin (1 dalam 200.000 bagian), norepinefrin (1 dalam 100.000bagian)
atau fenilefrin. Pada umumnya zat vasokonstriktor ini harus diberikan dalam kadar
efektif minimal. Epinefrin mengurangi kecepatan absorpsi anestetikum lokal sehingga
akan mengurangi juga toksisitas sistemiknya. Sebagian vasokonstriktor mungkin akan
diserap dan bila jumlahnya cukup banyak akan menimbulkan efek samping misalnya
gelisah, takikardi, palpitasi dan nyeri di dada. Untuk mengurangi perangsangan
adrenergik yang berlebihan dan yang diinginkan tersebut, perlu dipertimbangkan
penggunaan obat penghambat alfa atau beta adrenergik.11,13,22

Universitas Sumatera Utara

Kerangka Konsep

Gambaran pengetahuan mahasiswa


kepaniteraan klinik Bedah Mulut
RSGMP FKG USU
1. Definisi anestesi dan
anestetikum lokal
Mahasiswa kepaniteraan klinik

2. Anestetikum lokal yang

Bedah Mulut RSGMP FKG

ideal

USU

3. Mekanisme anestetikum
lokal
4. Klasifikasi anestetikum
lokal
5. Jenis anestetikum lokal
6. Dosis maksimum anestetikum
.

lokal

. 7. Faktor-faktor yang
.

mempengaruhi mula dan masa

kerja anestetikum lokal

Universitas Sumatera Utara