Anda di halaman 1dari 4

Artikel

Program Pokok Utama KKN-PPM


SPAMDES Di Desa Batuagung
Desa Batuagung terletak di Kabupaten Jembrana Kecamatan Jembrana.Desa ini memiliki
potensi air yang dapat dikembangkan dari ditemukannya beberapa sumber mata air. Dilihat dari
pegunungan lahan secara umum. Desa Batuagung memiliki potensi tanah yang sangat subur
dengan daratan tinggi sebagai perkebunan yang diperuntukan untuk tanaman perkebunan
cengkeh, coklat, kelapa, pisang, dan tanaman lainnya. Dari beberapa potensi yang dimiliki Desa
Batuagung diharapkan dapat mengembangkan, meningkatkan dan mensejahterakan kehidupan
masyarakat Desa Batuagung untuk kedepannya. Luas Desa Batuagung seluruhnya adalah 1.878
Ha (187.800 are) dengan jumlah penduduk Desa Batuagung secara keseluruhan berjumlah 8.991
jiwa.
Desa Batuagung memiliki 9 banjar yang terdiri dari banjar Batuagung, Taman, Tegalasih,
Sawe, Palunganbatu, Anyar, Pertanahan, Masean, dan Pancaseming. Desa Batuagung memiliki
beberapa potensi desa yang sampai saat ini masih dikembangkan oleh masyarakat Batuagung.
Salah satunya adalah pengelolaan sumber air oleh masing-masing banjar dengan membentuk
kelompok-kelompok pengelola air dari sumber mata air. Sumber mata air ini merupakan hal yang
sangat penting untuk dikelola lebih lanjut ditinjau dari segi; pemanfaatan, pengelolaan, dan
pemeliharaan agar masyarakat dapat menikmati air bersih secara berkelanjutan.
Desa Batuagung menjadi salah satu tempat pilihan KKN-PPM Universitas Udayana. Hal
ini menjadi indikasi bahwa masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan, baik itu
permasalahan yang menyangkut bidang prasarana fisik, sosial budaya, peningkatan produksi, dan
kesehatan masyarakat. Maka setiap permasalahan tidak bisa diselesaikan hanya dengan
pendekatan monodisipliner, tetapi harus diselesaikan melalui pendekatan interdisipliner.
Pemasalahan utama dari desa ini yaitu SPAMDES yang kurang merata untuk masyarakat
yang jumlahnya cukup banyak. Adanya kecemburuan social antara banjar satu dengan yang
lainnya yang dikarenakan air yang didapatkan kurang mencukupi warganya. Untuk permasalahan
ini warga mungkin belum mengetahui kenapa air yang didapat sedikit, ini dikarenakan jumlah
debit air yang kecil dan hanya ada satu sumbermata air yang digunakan untuk dijadikan
SPAMDES.

I. Program Pokok Utama : Upaya Peningkatan Sumber Mata Air Desa


Air merupakan kebutuhan pokok bagi suatu masyarakat. Namun, dilihat dari keadaan di
Desa Batuagung, ada sebagian banjar yang masih kekurangan air. Banjar tersebut adalah Banjar
Sawe dan Banjar Palunganbatu, dimana banjar tersebut terjadi kecemburuan sosial terhadap
pembagian air yang tidak merata. Oleh karena itu, mahasiswa KKN Unud, khususnya bidang
fisik, berupaya untuk mencarikan solusi atas kejadian tersebut. Solusi yang dilaksanakan adalah
mencari sumber mata air yang baru yang dapat mencukupi kebutuhan air untuk masyarakat desa
batuagung. Berdasarkan informasi dari warga yang biasa pergi ke hutan, terdapat sumber daya
air baru yang belum digunakan secara optimal.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, kami melakukan kegiatan untuk melihat dan
menganalisis sumber mata air yang baru. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 25 Februari
2015 dari pukul 08.00-19.00 WITA dengan bantuan dari Kelian Banjar Palunganbatu dan
beberapa warga yang mengetahui lokasi sumber daya air tersebut. Kegiatan ini berlangsung
selama lebih dari sepuluh jam disebabkan lokasi sumber daya air tersebut tergolong sangat jauh.
Dari hasil pencarian tersebut, kami menemukan satu lokasi sumber air dengan debit air yang
terbilang sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk dibuat SPAM yang baru. Berdasarkan
informasi lainnya, masih terdapat satu lagi sumber daya air. Namun karena keterbatasan waktu,
kami tidak dapat meninjau lokasi tersebut.
Kegiatan ini berhasil menemukan sumber daya air baru yang berada di dalam hutan
sejauh 4 km, namun debit air yang dihasilkan terlalu kecil jika dibandingkan dengan sumber
daya air yang sekarang digunakan yaitu 0,8175 liter perdetik. Setelah dilakukan kajian terhadap
debit air pada sumber daya air baru, dengan jarak ke sumber daya air yang cukup jauh. Jadi,
biaya yang diperlukan untuk memanfaatkan sumber daya air yang baru akan sangat tinggi tetapi
debit air yang didapatkan sangat kecil. Adapun eberapa kendala yang ditemukan pada kegiatan
pencarian sumber daya air yang baru ini yaitu.
1. Lokasi sumber daya air yang susah dijangkau di atas gunung, dan jauh dari pemukiman
warga.
2. Medan menuju sumber air yang sangat terjal dan harus menyebrangi beberapa sungai
yang cukup dalam.
3. Sehari sebelum kegiatan dilakukan, turun hujan sehingga medan menjadi licin.

Karena tidak memungkinkan untuk menggunakan sumber mata air yang ditemukan maka
kami kembali pada rencana awal yaitu membantu dalam pencarian dana untuk pemecahan
tunggu air banjar palunganbatu dengan banjar sawe yang masih menjadi satu tungku. Kegiatan
pembuatan proposal ini mulai dilakukan pada jumat 27 februari 10 maret 2015. Tujuan dari
pembuatan proposal ini guna mengatasi permasalahan kecemburuan sosial mengenai pembagian
air. Pembuatan proposal ini juga melibatkan Kelihan Dinas Banjar Palungan Batu, Sekaa Air
Tirta Wana serta aparat desa di kantor perbekel yang dalam hal ini membantu dalam mengoreksi
proposal yang dibuat.
Sehubungan dengan program peningkatan sumber daya air desa yang sebelumnya
dilakukan, terdapat kendala yang ditemui bahwa sumber air yang ditemukan memiliki debit air
yang sangat kecil sehingga upaya untuk memanfaatkan sumber daya air baru dalam mengatasi
masalah kecemburuan sosial mengenai pembagian air tidak dapat terealisasikan. Berdasarkan
hasil diskusi dengan pengurus air Tirta Wana, didapatkan solusi kedua untuk mengatasi masalah
kecemburuan sosial mengenai pembagian air ini dengan memecah saluran pipa air yang terdapat
pada tempat penampungan air di Banjar Palungan Batu. Saat ini kondisi pembagian air antara
banjar Sawe dan Palungan Batu yang mengalami konflik kecemburuan sosial menggunakan satu
buah saluran pipa untuk pembagian air. Jadi pembagian air dimulai dari Banjar Palungan Batu
selanjutnya turun ke Banjar Sawe. Dengan adanya rencana pemecahan pipa ini menjadi dua
saluran, nantinya pembagian air akan langsung menuju temuku masing-masing banjar Sawe dan
Palungan Batu.
Atas dasar tersebut, kami mengajukan bantuan kepada desa untuk membantu dalam
pembuatan proposal permohonan dana guna merealisasikan rencana pemecahan pipa tersebut.
Pembuatan proposal permohonan bantuan dana ini dibantu oleh pengurus sekaa air Tirta Wana
yang mengelola sistem penyediaan air di Desa Batuagung. Akhir dari kegiatan ini yaitu
menyebar proposal yang telah dibuat dan disetujui oleh Kepala Desa ke beberapa instansi
pemerintahan di Kabupaten Jembrana.
Berdasarkan hasil survei ke tempat penampungan air di Banjar Palungan Batu, dilakukan
analisis mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akan digunakan dalam proposal
permohonan dana seperti ukuran dan banyak jumlah pipa yang akan digunakan, jarak antara
tempat penampungan air dengan temuku di Banjar Sawe, dll. Proposal permohonan penambahan
saluran pipa air sudah selesai dibuat dan disebar ke beberapa instansi pemerintah di Kabupaten

Jembrana diantaranya Bupati Jembrana, DPRD Jembrana, Camat Jembrana dan Dinas PU
Jembrana. Program ini merupakan program berkelanjutan bagi desa, untuk konfirmasi mengenai
proposal yang diterima pihak instansi pemerintah akanlangsung menghubungi Desa Batuagung
khususnya pengurus sekaa air Tirta Wana di Desa Batuagung. Adapun beberapa kendala yang
ditemukan pada kegiatan pembuatan proposal permohonan bantuan dana pemecahan saluran pipa
air ini yaitu :
1. Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang agak sulit karena ada beberapa alat
yang dibutuhkan untuk pembuatan saluran pipa yang belum jelas diketahui
keperluannya.
2. Pencarian cap untuk pengesahan tanda tangan yang sulit didapat karena cap dari sekaa
air Tirta Wana sempat hilang, untuk itu harus menunggu pembuatan cap baru.